Showing posts with label Tahfizh. Show all posts
Showing posts with label Tahfizh. Show all posts

Gaza akan Wisuda 12 Ribu Penghafal Al-Qur’an

GAZA--Hampir 12 ribu penghafal alquran di Jalur Gaza, setelah mereka menyelesaikan tahap akhir pemantapan selama 60 hari berturut-turut. Mereka tersebar pada ratusan pusat penghafal tahfidz Al-Qur’an di Gaza. Termasuk kamp-kamp pengungsian yang dijadikan halaqah-halaqah hifdzil Qur’an.

Mereka menamakan halaqah-halaqah tersebut “Generasi Qur’ani Untuk Al-Aqsha” yang berada dibawah pembiayaan pemerintah Palestina pimpinan Ismael Haneya dan langsung dibawah pengawasan departemen waqaf dan urusan agama Palestina.

Halaqah-halaqah ini mendapat sambutan luar biasa dari warga. Mereka berlomba-lomba mendaftarkan anak-anaknya pada halaqah tersebut, hingga banyak diantara para perserta yang ditolak, karena tempatnya sudah tak menampung lagi.

Sukses Besar

Sementara itu, Dr. Thalib Abu Syaer, menteri waqaf dan urusan agama Palestina mengatakan, kami sedang berupaya mewisuda sejumlah penghafal Alqur’an, setelah sebelumnya sukses selama beberapa tahun terakhir dan tentu kami merasa bangga.

Dalam wawancaranya dengan pusat infopalestina, menteri waqaf mengatakan, jauh-jauh hari kami sudah merencanakan dan menyusun perangkat-perangkat yang diperlukan dalam program kamp qur’ani. Ia berharap programnya ini bisa sukses.

Ia menyebutkan, ada sekitar 870 penghafal Alqur’an yang tersebar di 272 pusat tahfidz Alqur’an di Jalur Gaza (Rafah, Khanyunis, Gaza Tengah, Gaza, Gaza Utara).

Ia mengisyaratkan, pihaknya sedang mempersiapkan perhelatan akbar dan spektakuler untuk memberkan penghargaan pada para penghafal Al-Qur’an. Ia mengungkapkan, bangga atas prestasi para penghafal tersebut. Ini adalah kebiasaan yang baik yang digalakan pemerintah Palestina melalui menteru waqaf dan urusan agama secara khusus.

Peningkatan kemampuan dalam membaca dan menghafal

Di sisi lain, Dr. Abdullah Abu Jarbu deputi departemen waqaf mengatakan, proyek hifdzil Alqur’an yang dilakukan departemen waqaf ini bertujuan secara langsung mencetak para penghafal Alqur’an, disamping meningkatkan bacaan dan mereka, melalui penghafalan Alqur’an.

Dr. Abu Jarbu’ menjelaskan, ada sejumlah mahasiswa yang mempunyai predikat al-hafidz. Pihaknya sangat memperhatikan masalah ini dengan memunculkan bakat dan kemampuan mereka dalam menghafal Alqur’an. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti kamp musabaqah tilawatil alqur’an regional dan internasional yang dapat mengangkat derajat Palestina di dunia internasional.

Proyek Besar

Di pihak lain, Diyab Radhi, seorang warga Palestina di Gaza sangat menghargai langkah yang dilakukan departemen waqaf dan urusan agama. Ia mengucapkan terima kasih pada pemerintah dalam hal ini, yang telah mengadakan program kamp hifdzil Alqur’an.

Ia menambahkan, kami telah menunggu dengan shabar musim panas tiba untuk memulai proyek besar ini dan agar kita bisa membentuk anak-anak kita dan selanjutnya kita membantu mereka untuk menghafal alqur’an dalam waktu tertentu. (rpblk)

http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=1000

Di Libya, Hafizh Qur'an Sederajat Sarjana


Sedikit yang tahu jika Libya sebenarnya memiliki jutaan orang yang hapal (hafizh) kitab suci al-Qur'an. Seperlima dari jumlah penduduk negeri Moammar Qadzafi itu ditaksir hapal al-Qur'an di luar kepala. Pihak pemerintahan Libya pun "memuliakan" para hafizh ini dengan menyetarakan mereka dengan lulusan perguruan tinggi atau sarjana.

Banyaknya para hafizh al-Qur'an ini tak lepas dari peran pesantren-pesantren lokal, semisal Zawiyah, Khalawi, dan Kuttab, yang banyak tersebar di hampir seluruh wilayah Libya, baik di kota atau pun desa-desa, bahkan hingga di pelosok.

Sekretaris Jenderal Universitas Dakwah Islam Internasional Libya, Prof. Dr. Muhammad Ahmad as-Syarif menyatakan, dari 5 juta total penduduk Libya, hampir seperlimanya hafal al-Qur'an.

"Lembaga-lembaga pendidikan keagamaan tradisional di Libya setiap tahunnya banyak melahirkan para penghapal al-Qur'an. Jumlahnya jutaan. Itu belum termasuk yang hanya hafal setengah al-Qur'an atau seperempatnya," terang as-Syarif.

Hal yang menjadikan para hafizh al-Qur'an di Libya berbeda dari negara lainnya adalah bentuk apresiasi dan pemuliaan dari pihak pemerintahannya. Para hafizh al-Qur'an itu disetarakan derajat akademiknya dengan para lulusan perguruan tinggi.

"Dalam masalah pekerjaan, derajat mereka sama dengan para sarjana, meskipun umurnya belum genap 16 tahun. Mereka dapat upah kerja yang setara dengan upah para sarjana," kata as-Syarif.

Diakui oleh as-Syarif, inisiatif dan kebijakan pemerintahan Libya untuk memberikan honor yang tinggi kepada para hafizh al-Qur'an itu datang dari Pemimpin Revolusi dan Presiden Libya sendiri, Moammar al-Qadzafi. (L2/iol)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/di-libya-hafizh-qur-an-sederajat-sarjana.htm

Tilawah Al-Quran dikala haid/nifas

Assalamualaikum.wr.wb

ustad taufik yang saya hormati, saya ingin bertanya mengenai hukumnya wanita yang tilawah disaat haid. karena ada yang membolehkan namun ada juga yang melarang. Apa saja yang dapat dilakukan oleh wanita haid untuk tetap menjaga kedekatan nya dengan sang khaliq? atas jawaban yang diberikan saya ucapkan terima kasih

siti

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr.wb

Membaca Al-Quran adalah ibadah yang amat mulai, kerena demikian Allah SWT dan Rasul-Nya memanjakan dan memuliakan para pembaca Al-Quran.

Rasulullah SAW bersabda :

Sebaik-baik kalian adalah orang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”.

Banyak ukuran orang baik dalam pandangan rasulullah SAW, diantaranya adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Bahkan dalam hadits lainnya beliau jga berdsabda :

Orang yang mahir membaca Al-Quran, maka dia akan ditempatkan bersama dengan hamba-hamba yang mulia, dan orang yang membaca Al-Quran secara terbata-bata dan dia merasa kesulitan; maka baginya dua pahala”.

Subhanallah, jadi orang yang membaca Al-Quran dan dia kesulitan dalam membacanya, masih tetap mendapatkan dua pahala, pahala membacanya dan pahala karena kesulitannya. Kemuliaan ini tidak terdapat dalam bagi orang yang membaca Al-Quran. Namun dia juga harus tetap belajar dan belajar, sehingga ke depan dia akan termasuk dalam golongan orang yang mahir membaca Al-Quran.

Oleh karenanya para shahabat RA terdahalu memberikan porsi dan perhatian yang begitu besar untuk belajar Al-Quran dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
Darah haidh/nifas

Darah haidh adalah darah yang menjadi ‘tamu’ bulanan secara alami bagi semua wanita yang sudah baligh. Jadi bagi kaum Hawa ini tidak perlu resah dan sedih karena tidak bisa menjalankan beberapa ibadah seperti halnya kaum pria; karena ini adalah merupakan takdir Allah SWT, walaupun sebenarnya ada banyak hikmah di balik kedatangan ‘tamu’ tersebut.

Namun demikian, sebagai seorang muslimah, dia harus mengetahui hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan haidh tersebut dan tentunya juga nifas termasuk dalam pembahasan ini, sehingga dia dapat melakukan berbagai ibadah sesuain dengan tuntunan yang benar.

Suatu hari Rasulullah SAW mendapati Aisyah RA sedang menangis- peristiwa ini saat perjalan keduanya dalam haji wada’ – Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya : “Apa yang membuatmu menangis?, apakah kamu kedatangan haidh?”. Dia menjawab: “ya”. Rasulullah bersabda : “Ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan atas anak-anak cucu perempuan Adam, kerjakanlah segala yang biasa dilakukan oleh orang yang sedang haji selain thawaf mengelilingi ka’bah”. (H.R. Muslim)

Demikian hadits di atas menerangkan bahwa bagi wanita yang sedang haidh memiliki hukum khusus dalam beribadah dan jangan sampai dia bersedih karena tiap bulan pasti kedatangan ‘tamu’ secara rutin.
Membaca Al-Quran saat haidh/nifas

Sebenarnya masalah membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh atau nifas ada dua pandangan dari ulama kita sejak dahulu :

Pertama : Membacanya hanya dalam hati dan tanpa memegang mushaf


Pendapat pertama ini didukung oleh Jumhur (Mayoritas) ulama, mereka berpendapat tidak mengapa bagi seorang wanita yang sedang haidh atau nifas untuk membaca Al-Quran, namun hanya dengan melihat mushaf tanpa memegangnya Al-Quran dan membacanya pun dalam hati, bila sampai diucapkan maka tidak boleh. Mereka beragumentasi dengan hadits-hadits yang memiliki derajat lemah.

Kedua : Yang membolehkan


Pendapat yang membolehkan, yaitu sebagian ulama, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Diantaranya Imam Bukhari dan Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berkata : “tidak ada satu hadits pun yang melarang wanita untuk membaca Al-Quran”. Karena hadits :

Wanita haidh dan junub tidak boleh membaca Al-Quran sedikit pun”, adalah hadits dhaif.

Dahulu para wanita di zaman Nabi SAW telah mengalami haidh, seandainya membaca Al-Quran haram bagi mereka seperti halnya shalat, maka pasti Rasulullah SAW akan menjelaskannya kepada umatnya dan Umahatul Mukminin pun akan mempelajarinya, demikian yang disampaikan para ulama kepada umat ini. Nah ketika tidak ada dalil dari Rasulullah SAW yang mengharamkan dengan banyaknya wanita yang haidh pada zaman beliau maka tidak haram bagi mereka.

Namun yang perlu diperhatikan adalah tidak mengapa membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haid atau dalam keadaan nifas membaca Al-Quran. Namun yang ditekankan di sini adalah apa bila itu dilakukan dalam keadaan mendesak (darurat) seperti seorang guru yang sedang mengajarkan murid-muridnya, seorang murid yang mambaca wirid menjaga hafalan Al-Quran siang ataupun malam hari, namun apa bila membacanya dalam rangka untuk mengapai pahala semata dan untuk bertaqarrub secara khusus kepada Allah maka yang lebih utama adalah tidak melakukannya, karena jumhur (mayoritas) ulama memandang bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh membaca Al-Quran.

Wallahu a’lam bishshawab
Wassalamu 'alaikumu wr.wb
H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA

(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com dan www.muntadaquran.net)

http://warnaislam.com/konsul/quran/2009/10/26/51300/Tilawah_Al-Quran_dikala_haidnifas.htm

Gerakan Menghafal Alquran di Saudi


JEDAH--Menghafal Alquran mestinya memang tak mengenal waktu dan usia. Di Arab Saudi, gerakan menghafal Alquran masuk ke mana-mana, termasuk penjara yang bisa mengurangi hukuman (remisi). Bagi remaja kasus narkoba juga diwajibkan menghafal Alquran, sebagi sanksi khusus.

Gerakan menghafal biasa dilakukan anak-anak, remaja, dan dewasa 40 tahunan. Namun, kali ini berbeda. Muhammad Abdullah Musa yang sudah berusia 70 tahun berhasil menyelesaikan hafalan Alqurannya dan lulus dengan penghargaan dari Lembaga Tahfizul Quran, Jeddah, dengan nilai 91. Acara diselenggarakan hari Kamis, 16 Juli kemarin di Masjid Raja Abdul Aziz, Jeddah.

"Ketika saya masih muda, saya sudah menghafal dua juz Alquran tetapi kemudian lupa karena problema hidup," kata Musa seperti dikutip harian Arab News edisi akhir pekan kemarin.

Bagaimana pun, kecintaannya kepada Alquran mendorongnya terus untuk menyelesaikan hafalan Alquran secara utuh dan penuh, meski usia tak lagi muda dan mulai terkendala faktor ingatan. Sebab, hafalan Alquran yang lupa akan menumpuk dosa.

Maka, ia kemudian bergabung dengan program-program khusus yang diadakan di masjid pada malam hari untuk laki-laki tua. "Hal ini memberi orang tua seperti saya dan pekerja di siang hari sebuah kesempatan untuk mempelajari kitab Allah," katanya.

Musa menghafal secara rutin serta mendapat bimbingan dari Masjid Raja Abdul Aziz. Di sini ia berhasil menyelesaikan hapalan 10 juz.

"Pada awalnya saya mengalami kesulitan besar dalam pelafalan dan tajwid, tetapi kemudian dapat teratasi masalahnya," katanya.

Kemudian ia bergabung dengan Lembaga Tahfidzul Quran di Mesjid Salah Karamah, Jeddah, dan berhasil menyelesaikan hapalan 30 juz. "Saya menghapal dua sampai tiga halaman setiap hari. Di malam hari saya pergi ke Mesjid Raja Abdul Aziz Masjid untuk mengulang (takrir) sekitar 2 juz," katanya.

Menurut Musa, ia bisa menyelesaikan hafalan karena dorongan anak dan istri. Walaupun secara usia, dia sudah sangat lanjut. Apalagi jarak antara mesjid yang membinanya dengan rumah tempat tinggalnya berjarak enam kilometer. Dalam usia yang semakin mendekati kematian itu, hafalan Aquran justru memicunya untuk bisa bersama Rasulullah di sorga kelak.mtf/taq

http://www.republika.co.id/berita/63675/Gerakan_Menghafal_Alquran_di_Saudi

Paris Jadi Tuan Rumah Musabaqah Al-Quran ke-VII


Para juri perlombaan ini juga didatangkan dari berbagai negara, baik dari Timur Tengah ataupun dari Eropa

Hidayatullah.com--Terlepas dari kontroversi masalah cadar dan burqa yang belakangan mencuat dan memanas di Prancis, pada Ahad (12/7) lalu negeri Sarkozy ini mengadakan Festival Lomba Al-Quran atau Musabaqah Qur'aniyyah yang ke-VII. Festival kali ini mendapat sambutan yang hangat dan meriah dari banyak pihak.

Festival rutin tahunan ini digelar atas prakarsa Dewan Internasional untuk Tahfizh al-Qur'an yang bekerja sama dengan Persatuan Organisasi Islam Prancis serta Institut Eropa untuk Ilmu-ilmu Keislaman. Kali ini, festival bertempat di Gedung Eksibisi Paris.

Para peserta festival pun tercatat lebih dari 160 orang, serta mencakup beberapa kategori hafalan al-Qur'an, mulai dari 30 juz secara sempurna, 20-15 juz, 10-5 juz, hingga 5-1 juz saja. Para juri perlombaan ini juga didatangkan dari berbagai negara, baik dari Timur Tengah atau pun dari Eropa.

Sementara itu, beberapa ratus kilo meter di sebelah barat Prancis, di jantung ibu kota Austria, Wina, diselenggarakan konferensi internasional untuk dialog antarumat beragama yang diprakarsai oleh Liga Dunia Islam (Rabithah al-Alam al-Islami).

Sekretaris Jenderal Liga Dunia Islam, Dr. Abdullah ibn Abdul Muhsin at-Turki mengatakan, pihaknya berharap konferensi yang digelar kali ini di Wina akan mengukuhkan terjalinya pola hubungan yang baik dan saling berkesinambungan antar sesama umat beragama di seluruh dunia.

Konferensi yang dibuka di istana Hoffburg, Wina, pada pagi hari Senin (13/7) itu adalah buah rentetan dari serangkaian konferensi dengan tema serupa yang diadakan oleh Liga Dunia Islam --atas sponsor dan restu dari Kerajaan Saudi Arabia serta PBB-- dan digelar di beberapa kota besar dunia, semisal Makkah, Madrid, New York, dan Istanbul.

Tujuan utama dari digelarnya konferensi internasional ini, menurut at-Turki, adalah untuk membangun masa depan umat manusia, sekalipun berbeda keyakinan, yang lebih baik. Semua umat beragama sepatutnya silih bekerjasama dan bahu membahu untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih indah dan lebih damai. [atj/mht/www.hidayatullah.com]

Kelas Tahfizh Quran Marak di Turki


Pemerintahan Turki baru-baru ini membuka kelas-kelas belajar, mengaji, sekaligus hafalan al-Qur'an untuk anak- anak negerinya yang tengah menjalani liburan tahunan musim panas. Kebijakan pemerintah untuk membuka kelas-kelas tersebut terbilang baru.

Kelas-kelas ini dibuka secara gratis, dan dikelola oleh para profesional dan guru-guru al-Qur'an terbaik. Selain itu, kelas-kelas ini pun tak hanya dibuka di kota tertentu saja, melainkan di hampir seluruh provinsi-provinsi Turki, mulai dari Aegean di Eropa hingga Diyarbakar di wilayah timur. Tak pelak, masyarakat Turki yang mayoritas Muslim pun menyambut baik kebijakan ini, dan berbondong-bondong memasukkan anak- anak mereka ke kelas-kelas qur'ani tersebut.

Kebijakan ini tak lepas dari peran pemerintahan Turki yang dikuasai oleh AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dengan PM-nya Recep Tayep Erdogan dan Presidennya Abdullah Gul.

Sejak masa kekausaannya, partai berhaluan Islam moderat ini menampakkan komitmen dan kesungguhannya untuk menjaga tradisi dan nilai-nilai Islami, sekaligus memajukan Turki dari segala bidang, seolah tak mau kalah oleh tetangga mereka: Eropa.

Kelas-kelas tersebut nantinya akan dibawahi oleh Dewan Fatwa Turki sekaligus Lembaga Amal dan Wakaf Turki yang mendapat dukungan penuh dari Kepala Badan Keagamaan Turki.

Selain itu, untuk menambah kesuksesan program al-Qur'an ini, pemerintahan Turki juga akan memberikan penghargaan kepada kelas-kelas dan madrasah-madrasah yang dapat menyelanggarakan program ini dengan baik.

Dengan dibukanya kelas-kelas al-Qur'an tersebut, semoga kecintaan masyarakat Turki terhadap al-Qur'an kian meningkat, dan dapat mengamalkan ajaran-ajaran luhur dan mulianya dalam kehidupan sehari-hari. (L2/db)

http://eramuslim.com/berita/dunia/muslim-panas-tiba-kelas-hapalan-al-qur-an-untuk-anak-marak-di-turki.htm

Menghafal Surat-Surat Pendek

Pertanyaan

Pak ustad, gimana cara cepat hafal surat-surat pendek?


muhammad yusuf

Jawaban

Kalau seseorang sudah memiliki niat yang kuat untuk menghafal Al-Quran, maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk terus menghafal. Dan salah satu cara untuk menghafal Al-Quran adalah memulainya dengan yang lebih mudah untuk dihafal, dan tentunya surat-surat pendek itu lebih mudah untuk dihafal, mengapa demikian? selain memang ayat-ayatnya pendek-pendek, dia juga sering dibaca oleh para imam shalat-terutama bagi para imam yang tidak memiliki banyak hafalan- sehingga surat-surat pendek ini akan lebih mudah dihafal.
Cara menghafal surat-surat pendek

Ada banyak cara menghafal surat-surat pendek, diantaranya :

1. Perbanyak mendengar sebelum memulai menghafal, bisa dengan kaset murattal atau mendengarnya dengan khusyu' dari para imam shalat yang kebanyakan dari mereka sering membaca surat-surat pendek dalam shalat maghrib, isya dan subuh. atau yang lebih sering lagi pada saat shalat tarawih di bulan ramadhan, dimana kebanyak imam membaca surat-surat pendek.

2. Perbanyak membaca surat-surat pendek tersebut sehingga ketika kita mulai menghafalnya maka lidah kita sudah akrab dengan ayat-ayat yang akan kita hafal. kemudian setelah kita yakin benar bahwa surat-surat tersebut sudah kita hafal, baru kemudian pindah ke surat berikutnya.

3. Jangan lupa untuk membacanya di hadapan seorang teman yang bacaan atau hafalan Al-Qurannya lebih baik dari kita atau seorang guru tahfizh Al-Quran untuk menyimak hafalan kita, ini harus kita lakukan untuk menghindari salah baca dan salah menghafal.

4. Lakukan pengulangan (muraja'ah) secara teratur, terutama kita baca dalam shalat lima waktu atau dalam shalat sunnah.

5. Usahakan membaca hafalan sesuai dengan urutan yang tercantum di dalam Al-Quran, misalnya kita membaca surat Al-Qari'ah, At-Takatsur kemudian surat Al-'Ashr terus sampai surat An-Nas. sehingga kita mampu mengurutkan hafalan kita sesuai urutan yang ada dalam Al-Quran.

Demikian, mudah-mudahan setelah kita mampu menghafal surat-surat pendek tersebut, membuat kita tertarik untuk menghafal surat-surat panjang sehingga kita dapat merasakan nikmatnya menghafal Al-Quran.

Wallahul Musta'an

H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.
(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)

'Doktor' Cilik dari Sukabumi

Kisah heboh bocah usia lima tahun yang telah menghafalkan seluruh isi Al Qur’an bahkan menerjemahkan setiap ayat serta memahami makna ayat-ayat tersebut, memang masih milik Sayyid Muhammad Husein Tabataba’I dari Iran. Anak yang dijuluki mukjizat abad 20 ini bahkan telah meraih gelar doctor honoris causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, saat berusia tujuh tahun karena kemampuannya tersebut.

Seakan tak mau kalah, kisah sukses Husein itu nampaknya mulai diikuti oleh Indonesia. Meski belum resmi meraih gelar doctor, dan belum menghafal seluruh 30 juz al Qur’an namun Adam Ali Masykur, Hafidz cilik umur 10 tahun ini sudah hafal 20 JUZ. Bocah asal Sukabumi, Jawa Barat ini bahkan mampu menyeimbangi kemampuan orang dewasa dalam menghafal Al Qur’an. Hal ini terbukti dari eksistensinya di pagelaran STQ (Seleksi Tilawatil Qur'an) Provinsi Jawa Barat, yang masuk ke dalam kelas untuk usia 25 tahun.

Dalam pagelaran STQ yang diselenggarakan di Asrama Haji Bekasi, anak pertama dari tiga bersaudara buah cinta Sukito dan Muntayah ini adalah salah satu peserta yang berlomba dalam cabang Tahfidz (menghafal Al-Qur'an). Keberadaan Adam dalam STQ yang dibuka Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Sabtu (18/04) silam patut diacungi jempol. Seharusnya peserta seumuran dia mengikuti perlombaan Tahfidz dengan menghafal sebanyak 5 JUZ, Namun dirinya bergabung dengan perlombaan pada kategori 20 JUZ. Melihat talenta itu, guru ngaji, orang tua, bahkan Kepala Desa daerahnya mendukung keberaniannya masuk dalam kategori yang lebih tinggi.

Keikutsertaanya dalam perlombaan itu, diakui Adam, tidak dilalaui dengan mudah. Karena ia harus menyisihkan ribuan Hafizh cilik hingga akhirnya terpilih untuk mewakili daerahnya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Untungnya, Seleksi yang dilakukan pada 2008 kemarin membuahkan hasil berupa juara pertama.

Kholil Rachman, guru mengaji di pesantren Al Qori’ah, Sukabumi menjelaskan bahwa kepribadian Adam di Pondok Pesantren Al-Qoriah tergolong periang dan ramah terhadap rekan sesama santri. Kholil kemudian juga menjelaskan Bahwa pria cilik kelahiran Nganjuk 14 Mei 1998 Jawa Timur ini kerap mencuri waktu untuk menghabiskan hobby menghafal Al-Qur'an. “Adam ulet dan rajin menghafal,” Katanya. Disaat santri lain dalam sehari hanya menghafal satu halaman Al-Qur'an saja, Adam biasanya belajar menghafal lebih dari satu halaman.

Sekretaris Umum Panitia STQ, Dien Ucu mengatakan hingga kini, Adam berada pada peringkat 10 besar pada cabangnya. “Adam merupakan salah satu peserta yang berpotensi keluar sebagai juara," katanya. Meskipun masih kecil, tambah dia, ia sudah berani mengikuti perlombaan yang bukan kela usianya. Hal ini, tambahnya, yang bisa menjadi nilai lebih baginya di mata dewan hakim.

Kepiawaianya dalam menghafal Al-Qur'an, diakui Adam, bukan semata-mata karena pelajaran di pondok pesantrenya. “Saya mau menghafal Al-Qur'an karena saya punya rasa cinta kepada Al-Qur'an dan khususnya kepada Allah SWT,” Ujarnya dengan tegas.

Ia memang telah lama mengimpikan ikut berbagai lomba pengetahuan tentang Agama Islam semacam STQ. Dengan senyum tersipu malu, bocah bertubuh kurus yang sudah belajar manghafal Al-Qur'an sejak dua tahun lalu juga berambisi mengikuti STQ tingkat nasional yang akan diselenggarakan 5 Juni mendatang di Asrama Haji Pondok Gede. "Saya akan berjuang dengan sungguh-sungguh supaya bisa menang dan dilombakan lagi di tingkat Nasional," ujarnya dengan polos.c88/fif

http://www.republika.co.id/berita/46149/Doktor_Cilik_dari_Sukabumi

Gimana cara untuk menghafal Al-Qur''an?

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ana ikhwan berumur 18 tahun ustad. ana baru belakangan ini mencoba untuk belajar mengenai islam dan al qur'an. ana coba untuk memnghafal al qur'an koq susah banget ustad. tapi kalo ana denger musik di tv, ane mudah sekali untuk mengingatnya. ane kepengen bisa hafal alquran, walaupun hanya beberapa surat ustad. Bagaimana cara agar ane bisa lancar menghafal alqu'ran ustad?

Mohon balasannya

Dari Ana Abdullah

Di Pekanbaru, RIAU

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdullah

Jawaban


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, saudaraku yang dirahmati Allah SWT, patut anda syukuri karena anda memiliki kesempatan belajar Islam dan Al-Quran pada di usia muda ini, dimana dalam belajar Al-Quran, dalam hal ini usaha menghafalnya memang sangat bagus sekali bila bisa dimulai sejak usia dini, usia 18 tahun sebenarnya juga termasuk usia yang boleh dibilang sangat potensial untuk menghafal Al-Quran, karena kalau kita memanfaatkan masa muda ini maka kita akan banyak mengambil manfaatnya di masa tua nanti.

Perlu kita ketahui bahwa menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan yang amat mulia dan tentunya sangat mudah untuk melakukannya, kenapa demikian? Karena sudah ada jaminan dari Allah SWT.

Sebenarnya hal ini sering saya sampaikan dalam beberapa kesempatan sebelumnya. Coba perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Qamar surat yang ke-54 :

“Dan sesugguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Q.S. Al-Qamar/54 : 17,22,32,40)

Ayat ini sampai empat kali diulang-ulang dalam surat yang sama. Perlu diketahui, dalam Bahasa Arab kalau ada kata yang diulang-ulang maka pengulangan ini memiliki tujuan untuk menegaskan sesuatu, dalam hal ini adalah bahwa Al-Qur’an ini mudah untuk diingat dan dihafal.

Lalu mengapa mendengarkan lagu yang diiringi musik itu lebih mudah diingat?, bisa jadi selama ini telinga kita lebih sering mendengarkan musik, sehingga telinga kita ini lebih peka dan akrab dengan musik atau nyanyian ketimbang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Jadi wajar saja kalau menghafalkan lagu lebih mudah ketimbang meghafal Al-Quran.

Sebenarnya para ulama banyak sekali memberikan tips, cara, metode atau tahapan yang harus dilalui oleh orang yang akan menghafal Al-Quran, diantaranya adalah :

Pertama : niat ikhlash karena Allah SWT semata, jangan sampai ada niat kita menghafal Al-Quran itu untuk mendapat berbagai kenikmatan dunia yang barang tentu sangat tidak sebanding dengan kenikmatan di akhirat kelak.

Kedua : jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu mendapatkan kemudahan dalam menghafal Al-Quran, dan ketika kita berdoa kita harus yakin bahwa doa kita diijabah oleh Allah SWT.

Ketiga : Keshalihan pribadi, keshalihan pribadi dalam mengafal Al-Quran tidak bisa disepelekan, karena dengan keshalihan ini maka Allah SWT akan mengajarkan apa yang kita ingikan, Dia akan memudahkan kita dalam memnghafal Al-Quran.

Imam Syafi’i yang terkenal sebagai ulama yang memiliki kecepatan dalam mengafal pernah dengan tidak sengaja melihat kaki bagian bawah seorang wanita, sehingga membuat hafalannya menjadi buruk dan dia pun segera mengadu kepada guru. Setelah itu sang guru pun memberikan nasihat agar dia meinggalkan maksiat, karena ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.

Keempat : dalam menghafal Al-Quran, jangan sampai meninggalkan wirid Al-Quran harian, jadi wirid tilawah Al-Quran harian harus tetap dilakukan, jangan sampai karena kita sibuk menghafal malah justeru meninggalkan wirid tilawah harian kita. Manfaatnya adalah ketika kita sering dan banyak membaca Al-Quran, maka pada saat kita menghafal suatu ayat atau surat Al-Quran, kita akan mendapatkan banyak kemudahan karena sebelumnya kita sudah sering membacanya.

Kelima : kalau ingin hafalan kita bagus dan lacar, maka kita harus memperlakukan surat-surat yang sudah kita hafal seperti orang mengahafal surat Yasin, surat Al-kahfi dan surat-surat lainnya yang sering dibaca orang setiap pekannya atau pada moment-moment tertentu. Seperti halnya juga surat Al-Fatihah mungin saja seandainya kita membaca surat Al-Fatihah ini sambil berlari pun tidak akan salah karena kita setiap hari membacanya minimal 17 kali dalam sehari semalam.

keenam : usahakan kita juga membaca dalam shalat kita, manfaatkan waktu shalat-shalat sunnah seperti shalat malam atau Qiyamullail dan shalat-shalat sunnah lainnya.

Saya sarankan kepada anda untuk membaca-baca kembali jawaban saya pada konsultasi sebelumnya yang sedikit banyak memiliki kaitannya dengan pertanyaan ada ini. Semoga dengan jawaban singkat ini dapat memberikan pencerahan kepada anda khususnya dan para pembaca setia warna Islam pada umumnya untuk lebih termotivasi lagi dalam menghafal Al-Quran, Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.

(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)

Gimana cara untuk menghafal Al-Qur''an?

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ana ikhwan berumur 18 tahun ustad. ana baru belakangan ini mencoba untuk belajar mengenai islam dan al qur'an. ana coba untuk memnghafal al qur'an koq susah banget ustad. tapi kalo ana denger musik di tv, ane mudah sekali untuk mengingatnya. ane kepengen bisa hafal alquran, walaupun hanya beberapa surat ustad. Bagaimana cara agar ane bisa lancar menghafal alqu'ran ustad?

Mohon balasannya

Dari Ana Abdullah

Di Pekanbaru, RIAU

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdullah

Jawaban


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, saudaraku yang dirahmati Allah SWT, patut anda syukuri karena anda memiliki kesempatan belajar Islam dan Al-Quran pada di usia muda ini, dimana dalam belajar Al-Quran, dalam hal ini usaha menghafalnya memang sangat bagus sekali bila bisa dimulai sejak usia dini, usia 18 tahun sebenarnya juga termasuk usia yang boleh dibilang sangat potensial untuk menghafal Al-Quran, karena kalau kita memanfaatkan masa muda ini maka kita akan banyak mengambil manfaatnya di masa tua nanti.

Perlu kita ketahui bahwa menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan yang amat mulia dan tentunya sangat mudah untuk melakukannya, kenapa demikian? Karena sudah ada jaminan dari Allah SWT.

Sebenarnya hal ini sering saya sampaikan dalam beberapa kesempatan sebelumnya. Coba perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Qamar surat yang ke-54 :

“Dan sesugguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Q.S. Al-Qamar/54 : 17,22,32,40)

Ayat ini sampai empat kali diulang-ulang dalam surat yang sama. Perlu diketahui, dalam Bahasa Arab kalau ada kata yang diulang-ulang maka pengulangan ini memiliki tujuan untuk menegaskan sesuatu, dalam hal ini adalah bahwa Al-Qur’an ini mudah untuk diingat dan dihafal.

Lalu mengapa mendengarkan lagu yang diiringi musik itu lebih mudah diingat?, bisa jadi selama ini telinga kita lebih sering mendengarkan musik, sehingga telinga kita ini lebih peka dan akrab dengan musik atau nyanyian ketimbang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Jadi wajar saja kalau menghafalkan lagu lebih mudah ketimbang meghafal Al-Quran.

Sebenarnya para ulama banyak sekali memberikan tips, cara, metode atau tahapan yang harus dilalui oleh orang yang akan menghafal Al-Quran, diantaranya adalah :

Pertama : niat ikhlash karena Allah SWT semata, jangan sampai ada niat kita menghafal Al-Quran itu untuk mendapat berbagai kenikmatan dunia yang barang tentu sangat tidak sebanding dengan kenikmatan di akhirat kelak.

Kedua : jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu mendapatkan kemudahan dalam menghafal Al-Quran, dan ketika kita berdoa kita harus yakin bahwa doa kita diijabah oleh Allah SWT.

Ketiga : Keshalihan pribadi, keshalihan pribadi dalam mengafal Al-Quran tidak bisa disepelekan, karena dengan keshalihan ini maka Allah SWT akan mengajarkan apa yang kita ingikan, Dia akan memudahkan kita dalam memnghafal Al-Quran.

Imam Syafi’i yang terkenal sebagai ulama yang memiliki kecepatan dalam mengafal pernah dengan tidak sengaja melihat kaki bagian bawah seorang wanita, sehingga membuat hafalannya menjadi buruk dan dia pun segera mengadu kepada guru. Setelah itu sang guru pun memberikan nasihat agar dia meinggalkan maksiat, karena ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.

Keempat : dalam menghafal Al-Quran, jangan sampai meninggalkan wirid Al-Quran harian, jadi wirid tilawah Al-Quran harian harus tetap dilakukan, jangan sampai karena kita sibuk menghafal malah justeru meninggalkan wirid tilawah harian kita. Manfaatnya adalah ketika kita sering dan banyak membaca Al-Quran, maka pada saat kita menghafal suatu ayat atau surat Al-Quran, kita akan mendapatkan banyak kemudahan karena sebelumnya kita sudah sering membacanya.

Kelima : kalau ingin hafalan kita bagus dan lacar, maka kita harus memperlakukan surat-surat yang sudah kita hafal seperti orang mengahafal surat Yasin, surat Al-kahfi dan surat-surat lainnya yang sering dibaca orang setiap pekannya atau pada moment-moment tertentu. Seperti halnya juga surat Al-Fatihah mungin saja seandainya kita membaca surat Al-Fatihah ini sambil berlari pun tidak akan salah karena kita setiap hari membacanya minimal 17 kali dalam sehari semalam.

keenam : usahakan kita juga membaca dalam shalat kita, manfaatkan waktu shalat-shalat sunnah seperti shalat malam atau Qiyamullail dan shalat-shalat sunnah lainnya.

Saya sarankan kepada anda untuk membaca-baca kembali jawaban saya pada konsultasi sebelumnya yang sedikit banyak memiliki kaitannya dengan pertanyaan ada ini. Semoga dengan jawaban singkat ini dapat memberikan pencerahan kepada anda khususnya dan para pembaca setia warna Islam pada umumnya untuk lebih termotivasi lagi dalam menghafal Al-Quran, Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

penulis : H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.
(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)
http://www.warnaislam.com/konsul/quran/2009/4/4/2700/Gimana_cara_menghafal_Al-Quran.htm

Kampung Hafizh dari Bantul



Sebuah dusun di Jogyakarta melahirkan banyak penghapal Qur'an. Gempa yang terjadi beberapa waktu lalu membuat jumlah para hafizh itu berkurang.

Jogjakarta-Subhanallah!

Itulah kata yang terlontar ketika pertama kali menginjakkan kaki di dusun ini. Di daerah yang pada bulan Mei lalu terkena lindu (gempa bumi) ini, terdapat ratusan orang yang hafizh Qur'an 30 juz.

Terletak di dusun Jejeran, desa Wonokromo, Pleret-Bantul Jogyakarta, sekitar 30 menit perjalanan dari pusat kota pelajar ini, warga dusun ini seolah-olah menyembunyikan dirinya dari godaan zaman. Mereka umumnya hidup sederhana dan sangat relijius. Sejak dulu, warga dusun ini sudah mempelajari dan menghapal al-Qur'an secara turun temurun.

Ketika akan ditemui, pada mulanya mereka tak mau berbicara mengenai kebiasaanya menghapal al-Qur'an. Isin (malu, red), begitulah alasannya. Namun, berkat bantuan salah seorang tokoh masyarakat, akhirnya mereka mau bercerita.

Tradisi menghapal al-Qur’an ini sendiri pertama kali diprakarsai oleh Kiai Nawawi pada awal kemerdekaan, sekitar 1946. Dengan mendirikan pondok pesantren an-Nawawi, kiai tersebut mencoba untuk meningkatkan tradisi ber-Islam penduduk lokal melalui mengkaji kitab karya para ulama dan semangat untuk menghapalkan ayat al-Qur’an. Inilah kemudian yang membuat tertarik orang luar untuk berbondong-bondong belajar di kampung ini.

Mantan murid Kiai Nawawi kemudian turut mendirikan pesantren di lingkungan sekitar. Metode yang digunakan pun hampir serupa. Ketika ditelusuri, ternyata kampung jejeran memiliki hubungan sangat erat dengan perkampungan santri Mlangi, Sleman, Jogya. “Sebagian dari penduduk kampung Jejeran dan para pendiri pesantren dulunya berasal dari Mlangi atau menikah dengan orang Mlangi,” ujar salah seorang pengasuh Pesantren Baiquniyyah yang terletak di dusun yang sama.

Pesantren Baiquniyyah sendiri didirikan pada awal 1986 oleh Kiai Abdul Muhith. Di pesantren ini, anak-anak tidaklah harus menjadi seorang hafizh Qur’an. Yang terpenting mereka mengerti hukum-hukum dasar agama dan bacaan al-Qur’an. Selain itu membuat anak-anak senang dan cinta pada agama menjadi salah satu tujuannya. Dari pengalaman selama ini, biasanya anak-anak yang keluar dan melanjutkan ke pesantren lain, telah hapal minimal juz amma ditambah Surah Yasin.

Secara umum metode yang digunakan oleh pesantren-pesantren di Kampung Jejeran menggunakan metode bi an-nazhar (membaca dan menjaga hapalan).

“Apabila kita mau mengerti al-Qur’an, maka kita juga harus mengerti hukum-hukum agama. Tidak berat sebelah dalam ilmu. Saling menjaga hapalan Qur’an satu sama lain,” tutur Yamahsari (30), warga yang hafizh Qur'an.

Dalam proses menghapal tersebut, seorang santri rata-rata menghabiskan waktu tiga tahun.

“Namun ada pula yang bisa lebih cepat dari itu. Biasanya orang itu dikaruniai rahmat Allah yang tidak diduga-duga,” ujar Yamahsari.

Saat ini, penduduk asli yang benar-benar hafizh tinggal 86 orang. Peristiwa gempa Jogya kemarin pun turut berperan dalam mengurangi para hafizh tersebut.

“Kalau dihitung dengan pendatang dan santri luar yang belajar di sini, maka bisa ratusan orang yang hafizh. Selebihnya warga lain juga ada yang hapal Qur’an meski belum mencapai 30 juz,” tambahnya.

Secara umum, warga di dusun ini telah hapal al-Qur’an minimal satu juz. Sejak dini, anak-anak sudah diperkenalkan dengan Islam. Mereka mulai belajar membaca sejak usia lima tahun. Hal ini dimaksudkan agar menjelang dewasa dan pindah dari kampung halaman, mereka memiliki bekal kuat untuk mengarungi samudera kehidupan.

Yamahsari sejak kecil telah bertekad untuk menghapalkan seluruh ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga ketika dewasa dan mendapat restu dari orang tua, ia memilih untuk tetap mondok di pesantren Miftahul Ulum yang berada di dusun ini.

Baru 3,5 tahun mondok, Yamahsari bisa menghapalkan seluruh isi al-Qur'an. Setiap hari sebelum Subuh ia mengulang-ulang hapalan untuk kemudian disetorkan kepada kiai atau orang lain yang ditunjuk oleh pesantren.

Untuk menjaga hapalan tersebut, maksimal setahun tahun sekali para hafizh Qur’an di dusun ini berkumpul melalui tradisi sema’an (memperdengarkan, red) untuk saling mengulang dan menyimak hapalan.

Sebagian besar penduduk dusun Jejeran berprofesi sebagai buruh tani. Mereka mengerjakan sawah milik orang lain yang hasil panennya kemudian dibagi dua dengan pemilik lahan. Sehingga kesan ke-papa-an begitu kuat menyelimuti. Apalagi gempa bumi yang belum lama ini menimpa Jogyakarta makin menambah ujian yang dialami para warga.

Tak ayal, kampung jejeran pun pernah diincar oleh misi agama lain dengan dalih bantuan sembako, perbaikan tempat tinggal sampai ada tawaran pekerjaan. Namun hal tersebut tidaklah menggoyahkan warga. Dengan cara yang halus, tawaran tersebut ditolak oleh warga.

Di dusun ini terbentuk tradisi untuk merasa malu apabila tidak menjalankan ajaran agama dengan semestinya. Sebagai contoh, warga akan merasa malu apabila tidak hadir dalam shalat Subuh berjamaah di masjid dan tidak mengikuti pengajian tanpa ada halangan yang mendesak. Suatu tradisi yang sulit kita temui.

Dusun yang saat ini dihuni oleh kurang lebih 500 KK (sekitar 2000 jiwa) terdapat enam pondok pesantren besar, seperti Pondok Pesantren Baiquniyyah, al-Fitrah, Miftahul Ulum, Darul Ulum, dan an-Nawawi. Selain itu banyak pula tempat belajar agama (semacam TPA) di mushala dan masjid yang ada.

Ketika ditanyakan mengenai tips agar cepat menjadi hafizh Qur’an, Kiai Abdul Muhith (55 ), pengasuh pesantren Baiquniyyah menganjurkan agar selalu membersihkan hati dari niat-niat yang tidak ikhlas. Selain itu, kita harus membuat target hapalan Qur’an setiap hari, tidak beralih ke hapalan baru apabila belum sempurna hapalan sebelumnya, dan memahami ayat Qur’an yang sedang berusaha kita hapal.

“Jangan lupa terus berdoa kepada Allah agar tetap diberi kemudahan dan tetap rendah hati, tidak sombong apabila telah berhasil menjadi hafizh,” tambahnya.


Penduduk Dusun Jejeran telah membuktikan, kesulitan perekonomian yang melilit warga kampung ini tidaklah menghalangi semangat untuk terus belajar agama dan mencintai al-Qur’an. Bahkan dari dusun kecil nan terpencil ini telah lahir ratusan, bahkan ribuan hafizh Qur’an yang telah berazzam untuk tetap menjaga nilai-nilai Islam agar tidak hilang dan luntur dari muka bumi.

Berniat menjadi hafizh? Silakan datang ke dusun ini!

Kontributor: Widiantoro
http://sabili.co.id/index.php/200903171292/Jaulah/Kampung-Hafizh-dari-Bantul.htm

Tahfizh Untuk Anak 4 Tahun

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Anak ana 4 tahun,gmana metode tahfidz yang tepat untuk anak usia 4 tahun, karna dia cenderung lebih cepat menerima ketika guru yang mengajarkan tapi ketika ana yang membimbing kog mandek ?????
jazakumullah

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
ummu afghan

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ummu Afghan yang senantiasa di rahmati Allah SWT, mampu membaca Al-Quran bagi anak-anak kita apalagi mampu menghafal Al-Quran di usia dini adalah mimpi setiap kita yang merindukan akan mulianya menjadi seorang penghafal Al-Quran, orang yang mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT.

Dalam mengajarkan anak menghafal Al-Quran jangan pernah bosan untuk selalu berdoa kepada Allah SWT agar cita-cita mulia ibu dapat terwujud sesuai harapan.
Cita-cita ibu ini tentunya juga cita-cita kita semua para pencinta Al-Quran. Para penghafal dan pembawa risalah Al-Quran adalah orang-orang yang kelak akan di tempatkan bersama para Malaikat yang mulia.

Sebenarnya, dalam mengajarkan anak - dalam hal ini mengajarkan tahfizh Al-Quran - guru ideal dan yang paling baik adalah orang tua yang selalu berinteraksi langsung dengannya setiap hari. Namun karena banyak hal yang tidak memungkinkan orang tua dalam mengajarkan anaknya untuk bisa menghafal Al-Quran, apakah itu karena orang tua sibuk bekerja di luar rumah, tugas dakwah yang begitu padat, mengajar di suatu sekolah, kurang pandai membaca Al-Quran apalagi belum berpengalaman menghafal Al-Quran walau hanya juz ‘amma/juz 30, akan mendorong mereka untuk menyerahkan anaknya ke tempat atau lembaga tahfizh Al-Quran. Atau memanggil seorang guru ngaji atau private Al-Quran untuk bisa mengajarkan sang anak tahfizh Al-Quran.

Sebenarnya cara demikian boleh saja dilakukan, karena cara ini pernah dilakukan oleh orang terdahulu, dimana sang ayah atau ibu menyerahkan anaknya untuk belajar kepada seorang syaikh guru. Diantaranya adalah yang dilakukan oleh seorang Khalifah terkenal yaitu Harun Al-Rasyid. Al-Rasyid memanggil seorang guru yang alim yang memiliki berbagai macam disiplin ilmu, diantara mengajarkan tahfizh Al-Quran.

Mengajarkan Tahfizh Al-Quran Kepada Anak Usia 4 Tahun

Ada beberapa metode yang harus diperhatikan oleh guru atau orang tua yang akan mengajarkan anak dusia 4 tahun :

Yang utama sekali adalah jangan lupa dan jangan bosan untuk selalu dan terus berdoa kepada Allah SWT agar kita semua diberikan kemudah dalam mendidik anak-anak kita, dalam hal ini kita ingin menjadikan mereka cinta kepada Al-Quran dapat membaca dan yang lebih kita cita-citakan lagi adalah mereka dapat menghafal Al-Quran.

Kapasitas seorang guru tahfizh yang memiliki kemampuan dalam mengajarkan tahfizh Al-Quran. kalau orang tua belum mempu mengajarkan langsung, maka pilih seorang guru yang kita yakini dapat mengajarkan tahfizh Al-Quran kepada anak kita tersebut.

Baik orang tua atau guru yang langsung mengajarkan kepada anak tersebut, talqinkan (perdengarkan) secara berulangan-ulang ayat-ayat Al-Quran hingga dia menjadi akrab dengan ayat-ayat tersebut dan pada akhirnya dia mampu menghafalnya.

Disamping itu, bisa juga dikenalkan huruf hijaiyyah, ajarkan anak membaca dan menulis huruf Al-Quran ini dengan metode-metode yang selama ini digunakan dan dianggap lebih praktis dan mudah bagi anak kita. Sehingga suatu saat anak kita dapat menghafal mandiri dengan melihat mushaf dan mengulang (murajaah) hafalnnya sendiri.
Tanamkan pada diri anak kita tentang keagungan, kemuliaan Al-Quran dengan pendekatan dan cara yang menyenangkan dan bisa dipahami olehnya.

Usahakan memasukkan anak kita pada halaqat Al-Quran baik di masjid, mushalla atau di suatu lembaga yang mengajarkan tahfizh Al-Quran. karena yang demikian itu akan membuat dia merasakan bahwa ada banyak anak seusianya yang juga memiliki aktifitas yang sama dalam menghafal AL-Quran.

Gunakan tape recorder atau yang sejenis untuk memperdengarkan Al-Quran, terutaman surat-surat pendek, ajak anak kita untuk menyimak dan mengikutinya. Ulangi beberapa kali hingga dilihat anak sudah dapat mengikuti lantunan ayat-ayat Al-Quran tersebut.
Jadikan anak kita menyenangi proses ini dengan tidak ada unsur pememaksaan yang nantinya akan berakibat anak tidak suka untuk menghafal. Kalau dia menyenangi semua proses yang kita lakukan maka yang akan kita dapatkan adalah kemudahan dalam mendidiknya untuk menghafal Al-Quran.

Usahakan selalu mengajak anak kita ke masjid atau mushalla agar dia dapat terbiasa untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan juga agar dia dapat terbiasa mengulang-ulang hafalannya, apalagi biasanya para imam membaca surat-surat pendek, dengan demikian anak akan akrab dengan bacaan Al-Quran.

Yang tidak kalah pentingnya adalah orang tua atau guru Al-Quran banyak membaca tentang psikologi dan pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan bagaimana mendidik anak untuk bisa terbiasa menghafal Al-Quran sejak dini.

Guru Lebih Disukai Daripada Orangtua


Memang banyak anak lebih menyukai dan lebih mendengar nasihat dan pelajaran seorang guru bila dibandingkan orangtuanya sendiri. Sehingga kalau orangtuanya mengajarkannya maka hasilnya kurang optimal dan justeru kemandekkan yang ada. Namun kita jangan putus asa atau berkecil hati dulu. Kalau kita memiliki kemampuan dalam mengajarkan Al-Quran maka kita sebagai orangtua juga dapat berperan sebagai seorang guru sekaligus bagi anak-anak kita di rumah.

Jangan lupa, biasanya anak-anak itu menyukai hadiah, sekecil apapun hadiah yang kita berikan, akan sangat berkesan sekali di hati mereka. Jadi kita bisa mulai mengadakan pendekatan dengan menjajikan hadiah bila mana dia mau belajar kepada kita, terutama sekali jika anak kita mencapai target yang sudah disepakati bersama. Selain itu, berikan sanjungan dan pujian bila anak kita dapat menyelesaikan hafalan tertentu.

Yang tidak kalah pentingnya adalah konsultasikan perihal anak kita kepada guru yang mengajarkannya di sekolah. Sehingga kita bisa berperan seperti gurunya disekolah dan pada akhirnya anak kita juga menyukai pengajaran yang diberikan orangtuanya di rumah.
Semoga penjelasan di atasa dapat memberikan pencerahan kepada ibu dan kita semua yang memiliki cita-cita mulia dalam menjadikan anak-anak kita sebagai penghafal Al-Quran.

Setelah kita melakukan semua upaya di atas, sabar akan semua proses yang kita lalui, maka hanya kepada Allah SWT kita bertawakkal. Hasbunallahu wani'mal Wakil.
Wallahu A'lam Bishshawab Wassalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
Rabu, 18 Februari 2009
(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)