Showing posts with label Taqwa. Show all posts
Showing posts with label Taqwa. Show all posts

Apakah Kita Sudah Bertakwa?


Segala puji bagi Allah, Dzat yang paling berhak untuk kita takuti dan tempat kita memohon ampunan. Salawat dan keselamatan semoga terus tercurah kepada teladan terbaik, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya namun senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada-Nya minimal tujuh puluh kali setiap harinya, semoga keselamatan juga terlimpah kepada para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.
Taqwa merupakan sebab keberuntungan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertaqwalah kalian kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung.” (QS. al-Baqarah: 189 lihat juga QS. Ali Imran: 130 dan 200). Ini artinya, barangsiapa yang tidak bertaqwa kepada Allah maka dia tidak menempuh jalan yang akan mengantarkan dirinya menuju keberuntungan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 88).
Hal ini -keberuntungan bagi orang yang bertaqwa- adalah sesuatu yang sangat wajar dan mudah dipahami, karena orang yang bertaqwa akan mendapatkan pertolongan dan pembelaan dari Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah senantiasa bersama dengan orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang suka berbuat ihsan/kebaikan.” (QS. an-Nahl: 128). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan senantiasa bersama dengan orang-orang yang bertaqwa.” (QS. al-Baqarah: 194). Yang dimaksud dengan kebersamaan Allah di sini adalah pertolongan dan pembelaan serta taufik dari-Nya, sebuah kebersamaan yang khusus bagi para rasul dan pengikut setia mereka (lihat Mudzakkirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyah oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, hal. 38, lihat juga Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 90)
Orang paling faqih/paham agama dalam pandangan ulama salaf adalah orang yang paling bertaqwa. Suatu ketika, Sa’ad bin Ibrahim rahimahullah ditanya mengenai siapakah orang yang paling faqih di antara penduduk Madinah? Maka beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertaqwa di antara mereka.” Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayim dalam Miftah Dar as-Sa’adah (lihat Ta’liqat Risalah Lathifah oleh Abul Harits at-Ta’muri, hal. 44). Lalu apakah pengertian taqwa? Thalq bin Habib rahimahullah mengatakan, “Taqwa adalah kamu mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan bimbingan cahaya dari Allah disertai rasa takut akan siksaan dari Allah.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/222])
Namun, mewujudkan ketaqwaan tak semudah mengucapkannya. Karena ia membutuhkan ketekunan dan kesabaran serta ketelitian dalam mengoreksi diri dan berjuang untuk memperbaikinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Tidaklah seseorang itu bisa menjadi orang yang bertaqwa sampai dia menjadi orang yang sangat perhitungan terhadap dirinya sendiri melebihi ketelitian seorang pengusaha terhadap rekan usahanya, dan juga sampai dia bisa mengetahui darimanakah pakaiannya (halal atau haram), tempat makan dan minumnya.” (lihatMa’alim fi Thariq Thalab al-’Ilm, oleh Syaikh Abdul Aziz as-Sad-han hafizhahullah, hal. 117).
Oleh sebab itu juga, tidak semestinya seorang larut dengan pujian yang dialamatkan orang lain kepada dirinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Orang yang berakal adalah yang mengenali jati dirinya sendiri dan tidak tertipu oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti seluk-beluk -kekurangan- dirinya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalab al-’Ilm, hal. 118). Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhutatkala mendengar orang-orang memuji-muji dirinya. Beliau justru berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri, dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka, maka ya Allah jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangka, dan jangan Engkau hukum aku gara-gara ucapan mereka, dan dengan rahmat-Mu maka ampunilah keburukan yang tidak mereka ketahui -pada diriku-.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalab al-’Ilm, hal. 119).
Salah satu cara untuk mengoreksi diri adalah dengan mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang menimpa orang lain, yaitu dengan mencari tahu sebab-sebab yang mengantarkan mereka terjatuh ke dalam kesalahan tersebut (lihat Ma’alim fi Thariq Thalab al-’Ilm, hal. 120). Sehingga, orang yang berbahagia adalah yang bisa memetik pelajaran dari kejadian yang menimpa orang lain, bukan justru dia sendiri yang menjadi bahan pelajaran bagi orang-orang di sekelilingnya akibat kekeliruan yang dilakukannya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah yang bisa memetik nasehat dari kejadian yang menimpa orang lain.” (al-Fawa’id, hal. 140)
Salah seorang pembesar tabi’in serta tokoh ahli ibadah bernama Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir rahimahullahberdoa kepada Allah, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar jangan sampai ada orang lain yang lebih berbahagia dengan ilmu yang Kau ajarkan kepadaku daripada diriku sendiri, dan aku berlindung kepada-Mu agar jangan sampai aku menjadi bahan pelajaran bagi orang selain diriku.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengomentari doa ini, “Ini adalah termasuk doa yang paling bagus.” (lihat Tsamrat al-’Ilmi al-’Amalu oleh Syaikh Prof. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahullah, hal. 20)
Dari sini, kita bisa mengetahui betapa besar peran muhasabah/introspeksi diri dalam mewujudkan ketaqwaan di dalam diri kita. Tidak mengherankan jika Allah ta’ala menyebutkan kedua perkara ini secara beriringan untuk mengingatkan kita tentang keterkaitan yang erat antara keduanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang sudah dia persiapkan untuk menyambut hari esok (hari kiamat). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap segala amalan yang kalian kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18)
Sementara, kita semua tahu bahwasanya pada hari kiamat kelak banyaknya harta dan keturunan tidak akan memberikan manfaat sama sekali, kecuali bagi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat dari gelapnya syubhat dan kotornya syahwat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada  hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara’: 88-89). Maka ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan yang berakar dari dalam lubuk hati, bukan sekedar ucapan yang indah dan penampilan yang mengagumkan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan dari dalam hati bukan semata-mata ketaqwaan dengan anggota badan.” (al-Fawa’id, hal. 136). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan perintah-perintah Allah, sesungguhnya hal itu lahir dari ketaqwaan di dalam hati.” (QS. al-Hajj: 32). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya),“Tidak akan sampai kepada Allah daging maupun darahnya (kurban), akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan dari kalian.” (QS. al-Hajj: 37).
Pertanyaan paling mendasar bagi kita sekarang adalah, “Apakah kita masih memiliki hati?”. Ibnul Qayyimrahimahullah berkata, “Carilah hatimu pada tiga tempat; ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an, pada saat berada di majelis-majelis dzikir/ilmu, dan saat-saat bersendirian. Apabila kamu tidak berhasil menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati -yang hidup- lagi.” (al-Fawa’id, hal. 143). Allahul musta’aan…

BEBERAPA JURUSAN TAQWA


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan memerankan Islam.
Kata taqwa sebagaimana secara umum diartikan dengan “menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi dari segala yang dilarangNya". Juga berarti memelihara diri dari segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi. Dalam kaidah ilmu tafsir ia adalah termasuk lafadz musytarok fihi. Artinya suku kata yang memiliki banyak jurusan pengertian, sesuai dengan kedudukan atau konteksnya dalam suatu ayat atau kalimat.
Dalam al Quran banyak dijumpai suku kata ini, dan kita dapat mengambil dua contohnya yang dapat menggambarkan secara lebih rinci maksud dari taqwa tersebut. Pertama dalam Surah an Nur ayat 52,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (٥٢)
Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.
Arti dari يَخْشَ adalah takut terhadap sesuatu yang pantas untuk ditakuti dan sedikit berbeda bobotnya dengan kata خَافُوا (takut atau khawatir) yang bobotnya lebih ringan dari kata yahsya. Maka maksud dari taqwa pada ayat di atas adalah bukti atau manifestasi dari rasa takut kepada Allah.
Kedua, dalam surah Ali Imran ayat 131,
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (١٣١)
Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.
Dari dua ayat ini dapatlah diambil suatu makna bahwa taqwa dimaksudkan antara lain sikap waspada; hati-hati; memelihara diri; sadar diri; atau sadar hukum. Untuk mendapat gambaran yang mudah dari sikap berhati-hati ini, kita dapat mengambil suatu contoh aktivitas rutin yang dilakukan sebagian manusia, yaitu berhati-hati dalam mengemudikan kendaraannya.
Sebelum melakukan suatu perjalanan, seorang driver yang baik tentu mempersiapkan segala hal menyangkut diri dan kendaraannya. Dalam perjalanannya ia akan selalu bersikap waspada dan mentaati rambu-rambu jalan. Dengan demikian tentu kemungkinan besar ia dan penumpangnya insyaAllah akan selamat di tujuan.
Demikianlah seharusnya sikap setiap pengendara, sehingga dengan sikapnya yang benar ini bukan saja memelihara diri dan penumpangnya, namun termasuk sesama pengguna jalan lainnya. Manusia tentu berhak membuat aturan dan sangsi hukum terhadap segala sesuatu yang merupakan ciptaannya seperti kendaraan tadi, karena hal ini termasuk permasalahan dunia yang dibenarkan dalam ajaran Islam. Namun sebaliknya terhadap sesuatu yang bukan ciptaan manusia tapi ciptaan Allah maka tentu manusia tidak berhak membuat aturan hukum dan sangsinya.
Manusia adalah salah satu makhluq ciptaan Allah, maka Dia telah menetapkan semua aturan untuk kemaslahatannya. Aturan ini pun telah final dan disempurnakanNya dan dinamakanNya Dinul Islam. Dalam Islam yang sumbernya hanya dua yaitu Al Quran dan al Hadits, terdapat perintah, larangan, dan petunjuk hidup. Semua itu adalah “rambu-rambu” yang wajib ditaati oleh setiap hamba Allah yang berusaha mendapat predikat taqwa dariNya. Jika manusia membangkang tentu akan mendapat sangsi dariNya, baik di dunia, terlebih di akhirat kelak akibat kedholiman manusia sendiri yang tidak mau menempatkan dirinya secara benar selaku makhluq.
Salah satu contoh aplikatif dari seorang hamba yang menepati kaidah taqwa adalah bagaimana dirinya berinteraksi secara benar terhadap sesama manusia, khususnya terhadap saudara muslimnya. Dalam Surah Al Hujurat ayat 11 – 12, Allah memberikan batasan-batasan yang mesti jauhi oleh hambaNya berusaha menepati ketaqwaan kepadaNya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (١١)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah fasiq sesudah iman, dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Setidaknya ada tujuh larangan dalam ayat di atas, yaitu larangan merendahkan bagi lelaki dan perempuan, menghinakan diri, memberi gelar buruk, fasiq, prasangka, tajasus, dan ghibah (menggosip).
1. Saling Merendahkan
Ada beberapa faktor alasan bagi seseorang yang suka merendahkan saudara muslimnya, yaitu merasa lebih mulia karena perbedaan ras suku bangsa, ilmu, harta, bendera kelompok atau organisasi. Sikap rasialisme merupakan ciri khas ummat Yahudi yang merasa Bani Israil paling mulia sehingga berhak menindas semua bangsa lain. Namun Allah mematahkan faham sesat mereka ini :
قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٦)وَلا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (٧)قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٨)
Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa Sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, Maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar". Dan mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. dan Allah Maha mengetahui akan orang-orang yang zalim.
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Qs. Al Jumuah : 6-8)
Maka wajar jika ummat yahudi selalu menjadi pelopor kerusakan di muka bumi hingga saat ini.
Faktor selanjutnya adalah masalah ilmu dan harta. Lazim kita saksikan bagaimana sikap manusia terhadap orang – orang yang tidak mengenyam bangku sekolah dan tidak bergelar, mereka akan dipandang rendah derajatnya. Meskipun terkadang mereka yang dipandang tidak intelek ini, justru memiliki keahlian lebih dan kemuliaan akhlaq. Sehingga wajar dunia pendidikan kita banyak jadi ajang untuk mengejar status sosial dan jabatan semata, bukan untuk membangun ummat. Banyak kaum intelektual - apalagi alumni perguruan luar negeri yang sekular telah tercuci otaknya sehingga senang menjadi antek-anteknya asing (kafir) dengan menjual aset negerinya dan tega menindas saudara sebangsanya sendiri.
Begitupun masalah harta yang juga dijadikan ukuran kemuliaan sehingga kebanyakan manusia lebih senang bergaul, mendengar dan taat kepada si kaya dibanding si miskin yang membawa kebenaran. Harta menjadi jalan dan tujuan untuk merengkuh jabatan dan memenuhi ambisi nafsu buruknya.
Perbedaan yang bukan prinsip (aqidah) dari beberapa kelompok pejuang – pejuang  Islam, serta perbedaan kelompok pengkajian terkadang juga menjadi alasan untuk saling merendahkan. Sikapashobiyah atau kebanggaan kelompok dapat membawa kepada sifat dan sikap takabur, merasa paling benar dan hebat. Mereka yang terjangkit penyakit taashub ini mudah sekali menghakimi saudara sendiri, sedang pribadi – pribadi kita sendiri belum tentu siap dan mau diadili dengan hukum Allah.
2. Menghinakan diri
وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ   (dan janganlah menghinakan dirimu)
Allah telah menetapkan mukmin bersaudara, maka menghinakan saudara muslim berarti menghinakan diri sendiri. Selain itu kedudukan mukmin adalah mulia di sisi Allah, seperti tercantum dalam Surah Ali Imran 139,“ kamu adalah paling mulia jika kamu beriman ”. Oleh karena itu kita dilarang menghinakan diri di hadapan kaum kafir.
Bentuk menghinakan diri ini antara lain tidak percaya diri atau minder terhadap jati diri selaku muslim dengan menggunakan aturan hidup dari Allah dan rasulNya, tapi bangga berkiblat kepada sistem hidup kafirin. Sedangkan Islam adalah Dinul Hayah, di dalamnya meliput seluruh sendi peri kehidupan manusia. Dalam Dinul Islam antara lain mencakup sistem peribadahan, kepemimpinan, pendidikan, hukum, ekonomi, dan sebagainya. Tujuan penerapan aturan Islam adalah untuk kemaslahatan hamba Allah di dunia dan akhirat sedangkan Allah tidak mengambil manfaat apapun dari hambaNya. Berbeda dengan sistem hidup buatan manusia yang berorientasi untuk duniawiyah saja, itupun mengandung banyak kemudharatan didalamnya.
3. Memberi panggilan yang buruk
Dalam keseharian mungkin kita pernah bercanda dengan sesama, namun secara tak sadar memanggil teman kita dengan sebutan yang jelek. Atau dapat pula karena dalam kondisi emosional terkadang manusia memaki-maki seseorang dengan nama-nama hewan. Hal ini dalam hadits rasulullah dilarang dilakukan. Dikhawatirkan justru perangai buruk hewan tersebut kembali kepada orang yang memaki tersebut.
Gelar atau panggilan dapat kita sandangkan kepada saudara kita selama yang bersangkutan tidak merasa berkeberatan atau justru merasa senang dengan panggilan tersebut. Seperti gelar yang diberikan Rasulullah kepada sahabatnya Abu Hurairah yang arti lughowinya “bapak dari kucing”. Hal ini karena Abu Hurairah suka membawa kucing piaraannya.
Terkadang suatu kata yang aslinya bermakna sangat baik, dapat dikonotasikan negatif menurut cara pandang seseorang karena faktor kebenciannya terhadap orang lain atau kelompok lain. Akibatnya dapat memunculkan perselisihan dalam ummat Islam. Misalnya seseorang yang berada dalam wadah perjuangan dalam Islam tertentu memanggil kelompok lainnya dengan perspektif negatif. Maka kadang dijumpai ucapan “itu orang muhammadiyah, NU, salafi, wahabi”, dan sebagainya dengan makna yang menyimpang, seolah-olah mereka yang berbeda “pakaian” dalam perjuangan bukan bagian dari saudaranya. Inilah perilaku ashobiyah yang tidak pada tempatnya karena tidak bertujuan untuk saling menasihati dalam kebenaran.
Adapun terhadap kelompok yang memang sudah jelas menyimpang dalam segi aqidah maka dapat dibenarkan kita menyebutkan kekafiran mereka. Seperti contoh kelompok ahmadiyah dan nabi-nabi palsu, liberalisme, syiah rafidhah atau sekte-sekte pluralisme.
Dalam Surah Ali Imran ayat 104, dinyatakan :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٤)
dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Secara tersirat lafadz وَلْتَكُنْ yang menggunakan harfu lam lil istianah yang bermakna “anjuran yang menyangatkan”, memerintahkan kepada ummat Islam yang belum terwadahi dalam hidup berjamaah mengorganisasikan diri mereka dalam suatu wadah gerakan Islam (   أُمَّةٌ  ). Dimana wadah ini tujuannya untuk menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dalam suatu sistem organisasi yang rapi, sehingga diharapkan memudahkan dalam pelaksanaan tujuan tersebut.
Adanya berbagai kelompok perjuangan Islam (tandhim) ini bukanlah gambaran berpecah belahnya ummat. Namun lebih tepat sebagai “pembagian atau pendelegasian tugas” dalam dakwah dan jihad, sebelum tegaknya naungan yang satu bagi ummat ini, yaitu Daulah Islam yang telah dijanjikan Allah dan rasulNya. Disinilah perlunya interaksi (ta’aruf) antara tandhim yang memperjuangkan tegaknya Islam untuk saling melayani, menopang, dan bekerjasama, bukan untuk saling menjelekkan sesama saudara muslim. Seperti gambaran ayat 13 Surat Al Hujurat :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan berkelompok/ kabilah supaya kamu saling ta’aruf. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
insyaAllah berlanjut
www.al-ulama.net

Manakah yang Lebih Utama : Orang Kaya yang Pandai Bersyukur Ataukah Orang Miskin yang Bersabar?

Imam Ahmad rahimahullah juga memiliki dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama: orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama. Pendapat kedua: orang miskin yang selalu bersabar lebih utama.

Di antara para ulama yang menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama beralasan: orang miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya. Sedangkan ulama yang menyatakan bahwa orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama beralasan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selalu meminta pada Allah agar diberi sifat ghina (kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia).

Pendapat yang Lebih Tepat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyakan mengenai keutamaan suatu hal dari yang lainnya, di antaranya beliau ditanyakan mengenai manakah yang lebih utama antara orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Lalu beliau jawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, “Yang paling afdhol (utama) di antara keduanya adalah yang paling bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683). Itu pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon hal. 67.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Menurut para peneliti dan ahli ilmu bahwa keutamaan di antara orang kaya dan orang miskin tidak kembali pada miskin atau pun kayanya. Namun itu semua kembali pada amalan, keadaan, dan hakikatnya. … Keutamaan di antara keduanya di sisi Allah dilihat dari ketakwaan, hakikat iman, bukan dilihat dari miskin atau kayanya. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13)

Dalam ayat ini, Allah tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling kaya di antara kalian atau yang paling miskin di antara kalian.” (Madarijus Salikin, 2/442)

Dalam shohih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat dari Abu Hurairah,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ قَالَ « أَتْقَاهُمْ » . فَقَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَيُوسُفُ نَبِىُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونَ خِيَارُهُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا »

Ada yang mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa.

Kemudian mereka yang bertanya tadi berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “(Yang paling mulia adalah) Yusuf, Nabi Allah. Dia anak dari Nabi Allah (Ya’qub). Dia cucu dari Nabi Allah (Ishaq). Dan dia adalah keturunan kekasih Allah (Ibrahim).

Kemudian mereka yang bertanya tadi berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah mengenai barang tambang Arab yang kalian tanyakan? (Manusia adalah barang tambang), yang paling baik di antara mereka di masa Jahiliyah adalah yang paling baik di antara mereka di masa Islam, namun jika mereka memiliki ilmu.

Semoga Allah memberi kita sifat taqwa, sifat ‘afaf (yang selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik) dan memberikan kita sifat ghina (merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia). Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Rujukan:

1. Al Furqon Baina Awliya’ir Rohman wa Awliya’isy Syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Maktabah Ar Rusyd
2. Badai’ul Fawaidh, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Asy Syamilah
3. Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Asy Syamilah

***

Pangukan, Sleman, 11 Muharram 1430 H

Penulis:Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com, dipublish ulang oleh www.pengusahamuslim.com
http://pengusahamuslim.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/695-manakah-yang-lebih-utama-orang-kaya-yang-pandai-bersyukur-ataukah-orang-miskin-yang-bersabar.html

1 Dari 10 Hasil Puasa : Gerakan Umat Produktif…

Mumpung suasana lebaran dan liburan masih menyelimuti kita, saya belum akan menulis tentang perkembangan pasar emas dan sejenisnya. Saya masih ingin menyentuh hal-hal yang mendasar yang menumpuk di kepala selama menjalani i’tikaf sampai akhir pekan lalu. Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan dua ayat berikut :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
(QS 2:183)

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
(QS 2:177)

Ayat pertama adalah ayat yang sangat popular sepanjang bulan puasa lalu, yaitu ayat tentang kewajiban puasa dan target dari puasa itu sendiri agar kita menjadi orang yang bertakwa. Lantas ayat kedua menjelaskan tentang siapa atau seperti apakah orang yang bertakwa itu. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya seperti ini menjadi pilihan pertama bila kita ingin memahami makna suatu ayat.

Jadi dari dua ayat tersebut kita paham target puasa kita dan paham pula menjadi orang seperti apa kita pasca Ramadhan seharusnya. Karena parameter orang bertakwa ini jelas, insyaallah kita sendiri yang bisa mengukur sedekat apa kita bisa mendekati target ini.

Untuk ini mari kita list 10 sifat orang bertakwa berdasarkan QS 2 :177 tersebut diatas :

1. Beriman kepada Allah
2. Beriman kepada hari kemudian
3. Beriman kepada malaikat-malaikat
4. Beriman kepada kitab-kitabNya
5. Beriman kepada nabi-nabi
6. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya
7. Mendirikan sholat
8. Menunaikan zakat
9. Orang yang menepati janjinya apabila berjanji
10. Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.

Terlalu panjang tulisan ini bila saya mengulas ke 10 sifat orang bertakwa yang antara lain dihasilkan melalui proses puasa ini, maka pada kesempatan ini saya hanya ingin mengulas satu saja yaitu sifat ke 6 dari orang yang bertakwa : “…Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya”.

Perhatikan kata kunci “…memberikan…” di penggalan ayat tersebut, siapa yang bisa “…memberikan…” ini ?, pertama pastilah dia orang yang memiliki kelebihan. Kalau dia pas-pasan, maka dia tidak akan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, semua yang dimilikinya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau dia kekurangan, jangankan bisa “…memberikan…”, sebaliknya dia akan cenderung “…menerima…” atau bahkan “…meminta…” dari yang lain. Kedua, selain ada dia juga mau memberikan sesuatu yang dicintainya – ini akan terjadi bila ada keimanan dalam hatinya (sifat 1 – 5).

Jadi puasa seharusnya menghasilkan orang-orang yang bertakwa yang salah satu sifatnya dia dapat “…memberikan…” yang dicintainya ke orang lain yang berhak, utamanya kerabat. Pemberian ini juga lebih dari apa yang diwajibkan dalam zakat, karena zakat disebut sebagai sifat yang lain dalam ayat ini.

Dari men-tadaburi dua ayat diatas, saya terus berfikir…di Indonesia ada 240 juta penduduk, 85 %-nya muslim, maka ada 204 juta penduduk muslim di Indonesia. Kalau asumsinya yang berada di usia produktif 50% saja, maka ada 102 juta muslim produktif di negeri ini. Bayangkan kalau yang 102 juta ini puasanya berhasil dan derajat takwa tercapai, wow… akan betapa banyak muslim-muslim yang berproduksi berlebih di negeri ini sehingga mampu memberikan sesuatu bagi yang lain.

Kalau ini yang bisa kita hasilkan, pastilah negeri ini tidak perlu tergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti yang saya tulis awal pekan ini.

Dengan prasangka baik ini, bahwa begitu besar potensi-potensi produksi sebagai buah dari ketakwaan yang akan terus meningkat setiap tahun sehabis Ramadhan, maka gerakan GeraiDinar dan BMT Daarul Muttaqqin yang awalnya hanya seputar penyebar luasan pengetahuan tentang Dinar, kemudian meningkat menjadi pengadaan dan pengelolaannya, insyaallah akan kita tingkatkan lagi menjadi pendorong peningkatan produktifitas umat kedepannya.

Agar ilmu yang diberikan olehNya ini tidak hanya berhenti di tenggorokan, maka dalam beberapa bulan kedepan insyaallah kami akan luncurkan Gerakan Umat Produktif yang merupakan sebuah Social Network yang Islami. Apa dan bagaimana-nya akan kami jelaskan tahap demi tahap pada waktunya, saat ini platform teknologi untuk ini sedang kami persiapkan. Program Pesantren Wirausaha yang insyaallah akan kick off untuk kelas eksekutif tanggal 10 Oktober 2009 mendatang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari master plan peningkatan produktifitas umat ini.

Semoga Allah memudahkan dan menyempurnakan apa yang kita mulai dengan penuh kelemahan ini….Amin.

Written by Muhaimin Iqbal
http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=275:1-dari-10-hasil-puasa-gerakan-umat-produktif&catid=1:latest-news&Itemid=50

Takwa


Beberapa hari lagi, Ramadhan yang mulia, bulan yang penuh berkah dan ampunan ini akan segera berlalu. Berbahagialah mereka yang telah memanfaatkan segala kemudahan dan keistimewaannya, dan merugilah mereka yang lalai.

Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, pikiran sebagian besar kaum Muslimin tercurah menyambut Idul Fitri. Hari bahagia yang kerap disebut sebagai hari kemenangan ini disambut suka cita. Para penyambutnya rela mengikis ibadah Ramadhan demi menjelang hari bahagia.

Masjid-masjid yang semula ramai di awal Ramadhan, berubah drastis di hari-hari terakhirnya. Sebagian besar umat Islam lebih suka memadati pusat-pusat perbelanjaan demi persiapan lebaran. Sungguh kondisi yang sangat berbeda dengan apa yang ditunjukkan Rasulullah dan para sahabatnya. Kontras dengan apa yang dilakukan para salafush shalih, yang sibuk mengetatkan ikat pinggang demi berjumpa Rabb-nya.

Padahal ‘kemenangan’ Ramadhan hanya akan dituai oleh mereka yang telah berjuang sekuat tenaga menghidupkan amalan-amalan wajib dan sunnah di dalamnya. Kemenangan mencapai fitrah atau kesucian ini hanya akan diraih oleh hamba yang mampu meraih predikat takwa.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah menyatakan, untuk melihat berhasil atau tidaknya puasa yang dilakukan seseorang hanya dapat dipantau ketika puasa telah usai. Jika perilaku yang bersangkutan berubah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya –usai menjalankan puasa– maka dapat dikatakan bahwa puasanya berhasil. Pun demikian sebaliknya.

Inti dan hakikat puasa itu mencapai ketakwaan. Sehingga ketika puasa telah usai ia kembali kepada kesucian fitrahnya. Karena memang puasa ditujukan kepada orang-orang yang beriman, yang sejak lahir memiliki fitrah, sifat penghambaan kepada Allah SWT.

Jika orang-orang beriman ini sukses menjalankan ibadah puasa secara maksimal dan optimal, maka mereka layak disebut muttaqun, bertakwa. Para muttaqun inilah yang layak mendapatkan piala ‘kemenangan’ dan mendapatkan balasan dari-Nya, yaitu tempat aman; dalam taman-taman dan mata-mata air. (QS ad-Dukhan: 51-52).

Predikat muttaqun adalah derajat yang paling mulia di sisi-Nya. Puasa hanya salah satu sarana menuju ke sana. Dan kebahagiaan Idul Fitri adalah sebuah bonus. Semoga kita mampu menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisaban, dan termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapatkan predikat takwa.

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=731:takwa&catid=45:tafakur&Itemid=163