Hidup sebagai sesuatu kadang seperti tulisan spanduk yang terikat di antara dua tiang. Hujan, panas, dan tangan-tangan usil bisa melunturkan keberadaan tulisan. Warna menjadi kabur, dan tulisan pun mulai luntur. Seperti itu pula mungkin ketika seseorang hidup sebagai muslim.
Tak ada iman tanpa ujian. Kalimat itulah yang mesti dipegang seorang mukmin dalam mengarungi hidup. Susah senang adalah di antara ruang-ruang kehidupan di mana seorang mukmin diuji keimanannya. Ada yang lulus. Ada juga yang mesti mengulang.
Mereka yang berguguran dalam perjuangan Islam adalah di antara yang mesti mengulang. Waktu memberikan mereka peluang untuk bangkit di lain kesempatan.
Rasulullah saw. bersabda, “Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang keluar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang keluar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah).” (HR. Athabrani)
Ujian perjalanan keimanan seseorang tidak selalu pada hal besar. Bisa jadi terselip dalam kehidupan sehari-hari. Ada ujian tubuh yang rentan sakit. Ada rezeki yang muncul dalam tetesan kecil. Kadang ada, tapi kebanyakan tidak ada. Hidup menjadi sangat susah.
Inilah ujian sehari-hari yang bisa menentukan seperti apa mutu seorang mukmin. Kalau hasil ujian menunjuk titik sabar, rezeki yang sedikit menjadi berkah. Sedikit, tapi punya mutu istimewa.
Seperti itulah yang pernah diungkapkan Rasulullah saw. pada beberapa sahabat. “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridha dengan bagian yang diterimanya, maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberian-Nya. Kalau dia tidak ridha dengan pemberian-Nya, maka Allah tidak akan memberinya berkah.” (HR. Ahmad)
Ujian seperti itu memang terkesan sederhana. Mudah. Tapi, akan beda pada dunia nyata. Rezeki yang terasa kurang akan berdampak pada sisi lain: gizi keluarga, pendidikan anak, mobilitas gerak, dana dakwah, dan sebagainya. Belum lagi soal status sosial di tengah masyarakat. Sulit mengajak orang kembali pada Islam kalau status sosial si pengajak kurang dianggap.
Ujian rezeki yang terkesan sederhana, ternyata memang berat. Kalau saja bukan karena kasih sayang Allah swt., seorang mukmin hanya akan berputar-putar pada masalah diri dan keluarganya. Kapan ia akan berjuang. Bagaimana ia berdaya mengangkat beban umat yang begitu berat: masalah kebodohan, perpecahan, bahkan kemiskinan umat.
Jika merujuk pada pengalaman Rasul dan para sahabat, kenyataan hidup memang tidak begitu beda. Sedikit di antara hamba-hamba Allah di masa itu yang kaya. Termasuk Rasul sendiri. Beliau dikenal yatim yang berbisnis pada usaha pamannya, Abu Thalib. Begitu pun para sahabat yang sebagian besar berstatus budak dan buruh. Apa yang bisa dilakukan pada kelompok seperti itu.
Itulah yang pernah dialami Nabi Nuh dan para aktivis di sekitarnya. Mereka dianggap hina karena status sosial yang rendah. Allah swt. menggambarkan keadaan itu dalam surah Hud ayat 27. “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.”
Namun, sejarah memberikan pelajaran berharga. Para pejuang teladan yang dianggap punya status sosial rendah itu mampu memberikan bukti. Bahwa, kekayaan bukan penentu sukses-tidaknya sebuah perjuangan. Ada hal lain yang jauh lebih penting sebagai energi utama. Energi utama itu tersimpan dalam kekuatan ruhiyah yang tinggi.
Rasulullah saw. mengungkapkan itu dalam sebuah sabdanya. “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlan pertolongan Allah. Jangan lemah semangat (putus asa). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, ‘Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu.’ Tetapi, katakanlah, ‘Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.” Ketahuilah, sesungguhnya ucapan ‘andaikan’ dan ‘jikalau’ hanya membuka peluang bagi karya setan.” (HR. Muslim)
Kenyataannya, energi yang dimiliki para pejuang Islam dari masa ke masa ada dalam ruhani mereka. Mereka begitu dekat dengan Yang Maha Kuat, Allah swt. Siang mereka seperti pendekar yang menggempur musuh dengan gagah berani. Tapi malam, mereka kerap menangis dalam hamparan sajadah karena hanyut dalam zikrullah. Hati mereka begitu terpaut dalam kasih sayang Allah swt.
Suatu kali Rasulullah saw. meminta Ibnu Mas’ud membaca Alquran. Ibnu Mas’ud agak kaget. “Bagaimana mungkin saya membacakan pada Anda Alquran, padahal ia datang melalui Anda?” Rasulullah saw. pun meminta Ibnu Mas’ud untuk membaca. Dan sahabat Rasul itu pun membaca surah An-Nisa.
Satu demi satu ayat dalam surah An-Nisa itu dibaca Ibnu Mas’ud. Hingga pada ayat ke-41. Rasul pun menangis. Tangisnya begitu jelas, hingga Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya. Ayat ke-41 itu berbunyi, “Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”
Itulah energi yang begitu kuat. Sebuah kekuatan yang bisa memupus keraguan, kemalasan, dan rasa takut. Sebuah kekuatan yang bisa mengecilkan bentuk ujian hidup apa pun. Termasuk, ujian kemiskinan.
http://www.dakwatuna.com/2008/energi-yang-tak-pernah-habis/
Showing posts with label Man Jadda wa Jadda. Show all posts
Showing posts with label Man Jadda wa Jadda. Show all posts
DIAWALI DENGAN DUA BELAS ORANG
Komunitas atau Jamaah Islam diawali oleh keberadaan 12 orang pria (yang bersungguh-sungguh/ memegang komitmen) yang dipimpin oleh seorang Amir.
Dua Belas Belas Orang Pertama dan Satu Amir
Komunitas atau Jamaah Islam diawali oleh keberadaan 12 orang pria (yang bersungguh-sungguh/ memegang komitmen) yang dipimpin oleh seorang Amir.
Mereka hanya takut pada Allah dan percaya pada yang Ghaib. Mereka mendirikan Shalat dan menunaikan (Zakat) dari apa yang telah ALlah berikan pada mereka.
Kewajiban utama dan amalan mereka dalam keadaan ini adalah :
1. Mentaati Amir.
2. Mendirikan Shalat.
* Ini berarti, pada dasarnya dilakukan di salah satu kediaman mereka, tapi akan menjadi lebih baik bila memiliki tempat yang khusus untuk melaksanakan shalat (seperti mesjid, mushala atau surau).
* Mendirikan shalat baik secara terbuka (umum) maupun sendirian.
3. "Membayarkan Apa yang Telah Allah Berikan pada mereka." Ini berarti kelompok/ kumpulan dasar haruslah orang-orang yang tidak menjadi buruh gaji. Pekerjaan atau kegiatan mereka harus memungkinkan mereka untuk bergerak dan bertindak dengan bebas. Penarikan Zakat dan membagikannya kepada yang paling memerlukannya diantara mereka merupakan sesuatu yang sangat penting. Bagi para pedagang diantara mereka, Zakat harus ditarik dengan benar. Hal ini akan memperkuat unit utama. Ketika mereka bertambah kuat, mereka akan memperkuat yang lainnya, dengan Kekuatan dari Allah.
4. Dawah Secara Terbuka Menuju Allah. Ini adalah aktifitas utama Muslim. Berdasarkan pemahaman yang tepat, ini merupakan bentuk ibadah --pengabdian pada Allah. Tidak ada aktifitas terbuka lainnya yang melampaui kemuliaannya. Dawah aktif yang selalu menjadi tahap awal dalam membuka fenomena Islam. Allah ta'ala mengatakan dalam Qur'an:
"... Dan siapakah yang perkataannya lebih baik dari orang yang menyeru menuju Allah dan beramal dengan benar dan mengatakan: 'Sungguh, aku termasuk kedalam golongan mereka yang berserah diri'..."
Keempat amalan dasar tadi akan meliputi dan saling berhubungan dengan aktifitas yang lain. Komunitas yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak keseluruhan aktifitas mereka diatur dan dipersiapkan berdasarkan pada ketulusan dan ke-efektifannya.
Dari 13 Orang Kita Beranjak Menuju 26 Orang
Dua puluh lima pria ditambah seorang Amir.
"...Bila ada duapuluh orang yang bersabar mereka dapat mengalahkan dua ratus orang ..."
Pada tahap ini dan selanjutnya, sebaiknya, mengambil atau memilih tempat kumpulan komunitas. Pembentukan para individu menjadi salah satu bagian dari tiga golongan:
1. Perdagangan —berbentuk guild (gilda, paguyuban) ataupun kemitraan
2. Pendidikan atau administrasi
3. Unit dawah
Pusat konsetrasi diarahkan pada pembentukan dan pembangunan pasar Islam. Kemudian mempertimbangkan perumahan dan tempat tinggal. Hal Ini disebabkan karena pada tahap berikutnya, saranaini menjadi bagian yang diperlukan.
Sekarang, jemaah telah mencapai jumlah 40 orang pria yang dipimpin oleh seorang Amir, sehingga keseluruhan adalah 41 orang. Diharapkan dalam jumlah tersebut terdapat, paling tidak, 25 orang wanita. Hal ini akan berperan penting, sebagaimana angka ini (40 orang) tersurat dalam fiqh untuk menyebutkan suatu jumlah orang dalam satu desa atau kabupaten.
Pertumbuhan Komunitas dari 25 Menjadi 40
Upaya berikut ini harus terus dikembangkan:
1. Mendirikan Shalat
2. Pembayaran Zakat, ini termasuk penggunaan kembali Dinar dan Dirham dalam pembayaran Zakat dan transaksi umum atau harian lainnya, seperti mahar dan alat pembayaran
3. Pengembangan paguyuban — lebih penting lagi, Waqaf
4. Mendirikan Pasar Islam/ Terbuka
Sangat dimungkinkan pada tahap awal, Amir mempercayakan pada para individu dengan kewajiban dan nama yang diberikan pada mereka. Namun bila tidak memungkinkan, maka pada saat ini Amir harus dapat mengangkat:
1. Wazir — dengan 5 tugas
2. Qadi — dengan 3 tugas
3. Muhtasib
4. Imam/ Khatib
Pada tahap ini Amir memiliki wewenang untuk mengangkat atau menunjuk seorang Imam/ Khatib yang secara khusus mengajarkan dan mendidik penduduk dalam akidah dan ibadah dan untuk memimpin shalat berjamaah. Pada tahap ini mendirikan shalat Jum'at menjadi kewajiban meskipun sebelumnya telah berjalan sesuai keperluan, seperti untuk menyemangati dan menjadi inspirasi bagi muslimin.
Sangat jelas dalam fiqh empat Madzhab, bahwa paling tidak jumlah 40 orang diperlukan untuk mendirikan Shalat Jum'at yang sah, bagaimanapun, tanpa keberadaan seorang Amir hal ini tidak mungkin terlaksana.
Sekarang Kita Tiba Pada Jumlah Komunitas 100 Orang
"...Dan bila terdapat seratus orang diantara kalian, mereka dapat mengalahkan seribu orang dari golongan kafir..."
(al-Anfal ayat 65)
Dalam tahap ini tiga hal utama yang diperlukan adalah:
1. Memperkuat barisan di Mesjid dan di pasar, bila diperlukan lakukan pengembangan.
2. Perlindungan/ pembangunan berbasis-pertanahan baik di kota ataupun di pedalaman, tapi lebih diharapkan lagi pada daerah pedalaman. Hal ini akan berkaitan dengan penentuan hilal dan implementasi Syariat sesuai dengan kondisi yang memungkinkan.
3. Mengenalkan kembali karavan (kafilah dagang).
Dari langkah-langkah tersebut langkah selanjutnya yang diharapkan akan terwujud adalah:
1. Peredaran alat tukar yang adil
2. Bengkel, gudang, dan akomodasi untuk Guilds/ paguyuban dan para musafir.
3. Fasilitas pendidikan untuk komunitas.
4. Rumah sakit/ klinik medis/ tabib.
5. Sentral Media/ komunikasi.
6. Pemakaman
Tahap selanjutnya diserahkan pada pertumbuhan komunitas melalui izin Allah. Jalan demi jalan, desa demi desa, negeri demi negeri, dan pada akhirnya Dar al-Islam .
Diawali dengan dawah —Da'watul Haq. Kemudian melalui pernikahan, pengajaran, pendidikan dan perdagangan. Segalanya yang telah ditakdirkan oleh Allah.
Apa yang dapat mempersatukan komunitas dan menjadikan upaya mereka berhasil adalah ketulusan, kepercayaan dan komitmen. Bersamaan, dengan program lahir, tiap individu harus memiliki program batin, masing-masing, dimana mereka menyeru pada Rabb mereka.
Apa yang telah disampaikan sejauh ini hanyalah sebuah blueprint —rencana dasar untuk diamalkan. Sangat diperlukan pemahaman kita bahwa semua ini bukan bergantung dan didasari oleh jumlah angka, setepat yang telah saya sebutkan. Telah disebutkan bahwa apa yang Allah ta'ala firmankan dalam Kitab-Nya mengenai beberapa jumlah angka-angka. Dikatakan bahwa, dimanapun ada jama'ah yang terdiri dari 100 orang (yang bersungguh-sungguh), maka akan muncul seorang wali (sahabat) Allah diantara mereka. Pekerjaan ini bukan berdasarkan perhitungan. Tetapi berdasarkan pada niat kemudian amalan yang tulus. Keberhasilan adalah milik Allah.Tulisan ini telah diselesaikan sebagai panduan bagi siapapun, yang mencari keridhoan Allah, ingin bertindak tetapi belum jelas akan jalan mana yang harus ditempuh.
Tulisan ini dapat ditinggalkan bagi seorang yang mencari-cari kesalahan dan kekurangan atau dapat diamalkan bagi mu'min yang mencari Wajah Allah:
"Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah Allah."
Catatan Kaki:
Sebagai seorang yang mengikuti amalan menurut 'Amal ahl al-Madinah, kami meyakinkan bahwa apa yang telah disampaikan sebelumnya adalah sesuai dengan yang dicontohkan dalam 'Amal ahl al-Madinal —tercatat dalam kitab al-Muwatta dari Imam Malik sebagai sumber pedomannya.
Meskipun kami berpegang teguh terhadap apa yang telah disimpulkan oleh Imam Malik, radiyallahu anhu, dalam kitab al-Muwatta dalam membangun kembali komunitas Islam, kami tidak berlaku angkuh atau mendogma bahwa al-Muwatta merupakan kewajiban bagi seluruh Muslim. Bahkan, yang kami paparkan dapat diwujudkan oleh salah satu dari keempat madzab yang dilengkapi dengan fiqih yang dicapai melalui seorang faqih yang mendapat pencerahan dan bukan dari sudut pandang non-struktural.
Pada akhirnya, mungkin akan tampak bagi Muslim terpelajar moderen, bahwa kita meremehkan pentingnya Shalat al-Jumu'ah dan penegakannya. Sebaliknya, sangat jelas dalam fiqih Islam dimana tingkat kepentingan dan prioritasnya terletak dalam penegakkan Deen .
Bahkan, saat ini, pilar Zakat —pengumpulan, penarikan dan distribusinya— justru sangat dianggap remeh tingkat kepentingannya. Pilar Zakat adalah darah dari jantung komunitas Islam. Dengan kata lain, Shalat mewakili bagian batin dari jamaah. Persatuan mereka terletak dalam keyakinan dan pengabdian. Shalat adalah Keindahan.
Zakat mewakili sisi lahir dari komunitas Muslim. Dalam Zakat terletak persatuan dari tindakan dan amal. Zakat adalah Keagungan.
Kemenangan datang dari Allah. Pada Allah kembalinya segala Persoalan. Maha Suci Allah, yang Menguasai Keagungan dan Keindahan.
oleh Shaykh Abdalqadir As-Sufi
http://www.islamhariini.org/muslim/musAR01.htm
Dua Belas Belas Orang Pertama dan Satu Amir
Komunitas atau Jamaah Islam diawali oleh keberadaan 12 orang pria (yang bersungguh-sungguh/ memegang komitmen) yang dipimpin oleh seorang Amir.
Mereka hanya takut pada Allah dan percaya pada yang Ghaib. Mereka mendirikan Shalat dan menunaikan (Zakat) dari apa yang telah ALlah berikan pada mereka.
Kewajiban utama dan amalan mereka dalam keadaan ini adalah :
1. Mentaati Amir.
2. Mendirikan Shalat.
* Ini berarti, pada dasarnya dilakukan di salah satu kediaman mereka, tapi akan menjadi lebih baik bila memiliki tempat yang khusus untuk melaksanakan shalat (seperti mesjid, mushala atau surau).
* Mendirikan shalat baik secara terbuka (umum) maupun sendirian.
3. "Membayarkan Apa yang Telah Allah Berikan pada mereka." Ini berarti kelompok/ kumpulan dasar haruslah orang-orang yang tidak menjadi buruh gaji. Pekerjaan atau kegiatan mereka harus memungkinkan mereka untuk bergerak dan bertindak dengan bebas. Penarikan Zakat dan membagikannya kepada yang paling memerlukannya diantara mereka merupakan sesuatu yang sangat penting. Bagi para pedagang diantara mereka, Zakat harus ditarik dengan benar. Hal ini akan memperkuat unit utama. Ketika mereka bertambah kuat, mereka akan memperkuat yang lainnya, dengan Kekuatan dari Allah.
4. Dawah Secara Terbuka Menuju Allah. Ini adalah aktifitas utama Muslim. Berdasarkan pemahaman yang tepat, ini merupakan bentuk ibadah --pengabdian pada Allah. Tidak ada aktifitas terbuka lainnya yang melampaui kemuliaannya. Dawah aktif yang selalu menjadi tahap awal dalam membuka fenomena Islam. Allah ta'ala mengatakan dalam Qur'an:
"... Dan siapakah yang perkataannya lebih baik dari orang yang menyeru menuju Allah dan beramal dengan benar dan mengatakan: 'Sungguh, aku termasuk kedalam golongan mereka yang berserah diri'..."
Keempat amalan dasar tadi akan meliputi dan saling berhubungan dengan aktifitas yang lain. Komunitas yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak keseluruhan aktifitas mereka diatur dan dipersiapkan berdasarkan pada ketulusan dan ke-efektifannya.
Dari 13 Orang Kita Beranjak Menuju 26 Orang
Dua puluh lima pria ditambah seorang Amir.
"...Bila ada duapuluh orang yang bersabar mereka dapat mengalahkan dua ratus orang ..."
Pada tahap ini dan selanjutnya, sebaiknya, mengambil atau memilih tempat kumpulan komunitas. Pembentukan para individu menjadi salah satu bagian dari tiga golongan:
1. Perdagangan —berbentuk guild (gilda, paguyuban) ataupun kemitraan
2. Pendidikan atau administrasi
3. Unit dawah
Pusat konsetrasi diarahkan pada pembentukan dan pembangunan pasar Islam. Kemudian mempertimbangkan perumahan dan tempat tinggal. Hal Ini disebabkan karena pada tahap berikutnya, saranaini menjadi bagian yang diperlukan.
Sekarang, jemaah telah mencapai jumlah 40 orang pria yang dipimpin oleh seorang Amir, sehingga keseluruhan adalah 41 orang. Diharapkan dalam jumlah tersebut terdapat, paling tidak, 25 orang wanita. Hal ini akan berperan penting, sebagaimana angka ini (40 orang) tersurat dalam fiqh untuk menyebutkan suatu jumlah orang dalam satu desa atau kabupaten.
Pertumbuhan Komunitas dari 25 Menjadi 40
Upaya berikut ini harus terus dikembangkan:
1. Mendirikan Shalat
2. Pembayaran Zakat, ini termasuk penggunaan kembali Dinar dan Dirham dalam pembayaran Zakat dan transaksi umum atau harian lainnya, seperti mahar dan alat pembayaran
3. Pengembangan paguyuban — lebih penting lagi, Waqaf
4. Mendirikan Pasar Islam/ Terbuka
Sangat dimungkinkan pada tahap awal, Amir mempercayakan pada para individu dengan kewajiban dan nama yang diberikan pada mereka. Namun bila tidak memungkinkan, maka pada saat ini Amir harus dapat mengangkat:
1. Wazir — dengan 5 tugas
2. Qadi — dengan 3 tugas
3. Muhtasib
4. Imam/ Khatib
Pada tahap ini Amir memiliki wewenang untuk mengangkat atau menunjuk seorang Imam/ Khatib yang secara khusus mengajarkan dan mendidik penduduk dalam akidah dan ibadah dan untuk memimpin shalat berjamaah. Pada tahap ini mendirikan shalat Jum'at menjadi kewajiban meskipun sebelumnya telah berjalan sesuai keperluan, seperti untuk menyemangati dan menjadi inspirasi bagi muslimin.
Sangat jelas dalam fiqh empat Madzhab, bahwa paling tidak jumlah 40 orang diperlukan untuk mendirikan Shalat Jum'at yang sah, bagaimanapun, tanpa keberadaan seorang Amir hal ini tidak mungkin terlaksana.
Sekarang Kita Tiba Pada Jumlah Komunitas 100 Orang
"...Dan bila terdapat seratus orang diantara kalian, mereka dapat mengalahkan seribu orang dari golongan kafir..."
(al-Anfal ayat 65)
Dalam tahap ini tiga hal utama yang diperlukan adalah:
1. Memperkuat barisan di Mesjid dan di pasar, bila diperlukan lakukan pengembangan.
2. Perlindungan/ pembangunan berbasis-pertanahan baik di kota ataupun di pedalaman, tapi lebih diharapkan lagi pada daerah pedalaman. Hal ini akan berkaitan dengan penentuan hilal dan implementasi Syariat sesuai dengan kondisi yang memungkinkan.
3. Mengenalkan kembali karavan (kafilah dagang).
Dari langkah-langkah tersebut langkah selanjutnya yang diharapkan akan terwujud adalah:
1. Peredaran alat tukar yang adil
2. Bengkel, gudang, dan akomodasi untuk Guilds/ paguyuban dan para musafir.
3. Fasilitas pendidikan untuk komunitas.
4. Rumah sakit/ klinik medis/ tabib.
5. Sentral Media/ komunikasi.
6. Pemakaman
Tahap selanjutnya diserahkan pada pertumbuhan komunitas melalui izin Allah. Jalan demi jalan, desa demi desa, negeri demi negeri, dan pada akhirnya Dar al-Islam .
Diawali dengan dawah —Da'watul Haq. Kemudian melalui pernikahan, pengajaran, pendidikan dan perdagangan. Segalanya yang telah ditakdirkan oleh Allah.
Apa yang dapat mempersatukan komunitas dan menjadikan upaya mereka berhasil adalah ketulusan, kepercayaan dan komitmen. Bersamaan, dengan program lahir, tiap individu harus memiliki program batin, masing-masing, dimana mereka menyeru pada Rabb mereka.
Apa yang telah disampaikan sejauh ini hanyalah sebuah blueprint —rencana dasar untuk diamalkan. Sangat diperlukan pemahaman kita bahwa semua ini bukan bergantung dan didasari oleh jumlah angka, setepat yang telah saya sebutkan. Telah disebutkan bahwa apa yang Allah ta'ala firmankan dalam Kitab-Nya mengenai beberapa jumlah angka-angka. Dikatakan bahwa, dimanapun ada jama'ah yang terdiri dari 100 orang (yang bersungguh-sungguh), maka akan muncul seorang wali (sahabat) Allah diantara mereka. Pekerjaan ini bukan berdasarkan perhitungan. Tetapi berdasarkan pada niat kemudian amalan yang tulus. Keberhasilan adalah milik Allah.Tulisan ini telah diselesaikan sebagai panduan bagi siapapun, yang mencari keridhoan Allah, ingin bertindak tetapi belum jelas akan jalan mana yang harus ditempuh.
Tulisan ini dapat ditinggalkan bagi seorang yang mencari-cari kesalahan dan kekurangan atau dapat diamalkan bagi mu'min yang mencari Wajah Allah:
"Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah Allah."
Catatan Kaki:
Sebagai seorang yang mengikuti amalan menurut 'Amal ahl al-Madinah, kami meyakinkan bahwa apa yang telah disampaikan sebelumnya adalah sesuai dengan yang dicontohkan dalam 'Amal ahl al-Madinal —tercatat dalam kitab al-Muwatta dari Imam Malik sebagai sumber pedomannya.
Meskipun kami berpegang teguh terhadap apa yang telah disimpulkan oleh Imam Malik, radiyallahu anhu, dalam kitab al-Muwatta dalam membangun kembali komunitas Islam, kami tidak berlaku angkuh atau mendogma bahwa al-Muwatta merupakan kewajiban bagi seluruh Muslim. Bahkan, yang kami paparkan dapat diwujudkan oleh salah satu dari keempat madzab yang dilengkapi dengan fiqih yang dicapai melalui seorang faqih yang mendapat pencerahan dan bukan dari sudut pandang non-struktural.
Pada akhirnya, mungkin akan tampak bagi Muslim terpelajar moderen, bahwa kita meremehkan pentingnya Shalat al-Jumu'ah dan penegakannya. Sebaliknya, sangat jelas dalam fiqih Islam dimana tingkat kepentingan dan prioritasnya terletak dalam penegakkan Deen .
Bahkan, saat ini, pilar Zakat —pengumpulan, penarikan dan distribusinya— justru sangat dianggap remeh tingkat kepentingannya. Pilar Zakat adalah darah dari jantung komunitas Islam. Dengan kata lain, Shalat mewakili bagian batin dari jamaah. Persatuan mereka terletak dalam keyakinan dan pengabdian. Shalat adalah Keindahan.
Zakat mewakili sisi lahir dari komunitas Muslim. Dalam Zakat terletak persatuan dari tindakan dan amal. Zakat adalah Keagungan.
Kemenangan datang dari Allah. Pada Allah kembalinya segala Persoalan. Maha Suci Allah, yang Menguasai Keagungan dan Keindahan.
oleh Shaykh Abdalqadir As-Sufi
http://www.islamhariini.org/muslim/musAR01.htm
Menikah Di Usia Muda
Assalamu'alaikum,
perkenalkan ane fajar umur 21(pada bulam Mei), saya punya permasalahan yang saat ini sulit untuk mencari jalan keluar.
Ketika SMA saya pernah berpacaran selama kurang lebih satu tahun,namun menginjak kuliah Allah telah memberi petunjuk dan hidayahNya sehingga saya tidak lagi berpacaran dan fokus pada dakwah kampus.Namun masa lalu yang teramat begitu sulit untuk dilupakan membuat saya tidak fokus dalam dakwah ini, niat saya sering melenceng mulai dari ingin diperhatikan akhwat sampai sering memperhatikan akhwat. Ane benar-benar tertekan dengan keadaan ini dan takut amalan ane tidak diterima oleh Allah karena niat yang salah.
Apakah solusi yang terbaik yang bisa saya lakukan?Apakah dengan menikah bisa menghilangkan memori masa lalu dan fokus pada dakwah?
Mohon jawabannya.Terima kasih sebelumnya
wassalamu'alaikum wr wb
Terbit
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu
Sdr. Fajar yang dirahmati Allah swt.,
Anda punya masa lalu dan saat ini sedang mencoba meninggalkan apa yang salah dari masa lalu itu, inilah proses hidayah yang mahal harganya. Bersyukurlah anda dipilih untuk dapat meni’mati hidayah dan furqan untuk menjalani jalan hidup ke depan lebih terang. Saya dapat memahami bahwa suatu proses kejiwaan menuju hidayah butuh perjuangan bahkan kadang mungkin menimbulkan pergolakan batin. Semua ini sebagai bentuk proses apakah seseorang dapat istiqomah atau tidak setelah mendapatkan pintu hidayah. Seperti yang anda alami, dalam niatan yang semula lurus untuk berda’wah, tiba-tiba datang bisikan-bisikan dalam hati ...yakni yang selalu yuwas -wisu fi shudurinnas....tapi inilah gejolak darah muda, darahnya para pemuda yang dominan ujian yang datang berupa hubungan interpersonal, termasuk hubungan dengan lawan jenis.
Sdr. Fajar yang dirahmati Allah swt.,
Anda berusia 21 tahun sekarang, ini adalah masa-masa peralihan memang menuju ke kematangan berpikir, berperasaan dan bertindak. Kecenderungan pada lawan jenis menjadi hal yang fitrah adanya, ini adalah instink yang diberikan oleh Allah swt. bagi makhluk hidup untuk mempertahankan speciesnya. Jadi perasaan ini manusiawi, karena dipicu pula oleh hormon-hormon yang disertakan ketika proses reproduksi sudah siap dan matang. Selain hormon, sistem syarafpun bekerja, antara lain memicu ranah emosi, menimbulkan suatu sensasi jiwa seperti yang anda alami. Namun sistem itupun mempunyai mekanisme kendalinya sendiri dengan manajemen spiritual yang telah dianugerahkan pada manusia. Dalam bahasa agama, unsur ruhiyah harus senantiasa dibersihkan (tazkiyah) dengan upaya-upaya seperti dzikr, puasa, sholat, jauhkan dari rangsang-rangsang yang menstimulasi nafsu dan hasrat seksual.
Sdr. Fajar yang dirahmati Allah swt.,
Pengalaman masa lalu akan tersimpan dalam memori, ini alamiah. Terutama hal-hal yang berkesan sangat mendalam akan kuat pula tersimpan dalam memori, sedang hal-hal yang dianggap sepele dan tidak berkesan akan lewat begitu saja.
Untuk menghilangkan memori sama sekali memang tidak mudah tapi Anda dapat mengikhtiarkan dengan cara menerimanya dalam kesadaran kemudian dilepaskan secara sadar pula. Lakukan sebagaimana Anda melepas pergi sahabat Anda pulang, daripada sekedar menyesali maka ikhlaskan, ucapkan terimaksih untuk pelajaran berharga yang telah mengantarkan Anda pada hidayah dan istighfarlah atas kesalahan yang telah terlanjur terjadi, perbaiki di masa yang akan datang; demikianlah pengalaman-pengalaman hidup akan datang dan pergi dari kehidupan seseorang. Menikah bukan sekedar untuk menghilangkan memori, karena mungkin Anda akan kecewa; memori dapat dialihkan sementara tapi yang penting adalah penerimaan kita. Menikah, untuk kasus tertentu dapat membuat seseorang lebih fokus dalam hidup dan menjadi cara terhindar dari zina, namun tentu Anda sendiri harus sudah punya kemampuan yang cukup agar keluarga yang terbentuk tidak gampah goyah. Sekian Saudaraku, mintalah selalu petunjuk-Nya, semoga Anda dapat melampaui masa ini dengan baik..amin
Wallahu a’lam bisshawab,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu
Siti Urbayatun, S.Psi, M.si.
www.eramuslim.com
perkenalkan ane fajar umur 21(pada bulam Mei), saya punya permasalahan yang saat ini sulit untuk mencari jalan keluar.
Ketika SMA saya pernah berpacaran selama kurang lebih satu tahun,namun menginjak kuliah Allah telah memberi petunjuk dan hidayahNya sehingga saya tidak lagi berpacaran dan fokus pada dakwah kampus.Namun masa lalu yang teramat begitu sulit untuk dilupakan membuat saya tidak fokus dalam dakwah ini, niat saya sering melenceng mulai dari ingin diperhatikan akhwat sampai sering memperhatikan akhwat. Ane benar-benar tertekan dengan keadaan ini dan takut amalan ane tidak diterima oleh Allah karena niat yang salah.
Apakah solusi yang terbaik yang bisa saya lakukan?Apakah dengan menikah bisa menghilangkan memori masa lalu dan fokus pada dakwah?
Mohon jawabannya.Terima kasih sebelumnya
wassalamu'alaikum wr wb
Terbit
Jawaban
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu
Sdr. Fajar yang dirahmati Allah swt.,
Anda punya masa lalu dan saat ini sedang mencoba meninggalkan apa yang salah dari masa lalu itu, inilah proses hidayah yang mahal harganya. Bersyukurlah anda dipilih untuk dapat meni’mati hidayah dan furqan untuk menjalani jalan hidup ke depan lebih terang. Saya dapat memahami bahwa suatu proses kejiwaan menuju hidayah butuh perjuangan bahkan kadang mungkin menimbulkan pergolakan batin. Semua ini sebagai bentuk proses apakah seseorang dapat istiqomah atau tidak setelah mendapatkan pintu hidayah. Seperti yang anda alami, dalam niatan yang semula lurus untuk berda’wah, tiba-tiba datang bisikan-bisikan dalam hati ...yakni yang selalu yuwas -wisu fi shudurinnas....tapi inilah gejolak darah muda, darahnya para pemuda yang dominan ujian yang datang berupa hubungan interpersonal, termasuk hubungan dengan lawan jenis.
Sdr. Fajar yang dirahmati Allah swt.,
Anda berusia 21 tahun sekarang, ini adalah masa-masa peralihan memang menuju ke kematangan berpikir, berperasaan dan bertindak. Kecenderungan pada lawan jenis menjadi hal yang fitrah adanya, ini adalah instink yang diberikan oleh Allah swt. bagi makhluk hidup untuk mempertahankan speciesnya. Jadi perasaan ini manusiawi, karena dipicu pula oleh hormon-hormon yang disertakan ketika proses reproduksi sudah siap dan matang. Selain hormon, sistem syarafpun bekerja, antara lain memicu ranah emosi, menimbulkan suatu sensasi jiwa seperti yang anda alami. Namun sistem itupun mempunyai mekanisme kendalinya sendiri dengan manajemen spiritual yang telah dianugerahkan pada manusia. Dalam bahasa agama, unsur ruhiyah harus senantiasa dibersihkan (tazkiyah) dengan upaya-upaya seperti dzikr, puasa, sholat, jauhkan dari rangsang-rangsang yang menstimulasi nafsu dan hasrat seksual.
Sdr. Fajar yang dirahmati Allah swt.,
Pengalaman masa lalu akan tersimpan dalam memori, ini alamiah. Terutama hal-hal yang berkesan sangat mendalam akan kuat pula tersimpan dalam memori, sedang hal-hal yang dianggap sepele dan tidak berkesan akan lewat begitu saja.
Untuk menghilangkan memori sama sekali memang tidak mudah tapi Anda dapat mengikhtiarkan dengan cara menerimanya dalam kesadaran kemudian dilepaskan secara sadar pula. Lakukan sebagaimana Anda melepas pergi sahabat Anda pulang, daripada sekedar menyesali maka ikhlaskan, ucapkan terimaksih untuk pelajaran berharga yang telah mengantarkan Anda pada hidayah dan istighfarlah atas kesalahan yang telah terlanjur terjadi, perbaiki di masa yang akan datang; demikianlah pengalaman-pengalaman hidup akan datang dan pergi dari kehidupan seseorang. Menikah bukan sekedar untuk menghilangkan memori, karena mungkin Anda akan kecewa; memori dapat dialihkan sementara tapi yang penting adalah penerimaan kita. Menikah, untuk kasus tertentu dapat membuat seseorang lebih fokus dalam hidup dan menjadi cara terhindar dari zina, namun tentu Anda sendiri harus sudah punya kemampuan yang cukup agar keluarga yang terbentuk tidak gampah goyah. Sekian Saudaraku, mintalah selalu petunjuk-Nya, semoga Anda dapat melampaui masa ini dengan baik..amin
Wallahu a’lam bisshawab,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu
Siti Urbayatun, S.Psi, M.si.
www.eramuslim.com
Sikap optimistik

Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Tuhan. Sikap demikian hanya patut bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan (Q.S. 12:87). Orang mukmin berkeharusan untuk memiliki sikap dan pandangan yang optimistik, khususnya tentang masa depan dirinya di akhirat kelak. Dalam terminologi sufistik, ajaran tentang sikap dan pandangan yang optimistik ini disebut 'raja' (sikap penuh harap).
'Raja', menurut Abu al-Qasim al-Ashfahani, berarti kuatnya harapan seseorang akan tergapainya sesuatu yang didambakan. Bagi kaum sufi, dambaan itu bisa berupa ampunan Tuhan (maghfirah) dan perkenan-Nya (mardhatillah). Kuatnya harapan ini membuat kaum sufi semakin intens dalam beribadah, dan seakan tak mengenal lelah dalam melakukan riyadhah dan mujahadah demi tercapainya cita-cita (mathlub).
Sikap optimisme, seperti dikemukakan di atas, tentu tidak datang dengan sendirinya. Kemunculannya, harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan volume ibadahnya kepada Tuhan. Pada saat inilah, sikap optimisme itu tumbuh dan berkembang.
Untuk itu, optimisme yang disebut raja' bukanlah impian dan angan-angan belaka. Penulis kitab al-Hikam Ibnu 'Athaillah al-Sakandari mengemukakan, 'raja' adalah suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata. Jika tidak, ia bukanlah raja', tetapi angan-angan kosong (amniyyah) yang justru dikecam oleh agama. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Makruf al-Karkhi, pakar tasawur lainnya. Baginya, keinginan masuk surga tanpa bekerja tergolong dosa besar. ''Harapanmu untuk mendapat rahmat dari Tuhan yang kepada-Nya kamu sendiri tidak tunduk dan patuh adalah tindakan bodoh dan konyol,'' jelasnya.
Nabi Muhammad SAW sendiri mengecam orang-orang yang karena terbuai oleh harapan, mereka lantas malas bekerja dan beramal saleh. ''Orang yang kuat lagi cerdas,'' sabda Nabi, ''adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan bekerja untuk hari akhirat. Sedang orang yang lemah lagi konyol adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh berbagai harapan dan angan-angan kepada Tuhan.''
Agar terhindar dari kekonyolan ini, kaum sufi dan orang-orang bijak sering mengingatkan kita dengan firman Allah ini: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya (Q.S. 18:110).
Jadi, optimisme yang dikehendaki dan yang diajarkan kaum sufi adalah optimisme yang dibangun di atas landasan syar'iy yang sangat kuat, yaitu iman dan amal saleh. Pandangan demikian, tidak saja dapat memacu produktivitas kerja, tetapi juga memberikan suasana dan iklim yang sangat kondusif bagi kemajuan seseorang, baik dalam bidang fisik material maupun mental spiritual. - ah
http://www.republika.co.id/berita/26575/Sikap_optimistik
Menghilangkan Malas dan Tetap Istiqomah dalam Islam
Assalaamu'alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah semoga semua Muslim selalu berada dalam lindunganNya. Saya seorang mahasiswi yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus. Sebagai pengemban dakwah, semestinya saya harus memiliki semangat yang tinggi untuk mempelajari Islam dan menyebarkannya. Hanya saja terkadang saya masih sering dihinggapi rasa malas, apalagi jika sudah mulai ada berbagai hambatan. Saya sudah tahu dan sadar bahwa malas itu tidak baik. Tapi entah kenapa rasa malas itu terus ada. Bagaimana menghilangkannya. Bagaimana juga caranya agar tetap dapat istiqomah dalam ber Islam. Atas segala perhatian dan jawabannya saya ucapkan terima kasih.
Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.
Yana
Bandung
Wa’alaikumussalam Wr.Wb.
Yana yang baik,
Hidup ini penuh perjuangan dan pengorbanan, demikian kata banyak orang. Apa lagi kalau kita ingin hidup dengan cara-cara yang sudah ditentukan oleh syariat Islam. Hidup dengan tata cara Islam ada dua hal yang bisa kita raih, pertama tentu saja kebaikan di dunia, dan kedua di akhirat. Untuk mendapatkan keduanya itu banyak hal yang harus diusahakan, termasuk diantaranya adalah melawan rasa malas. Dengan kemalasan, Yana tidak akan bisa berbuat banyak. Padahal agar bisa menjadi seorang muslimah yang baik, Yana harus banyak mempelajari Islam, beraktivitas untuk kemajuan Islam dan sebagainya. Itu semua tidak akan didapat kalau tidak ada keinginan kuat untuk belajar dan beraktivitas. Rasulullah SAW menasehati kita untuk memanfaatkan 5 peluang sebelum datang lima kesempitan.
"Gunakan masa mudamu sebelum masa tuamu, masa luangmu sebelum datang masa sempitmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu dan masa hidupmu sebelum matimu"(HR. Ahmad, An Nasa'i dan Al Baihaqiy).
Yana yang baik,
Kalau kita simak baik-baik hadits tersebut, jelas seorang muslim tidak boleh bermalas-malasan. Setiap saat harus menggunakan waktu dan kesempatan yang dimilikinya untuk berbuat, meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang muslim. Rasulullah menuntunkan agar hari ke hari hidup kita semakin baik. Bila hari ini kualitasnya sama saja dengan kemarin dikatakan merugi. Apalagi bila lebih buruk.
"Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin, ia beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, ia merugi. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia celaka"
Mau menjadi orang celaka atau merugi? Tentu tidak, kan? Kesadaran yang muncul pada Yana bahwa kemalasan itu tidak baik merupakan modal yang berharga. Kesadaran telah muncul tinggal sekarang bagaimana merealisasikan kesadaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya tidak akan pernah didapat sebuah kesuksesan dengan kemalasan tanpa kerja keras.
Yana yang baik,
Beristiqomah di dalam Islam berarti menjalankan seluruh aturan-aturan sesuai dengan ajaran Islam. Beristiqomah dalam aqidah misalnya tidak melakukan syirik (menyekutukan Allah). Dalam persoalan ibadah, senantiasa melakukan ibadah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Beristiqomah dalam berakhlaq berarti harus berpedoman kepada nilai-nilai akhlaq yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNya. Begitu pula beristiqomah dalam bermuamalah. Bidang mu'amalah, terutama yang menyangkut materi (benda) amat mudah menarik kita untuk tidak berpegang pada apa yang sudah ditentukan oleh Allah dan Rasul. Misalnya larangan makan harta dengan jalan tidak sah menurut syari'ah, sering kita langgar dengan alasan mumpung lagi ada kesempatan. Membungakan uang dipandang ringan, padahal Al-Qur'an dan Sunnah telah memberi peringatan keras tentang masalah riba. Begitu pula untuk urusan muamalah lainnya. Orang yang beristiqomah setelah memantapkan imannya kepada Allah, Insya Allah ia akan hidup tenang di dunia karena merasa selalu dalam lindungan Allah, tidak akan merasa khawatir, susah, dan di akhirat kelak akan mendapatkan syurga yang telah dijanjikan Allah. Kemudian bagaimana agar tetap dapat beristiqomah dalam Islam, ada beberapa hal yang bisa Yana lakukan. Pertama, Tumbuhkan keyakinan bahwa orang yang tetap istiqomah akan ditempatkan di syurga. Kedua, Bergaullah (berteman) dengan orang-orang yang kuat imannya dan memegang teguh syariat Islam. Karena bukan tidak mungkin sikap istiqomah akan goyah jika bergaul dengan orang-orang yang tidak baik. Ketiga, Teruslah mempelajari Islam baik lewat membaca, pengajian atau kegiatan lainnya. Keempat, Isilah hari-hari Yana dengan aktif pada kegiatan-kegiatan (organisasi) keIslaman. Insya Allah dengan kehidupan yang seperti itu, Yana akan lebih mudah untuk tetap beristiqomah dalam Islam. Insya Allah...
Diasuh oleh:
Dra (Psi) Zulia Ilmawati|
http://www.mediaumat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=345&Itemid=2
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah semoga semua Muslim selalu berada dalam lindunganNya. Saya seorang mahasiswi yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus. Sebagai pengemban dakwah, semestinya saya harus memiliki semangat yang tinggi untuk mempelajari Islam dan menyebarkannya. Hanya saja terkadang saya masih sering dihinggapi rasa malas, apalagi jika sudah mulai ada berbagai hambatan. Saya sudah tahu dan sadar bahwa malas itu tidak baik. Tapi entah kenapa rasa malas itu terus ada. Bagaimana menghilangkannya. Bagaimana juga caranya agar tetap dapat istiqomah dalam ber Islam. Atas segala perhatian dan jawabannya saya ucapkan terima kasih.
Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.
Yana
Bandung
Wa’alaikumussalam Wr.Wb.
Yana yang baik,
Hidup ini penuh perjuangan dan pengorbanan, demikian kata banyak orang. Apa lagi kalau kita ingin hidup dengan cara-cara yang sudah ditentukan oleh syariat Islam. Hidup dengan tata cara Islam ada dua hal yang bisa kita raih, pertama tentu saja kebaikan di dunia, dan kedua di akhirat. Untuk mendapatkan keduanya itu banyak hal yang harus diusahakan, termasuk diantaranya adalah melawan rasa malas. Dengan kemalasan, Yana tidak akan bisa berbuat banyak. Padahal agar bisa menjadi seorang muslimah yang baik, Yana harus banyak mempelajari Islam, beraktivitas untuk kemajuan Islam dan sebagainya. Itu semua tidak akan didapat kalau tidak ada keinginan kuat untuk belajar dan beraktivitas. Rasulullah SAW menasehati kita untuk memanfaatkan 5 peluang sebelum datang lima kesempitan.
"Gunakan masa mudamu sebelum masa tuamu, masa luangmu sebelum datang masa sempitmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu dan masa hidupmu sebelum matimu"(HR. Ahmad, An Nasa'i dan Al Baihaqiy).
Yana yang baik,
Kalau kita simak baik-baik hadits tersebut, jelas seorang muslim tidak boleh bermalas-malasan. Setiap saat harus menggunakan waktu dan kesempatan yang dimilikinya untuk berbuat, meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang muslim. Rasulullah menuntunkan agar hari ke hari hidup kita semakin baik. Bila hari ini kualitasnya sama saja dengan kemarin dikatakan merugi. Apalagi bila lebih buruk.
"Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin, ia beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, ia merugi. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia celaka"
Mau menjadi orang celaka atau merugi? Tentu tidak, kan? Kesadaran yang muncul pada Yana bahwa kemalasan itu tidak baik merupakan modal yang berharga. Kesadaran telah muncul tinggal sekarang bagaimana merealisasikan kesadaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya tidak akan pernah didapat sebuah kesuksesan dengan kemalasan tanpa kerja keras.
Yana yang baik,
Beristiqomah di dalam Islam berarti menjalankan seluruh aturan-aturan sesuai dengan ajaran Islam. Beristiqomah dalam aqidah misalnya tidak melakukan syirik (menyekutukan Allah). Dalam persoalan ibadah, senantiasa melakukan ibadah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Beristiqomah dalam berakhlaq berarti harus berpedoman kepada nilai-nilai akhlaq yang telah diajarkan oleh Allah dan RasulNya. Begitu pula beristiqomah dalam bermuamalah. Bidang mu'amalah, terutama yang menyangkut materi (benda) amat mudah menarik kita untuk tidak berpegang pada apa yang sudah ditentukan oleh Allah dan Rasul. Misalnya larangan makan harta dengan jalan tidak sah menurut syari'ah, sering kita langgar dengan alasan mumpung lagi ada kesempatan. Membungakan uang dipandang ringan, padahal Al-Qur'an dan Sunnah telah memberi peringatan keras tentang masalah riba. Begitu pula untuk urusan muamalah lainnya. Orang yang beristiqomah setelah memantapkan imannya kepada Allah, Insya Allah ia akan hidup tenang di dunia karena merasa selalu dalam lindungan Allah, tidak akan merasa khawatir, susah, dan di akhirat kelak akan mendapatkan syurga yang telah dijanjikan Allah. Kemudian bagaimana agar tetap dapat beristiqomah dalam Islam, ada beberapa hal yang bisa Yana lakukan. Pertama, Tumbuhkan keyakinan bahwa orang yang tetap istiqomah akan ditempatkan di syurga. Kedua, Bergaullah (berteman) dengan orang-orang yang kuat imannya dan memegang teguh syariat Islam. Karena bukan tidak mungkin sikap istiqomah akan goyah jika bergaul dengan orang-orang yang tidak baik. Ketiga, Teruslah mempelajari Islam baik lewat membaca, pengajian atau kegiatan lainnya. Keempat, Isilah hari-hari Yana dengan aktif pada kegiatan-kegiatan (organisasi) keIslaman. Insya Allah dengan kehidupan yang seperti itu, Yana akan lebih mudah untuk tetap beristiqomah dalam Islam. Insya Allah...
Diasuh oleh:
Dra (Psi) Zulia Ilmawati|
http://www.mediaumat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=345&Itemid=2
Ilmunya Orang Bisa Naik Haji
”Yang, Kita naik haji umur 35 tahun ya”. Entah sudah ke berapa kali suami saya menyatakan keinginannya untuk berhaji usia 35 tahun. Sayapun dengan mantap selalu menjawa ”Amiin”. Tapi dalam hati juga bertanya bagaimana caranya ? sekarang usia suami 28 saya 26 artinya target tersebut harus diraih 7 tahun lagi. Sementara sekarang kita adalah pasangan muda yang baru belajar mandiri di kota besar, belum punya rumah, dan beranak satu. Sementara orang yang akan berangkat haji kreterianya salah satunya mampu dalam masalah finansial.
Hingga suatu malam kami berbelanja popok bayi pada seorang agen di surabaya. Ini untuk ke lima kalinya kami belanja dan baru kali ini sempat berbincang tentang kehidupan si agen. Kami berbisnis popok sekala kecil karena belum bisa menjadi agen mandiri. Sepintas rumahnya sederhana, pagar berkarat, rumah tanpa acecoris dan hanya berisi beberapa karung besar popok sementara di samping kanan dan kiri ada percetakan kecil. Anaknya 4, kecil-kecil kira-kira anatara 4-11 tahun. Tapi yang membuat kami heran adalah dia sudah naik haji 2 kali.
Tanpa kami minta bercerita mengalirlah obrolan bisnis popok malam itu yang bisa sampai mengantarkannya pergi haji. Dia Menikah tahun 1996. Sebelum menikah tahun 1995 ketika kuliah punya keinginan yang sangat kuat untuk naik haji, maka dia mulai dengan membuka tabungan haji Rp.50.000,00 (lima puluh ribu rupiah). Ketika menikah juga masih pisah kost, dan baru bisa kontrak rumah kecil ketika beranak satu. Berbagai pekerjan dijalanai, mulai dari jualan baju hingga memilin tasbih. Pada tahun 2000 tabungan masih Rp.2 .000.000,00,00 (dua juta) sementara ONH sudah hampir 30 juta. Maka mulailah dia menekuni bisnis baju muslim anak yang omsetnya naik pesat saat hari raya. Hingga di akhir penghujung hari raya 2004, omsetnya mencukupi untuk naik haji. Saat itulah dia langsung mendaftarkan diri dan berangkat tahun 2005.
Tiga tahun kemudian di penghujung tahun 2008 Dia berhasil berangkat lagi dengan sang istri. Awalnya dana tidak mencukupi, hingga meminjam dana talangan ke Bank syariah sebanyak 20 juta. Padahal uang tersebut direncanakan untuk pengembalian modal usaha. Namun sebelum Hari Raya Idul Fitri sejumlah omset bisnisnya bisa kembali dengan total jumlah yang sama. Subhanallah. Keberangkatan mereka juga disetai misi, mereka mencari para penunai ibadah haji yang kurang mampu. Mereka bertemu dengan penjual teh di Surabaya Utara yang sudah berjualan kurang lebih 30 tahun. Hasil jualan teh bisa membeli dua rumah di kampung dan berangkat naik haji.
Suatu hari ada pelatihan motivasi yang diikuti oleh si agen, ketika ditanya oleh pelatih ” Bagaimana caranya kamu bisa membeli sepede motor seharga 12 juta ?”. Arisan. Peserta lain yang sudah punya rumah di tanya Bagaimana caranya kamu bisa membeli rumah ?. ” Mencicil lewat KPR”. ”Sepeda motor, rumah termasuk rukun islam bukan? ”. ”Bukan”. Haji rukun Islam Bukan?”. ”ya”. Kalu begitu bisa gak dengan cara yang sama kamu naik haji ?”. Dari kisah itulah banyak teman-temannya yang semangat membuka tabungan haji.
Resepnya ketika kita mengazamkan 10% dari pendapatan kita untuk haji, maka semakin besar pendapatan semakin besar jumlah tabungan. Dan dari pengalamannnya semakin lama , pendapatan semakin banyak sehingga target haji yang 10 tahun bisa dicapai dalam lima tahun. Ada yang naik haji dengan dihajikan ada yang karena hadiah perusahaan ada yang dengan menabung . Di sinilah rahasianya ketika kita berniat sungguh-sungguh dan berusaha sungguh-sungguh maka akan selalu ada jalan keluar. Man Jadda wa Jadda (barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).
Malam itu kamipun sadar bahwa selama ini kami hanya punya niat, tapi langkah-langkah menuju haji belum ada. Jangankan buka tabungan haji, pendapat kami tidak ada penyisihan untuk berangkat haji. Tapi Allah maha penyayang, kami punya niat dan kami dipertemukan dengan orang yang punya ilmu tentang cara naik haji.
Thank You Allah.
http://eramuslim.com/oase-iman/ilmunya-orang-bisa-naik-haji.htm
Hingga suatu malam kami berbelanja popok bayi pada seorang agen di surabaya. Ini untuk ke lima kalinya kami belanja dan baru kali ini sempat berbincang tentang kehidupan si agen. Kami berbisnis popok sekala kecil karena belum bisa menjadi agen mandiri. Sepintas rumahnya sederhana, pagar berkarat, rumah tanpa acecoris dan hanya berisi beberapa karung besar popok sementara di samping kanan dan kiri ada percetakan kecil. Anaknya 4, kecil-kecil kira-kira anatara 4-11 tahun. Tapi yang membuat kami heran adalah dia sudah naik haji 2 kali.
Tanpa kami minta bercerita mengalirlah obrolan bisnis popok malam itu yang bisa sampai mengantarkannya pergi haji. Dia Menikah tahun 1996. Sebelum menikah tahun 1995 ketika kuliah punya keinginan yang sangat kuat untuk naik haji, maka dia mulai dengan membuka tabungan haji Rp.50.000,00 (lima puluh ribu rupiah). Ketika menikah juga masih pisah kost, dan baru bisa kontrak rumah kecil ketika beranak satu. Berbagai pekerjan dijalanai, mulai dari jualan baju hingga memilin tasbih. Pada tahun 2000 tabungan masih Rp.2 .000.000,00,00 (dua juta) sementara ONH sudah hampir 30 juta. Maka mulailah dia menekuni bisnis baju muslim anak yang omsetnya naik pesat saat hari raya. Hingga di akhir penghujung hari raya 2004, omsetnya mencukupi untuk naik haji. Saat itulah dia langsung mendaftarkan diri dan berangkat tahun 2005.
Tiga tahun kemudian di penghujung tahun 2008 Dia berhasil berangkat lagi dengan sang istri. Awalnya dana tidak mencukupi, hingga meminjam dana talangan ke Bank syariah sebanyak 20 juta. Padahal uang tersebut direncanakan untuk pengembalian modal usaha. Namun sebelum Hari Raya Idul Fitri sejumlah omset bisnisnya bisa kembali dengan total jumlah yang sama. Subhanallah. Keberangkatan mereka juga disetai misi, mereka mencari para penunai ibadah haji yang kurang mampu. Mereka bertemu dengan penjual teh di Surabaya Utara yang sudah berjualan kurang lebih 30 tahun. Hasil jualan teh bisa membeli dua rumah di kampung dan berangkat naik haji.
Suatu hari ada pelatihan motivasi yang diikuti oleh si agen, ketika ditanya oleh pelatih ” Bagaimana caranya kamu bisa membeli sepede motor seharga 12 juta ?”. Arisan. Peserta lain yang sudah punya rumah di tanya Bagaimana caranya kamu bisa membeli rumah ?. ” Mencicil lewat KPR”. ”Sepeda motor, rumah termasuk rukun islam bukan? ”. ”Bukan”. Haji rukun Islam Bukan?”. ”ya”. Kalu begitu bisa gak dengan cara yang sama kamu naik haji ?”. Dari kisah itulah banyak teman-temannya yang semangat membuka tabungan haji.
Resepnya ketika kita mengazamkan 10% dari pendapatan kita untuk haji, maka semakin besar pendapatan semakin besar jumlah tabungan. Dan dari pengalamannnya semakin lama , pendapatan semakin banyak sehingga target haji yang 10 tahun bisa dicapai dalam lima tahun. Ada yang naik haji dengan dihajikan ada yang karena hadiah perusahaan ada yang dengan menabung . Di sinilah rahasianya ketika kita berniat sungguh-sungguh dan berusaha sungguh-sungguh maka akan selalu ada jalan keluar. Man Jadda wa Jadda (barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).
Malam itu kamipun sadar bahwa selama ini kami hanya punya niat, tapi langkah-langkah menuju haji belum ada. Jangankan buka tabungan haji, pendapat kami tidak ada penyisihan untuk berangkat haji. Tapi Allah maha penyayang, kami punya niat dan kami dipertemukan dengan orang yang punya ilmu tentang cara naik haji.
Thank You Allah.
http://eramuslim.com/oase-iman/ilmunya-orang-bisa-naik-haji.htm
Subscribe to:
Posts (Atom)