Showing posts with label Amal. Show all posts
Showing posts with label Amal. Show all posts

Mereka adalah orang yang sia-sia amalnya ..........

Mukadimah

                Beramal adalah perintah agama, yaitu amal yang baik-baik. Amal itulah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan yang membedakan kedudukannya di akhirat kelak. Lalu, semua  manusia akan ditagih tanggung jawabnya masing-masing sesuai amal mereka di dunia.

                Allah Ta’ala berfirman tentang kewajiban beramal:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: "Ber-amalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah (9): 105)

Allah Ta’ala berfirman tentang kedudukan yang tinggi bagi orang yang beramal shalih:
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا
 Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia) .  (QS. Thaha (20): 74)

Allah Ta’ala berfirman tentang tanggung jawab perbuatan manusia:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. Al Muddatsir (74): 38)
                
 Allah Ta’ala berfirman tentang baik dan buruk amal manusia akan diperlihatkan balasannya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ   وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ  
                Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.  dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az Zalzalah (99): 7-8)

                Demikianlah, keadaan manusia di akhirat kelak tergantung amalnya di dunia.


Beramal tetapi Sia-Sia

                Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa manusia yang melaksanakan amal shalih, akan mendapatkan balasan kebaikan untuknya, walau kebaikan itu sebesar dzarrah. Namun, Allah Ta’ala juga menyebutkan adanya manusia yang bangkrut dan sia-sia amalnya, lenyap tak memiliki manfaat bagi pelakunya, karena kesalahan mereka sendiri. Siapakah mereka?

  1. Orang Kafir
Banyak ayat yang menyebutkan kesia-siaan amal mereka. Walaupun manusia memandangnya sebagai amal shalih, tetapi amal tersebut tidak ada manfaatnya bagi mereka karena kekafiran mereka kepada Allah dan RasulNya, dan syariatNya pula.

Di sini, kami akan sebutkan beberapa ayat saja:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا  الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. Al Kahfi (18): 103-105)

Yaitu mereka telah mengingkari Al Quran dan tanda-tanda kebesaranNya, mengingkari hari akhir dan hisab. Mereka menyangka itu adalah perbuatan baik, padahal itu adalah kekufuran yang membuat terhapusnya amal-amal mereka.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash ditanya oleh anaknya sendiri, siapakah yang dimaksud ayat  (Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"):
أهم الحَرُورية؟ قال: لا هم اليهود والنصارى
Apakah mereka golongan Haruriyah (khawarij)? Beliau menjawab: “Bukan, mereka adalah Yahudi dan Nasrani.” (Riwayat Bukhari No. 4728)

Dalam ayat lain:
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al Furqan (25): 23)

Dalam ayat lain:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An Nuur (24): 39)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

فهو للكفار الدعاة إلى كفرهم، الذين يحسبون أنهم على شيء من الأعمال والاعتقادات، وليسوا في نفس الأمر على شيء، فمثلهم في ذلك كالسراب الذي يرى في القيعان من الأرض عن  بعد كأنه بحر طام

Ini adalah bagin orang kafir yang menyeru kepada kekafiran mereka, yaitu orang-orang yang menyangka bahwa mereka beruntung dengan amal dan keyakinan mereka, padahal urusan mereka itu bukanlah apa-apa, perumpamaan mereka itu seperti fatamorgana yang dilihat di tanah datar dari kejauhan seolah seperti lautan  yang amat luas. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/70)

Para ulama telah membuat klasifikasi (ashnaaf) kaum kafirin sebagai berikut, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Kisani Rahimahullah:
صِنْفٌ مِنْهُمْ يُنْكِرُونَ الصَّانِعَ أَصْلاً ، وَهُمُ الدَّهْرِيَّةُ الْمُعَطِّلَةُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ ، وَيُنْكِرُونَتَوْحِيدَهُ ، وَهُمُ الْوَثَنِيَّةُ وَالْمَجُوسُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ وَتَوْحِيدِهِ ، وَيُنْكِرُونَ الرِّسَالَةَ رَأْسًا ، وَهُمْ قَوْمٌ مِنَ الْفَلاَسِفَةِ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ الصَّانِعَ وَتَوْحِيدَهُ وَالرِّسَالَةَ فِي الْجُمْلَةِ ، لَكِنَّهُمْ يُنْكِرُونَ رِسَالَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى  
Kelompok yang mengingkari adanya pencipta, mereka adalah kaum dahriyah dan mu’aththilah (atheis).

Kelompok yang mengakui adanya pencipta, tapi mengingkari keesaanNya, mereka adalah para paganis (penyembah berhala) dan majusi.

Kelompok yang mengakui pencipta dan mengesakanNya, tapi mengingkari risalah yang pokok, mereka adalah kaum filsuf.

Kelompok yang mengakui adanya pencipta, mengesakanNya, dan mengakui risalahNya secara global, tapi mengingkari risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka adalah Yahudi dan Nasrani. (Al Bada’i Ash Shana’i, 7/102-103, lihat juga Al Mughni, 8/263)

  1. Orang Musyrik
Amal shalih orang musyrik juga akan sia-sia karena kesyirikan yang dia lakukan. Hal ini diterangkan beberapa ayat, kami sebutkan satu saja:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’am (6): 88)

Imam Abul Farj bin Al Jauzi Rahimahullah menjelaskan:
أي : لبطل وزال عملهم ، لأنه لا يقبل عمل مشرك
Yaitu benar-benar sia-sia dan lenyap amal mereka, karena Dia tidak menerima perbuatan orang musyrik. (Zaadul Masir, 3/271. Mawqi’ At Tafasir)

 Syaikh As Sa’di Rahimahullah menjelaskan:
{ لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } فإن الشرك محبط للعمل، موجب للخلود في النار
(niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan) karena syirik menghapuskan amal, dan membuat kekekalan di neraka. (Taysir Al Karim Ar Rahman, Hal. 263. Cet. 1, 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah)

Musyrik di sini adalah orang yang telah melakukan kesyirikan yang besar (syirk akbar) yang membuat pelakunya menjadi murtad dari Islam. Kelompok inilah yang membuat semua amalnya sia-sia.  Ada pun kesyirikan kecil (syirk ashghar) yang tidak membuat pelakunya menjadi murtad, dan dia melakukan karena kebodohan, maka amal yang ditolak hanyalah amal syiriknya itu saja, tidak melenyapkan semua amalnya yang lain. Sebab orang ini masih muslim, belum keluar dari Islam.

  1. Orang Yang Murtad dari Islam
Orang yang murtad dari Islam, baik dia sengaja memproklamirkan kemurtadannya, atau dia melakukan perbuatan yang membuatnya murtad, walau dia tidak mengakui dilisannya, maka semua amal shalihnya menjadi sia-sia. Hal ini langsung Allah Ta’ala firmankan dalam Al Quran dalam beberapa ayat, di antaranya:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah (2): 217)
                
 Disebutkan dalam Tafsir Al Muyassar:

ومن أطاعهم منكم -أيها المسلمون- وارتدَّ عن دينه فمات على الكفر، فقد ذهب عمله في الدنيا والآخرة، وصار من الملازمين لنار جهنم لا يخرج منها أبدًا
                Barangsiapa di antara kalian yang mentaati mereka (kaum kafir) –wahai kaum muslimin- dan murtad dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka telah terhapus amalnya di dunia dan akhirat, dan dia akan menetap di neraka jahanam selamanya, tidak akan keluar darinya. (Tafsir Al Muyassar, 1/231. Pengantar: Dr. Abdulah bin Abdul Muhsin At Turki)
                Ayat lainnya:
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al Maidah (5): 5)
Imam Al Baghawi menerangkan tentang ayat ini:
قال ابن عباس ومجاهد في معنى قوله تعالى: "ومن يكفر بالإيمان" أي: بالله الذي يجب الإيمان به.
وقال الكلبي: بالإيمان أي: بكلمة التوحيد وهي شهادة أن لا إله إلا الله.
وقال مقاتل: بما أُنزل على محمد صلى الله عليه وسلم وهو القرآن، وقيل: من يكفر بالإيمان أي: يستحل الحرام ويحرّم الحلال فقد حبط عمله، وهو في الآخرة من الخاسرين قال ابن عباس: خسر الثواب.

                Berkata Ibnu Abbas dan Mujahid tentang makna firman Allah Ta’ala “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman”, yaitu: kepada Allah yang wajib iman kepadanya.  Al Kalbiy berkata tentang “bil iman”, yaitu kalimat tauhid,  laa ilaha illallah. Muqatil berkata: “Iman kepada yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni Al Quran.” Dikatakan pula: “Barangsiapa yang kafir setelah beriman” yaitu yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, maka dia telah terhapus amalnya, dan dia diakhirat termasuk golongan merugi. Ibnu Abbas berkata: “Merugi pahalanya.” (Lihat Ma’alim At Tanzil, 3/20)

  1. Orang yang  tidak ikhlas beramal
Orang yang amalnya bukan untuk Allah Ta’ala, bukan mengharap keridhaanNya, tetapi karena supaya dilihat (riya’), atau supaya didengar (sum’ah) manusia, maka dia termasuk yang ditolak amalnya dan sia-sialah amalnya itu. Namun, tertolaknya amal orang tersebut hanya terbatas pada amal yang memang riya’ dan sum’ah saja, tidak serta merta menghanguskan semua amal  lainnya. Hal ini karena orang tersebut belum sampai syirik akbar, kafir, dan murtad. Sedangkan riya’ dan sum’ah termasuk syirik, yakni syirk ashghar (syirik kecil).
Allah Ta’ala berfirman:
 فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

                 “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al kahfi (18): 110)

                Dalam Tafsir Al Muyassar dijelaskan:


  فمَن كان يخاف عذاب ربه ويرجو ثوابه يوم لقائه، فليعمل عملا صالحًا لربه موافقًا لشرعه، ولا يشرك في العبادة معه أحدًا غيره.
Barangsiapa yang takut azab RabbNya, dan mengharapkan pahalaNya pada hari pertemuan denganNya, maka hendaknya dia melakukan amal shalih kepada Rabbnya yang sesuai dengan syariatNya, dan jangan menyekutukan Dia dalam beribadah dengan apa pun selainNya. (Tafsir Al Muyassar, 5/210)

Dalam hadits Qudsi, Allah Ta’ala menolak perbuatan orang yang bukan karenaNya:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Barang siapa yang melakukan perbuatan, di dalamnya terdapat   persekutuan bersamaKu dengan yang selain Aku, maka aku tinggalkan amalnya dan sekutunya itu. (HR. Muslim No. 2985)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengomentari hadits ini:

ومعناه أنا غني عن المشاركة وغيرها ، فمن عمل شيئا لي ولغيري لم أقبله ، بل أتركه لذلك الغير . والمراد أن عمل المرائي باطل لا ثواب فيه ، ويأثم به
Maknanya, “Sesungguh Aku (Allah) lebih kaya dari persekutuan dan selainnya, maka siapa saja yang melakukan sesuatu untukKu dan untuk selainKu  maka tidak akan diterima, bahkan Aku akan tinggalkan amal itu karena hal yang lain itu.” Maksudnya bahwa perbuatan orang yang riya’ adalah sia-sia, tidak ada pahala, dan dia berdosa. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 18/116)

  1. Orang yang berbuat bid’ah
Pelaku bid’ah (perbuatan yang mengada-ada dan bertentangan dengan syariat), walau dia menyangka amalnya adalah amal shalih, maka amal bid’ah tersebut  tertolak. Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:

فإن للعمل   المتقبل شرطين، أحدهما: أن يكون خالصًا لله وحده والآخر: أن يكون صوابًا موافقا للشريعة. فمتى كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يتقبل؛ ولهذا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد"

Sesungguhnya amal yang diterima itu mesti memenuhi dua syarat: 1. Hendaknya ikhlas untuk Allah semata. 2. Amal tersebut benar sesuai dengan syariat. Maka, ketika amal itu ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima, oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang beramal yang bukan termasuk perintah kami maka itu tertolak.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/385)

Hadits yang dijadikan dalil   oleh Imam Ibnu Katsir ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al I’tisham bil Kitab was Sunnah Bab Idza Ijtahada Al ‘Amil aw Al Hakim Fa Akhtha’a Khilafar Rasuli min Ghairi ‘Ilmin fahukmuhu Mardud. (lalu disebutkan hadits: man ‘amila ‘amalan .. dst tanpa menuliskan sanadnya (mu’alaq) dan dengan shighat jazm: Qaala Rasulullah ….), Imam Muslim dalam Shahihnya, juga pada No. 1718, Imam Ad Daruquthni dalam  Sunannya No. 81, Imam Ahmad dalam Musnadnya No.26191.

Allah Ta’ala juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk : 2)

                Siapakah yang lebih baik amalnya? Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah menjelaskan, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Taimiyah:

أخلصه وأصوبه فقيل : يا أبا علي ما أخلصه وأصوبه ؟ فقال : إن العمل إذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل . وإذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل حتى يكون خالصا صوابا . والخالص : أن يكون لله والصواب أن يكون على السنة

                “Yang paling ikhlas dan benar.” Lalu ada yang bertanya: “Wahai Abu Ali (Fudhail bin ‘Iyadh), apakah yang ikhlas dan benar itu?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya perbuatan jika benar tapi tidak ikhlas belum  diterima. Jika ikhlas tapi tidak benar juga belum diterima, sampai  dia ikhlas dan benar. Ikhlas adalah hanya menjadikan ibadahnya untuk Allah, dan benar adalah perbuatan itu sesuai sunah.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 28/177.  Cet. 3, 2005M-1426H.  Tahqiq: ‘Anwar Al Baaz dan ‘Amir Al Jazaar. Darul Wafa’)
 
                Imam Ibnu Taimiyah juga menulis:

وقد روى ابن شاهين واللالكائي عن سعيد بن جبير قال : لا يقبل قول وعمل إلا بنية ولا يقبل قول وعمل ونية إلا بموافقة السنة
                Diriwayatkan dari Ibnu Syaahin dan Al Lalika’i, dari Sa’id bin Jubeir, dia berkata: “Ucapan dan perbuatan tidak akan diterima kecuali dengan niat, dan tidak akan diterima ucapan, perbuatan dan niat, kecuali dengen kesesuaiannya dengan As Sunnah. (Ibid)

  1. Orang Yang Muflis (bangkrut)
Siapakah mereka? Berikut ini riwayat yang menjelaskan golongan tersebbut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apakah kalian tahu apa itu muflis (bangkrut)?” Mereka menjawab: “Orang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak punya perhiasan.” Beliau bersabda: “Orang bangkrut pada umatku, dia akan datang pada hari kiamat nanti dengan amalan shalat, puasa, dan zakatnya, dan dia juga  telah mencela, telah melempar tuduhan, memakan harta (tanpa hak), menumpahkan darah (tanpa hak), dan memukul (menyakiti). Maka, kebaikan-kebaikan dia akan dilimpahkan kepada orang-orang tersebut. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya,  kemudian dia dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim No. 2581, At Tirmidzi No. 2418, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 2778, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 11283, Ibnu Hibban No. 4411)

Hadits ini menceritakan tentang makna bangkrut (muflis) secara ma’nawiyah, bukan haqiqiyah. Jawaban para sahabat adalah makna bangkrut secara haqiqiyah. Sedangkan nabi mengajarkan mereka tentang makna bangkrut bagi manusia di akhirat.

Kita lihat, betapa sia-sia amal kebaikan mereka yang suka mencela, menuduh tanpa bukti, mengambil harta yang bukan hak, menumpahkan darah, dan menyakiti manusia. Semua kebaikannya tergerus dan berpindah kepada orang yang pernah menjadi korbannya. Sedangkan dosa-dosa korbannya berpindah kepada orang tersebut.

  1.  Menyakiti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Tentang hal ini, Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (QS. Al Hujurat (49): 2)

Ayat ini menerangkan bahwa perilaku yang dapat menyakiti dan membuat marah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seperti bersuara melebihi suara beliau di hadapannya, dapat menghilangkan pahala dari pelakunya.
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

أي: إنما نهيناكم عن رفع الصوت عنده خشية أن يغضب من ذلك، فيغضب الله لغضبه، فيحبط الله عمل من أغضبه وهو لا يدري
                Yaitu sesungguhnya Kami melarang kalian meninggikan suara di hadapannya dikhawatiri dia marah karena hal itu, maka marah-lah Allah karena kemarahannya, lalu Allah menghapus amalan orang yang membuatnya marah, dan dia tidak tahu. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/368)
 
Jika bersuara melebihi suara nabi saja dapat menghilangkan pahala, apalagi orang yang menentang, menghina dan menolak ajarannya, serta memperolok-olok sunahnya,  baik yang dianggap sepele atau dalam masalah besar?
Sekian. Wallahu A’lam

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Bencana…!! Banyak Berilmu Namun Tanpa Amal




Mengenai Syaikh Abdurrozzaq, sebagaimana pengakuan sebagian teman yang pernah dekat dengan beliau, bahwasanya beliau bukanlah orang yang paling ‘alim di kota Madinah, bahkan bukan pula orang yang paling ‘alim di Universitas Islam Madinah, karena pada kenyataannya masih banyak ulama lain lebih unggul daripada beliau dari sisi keilmuan. Akan tetapi yang menjadikan beliau istimewa di hati para mahasiswa adalah perhatian beliau terhadap amal, takwa, dan akhlak. Hal ini tidak mengherankan karena seringkali wejangan-wejangan beliau tentang perhatian pada mengamalkan ilmu.
Selama kurang lebih 9 tahun, beliau mengajar sebuah kitab tentang adab karya Imam Al-Bukhari yang berjudul Al-Adab Al-Mufrad di masjid Universitas Islam Madinah, setiap hari Kamis setelah shalat Shubuh. Selama tiga tahun beliau mengajar kitab yang sama di Masjid Nabawi. Ini semua menunjukkan perhatian beliau terhadap adab dan akhlak mulia. Bahkan, saat beliau mengisi di Radiorodja dan waktu itu tidak ada materi yang siap untuk disampaikan, serta kebetulan salah seorang pembawa acara ingin ada pengajian khusus tentang tanya jawab dengan diberi sedikit mukadimah, maka beliau langsung setuju, dan mukadimah yang beliau bawakan adalah tentang pentingnya mengamalkan ilmu.

Orang yang Tidak Shalat Shubuh Berjamaah Bukanlah Penuntut Ilmu

Syaikh Abdurrozaq pernah mengunjungi suatu kampung yang terkenal memiliki banyak penuntut  ilmu. Maka beliau pun shalat di masjid tersebut. Di sana, beliau bertemu seorang kakek, lantas beliau berkata seraya memberi kabar gembira kepada sang Kakek, “Masya Allah, kampung Kakek banyak sekali penuntut ilmu.”
Tapi, sang Kakek malah menimpali dengan perkataan sinis, “Tidak ada tullabul ‘ilm (para penuntut ilmu) di kampung ini. Sebab, orang yang tidak shalat shubuh berjamaah bukan penuntut ilmu!”


Syaikh Abdurrozaq tertegun mendengar kalimat sang Kakek. Rupanya benar, banyak penuntut ilmu di kampung tersebut tidak menghadiri shalat shubuh berjamaah. Syaikh pun membenarkan perkataan sang Kakek, “Anda benar, bahwa ilmu itu untuk diamalkan. Bahkan bisa jadi kita mendapatkan seorang penuntut ilmu semalam suntuk membahas tentang hadits-hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan shalat Shubuh secara berjamaah, bahkan bisa jadi dia menghafalkan hadits-hadits tersebut di luar kepalanya. Akan tetapi tatkala tiba waktu mengamalkan hadits-hadits yang dihafalkannya itu, dia tidak mengamalkannya, malah ketiduran, tidak shalat shubuh berjamaah.”


Memang benar bahwasanya tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam  bersabda:

القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu. (HR Muslim no 223)

Saya teringat nasihat Syaikh Utsaimin yang disampaikan di hadapan para mahasiswa Universitas Islam Madinah, bahwasanya ilmu itu hanya akan memberi dua pilihan, dan tidak ada pilihan ketiga, yaitu: [1] menjadi pembela bagi pemiliknya atau [2] akan menyerangnya pada hari kiamat jika tidak diamalkan.
Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak menuntut ilmu hanya untuk menambah wawasannya, tetapi dengan niat untuk diamalkan agar tidak menjadi bumerang yang akan menyerangnya pada hari kiamat kelak.
Marilah kita renungkan…!

Sudah berapa lama kita ikut pengajian?

Sudah berapa kitab yang kita baca?
Sudah berapa muhadhorah yang kita dengarkan?

Sungguh suatu kenikmatan ketika seseorang bisa aktif ikut pengajian, akan tetapi apakah kita siap untuk menjawab pertanyaan yang pasti akan ditanyakan kepada kita semua, sebagaimana yang dikabarkan Nabi shalallahu alaihi wasalam  :

وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟

“Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?”

Syaikh Abdurrozzaq menjelaskan bahwa seseorang yang telah banyak mengumpulkan ilmu lantas tidak diamalkan maka hal ini menunjukkan ada niatnya yang tidak beres. Sungguh menyedihkan jika kita, ahlus sunah, yang seharusnya memberi perhatian besar terhadap ilmu akidah, baik penanaman akidah maupun pembenahan akidah-akidah yang menyimpang di masyarakat, namun ilmu akidah tidak tercermin pada amalan shalih kita.


Syaikh Abdurrozzaq berkata: “Aku ingin mengingatkan sebuah perkara yang terkadang kita melalaikannya tatkala kita mempelajari ilmu aqidah. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ

Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).( Al Fawaid 86)

Maksud “telah termasuki” dari perkataan Ibnul Qoyyim  yaitu telah termasuki sesuatu; baik riya, tujuan duniawi, atau yang semisalnya, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diberkahi. Oleh karena itu, niat yang baik merupakan perkara yang harus, baik dalam mempelajari akidah ataupun ilmu agama yang lain secara umum.


Jika seseorang mempelajari ilmu akidah hendaknya dia tidak mempelajarinya sekadar menambah telaah dan memperbanyak wawasan, tetapi hendaknya karena akidah merupakan bagian dari agama Allah yang diperintahkan Allah kepada para hamba-Nya, serta menyeru mereka kepada-Nya dan menciptakan mereka karena akidah dan dalam rangka merealisasikannya. Maka hendaknya ia berijtihad (berusaha keras) untuk memahami dalil-dalilnya dan ber-taqarrub kepada Allah dengan mengimaninya dan menanamkannya dalam hatinya. Jika dia mempelajari akidah dengan niat seperti ini maka akan memberikan buah yang sangat besar, dan akan memengaruhinya dalam perbaikan sikap, amal, dan akhlak dalam seluruh kehidupannya.

Jika seseorang mempelajari akidah hanya untuk jidal dan perdebatan, dengan tanpa memerhatikan sisi penyucian jiwa dengan keimanan, keyakinan, serta rasa tenang dengan akidah tersebut, maka tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Di antara contoh tentang perkara ini — yang berkaitan dengan iman kepada melihat Allah di akhirat kelak — sabda Nabi shalallahu alaihi wasalam  :

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ ، لاَ تُضَامُونَ ـ وفي رواية:”لا تُضارُّون”، وفي رواية:”لا تُضَامُّون”ـ في رؤيته، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَلاَّ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وّقَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوا ، ثُمَّ قَرَأَ: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat sebagaimana kalian melihat bulan. Kalian tidak akan tertutupi oleh awan, (dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling mencelakakan;  dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling berdesak-desakan), maka jika kalian mampu melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari maka lakukanlah.”

Kemudian Nabi membaca firman Allah:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Q.S. Qaf: 39 )

Maksud Nabi adalah shalat Shubuh dan shalat Asar.

Perhatikanlah keterkaitan antara akidah dan amal. Nabi menyebutkan kepada para sahabat perkara akidah, yaitu beriman kepada melihat Allah. Lalu Nabi menyebutkan kepada mereka tentang amal yang merupakan buah dari akidah yang benar, maka Nabi berkata kepada mereka: “Jika kalian mampu untuk tidak terluputkan….”

Jika ada seseorang mempelajari hadits-hadits tentang iman kepada melihat Allah, lantas meneliti jalan hadits serta sanad-sanadnya, lalu dia mendebat para ahlul kalam dan membantah syubhat-syubhat seputar hal ini, kemudian ternyata dia begadang dan akhirnya meninggalkan shalat Shubuh, bisa jadi shalat Shubuh tersebut tidak ada nilainya di sisi-Nya. Sang muadzin telah mengumandangkan adzan untuk shalat, “As-Shalatu khairun minan naum,” (Shalat itu lebih baik dari pada tidur) namun kondisinya menunjukkan seakan-akan dia berkata, “Tidur lebih baik daripada shalat.” Maka, mana pengaruh akidah pada sikapnya?


Kita mohon kepada Allah keselamatan.

Orang seperti ini perlu memperbaiki niat dan tujuannya dalam mempelajari akidah agar bisa membuahkan hasil yang diharapkan, maka terwujudkanlah pengaruh yang baik yang barakah baginya. Seorang muslim semestinya mempelajari akidah karena itu adalah akidah dan agamanya yang Allah telah memerintahkan dia untuk mengamalkannya. Dan hendaknya dia bersungguh-sungguh agar ilmu akidahnya tersebut bisa memberi pengaruh pada diri, ibadah, dan taqarrub-nya kepada Allah.” (Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Akidah, Al-Hafizh Abdul Ghaniy Al-Maqdisi; hal 21-22)

Marilah kita bercermin dan menginstropeksi diri kita, apakah dengan semakin bertambahnya ilmu kita demikian juga bertambah amalan kita? Ataukah bertambahnya ilmu justru membuat kita semakin malas dalam beramal? Bukankah kita masih ingat, di awal-awal mengenal pengajian, semangat kita begitu besar dalam menjalankan sunah-sunah Nabi, akan tetapi kenapa ada sebagian dari kita dengan semakin bertambahnya ilmu justru semakin sedikit beramal? Bahkan, ada pula sebagian kita setelah mengetahui beberapa amalan hukumnya sunah (mustahab) dan tidak wajib, malah terdorong untuk meninggalkan amalan tersebut. 

Bertambahnya ilmu justru mengantarkannya untuk meninggalkan amalan. Bukankah bisa jadi karena terbiasa meninggalkan amalan-amalan sunah akhirnya perkara-perkara yang wajib pun bisa ditinggalkan?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berkata:

وَإِذَا أَصَرَّ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ السُّنَّةِ وَفِعْلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فَقَدْ يُعَاقَبُ بِسَلْبِ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ حَتَّى قَدْ يَصِيرُ فَاسِقًا أَوْ دَاعِيًا إلَى بِدْعَةٍ

“Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa jadi dia dihukum (oleh Allah) dengan meninggalkan hal-hal yang wajib, hingga akhirnya bisa jadi ia menjadi orang fasik atau orang yang menyeru kepada bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/306)

Marilah kita cek hati dan ketakwaan kita, apakah dengan bertambah ilmu setelah sekian tahun ikut pengajian, maka ketakwaan dan keimanan kita semakin berkobar, ataukah malah semakin kendor? Jika ternyata kita semakin malas beramal dan semakin lemah iman kita maka ingatlah nasihat Syaikh Abdurrozzaq tadi bahwasanya niat kita selama ini ternyata terkontaminasi dan ternodai dengan penyakit-penyakit hati; baik riya, ujub, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya.


Allahul musta’an.

Ilmu adalah Pohon, dan Amal adalah Buahnya

Para pembaca yang budiman, tahukah Anda bahwa ilmu bukanlah ibadah yang independen? Ilmu hanya disebut ibadah dan terpuji apabila ilmu tersebut membuahkan amalan. Jika ilmu tidak membuahkan amal maka jadilah tercela dan akan menyerang pemiliknya. Hal ini dijelaskan dengan tegas oleh Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya yang luar biasa Al-Muwafaqat. Beliau berkata:

أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ لا يُفيد عَمَلاً؛ فَلَيْسَ فِي الشَّرعِ مَا يَدُلُّ عَلَى استِحسَانِه

“Semua ilmu yang tidak membuahkan amal maka tidak dalam syariat satu dalil pun yang menunjukkan akan baiknya ilmu tersebut.” (Al-Muwafaqat 1/74)

Oleh karena itu, semua dalil yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu semuanya harus dibawakan kepada ilmu yang disertai dengan amal.


Firman Allah:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az-Zumar: 9)

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.S. Ali Imran: 18)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S. Al-Mujadalah: 11)

Demikian juga semisal hadits Nabi shalallahu alaihi wasalam  :

من يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan membuat dia faqih (paham) tentang ilmu agama.

Maksudnya adalah orang yang dikendaki kebaikan oleh Allah adalah orang yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya. Adapun orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmu maka tercela, karena jelas ilmunya akan menjadi bumerang baginya.


Asy-Syathibi rahimahullah membawakan banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu. Beliau berkata: “Sesungguhnya ruh ilmu adalah amal. Jika ada ilmu tanpa amal maka ilmu tersebut kosong dan tidak bermanfaat. Allah telah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah para ulama.
(Q.S. Fathir: 28)


Dan Allah juga berfirman:

وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ

Dan Sesungguhnya Dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Q.S. Yusuf: 68)

Qatadah berkata: “Maksudnya adalah لَذُو عَمَلٍ بِمَا عَلَّمْنَا  dia mengamalkan ilmu yang Kami ajarkan kepadanya…” (Al-Muwafaqat 1/75).

Dan yang paling menunjukkan akan hal ini adalah hadits Nabi shalallahu alaihi wasalam  :

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يُسأَلَ عَنْ خَمْسِ خِصَالٍ”،

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang lima perkara.” Di antara lima perkara tersebut yang disebutkan oleh Nabi saw.: وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟ “ Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?”

Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232).

Oleh karena itu, sungguh indah kesimpulan yang disampaikan oleh Asy-Syathibi dalam perkataannya: “Dan dalil akan hal ini (bahwasanya ilmu hanyalah wasilah untuk amal dan bukan tujuan) terlalu banyak. Semuanya memperkuat bahwa ilmu merupakan sebuah wasilah (sarana) dan bukan tujuan langsung jika ditinjau dari kacamata syariat. Akan tetapi, ilmu hanyalah wasilah untuk beramal. Maka semua dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu hanyalah berlaku bagi ilmu yang disertai dengan amalan. Dan kesimpulannya bahwasanya seluruh ilmu syar’i tidaklah dituntut (dalam syariat) kecuali dari sisi sebagai sarana untuk mencapai sesuatu yaitu amal.” (Al-Muwafaqat 1/83-85)

Sungguh indah wasiat Al-Khathib al-Baghdadi kepada para penuntut ilmu:

إِنِّي مُوصِيكَ يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بِإِخْلَاصِ النِّيَّةِ فِي طَلَبِهِ، وَإِجْهَادِ النَّفْسِ عَلَى الْعَمَلِ بِمُوجَبِهِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا، … وَمَا شَيْءٌ أَضْعَفُ مِنْ عَالِمٍ تَرَكَ النَّاسُ عِلْمَهُ لِفَسَادِ طَرِيقَتِهِ ، وَجَاهِلٍ أَخَذَ النَّاسُ بِجَهْلِهِ لِنَظَرِهِمْ إِلَى عِبَادَتِهِ …
وَالْعِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ كَمَا الْعَمَلُ يُرَادُ لِلنَّجَاةِ ، فَإِذَا كَانَ الْعَمَلُ قَاصِرًا عَنِ الْعِلْمِ، كَانَ الْعِلْمُ كَلًّا عَلَى الْعَالِمِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ عَادَ كَلًّا، وَأَوْرَثَ ذُلًّا، وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غَلًّا ، قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الْعِلْمُ خَادِمُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ غَايَةُ الْعِلْمِ

Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkan konsekuensi ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Tidak ada yang lebih lemah dari kondisi seorang alim yang ditinggalkan ilmunya oleh masyarakat karena jalannya (yang kosong dari amal) dan seorang yang jahil yang diikuti kejahilannya oleh masyarakat karena melihat ibadahnya.”

Tujuan ilmu adalah amal, sebagaimana tujuan amal adalah keselamatan. Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan mendatangkan kehinaan, dan akhirnya menjadi belenggu di leher pemiliknya.

Sebagian ahli bijak berkata, “Ilmu adalah pembantu bagi amal, dan amal adalah puncak dari ilmu.” (Iqtidhaul Ilmi Al-’Amal 14-15)

Semangat Beramal Mengalahkan Kelelahan dan Kelemahan


Syaikh Abdurrozaq bercerita, “Suatu ketika aku pernah shalat Tarawih di Masjid Nabawi. Dulu, setiap malam bulan Ramadhan, para imam Masjid Nabawi membaca tiga juz dari Al-Quran dangan bacaan tartil. Berbeda dengan sekarang di mana para imam hanya membaca satu juz. Ketika itu, aku shalat dan ternyata di hadapanku ada seorang dari Indonesia yang juga ikut shalat malam. Yang menarik perhatianku, ternyata orang tersebut kakinya buntung satu. Tatkala berdiri dia hanya bertopang pada satu kakinya. Sungguh menakjubkan, kita yang memiliki dua kaki merasa kelelahan menunggu imam menyelesaikan bacaan tiga juz dalam sepuluh rakaat, sementara orang Indonesia ini meskipun hanya bertopang pada satu kaki tetapi semangatnya yang begitu luar biasa; sama sekali tidak bergeming selama shalat, tidak terjatuh atau tertatih-tatih. Keimanan yang luar bisa yang menjadikannya kuat untuk bertahan berjam-jam melaksanakan shalat Tarawih.”


Kisah yang luar biasa ini beberapa kali saya dengar dari Syaikh tatkala memotivasi murid-muridnya untuk semangat beramal. Timbul kebanggaan dalam diri saya mengetahui orang yang beliau contohkan itu berasal dari Indonesia, namun sekaligus timbul rasa malu dalam diri saya, mengapa saya tidak semangat beribadah seperti orang yang buntung tersebut?

Manhaj Nabi??!!

Suatu ketika saat Syaikh mengisi pengajian, ada orang yang bertanya kepada beliau, “Ya Syaikh, bagaimanakah manhaj Nabi?”


Pertanyaan ini unik karena diajukan saat santer-santernya fitnah tahdzir-mentahdzir di Arab Saudi, dan orang tersebut tentunya berniat baik ingin mengetahui bagaimanakah manhaj yang benar sehingga ia bisa berada di atas manhaj yang lurus sehingga selamat di tengah badai tahdzir dan fitnah. Namun, apa jawaban Syaikh?

Beliau berkata, “Manhaj Nabi sudah jelas dan diketahui. Nabi bangun tengah malam lantas shalat malam. Menjelang shubuh beliau bersahur, lalu beristighfar menunggu shubuh. Kemudian beliau shalat Shubuh berjamaah. Setelah itu beliau duduk di masjid, berdzikir hingga waktu syuruq, lalu shalat dua rakaat. Jika tiba waktu dhuha beliau shalat Dhuha, dan seterusnya. Beliau bersedekah, mengunjungi orang sakit, membantu orang yang kesusahan, menjamu tamu… dan seterusnya. Manhaj beliau ma’ruf.”


Demikian kira-kira jawaban beliau. Jawaban yang mengingatkan sebagian kita yang menyukai tahdzir-mentahdzir agar jangan lupa beramal. Jangan sampai kita yang mengaku di atas manhaj yang benar dan memberikan porsi yang besar terhadap manhaj, lantas lalai dari beramal shalih. Jangan sampai kita yang semangat mentahdzir kesalahan orang lain, ternyata orang yang kita tahdzir tersebut lebih perhatian terhadap amal daripada kita.

Saya teringat nasihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang yang suka mentahdzir tapi kurang suka beramal, sementara orang yang ditahdzir justru lebih semangat dalam beramal. Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan banyak orang-orang yang mengingkari bid’ah-bid’ah ibadah dan adat, engkau dapati mereka muqashir (kurang) dalam mengerjakan sunah-sunah dari hal yang berkaitan dengan ibadah, atau dalam ber-amar makruf, menyeru manusia untuk mengerjakan sunah-sunah tersebut (yang berkaitan dengan ibadah). 

Dan, mungkin saja keadaan mereka, yang mengingkari bid’ah namun tidak mengerjakan banyak sunah Nabi, justru lebih buruk dari keadaan orang yang melakukan ibadah yang bercampur dengan suatu kemakruhan (Maksud ibnu Taimiyyah dengan kemakruhan di sini adalah kebid’ahan sebagaimana sangat jelas dalam penjelasan beliau sebelumnya-pen). Bahkan, agama itu adalah amar makruf dan nahi mungkar, dan tidak bisa tegak salah satu dari keduanya kecuali jika bersama dengan yang lainnya. Maka tidaklah dilarang suatu kemungkaran kecuali diperintahkan suatu kemakrufan.” (Iqtidho’ As-Shirootil Mustaqiim II/126.)

Madinah, 19 04 1432 H / 24 03 2011 M
Penulis: Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda

Detik-Detik yang Tersisa, Segeralah Beramal!

Detik-Detik yang Tersisa, Segeralah Beramal!

Berbicaralah tentang dunia. Bertanyalah tentangnya. Maka jika engkau dituntun untuk menemukan jawaban yang hakiki, engkau akan dituntun pada satu jawaban. Bahwa ia –dunia itu- hanyalah bayangan yang tidak lama lagi akan hilang. Bahwa ia hanyalah setetes air bila dibandingkan lautan luas tak bertepi. Sebanyak apapun yang engkau rengkuh di sini, di dunia ini, maka ia hanya setetes. Oh, tidak. Bahkan kurang dari setetes. Karena setetes itu adalah untuk dunia seluruhnya, sementara engkau tak memiliki dunia seluruhnya.

Hanya sepersekian dunia ini yang sanggup engkau nikmati.



Duhai, betapa celakanya engkau jika kau sangka dunia ini telah menjadi segala-galanya. Tidak, sahabat. Di sini, di tempat bernama dunia ini, tidak ada yang segala-galanya. Hanya manusia yang tak percaya keabadian akhirat yang akan menjadikan dunia ini segala-galanya. Ingatlah, dunia yang kau lihat gemerlap ini hanya bayangan. Hanya setetes air. Hanya beberapa nafas. Hanya beberapa tahun. Dan setelah itu, engkau akan memasuki gerbang keabadian. Di sana, -dengan limpahan RahmatNya padamu- hanya amalanmu yang akan menuntunmu menaiki anak-anak tangga kebahagiaan. Menuju surga, yang kenikmatannya tak pernah disaksikan oleh pandangan mata siapapun, tak pernah didengarkan oleh telinga siapapun jua dan tak pernah terbetik dalam pikiran dan hati makhluq manapun.

Tapi, di sinilah, di tempat bernama dunia inilah engkau menyemainya. Dunia ini adalah ladang akhiratmu. Di sinilah sumber kebahagiaan dan keberuntunganmu di akhirat. Hanya di sini engkau diizinkan olehNya untuk mengumpulkan bekal yang menguntungkanmu di sana. Di sinilah arena dan gelanggang para muttaqin, shiddiqin dan syuhada’ berlomba menuju ampunan Rabb mereka.

Hmm, kalau saja engkau tahu, dunia inilah yang selalu menjadi angan-angan para penduduk Surga dan para penghuni Neraka. Allah Ta’ala mengatakan tentang penghuni Neraka : “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata : “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah engkau –Muhammad- akan melihat suatu peristiwa yang memilukan.” (QS. 6 : 27)

Dalam ayat lain dikatakan : “Dan mereka (para penghuni neraka) itu berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berbeda dengan dahulu telah kami kerjakan.” (QS. 35 : 37)

Angan-angan yang sia-sia belaka…Hari-hari dunia adalah hari-hari ‘amal, bukan perhitungan dan pembalasan. Tapi hari-hari akhirat adalah hari-hari perhitungan dan pembalasan, bukan ‘amal !

Tentang penghuni surga yang mengangankan dunia, ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan : “ Sesungguhnya para syuhada’ itu bagaikan burung-burung hijau yang lepas bebas di surga ke mana saja ia mau. Kemudian ia akan kembali pada pelita-pelita yang bergantungan di ‘arsy. Dan ketika mereka berada dalam keadaan seperti itu, muncullah Rabb mereka di hadapan mereka seraya berkata : “Wahai hamba-hambaKu, mintalah kepadaKu apa saja yang kalian inginkan !”.

Mereka pun berkata : “Wahai Rabb kami ! Kami meminta padaMu agar Engkau mengembalikan ruh kami ke dalam jasad kami, lalu Engkau kembalikan kami ke dunia hingga kami dibunuh sekali lagi di sana (di jalanMu).”

Maka tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak meminta selain hal itu, Dia pun meninggalkan mereka.” ( HR. Muslim)

Allah telah mengetahui bahwa mereka, para syuhada’ itu akan meminta untuk dikembalikan sekali lagi ke dunia dan bahwa mereka tidak akan dikembalikan ke dunia. Namun Allah Ta’ala hendak memberitahukan kepada orang-orang mu’min yang masih hidup di dunia bahwa kelak cita-cita mereka di surga adalah mati terbunuh di jalanNya. Ini tidak lain agar mereka semakin terdorong untuk meraih itu.

Sungguh jauh perbedaan antara kedua angan-angan itu. Sama-sama berangan untuk kembali demi melakukan amal shaleh. Namun yang satu karena merasakan dahsyatnya siksa neraka, sementara yang lain karena telah merasakan ni’mat yang tiada bandingnya.

Seorang salaf bernama Ibrahim At Taimy rahimahullah pernah mengatakan : “Aku membayangkan diriku berada di dalam surga, memakan buah-buahnya, memeluk bidadari-bidadarinya yang perawan dan menikmati segala kenikmatannya. Lalu aku berkata kepada diriku sendiri : “Wahai diriku ! Apa sesungguhnya yang engkau angan-angankan saat ini ??”.

Ia menjawab : “Aku mengangankan untuk dikembalikan ke dunia agar aku dapat menambah amal-amal yang menyebabkan aku mendapatkan semua nikmat ini.”

Lalu aku membayangkan diriku di dalam neraka. Dibakar dengan apinya yang menyala-nyala. Dipaksa untuk meminum air hamim-nya yang dipenuhi darah dan nanah. Dan memakan buah zaqqum-nya yang menjijikkan. Maka aku berkata pada diriku sendiri : “Apakah yang engkau inginkan saat ini ??”

Ia menjawab : “Aku ingin dikembalikan ke dunia lagi agar aku dapat mengerjakan amalan yang dapat menyelamatkan aku dari siksaan yang mengerikan ini.”

(Setelah membayangkan itu semua), akupun berkata pada diriku sendiri : “Wahai diriku ! Engkau telah mendapatkan angan-anganmu itu. (Kini engkau masih berada di dunia), maka segeralah beramal !”.

Sahabatku,
Bahkan ada seorang ulama salaf yang pernah menggali lubang kuburan untuk dirinya sendiri. Bila ia mengalami dan merasakan kejemuan dalam beramal, ia pun turun ke dalam lobang itu. Di sana ia menyelonjorkan tubuhnya. Lalu berkata : “Wahai diriku ! Anggaplah sekarang ini engkau telah mati dan telah berada dalam liang lahadmu, apakah yang engkau inginkan ?”.

Maka ia pun menjawab : “Aku ingin dikembalikan lagi ke dunia agar aku dapat beramal shaleh.”
Ia lalu mengatakan kepada dirinya sendiri : “Sekarang engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan. (Engkau sekarang masih hidup di dunia). Bangunlah dan kerjakanlah amal shaleh itu !”.

Demikianlah sahabat. Jika engkau mengetahui tentang para penghuni kubur itu, engkau akan tahu apa yang selalu mereka angan-angankan. Mereka selalu mengangankan dapat bertasbih persis seperti yang engkau lakukan saat ini, walau hanya sekali saja. Mereka akan iri melihatmu tegak mengerjakan shalat. Duhai, andai kami dapat mengerjakannya walau hanya satu raka’at saja, begitulah kata mereka. Jika dahulu di dunia mereka adalah pemilik kekayaan yang melimpah, maka di sana, di alam kubur itu, mereka berharap dapat bersedekah meski hanya serupiah dua rupiah. Yang penting ada tambahan catatan kebajikan di sisi Allah. Yah, jika engkau berada di tempat itu, seperti itulah angan-anganmu sepanjang waktu.

Ibn Qudamah rahimahullah meriwayatkan dalam Washiyat-nya (hal.13) bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dua raka’at di samping sebuah kuburan. Setelah itu ia bersandar hingga tertidur. Dan di dalam tidurnya ia bermimpi seperti melihat penghuni kubur itu berkata padanya : “Menjauhlah dariku !! Engkau telah menyakitiku. Demi Allah, sungguh dua raka’at yang engkau kerjakan itu jika saja aku yang mengerjakannya, maka ia jauh lebih aku sukai daripada dunia beserta isinya. Sungguh kalian yang masih hidup ini selalu beramal tapi sama sekali tidak mengetahui hakikat kematian ini. Tapi kami, kami telah mengetahuinya namun kami tidak dapat lagi mengerjakan amalan apapun.”

Maka, sahabatku…
Sadarilah bahwa masa hidup kita sungguh terbatas. Nafas kita hanya berbilang. Setiap tarikan dan hembusan nafas tak lebih dari sebuah pertanda bahwa usia kita di dunia telah berkurang. Sungguh sangat singkat usia duniawi kita ini. Karenanya, setiap penggalan bahkan setiap bagian terkecilnya adalah permata yang tak ternilai dan tiada bandingnya. Ingatlah, bahwa dengan kehidupan yang singkat ini akan terjadi sebuah kehidupan yang abadi, abadi dalam kenikmatan atau abadi dalam azab yang penuh pedih-perih.

Bila kita mencoba membandingkan kehidupan ini dengan kehidupan akhirat, akan sadarlah kita bahwa setiap nafas itu berbanding lebih besar daripada beribu-ribu tahun di akhirat ; entah itu dalam kenikmatan yang tak berbatas atau sebaliknya.

Karenanya jangan sia-siakan permata umurmu tanpa melakukan suatu amalan. Jangan engkau biarkan ia pergi tanpa mendapatkan balasan yang setimpal. Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu tak pernah kosong dari keshalehan dan taqarrub padaNya. Sebab jika engkau kehilangan sebutir permata duniamu, betapa sedihnya hatimu…Tapi bagaimana jika yang hilang adalah permata akhiratmu ? Bagaimana mungkin engkau tega menyia-nyiakan dan membuang detik-detikmu begitu saja ? Bagaimana mungkin engkau ‘tenang-tenang’ saja, padahal semakin banyak jejak-jejak usiamu di dunia ini yang terhapus ?

Bayangkanlah jeritan penyesalan para penghuni kubur dan neraka itu. Air mata darah sekalipun tak memberi mereka jalan untuk kembali ke dunia. Sia-sia belaka. Sahabatku, kini, aku dan kau masih di sini. Yah, masih di dunia fana ini. Tempat kita menyemai tanaman akhirat. Maka segeralah beramal! [Muhammad Ihsan Zainuddin]

http://tanaasuh.com/detik-detik-yang-tersisa-segeralah-beramal/