Showing posts with label Dhuafa. Show all posts
Showing posts with label Dhuafa. Show all posts

Warga Desa Setialaksana Cabangbungin Terima Bantuan Dana Bergulir Untuk Usaha Mikro Kecil


SIWAKZ, Depsos, Jakarta; Yayasan Al-Sofwa kembali mengucurkan dana bergulir untuk masyarakat ekonomi bawah dalam bingkai Program Dhuafa Mandiri pada Senin, 1 Maret 2010. Pada kali ini daerah yang menjadi sasaran program adalah Desa Setialaksana Kecamatan Cabangbungin Kabupaten Bekasi. Sebanyak 15 warga menerima dana bergulir dengan nilai total Rp. 7.500.000,- (@Rp.500.000,- per orang) untuk dipergunakan sebagai modal pengembangan usaha mikro kecil seperti berdagang sayuran, dagang baju keliling, dagang siomay keliling, makanan ringan, mainan, hiasan rambut dan usaha mikro kecil lainnya.

Secara garis besar, dana bergulir ini akan dikembalikan oleh mereka secara mengangsur selama 10 bulan x Rp.50.000,- tanpa ada tambahan. Pada priode itu pula, setiap bulannya angsuran yang terkumpul akan langsung digunakan untuk membiayai seorang warga lainnya yang akan melakukan usaha. Demikian seterusnya dana ini akan senantiasa bergulir di desa tersebut sehingga membantu perekonomian masyarakat.

Keberadaan program ini juga diharapkan dapat mengurangi praktek-praktek keuangan ribawi yang diharamkan syari’at. Dari laporan warga setempat, praktek-praktek bank keliling ribawi ini sangat mengakar di masyarakat dan tak jarang sangat memberatkan dan mencekik mereka hingga mengalami kerugian. Menurut seorang tokoh setempat Ustadz Armiyya, selama ini pihaknya senantiasa memberikan tausiyah agama mengenai keharaman sistem riba namun tidak berarti apa-apa karena tidak ada solusi nyata yang dapat langsung termanfaatkan oleh masyarakat. Oleh karenanya adanya program bantuan permodalan ini merupakan langkah nyata yang dapat memberantas praktek ribawi tersebut.

Pada acara serah terima dana ini juga diadakan ceramah umum yang dibawakan oleh Ustadz Abu Nabiel Ruliandi, Lc dengan mengangkat tema Niat Yang Bersih Akan Berbuah Pahala. Tak kurang dari 70-an warga turut menghadiri ceramah umum yang diselenggarakan di kompleks Majelis Taklim Darul Hikmah Setialaksana Cabangbungin ini.



Demikian sebagian dari kegiatan Program Dhuafa Mandiri yang diluncurkan oleh Yayasan Al-Sofwa. Masih banyak lagi para dhuafa yang membutuhkan uluran tangan kita. Mereka membutuhkan kail untuk meraih kemandirian dan kesejahteraan. (sd)

Contact Person:
Partisipasi Program : Aldrin 021-78836327
Pelaksana Program : Sandhi 021-78836327 / 021-32006233

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatberita&id=112

Ayo, Buka Akses Pasar buat Mereka!


"Alhamdulillah, ya Allah, akhirnya pertolongan-Mu datang juga," seru Ny Marlaeni (42) sambil menangis haru tatkala menerima bantuan dari Ustadz Muzayyin Abdul Wahab dari Dewan Da'wah, Ahad (10/1) lalu.

Ny Marlaeni, salah satu penjahit di Pasar Pauh Kambar, Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat, yang tergabung dalam Koperasi Wanita Saiyo Sakato. Bersama puluhan sesama penjahit, ia turut mencicipi musibah gempa bumi yang melanda Sumatera Barat tahun lalu. Rumah beserta alat produksinya hancur tak terpakai lagi.

Alhamdulillah, Dewan Da'wah melalui LAZIS Dewan Da'wah sebagai ujung tombak fundraising-nya, berhasil menggalang donatur dalam dan luar negeri untuk menghidupkan kembali usaha Koperasi Wanita Saiyo Sakato. Diantaranya dari Baituz Zakat, Kuwait.

Paket bantuan pertama yang diserahkan berupa seperangkat peralatan mesin jahit dan gulungan kain sebagai modal kerja.

Ustadz Muzayyin tak kalah haru saat menyerahkan bantuan tersebut, yang merupakan jawaban atas kesabaran para janda korban gempa. Dia bayangkan, bagaimana mereka mempertahankan aqidah di tengah kehidupan darurat, sementara tawaran dunia untuk menukar keyakinan berlangsung sangat dahsyat. Jika saja mereka bersedia murtad, maka jangankan mesin jahit, rumah pun niscaya bakal didapatkan.

Tapi, Ny Marlaeni bergeming. "Innalillahi wa inna ilahi raajiun. Rumah kami boleh hancur, tetapi harga diri tetap kami jaga," katanya menegaskan. "Inilah jawaban atas do'a kami. Dengan mesin jahit ini kami dapat menghidupi keluarga," sambungnya, sambil terus meneteskan airmata bahagia.

Insya Allah, kebahagiaan Ny Marlaeni dan kawan-kawan, menjadi do'a bagi keberkahan rejeki para donatur LAZIS Dewan Da'wah. Tapi, tugas belum selesai. "Untuk meningkatkan kapasitas produksi telekung Pasar Pauh Kambar, maka kita juga harus membantu memperluas pasarnya," kata Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Da'wah, Ade Salamun.

Ade optimis, telekung Pasar Pauh berpotensi untuk digenjot go international. Ia menuturkan, telekung tradisional produksi kaum perempuan Pasar Pauh Kambar telah menjadi "primadona" di Bukittinggi. "Bahkan secara ritel juga merambah pasar di negeri jiran Malaysia," katanya.

Namun, usaha ini belakangan lesu lantaran rusaknya alat produksi. Sementara, pasar dibanjiri mukena "instan" dari luar daerah. "sudah ada tiga kontainer mukena dari Jawa yang masuk ke pasar Bukittinggi," ungkap Hj Syofinar, Pembina Koperasi Wanita Saiyo Sakato.

"Tenang Bu Hajjah, kalau sudah rejeki mau kemana," hibur Ade Salamun. Ia buka kartu, "Kami telah memikirkan untuk membantu akses pasar baru. Misalnya jamaah haji dan umroh Dewan Da'wah, yang merupakan pasar potensial bagi produk semacam mukena."

Rencana LAZIS Dewan Da'wah, didukung sepenuhnya oleh LSM Malaysian Relief Agency (MRA) pimpinan Dato' Razak bin Haji Kechik. "MRA akan berusaha memasukkan produk mukena Pasar Pauh Kambar ini ke Malaysia. Kami akan pasarkan secara retail ke masjid-masjid maupun toko-toko busana muslimah di Malaysia," ucap Dato' Razak bin Haji Kechik usai menyimak presentasi Ade Salamun tentang prospek telekung Pasar Pauh. (abu hanna)

http://eramuslim.com/berita/info-umat/ayo-buka-akses-pasar-buat-mereka.htm

Terserang Kanker Tenggorokan dan Tumor Lidah


Ekspresi wajah Salimah (37) datar. Sepanjang diajak berbincang, ia lebih sering diam. Kalau pun senyum, terkesan agak dipaksakan. Sepertinya ada beban berat yang menggelayuti pikiran dan pundaknya. Ibu memang pendiam, yah?

“Ah, nggak juga,” Salimah menggelengkan kepala.

Kok ibu sedikit sekali kalau ngomong?

Sejenak Salimah membisu. Matanya mengarah ke atas, lalu ke bawah. Ia menunduk. Napasnya ditahan sebentar, kemudian dihembuskan.

“Selain penyakit yang menyerang saya, saya punya masa lalu kelam,” seloroh Salimah terdengar berat.
Ia mulai bercerita. Saat masih gadis, ia nekad kabur dari rumahnya di Jawa Tengah. Perhiasan yang menempel ditubuhnya, terpaksa dijual buat ongkos ke Jakarta.

“Saya lari dari rumah, karena rumah sudah tidak nyaman saya tinggali. Kalau terus-terusan di situ, saya babak belur,” cetus Salimah, tanpa menyebut alasan yang lebih rinci.

Ketika itu, ia mengaku tak tahu apa-apa soal ibukota, kecuali yang pernah dikisahkan temannya yang jadi pembantu rumah tangga di kota. Kata temannya, di Jakarta nyari duit itu gampang. Apa-apa serba ada dan mudah dapatnya.

“Udah gitu, gedung-gedung kalau malam dihiasi lampu kelap-kelip, indah dan rame sekali. Tidak seperti di kampung saya. Yang ada cuma obor dari batang bambu yang diisi minyak tanah,” Salimah tersenyum.

Bayangan tersebut yang membuat hati Salimah mantap bergegas ke Jakarta. Ia numpang mobil truk, seorang diri, dengan membawa bekal secukupnya. Begitu tiba Jakarta, ia bingung. Tak ada saudara atau kerabatnya. Temannya yang jadi pembantu itu pun tidak tahu dimana tempat tinggalnya.

Akhirnya Salimah berhari-hari tidur di stasiun kereta api. Tak banyak yang bisa dikerjakan selain diam sembari mendekap rangselnya, menyaksikan geliat para gembel dan pemulung. Tiba-tiba saja Salimah menangis. Ia teringat bekalnya yang tidak lama lagi habis. Sementara itu, belum ada orang yang menjadi kawan barunya.

Dalam keadaan lapar dan kedinginan, mendadak sepasang tangan memegang pundak Salimah yang tengah duduk sendiri dengan dua kaki didekatkan ke dada. Nama pemilik tangan itu Amir Hamzah, tukang sapu jalanan di sekitar stasiun. Rupanya Amir diam-diam memperhatikan Salimah sejak awal kedatangannya di stasiun.

“Amir punya kenalan seseorang yang bekerja di kantor, tak jauh dari stasiun. Saya diajak ke sana. Selanjutnya tidur dan makan saya ditanggung Amir, selama enam bulan tinggal di kantor itu. Padahal saya tidak disuruh kerja apapun. Saya diam saja,” kenang Salimah.

Lamat-lamat kebaikan Amir berujung cinta. Witing tresno jalaran soko kulino, begitu pepatah Jawa. Keduanya terlibat asmara. Amir kemudian menikahi Salimah. Pernikahan mereka digelar sangat-sangat sederhana, tanpa pesta. Bahkan, orang tua Salimah pun tidak hadir.

Salimah menghentikan ceritanya. Kerudungnya diperbaiki. Posisi duduknya digeser sedikit ke kanan.
“Sekarang saya cerita soal penyakit saya saja, ya? Soalnya kalau cerita rumah tangga saya, nanti bawaannya saya pengen nangis terus…,” pinta Salimah.

Pertengahan 2007. Saat sedang makan, mendadak tenggorokan Salimah terasa sakit dan sangat susah untuk menelan makanan. Penyebabnya ada benjolan kecil yang menyembul dari dalam tenggorokannya. Ia menduga penyakit amandel. Lantaran dibiarkan saja, lama-lama benjolan itu terus membengkak.

Salimah pun merasa ada yang berbeda dengan lidahnya. Tiap kali mengecap makanan, ia seperti menggigit lidahnya sendiri. Terang saja lidahnya terasa sakit. Perih sekali. Ia bercermin. Dilihatnya tumbuh benjolan di lidahnya sebesar biji kacang. Mau melapor ke suami yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai tukang sapu jalanan, ia tak punya nyali.

Tanpa sepengetahuan suami, Salimah mendatangi tabib. Tabib menyatakan Salimah terkena kanker tenggorokan dan tumor lidah. Lucunya, Salimah menganggapnya biasa-biasa saja, lantaran tidak tahu mengenai kedua penyakit tersebut. Tabib kemudian menganjurkan supaya Salimah berobat ke Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) milik Dompet Dhuafa.

Salimah berjuang seorang diri, sejak mulai diperiksa LKC hingga dirujuk ke rumah sakit. Ia akhirnya dioperasi berkat bantuan LKC. Benjolan di dalam tenggorokannya hilang. Namun, beberapa bulan kemudian, muncul lagi benjolan di luar tenggorokannya. Ia harus menjalani perawatan rutin dan kemungkinan operasi lagi.

“Kata dokter, saya bisa sembuh, sebab tumor yang menyerang tenggorokan dan lidah tidak ganas,” tutur ibu dari tiga anak yang saban hari kerja nyuciin baju tetangga di daerah Kedawung, Pamulang. Zakat Emang Ajiib… (LHZ/Dompet Dhuafa)

http://eramuslim.com/hikmah/dhuafa/terserang-kanker-tenggorokan-dan-tumor-lidah.htm

Jualan Nasi Padang di Pinggir Rel


Siang itu, di kawasan Pisangan Lama Jakarta Timur, cuaca begitu panas. Dua kompor minyak tengah menyala, memanggang semur jengkol dan telor bulat. Apinya bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti arah angin yang keluar masuk lewat jendela.

Di hadapan kompor, aneka lauk dalam baskom sudah matang. Ada ayam gulai, rendang, daging, ati ampela, ikan teri, kentang, dan sambal balado. Beberapa bumbu dan lauk masih mentah, menanti giliran masuk kuali. Emang nggak takut kebakaran, Uni, masak di dalam kamar?

“Abis mau gimana lagi, nggak ada tempat lain seh…” Uni Ratna (50) tersenyum.

Kedua tangan Uni Ratna nyaris tak pernah berhenti bergerak. Begitu semur jengkol matang, tangannya menjinjing panci berisi air, lalu meletakannya di atas kompor. Semenit kemudian memotong cabai, lantas mengulek kemiri. Satu pekerjaan selesai, pekerjaan lain sudah menunggu sentuhan tangannya.

Dua kompor itu dibiarkan terus menyala hingga semua masakan matang. Kamar Uni jadi penuh asap dan aroma pedas makanan menyebar. Sementara suara televisi 14 inc–lima jengkal dari kompor—ikut menyemarakan kerja Uni sejak siang hingga ba’da Maghrib itu. Tidak ada orang yang membantunya memasak.

“Linda (23) jadi tukang jahit di Medan. Erwin (22) bantu-bantu orang dagang pakaian di Jatinegara. Desi (20) kerja cleaning service, pulangnya malam. Fadli (17) kuli bangunan, pulangnya nggak tentu. Rahma (15) sekolah di Medan, dibiayai keponakan Bapak. Nur Hasanah (11) lagi main…” Uni mengurai satu persatu aktivitas anaknya.

Kalau suami Uni, dimana?

“Suami (Alimin) meninggal dua tahun lalu, hari Senin, usai sholat Dhuha…” Uni mengela napas panjang, sejenak berhenti mengaduk bumbu.

Uni Ratna bersama keempat anaknya tinggal di kamar kontrakan lantai dua. Untuk menujunya harus melewati tangga dan lorong sempit nan gelap. Atapnya dari seng bekas pagar bangunan. Dindingnya dari kayu triplek sisa dengan lantai papan. Ukurannya 4x3 meter persegi.

Semua perabotan milik Uni –termasuk peralatan dagang dan memasak—ada di situ: kompor, kuali, panci, dandang, ember, galon, ulekan, piring, mangkok, gelas, lemari baju, dan kasur. Benar-benar sumpek!

“Anak-anak tidurnya di sini. Tapi di sini nggak ada kipas angin, jadi panas.”

Di wilayah Pisangan Lama II, RT 010/001, Jakarta Timur, Uni Ratna cukup dikenal. Selain ceplas ceplos, murah senyum dan enerjik, perempuan kelahiran Padang Pariaman ini gampang akrab dengan siapa saja.

Uni bercerita, dirinya menginjakkan kaki di Jakarta bersama suami dan keempat anaknya sejak 15 tahun lalu. Mulanya ia numpang di rumah saudara dan berjualan jajanan khas Padang: kue sarikaya, wajik, lopis, lebak bugis, dan ketan hitam. Karena dari hari ke hari sepi pembeli, usahanya pun bangkrut.
Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami Uni. Selang sebulan, ia diusir saudaranya. Uni bersama anaknya hidup menggelandang dijalanan ibukota. Tak lama kemudian, suaminya mengalami gangguan penglihatan hingga akhirnya sama sekali tak dapat melihat.

“Suami sudah nggak bisa nyari duit lagi. Uni dan anak-anak jadi pemulung. Tidurnya di pinggir jalan. Anak-anak suka nangis, minta makan. Uni nggak ada duit. Akhirnya sehari-hari mereka cuma minum air putih.”

Pelan-pelan Uni mengumpulkan uang dari hasil mulung. Uangnya lantas dipakai berjualan cabai, bawang, dan tomat di pasar. Namun, itu tak bertahan lama lantaran kehabisan modal. Uni tak menyerah begitu saja. Berbekal uang pinjaman, Uni dapat berjualan peyek dan keripik. Sayang, lagi-lagi usahanya harus gulung tikar gara-gara selalu merugi.

Prinsip Uni, pantang bagi para perantau untuk meminta atau mengemis. Ia sama sekali tidak ingin merepotkan saudara maupun kerabatnya. Maka, kembali memulung menjadi pilihan hidup selanjutnya, meski terasa sangat pahit.

Kegigihan dan perjuangan Uni menghidupi anak-anak dan suaminya yang buta mengundang keprihatian Ketua RT. Uni diminta menceritakan kisah hidupnya, lalu Pak RT yang menuliskannya. Pak RT berniat mengirimkan keluh kesah Uni ke Dompet Dhuafa.

“Uni sampai lari-lari ke kantor pos untuk mengantar surat itu,” kenangnya, dua tahun lalu.

Tiga hari kemudian, Dompet Dhuafa menyambangi Uni sembari membawa bantuan sembako dan modal usaha. Secara perlahan Uni bangkit. Kini saban malam, mulai lepas Isya hingga pukul 02.00 dini hari, Uni berjualan nasi padang di pinggir rel kereta, 500 meter dari Stasiun Jatinegara.

“Alhamdulillah, Uni sudah bisa menyekolahkan anak bungsu. Minggu kemarin, Dompet Dhuafa memberikan bantuan gerobak dagang. Uni senang sekali…” ujarnya. (LHZ/Dompet Dhuafa)

http://www.eramuslim.com/hikmah/dhuafa/jualan-nasi-padang-di-pinggir-rel.htm

Pelopor Pembuat Pupuk Organik di Kampung Bojong Menteng


Setelah tidak bisa masuk perguruan tinggi lantaran kendala biaya, Asep Hermawan (35) memilih mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI).

"Honor saya lima ribu rupiah sebulan. Itu pun diberinya setahun sekali (dirapel)," ujarnya santai. Penghasilan minim sebagai guru honorer tak menyurutkan niat Asep menyunting Heni Suhaeni (27). Asep bersama istrinya hidup seirit mungkin, sesuai pendapatan bulanannya. Kebutuhan yang dirasa tidak penting, dicoret dari daftar belanjaan.

Setahun berlalu. Asep dan istrinya dikarunia bayi perempuan (Fitriyah). Kehadiran putri pertamanya jelas mendongkrak pengeluaran. Asep putar otak. Setelah pagi hari mengajar di MI, siangnya mengajar di MTs dan MA. Selain itu, ia bergabung dengan Kelompok Tani Unggul untuk belajar bercocok tanam.

“Kalau tidak ada tugas ngajar di sekolah, saya ngurus padi di sawah. Saya mencari uang tambahan. Apalagi anak kedua (Fiqhul Haqim) sudah lahir. Tentu pengeluaran pun naik. Kalau ini tidak diimbangi pemasukan, pepatah lebih besar pasak daripada tiang berlaku bagi saya dong,” tuturnya tersenyum.

Keseriusan Asep bertani –tanpa meninggalkan ngajar—kian menggebu, kala kelompok taninya yang ada dalam kendali Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Wanti Asih menjalin kerjasama dengan Lembaga Pertanian Sehat (LPS) Dompet Dhuafa. Di situlah Asep mendapat banyak ilmu baru soal pertanian dan peternakan, termasuk bantuan bibit, teknologi pertanian dan modal.

”Yang menggembirakan, saya dipercaya untuk menerima bantuan 6 ekor kambing dari Ternak Domba Sehat (TDS) Dompet Dhuafa. Kesibukan saya jadi bertambah; mencari rumput dan membersihkan kandang, hampir setiap hari. Domba saya terus berkembang. Kini jumlahnya 16 ekor,” katanya bangga. Sejak itu, Asep selalu bersyukur. Penghasilannya terus meningkat. Apalagi dari hasil usaha pertanian dan peternakan yang ditabungnya, ia dapat membeli sebidang tanah. Di atas tanah itu dibangun rumah untuk tempat tinggal istri dan kedua buah hatinya.

Lain waktu, LPS menggelar pelatihan pembuatan kompos ofer (organic fertilizer) bagi anggota Wanti Asih. Asep tak mau ketinggalan. Sampai-sampai ia duduk paling depan. Usai pelatihan dan paham tata cara pembuatan, ia mempraktekannya. Tanah berukuran 4x8 meter di belakang rumahnya dibuat saung sebagai tempat produksi pupuk organik.

Mula-mula Asep mencari kotoran sapi sebagai bahan dasar pupuk organik. Saban hari ia mengangkutnya dari desa tetangga—10 kilometer dari rumah Asep—. Maklum, di kampungnya tak ada peternakan sapi. Rupanya tetangga rumah Asep terganggu oleh bau kotoran sapi yang menyengat hidung itu. Apalagi, kotoran yang dibawanya ada saja yang terjatuh di pelataran rumah tetangga. “Soal bau itu, saya terkadang pura-pura nggak tahu,” Asep nyengir.

Sebagai percobaan, Asep membuat pupuk organik dalam jumlah terbatas, sekira 500 kilogram. Ia mencampur kotoran sapi dengan bahan lainnya, seperti jerami cincang, kapur pertanian, arang sekam, dedak, dan IM4. Ia mencangkulnya hingga merata, lalu menutup rapat dengan karung atau plastik. Esok hari diaduk lagi, kemudian ditutup dan didiamkan 3-4 hari sampai suhu 45 derajat.

Hari berikutnya diaduk kembali dan dibiarkan 2 hari sampai suhu turun 30 derajat. Ia menaruh alat pengukur panas di tengah gundukan tanah. Setelah itu, pupuk organik diayak supaya halus, dibungkus plastik dan siap dijual ke LPS. Proses pembuatan hingga jadi kurang lebih 10 hari.

“Semua tahapan itu saya lakukan sendiri. Ternyata pendamping dari LPS bilang, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Karenanya tidak bisa dijual ke LPS. Akhirnya, saya pakai sendiri untuk tanaman padi,” seloroh Asep.

Asep tak kapok. Selang beberapa hari, ia kembali membuat pupuk organik. Kali ini lebih berhati-hati. Masukan dan saran dari LPS benar-benar diterapkan. Ia berjibaku dalam pembuatan kompos ofer, tak peduli bau kotoran sapi yang menusuk indera penciumannya.

“Begitu orang LPS tahu hasilnya, mereka mau membeli. LPS pun menyatakan saya sudah bisa membuat pupuk organik sendiri, meski quality control dipegang LPS,” cetus pelopor pembuat kompos ofer di Kampung Bojong Menteng, Desa Cibalung, Kec. Cijeruk, Kab. Bogor, itu.

Prestasi Asep tersebut mengundang decak kagum Dinas Pertanian Bogor. Mereka berkeinginan membeli kompos ofer sebanyak 2 ton.

”Alhamdulillah...itu rezeki yang tak pernah terpikirkan. Sekarang saya bisa memproduksi pupuk organik 3 ton perbulan, dengan jumlah karyawan 4 orang,” tandas lulusan Madrasah Aliyah ini. (LHZ/Dompet Dhuafa)

http://eramuslim.com/hikmah/dhuafa/pelopor-pembuat-pupuk-organik-di-kampung-bojong-menteng.htm

Rumah Sakit Sandera Pasien, Menkes Jadi Pahlawan

Jakarta - Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan mengirim tim ke Rumah Sakit Bersalin Sofa Marwa. Tim akan menyelidiki kasus penyanderaan dua ibu dan bayi lantaran tak sanggup membayar biaya persalinan.

"Begitu saya dengar informasi ini, saya terjunkan tim ke sana. Biar kami lakukan penyelidikan dulu," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Togi Asman, Selasa, 8 September 2009.

Suharni dan Santi berikut dua bayi mereka masih tertahan di RS Bersalin Sofa Marwa yang beralamat di Jalan Bina Warga RT 9, RW 7, Kampung Kali Bata, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Suharni sudah tertahan sejak empat bulan lalu. Sedangkan Santi tertahan sejak dua minggu lalu. Mereka tak sanggup membayar biaya persalinan yang mencapai lebih Rp 5 juta. Selama dalam sandera, mereka juga diwajibkan membayar biaya Rp 100 ribu per hari.

Keduanya sangat membutuhkan uluran tangan dermawan. Suharni hanyalah isteri seorang pengangguran, sedangkan Santi isteri pemulung. "Kami sangat membutuhkan bantuan," kata Santi.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari segera membebaskan dua ibu dan bayi yang menjadi sandera Rumah Sakit Bersalin Sofa Marwa. Ia akan melunasi seluruh biaya persalinan keduanya.

"Katakan padanya (Suharni dan Santi), saya mau membiayainya," kata Menkes lewat pesan singkatnya, Selasa, 8 September 2009.

Suharni dan Santi berikut dua bayi mereka masih tertahan di RS Bersalin Sofa Marwa yang beralamat di Jalan Bina Warga RT 9, RW 7, Kampung Kali Bata, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Suharni sudah tertahan sejak empat bulan lalu. Sedangkan Santi tertahan sejak dua minggu lalu. Mereka tak sanggup membayar biaya persalinan yang mencapai lebih Rp 5 juta. Selama dalam sandera, mereka juga diwajibkan membayar biaya Rp 100 ribu per hari.

Keduanya sangat membutuhkan uluran tangan dermawan. Suharni hanyalah isteri seorang pengangguran, sedangkan Santi isteri pemulung. "Tapi kalau tidak mampu mbok ya jangan di RS swasta," kata Menkes.

Sebelumnya, Seorang ibu dan bayinya hingga kini masih tertahan di Rumah Sakit Bersalin Sofa Marwa, Jalan Bina Warga RT 9, RW 7, Kampung Kali Bata, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Sebenarnya kami sudah minta keringanan biaya, tapi tidak dikasih," kata Suharni yang sudah empat bulan ditahan di rumah sakit lantaran tak sanggup melunasi biaya persalinan, Senin malam, 7 September 2009.

Aryo Bimo, suaminya pernah meminta kepada rumah sakit agar diijinkan pulang. Mereka berjanji akan melunasi biaya persalinan dengan cicilan. Namun permohonan itu, tidak dikabulkan.

Kondisi serupa dialami Santi, isteri seorang pemulung. Sudah dua minggu, ia dan bayinya tertahan di Rumah Sakit Bersalin Sofa Marwa. "Sebelum masuk, sempat mikir mas. Mau bayar pakai apa? Tapi si mungil keburu mau lahir, bagaimana lagi?," kata Santi.

Kedua ibu dan bayi itu menanti uluran tangan dermawan. Selain harus melunasi biaya persalinan lebih Rp 5 juta, mereka juga harus membayar biaya Rp 100 ribu per hari. "Biaya harian untuk kamar berdua, makan dua kali sehari dan memandikan bayi," ujarnya. "Kami membutuhkan bantuan," kata Santi.

Wajah Suharni, 30 tahun, terlihat tidak bersemangat meski berada di samping anaknya, Ayudya Meitana Bimantara, bayi laki-laki yang dilahirkannya empat bulan lalu.

Tak berselang lama, keduanya sudah terlelap di atas ranjang di kamar Bougenvile, lantai 3 Rumah Sakit Bersalin Sofa Marwa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Dari atas ranjang terlihat tangan bayi lelaki itu tidur dengan terlentang, sesekali bibirnya yang mungil juga melempar senyuman dalam tidur. Apa yang dirasakan Ayudya, tentu berbeda dengan apa yang dirasakan ibunya. Sudah lebih dari empat bulan dia berada di kamar perawatan.

"Saya mau pulang, tapi uangnya dari mana," ujar istri Aryo Bimo, yang tingggal di Kampung Vitara, RT 5 RW 13, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat.

Suharni semula mendapat rujukan dari bidan di Kampung Vitara untuk segera menjalani operasi karena bayinya prematur. Maka sejak 5 Mei 2009 lalu, dirinya harus dirawat di rumah sakit tersebut.

Karena tidak memiliki uang, dia harus tetap berada di rumah sakit sampai biaya persalinan itu dilunasi.

Besaran hutang yang harus ditanggungnya mencapai Rp 20 juta. Biaya tersebut terdiri dari biaya operasi sebesar Rp 5,3 juta dan serta sisanya adalah biaya perawatan dan obat.

"Kalau semua bisa Rp 20 juta," ungkapnya.

Sang suami, Aryo Bimo, baru bisa membayar uang Rp 3 juta dari total biaya tersebut.

Bimo menceritakan, besarnya biaya perawatan bagi istrinya dikarenakan kondisi anaknya yang prematur saat dilahirkan sehingga perlu menjalani perawatan selama sebulan.

Kini Bimo, sedang berusaha mengajukan pinjaman ke tempatnya bekerja dan beberpa kerabatnya. Karena biaya perawatan anaknya bisa terus bertambah bila tetap berada di rumah sakit.

Masih di kamar yang sama, juga ada Santi, 27 tahun, dia juga mengalami nasib yang sama dengan Suharni.
Bedanya, Santi baru dua minggu tertahan di kamar berukuran 3 x 3 meter, di rumah sakit tersebut.

Putranya, Syahrul Gunawan, 2 minggu, masih terbalut sarung kotak - kotak milik bapaknya. Bocah itu tertidur pulas di atas ranjangnya.

Sementara di bawah ranjang Syahrul, tergeletak Sri Wahyuni, kakak Syahrul, yang tertidur tanpa menggunkan baju.

Santi masuk RSB Sofa Marwa pada 18 Agustus 2009, atas rujukan seorang bidan di kawasan Depok Lama, Jawa Barat. "Bidan itu bilang, saya harus cesar," ungkap dia.

Pada 21 Agustus 2009, sebenarnya Santi dan Syahrul sudah bisa pulang seandainya tidak ada kendala biaya, suaminya Yudhi Wijaya, hanya pemulung.

"Pekerjaan suami saya hanya pemulung. Uang sebesar itu dari mana," ungkap Santi.

Untuk bisa keluar dari Rumah Sakit tersebut, Santi harus membayar biaya operasi sebesar Rp. 5,3 juta ditambah biaya rawat inap dan biaya dokter Rp 700 ribu.

Belum lagi biaya tunai Rp 100 ribu per hari selama dua minggu. "Belum saya bayar sama sekali. Kami tak ada uang sebesar itu," ucapnya lirih.

Tidak satupun dokter maupun pihak rumah sakit yang mau berkomentar mengenai kejadian ini. Saat didatangi ke ruangannya, humas rumah sakit tersebut tidak ada di ruangannya.(vvn) www.suaramedia.com

http://www.suaramedia.com/berita-nasional/10421-rumah-sakit-sandera-pasien-menkes-jadi-pahlawan.html

Ibu Zawanis, Pejuang Kaum Du'afa


Zawanis, 76 tahun, mantan guru SMAN 4, Jakarta dan guru Sekolah Olah Raga Ragunan adalah pendidik sejati, mengabdikan penghujung usianya membina anak-anak pemulung dan kaum dhuafa yang tidak tersentuh oleh program pemerintah. Ada lebih dari 100 orang anak-anak pemulung dan dhuafa yang tersebar di beberapa lokasi lapak di Jakarta dan di sekitar kediamanan beliau di Kompleks Perum II Tangerang.

Berawal dari keprihatinan ibu Zawanis akan kondisi anak-anak pemulung yang ditemui, ketika ditanya siapa Tuhannya mereka bilang tidak tahu, ditanya apa agamanya merekapun bilang tahu, bahkan ketika ditanya apa bangsanya mereka mengatakan tidak tahu. Ia sangat mengkuatirkan aqidah anak-anak itu. Kemudian dengan modal sendiri beliau membangun Taman Rahmah. Pendidikan anak-anak dibantu oleh tenaga relawan yang terdiri dari ibu rumah tangga, guru, pegawai dan pensiunan.

Meskipun tidak pernah meminta dana namun infaq, sedeqah mengalir dari mantan murid-murid beliau dan dari kaum kerabatnya. Pada tanggal 30 Agustus ibu Zawanis meskipun dalam kondisi lemah karena penyakit jantung yang sudah lama diidapnya. masih bersemangat mengunjungi lapak pemulung di Kober Poncol, Jakarta Selatan. Sembari memberikan pembinaan beliau menyerahkan bantuan berupa pakaian bekas, makanan dan uang. Lapak di Kober Poncol terbakar habis pada Minggu, 16 Agustus lalu dan Musholla yang didirikan Zawanis untuk membina anak-anakpun ikut lenyap. Saat ini beliau sedang berusaha untuk membangun kembali mushola pengganti agar anak-anak dan warga lapak di tempat itu dapat memanfaatkan untuk sholat tarawih dan pendidikan keagamaan seperti biasanya. Beliau berpesan kepada semua komponen bangsa untuk ikut berpartisipasi dalam menangani kebodohan dan kemiskinan di negara ini. (SE)

http://www.babinrohis-nakertrans.org/content/view/31/45/

Umiyati: Tak Mau Menyerah pada Keadaan


Gubuk kecil berukuran 6 x 8 meter persegi itu, apa boleh buat, mirip kandang kelinci: penuh sesak oleh puluhan penghuni.

“Ya begini kalau lagi pada ngumpul. Maklum anak Mak U’um 12 orang; 3 laki-laki, 9 perempuan. Tapi yang masih hidup cuma sepuluh. Cucu udah 32, sebagian tinggal di Garut, kampung Mak,” celoteh Umiyati (60), pemilik rumah yang biasa dipanggil Mak U’um.

Sudah tiga tahun Mak U’um tinggal di gubuk bahagianya di daerah Kampung Bulak, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Ia menetap bersama sebagian anak, menantu, dan cucunya yang masih kecil-kecil. Gubuk itu didirikan Ali (64) suaminya di atas tanah milik sebuah perusahaan. “Dulu sih pernah beberapa kali ngontrak, tapi karena sering tidak bisa bayar, kami diusir yang punya rumah. Jadi ya sudah, biar tinggal di gubuk liar tapi nggak dikejar-kejar uang kontrakan,” ujar Mak U’um.

Untuk menopang kehidupan, Mak U’um bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga yang membutuhkan. Penghasilannya sebulan mentok di angka 200.000 rupiah. “Padahal, tiap bulan musti bayar sewa tanah seratus ribu, terus bayar listrik duapuluh ribu perak,” aku Mak U’um. Penghasilan suaminya yang bekerja sebagai buruh tani tak mampu mendongkrak keluarga besar itu dari ambang garis kemiskinan.

Bak jatuh ketimpa tangga, lima tahun lalu waktu sedang mencuci baju tetangga, mata nenek ramah itu terkena sabun cuci. “Rasanya sakit, perih sekali. Saya langsung bersihin pakai air, terus saya kucek-kucek. Eh...kedua mata saya malah jadi merah. Besoknya, kalau ngeliat orang jadi berbayang,” kenang Mak U’um.

Makin lama pandangan Mak U’um makin buram. Ia khawatir akan mengalami kebutaan. “Saya merasa susah, takut nggak bisa kerja. Untung saya ketemu Mbak Sulis dari Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa. Mbak Sulis membelikan kacamata untuk saya. Alhamdulillah saya senang sekali. Pandangan mata saya jadi terang. Ngeliat orang nggak berbayang lagi,” cerita Mak Uum.

Bukan hanya kacamata, LPM juga memberikan seperangkat perabot rumah tangga seperti meja kursi, lemari, dan sebuah televisi kecil untuk menghibur keluarga.

Begitulah Mak U’um kembali menjalani rutinitas dalam kesahajaan. Soal menu makanan sehari-hari, keluarga itu sudah terbiasa makan nasi putih lawan kecap dan kerupuk. Kalau kebetulan ada rezeki lebih, ia membeli tempe. Bagi keluarga Mak Uum, tempe termasuk lauk pauk yang mahal harganya.

Untungnya, masih banyak tetangga yang peduli. Kadang ada saja yang memberikan beras, mie instan, telur, dan kebutuhan dapur lainnya. LPM juga masih rutin menyambangi keluarga Mak U’um untuk sekadar membantu agar dapur mereka tetap berasap.

“Sebetulnya saya nggak enak kalau terus-terusan dibantu sama tetangga atau orang lain, karena saya tidak ingin merepotkan mereka. Memang saya tidak pernah memintanya. Mereka yang mau datang sendiri. Biarlah saya hidup begini, apa adanya. Saya tidak berani minjam duit ke tetangga, takut tidak bisa mengembalikan,” ujar dia perlahan.

Tapi keceriaan itu tak lama. Karena tidak pernah menjalani pemeriksaan lanjutan, mata Mak U’um kembali bermasalah. Pandangannya kembali kabur. Kacamata pemberian LPM tak lagi mampu menjernihkan pandangan. Akhirnya, kacamata itu pun disimpan dalam lemari.

“Mau periksa ke dokter nggak punya duit. Akhirnya saya biarkan saja mata saya sakit sampai sekarang,” Mak Uum mengucek kedua matanya, “yang penting masih bisa baca Qur’an,” lanjut dia. Mak U’um tidak pernah melewatkan hari tanpa membaca Al Qur’an. Anehnya, “Biar nggak pakai kacamata, kalau baca Qur’an terang. Tapi kalau jalan nggak pakai kacamata, Mak sempoyongan kayak orang mabuk, hi..hi..hi..,” ujar Mak U’um polos.

Dalam serba keterbatasan itu, Mak U’um bersyukur bisa menyekolahkan anak-anaknya. Kedelapan anaknya sudah berkeluarga dan hidup mandiri, tinggal Wina dan Nur Alam yang masih sekolah. Wina kelas 3 SMA, sedangkan Nur Alam baru tahun ini masuk SMA. Mak Uum berharap kedua anaknya kelak bisa menjadi dokter atau guru, agar nasibnya tidak seperti dirinya.

“Alhamdulillah, waktu mendaftar, kedua anak saya dibayarin sama orang. Tapi selanjutnya saya sendiri yang membayar semua biaya sekolahnya. Mudah-mudahan saya bisa membiayainya sampai lulus, entah bagaimana caranya. Sekarang saja ijazah SMP Nur Alam ditahan pihak sekolah, karena masih ada tunggakan 300 ribu yang belum dibayar,” kata Mak U’um.

Mak U’um berusaha tegar. Tapi satu hal merisaukan hatinya. Ia mendengar selentingan kalau tanah yang ditempatinya bersama puluhan keluarga miskin lain akan dibersihkan. Konon, akan dibangun sebuah komplek perumahan di atasnya.

“Kalau sampai digusur, Mak tidak tahu harus pindah ke mana lagi,” ujar nenek kita penuh prihatin. (LHZ)

http://www.eramuslim.com/hikmah/dhuafa/umiyati-tak-mau-menyerah-pada-keadaan.htm