Showing posts with label Mancanegara. Show all posts
Showing posts with label Mancanegara. Show all posts
Siapa Bilang Di Kutub Utara Tidak Ada Muslim? Ini ada Masjidnya…
Setelah berhasil mendirikan masjid pertama di Kutub Utara, Muslim Kanada mengungkapkan kebahagiaan mereka karena berhasil menambahkan menara di masjid yang berwarna kuning yang berlokasi di kota Winnipeg-Inuvik itu.
“Inilah menara masjid yang dibangun di Kutub Utara. Menara itu sangat indah ketika kami nyalakan lampu-lampunya di tengah kegelapan,” kata Amier Suliman, anggota komite masjid dengan bangga, Kamis (28/10).
Menara itu menjulang dengan tinggi sekitar 10 meter, menambah kemegahan masjid yang dibuat dari bahan-bahan fabrikasi itu. Komunitas Muslim di Inuvik–kota yang berjarak 200 kilo meter dari Kutub Utara–sudah lama menginginkan sebuah tempat yang memadai untuk menjalankan peribadahan mereka. Tapi impian itu sempat lama tertunda karena harga bahan bangunan dan ongkos tukang bangunan yang sangat mahal.
Sampai akhirnya sebuah perusahaan pemasok bahan bangunan di Manitoba mengatakan bahwa mereka bisa membuat struktur masjid itu di pabriknya, dan setelah bangunan masjid jadi, ditarik dengan kapal ke Inuvik. Perusahaan itu hanya mengenakan biaya setengah dari harga yang seharusnya dibayar.
Setelah melalui proses dan perjalanan panjang melewati daratan dan sungai di sepanjang wilayah Barat Kanada, masjid kecil berukuran 140 meter per segi yang terbuat dari bahan kayu itu akhirnya sampai di Inuvik pada bulan Agustus kemarin. Di kota itu komunitas Muslim berkembang pesat dan jumlahnya bertambah banyak, yang membuat mereka merasa perlu memiiki sebuah masjid. Komunitas Muslim di Inuvik yang berpenduduk sekitar 4.000 jiwa itu, kebanyakan berasal dari Sudan, Lebanon dan Mesir.
Penambahan menara masjid disambut gembira oleh komunitas Musim di Inuvik. “Sebagian orang akan mengatakan ini adalah sebuah garis depan terbaru bagi Islam. Tapi bagi kami, yang terpenting adalah kaum Muslimin di sini yang biasanya melaksanakan salat Jumat menumpang di sebuah gereja Katolik, sekarang sudah punya tempat yang layak untuk beribadah, lengkap dengan menaranya,” tandas Suliman. (oi/eramuslim/Dz)
http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/siapa-bilang-di-kutub-utara-tidak-ada-muslim-ini-ada-masjidnya.htm#.UX8j4VE0b7I
Islam Tumbuh di 'Negeri Bikini'
Kaum Muslimin Brasil saat melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid di Kota Rio de Janeiro.
Aneh rasanya melihat seorang perempuan berhijab berjalan bebas di tengah Rio de Janeiro, kota yang terkenal dengan bikini dan karnavalnya yang liar itu.
Faktanya, Islam memang memiliki tempat, bahkan tumbuh di salah satu kota terpenting di Brazil ini.
“Islam bisa menemukan tempatnya di kota ini,” ujar Alessandra Faria, warga setempat yang setelah berislam beberapa tahun lalu dan mengubah nama menjadi Fatima.
Menurutnya, saat awal masuk Islam dia sempat merasa sedikit resah. “Saya keluar dengan ibu saya suatu hari dengan menggunakan jilbab dan sadar kalau saya adalah bagian dari minoritas,” ungkapnya.
Jilbab yang digunakan Fatima terlihat aneh di Rio. Tak lain karena kebanyakan perempuan di jalanan kota itu mengenakan busana minim. Tapi, seiring berjalannya waktu Fatima tak terlalu ambil pusing dengan hal itu.
“Rio adalah tempat berkumpulnya orang-orang dari latar belakang berbeda. Kota ini sudah terbiasa dengan perbedaan. Orang-orang dari berbagai bangsa, ras, etnis, dan agama datang ke Rio,” katanya.
Pencampuran ini membuat orang Rio sangat adaptif, toleran, dan menjadikan tempat ini kota yang hangat bagi Muslim. Orang lokal menunjukkan penghormatannya terhadap kaum minoritas.
Bahkan, tahun lalu, Pusat Kebudayaan Brazil menampilkan dua karya Muslim dalam pameran lukisan terkenal di Rio. Kini, setidaknya terdapat 500 keluarga Muslim di Rio.
Sebanyak 85 persen dari jumlah tersebut adalah penduduk lokal. Islam di Rio tidak hanya menjadi monopoli penduduk migran dari Libya, Palestina, atau Suriah.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/06/md215m-islam-tumbuh-di-negeri-bikini-1
Top, Celoteh Soekarno Hidupkan Masjid Biru
Hubungan antara masjid ini dengan mantan presiden pertama Indonesia, Soekarno, tidak bisa dipisahkan. Di negeri komunis Uni Soviet, nama Soekarno sangat dikenal. Bukan hanya dianggap sebagai teman dalam Perang Dingin melawan poros Barat, namun juga sebagai presiden muslim yang memberikan “berkah” bagi sebagian muslim di negeri Beruang Putih ini.
Menurut Ja’far Nasibullah, suatu hari di tahun 1955, Soekarno berkunjung ke St Petersburg yang saat itu masih bernama Leningrad. Ia datang dan menikmati kota indah ini dengan putri kecilnya yang bernama Megawati Soekarnoputri. Dari dalam mobil itu, Soekarno sekilas melihat sebuah bangunan yang unik dan tidak ada duanya. Sopir diminta memutar haluan untuk melihat bangunan tersebut.
Namun, sang sopir tak menuruti permintaan orang nomor satu RI itu. Tidak ada perintah untuk memutar apalagi berhenti. Pada zaman itu, di bawah pemerintahan komunis nyaris tidak ada kekuasaan dan kesempatan berdiskusi yang diberikan kepada seorang sopir. Dari pembicaraan dengan beberapa pihak, Soekarno akhirnya tahu bahwa gedung itu adalah sebuah masjid yang saat itu dijadikan gudang.
Dalam suatu pertemuan dengan pejabat setempat, Presiden melontarkan permintaan agar pada hari berikutnya diatur suatu kunjungan ke masjid yang dilihatnya. Namun, aturan protokoler tidak memungkinkan karena acara yang disusun sudah sangat padat. Dalam cerita lain menyebutkan Soekarno sempat mampir sekilas.
Setelah dua hari menikmati keindahan kota St Petersburg yang saat itu masih bernama Leningrad, Soekarno terbang ke Moskow untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi guna membahas masa depan kerja sama bilateral dan berbagai posisi kunci dalam Perang Dingin yang terus memuncak. Dalam bincang-bincang di istana Kremlin itu sempat tersiar kabar suatu pembicaraan yang unik diantara kedua pemimpin bangsa.
“Bagaimana kunjungan ke Leningrad, Tuan Presiden. Tentu sangat menyenangkan, bukan?” tanya pemimpin Rusia saat itu.
Di luar dugaan, Soekarno memberikan jawaban yang mengagetkan. “Rasanya saya belum pernah ke Leningrad,” ujar Soekarno.
“Tuan Presiden memang pandai bertutur. Ada apa yang salah dengan Leningrad? Bukannya kemarin dua hari berjalan-jalan dengan Sang Putri di sana?”
“Ya. Kami memang berada di sana, tapi kami belum ke sana.”
“Kenapa begitu?”
“Karena kami tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengunjungi bangunan yang disebut Masjid Biru.”
Kunjungan Soekarno ke Rusia berjalan lancar dan seolah tidak pernah ada apapun yang terkait dengan masalah agama ataupun masjid. Soekarno juga tidak banyak membicarakan lagi tentang masjid yang pernah dilihatnya di kota terindah di Uni Soviet tersebut. Meskipun begitu, diam-diam banyak kalangan muslim memasang kuping atas berbagai kejadian yang dialami oleh tamu kehormatan dari Indonesia tersebut.
Seminggu setelah kunjungan usai, sebuah kabar gembira datang dari pusat kekuasaan, Kremlin di Moskow. Seorang petinggi pemerintah setempat mengabarkan bahwa satu-satunya masjid di Leningrad yang telah menjadi gudang pasca-revolusi Bolshevic tersebut bisa dibuka lagi untuk beribadah umat Islam, tanpa persyaratan apapun. Sang penyampai pesan juga tidak memberikan alasan secuil pun mengapa itu semua bisa terjadi.
“Umat Islam di St Petersburg mengenal dengan baik Presiden Soekarno. Kita sangat berterima kasih kepada almarhum Soekarno. Kami akan ingat jasa-jasanya,” ujar Mufti Ja’far Nasibullah. Tanpa Soekarno, katanya, mungkin masjid indah ini sudah hancur sebagaimana masjid dan gereja lainnya.
Hingga kini, masjid yang didirikan pada tahun 1910-1921 itu masih berdiri megah. Dua menaranya menjulang setinggi 48 meter, sedangkan kubahnya yang dibalut keramik warna biru sangat gagah dengan ketinggian 39 meter. Tempat ibadah umat Islam yang diarsiteki oleh dua orang nasrani bernama Vasilier dan Alexander Von Googen ini memang mirip dengan sebuah masjid di Samarkand, Asia Tengah. Meskipun sempat akan hancur kubahnya pada tahun 1980-an, namun berkat kebaikan hati beberapa pemimpin komunis era Uni Soviet dan pinjaman seseorang yang beragama Ortodoks, maka renovasi selama 18 tahun telah mengembalikan kemegahan rumah Allah di bumi utara tersebut.
* M. Aji Surya adalah penulis buku "Segenggam Cinta dari Moskwa", ajimoscovic@gmail.com
http://ramadan.detik.com/read/2012/08/10/095142/1988002/1434/top-celoteh-soekarno-hidupkan-masjid-biru?991101mainnews
Menelusuri Kampung Muslim di London
Muslim Inggris
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Ahad (29/7) pagi waktu London, Republika coba menelusuri kawasan West Hendon. Di sana terdapat kampung Pakistan dan Afganistan. Berhubung kedua negara bertetangga ini adalah negara mayoritas muslim, maka kawasan kampung di West Hendon itupun jadi kampung muslim.
Di kampung muslim ini, terdapat sejumlah rumah makan asli Paksistan. Rumah makan 'Barokah' menjadi salah satu tampilan di West Hendon itu. Di papan yang menunjukkan nama rumah makan, tergambar tulisan kaligrafi bertuliskan lafadz 'Bismillah'.
Selain rumah makan Barokah, ada pula Café Kabul. Cafe itu dijaga pria-pria asli Afganistan yang satu sama lain masih berbicara dengan bahasa nenek moyangnya. “Semua yang ada di sini adalah makanan halal,” ujar salah satu pelayan di Café Kabul saat berbincang dengan wartawan Republika, Abdullah Sammy.
Di sisi kiri cafe, terdapat toko daging dan sayuran. Daging kambing, sapi, dan ayam dijual kepada penduduk di Hendon. Para pembeli toko sayur mayur ini umumnya ibu rumah tangga yang mengenakan hijam. Di kaca took label 'halal' tertulis dengan huruf besar.
Di sudut kampung muslim West Hendon, terdapat sebuah gedung kecil bertuliskan 'moeslem funeral service' (jasa penguburan muslim). Namun tempat ini tertutup rapat dan belum tampak adanya kehadiran sang pekerja.
Uniknya, di tengah kampung muslim West Hendon juga berdiri sebuah gereja Katolik bernama St Patrick. Tampilan ini jadi cermin kerukunan yang tercipta di Kampung Muslim London.
http://www.republika.co.id/berita/olahraga/olimpiade-london-2012/12/07/29/m7xj3k-menelusuri-kampung-muslim-di-london
Moskow Menjadi Kota Muslim Masa Depan, Jalan-jalan Pun Menjadi Masjid, 500 Ribu Kaum Muslim Padati Idul Fitri
Jika di negeri ini, anak-anak muda berjubel menuju stadion untuk
menonton bola atau menonton konser musik maksiyat, tetapi tidak bagi
anak-anak muda Muslim di Moskow, Rusia. Memang ada pemandangan yang unik
di jantung kota Rusia beberapa hari lalu itu. Jutaan kaum Muslim dari
berbagai penjuru daerah di Rusia berkumpul di Moscow untuk
menyelenggarakan Sholat Idul Fitri 1432, Selasa, 30/08/2011.
Anak-anak muda tampak berjubel untuk mengisi jalanan-jalanan. Bukan untuk menonton sepak bola atau konser musik, melainkan mereka antri untuk ikut serta merayakan hari kemenangan usai shoum Ramadhan itu.
Mereka dengan tertib melewati pintu-pintu penjagaan yang dibantu oleh pihak kepolisian setempat. Kemudian, mereka berbaris rapi membentuk shaf-shaf sholat. Sesuatu yang sangat luar biasa, mengalahkan komando tentara dari sebuah barisan upacara.
Saking penuh dan membludaknya, sholat Idul Fitri tersebut melewati batas penjagaan dan meluber memenuhi jalan-jalan di jantung bekas negara komunitas Uni Soviet itu. Lalu lintas kendaraan dan angkutan umum benar-benar diblokir. Gema takbir pun membahana ibu kota Rusia tersebut, Allahu Akbar!
Sekitar 500 ribu orang, menurut perkiraan polisi, menghadiri pelaksanaan sholat Idul Fitri di masjid yang kapasitasnya hanya maksimum 800 orang itu.
Kaum Muslim tersebut saling menyapa satu sama lainnya dengan ucapan, "Id Mubarak" (Id yang diberkahi). Usai khutbah Idul Fitri, kaum Muslim menuju jamuan makan, mereka saling memberi hadiah, membantu yang membutuhkan.
Ini merupakan perayaan sholat Idul Fitri terbesar di Moskow, di mana masjid-masjid tidak memenuhi kebutuhan komunitas Muslim yang terus berkembang di ibukota Rusia tersebut.
Menurut sebuah laporan, masjid yang tengah dibangun belum selesai. Konstruksi dihentikan selama beberapa tahun karena kekurangan dana. Kaum Muslim pun akhirnya berkumpul di jalan-jalan, menjadikan jalan-jalan Moskow menjadi masjid.
Mengapa anda di sini, tepatnya di tengah jalan? Tanya seorang wartawan kepara seorang jamaah. "Menjelang atau di luar, tidak ada tempat untuk sholat," kata Toykin, seorang pekerja Uzbek, dia sudah bekerja 8 tahun di Moskow. "Masjid, tentu saja, tidak cukup, kemudian kita di jalan, makan dan minum". Alkohol? "Tidak-tidak-tidak!" tegasnya.
Di sepanjang jalan menuju masjid, kaum Muslim berwudhu, menggunakan airt yang disediakan pada botol-botol plastik.
"Aku datang dari sebuah di desa di Tatarstan Rusia, kami tidak memiliki masjid, dan kebiasaan tersebut tidak dapat sholat. Tapi aku Muslim. Mereka mengatakan bahwa masjid di Moskow tidak cukup," kata seorang penjaga yang berasal dari Tatar.
Subhanallah, semua ini hanya mengingatkan kita kepada Rasulullah Saw. tercinta yang telah bersabda:
“Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang ditembus malam dan siang, Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk, melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam, dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR. Ibnu Hiban).
Ini menunjukkan, masa depan ada di tangan kaum Muslim. Di saat itulah, Islam akan meliputi seluruh penjuru dunia di bawah naungan Khilafah, Insya Allah!
Jika di Rusia saja, anak-anak muda muslim memberikan loyalitas hanya kepada Allah Swt. semata, sungguh sangat memalukan bila di negeri yang bermayoritas Muslim ini malah anak-anak muda berjubel untuk menonton sepak bola atau konser-konser maksiyat.
Ya Allah, kumpulkanlah semua kaum Muslim di bawah naungan Khilafah yang akan menerapkan hukum-hukum syariat-Mu, amin ya rabbal 'alamin. [m/zyalt/ridus/syabab.com]
Anak-anak muda tampak berjubel untuk mengisi jalanan-jalanan. Bukan untuk menonton sepak bola atau konser musik, melainkan mereka antri untuk ikut serta merayakan hari kemenangan usai shoum Ramadhan itu.
Mereka dengan tertib melewati pintu-pintu penjagaan yang dibantu oleh pihak kepolisian setempat. Kemudian, mereka berbaris rapi membentuk shaf-shaf sholat. Sesuatu yang sangat luar biasa, mengalahkan komando tentara dari sebuah barisan upacara.
Saking penuh dan membludaknya, sholat Idul Fitri tersebut melewati batas penjagaan dan meluber memenuhi jalan-jalan di jantung bekas negara komunitas Uni Soviet itu. Lalu lintas kendaraan dan angkutan umum benar-benar diblokir. Gema takbir pun membahana ibu kota Rusia tersebut, Allahu Akbar!
Sekitar 500 ribu orang, menurut perkiraan polisi, menghadiri pelaksanaan sholat Idul Fitri di masjid yang kapasitasnya hanya maksimum 800 orang itu.
Kaum Muslim tersebut saling menyapa satu sama lainnya dengan ucapan, "Id Mubarak" (Id yang diberkahi). Usai khutbah Idul Fitri, kaum Muslim menuju jamuan makan, mereka saling memberi hadiah, membantu yang membutuhkan.
Ini merupakan perayaan sholat Idul Fitri terbesar di Moskow, di mana masjid-masjid tidak memenuhi kebutuhan komunitas Muslim yang terus berkembang di ibukota Rusia tersebut.
Menurut sebuah laporan, masjid yang tengah dibangun belum selesai. Konstruksi dihentikan selama beberapa tahun karena kekurangan dana. Kaum Muslim pun akhirnya berkumpul di jalan-jalan, menjadikan jalan-jalan Moskow menjadi masjid.
Mengapa anda di sini, tepatnya di tengah jalan? Tanya seorang wartawan kepara seorang jamaah. "Menjelang atau di luar, tidak ada tempat untuk sholat," kata Toykin, seorang pekerja Uzbek, dia sudah bekerja 8 tahun di Moskow. "Masjid, tentu saja, tidak cukup, kemudian kita di jalan, makan dan minum". Alkohol? "Tidak-tidak-tidak!" tegasnya.
Di sepanjang jalan menuju masjid, kaum Muslim berwudhu, menggunakan airt yang disediakan pada botol-botol plastik.
"Aku datang dari sebuah di desa di Tatarstan Rusia, kami tidak memiliki masjid, dan kebiasaan tersebut tidak dapat sholat. Tapi aku Muslim. Mereka mengatakan bahwa masjid di Moskow tidak cukup," kata seorang penjaga yang berasal dari Tatar.
Subhanallah, semua ini hanya mengingatkan kita kepada Rasulullah Saw. tercinta yang telah bersabda:
“Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang ditembus malam dan siang, Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk, melainkan Islam akan memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam, dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR. Ibnu Hiban).
Ini menunjukkan, masa depan ada di tangan kaum Muslim. Di saat itulah, Islam akan meliputi seluruh penjuru dunia di bawah naungan Khilafah, Insya Allah!
Jika di Rusia saja, anak-anak muda muslim memberikan loyalitas hanya kepada Allah Swt. semata, sungguh sangat memalukan bila di negeri yang bermayoritas Muslim ini malah anak-anak muda berjubel untuk menonton sepak bola atau konser-konser maksiyat.
Ya Allah, kumpulkanlah semua kaum Muslim di bawah naungan Khilafah yang akan menerapkan hukum-hukum syariat-Mu, amin ya rabbal 'alamin. [m/zyalt/ridus/syabab.com]
Lihat Video:
Lihat Foto:
Subscribe to:
Posts (Atom)