Showing posts with label Madinah. Show all posts
Showing posts with label Madinah. Show all posts

Masjid Nabawi Dilengkapi Teknologi Canggih

Mampu menampung sejuta jamaah, dilengkapi dengan teknologi canggih dan modern

Hidayatullah.com—Masjid dan tempat shalat sering hanya identik dengan sajadah, karpet atau loud-speaker. Tapi masjid Nabawi tidaklah demikian. Meski ia adalah tempat shalat, salah satu tempat suci paling dimuliakan ini dipenuhi dengan teknologi peralatan super modern nan canggih.

Di antaranya adalah peralatan yang mampu mendeteksi nomor plat mobil pejabat yang datang menuju arah masjid dari jarak 10 km. Selain itu, juga dipasang 550 lebih kamera pengintip yang akan mendeteksi kegiatan Anda,  baik di luar atau di dalam masjid. Termasuk di areal tempat makan Nabi dan Raudah.

Menurut Syeikh Abdul Aziz,  Wakil Ketua Penanggungjawab Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, semua ini tak lain untuk menjaga dan memuliakan Masjid yang dahulunya termasuk areal rumah Rasulullah ini.

Semua kegiatan yang ada di luar dan dalam masjid Nabawi bisa langsung dikontrol di sebuah ruang kontrol (control room) yang dilengkapi peralatan komputer.

“Tak terkecuali suara imam masjid bisa dikendalikan,“ ujar Kepala Mekanik Masjid Nabawi, Syarif (46)  kepada hidayatullah.com beserta rombongan. Menurut Syarif, suara imam masjid ikut dikontrol sesuai standar agar tidak terlalu besar atau terlalu kecil.

“Karenanya, setiap yang jadi imam masjid di sini, pertama harus dites suaranya untuk penyataraan,“ kata Syarif, usai mengantar rombongan berkeliling.

Ruang kontrol juga ikut mengendalikan pendingin (AC) di seluruh sudut ruangan, termasuk payung-payung modern antipanas dan 27 kubah berbobot 80 ton yang yang bisa menutup dan membuka dalam waktu beberapa detik.

Kenyamanan lain Masjid Nabawi adalah memiliki marmer super mahal yang mampu mengubah suhu panas menjadi dingin. Nah, jangan heran jika pertama kali Anda menginjakkan kaki saat memasuki areal masjid, kaki kita terasa lebih sejuk.

Dengan fasilitas itu, Masjid Nabawi mampu menampung hampir satu jamaah shalat baik di luar atau di dalam masjid, dengan tetap merasakan kenyamanannya.

Tapi jangan tanya berapa kira-kira biaya yang dikeluarkan untuk semua fasilitas canggih itu.

“Biayanya tak dapat dihitung. Alhamdulillah, kita masih punya pemerintah yang ikut memikirkan kemuliaan dua masjid (Masjidil Haram dan Nabawi, red) ini,“ ujar Syeikh Abdul Aziz saat menerima hidayatullah.com beserta rombongan di ruang kerjanya tak jauh dari areal masjid. [cha/hidayatullah.com]

Yuk..! Tamasya ke MADINAH


KEUTAMAAN KOTA MADINAH

Madinah adalah Kota Nabi, kota tempat beliau -shollallohu alaihi wasallam- berhijrah. Kota ini mempunyai banyak julukan diantaranya: thoobah dan thoybah.

Madinah mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:

Pertama :Bermukim di kota Madinah lebih baik dari pada bermukim di tempat lain.


Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Kota Madinah adalah (tempat tinggal yang) lebih baik bagi mereka, andai mereka mengetahuinya” (HR. Bukhori Muslim)

Kedua: Kota Madinah dibersihkan dari orang yang hina dan rusak.

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda mengenai hal ini: “Kota Madinah membersihkan manusia, sebagaimana ubupan (alatnya pandai besi) membersihkan besi dari karatnya” (HR. Bukhori Muslim)

Ketiga: Iman akan kembali pulang ke kota Madinah.


Iman akan bersatu dan berkumpul lagi di Madinah, sebagaimana sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah, sebagiamana ular akan kembali ke lubangnya” (HR. Bukhori dan Muslim). Oleh karena itu, setiap insan muslim merasakan adanya rasa rindu dalam dirinya untuk pergi ke Madinah demi mendapatkan keutamaannya.

Keempat: Madinah terlindung dari wabah penyakit (tho’un) dan Dajjal.

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Di setiap lorong kota Madinah ada banyak malaikat, sehingga tidak dimasuki oleh wabah penyakit (tho’un) dan Dajjal.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kelima: Berkahnya kota Madinah.

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ya Alloh, jadikanlah keberkahan yang ada di Madinah ini dua kalinya keberkahan yang ada di Makkah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Keenam: Keutamaan orang yang bersabar dengan kerasnya kota Madinah.


Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tiada orang yang bersabar dengan kesulitan dan kekerasan kota Madinah, kecuali aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaatnya pada hari kiamat nanti. (HR. Muslim)

Ketujuh: Madinah adalah kota suci.

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Madinah adalah kota suci, letaknya di antara Bukit Ier dan Bukit Tsaur. Barangsiapa melakukan bid’ah atau membantu orang lain dalam bid’ahnya di dalamnya, maka ditimpakan atasnya laknat Alloh, laknat Malaikat dan laknat seluruh manusia” (HR. Muslim)

Hadits yang menerangkan kesucian kota Madinah mencakup hal-hal berikut ini: Larangan berburu di dalamnya, larangan memotong pohonnya, larangan membawa senjata untuk perang, larangan melakukan bid’ah dan membantunya, yakni larangan melakukan hal-hal yang munkar dan merusak, serta perintah melindungi penduduknya.

Kedelapan: Ancaman bagi mereka yang ingin mencelakai penduduk Madinah.

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tiada seorangpun yang bermaksud mencelakai penduduk Madinah, kecuali Allah akan leburkan dia di neraka, seperti besi atau garam yang melebur. (HR. Muslim)

Kesembilan: Keutamaan sholat di Masjid Nabawi.

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Sholat sekali di masjidku ini, lebih utama dari sholat seribu kali di masjid lain, kecuali sholat di masjidil harom” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kesepuluh: Keutamaan Roudhoh


Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Apa yang ada di antara rumahku dan mimbarku adalah: salah satu taman dari taman-taman surga” (HR. Bukhori dan Muslim)

TEMPAT-TEMPAT YANG DISYARI’ATKAN UNTUK DIZIARAHI DI MADINAH


Ada beberapa tempat di kota Madinah yang disyariatkan untuk diziarahi dan dikunjungi:

Pertama: Masjid Nabawi:


Tempat ini merupakan tujuan utama dalam kunjungan ke kota Madinah, Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Safar tidak diperkenankan, kecuali ke tiga masjid: Masjidil harom, masjidku ini dan masjid aqsho.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Adab berkunjung ke masjid nabawi:

Ketika seseorang sampai ke masjid nabawi dan ingin memasuki masjid nabawi, hendaklah mendahulukan kaki kanannya dengan membaca sholawat kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan berdoa: “اللهم افتح لي أبواب رحمتك” (Ya Alloh, bukalah pintu-pintu rahmatmu untukku), kemudian sholat tahiyyatul masjid dua rokaat, setelah itu pergi untuk salam kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dengan posisi badan menghadap ke makam dan membelakangi arah kiblat, seraya mengucapkan:

السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، أشهد أنك بلغت الرسالة، ونصحت الأمة، وجاهدت في الله حق جهاده

(Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkatan Alloh, tercurahkan kepada engkau wahai Nabi! Aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau telah menyampaikan risalahmu, engkau telah menasehati umatmu, dan engkau telah berjihad di jalan Alloh dengan sebaik-baik jihad)

Kemudian geser selangkah ke sebelah kanannya, dan mengucapkan:

السلام عليك يا خليفة رسول الله، رضي الله عنك، وجزاك عن أمة محمد خيرا

(Semoga keselamatan tercurahkan kepada engkau wahai Kholifah Rosululloh, semoga Alloh meridhoimu, dan membalasmu dengan kebaikan).

Kemudian bergeser ke sebelah kanan lagi, dan mengucapkan:

السلام عليك يا عمر، رضي الله عنك، وجزاك عن أمة محمد خيرا

(Semoga keselamatan tercurahkan kepada engkau wahai sahabat Umar, semoga Alloh meridhoimu, dan membalasmu dengan kebaikan).


Hendaklah ia memperhatikan adab ketika mengucapkan salam, dengan tidak mengangkat suara dan tidak berhenti lama.

Sebaiknya peziarah memanfaatkan waktunya dengan memperbanyak tinggal di masjid nabawi, memperbanyak doa, istighfar, dzikir, baca Qur’an, menghadiri majlis ilmu, dan amal-amal sholeh lainnya.

Kedua: Masjid Quba.

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dahulu pergi ke masjid Quba setiap pekan, kadang jalan kaki, kadang naik tunggangan. Beliau bersabda: “Barangsiapa keluar menuju masjid ini (yakni masjid Quba) kemudian sholat di dalamnya, maka baginya pahala yang sebanding dengan pahala umroh.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shohih)

Ketiga: Pemakaman Baqi’ dan Syuhada Uhud.


Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mendatangi baqi’ dan mengucapkan salam kepada para sahabat yang dimakamkan di dalamnya, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

Itulah beberapa tempat yang disyariatkan untuk diziarahi di kota madinah ini. Adapun selain tempat-tempat tersebut, tidak ada dalil khusus yang menerangkan anjuran untuk menziarahinya, akan tetapi itu merupakan amalan baru yang dibuat-buat oleh orang, padahal Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan dalam agama ini, hal baru yang (sebenarnya) bukan dari agama ini, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim), maka hendaklah peziarah menjaga waktunya, dan mengisinya dengan amalan yang dianjurkan oleh syariat, serta tidak menyia-nyiakannya, dengan jalan-jalan menuju tempat-tempat yang tidak ada anjuran dari Rosul -shollallohu alaihi wasallam- untuk mengunjunginya, begitu pula tidak dikunjungi oleh para sahabat (semoga Alloh meridhoi mereka).

Beberapa Catatan Penting bagi Para Peziarah


* Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk bersholawat dan salam kepadanya, di mana pun mereka berada. Beliau juga memberitahukan bahwa sholawat dan salam tersebut akan sampai kepadanya, dan hal tersebut tidak khusus bagi mereka yang datang ke makamnya, sebagaimana sabdanya -shollallohu alaihi wasallam- : “Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ied (ritual rutinan)! Jangan pula kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan! dan bersholawatlah kepadaku dimanapun kalian berada! Karena sholawat itu akan sampai kepadaku.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shohih).

Oleh karena itu, sholawat dan salam kepada Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak perlu harus pergi ke makam beliau. Begitu pula tidak disyariatkan titip salam kepada orang yang akan menziarahi beliau, karena para malaikat akan menyampaikan salam kita dimanapun kita berada. Adapun hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan pergi meziarahi makam beliau, semua hadisnya tidak shohih.

Tidak pula disyariatkan untuk menziarahi makam Rosul -shollallohu alaihi wasallam- setiap kali masuk masjid, karena para sahabat (semoga Alloh meridhoi mereka) tidak melakukan hal itu, juga karena salam yang diucapkannya ketika masuk masjid akan sampai kepada beliau, tanpa harus pergi ke makamnya.

* Hendaklah peziarah menjauhi amalan-amalan, yang dilakukan oleh orang yang tidak tahu agama dan ahli bid’ah, ketika berada di masjid nabawi, seperti: mengusap-usap mihrob, minbar, tiang, pintu, pagar dan jendela masjid. Atau bahkan menciumnya atau berusaha thowaf mengelilingi kamar tempat pemakaman Nabi -shollallohu alaihi wasallam- atau berdoa di tempat tersebut.

Yang lebih buruk lagi, apabila ia berdoa di sana dengan doa-doa bid’ah, seperti tawassul dengan kedudukan atau kehormatan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, atau sejenisnya, yang hal tersebut tidak pernah dituntunkan oleh Syariat Islam yang suci ini.

Lebih buruk dari itu semua, apabila ia berdoa meminta syafaat kepada Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, atau meminta kepadanya sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Alloh semata, seperti: memohon ampunan dosa, dijauhkan dari bencana, masuk surga, terbebas dari neraka, memohon kesembuhan, kemenangan atas musuh, meminta rejeki, meminta anak, dan yang semisalnya, yang itu semua adalah merupakan syirik akbar yang tidak akan diampuni oleh Alloh ta’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik ” (an-nisa: 48), Ia juga berfirman (yang artinya): “Jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya akan terhapus amalmu” (Az-zumar: 65).

Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga telah memperingatkan hal tersebut dan melaknat pelakunya, beliau bersabda: “Semoga laknat Alloh atas kaum yahudi dan kristen, disebabkan perbuatan mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kewajiban kita adalah memurnikan doa hanya kepada Alloh semata, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Mohonlah kepada Allah, dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya” (al-a’rof: 29), Ia juga berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapapun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (al-jin:18)

* Dianjurkan bagi para peziarah makam para sahabat (semoga Alloh meridhoi mereka), yang berada di baqi’ dan uhud, untuk merenungi hikmah disyariatkannya ziarah kubur, yaitu untuk mengingat hari akhir, dan mendoakan mereka.

Hendaknya pula untuk tidak menampakkan kesedihan dan ratapan, juga amalan-amalan yang bisa jadi termasuk perbuatan syirik atau jembatan menuju kesyirikan, seperti sholat di kuburan, juga mengutamakan berdoa dan membaca alquran di tempat tersebut.

Diharamkan pula untuk memasang penerangan di pemakaman, menaruh surat-surat yang berisikan wasiat, tawasul, permohonan dsb, karena Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Ingatlah, sungguh orang-orang sebelum kamu telah menjadikan makam-makam nabi mereka sebagai masjid. Oleh karena itu, janganlah sekali-sekali kalian menjadikan makam sebagai masjid! Karena aku telah melarang kalian melakukannya! (HR. Muslim)

HAKEKAT CINTA ROSUL -shollallohu alaihi wasallam-


Rosululloh, Muhammad ibnu Abdillah -shollallohu alaihi wasallam-, diutus oleh Alloh ta’ala kepada seluruh umat manusia, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Katakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya Aku ini utusan Allah bagi kalian semua.” (al-a’roof: 158).

Beliau dijadikan sebagai penutup kenabian dan kerosulan, sebagaimana firman-Nya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Alloh dan penutup para nabi. (al-ahzaab: 40)

Alloh mengutusnya sebagai pembawa rahmat untuk semesta alam, sebagaimana firman-Nya: “Tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-anbiya’: 107)

Alloh mengutusnya sebagai penunjuk jalan, pemberi kabar gembira dan pemberi peringata, sebagaimana firman-Nya: “Wahai nabi! Sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya, dan sebagai cahaya yang menerangi. (al-ahzaab: 45-46). Maka beliau menyampaikan risalah tersebut dengan sebaik-baiknya, menasehati umatnya dan menegakkan hujjahnya.

Cinta Rosul -shollallohu alaihi wasallam- merupakan kewajiban yang paling agung dari keimanan kita, ia merupakan pondasi pada setiap amalan yang berlandaskan keimanan dan agama, oleh karena itu kita berkewajiban untuk mencintai beliau melebihi kecintaan kita kepada makhluk, siapapun orangnya, sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: “Jika bapak, anak, saudara, isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan lebih kamu cintai melebihi jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (at-taubah: 24)

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tidak (sempurna) iman seseorang, sehingga cintanya kepadaku melebihi kecintaannya kepada orangtuanya, anaknya dan siapapun juga. (HR. Bukhori Muslim)

Diantara indikasi dan pengaruh dari cinta rosu -shollallohu alaihi wasallam- yang hakiki, adalah:

1. Menghormati dan mengagungkannya.
2. Mentaati dan menerapkan petunjuknya serta berpegang teguh kepadanya.
3. Membenarkan seluruh ucapannya.
4. Menolongnya dan mendakwai orang lain untuk berpegang teguh kepada sunnahnya, mengagungkannya dan membelanya.
5. Tidak melakukan perbuatan bid’ah dalam agama.
6. Memperbanyak bacaan sholawat kepadanya.
7. Tidak bersikap berlebih-lebihan kepadanya.

KEUTAMAAN PARA SAHABAT DAN HAK-HAK MEREKA

Para sahabat -semoga Alloh meridhoi mereka- adalah umat yang paling utama. merekalah insan terbaik yang dipilih oleh Alloh untuk mendampingi nabi -shollallohu alaihi wasallam-. mereka beriman kepadanya dan membelanya. mereka sabar dengan apapun yang menimpa mereka, dalam perjuangan mereka di jalan Alloh, dari mulai perlawanan, penolakan, kesulitan dan disakiti oleh lawan.

Bahkan Alloh telah meridhoi mereka dan menjanjikan surga bagi mereka, sebagaimana fiman-Nya: “Orang-orang yang terdahulu, lagi yang pertama-tama (masuk Islam), dari golongan muhajirin, anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (at-ataubah: 100).

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasi yang hidup di masaku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya” (HR. Bukhori Muslim).

Para sahabat (semoga Alloh meridhoi mereka) mempunyai hak-hak yang wajib dipenuhi oleh seorang muslim, diantaranya:

1. Mencintai mereka dan mendoakan keridhoan untuk mereka.
2. Meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik dan mempunyai keutamaan.
3. Meyakini keadilan mereka.
4. Membersihkan hati kita dari kebencian terhadap mereka, menahan diri dan tidak mempermasalahkan apa yang pernah terjadi diantara mereka.
5. Tidak mencela, tidak merendahkan dan tidak menjatuhkan kedudukan mereka.

Karena para sahabat adalah insan-insan terbaik dan para pembawa agama islam. Mencela mereka sama dengan mendustakan dan menyalahi pujian dan keridhoan yang diberikan Alloh ta’ala kepada mereka.

Mencela mereka adalah sama dengan menyakiti Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, menyalahi wasiat beliau untuk mereka, dan meragukan kemurnian seluruh ajaran agama ini, karena agama ini tidak sampai kepada kecuali lewat jalan mereka.

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Janganlah kalian mencela para sahabatku, karena andai saja salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, itu tidak akan menyamai pahala infaq mereka sebanyak satu mud, atau bahkan setengahnya. (HR. Bukhori dan Muslim).

6. Tidak berlebih-lebihan terhadap mereka.

karena jalan yang lurus, adalah yang bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sikap memandang sebelah mata. Artinya: kita tidak mendudukkan mereka diatas martabat mereka, misalnya dengan memberikan sifat ketuhanan atau kenabian kepada mereka, begitu juga sebaliknya jangan kita tidak sopan kepada mereka, misalnya dengan merendahkan atau mencela mereka.

7. Menjaga hak-hak keluarga Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yaitu: keturunan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththolib.

Termasuk dari keluarga Nabi adalah isteri-isteri beliau, ibunda kaum mukminin, sebagaimana sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Aku ingatkan kepada kalian, agar menjaga keluargaku.” (HR. Muslim)

Keluarga Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dari kalangan sahabat mempunyai 3 hak: hak sebagai seorang yang mukmin, hak sebagai seorang sahabat dan hak sebagai seorang kerabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, sedangkan keluarga Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang bukan dari kalangan sahabat, mereka hanya mempunyai 2 hak: hak sebagai seorang yang mukmin dan hak sebagai seorang kerabat Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

Oleh: Prof. Dr. Sulaiman bin sholih bin abdul aziz al ghushn
Alih bahasa oleh: Abu Abdillah Musyaffa’ Rodli ad-dariny.

http://addariny.wordpress.com/2009/05/13/keutamaan-kota-madinah-adab-menziarahinya/#more-23

Masjid Nabawi Layani Hampir Sejuta Orang Iftar Tiap Hari


Tradisi melayani orang berbuka puasa yang ada sejak zaman Rasulullah tetap dipegang teguh oleh masyarakat Saudi, pelaksanaannya sangat rapi dan ramah

Hidayatullah.com--Masjid Nabawi yang luas dikenal di seluruh dunia dengan suasananya yang tenang dan penuh keramahan. Keramahan ini terutama bisa dilihat saat berbuka di mana sebanyak 800.000 hingga 1 juta orang berbuka puasa bersama selama bulan suci Ramadhan tahun ini.

Beberapa badan amal dan para dermawan bersaing satu sama lainnya dalam menyediakan hidangan lezat dan sehat untuk para pengunjung Kota Nabi. Demikian dikatakan shaikh Abdul Aziz Abdullah Al-Faleh, wakil presiden pengurus Masjid Nabawi.

Untuk hidangan setiap kepala sedikitnya dibutuhkan biaya sebesar SR 2,5. Dengan demikian pengeluaran harian untuk menyediakan makanan para jama'ah menelan dana SR 2 juta. Biaya itu ditanggung oleh pihak swasta atau non pemerintah.

Pihak pengurus memperbolehkan warga kerajaan Saudi untuk memberikan makanan berupa yoghurt, kurma, kopi Saudi, shreyk (sejenis roti), duggah (makanan khas Madinah) dan teh sebagai hidangan buka puasa.

Tepat setelah waktu shalat ashar, dari semua sisi masjid, ribuan tangan mendorong kereta kecil beroda dua yang membawa keranjang berisi berkarton-karton kopi Saudi, termos dan gulungan nilon selebar 1 meter serta peralatan makan dari plastik.

Gulungan nilon digunakan sebagai alas makan, untuk melindungi karpet masjid dari tumpahan makanan. Untuk setiap orang disajikan makanan yang terdiri dari 250gr yoghurt, piring plastik berisi kurma, roti shreyk, duggah dan secangkir kopi Saudi.

Hanya dalam hitungan menit, hamparan alas nilon dipenuhi dengan hidangan yang tertata rapi.

Pihak pengurus menyediakan air Zamzam di lebih dari 20.000 kran air dingin. Para petugas yang melayani mengisi gelas dengan air Zamzam di hadapan setiap orang.

Panitia penyelenggara iftar dan dermawan lainnya menyuruh anak-anak mereka berdiri di depan gerbang dan di dalam lingkungan masjid untuk mengundang jamaah yang tiba berbuka puasa di tempat yang sudah disediakan.

Wanita juga tidak ketinggalan dalam acara ini. Masjid menyediakan dua sisi khusus untuk jamaah wanita yang bisa menampung lebih dari 5.000 orang. Mereka juga melakukan persiapan yang sama seperti yang dilakukan di tempat jamaah pria.

Pihak pengurus memiliki 2.000 pekerja yang bertugas untuk merapikan dan membersihkan dalam waktu 15 menit bekas acara berbuka puasa. Mereka juga harus mengembalikan kran air dingin ketempatnya semula sebelum adzan maghrib berkumandang.

Tapi, semua itu belum berakhir. Setelah shalat para jamaah duduk-duduk secara berkelompok, para petugas "tuan rumah" menawarkan kopi Saudi kepada mereka yang ingin menikmati minuman hangat itu.[di/sg/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9241:2009-09-15-12-19-50&catid=151:ramadhan-berkah-1430h

Raja Abdullah Meresmikan Mega Proyek di Madinah



Kerajaan Saudi melaksanakan banyak mega proyek di Madinah, di antaranya perluasan Masjid Nabawi

Hidayatullah.com -- Pelayan Dua Masjid Suci Raja Abdullah, mengunjungi Madinah Ahad dalam rangkaian inspeksi ke propinsi Madinah. Di sana beliau meresmikan proyek industri dan pembangunan baru senilai SR45 milyar di Yanbu.

Di Bandara Udara Internasional Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz Madinah, beliau disambut oleh Menteri Dalam Negeri Pangeran Naif, Gubernur Madinah Pangeran Abdul Aziz bin Majid, dan Kepala Urusan Dua Masjid Suci Shaikh Saleh Al-Husain.

Tak lama setelah tiba di Madinah, Raja Abdullah langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan shalat ashar. Beliau juga mengunjungi makam Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam untuk menghormatinya.

Dalam kunjungannya itu Raja Abdullah didampingi sejumlah pangeran senior dan anggota kabinet. Mereka antara lain Kepala Intelijen Pangeran Muqrin, Menteri Pendidikan Pangeran Faisal bin Abdullah, Menteri Luar Negeri Abdul Aziz Al-Khuwaiter, Menteri Perburuhan Ghazi Al-Gosaibi, Menteri Keuangan Ibrahim Al-Assaf, Menteri Kebudayaan dan Informasi Abdul Aziz Khoja, dan Menteri Kesehatan Dr. Abdullah Al-Rabeeah.

Raja Abdullah dijadwalkan meresmikan proyek baru perluasan Masjid Nabawi, termasuk di dalamnya pemasangan tabir matahari sebanyak 182 buah di halaman masjid. Lebih dari 200 ribu jamaah akan diuntungkan dengan adanya tabir matahari tersebut. Raja mengalokasikan dana sebesar SR4,7 milyar untuk proyek masjid itu.

"Raja Abdullah akan menghadiri sebuah acara besar yang diselenggarakan oleh Royal Commision pada hari Selasa di Yanbu, untuk meletakkan batu pondasi dan membuka sejumlah proyek industri dan pembangunan baru," kata Pangeran Saud bin Abdullah Al-Thunayan sebagai komisaris utama.

Ia juga mengatakan bahwa proyek yang akan diresmikan oleh Raja itu senilai SR45 milyar. Termasuk di dalamnya pembangunan senilai SR20 milyar komplek industri Yanbu National Petrochemicals Co. (Yansab), Saudi Basic Industries Corp. (SABIC), Royal Commission dan Marafiq.

"Kunjungan kerajaan itu merupakan bagian dari tindak lanjut oleh pemimpin Saudi atas pembanguna di 2 kota industri kembar Jubail dan Yanbu," kata Pangeran Saud. "Raja Abdullah memberikan perhatian yang sangat tinggi pada dua kota industri itu karena mereka memainkan peran penting guna menarik investor dari dalam dan luar negeri."

Awal tahun ini Raja Abdullah telah berkunjung ke Jubail yang berada di propinsi sebelah timur kerajaan dan meresmikan proyek baru senilai SR54 milyar.

"Peluncuran mega proyek di Yanbu dan Jubail menunjukkan kekuatan ekonomi negara Saudi," kata Pangeran Saud. Ia juga menambahkan bahwa krisis keuangan global hanya berdampak kecil pada kerajaan.

Lebih lanjut ia mengatakan, kunjungan raja itu akan menyemangati para pejabat dan pekerja untuk mempercepat pelaksanaan rencana pembangunan. Ia juga mengingatkan akan dukungan besar raja terhadap sektor industri.

Selama kunjungannya itu, Raja Abdullah juga akan membuka proyek perluasan Bandara Udara Pangeran Abdul Muhsin bin Abdul Aziz di Yanbu. Hingga perluasannya selesai, proyek itu memakan dana senilai SR188 juta.

Pada malam hari pertama kedatangannya di Madinah, Raja Abdullah menerima tamu para ulama, shaikh, pejabat sipil dan militer senior, dan sejumlah masyarakat yang ingin berjumpa dengan beliau, di Istana Tiba.

Pemimpin Madinah Pangeran Abdul Aziz bin Majid mengatakan kepada wartawan Okaz bahwa kunjungan Raja itu merupakan "kesempatan bagi semua orang untuk bertanya sejauh mana kemajuan yang sudah dicapai." [di/anok/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/berita/internasional/8728-raja-abdullah-meresmikan-mega-proyek-di-madinah.html

Sejarah Kota Nabi



“Shalat di masjidku ini [Masjid Nabawi] lebih utama 1.000 kali dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya.” [HR Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim]
Madinah Munawarah adalah kota suci kedua yang paling utama untuk dikunjungi umat Islam setelah Mekah. Di sanalah terletak Masjid Nabawi yang didirikan tahun 622 M atau tahun pertama hijriah, setelah Nabi SAW hijrah dari Mekah ke Madinah.

Sejarah berdirinya Masjid Nabawi cukup unik, yaitu ketika Rasulullah SAW masuk Madinah, kaum Ansar mengelu-elukan beliau serta menawarkan rumah untuk beliau beristirahat. Namun Rasulullah SAW menjawab dengan bijaksana : "Biarkanlah unta ini jalan, karena ia diperintahkan Allah. Setelah sampai di tanah milik kedua anak yatim bernama Sahal dan Suhai, keduanya anak Amr bin Amarah di bawah asuhan Mu'adz bin Atrah, unta tersebut berhenti, kemudian beliau dipersilahkan oleh Abu Ayub Al Ansari, tinggal di rumahnya. Setelah beberapa bulan di rumah Abu Ayub Al Ansari, Nabi mendirikan masjid di atas sebidang tanah yang sebagian milik As'ad bin Zurrah, sebagian milik kedua anak yatim (Sahal dan Suhai), dan sebagian lagi tanah kuburan Musyrikin yang telah rusak.Tanah kepunyaan kedua anak yatim tadi dibeli dengan harga sepuluh dinar yang dibayar oleh Abu Bakar Ra. Sedang tanah kuburan dan milik As'ad Bin Zurrah diserahkan sebagai wakaf.

Rasulullah SAW yang meletakkan batu pertama pendirian masjid, diikuti oleh sahabat-sahabat Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Kemudian pengerjaan masjid dilakukan dengan gotong royong sampai selesai.
Keadaan masjid masih sangat sederhana sekali tanpa hiasan, tanpa tikar dan untuk penerangan waktu malam hari digunakan pelepah kurma kering yang dibakar. Pagarnya dari batu tanah, tiang-tiangnya dari batang kurma, sedangkan atapnya pelepah daun kurma. Waktu itu arah kiblatnya Baitul Maqdis di Yerusalem, karena perintah menghadap Ka’bah belum turun. Luas masjid sekitar 30 x 35 m. Di sisi masjid dibangun tempat kediaman Nabi dan Keluarganya yang kemudian mejadi tempat pemakamannya.

Dalam perkembangannya, Masjid Nabawi mengalami beberapa kali perombakan. Perubahan pertama adalah membangun mihrab setelah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram di Mekah tahun 2 H setelah Rasulullah SAW menerima perintah memindahkan arah kiblat. Setelah itu, dilakukan beberapa kali perluasan masjid untuk dapat menampung jamaah yang semakin bertambah besar.

Luas masjid saat ini mencapai 165.000 m² serta dapat menampung sekitar satu juta jemaah pada satu kesempatan. Renovasi terakhir dilakukan oleh Raja Fahd yang menambahkan AC serta memperindah masjid dengan 27 kubah yang dapat digeser dan kubah berbentuk payung yang bisa dibuka tutup. Keindahan ini juga dilengkapi dengan hamparan marmer putih di pelataran masjid yang selalu dingin meski terik matahari terus menyengat.

Masjid Nabawi memiliki 10 menara, 6 di antaranya setinggi 99 m, serta 24 kubah. Terdapat 5 mihrab dan beberapa tiang yang konon memiliki sejarah masing-masing. Selain itu, masjid ini dilengkapi dengan tempat parkir bawah tanah yang mampu menampung sekitar 4.400 kendaraan.

Data perkembangan masjid Nabawi mulai dari zaman rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

• Luas masjid waktu dibangun oleh Rasulullah adalah 2.475 m²,
• Tambahan pada masa Khalifah Umar bin Khattaab 1.100 m²,
• Tambahan pada masa Khalifah Usman bin Affan 496 m²,
• Tambahan pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik 2.369 m²,
• Tambahan pada masa Khalifah Abbas Al Mahdi 2.450 m²,
• Tambahan pada masa Malik Al Qait Bey 120 m²,
• Tambahan pada masa Khalifah Sultan Abdul Majid Al Usmani 1.293 m²,
• Tambahan pada masa Raja Faisal 600 m².
• Pada saat Raja Fahd melaksanakan perluasan, Masjid Nabawi tersebut luasnya masih 82.000 m² kemudian diperlebar menjadi165.000 m².

Hal unik lain adalah adanya satu area di dalam masjid yang dinamakan Raudhah yang berarti taman. Tempat ini ditandai tiang-tiang putih dan letaknya adalah antara rumah Nabi SAW [sekarang makam Rasulullah SAW] sampai mimbar. Luas Raudhah dari arah Timur ke Barat sepanjang 22 m dan dari Utara ke Selatan sepanjang 15 m. Konon Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa, seperti sabda Rasulullah SAW,
“Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga.” [diriwayatkan 5 ahli hadits]

Makam Rasulullah dan Kisah Pencurian Jasad Beliau



Makam Nabi Muhammad SAW terletak di sudut timur Masjid Nabawi dahulu dinamakan Maqshurah. Setelah masjid itu diperluas, makam itu masuk dalam bagian bangunan masjid. Makam Rasulullah SAW itu sendiri dibatasi oleh pagar yang penuh dengan lukisan kaligrafi dan pintunya dilapisi emas yang diletakkan persis di bawah kubah berwarna hijau. Namun begitu asykar (tentara) di sana masih juga menjaga ketat dengan pagar betis di sekeliling Makam Rasulullah sehingga jamaah hanya bisa berdoa dari jarak lima meter.

Pada bangunan ini terdapat empat buah pintu :

1. Pintu sebelah kiblat dinamakan pintu At Taubah.
2. Pintu sebelah timur dinamakan pintu Fatimah.
3. Pintu sebelah utara dinamakan pintu Tahajjud.
4. Pintu sebelah barat ke Raudhah (sudah ditutup).

Dalam ruangan ini terdapat 3 buah makam yaitu makam Rasulullah SAW, Abu Bakar As Siddiq, dan Umar ibnul Khattab.

Pernah terjadi pada zaman Shalahuddin Al Ayyubi, ketika perang Salib, sebagaimana telah dicatat oleh sejarawan Ali Hafidz dalam kitab Fusul min Tarikhi AL-Madinah Al Munawaroh, pihak Kristen mengirim dua orang yang mempunyai wajah seperti orang Arab, datang ke Madinah dan tinggal serta bergaul dengan orang-orang Madinah. Dan pada suatu hari, sang Penguasa Madinah bermimpi bahwa telah datang Rasulullah kepadanya dan meminta kepadanya untuk menyelamatkan jasad beliau dari 2 orang yang ditunjukkan wajahnya. Setelah mimpi tersebut berkali kali dialaminya, akhirnya beliau memanggil seluruh warga Madinah untuk berkumpul dan bersalaman kepadanya satu persatu.

Akhirnya setelah diketahui, kedua orang tersebut ternyata telah membuat suatu terowongan yang mengarah ke makam Nabi Muhammad dan berencana untuk mencuri jasad beliau karena mereka berkeyakinan kalau jasad Nabi tidak hancur dan setelah jasad tesebut dicuri oleh mereka, maka pasukan Islam akan menyerah.
Keduanya akhirnya dihukum pancung, dan Raja Mesir waktu itu menyuruh pemerintah Madinah untuk membuat batasan berupa campuran beton dan perunggu jauh ke dalam tanah untuk melindungi jasad Nabi Muhammad dan kedua sahabatnya dari pencurian.



Tempat-tempat bersejarah lain yang dapat dikunjungi di Madinah dan sekitarnya:

• Makam Baqi’
Di sebelah Timur dari masjid Nabawi ada pemakaman untuk para penduduk maupun jamaah haji yang meninggal di Madinah, bernama Baqi’. Di tempat itu pula dimakamkan Utsman bin Affan Ra dan para istri Nabi Saw, yaitu Siti Aisyah Ra, Ummi Salamah, Juwairiyah, Zainab, Hafsah binti Umar bin Khaththab, dan Mariyah Al Qibtiyah Ra. Putra-putri Rasulullah Saw seperti Ibrahim, Siti Fatimah, Zainab binti Ummu Kulsum, serta beberapa sahabat Nabi Saw juga dimakamkan di sana.



• Masjid Quba
Masjid yang terletak di daerah Quba, sekitar 5 km sebelah barat daya Madinah. Waktu Nabi SAW hijrah ke Madinah, orang pertama yang menyongsong kedatangan Rasulullah adalah orang-orang Quba. Kedatangan Nabi di Quba pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal tahun 13 kenabiannya atau tahun 53 dari kelahiran beliau atau bertepatan dengan tanggal 20 September 622 M. Di sini Nabi SAW menempati rumah Kalsum bin Hadam, maka Rasulullah pun mendirikan masjid di atas sebidang tanah milik Kalsum. Di masjid ini pula pertama kali diadakan shalat berjemaah secara terang-terangan dan disebut kan dalam Al-Qur'an dengan nama masjid Taqwa.




• Jabal Uhud
Jabbal Uhud adalah nama sebuah bukit terbesar di Madinah. Letaknya sekitar 5km dari pusat kota Madinah. Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dasyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin yang gugur sampai 70 orang syuhada,antara lain Hamzah bin Abdul Munthalib paman Nabi Muhammad SAW. Perang uhud terjadi pada tahun ke 3H, waktu kaum musyrikin Makkah sampai di perbatasan Madinah, umat Islam mengadakan musyawarah bersama para sahabat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak para sahabat mengusulkan agar umat Islam menyosong kedatangan musuh di luar kota Madinah, usul ini akhirnya disetujui oleh Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang pemanah ditempatkan di atas gunung Uhud,untuk mengadakan serangan-serangan jika kaum musyrikin mulai menggempur kedudukan umat Islam.

Dalam perang yang dasyat tersebut umat Islam hampir mendapat kemenangan yang gemilang, pasukan pemanah umat Islam yang berada di atas gunung Uhud, setelah melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh musuh ada beberapa di antara mereka yang meninggalkan pos untuk turut mengambil barang-barang tersebut, padahal Nabi Muhammad SAW telah menginstruksikan agar tidak meninggalkan pos meski apapun yang terjadi. Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut digunakan oleh Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) seorang ahli strategi yang memimpin tentara berkuda, menggerakkan tentaranya kembali guna menyerang sehingga umat Islam mengalami kekalahan yang tidak sedikit yaitu sampai 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. setelah perang usai dan kaum musyrikin mengndurkan diri kembali ke Makkah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan di tempat mereka roboh,sehingga ada satu liang kubur beberapa syuhada. Kuburan uhud waktu sekarang dikelilingi tembok.



• Masjid Qiblatain
Masjid tersebut mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah karena dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Pada tahun ke 2 H waktu Zhuhur di masjid tersebut tiba-tiba turunlah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144. Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulullah Saw menghadap ke arah Masjidil Aqsa, tetapi setelah turun ayat tersebut, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan shalat dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut akhirnya masjid ini diberi nama masjid Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua.

• Khandak/Masjid Khamsah
Khandak berarti parit. Dalam sejarah Islam yang dimaksud Khandak adalah peristiwa penggalian parit pertahanan sehubungan dengan peristiwa pengepungan kota Madinah oleh kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya dari Yahudi Bani Nadlir, Bani Ghathfan dan lain-lainnya.



Di saat Rasulullah SAW mendengar kafir Quraisy bersama sekutu-sukutunya akan menggempur kota Madinah, maka Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat-sahabatnya, bagaimana cara menanggulangi penyerangan tersebut. Pada waktu sahabat Nabi, Salman Al Farisi memberikan saran supaya Rasulullah SAW membuat benteng pertahanan berupa parit, usul tersebut diterima oleh Rasulullah SAW membuat benteng pertahanan berupa parit, usul tersebut diterima oleh Rasulullah SAW. Maka digalilah parit pertahanan tersebut di bawah pimpinan Rasulullah SAW sendiri. Peristiwa pengepungan kota Madinah ini terjadi pada bulan Syawal tahun kelima Hijriah.

Peninggalan perang Khandak yang ada sampai sekarang hanyalah berupa lima buah pos yang dulunya berjumlah tujuh, yang menurut sebagian riwayat tempat tersebut adalah bekas pos penjagaan pada peristiwa perang Khandak dan sekarang dikenal dengan nama Masjid Sab'ah atau Masjid Khamsah./taq

Sumber Lengkap