Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts

21.521 Pesantren Masih Terapkan Kurikulum Sendiri


JAKARTA--Sebanyak 21.521 pondok pesantren yang tersebar di Indonesia, hingga kini masih menerapkan pembelajaran atau kurikulum sendiri, sesuai dengan kehendak pendiri atau ustadznya. Pola seperti ini, akan menghasilkan lulusan pesantren yang beragam jenis kemampuan.

"Dari semua pesantren yang terdaftar tahun 2008, pola pembelajarannya sendiri-sendiri, sesuai dengan pemilik atau kiyai pesantren tersebut. Sehingga hal tersebut tidak akan terarah," kata Direktur Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama (Depag), Choirul Fuad Yusuf, di Jakarta, Senin (7/12).

Dari 21.521 pesantren baik yang sudah berkualifikasi maupun belum, masing-masing menjalankan penyelenggaraan pendidikan agamanya berdasarkan kehendak pemilik atau kiyai panutannya. Menurut Fuad, beragamnya jenis pengajaran di berbagai pesantren karena keberadaan pesantren sendiri baru diakui sejak tahun 2003, setelah keluar Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Ia menyebutkan setiap pesantren memiliki variasi pembelajaran keagamaannya berdasarkan refrensi yang dimiliki dan dikuasai pemilik, ustadz dan kiyainya. Kondisi seperti ini, ungkap dia, akan menyulitkan para santri setelah selesai mondok di pesantren tersebut dalam menghadapi lingkungan masyarakat. "Kalau ia lulusan Mesin pasti bukunya yang dipelajari, begitu juga Madinah dan pesantren lainnya," ujarnya.

Padahal, ungkap dia, keberadaan pesantren di Indonesia dapat menjadi kekuatan yang nyata bagi bangsa dan negara dalam mengatasi persoalan umat di negeri ini. Pasalnya, keberadaan pesantren di Tanah Air sebenarnya sudah ada sejak 700 tahun silam (abad ke-13), dan sangat mengakar di masyarakat berbagai daerah. "Tapi, ironisnya baru 2003 kemarin diakui, belum lagi bicara kompetensi dan prasarana lainnya," jelasnya.

Untuk itu, ujar dia, Depag akan mulai menata kembali manajerial pesantren tersebut agar lebih terarah tujuan yang diharapkannya. Setidaknya, setiap pesantren maupun yang baru berdiri dapat berpedoman pada ketentuan yang akan diterbitkan Depag dalam waktu dekat.

Ke depan, Depag mulai memosisikan pesantren sebagai sarana belajar mendalami ilmu agama Islam (tafaqquh fiddiin) dan sebagai agen perubahan masyarakat (agent of community development). Ia mengharapkan dua sasaran ini akan terlaksana, sehingga pesantren tidak lagi dipandang sebelah mata, karena ia dapat mengembangkan potensinya di masyarakat, dan tidak menginginkan kekerasan dalam menerapkan ilmunya. mur/taq

http://www.republika.co.id/berita/94080/21_521_Pesantren_Masih_Terapkan_Kurikulum_Sendiri

Racun Liberalisasi untuk Pesantren


Penjinakan lembaga pendidikan Islam bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Pemerintah AS pernah memberi bantuan pendidikan bagi pesantren dan madrasah di Indonesia sebesar US$ 157 juta melalui Departemen Agama. Selain melalui pesantren, negara asing juga melibatkan dan mendanai kelompok-kelompok Islam yang selama ini berkedok 'Islam moderat', seperti kelompok JIL dengan berbagai institusinya.

Masih segar dalam ingatan, ketika pemerintah Indonesia –tatkala Menteri Agama dijabat Munawir Sjadzali– bersama Pemerintah Kanada (diwakili Duta Besar Kanada untuk Indonesia) pernah menandatangani naskah perjanjian kerjasama budaya di bidang Kajian Islam (11 Mei 1990). Di pihak Kanada, yang melaksanakan perjanjian kerja sama tersebut adalah The Institute of Islamic Study, McGill University, Montreal, Kanada.

Program studi yang ditawarkan pihak Kanada adalah mengirimkan 75 orang Indonesia yang terdiri dari dosen dan alumni IAIN untuk menyelesaikan program pasca sarjana di Universitas McGill, Kanada, lima orang diantaranya mengikuti program doktor, sedang 20 orang lainnya mengikuti program master.

Selain program studi, Pemerintah Kanada menawarkan IAIN bantuan untuk mengelola dua perpustakaan besar IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Jakarta, termasuk IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pemerintah juga menawarkan untuk mengirimkan dosen tamu (orientalis) ke Indonesia secara berkala, untuk memberikan kuliah ilmiah secara intensif tentang Islam bagi mahasiswa program pasca sarjana di berbagai IAIN, khususnya IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Dalam rangka akselerasi, Pemerintah Indonesia, melalui Depag juga bekerja sama dengan Universitas Negeri Leiden, Belanda melalui sebuah lembaga NGO Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS). Di universitas ini telah lama diadakan studi Islam, termasuk bidang sejarah dan kebudayaan Islam. Kerja sama itu berlangsung dari 1989-1994. Tujuan INIS adalah pengembangan penataran tenaga ahli Depag dan Univesitas Islam Negeri.

Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya: memberikan sarana penelitian kepada sarjana-sarjana Islam di Leiden, Belanda; memajukan koleksi-koleksi kepustakaan Universitas-universitas Negeri Islam dengan cara menyediakan sejumlah buku dan majalah periodik dalam bidang Islam setiap tahunnya. (Adhes Satria)

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=933:racun-liberalisasi-untuk-pesantren&catid=82:inkit&Itemid=199

Mursyid Tarekat K.H. Asrori Utsman Meninggal Dunia


SURABAYA--Mursyid (guru) Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Jawa Timur dan pengasuh Pesantren Al-Fitroh, Kedinding Lor, Semampir, Surabaya, K.H. Ahmad Asrori Utsman Al-Ishaqi, Selasa (18/8), pukul 04:03 WIB, meninggal dunia.

"Kami kehilangan ulama dan guru yang aktif mengembangkan ajaran 'Ahlussunnah wal Jamaah' melalui tarekat," kata Wakil Katib Syuriah PW NU Jatim, K.H. Abdurrahman Navis Lc, didampingi Wakil Sekretaris PW NU Jatim, H.A. Sujono.

Menurut Navis, kiai Asrori merupakan putra keenam dari mursyid tarekat K.H. Utsman yang merupakan generasi penerus ayahandanya untuk mengajar tarekat kepada masyarakat, sehingga jemaahnya mencapai puluhan ribu orang.

"Beliau memang sudah lama sakit, bahkan akhir-akhir ini beliau sudah tidak boleh keluar rumah, karena komplikasi penyakit yang dideritanya. Tapi beliau selalu hadir dalam kegiatan PW NU Jatim, meski bukan pengurus struktural, karena itu kami sangat kehilangan," katanya.

Ia menilai, kiai Asrori merupakan ulama kharismatik yang ihlas dan jujur dalam mengembangkan tarekat, karena itu jemaahnya berasal dari berbagai kalangan mulai dari petani hingga pejabat, bahkan dia tidak membedakan penghormatan kepada jemaah yang bertamu.

"Beliau sebenarnya masih muda, karena usianya tidak terpaut terlalu jauh dengan Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi, namun beliau mampu menyatukan umat dari seluruh Jawa hingga Jakarta dan Asia Tenggara lewat tarekat. Kalau ceramah, beliau sangat menyejukkan," katanya.

Almarhum mengasuh ratusan santri di Pesantren Al-Fitroh yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare yang memiliki bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri, dan bangunan masjid yang cukup besar.

"Rencananya, beliau dimakamkan sehabis Shalat Zuhur," katanya. ant/taq

http://www.republika.co.id/berita/69993/Mursyid_Tarekat_K_H_Asrori_Utsman_Meninggal_Dunia

Ketika Titah Tak Bertuah

Para kyai menyerukan umat Islam untuk memilih pasangan capres tertentu, tapi umatnya memiliki pilihan lain. Hilangkah kredibilitas ulama di mata umat?



MediaUmat- Di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur yang diasuh oleh KH Sholahudin Wahid, pasangan JK-Wiranto memperoleh 98 suara, sementara SBY-Boediono 141 suara, dan Mega-Prabowo sembilan suara. SBY-Boediono juga menang di TPS 9 yang berdekatan dengan rumah KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU di Jl Cengger Ayam, Mota Malang. Hal yang sama terjadi di TPS dekat rumah Ketua PWNU Jatim KH Mutawakil Alallah di Desa Karang Bong, kec. Pajarakan, Kab Probolinggo Jawa Timur.

Padahal semua orang tahu, bahwa Nahdlatul Ulama adalah salah satu pengusung pasangan JK-Wiranto. Ormas terbesar di Jawa Timur itu beberapa hari sebelum pilpres berlangsung mengadakan pertemuan para ulama dan kyai sepuh NU. Tak tanggung-tanggung, mereka ini adalah tokoh-tokoh yang tak asing lagi di kalangan NU di antaranya KH Muchid Muzadi (Jember), KH Zainuddin Jasuli (Ploso, Kediri), KH Abdullah Faqih (Tuban), KH Fawaid As'ad (Sidoarjo Situbondo), KH Achmad Subadar (Pasuruan), KH Hisyam Syafaat (Banyuwangi), KH Ubai-dillah Faqih (Langitan), dan KH Khotib Umar (Jember).

Mereka sepakat memberi dukungan pada kandidat presi-den Jusuf Kalla. Alasannya antara lain Jusuf Kalla masih aktif sebagai Mustasyar Pengurus Wilayah NU Sulawesi Selatan, dan ia merupakan satu-satunya kader NU yang maju dalam pilpres mendatang.

“Jadi ulama/masyayich ponpes dan tokoh NU Jatim sepakat memilih JK-Wiranto. Dan menyerukan pada seluruh umat Islam di Jawa Timur khususnya warga NU agar bersatu mengikuti langkah ulama demi keutuhan NU dan keselamatan aqidah Islam aswaja," ujar Mutawakil.

Sebelum itu Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjadi salah satu bintang iklan yang memuji kepemimpinan dan figur capres Jusuf Kalla. Demikian juga pada saat Rapat Kerja Nasional Muslimat Nahdlatul Ulama di Makassar pada Sabtu (30/5), ia secara terbuka menyampaikan harapannya agar pasangan calon presiden koalisi Partai Golkar dan Partai Hanura, Jusuf Kalla Wiran-to terpilih.

Tidak hanya NU, Muham-madiyah pun tak ketinggalan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin memberikan sinyal kepada warga Muham-madiyah agar memilih pasangan nomor urut tiga tersebut.

Seruan ini disampaikan saat ia menghadiri Sidang Tanwir Aisyiah (organisasi sayap Mu-hammadiyah) kedua di Univer-sitas Muhammadiyah Yogya-karta, Jumat (12/6). Saat hendak memberikan sambutan Din me-nirukan slogan JK, “Saya tidak akan berbicara panjang, karena lebih cepat lebih baik,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta sidang.

Selain itu, Din menyerukan kepada seluruh warga Muham-madiyah agar tidak golput dan memilih pasangan calon yang memenuhi sembilan kriteria. Beberapa di antaranya, memiliki jiwa kenegarawanan, berkarakter kuat antara kata dan perbuatan, memilivi visi kebangsaan, dan bersikap akomodatif terhadap umat Islam.

“Saya tidak mau menyebut-kan nama karena saya tak ingin Muhammadiyah menjadi alat politik. Namun, warga Muham-madiyah sudah tahu siapa yang harus dipilih,” tandasnya.

Di luar organisasi besar itu, banyak ormas Islam memberikan dukungannya. Namun nyatanya dukungan itu ternyata tak mem-buahkan hasil ketika pilpres berlangsung.
Umat Islam tak mengikuti arahan tokoh-tokoh tersebut. Nasib serupa juga dialami pasangan Mega-Prabowo yang juga mencoba memasang dai sejuta umat Zainuddin MZ dan beberapa tokoh pesantren. Mereka mempunyai pilihan tersendiri, yakni SBY.

Kredibilitas Menurun?



Pengamat politik dari Unpad Djadja Saifullah menilai, kenyataan itu tidak bisa dikaitkan langsung dengan NU dan Muhammadiyah. Menurutnya, ini masalah figuritas.

Umat Islam tidak begitu kenal dengan JK, dibandingkan dengan SBY yang sudah membangun opini lebih lama. ”Bukan berarti NU dan Muhammadiyah tidak solid lagi.

Mereka tetap NU, mereka tetap Muhammadiyah. Tapi kan mereka tidak mau nurut sama JK. Karena JK ini kalah opini dibanding SBY,” jelasnya.

KH Ali Mustafa Ya'kub punya penilaian yang agak berbeda. Menurutnya, NU, Muhammadiyah oleh warganya sendiri hanya dianggap sebagai ormas saja. Oleh karena itu bagi mereka masalah politik adalah wewenang masing-masing warga. Apalagi pernyataan itu sering mereka dengarkan dari para pemimpinnya bahwa organisasinya adalah lembaga yang bukan politik. Organisasinya hanyalah organisasi keagamaan, pen-didikan. ”Jadi urusan politik diserahkan kepada masing-masing warganya,” jelas imam besar Masjid Istiqlal ini.

Nah, pemahaman ini sudah mengakar dan menjadi pegangan bagi warga ormas-ormas itu sehingga pimpinan ormas dianggap tidak memiliki otoritas untuk memberikan arahan politik. Jadi, menurutnya, ini bukan indikasi bahwa warga ormas Islam itu tidak taat lagi kepada pemimpinnya. Apalagi MUI juga tidak pernah memberikan fatwa dengan menyebutkan nama yang harus dipilih sebagai pemimpin bangsa. ”Jadi kecilnya suara JK-Win itu sangat mungkin karena kemungkinan yang kedua itu,” kata pakar hadits tersebut.

Berbeda dengan keduanya, KH Abdurrahman Khudori, pimpinan Ponpes Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah tak memungkiri bahwa kepercayaan warga NU terhadap kyai sudah menurun. ”Yaa.. rusaknya NU sendiri terutama sejak KH Hasyim Muzadi mencalonkan diri jadi wakil presiden pada 2004 lalu. Mestinya NU ini independen. Tapi sayangnya, mulai 2004 itu kan malah diarahkan untuk dukung mendukung calon capres-cawapres,” katanya.

Faktor penyebabnya, menurutnya, karena memang telah memudarnya ideologi, kurang memahami lagi idealismenya, akidah. ”Sekarang ini dianggapnya memilih partai, presiden tidak ada sangkut pautnya dengan akhirat. Dianggapnya ini hanya urusan dunia saja. Padahal kehidupan kita di dunia ini kan untuk mengumpulkan bekal di akhirat. Kalau mau bahagia di akhirat kan harus memilih kepemimpinan yang baik,” tandasnya.

Djadja yakin di tengah masyarakat masih banyak tokoh-tokoh yang masih tetap mempertahankan ideologi Islam. Hanya saja mereka itu tidak terjamah oleh media massa. ”Mereka itu tetap mempertahankan Islam tidak tergiur dunia,” tandas Guru Besar Unpad ini.[] humaidi


http://www.mediaumat.com/content/view/733/2/

Ponpes Darul Mughni Giatkan Beasiswa

BOGOR--Pondok Pesantren (Ponpes) "Darul Mughni al-Maaliki" Bogor, Jawa Barat melaksanakan program tanggung jawab sosial (CSR/corporate social responsibility) dalam bentuk pemberian kesempatan beasiswa kepada masyarakat sekitar maupun luar daerah.

"Kami juga melakukan pengiriman mubaligh dari Ponpes ke berbagai pelosok dan perkampungan di wilayah Kabupaten Bogor bagian timur dan beberapa kawasan lainnya," kata Pengasuh Ponpes "Darul Mughni al-Maaliki" KH Mustofa Mughni di Bogor, Jabar, Senin.

Menurut dia, bagi komunitas Ponpes kepedulian sosial atau sering dikenal dengan CSR adalah "ruh" dan nilai itulah yang melandasi lahirnya pesantren dan membuat pesantren mengakar kuat di tengah masyarakat.

"Keberadaan pesantren hingga kini tetap eksis karena itulah modal sosial terpenting pesantren, meski terus mengalami proses perubahan zaman," kata Mustofa Mughni.

Sementara itu, wujud kepedulian sosial juga dilakukan Ponpes "Darul Muttaqien" Parung Bogor.

Bentuknya, kata pengasuh Ponpes tersebut, KH Mad Rodja Sukarta, berupa program yang berhubungan langsung dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya warga sejumlah desa yang berada di kawasan pesantren.

Ia menjelaskan program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan Ponpes yang berdiri di atas lahan 12 hektare ini sangat variatif, mulai aspek ekonomi, pertanian, pendidikan hingga agama.

"Kami coba menggulirkan program sosial dengan ciri khas pesantren," katanya.

Ponpes menurut dia, lahir bukan hanya untuk melayani para santri yang mukim di pondok, namun juga membina masyarakat sekitar di mana pesantren berada.

Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir, Ponpes yang dipimpinnya terus meningkatkan partisipasi dalam pembinaan kepada masyarakat sekitar. ant/kem

http://www.republika.co.id/berita/60626/Ponpes_Darul_Mughni_Giatkan_Beasiswa

Pesantren Darul Muttaqien Parung Mulai Gunakan Kitab Kuning Digital


Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Muttaqien Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memulai inovasi kitab kuning digital




Hidayatullah.com-- Ribuan kitab kuning versi perangkat lunak ini awalnya adalah karya kaum muda Nahdlatul Ulama (NU) yang tengah studi di Jepang.

"Pustaka digital yang dikembangkan dalam portal Ponpes kami nantinya oleh para pengelolanya akan dimasukkan ribuan kitab dalam tiga versi bahasa, yakni bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Bahkan, dalam pustaka tersebut juga telah tercantum ribuan kitab kuning (kitab klasik) versi software, sebuah karya kaum muda NU yang kini studi di Jepang," kata pengasuh Ponpes Darul Muttaqien K.H. Mad Rodja Sukarta di Bogor.

Mad Rodja Sukarta, yang juga salah satu tokoh NU di Kabupaten Bogor itu, mengemukakan, ponpes yang diasuhnya itu menunjukkan perhatian besar dalam mengembangkan akses internet untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar lebih kurang 1.200 santri.

Ia mengatakan, pengembangan pustaka digital tersebut merupakan tanggapan terhadap tuntutan modernisasi dan perubahan zaman. Dalam kondisi semacam itu, kalangan pesantren berada dalam posisi harus dapat menguasai teknologi informasi (TI) dan juga komunikasi, agar tidak tertinggal perkembangan.

Ia menegaskan, melalui adopsi TI, penyelenggarakan pendidikan di pesantren akan semakin efisien dan berkualitas. Guna mendukung pengembangan pustaka digital, salah satu ponpes unggulan terbaik di Jabar ini menyediakan sebuah gedung khusus yang terletak di areal komplek pesantren.

Selain itu juga tersedia puluhan unit komputer yang dapat mengakses internet, yang dapat dilakukan oleh para peserta didik maupun santri. [dep/www.hidayatullah.com]

Dubes Jepang: Pesantren Bagian Penting Hubungan Jepang-Indonesia


DEPAG.GO.ID Dubes Jepang Mr. Kojiro Shiojiri didampingi Menag Dr.H. Maftuh Basyuni memperoleh penjelasan tentang maket gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Syarif Hidatullah.

CISAAT, SUKABUMI -- Duta Besar (Dubes) Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri mengemukakan bahwa pondok pesantren (Ponpes), yang merupakan lembaga pendidikan untuk menggembleng generasi muda menjadi bagian penting hubungan kedua negara.

"Mengapa saya datang ke pesantren, karena bagi kami, sumberdaya manusia (SDM) bangsa Indonesia juga dilahirkan dari lembaga pesantren ini, dan ke depan tentunya amat penting bagi terjalinnya hubungan baik Jepang dan Indonesia," katanya di Ponpes Sunanul Huda, Kampung Cikaroya, Desa Cibolang Kaler RT52/RW11, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat sore.

Usai memberikan kuliah umum dengan tema hubungan Indonesia-Jepang di Ponpes yang memiliki 1.200-an santri mulai TK, SD, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan pesantren "salafy" -- kegiatan belajar ilmu-ilmu keagamaan dengan mempelajari bahasa Arab dan kitab-kitab kuning--Dubes Kojiro Shiojiri memberikan waktu kepada pers untuk wawancara.

Jepang secara tradisionil menjadikan pos Dubesnya antara lain di Washington, London dan Jakarta serta Seoul sebagai tempat penugasan yang dinilai penting bagi kepentingan negeri tersebut.

Berkaitan dengan kunjungannya ke Ponpes, ia lebih lanjut mengatakan bahwa sejak diberi amanah menjadi Dubes di Indonesia, dirinya mengaku berkeinginan untuk sepekan sekali bisa bertemu berbagai kelompok masyarakat di Indonesia, termasuk komunitas Ponpes.

"Kalau memungkinkan, saya ingin sekali sepekan sekali bisa bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat di Indonesia," katanya didampingi Sekretaris III bidang politik Kedubes Jepang di Jakarta Akira Saito dan peneliti sekaligus penasehat Atsushi Sano.

Menurut dia, sebagai bagian dari lembaga pendidikan yang khas Indonesia, pesantren dilihatnya telah menjadi bagian penting dan tak terpisahkan munculnya SDM berkualitas.

"Pertanyaan pelajar dan santri di Ponpes Sunanul Huda saat dialog menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di lembaga semacam ini terlihat jelas. Saya kagum dengan pertanyaan kritis yang muncul," katanya mengapresiasi sesi dialog dengan pelajar dan santri usai dirinya memberikan kuliah umum mengenai perkenalan pada budaya Jepang.

Dikemukakan pula bahwa kedatangannya ke pesantren, tidak lain tujuan utama yang hendak dicapai adalah kian bertambahnya pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai Jepang, dan juga sebaliknya bahwa ia ingin memperkenalkan budaya Indonesia yang majemuk kepada bangsa dan rakyat Jepang.

"Terus meluasnya jalinan kerjasama di berbagai tingkatan kedua negara, itulah hal esensial yang ingin kami tuju melalui serangkaian pertemuan dengan berbagai kelompok masyarakat di Indonesia," katanya.

Dubes Jepang untuk Indonesia sejak April 2008 menggantikan Shin Ebihara, sebelum berkunjung ke Sunanul Huda di Kabupaten Sukabumi ini sebelumnya juga mengunjungi beberapa Ponpes lainnya.

Ia menyebut diantaranya Ponpes Darunnajah di Jakarta, dan juga telah berkunjung ke lembaga pendidikan Islam modern yakni perguruan Al-Azhar yang juga berada di Jakarta. "Kalau ada Ponpes lain di Indonesia ingin berkomunikasi dengan kami, silakan untuk menjadwalkan waktunya dengan staf-staf kami, karena saya memang ingin membuka jalinan komunikasi lebih luas," katanya.

Sehubungan dengan keinginannya menjalin komunikasi dengan komunitas Ponpes, ia juga mengatakan bahwa ke depan akan mengupayakan ditambahnya beasiswa dari Jepang kepada pelajar dan mahasiswa di Indonesia untuk belajar di negeri "Matahari Terbit" itu.

Menurut dia, sejauh data yang diketahuinya hingga tahun 2008 dari 1.500-an warga Indonesia yang belajar di Jepang, jumlah yang mendapatkan beasiswa sebanyak 150-an orang. Jumlah itu dinilainya belum proporsional dengan besarya penduduk Indonesia sehingga dirinya berkomitmen untuk bisa menambah porsi beasiswa dimaksud. "Untuk tahun 2009 kita akan usahakan ada penambahan bagi kesempatan beasiswa generasi muda Indonesia untuk belajar di Jepang," katanya.

Masih komitmen

Sementara itu, pimpinan Yayasan Sunanul Huda --yang mengelola semua lembaga pendidikan di Ponpes itu--KH E Solahudin Al-Ayyubi menjawab pertanyaan wartawan seberapa besar bantuan Jepang kepada Ponpes itu, ia menjelaskan bahwa karena kedatangan Dubes Jepang untuk Indonesia baru pertama kali, yang intinya adalah perkenalan, maka rencana bantuan masih sebatas komitmen.

"Komitmen yang kejelasannya sudah ada adalah kemungkinan mendapat beasiswa bagi pelajar dan santri di sini, sedangkan bantuan lain semisal dana 'block grant', mungkin bisa dibahas pada pertemuan dengan staf Kedubes lainnya," katanya.

Ia mengaku bahwa kedatangan Dubes Jepang ke Ponpes Sunanul Huda, salah satunya karena mendengar informasi bahwa selama ini, Australia telah memberikan bantuan dalam bentuk dana "block grant". "Sehingga pihak Jepang kemudian setelah tahu mengenai hal itu menyatakan, mengapa kami (Jepang) yang punya hubungan kesejarahan dengan Indonesia tidak membantu juga," katanya.

Pihaknya berharap setelah kunjungan perdana itu, ke depan akan ada komitmen yang lebih kongkrit mengenai bantuan dimaksud, yang tujuannya adalah untuk semakin meningkatkan kualitas SDM di lingkungan Ponpes, agar bisa menyelaraskan dengan kemajuan global sehingga komunitas pesantren bisa mengikutinya. Dalam kunjungan ke Ponpes itu, Dubes Kojiro Shiojiri dan rombongan disambut Bupati Sukabumi H Sukmawijaya dan pimpinan Ponpes Sunanul Huda.ant/taq

http://www.republika.co.id/berita/44684/Dubes_Jepang_Pesantren_Bagian_Penting_Hubungan_Jepang_Indonesia

Nyantri untuk Jadi Pengusaha


Biasanya, pesantren selalu identik dengan kitab kuning, sarung dan kopiah. Tapi pesantren ini beda. Ia mengajarkan kepada santri-santrinya untuk jadi pengusaha

Hari masih pagi ketika para santri itu sibuk menata barang-barang sembako. Bergegas mereka membawanya ke warung-warung di sekitar pesantren mereka.

Ada pula santri yang sibuk membawa pamflet publikasi penjualan hewan Qurban untuk ditempel di kampusnya masing-masing saat kuliah. Maklum, dalam waktu dekat mereka akan membuka stan penjualan kambing. ”Rencananya dibuka tanggal 21, di daerah Timoho dekat kantor Walikota Yogyakarta,” ujar Adi, salah seorang pengurus yang mengelola usaha kambing di pesantren ini.

Slogan Mengaji Menuju Santri Enterpreuner ternyata bukan hanya isapan jempol bagi Pesantren Ekonomi Islam Terpadu Daarul Falah (PEIT DAFA). Pesantren yang baru berumur satu setengah tahun ini membuktikan kerjanya dengan terbentuknya beberapa unit usaha yang berhasil didirikan oleh para santri dan pengelola.

Kini pesantren ini sudah memiliki Baitul Mal wa Tamwil (BMT), balai pengobatan, warung sembako, usaha musiman penjualan hewan Qurban, jasa pengiriman barang dan beberapa unit usaha lainnya segera diwujudkan.

Pesantren yang terletak di Desa Nglaren, Yogyakarta ini menarik untuk ditelusuri, karena memiliki konsep pendidikan yang unik dibanding pesantren pada umumnya. Ide pesantren yang mempunyai visi untuk membentuk para entrepreneur ini lahir dari beberapa alumni pesantren mahasiswa sebelumnya.

“Cita-cita membangun sebuah format baru institusi pendidikan ekonomi Islam dan wirausaha secara terpadu, sudah sangat lama ingin direalisasikan,” tutur Farij, salah seorang alumni Daaru Hira’, cikal bakal PEIT DAFA.

“Tapi yang terjadi adalah wacana yang terbentur kendala-kendala teknis yang kontraproduktif,” tambah Farij.

Namun seiring waktu berjalan, gagasan ini lantas disampaikan ke berbagai pihak. Salah satunya kepada Priyonggo Suseno, alumni Universitas Lougborough, Inggris dan Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Priyonggo sangat senang dengan gagasan cemerlang dari para alumni Pondok Pesantren Mahasiswa Daaru Hira’–sebelum menjadi Pesantren Darul Falah–untuk memadukan konsep pendidikan Ekonomi Islam dengan penguatan aspek Dirasah Islam dalam sebuah bingkai Pesantren yang secara riil mengajarkan antara sisi teori dan praktik secara langsung.

Dengan demikian, hasil yang diharapkan adalah mencetak sosok alumni santri yang amanah, beretika dalam menjalankan kehidupan berekonomi. Selain kokoh dalam perencanaan dan aktivitas usahanya, dimana terformat sebagai entrepreuner (wirausahawan) sejati dan di samping itu pula berbagai tawaran konsep dan gagasan lainnya.

Menurut Priyonggo, betapa sulit mencari pengusaha-pengusaha yang yakin dengan kejujuran bahwa usahanya akan berhasil. “Dengan latar belakang itulah, kami dan teman-teman memberanikan diri untuk bersama-sama berusaha membangun PEIT DAFA, tepatnya 1 Oktober 2005. Fokus pesantren ini adalah sisi ekonomi Islam dan wirausaha.

Priyonggo melanjutkan, “Implementasi nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan semakin mendapat perhatian masyarakat.” Direktur PEIT DAFA yang juga menjabat Ketua Ahli Ikatan Ekonomi Islam Yogyakarta ini menambahkan, kajian dan praktik ekonomi yang berlandaskan syariah Islam sudah menjadi tuntutan sebagian masyarakat yang sudah mulai membaca praktik-praktik ekonomi yang mengabaikan aspek moral.

Andi seorang mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi Negeri terkenal di Yogyakarta yang nyantri di pondok ini, sangat antusias. Menurutnya, di Yogyakarta cuma pesantren ini yang punya konsep perpaduan ilmu agama dan ekonomi.

“Sejauh ini para santri juga punya usaha sendiri, karena memang di pesantren ini oleh pengelola di motivasi terus,” tambahnya.

Rijal yang juga santri PEIT DAFA, menuturkan tentang kesuksesan usaha pakaian batiknya. Saat ini ia menangani Bursa Butik Indonesia Timur (BBIT). Rijal menjadi penyuplai batik-batik dari Yogyakarta untuk daerah Indonesia timur.

“Lumayan Mas keuntungannya. Setiap transaksi, saya bisa beli HP baru,” ujar Rijal.

Ia menuturkan, dorongan usaha ini memang berasal dari pesantrennya sekarang. Ia juga mengaku ke depannya akan kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, sehingga dari sekarang harus belajar usaha.

“Nggak mungkin mengandalkan orang tua saja, biaya di sana kan lumayan mahal,” tambah Rijal.

Selain mendapatkan teori saat mengaji di kelas, santri juga mendapatkan diskusi rutin forum bisnis. Forum tersebut menjadi ajang berbagi ide tentang bisnis. Bahkan, setiap santri diharuskan presentasi tentang Bussines Plan-nya.

“Harapannya forum-forum seperti ini bisa terus memotivasi para santri untuk memiliki usaha yang matang dan terencana,” ujar Farid, pengelola PEIT DAFA.

Sambutan masyarakat terhadap pesantren ini juga sangat baik. Mereka juga menyambut baik sistem ekonomi alternatif yang berbasis pada nilai-nilai Islam, karena lebih adil dan tentram, tutur salah seorang warga yang tinggal di sekitar pondok pesantren.

Usaha sektor riil juga menuju kepada penerapan nilai-nilai Islam. Berkembang beberapa perhotelan yang berbasis nilai Islam, bebas dari minuman keras, prostitusi, dan beretika baik.

Perkembangan bisnis syariah ini jelas memerlukan kesiapan sistem yang kokoh dan sumberdaya manusia yang handal. Saat ini sudah saatnya masyarakat mempersiapkan sumberdaya manusia yang siap dalam mengarungi bisnis yang semakin kompetitif dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Islam.

Lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, perlu mempersiapkan sejak dini sumberdaya-sumberdaya manusia yang berkarakter nubuwwah sebagaimana yang diharapkan oleh setiap perekonomian: memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai (fathanah), memiliki integritas terhadap penegakan kebenaran (shiddiq), memiliki kepekaan terhadap perubahan keadaan, informatif dan komunikatif (tabligh) dan memegang teguh komitmen yang telah direncanakan dan disepakati (amanah).

Pesantren yang didukung pula oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Purnomo, dimaksudkan untuk membantu masyarakat mempersiapkan sumberdaya mahasiswa yang memiliki keahlian dan komitmen untuk menerapkan ilmunya secara benar, adaptif dan bisa dipercaya umat. Di sela-sela kuliahnya, mahasiswa perlu mendapatkan suntikan ruhani dan keahlian terkait dengan bagaimana mempraktikkan ilmunya dalam masyarakat secara benar.

Tertarik untuk nyantri sekaligus jadi pengusaha?

Datang saja ke pesantren ini.

Edo Segara (Yogyakarta)
http://sabili.co.id/index.php/200903301404/Jaulah/Nyantri-untuk-Jadi-Pengusaha.htm

Robohnya Surau Kami

Krisis Ulama di Serambi Makkah
Selagi ada ketakutan kehilangan sesuatu yang dicintai, maka sulit untuk mewujudkan harapan itu




Padang-Ranah Minang, khususnya di Padang Panjang terjadi krisis ulama. Padahal, disinilah gudang dan tempat lahirnya ulama-ulama besar, seperti Buya Hamka, Rahmah El Yunusiyyah, Zainuddin Labay El Yunusy, termasuk Imam Zarkasyi (pendiri Gontor-Ponorogo) yang belajar di Perguruan Thawalib-Padang Panjang.

Di kota Serambi Makkah ini pula, muncul pejuang syariat Islam Haji Miskin dibantu Haji Piobang dan Haji Sumanik. Mereka dikenal sebagai Laskar Kaum Paderi.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengatakan, Ranah Minang dulu dikenal sebagai gudang ulama, banyak ulama besar yang menimba ilmu di Kota Serambi Makkah ini.

Sebut saja, Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Ketika itu, beliau belajar di Perguruan Thawalib, Padang Panjang Sumatera Barat. Setelah khatam, Imam Zarkasyi pun memindahkan “Thawalib” ke Gontor yang dikenal hingga seluruh Nusantara.

“Surau yang dulu menjadi simbol kekuatan pendidikan Islam kini seolah runtuh. Namun orang awak sendiri membantahnya: tidak runtuh, masih ada sisa-sisanya.

Meminjam Novel AA Navis, ‘Robohnya Surau Kami’ sepertinya menjadi sindiran, bahwa slogan Adat Basandi Syara dan Syara basandikan Kitabullah telah mengalami pergeseran,” ujar Din yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Padang Panjang yang dulu dikenal sebagai gudangnya ulama, kini seakan ditelan zaman. Kenapa Padang Panjang terjadi krisis ulama?

Menurut Pimpinan Pesantren Modern Perguruan Diniyyan Putri, Fauziah Fauzan, boleh jadi ada pergeseran budaya yang begitu kuatnya. Walaupun ada semboyan adat basandi syara dan syara basandi kitabullah, tapi dalam implementasinya, tidak sepenuhnya berjalan.

“Kenapa krisis ulama? Karena lembaga yang mencetak ulama itu juga mengalami penurunan,” tukas Ibu Zizi, begitu beliau akrab disapa.

Lalu kenapa sulit mencetak ulama sekaliber Buya Hamka?

“Selagi ulamanya hubbudun ya (cinta dunia) tak akan bisa melahirkan ulama yang betul-betul ulama. Selagi ada ketakutan kehilangan sesuatu yang dicintai, maka sulit untuk mewujudkan harapan itu.

“Selagi belum bisa mengikuti jejak Nabi Ibrahim dan Ismail mustahil mencetak ulama yang betul-betul warasatun anbiya (pewaris Nabi). Itulah karenanya, para pewaris Nabi harus siap kehilangan orang yang paling dekat dan dicintai. Setidaknya, ini yang perlu kita tanamkan kepada generasi sekarang,” kata Zizi.

Menurut Zizi, kita perlu mendefinisikan kembali makna ulama. Ulama itu siapa? Jangan orang tamat pendidikan agama, ceramah kesana-kemari sudah dikategorikan ulama.

“Yang saya pahami, ulama sebagai pewaris Nabi harus mewarisi apa yang dilakukan seorang Nab saw. Yang jelas, seorang ulama harus merubah paradigma berpikir umat, yakni dari jahiliyah menjadi hidayah, dari yang tidak mengenal Tuhan menjadi mengenal Allah, dan berislam kaffah. Itu yang pertama.”

Kedua, ulama harus membangun peradaban, yakni dengan merubah kultur, membangun militer, politik pemerintahan. Dan ketiga, membangun ekonomi agar umat menjadi sejahtera.

Kita bisa mencontoh apa yang dilakukan walisongo. Setelah diajari bercocok tanam, membangun rumah, umat pun diajari agama. Begitu pula yang tingal di pesisir, umat diajarkan menjadi nelayan dan membuat perahu, lalu diajari agama.

“Jadi yang diajari bukan hanya ilmu agama, tapi cara hidup. Apa gunanya membaca al- Qur’an, kalau tidak bisa mendapatkan mahisah dan bagaimana memulai hidup. Apa yang terjadi sekarang adalah ‘ulama’ selalu rewel, mana honor saya sebagai penceramah. Ini menunjukkan dia hidup dari ceramah. Karena itu dia bukan ulama, hanya tukang ceramah. Inilah yang menjadi problem kita sekarang,” tutur Ibu Zizi.

Oleh ; Adhes Satria
http://sabili.co.id/index.php/200903211320/Liputan/Robohnya-Surau-Kami-1.htm

Bukan Malah Larut dalam Romantisme

Setidaknya terus mempertahankan generasi muda Minang agar tetap meramaikan surau untuk mengaji

Padang-Hal lain juga diungkapkan Sekretaris Pesantren Terpadu Serambi Mekkah, Ustadz Irwandi, betapa krisis ulama terjadi karena banyak luluan pesantren, begitu masuk IAIN, santri mulai kerasukan virus liberal.

“Kita prihatin, jika ada fenomena, orang tua mulai banyak yang memasukkan anaknya ke sekolah Kristen dengan alasan sarana-prasarananya memadai. Ditambah lagi, ada pesantren di Padang Panjang (Thawalib Gunung) yang kehilangan murid alias sepi, sehingga orang tua Muslim menjadi tak berselera memasukkan anaknya ke pesantren. Mungkin karena fasilitasnya tidak mendukung. Karena itu, saya berharap Padang Panjang harus punya sekolah atau Perguruan Islam yang representative,” kata Irwandi.

Sementara itu diungkapkan Walikota Padang Panjang dr. Suir Syam, tidak benar kalau Padang Panjang tak lagi melahirkan ulama-ulama handal.

Barangkali, kawan-kawan yang lain lebih kencang larinya, seolah kita tertinggal. Nah, dengan moment ijtima’ ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia III di Kota Padang Panjang ini, diharapkan bisa lebih memacu para ulama setempat untuk lebih giat belajar, dan mencetak generasi Islam di perguruan-perguruan Islam yang ada.

Sehingga muncul lagi ulama-ulama besar di Padang Panjang, seperti Buya Hamka yang lahir di Maninjau, tapi dibesarkan di Padang Panjang.

“Untuk mengembalikan Padang Panjang sebagai kotanya ulama, tergantung bagaimana lembaga pendidikan yang mencetaknya. “Bagaimana kesungguhan dan itikad baiknya,” kata Suir Syam.

Masyarakat Minang, khususnya di Kota Padang Panjang, tak cukup mengklaim “Kota Serambi Makkah” sudah sesuai dengan slogan idealnya. Sehingga, hanya larut dengan nostalgia masa lalu yang menyebut Padang Panjang pernah melahirkan ulama besar sekaliber Buya Hamka, Imam Zarkasyi, dan Rahman El Yunusiyyah.

Setidaknya ada upaya dari para pendidik, ulama, dan umara agar lebih sinergis untuk mengembalikan Padang Panjang sebagai tempat tujuan para santri belajar mendalami Islam. Paling tidak memberi motivasi, bahwa ulama besar akan muncul kembali di kota ini.

Dibutuhkan niat dan implementasi untuk melakukan perbaikan dan berbenah diri agar Padang Panjang tak sekadar histori dan nostalgia masa lalu.

Sehingga Gontor bukan satu-satunya tujuan santri belajar agama, tapi mereka bisa menjadikan Padang Panjang sebagai pilihannya. Perguruan Diniyyan Puteri, Perguruan Thawalib, Kauman Muhammadiyah bisa menjadi alternatif lahirnya ulama-ulama besar yang disegani.

Tantangan yang dihadapi ulama Minang sekarang ini adalah menjaga semboyan “Adat basandi syarak, syarak besandi kitabullah” agar tidak luntur.

Setidaknya terus mempertahankan generasi muda Minang agar tetap meramaikan surau untuk mengaji, sehingga kemaksiatan dan kristenisasi dapat terbentengi, akidah Islam pun terjaga.

Disinilah peran ulama, umara, dan masyarakat perlu bekerjasama agar Minangkabau tak kehilangan laskar-laskar Paderi yang gigih memperjuangkan syariat Islam.

http://sabili.co.id/index.php/200903211321/Liputan/Robohnya-Surau-Kami-2.htm

Perhimpunan Al-Irsyad Bangun Pesantren Internasional


Perhimpunan Al Irsyad berencana membangun Islamic International Boarding School atau pesantren internasional sebagai pilot project atau proyek percontohan bagi pembangunan pesantren serupa di seluruh wilayah Indonesia.

"Kami sudah memiliki tanahnya di sekitar Pondok Cabe, Tangerang, jadi DPP nanti yang akan membangun dan akan dijadikan sebagai proyek percontohan bagi pembangunan pesantren internasional di seluruh wilayah atau DPW serta DPC Al Irsyad," kata Ketua Umum Perhimpunan Al Irsyad Yusuf Utsman Baisa, dalam sambutannya setelah terpilih kembali sebagai Ketua Umum masa bakti 2009-2014 pada Muktamar pertama Perhimpunan Al Irsyad di Asrama Haji, Jakarta.

Selain, membangun proyek pembangunan pesantren, menurutnya, Perhimpunan Al Irsyad dalam waktu dekat akan disibukkan dengan Daurah-Daurah atau pelatihan-pelatihan bagi anggota atau kader Al Irsyad, dimana tahapan awal akan dilakukan pembinaan dan pemberkalan terhadap ketua DPC maupun DPW.

"Jika nantinya pelatihan untuk para Ketua DPW dan DPC selesai dilaksanakan, akan tiba gilirannya pelatihan untuk para guru atau pendidik serta da'i. Ini pekerjaan besar kita ke depan. Komitmen harus kita tumbuhkan mulai sekarang juga,'' jelasnya sekitar 300 peserta Muktamar yang berasal dari 106 DPC dan 18 DPW dari seluruh Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Sekjen Perhimpunan Al Irsyad terpilih, Ali Said Bamajbur mengajak, semua pihak dan umat untuk berfastabiqul khairat atau berlomba-lomba berbuat kebaikan. Ini pula salah satu 'goal' Muktamar pertama Perhimpunan Al Irsyad. "Muktamar ini yang mengedepankan dan mengajak semua pihak dan warga Al Irsyad untuk berfastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam beramal shaleh, beramal kebaikan," tandas Ali Said.

Ditambahkannya, misi Al Irsyad adalah fastabiqul khairat dengan amar makruf dan nahi munkar melalui berbagai program yang terarah. Yaitu di bidang pendidikan, dakwah, sosial dan kesehatan khususnya diklat bagi para kawula muda dalam rangka kaderisasi untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin Islam masa depan yang mumpuni.

"Lebih dari itu, Muktamar ini diharapkan sebagai konsolidasi nilai-nilai ke-Islaman, supaya mereka kembali pada Al Quran dan Hadits. Mereka ini pulang ke daerahnya masing-masing dengan semangat berdakwah lebih baik dari sebelumnya. Itu yang menjadi harapan kita dalam Muktamar," tandasnya.(nov)

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/perhimpunan-al-irsyad-mulai-bangun-pesantren-internasional.htm

Pesantren Darunnajah


K.H.ABDUL MANAF MUKHAYYAR


SEKILAS PERJUANGAN BELIAU

Setelah menikah K.H. Abdul Manaf Muhayyar muda pergi belajar ke berbagai tempat untuk mencari guru-guru baru dan terus berusaha untuk mendalami ilmu pengetahuan. Diantara gurunya saat itu adalah Kyai Zakariya dari Lampung dan Kyai Siddiq dari Bendungan Hilir. Setelah lama menimba ilmu dan pengalaman, beliaupun akhirnya terinspirasi untuk merintis/ membangun sebuah madrasah. Pada mulanya beliau mebangun madarasah di kawasan Palmerah yaitu diatas tanah seluas 500 m2, namun setelah berjalan 1 tahun lamanya madrasah ini digusur oleh pemerintah.

Hal itu tak menjadikannya putus asa dalam berjuang, melainkan semakin mengobarkan semangat dalam hatinya. Bahkan setelah penggusuran beliau menjual sebagian harta benda serta perhiasan istrinya untuk membeli lahan tanah seluas 7 ha yang berlokasi di kawasan Ulujami Tangerang Jawa Barat (Darunnajah sekarang).

Bersamaan dengan itu, dipersiapkan kader yang dimulai dari anak-anaknya sendiri, dimulai dari Saifuddin Arif dikirim ke gontor tahun 1961.Perjuangan tidak berhenti sampai disini, pada tahun 1965 datanglah seorang pemuda alumni Pondok Modern Gontor asal Cirebon yaitu yang sekarang dikenal dengan KH. Mahrus Amin. Seterusnya beliau tinggal bersama Kyai Manaf untuk kemudian bersama-sama berjuang merintis pesantren Darunnajah. Pada awal mulanya Darunnajah hanya memiliki sebuah surau kecil dan dihuni oleh 3 orang santri. Tahun berikutnya bertambah menjadi 9 orang santri, makin lama santripun semakin banyak hingga akhirnya dibangunlah 3 unit gedung madrasah atas bantuan dari Gubernur DKI saat itu (Ali Sadikin).

Dalam merintis pesantren tidak sedikit rintangan dan cobaan yang harus dihadapinya. Termasuk diantaranya ialah menghadapi orang-orang yang tidak senang dengan kehadiran pesantren Darunnajah. Bahkan beliau bersama K.H.Mahrus Amin sempat pula diusir dari daerah Ulujami. Semua itu tidak membuat Kyai Manaf pesimis dengan cita-cita luhurnya untuk terus mengembangkan pesantren. Karena dia yakin betul bahwa jika kita berjuang di jalan Allah maka Allah pun akan selalu menolong kita.

Diantara langkah-langkah strategis yang dilakukannya dalam merintis pesantren yaitu berkonsultasi dengan tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah setempat, dan memohon restu serta do'a dari para Kyai.

ISTIQOMAH DALAM BERJUANG

Sebesar apapun rintangan yang kita hadapi akan terasa mudah untuk diselesaikan jika kita mempunyai tekad bulat dan mampu beristiqamah. Demikian pesan yang disampaikan K.H.Abdul Manaf Mukhayyar ketika diwawancarai oleh reporter www.darunnajah.com. Wujud komitmen dan konsistensi mutlak dibutuhkan dalam perjuangan, hal inilah yang mengantarkan Abdul Manaf kecil menuju pintu kesuksesannya sebagaimana dulu yang beliau pernah cita-citakan yaitu untuk membangun pesantren.

Darunnajah merupakan monumen keberhasilannya dalam berjuang. Siapa pernah membayangkan Darunnajah yang dulunya hanya madrasah kecil bisa mencetak ribuan kader ummat Islam yang tersebar hampir diseluruh Nusantara? Bahkan kini sudah banyak berdiri pesantren-pesantren cabangnya sebagai upaya pengembangan Pendidikan ummat Islam.

Sampai sebelum akhir hayatnya beliau selalu menanamkan kepada para guru dan santri Darunnajah untuk selalu istiqamah dalam hidup terutamanya dalam shalat berjama'ah. Bahkan KH.Mahrus Amin (pimpinan pesantren) pernah berkata, bahwa kemajuan dan perkembangan Darunnajah berawal dari shalat berjama'ahnya.

Insya Allah

Wallaahu lam bisshowab

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami Jakarta Selatan

A. Periode Cikal Bakal (1942-1960)


Pada tahun 1942 K.H. Abdul Manaf Mukhayyar mempunyai sekolah Madrasah Al-Islamiyah di Petunduhan Palmerah. Tahun 1959 tanah dan madrasah tersebut digusur untuk perluasan komplek Perkampungan Olah Raga Sea Games, yang sekarang dikenal dengan komplek Olah Raga Senayan. Untuk melanjutkan cita-citanya, maka diusahakanlah tanah di Ulujami.

Tahun 1960, didirikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI), dengan tujuan agar di atas tanah tersebut didirikan pesantren. Periode inilah yang disebut dengan periode cikal bakal, sebagai modal pertama berdirinya Pondok Pesantren Darunnajah.

B. Periode Rintisan (1961-1973)

Pada tahun 1961 K.H. Abdul Manaf membangun gedung madrasah enam lokal di atas tanah wakaf. Ide mendirikan pesantren didukung oleh H. Kamaruzzaman yang saat itu sedang menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta. Untuk pengelolaan pendidikan diserahkan kepada Ust. Mahrus Amin, alumnus KMI Gontor yang mulai menetap di Jakarta pada tanggal 2 Februari 1961.

Karena banyaknya rintangan dan hambatan, maka pendidikan belum bisa dilaksanakan di Ulujami, tetapi dilaksanakan di Petukangan bersama beberapa tokoh masyarakat, diantarannya Ust. Abdillah Amin dan H. Ghozali, berkerjasama dengan YKMI, tanggal 1 Agustus 1961, Ust. Mahrus Amin mulai membina madrasah Ibtidaiyah Darunnajah dengan jumlah siswa sebanyak 75 orang dan tahun 1964 membuka Tsanawiyah dan TK Darunnajah.

Tahun 1970 ada usaha memindahkan pesantren ke Petukangan, tapi mengalami kegagalan. Dan usaha merintis pesantren pernah pula dicoba dengan menampung kurang lebih 9 anak dari Ulujami dan Petukangan, yakni antara tahun 1963-1964. Dan tahun 1972 menampung kurang lebih 15 anak di Petukangan, namun kedua usaha itu didak dapat dilanjutkan dengan berbagai kesulitan yang timbul.

Para periode ini, meskipun pesantren yang diharapkan belum terwujud, tetapi dengan usaha-usaha tersebut, Yayasan telah berhasil mempertahankan tanah wakaf di Ulujami dari berbagai rongrongan, antara lain BTI PKI saat itu.

C. Periode Pembinaan dan Penataan (1974-1987)

Pada tanggal 1 April 1974, dicobalah untuk ke sekian kalinya mendirikan Pesantren Darunnajah di Ulujami. Mula-mula Pesantren mengasuh 3 orang santri, sementara Tsanawiyah Petukangan dipindah ke Ulujami untuk meramaikannya. Baru pada tahun 1976, Madrasah Tsanawiyah Petukangan dibuka kembali dan secara berangsur,Pesantren Darunnajah Ulujami hanya menerima anak yang mukim saja, kecuali anak Ulujami yang boleh pulang pergi.

Bangunan yang pertama didirikan adalah masjid dengan ukuran 11 X 11 m2 dan beberapa lokal asrama. Mesekipun bangunanya sederhana, namun sudah sesuai dengan master plan yang dibuat oleh Ir. Ery Chayadipura. Pada awal pembangunannya, seluruh santri selalu dilibatkan untuk membantu kerja bakti.

Pada periode inilah ditata kehidupan di Pesantren Darunnajah dengan sunnah-sunnahnya.

1. Aktivitas santri dan kegiatan pesantren disesuaikan dengan jadwal waktu sholat.
2. Menggali dana dari pesantren sendiri untuk lebih mandiri.
3. Meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran, dengan dibentuk Lembaga Ilmu Al-Qur’an (LIQ), Lembaga Bahasa Arab dan Inggris dan Lembaga Da’wah dan Pengembangan Masyarakat (LDPM).
4. Beasiswa Ashabunnajah (kelompok santri penerima beasiswa selama belajar di Darunnajah) untuk kader-kader Darunnajah.


D. Periode Pengembangan (1987-1993)

Darunnajah mulai melebarkan misi dan cita-citanya, mengajarkan agama Islam, pendidikan anak-anak fuqara dan masakin dan bercita-cita membangun seratus Pondok Pesantren Modern. Masa inilah, saat memancarkan pancuran kesejukan ke penjuru-penjuru yang memerlukan.
Sampai dengan tahun 2004, Pesantren Darunnajah Group telah berjumlah 41.

E. Periode Dewan Nazir (1994-sekarang)

Perjalanan sejarah Pesantren Darunnajah yang relatif lama telah menuntut peraturan kesempurnaan untuk menjadi lembaga yang baik. Belajar dari perjalanan pondok pesantren di Indonesia dan melihat keberhasilan lembaga Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, yang telah berumur lebih 1000 tahun lamanya, Yayasan Darunnajah yang memayungi segala kebijakan yang telah berjalan selama ini, berusaha merapihkan dan meremajakan pengurus yayasan.

Dengan niat yang tulus dan ikhlas, maka wakif tanah di Ulujami Jakarta K.H.Abdul Manaf Mukhayyar, Drs.K.H. Mahrus Amin, dan Drs.H. Kamaruzzaman Muslim yang ketiganya mengatasnamakan para dermawan untuk wakaf tanah di Cipining Bogor seluas 70 ha, mengikrarkan wakaf kembali di hadapan para ulama dan umara dalam acara nasional di Darunnajah pada tanggal 7 Oktober 1994.

Dalam acara tersebut wakif menguraikan niat dan cita-citanya mendirikan lembaga ini diatas sebuah piagam wakaf yang ditandatangani oleh para pemegang amanat, Dewan Nazir dan Pengurus Harian Yayasan Darunnajah yang disaksikan oleh para tokoh masyarakat dan ormas di Indonesia.

Ditahun 2007, Pesantren Darunnajah memiliki 11 cabang pesantren di berbagai tempat; Jakarta, Bogor, Serang, Bengkulu, Kalimantan Timur. dengan luas asset 318 ha.


Last Updated ( Monday, 19 May 2008 )
http://www.darunnajah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=35

Pesantren Serambi Mekkah Dirintis Pengusaha Garmen


Pesantren Terpadu Serambi Makkah adalah tempat para ulama membahas masalah Golput dan persoalan bangsa yang lain.

Ide cikal bakal pendirian Pesantren Terpadu Serambi Mekkah pada awalnya bermula dari niat keluarga besar H. Bahar Yusuf Dt. Rajo Bukik untuk mendirikan sebuah masjid. Slain untuk ibadah, juga sebagai pusat syiar Islam, khususnya di Padang Panjang.

Namun setelah dikaji ulang, mengingat Padang Panjang telah banyak berdiri masjid dan mushalla, keluarga besar Bahar Yusuf memutuskan untuk memprioritaskan pendirian sebuah lembaga pendidikan dalam bentuk pondok pesantren yang penggalian pondasinya dimulai tahun 1995.

“Karena ada sedikit kelebihan rezeki, mulanya saya berniat hendak mendirikan masjid supaya dapat digunakan untuk beribadah dan mengaji oleh masyarakat. Tapi oleh keluarga, terutama anak-anak saya menyarankan hendaknya dibangun pesantren. Siapa tahu kelak dapat juga muncul pengganti Buya Hamka,” ujar Bahar Yusuf saat dijumpai disela-sela Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia III di Padang Panjang, Sumatera Barat.

Dijelaskan Pimpinan Pesantren Terpadu Serambi Mekkah H. Ade Sehabuddin, SH, keputusan untuk mendirikan sebuah pesantren bukanlah keputusan tanpa alasan. Keputusan itu tidaklah berawal dari dorongan nafsu keduniawian yang materialistis, mengingat di Padang Panjang telah banyak berdiri pondok pesantren yang berpengalaman puluhan tahun dan dikenal luas masyarakat. Apalagi seluruh keluarga badan pendiri juga terkonsentrasi menggeluti bisnis garmen di Jakarta.

Ghirah keislaman dan hidayah Allah swt yang diturunkan-Nya ke hati badan pendiri, khususnya Bahar Yusuf dan istri (Hj. Ermayeti Yusuf). Ia memiliki energi yang kuat untuk tetap berazzam mendirikan Ponpes H Yusuf Bahar Yusuf. Keluarga berketetapan hati bahwa mendirikan ponpes adalah juga bagian bentuk besyukur atas nikmat rezeki yang telah dilimpahkan Allah Swt.

Betapa tidak, dalam tempo tujuh tahun sejak mulai menginjakkan kaki mengadu nasib di Jakarta pada tahun 1989, Allah swt telah memperlihatkan kekuasaannya dengan memberikan limpahan rezeki. Sehingga berdirilah sebuah pesantren berarsitektur megah.

Disisi lain, muncul kekhawatiran di kalangan keluarga badan pendiri yang banyak sedikitnya ada yang mengenyam pendidikan di pesantren. Tentang cara pandang umat Islam baik di kota-kota besar maupun daerah yang menganggap pengetahuan agama tidak menjanjikan masa depan materi yang cukup. Pandangan keduniawian ini memandang bahwa sukses menguasai mata pelajarab agama tidak akan menjamin kesuksesan mendapatkan pekerjaan.

Pada saat yang sama dunia pendidikan kita juga dilanda krisis akhlak di kalangan peserta didik. Mereka terjebak dalam limpur kemaksiatan, pecandu narkoba, tawuran antar pelajar, dan sederet bentuk kerusakan akhlak lainnya. Bahkan sangat disayangkan bahwa anak-anak didik tersebut akalnya selalu ditempa dengan berbagai ilmu pengetahuan, namun batin mereka kering dengan siraman ruhani.

Kondisi ini sangat memperihatinkan, mengingat Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang banyak menghasilkan para ulama dan cendekiawan muslim sekaliber Syeikh Sulaiman Ar Rasuli (Pendiri Ma’had Tarbiyah Islamiyah Canduang), Syeikh Ibrahim Musa Parabek (pendiri Perguruan Sumatera Thawalib), Rahmah El Yunusiyyah (Pendiri Perguruan Diniyyah Puteri), Buya Hamka, Muhammad Natsir dan sejumlah tokoh lainnya.

Memang, larut dengan nostalgia masa silam tidak ada gunanya. Keinginan untuk “membangkik batang terendam”, mencetak Hamka-hamka muda adalah keputusan seluruh keluarga besar H. Bahar Yusuf yang terdiri dari istri, anak, dan menantu beliau. Allah Swt mentakdirkan rencana tersebut terwujud.


Resmi Berdiri


Pada bulan November 1995, H. Bahar Yusuf dan isttri berangkat ke Padang Panjang untuk mengurus pembuatan akte Yayasan melalui Notaris Azhari, SH. Yayasan tersebut resmi didirikan pada tanggal 16 November 1995 dengan nama Yayasan Bahar Yusuf yang bergerak dibidang social, khususnya menyelenggarakan pendidikan dengan mendirikan Pesantren Terpadu Serambi Makkah.

“Yayasan telah memberi keleluasaan kepada pengelola pesantren dengan menjalin komunikasi dengan pemerintah dan masyarakat untuk kreatif mengembangkan kurikulum sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan pendidikan di pesantren ini,” ujar Bahar Yusuf, sang pendiri.

Saat menghadiri Milad ke 10 Pesantren Terpadu Serambi Makkah (2 Juni 2007) Walikota Padang Panjang Suir Syam dalam sambutannya mengatakan, kehadiran Pesantren Terpadu Serambi Makkah di bawah naungan Yayasan Pendidikan Bahar Yusuf diakui telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan pendidikan di Kota Padang Panjang yang dikenal sebagai Kota Pendidikan Bernuansakan Islami.

Pesantren Terpadu Serambi Mekkah memiliki potensi untuk lebih berkembang pada masa yang akan datang. Hal ini disebabkan karena pesantren ini memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan antara ilmu agama dan umum. Sehingga para santri tidak akan memiliki kepribadian terbelah yang memiliki kecerdasan otak, namun bobrok secara metal.

Sebaliknya, model pendidikan yang terapkan oleh Pesantren Terpadu ini adalah model ideal karena menyentuh ranah utama pada diri manusia, yaitu ranah akal, hati dan fisik.

Sampai saat ini luas seluruh lokasi Pesantren Terpadu Serambi Mekkah Padang Panjang adalah 8006 M², terdiri dari: Luas lokasi yang telah dibangun (4.756 M²), luas perkarangan sekolah (2.500 M²), luas lapangan basket putri (750 M²), luas lapangan basket putri (625 M²).

Saat ini pesantren terdiri dari tiga lantai, meliputi masjid, asrama santri, laboratorium, wartel, Toserba, kantor jurnalistik, ruang auidio visual, ruang komisi disiplin, medical center. Di bagian depan, rencananya akan dibangun Convention Center (aula dan gedung olahraga serta taman kanak-kanak).

“Semoga Pesantren Terpadu Serambi Mekkah melahirkan ulama-ulama besar yang dibutuhkan umat. Setidaknya menjadi sarana belajar dari tidak tahu menjadi tahu, belajar mengerjakan apa yang diketahui, belajar untuk mengenal kemampuan diri sendiri, belajar hidup bermasyarakat dan belajar untuk mengenal sang pencipta,” ujar Bahar Yusuf berharap. (mnx)

Oleh: Adhes Satria
http://sabili.co.id/index.php/20090204906/Jaulah/Pesantren-Serambi-Mekkah-Dirintis-Pengusaha-Garmen.htm