Antara Janji Kemenangan dengan Para Perintang Islam


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٣٣)

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan Dien yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (Qs. Attaubah : 33)

Allah subhanahu ta’ala telah berjanji kepada manusia melalui ayatNya ini bahwa akan tiba masanya yang waktunya masih merupakan rahasiaNya, bahwa Dia akan menjadikan Dinul Islam menjadi satu – satunya aturan di muka bumi yang berjaya, dimana pada masa itu semua aturan atau sistem kehidupan termasuk dalam berbangsa dan bernegara yang berasal dari produk  logika manusia akan tunduk dibawah naungan atau perlindungan Dinul Islam yang merupakan produk wahyu Allah.

Keadaan pada masa yang dijanjikan itu digambarkan dalam beberapa hadits Rasulullah Muhammad SAW, antara lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud, dan Turmudzi dari jalan Syaddad bin ‘Aus dan Syauban r.a. dengan derajat shohih :
قال صلعم :
1ـ إنّ الله زوى ايْ جمع وضمّ لى الأرض فرايتُ مشارقها ومغاربها وإنّ امّتى سيبلغ ملكها ما زوىلى منها ـ
رواه مسلم و ابوداود والترمذى عن شؤبان.

Terjemahnya :

"Sesungguhnya Allah telah menghimpun dan menyatukan bumi ini untukku, maka aku dapat menyaksikan bumi ini belahan timur dan belahan barat. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan sampai ke daerah yang dihimpun kepadaku"

2ـ ليبلغنّ هذا الأمر ما بلغ اليل والنّها ر ولا يترك الله بيت مدرٍ ولا وبر إلأ أدخله اللهُ هذا الدّين بعذّ عذيذٍ او بذل ذليلٍ, عذّا بعذّ اللهُ به الإسلام وذلاّ بذلِّ به الكفْر ـ
رواه مسلم و ابوداود عن شؤبان.

Terjemahnya :

"Sesungguhnya Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali Allah memasukkan Addin ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan merendahkan yang hina. Yaitu memuliakan dengan Islam dan merendahkan dengan kekufuran"

Pengajaran dari ayat Allah SWT dan hadits rasulNya ini antara lain bahwa ada suatu khabar gembira dan ujian bagi ummat mukmin yang hidup sebelum tibanya janji itu. Khabar gembira akan datangnya masa keemasan Islam dimana ummat mukmin akan dimuliakan Allah di bumi ini secara lahiriah dan bathiniah, sisi ruhani maupun jasadi. Bentuknya antara lain kepemimpinan dunia secara global akan dipegang oleh hamba – hamba Allah yang beriman dan mulia dengan Syariat Islam yang kaffah atau utuh memayunginya. Sehingga kejujuran dan keadilan hukum akan ditegakkan bagi siapa saja. Untuk sang penguasa sampai rakyat jelata, bagi si miskin ataupun kaya, bahkan bagi orang – orang kafir sekalipun.  Dengan sendirinya akan muncul keamanan, kenyamanan, keberkahan hidup, kesejahteraan dengan melimpahnya rizki dari langit dan bumi, dan jauh dari bencana sampai akhir umur dunia Islam tak akan pernah surut lagi, hingga datangnya hari zalzalah (berguncangnya seluruh dunia).

Sedangkan ittibar lainnya yang dapat kita ambil adalah akan adanya ujian sebelum tibanya masa kemuliaan tersebut. Bahwa Allah dengan ketetapan qodho dan qodharNya akan mempergilirkan antara masa kejayaan Ummat Islam dengan masa terpuruknya mereka sebagai ujian kualitas dan kapasitas iman serta keyakinan pada Allah dan ujian kesabaran bagi mujahidin yang merindukan tegaknya Syariat Dinullah. Dengan adanya ujian ini akan terbukti siapa sajakah diantara ummat ini yang mengaku muttabi’ rasul yang bersungguh – sungguh menempuh jalan dakwah dan jihad. Yaitu mereka yang tak pantang menyerah, tidak mudah mengeluh dan lelah, selalu menjaga keikhlasan niat sejalan dengan menjaga benarnya langkah perjuangan. Mereka yang menginfaqkan dirinya dan hartanya di jalan Allah dengan selalu merendahkan “sayap” dan berkasih sayang sesama mukmin namun tegas terhadap segala kekafiran.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ (٣١)

“dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Qs. Muhammad : 31)

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan pilihan Allah (hizbullah) tersebut, yang sengaja dipilihNya untuk mengawal perjalanan kemenangan Islam. Dimana pada ujung jalan itu Dia dengan kekuasanNya sendiri akan mengangkat kemulian Islam dan mukmin serta merendahkan martabat aturan buatan manusia yang menyelisihiNya beserta penganutnya.

Para Perintang Jalan Islam

Patut dicermati bahwa dalam kelanjutan ayatnya, yaitu ke 34 Surah Attaubah, dimana Allah memberi beberapa sinyalemen tentang adanya kelompok orang yang berilmu yang merintangi manusia dari jalan Allah, sebelum tibanya masa kejayaan Islam yang dijanjikan sebelumnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الأحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (٣٤)يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لأنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (٣٥)

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih," (Qs. Attaubah 34).

Dari ayat ini dapat mengambil kaidah tafsir bahwa “pengajaran diambil dari keumuman lafadz bukan kekhususan sebab”, maka dapatlah dimengerti beberapa hal. Bahwa akan ada kelompok – kelompok manusia yang sebenarnya mereka berasal dari sebagian besar kalangan terdidik dari pengajar – pengajar agama dan para ‘alim (baik yahudi, nasrani, bahkan sebagian yang mengaku Islam) yang secara sadar atau tidak menghalangi langkah – langkah kebenaran Islam.

Faktor penyebab mereka merintangi jalan kebenaran adalah sebagai bentuk kompensasi untuk menutupi cela atau aib mereka dari pandangan manusia. Akan tetapi Allah telah membuka sejelas – jelasnya koreng mereka melalui ayat tersebut. Yaitu mereka telah memakan harta manusia dengan cara bathil. Bentuknya antara lain dengan menjual ayat – ayat Allah untuk kepentingan perut, nama besar dan kemegahan. Mereka berlaku curang dan riya’ dengan dalih berdakwah namun menerima imbalan materi dan sanjungan dari manusia. Tak jarang mereka mengeluarkan fatwa haram – halal menurut pesanan manusia. Padahal Allah dan rasulNya melaknat semua perbuatan curang tersebut. Maka dengan melihat melalui “kaca mata” Kitabullah dan sunah rasulNya, insyaAllah kita tidak akan mudah tertipu oleh perilaku jahat mereka.

Perbedaan Ulama Sebenarnya dengan yang Palsu

Dalam beberapa haditsnya rasulullah SAW memperingatkan :

“Sejelek – jelek kejahatan adalah kejahatan yang dilakukan ulama, sebaik – baik kebajikan adalah kebajikannya ulama

اذا رايت عالم يخلدُ السّلطان مخلطت كثير فاعلم انهَُ لصٌ

”Jika kamu lihat seorang ’alim mendekati penguasa atau banyak campur tangan urusan penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pencuri (HR. Muslim)

Maka ulama sebenarnya salah satu cirinya bukanlah orang yang suka “merapat” kepada raja tapi justru sang raja yang tunduk pada nasihat ulama. Ulama bukanlah pula yang biaya hidupnya dianggarkan atau disubsidi negara karena ulama bukanlah jabatan politis dan bukan lembaga bentukan sang raja. Inilah sifat iffah, menjaga kemulian atau kehormatan Islam dan dirinya.

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٧٢)

“jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku Termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)". (Qs. Yunus : 72)

Sesungguhnya gelar al Ulama adalah pemberian Allah bagi yang memenuhi beberapa kriteria. Ia bukanlah gelar pemberian manusia dan penguasa. Dapat saja sebagian manusia tertipu oleh penampilan dan kefasihan orang yang mengaku berkelas ulama. Namun bagi pecinta dan pembela al Quran sejati dengan izin Allah akan diberiNya furqon, yaitu kemampuan membedakan antara al haq dengan bathil.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (٢٩)

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (Qs. Al Anfal 29)

Sejatinya al ulama tidaklah dapat dibeli oleh manusia, karena mereka telah menjual dirinya hanya kepada Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (٢٠٧)

dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Qs. Al Baqarah : 207)

Tentu berbeda dengan orang yang mengaku ulama, tapi dirinya telah dibeli lalu “dikandangkan” layaknya singa yang diberi fasilitas hidup, namun kuku dan taringnya tumpul, hanya jadi tontonan dan “aumannya” dijadikan terompetnya penguasa dan hiburan semata. Bagusnya mereka ini belajar pada kisah Rasulullah Musa as., dengan Nabi Hidir as. Allah telah mengajarkan didalamnya masalah kesabaran dan pengalaman kepada RasulNya Musa, as., “hanya” melalui seorang nabi, yaitu Hidir., as. Hal ini mengandung hikmah bahwa seorang rasul pun mau belajar pada seorang nabi karena khawatir ditimpa rasa ujub dengan merasa dirinya paling berilmu. Kisah ini dapat diabadikan Allah dalam Surah Al Kahfi ayat 67 – 69 :

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (٦٧)وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (٦٨)قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (٦٩)

Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengalaman yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".

Rasulullah Musa as., yang dikaruniakan Allah Ilmu dan kekuatan, sebelum ia belajar pada Nabi Hidir pernah khilaf membunuh seorang qibti, lantas ia merasa takut dan melarikan diri sebagai buronan Fir’aun. Setelah menyembunyikan diri dan hidup tenang bersama istrinya datanglah perintah untuk mendatangi dan menyeru Fir’aun. Jika tidak dikuatkan Allah dengan mukjizatNya tentu Musa as., akan khawatir menyeru penguasa yang lalim dan banyak pendukung. Sedangkan ketika suatu kali menghadapi tongkatnya yang diubah Allah sebagai Ular Besar ia pun sempat merasa takut. Maka untuk menjadi ulama pemegang amanah para rasul perlu ditempa kesabaran dan pengalaman, bukan hanya mampu berbicara dan berfatwa.
Dari ayat – ayat berikut ini insyaAllah kita akan semakin jelas melihat perbedaan mereka,

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (٢٨)

“dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Qs. Fathir : 28)

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim bersumber dari Anas yang membayankan atau menjelaskan terhadap al Qur-an Surah Fathir ayat 28 di atas dinyatakan bahwa :

العلماء اُمناء الله علي خلقهِ

("al ‘Ulama adalah pemegang amanah Allah atas makhluqnya”).

Sedangkan ada pula sebuah hadits yang berbunyi :

العلماءُ ورثُ الانبياءَ
(al 'ulama adalah pewaris para nabi).

Tetapi kedudukan matan atau isi hadits ini lemah (dhoif) sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, karena masalah kenabian tidaklah diwariskan.

Kemudian ada juga satu lagi hadits shohih dari sumber Anas, riwayat Muslim yang menyatakan :

العلماءُ امناء الرّسل مالن يٌخلط السلطانَ ودخل الدنياَ اذا خلط السلطان ودخل الدنيا فقد خان الرسل فاهذروهُ

(Al ‘Ulama pemegang amanah para rosul, selama ia tidak menjilat penguasa / ambisi kekuasaan, dan tidak cinta berat terhadap dunia / materialis, jika ia menjilat penguasa / ambisi kekuasaan, dan cinta berat terhadap dunia / materialis maka sungguh ia telah menghianati para rosul, maka jauhilah ia”).

Hadits ini menjelaskan al Qur-an Surah Assyura ayat 13 :

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (١٣)

“Disyariatkan atas  kamu ad Din, (yaitu) apa yang Kami  wasiatkan dengannya kepada Nuh, dan apa-apa yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad),  dan apa-apa yang Kami wasiatkan dengannya kepada Ibrahim dan Musa dan Isa, bahwa tegakkanlah ad Din dan janganlah berpecah-belah didalamnya. Berat rasanya bagi orang-orang musyrik seruan kamu atas mereka, Allah menetapkan dengan seruan itu siapa yang dikehendakiNya, dan menunjuki dengannya orang-orang yang kembali (bertaubat)”.

Inilah sifat ‘adilnya ulama, yaitu berani menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah dihadapan siapapun, baik dirinya, keluarga, kerabat, penguasa atau rakyat jelata, si miskin ataupun si kaya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (١٣٥)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia. Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (Qs. An Nisa : 135)

Kemudian ulama sebenarnya sifat wara, menjaga diri sehingga seruannya selalu memiliki dasar hujjah yang benar dari sumber Al Quran dan hadits shahih, bukan atas dasar perasaan dan mengikuti logika kebanyakan manusia atau selera pihak pemesan, yang dapat berujung pada kedustaan,

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ (١١٦)

“dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung” (Qs. An Nahl : 116)

Sifat lainnya adalah sajaah atau tegar menghadapi ujian dan rintangan,

وَلا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (٨٧)وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٨)

“dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Rabbmu, dan janganlah sekali-sekali kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Illah apapun yang lain. tidak ada Aturan (yang berhak diikuti) melainkan dari Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Qs. Qoshos 87 – 88)

Cirinya adalah tidak merasa sedih, berduka, menyerah kepada kemauan musuh Allah dan RasulNya, karena resiko mundur dari perjuangan adalah musryik. Sedangan bayaran terhadap kebenaran adalah syahid, insyaAllah. Dan seluruh makhluq akan mati baik yang tunduk pada Allah ataupun yang menentang kepadaNya. Mereka inilah ulama pilihan yang siap mengambil resiko demi membela kebenaran, meski terkadang harus di usir (diasingkan), dibunuh, atau dipenjarakan.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (٣٠)

“dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Qs. Al Anfal : 30)

Inilah sedikit ciri atau sifat ulama, yang jika tampak pada diri mereka maka patutlah kita mengikutinya, namun jika tidak ada bahkan berlawanan dengan empat sifat ini, maka wajiblah kita berhati – hati dan menjauhinya. Keempat sifat itu adalah wara’, ‘adil,  iffah, dan sajaah. (Sdp)

http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/articles/319-antara-janji-kemenangan-dengan-para-perintang-islam.html

No comments:

Post a Comment