IBUNDA PARA MUJAHID

IBUNDA PARA MUJAHID (Part 1)

Banyak orang yang terkagum-kagum dengan kekuatan hafalan Anas bin Malik, keshalihan Hasan al-Bashri, tentang kejeniusan asy-syafi’i,tentang keadilan Umar bin abdul Aziz, dan masih banyak lagi tokoh yang spektakuler. Namun hanya sedikit yang mengenal para bidadari dunia yang sangat berperan besar menghantarkan mereka menjadi orang-orang besar. Pepatah mengatakan, di balik orang yang mulia, pasti ada wanita yang mulia. Artikel ini akan mengulas ibunda para mujahid, yang berperan sangat besar bagi kesuksesan mereka

Ibunda anas bin Malik

Siapakah yang tidak mengenal Anas bin Malik ? Dia adalah pembantu setia Rasulullah SAW, asisten sekaligus sahabat dekat beliau. Anas adalah satu sari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist dan telah banyak ’meluluskan’ ulama hebat dalam sejarah, sebut saja : Hasan al-Bashri , Ibnu sirin, Umar bin Abdul Aziz, dan lain-lain.

Anas adalah sahabat yang beruntung karena do’a Rasullullah SAW. Beliau berdo’a : ” Ya Allah perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya”. Berkat do’a tersebut beliau dikaruniai usia yang panjang, mencapai 103 tahun. Anak keturunanya mencapai ratusan orang. Tentang kekayaannya, diriwayatkan bahwa Anas memiliki sebuah kebun yang menghasilkan buah-buahan dua kali dalam setahun, padahal kebun lain hanya sekali. Disamping itu kebun kebunnya juga menebarkan aroma kesturi yang semerbak.

Di belakangnya Ada Ummu sulaim, ibunya.


Di balik kecerdaran Anas ada Ummu Sulaim, sang ibunda yang mewarnai kehidupannya.Dalam Siyarnya, adz-Dzahabi meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas RA : ”Suatu ketika Rasulullah SAW berkunjung ke rumahku. Ibu berkata : ”Ya, Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus bagimu.

Apa itu?” tanya Nabi. ”Orang yang siap membantumu, Anas,” jawab sang ibu

Seketika itulah Rasulullah SAW memanjatkan do’a-do’a untukku, hingga tak tersisa satupun dari kebaikan dunia dan akhirat melainkan beliau do’akan bagiku. ”Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak keturunan, serta berkahilah keduanya baginya, kata Rasulullah SAW dalam do’anya. Saat itu Anas masih berusia 8 tahun. Dia menyerahkan buah hatinya tercinta sebagai tanda kecintaannya terhadap kekasih Allah. Katanya : ” Ya rasulullah, tak tersisa seorang Anshar pun kecuali datang dengan hadiah istimewa. Namun aku tak mampu memberimu hadiah kecuali puteraku ini, maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja Anda inginkan ”.

Ummu sulaim termasuk wanita yang cemerlang akalnya,penyabar dan pemberani.Ketiga sifat inilah yang menurun pada Anas dan dan mewarnai karakternya.

Kecerdasan Ummu Sulaim

Suami pertamanya adalah Malik bin Nadhar, ayah Anas. Ketika dakwah Islam terdengar oleh Ummu sulaim, segeralah ia dan kaummya menyatakan keIslamannya. Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan anshar. Ummu Sulaim menawarkan Islam kepada suaminya yang ketika itu masih musyrik. Namun suaminya menolaknya dan meninggalkannya. Malik akhirnya pergi ke Syam dan meninggal di sana.

Setelah suaminya meninggal dunia, Abu Thalhah yang waktu itu masih dalam keadaan musyrik meminangnya. namun Ummu Sulaim menolak pinangannya tersebut sampai abu Thalhah mau masuk Islam. Anas mengisahkan cerita ini dari ibunya.

Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu , hai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu dipahat oleh budak dari suku anu, ” sindir Ummu Sulaim.”Jika kau sulut dengan apipun ,ia akan terbakar,” lanjutnya lagi. Dalam riwayat lain dikatakan ”Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku seorang muslimah sehingga tidak halal untukku menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu. Padahal Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan anshar, dan menawarkan emas dan perak untuk dijadikan mahar pernikahan mereka. Namun Ummu Sulaim adalalah daiyah yang lebih memilih keimanan daripada kekayaan duniawi.

Kata-kata Ummu Sulaim tadi sangat membekas di hatinya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keIslamannya. Maka berlangsunglah pernikahan mereka berdua dan Ummu Sulaim tak meminta mahar apapun selain keislaman Abu Thalhah.

Ketabahan Ummu Sulaim


Ummu Sulaim dan Abu Thalhah dikaruniai 2 orang anak. anak pertama bernama Abu Umair, namun ia dipanggil Allah ketika masih anak-anak.Anas bercerita :” Suatu ketika Abu ’Umair sakit parah, tatkala adzan Isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, Abu Umair dipanggil oleh Allah. Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. ia berpesan kepada Anas agar tidak memberitahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya. Maka Ia pun segera menghapus air matanya, menyiapkan makan malam untuk suaminya dan berhias secantik mungkin. Sepulang dari mesjid, Abu Thalhah bertanya : Apa yang dilakukan oleh anakku?” Beliau menjawab, ”Dia dalam keadaan tenang.”Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat dan sedang beristirahat. Lalu Abu Thalhah menyantap hidangan yang telah tersedia, melihat isterinya yang sudah berhias, terbitlah birahinya, hingga iapun menggauli isterinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya : ”Bagaimana menurutmu keluarga si Fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain tetapi ketika diminta mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.”Ketahuilah, sesungguhnya puteramu adalah pinjaman dari Allah dan kini Allah telah mengambilnya kembali.”kata Ummu Sulaim lirih.

Abu thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata denngan marah, ”Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?

Beliau ulang-ulang kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) lalu bertahmid kepada Allah hingga berangsur-angsur jiwanya menhjadi tenang.

Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasulullah SAW dan mengabarkan kepada Rasulullah SAW tentang apa yang terjadi, lalu Rasulullah bersabda :

Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Do’a Rasulullah kepada kepada Abu Thalhah ternyata tak sekedar menjadikannya punya anak. Akan tetapi Abdullah kemudian tumbuh menjadi anak yang shalih yang dikaruniai tujuh orang keturunan yang shalih-shalih pula. Menurut penuturan salah seorang perawi yang benama Ababah, aku melihat dia memiliki tujuh anak yang semuanya hafal Al-Qur’an.

Kemurahan hati Ummu Sulaim

Diantara keutamaan Ummu sulaim ini adalah Allah menurunkan ayat tentang kemurahatian dia dan suaminya. Abu Hurairah berkata : ”Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan berkata : ”Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar.” Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu isterinya teantang makanan di rumahnya, namun beliau menjawab, ”Demi Allah yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada isteri yang lain, namun semuaya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.

Maka berdirilah salah seorang Anshar yang bernama Abu Thalhah seraya berkata : ”Saya, ya Rasulullah.” maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian bertanya kepada isterinya, ”Apakah kamu memiliki makanan?”.Isterinya menjawab, ”Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak.” Abu Thalhah berkata : ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka . Nanti apabila tamu saya masuk maka saya akan perlihatkan bahwa saya ikut makan, maka apabila makanan sudah berada di tangan, maka berdirilah dan matikan lampu.” Hal ini dilakukan oleh Ummu Sulaim. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua suami isteri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW bersabda : ”Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian.” Di akhir hadist disebutkan, ”maka turunlah ayat : ”Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri merek sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr : 9).

Keberanian Ummu Sulaim

Anas menceritakan bahwa suatu ketika Abu Thalhah berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika perang Hunain. ia melihat bahwa di tangannya ada sebilah pisau, maka Abu Thalhah segera melaporkan hal ini kepada Rasulullah. ”Ya Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekatiku,” jawab Ummu Sulaim. Menurut adz-dzahabi, Ummu Sulaim juga ikut terjun dalam perang Uhud bersama Rasulullah. Ketika itu ia juga kedapatan membawa sebilah pisau.

Balasannya Jannah

Tidak sekedar keturunan yang membanggakan, yang menjadi cahaya mata, rahmat bagi umat, namun beliau juga sudah dijanjikan menjadi penghuni jannah.Beliau bersabda : ” Aku masuk Jannah, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, ”Siapa itu ?”. Mereka berkata : ”Dia adalah Rumaisha binti Malhan ibu dari Anas bin Malik.

[umina_fatih]

Referensi :

1.Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Mustafa Abu nash Asy-Syalabi. Wanita-wanita teladan di Masa Rasulullah. At-Tibyan. Solo
2. Sufyan bin Fuad Baswedan. Ibunda para Ulama. WAFA Press.Klaten ;2006.

IBUNDA PARA MUJAHID (Part 2)

Ibunda Urwah bin Zubair

Siapakah Urwah bin Zubair ?


Nasabnya


Nama lengkapnya adalah Urwah bin Zubair bin Awwam al-Quraisyi al- Asadi al-madani. Lahir 23 Hijriyah. Lahir dari rahim seorang shahabiah bernama Asma’ binti abu bakar. Ayahnya bernama Zubair bin Awwam, Salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira dijamin masuk syurga.Kakeknya Abu bakar as-Shidiq sahabat Rasulullah sekaligus khalifah yang pertama.

Keutamaan pribadinya


Urwah adalah sosok tabi’in yang amat dalam ilmunya, penyantun dan zuhud terhadap dunia. Beliau termasuk salah satu dari tujuh fuqaha Madinah yang menjadi penasehat pribadi Umar bin Abdul Aziz tatkaka menjabat sebagai gubernur Madinah. Urwah bin Zubair termasuk salah seorang hafizh dan faqih. Ia menghafal hadist dari ayahnya. Ia amat rajin shaum, bahkan tatkala ajal menjemputnya ia dalam keadaan shaum. Ia mengkhatamkan seperempat al-Qur’an setiap harinnya. Ia selalu bangun malam dan tak pernah meninggalkannya kecuali sekali saja, yaitu malam ketika kakinya diamputasi.

Atas takdir Allah kakinya terserang kanker kulit. Penyakit itu menjalar dari kaki sampai betis. Sehingga sedikit demi sedikit kakinya mulai membusuk. Para tabib kewalahan, mereka khawatir penyakitnya akan menjalar ke seluruh tubuhnya, sehingga memutuskan mengamputasi kakinya. Mereka menawarkan kepadanya agar mau meminum khamar supaya tidak kesakitan ketika ampurasi dilakukan. Namun apa jawabnya :

Tak pantas rasanya aku menenggak barang haram sambil mengharap kesembuhan dari Allah.

Kalau begitu, kami akan memberimu obat bius,” kata para tabib

Aku tak ingin salah satu anggota anggota badanku diambil tanpa terasa sedikitpun, aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit sedikitpun, aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit itu, ” tukas Urwah.

Dalam riwarat lain disebutkan bahwa Urwah akhirnya berkata pada tabib ”Jika memang tak ada cara lain, maka baiklah, aku akan shalat, dan silahkan tuan-tuan mengamputasi kakiku ketika itu!” jawabnya dengan penuh keyakinan.

Akhirnya proses amputasi pun dilakukan. Mereka memotong kakinya pada bagian lutut, sedangkan Urwah diam dan tak merintih sedikitpun ketika itu. Ia benar-benar tersibukkan dengan shalatnya.

Cobaan tak berhenti sampai di sini. Bahkan diriwayatkan bahwa pada malam kakinya diamputasi itu, salah satu anak kesayanggannya yang bernama Muhammad wafat karena jatuh terpeleset dari atap rumah. Beliau justru memanjatkan pujian kepada Allah SWT, ”Segala puji bagi bagi-Mu, ya Allah, mereka adalah tujuh bersaudara yang satu diantaranya telah Kau ambil, namun Engkau masih menyisakan enam bagiku. Sebelumnya aku juga memiliki empat anggota badan, lalu Kau ambil satu daripadanya, dan Kau sisakan yang tiga bagiku. Meski engkau telah mengambilnya, namun Engkau jualah pemberinya, dan meski Engkau mengujiku, namun engkau jualah yang selama ini memberiku kesehatan. Alangkah tabahnya beliau.

Siapapakah ibunya?


Beliau adalah Asma binti Abubakar ra.

Putera Pemilk dua ikat pinggang

Ketika itu Abu Bakar sedang berkemas mempersiapkan segalanya untuk hijrah bersama kekasihnya, Rasulullah SAW. Rasulullah dengan menyamar datang ke rumahnya, menyampaikan berita bahwa perintah hijrah telah datang dan meminta Abu bakar untuk menemaninya. Maka segeralah keluarga Abu bakar menyiapkan segala keperluan mereka. Mereka siapkan bekal dalam sebuah kantong, namun tak punya tali untuk mengikatnya. maka Asma’ membelah ikat pinggangnya menjadi dua. Sehelai ia pakai, dan satunya untuk mengikat kantong yang akan digendongnya. maka sejak itulah ia disebut Dzatun Nithaqain ( pemilik dua ikat pinggang).

Kemudian ayahnya berangkat bersma Rasulullah ke Gua Tsur. Mereka bermalam di sana selama tiga malam, selama itu pula Asma bolak-balik melintasi gurun pasir untuk mengantarkan bekal bagi mereka. Padahal saat itu dia dalam keadaan hamil!

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Asma’ adalah orang yang ke delapan belas yang masuk Islam di Mekkah, Ia hijrah ke Madinah dalam keadaan hamil sembilan bulan. setibanya di madinah Ia menjadi muhajir pertama yang melahirkan anaknya di madinah, Abdullah bin Zubair.

Ketabahan Asma’


Ketika Rasulullah ayahnya hendak pergi berhijrah, abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak meninggalkan sepeserpun untuk anak-anaknya.. Lalu datanglah kakeknya yang sudah buta dan menanyakan harta yang ditinggalkan untuk cucu-cucunya. Lau asma, mengambil beberapa batu dan ia simpan di tempat ayahnya biasa menyimpan uang, setelah itu ia tutupi dengan kain dan dipegangnya tangan sang kakek dan diletakkan di atas kain tadi. ”Inilah yang ayah tinggalkan untuk kami, katanya. Sang kakekpun merasa tenang.

Zubair menikahi asma dalam keadaan tidak memiliki harta apapun kecuali seekor kuda. Asma lah yang mengurusnya, memberi makanan , mengairi pohon kurma, mencari air dan mengadon roti. Bahkan dia sering membawa kurma sendiri dengan mengusung di atas kepala, padahal jarak kerbun kurma ke rumahnya sekitar 2 kilometer.

Keberanian Asma’


Ketika masih belia , Asma pernah diancam oleh Abu Jahal untuk memberitahukan tempat persembunyian ayahnya dan Rasulullah, namun beliau bersikukuh bungkam, dan akhinya ditampar berkali-kali hingga anting-antingnya terjatuh.

Beliau menyertai pasukan muslimin dalam perang Yarmuk dan berperang sebagaiman layaknya pejuang. Tatkala banyak pencuri menyusup kota madinah di masa pemerintahan Sa’d bin ash beliau mengambil sebilah kelewang yang beliau letakkan di sikunya untuk menghadapi para pencuri

Dia juga mendorong anaknya untuk menghadapi tentara Hajjaj yang mengepung kota Mekah, dikala usianya sudah menjelang 100 tahun.

Kedermawanan Asma’

Fathimah binti Mundzir mengatakan, ”Pernah suatu ketika Asma menderita sakit, maka ia memerdekakan semua budak yang dimilikinya.

Muhammad bin Munkadir menceritakan bahwa ”Asma’ adalah wanita yang penyantun. Zubair bin Awwam sendiri mengatakan, ”Aku tidak pernah melihat wanita yang lebih penyantun daripada Aisyah dan Asma’, namun sifat santun mereka sedikit berbeda. Kalau Aisyah , maka ia mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit, baru setelah terkumpul ia bagi-bagikan. Sdangkan asma, tak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari. Pesannya kepada putra-putri dan sanak familinya : Berinfaklah kalian, bersedekahlah, dan janganlah kalian menangguhkan cadangan,

Dikaruniai umur yang panjang

Asma merupakan wanita muhajirah yang terakhir kali wafat. Beliau wafat dalam usia 100 tahun dalam keadaan sehat, tidak ada satupun gigi beliau yang telah tanggal, akalnya masih jernih dan belum pikun.

Referensi :

1. Al-Istambuli, Mahmud Mahdi dan As-syalbi mustafa Abu Nasr. Wanita-wanita Sholihah dalam Cahaya Kenabian.Mitra Pustaka. Yogyakarta ; 2002
2. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Mustafa Abu nash Asy-Syalabi. Wanita-wanita teladan di Masa Rasulullah. At-Tibyan. Solo
3. Sufyan bin Fuad Baswedan. Ibunda para Ulama. WAFA Press.Klaten ;2006

http://parentingislami.wordpress.com/2008/03/11/ibunda-para-mujahid-part-2/

No comments:

Post a Comment