dakwatuna.com - “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)“. (Al-Kautsar: 1-3)
Surah Al-Kautsar merupakan surah yang terpendek dalam Al-Qur’an yang hanya terdiri dari tiga ayat bersama dua surah lainnya, yaitu surah An-Nashr dan surah Al-Ashr. Namun susunan kalimat surah ini jelas lebih pendek dari keduanya. Karena pendeknya, para ulama menyimpulkan bahwa surah ini merupakan tantangan minimal kepada orang Arab untuk membuat semisal Al-Qur’an. Dan ternyata mereka tidak mampu dan memang tidak akan mampu selama-lamanya meskipun saling bergandeng bahu antara manusia dan jin, karena agungnya mu’jizat Al-Qur’an walaupun pada surah yang paling pendek, sehingga I’jazul Qur’an -kemukjizatan Al Qur’an- berlaku pada surah yang panjang dan yang terpendek sekalipun.
Berdasarkan khithab (sasaran)nya, surah ini menurut Sayyid Quthb murni ditujukan khusus kepada Rasulullah, seperti juga surah Asy-Syarh dan surah Ad-Duha. Inti dari ketiga surah ini memang untuk menghibur dan menjanjikan kebaikan yang banyak kepada Rasulullah saw serta mengarahkan beliau agar senantiasa bersyukur atas segalanya. Pada masa yang sama, surah ini sekaligus mengancam para musuhnya dengan pemutusan dari rahmat Allah swt.
Masih menurut Sayyid Quthb surah ini memberi gambaran aktual tentang kehidupan seorang da’i (Rasulullah) pada permulaan dakwah di Mekah yang mendapat tantangan dan hinaan sehingga Allah berkehendak untuk memberinya khabar gembira dan mengokohkan misi dakwahnya dengan jaminan kebaikan dalam bentuk ‘Al-Kautsar’ yang tiada terhingga. Gambaran aktual ini bisa difahami dari sebab turun surah Al-Kautsar seperti yang dikemukakan oleh As-Suyuthi bahwa ketika putra Nabi Muhammad meninggal, orang-orang musyrik di antaranya Abu Jahal, Al-Walid bin Mughirah dan Al-Wa’il bin Al-’Ash mencemooh nabi dengan mengatakan, “Telah terputus keturunan Muhammad”. Ada lagi yg mengatakan: “Biarkan saja dia. Dia akan mati tanpa pelanjut dan berakhir urusannya”. Nabi cukup sedih mendengar ucapan mereka, maka turunlah surah ini untuk membantah sekaligus menghibur Rasulullah bahwa beliau tidak seperti yang mereka duga.
Demikian hakikatnya, seorang da’i akan senantiasa dipelihara oleh Allah dan mendapat janji dan jaminan kebaikan di dunia dan di akhirat. Hal ini tentu sebanding dengan pengorbanan dan perjuangannya yang tidak pernah mengenal lelah dan batas waktu serta usia. Hanya dengan berdakwah -dalam arti yang luas- seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw pada sejarah surah ini, seseorang akan meraih kebaikan yang banyak (Al-Kautsar).
Secara bahasa, Al-Kautsar merupakan kata bentukan dari Al-Katsrah yang berarti banyak tak terbatas. Namun terdapat beberapa pengertian tentang makna Al-Kautsar yang kesemuanya berkisar pada kebaikan yang banyak (Al-Khair Al-Katsir). Ikrimah misalnya memahami Al-Kautsar sebagai karunia kenabian (nubuwwah). Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa ia adalah Al-Qur’an. Abu Bakar bin Iyash memahami makna Al-Kautsar dengan banyaknya sahabat dan umat pengikutnya dan lain sebagainya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Sa’id bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang maksud Al-Kautsar berdasarkan pandangan mayoritas sahabat yang menyebut bahwa artinya adalah sungai di dalam syurga yang bernama kautsar yang dikhususkan untuk Rasulullah saw. Maka Ibnu Abbas menjawab bahwa telaga kautsar merupakan bagian dari kebaikan yang banyak (Al-Khair Al-Katsir).
Terkait dengan penjelasan diatas, Imam Muslim menukil kronologis turunnya surah ini beserta maksud dari Al-Kautsar. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasulullah saw tiba-tiba terdiam sebentar seolah-olah pingsan kemudian bangkit dan menengadahkan wajahnya ke langit sambil tersenyum. Melihat hal itu, para sahabat bertanya, “Apakah yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?”. Rasulullah saw bersabda, “Telah turun kepadaku sebentar tadi sebuah surah. Lantas Rasulullah membaca surah Al-Kautsar dengan lengkap dan bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan Al-Kautsar?”. Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Rasulullah bersabda, “Ia adalah sebuah sungai di syurga yang dijanjikan Allah untukku. Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak. Ia juga adalah telaga tempat umatku akan meminum daripadanya pada hari kiamat”.
Secara korelatif, keserasian surah ini dengan surah sebelumnya sangatlah jelas. Dalam surah Al-Ma’un digambarkan empat sifat Munafik yang ketara, yaitu: sangat bakhil dengan harta, ringan meninggalkan sholat, bersikap riya’ dan selalu menghindar dan menghalangi orang lain memberi bantuan kepada yang membutuhkan. Sedangkan dalam surah Al-Kautsar diperintahkan lawan dari sikap tersebut, yaitu mendirikan shalat dengan baik sebagai tanda syukur (Fasholli), senantiasa ikhlas dalam berbuat (Lirabbik) dan siap serta ringan memberi santunan kepada orang (wanhar).
Al-Biqa’i menuturkan bahwa Surah Al-Ma’un yang dinamakan juga dengan surah Ad-Din banyak menyebutkan tentang perilaku yang buruk dan akhlak yang tidak terpuji yang harus dihindari, sehingga sangat sesuai jika surah setelahnya berbicara tentang karunia nikmat yang besar yang disediakan bagi mereka yang mampu mensinergikan antara shalat (Fasholli) dan memberi bantuan kepada orang lain (wanhar) dengan tidak berbuat riya’ dalam menjalankan keduanya.
Sehingga dapat dirumuskan bahwa setelah Rasulullah menerima nikmat yang banyak yang melimpah ruah, Allah mengarahkannya untuk senantiasa mensyukuri nikmat tersebut dengan memenuhi haknya, yaitu: pertama, Keikhlasan dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah, terutama sholat. Dan kedua, Membangun hubungan baik dengan siapapun melalui jalan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Sungguh sinergi dan kesepaduan antara ibadah shalat yang mewakili ibadah mahdah yang paling utama dan perintah menjaga hubungan baik dengan sesama yang pada hakikatnya merupakan nilai dan natijah -hasil atau buah- dari ibadah mahdah merupakan dua hal yang selalu disebutkan secara berdampingan oleh Al-Qur’an seperti dalam surah Al-Ma’un dan dalam surah Al-Kautsar ini. Justru ketidakmampuan seseorang mengimplementasikan kedua hak tersebut dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi penghalang dari meraih kebaikan yang banyak (Al-Kautsar).
Dalam konteks yang lain, karena surah ini khusus ditujukan sasarannya untuk Rasulullah, maka memelihara dan mengamalkan sunnah Rasulullah merupakan pintu untuk meraih kebaikan yang banyak, sedangkan sebaliknya menurut Al-Maraghi kebencian terhadap sunnah dan ajaran Rasulullah yang diisyaratkan dengan ungkapan ‘inna syani’aka’, demikian juga kebencian terhadap pribadinya bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kelompok yang disebut sebagai ‘abtar’ yang terputus dari segala kebaikan dan rahmat Allah swt.
Demikian agung posisi Rasulullah di mata Allah yang harus terus dijaga dan dipelihara sebagai bagian dari implementasi dari firman Allah swt, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Ali Imran: 31).
Hanya dengan semangat ‘ittiba’ dan ‘ta’assi’ -meneladani- beliau, dakwah ini akan senantiasa mendapat keberkahan dan kebaikan yang besar dari Allah swt. Amin. Allahu A’lam
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
http://www.dakwatuna.com/2008/berharap-al-kautsar-dari-allah/
Showing posts with label Tadabbur. Show all posts
Showing posts with label Tadabbur. Show all posts
Manajemen Informasi, Antara Manusia, Malaikat, Hewan, dan Iblis
Kemuliaan manusia erat kaitannya dengan komitmen mereka menjaga kelebihan-kelebihan tersebut dengan cara menggunakannya secara optimal dan seimbang sesuai dengan sistem yang telah dirancang Tuhan Pencipta mereka.
Antara Manusia, Malaikat, Hewan, dan Iblis
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk lain, bahkan malaikat sekalipun. Sedangkan Iblis adalah makhluk Allah yang paling hina, karena oriantasi hidupnya terfokus pada kerusakan dan penyesatan manusia dari jalan yang lurus. Kemuliaan malaikat adalah karena tidak putus-putusnya bertasbih dan memuji kebesaran Tuhan Pencipta. Bahkan setiap saat siap menjalankan perintah dan aturan-Nya. Lain lagi dengan hewan. Hewan adalah makhluk yang tidak punya akal dan perasaan seperti manusia. Desain dan struktur tubuhnya sangat jauh berbeda dibandingkan dengan tubuh manusia. Akan tetapi memiliki nafsu atau syahwat makan dan biologis seperti manusia. Karena syahwat hewaninya yang mendominasi dan menggerakkan kehidupan, maka setiap saat hidup hewan hanya untuk memenuhi syahwat makan dan syahwat biologis. Sebab itu, hewan tidak Allah pilih menjadi Khalifah-Nya di atas bumi.
Adapun kemuliaan manusia bermula ketika Allah berkehendak menjadikan Adam sebagai Khalifah-Nya di atas muka bumi dengan misi ibadah kepada-Nya. Kehendak Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah-Nya di bumi itu berdasarkan ilmu dan perencanaan yang sangat matang. Sebab itu, ketika para malaikat mempertanyakan rencana Allah tersebut, Allah menjawabnya: “Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 30)
Kemuliaan tersebut bukan karena subyektivitas Tuhan Pencipta yang Maha Kuasa atas segala makhluk-Nya. Melainkan berdasarkan standar ilmiah terkait dengan rancangan penciptaan yang sangat sempurna baik fisik maupun yang non fisik seperti akal dan qalb (hati), tanpa kenghilangan syahwat dan nafsu hewaninya. Dengan demikian, manusia dianugerahkan berbagai kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut tidak diberikan Allah kepada makhluk lain selain manusia dan telah pula menyebabkan mereka memperoleh kemualiaan-Nya. Allah menjelaskannya:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا (سورة الإسراء)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra’ (17):70)
Namun demikian, kemuliaan manusia erat kaitannya dengan komitmen mereka menjaga kelebihan-kelebihan tersebut dengan cara menggunakannya secara optimal dan seimbang sesuai dengan sistem yang telah dirancang Tuhan Pencipta mereka. Untuk mengetahui secara jelas apa saja kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lain, khususnya malaikat, hewan dan Iblis dapat kita lihat seperti tabel A berikut :
Tabel A : Perbandingan Antara Manusia, Malaikat, Jin dan Hewan
NO MAKHLUK ALLAH DIMENSI DIRI MISI VISI
1 Manusia Fisik amat sempurna, ditambah dimensi Spiritual, Emotional, Intellectual dan Syahwat ibadah kepada Tuhan Pencipta dengan pilihan Khalifah (Wakil)
Allah
2 Malaikat Fisik tidak nyata (halus) dan ditmbah akal ibadah kepada Tuhan Pencipta secara sukarela Prajurit Allah
3 Jin Fisik tidak tidak nyata (halus), ditambah akal dan syahwat ibadah kepada Tuhan Pencipta
dengan pilihan
4 Hewan Fisik, nafsu & naluri
(insting) Beribadah kepada Tuhan Pencipta berdasarkan insting
5 Iblis/ Setan Fisik tidak nyata (halus) ditambah akal & nafsu Menyesatkan manusia dengan pilihan
Tabel B : Perbandingan Manusia Yang Tidak Menjalankan Misi dan Visi Hidup
NO MAKHLUK ALLAH DIMENSI DIRI MISI VISI
1 Malaikat Fisik tidak nyata (halus) dan Akal Ibadah kepada Tuhan Pencipta secara sukarela Prajurit Allah
2 Hewan Fisik, naluri dan nafsu Beribadah kepada Tuhan Pencipta berdasarkan insting
3 Iblis/ Setan Fisik tidak tidak nyata (halus), akal & nafsu Menyesatkan manusia dengan pilihan
4 Jin Fisik tidak tidak nyata (halus), akal dan syahwat Beribadah kepada Tuhan Pencipta dengan pilihan
5 Manusia Fisik & Nafsu Mengikuti hawa nafsu Biang kerusakan di muka bumi
Dari Tabel A di atas dapat kita lihat, bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia selama mereka memanfaatkan secara optimal tiga keistimewaan / kelebihan yang mereka miliki yakni, Spiritual, Emotional dan Intellectual dalam diri mereka sesuai misi dan visi penciptaan mereka. Namun, apabila terjadi penyimpangan misi dan visi hidup, mereka akan menjadi makhluk yang paling hina, bahkan lebih hina dari binatang dan Iblis bilamana mereka kehilangan kontrol atas ketiga keistimewaan yang mereka miliki. Penyimpangan misi dan visi hidup akan menyebabkan derajat manusia jatuh di mata Tuhan Pencipta dan di dunia, pola hidup mereka lebih buruk dari pada binatang dan Iblis, seperti yang tergambar pada Tabel B di atas. Allah menjelaskan dalam firman-Nya :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا
يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 179)
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/antara-manusia-malaikat-hewan-dan-iblis.htm
Antara Manusia, Malaikat, Hewan, dan Iblis
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk lain, bahkan malaikat sekalipun. Sedangkan Iblis adalah makhluk Allah yang paling hina, karena oriantasi hidupnya terfokus pada kerusakan dan penyesatan manusia dari jalan yang lurus. Kemuliaan malaikat adalah karena tidak putus-putusnya bertasbih dan memuji kebesaran Tuhan Pencipta. Bahkan setiap saat siap menjalankan perintah dan aturan-Nya. Lain lagi dengan hewan. Hewan adalah makhluk yang tidak punya akal dan perasaan seperti manusia. Desain dan struktur tubuhnya sangat jauh berbeda dibandingkan dengan tubuh manusia. Akan tetapi memiliki nafsu atau syahwat makan dan biologis seperti manusia. Karena syahwat hewaninya yang mendominasi dan menggerakkan kehidupan, maka setiap saat hidup hewan hanya untuk memenuhi syahwat makan dan syahwat biologis. Sebab itu, hewan tidak Allah pilih menjadi Khalifah-Nya di atas bumi.
Adapun kemuliaan manusia bermula ketika Allah berkehendak menjadikan Adam sebagai Khalifah-Nya di atas muka bumi dengan misi ibadah kepada-Nya. Kehendak Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah-Nya di bumi itu berdasarkan ilmu dan perencanaan yang sangat matang. Sebab itu, ketika para malaikat mempertanyakan rencana Allah tersebut, Allah menjawabnya: “Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 30)
Kemuliaan tersebut bukan karena subyektivitas Tuhan Pencipta yang Maha Kuasa atas segala makhluk-Nya. Melainkan berdasarkan standar ilmiah terkait dengan rancangan penciptaan yang sangat sempurna baik fisik maupun yang non fisik seperti akal dan qalb (hati), tanpa kenghilangan syahwat dan nafsu hewaninya. Dengan demikian, manusia dianugerahkan berbagai kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut tidak diberikan Allah kepada makhluk lain selain manusia dan telah pula menyebabkan mereka memperoleh kemualiaan-Nya. Allah menjelaskannya:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا (سورة الإسراء)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra’ (17):70)
Namun demikian, kemuliaan manusia erat kaitannya dengan komitmen mereka menjaga kelebihan-kelebihan tersebut dengan cara menggunakannya secara optimal dan seimbang sesuai dengan sistem yang telah dirancang Tuhan Pencipta mereka. Untuk mengetahui secara jelas apa saja kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lain, khususnya malaikat, hewan dan Iblis dapat kita lihat seperti tabel A berikut :
Tabel A : Perbandingan Antara Manusia, Malaikat, Jin dan Hewan
NO MAKHLUK ALLAH DIMENSI DIRI MISI VISI
1 Manusia Fisik amat sempurna, ditambah dimensi Spiritual, Emotional, Intellectual dan Syahwat ibadah kepada Tuhan Pencipta dengan pilihan Khalifah (Wakil)
Allah
2 Malaikat Fisik tidak nyata (halus) dan ditmbah akal ibadah kepada Tuhan Pencipta secara sukarela Prajurit Allah
3 Jin Fisik tidak tidak nyata (halus), ditambah akal dan syahwat ibadah kepada Tuhan Pencipta
dengan pilihan
4 Hewan Fisik, nafsu & naluri
(insting) Beribadah kepada Tuhan Pencipta berdasarkan insting
5 Iblis/ Setan Fisik tidak nyata (halus) ditambah akal & nafsu Menyesatkan manusia dengan pilihan
Tabel B : Perbandingan Manusia Yang Tidak Menjalankan Misi dan Visi Hidup
NO MAKHLUK ALLAH DIMENSI DIRI MISI VISI
1 Malaikat Fisik tidak nyata (halus) dan Akal Ibadah kepada Tuhan Pencipta secara sukarela Prajurit Allah
2 Hewan Fisik, naluri dan nafsu Beribadah kepada Tuhan Pencipta berdasarkan insting
3 Iblis/ Setan Fisik tidak tidak nyata (halus), akal & nafsu Menyesatkan manusia dengan pilihan
4 Jin Fisik tidak tidak nyata (halus), akal dan syahwat Beribadah kepada Tuhan Pencipta dengan pilihan
5 Manusia Fisik & Nafsu Mengikuti hawa nafsu Biang kerusakan di muka bumi
Dari Tabel A di atas dapat kita lihat, bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia selama mereka memanfaatkan secara optimal tiga keistimewaan / kelebihan yang mereka miliki yakni, Spiritual, Emotional dan Intellectual dalam diri mereka sesuai misi dan visi penciptaan mereka. Namun, apabila terjadi penyimpangan misi dan visi hidup, mereka akan menjadi makhluk yang paling hina, bahkan lebih hina dari binatang dan Iblis bilamana mereka kehilangan kontrol atas ketiga keistimewaan yang mereka miliki. Penyimpangan misi dan visi hidup akan menyebabkan derajat manusia jatuh di mata Tuhan Pencipta dan di dunia, pola hidup mereka lebih buruk dari pada binatang dan Iblis, seperti yang tergambar pada Tabel B di atas. Allah menjelaskan dalam firman-Nya :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا
يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 179)
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/antara-manusia-malaikat-hewan-dan-iblis.htm
Manajemen Informasi, Tiga Pertayaan Besae0
Kalau kita cermati kenapa manusia berani menolak eksistensi Tuhan Pencipta mereka dan Pencipta alam semesta, baik secara total maupun setengah-setengah, niscaya kita akan menemukan akar permasalahannya.
Tiga Pertanyaan Besar
Suatu ketika terjadi perdebatan antara seorang lelaki yang sedang berkuasa dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (As). Perdebatan itu terkait tentang konsep Tuhan Pencipta. Nabi Ibrahim As memahami dan meyakini seyakin-yakinnya, bahwa Penciptanya dan juga Pencipta alam semesta adalah Tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan. Sang Penguasa tak mau kalah sambil mengklaim, bahwa dia juga mampu menghidupkan dan mematikan, kendati dengan argumentasi (hujjah) yang sangat aneh dan tidak masuk akal, yakni ia panggil dua orang, yang satu dibunuh, yang satu lagi dibiarkan hidup. Namun demikian Ibrahim As tidak kalah jeli memilih argumentasi lain yang sangat kuat, akurat dan tidak mungkin dapat dibantah lagi oleh Penguasa tersebut. Ibrahim pun berkata:
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari arah timur, maka terbitkanlah dia (matahari) dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 258)
Dalam kehidupan ini, seringkali kita melihat kenyataan bahwa manusia mengingkari Pencipta mereka seperti yang diceritakan Al-Qur’an di atas. Ada yang mengingkari Pencipta sambil mendeklarasi ke masyarakat, bahwa mereka adalah Tuhan yang patut disembah seperti halnya Namrud di zaman nabi Ibrahim, dan Fir’aun di zaman Nabi Musa. Namun ada pula yang mengingkari-Nya dengan malu-malu sambil berkedok ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan Charles Darwin dan kaum evolusionis lainnya. Ada lagi yang menolak eksistensi Pencipta setengah-setengah dengan berkedok ideologi negara yang berenama nasionalisme. Mereka mengiklaim nasionalisme itu lebih baik dari apa yang dirumuskan dan diciptakan Tuhan Pencipta mereka. Anehnya, manusia semacam ini tidak pula berani menolak keberadaan Tuhan Pencipta dengan tegas dan secara total seperti yang dilakukan Namrud, Fir’aun dan Charles Darwin.
Apapun bentuk penolakan tersebut sesungguhnya menunjukkan sebuah realitas, bahwa manusia memiliki sifat sombong, sok kuasa dan tak tahu diri serta lupa akan keagungan Pencipta mereka. Sifat-sifat tersebut telah mendorong manusia berlaku zhalim dan berbuat kerusakan dalam kehidupan dunia yang sementara ini, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap lingkungan. Kesombongan dan lupa diri telah pula menyebabkan mereka hidup tidak sesuai misi dan visi penciptaan mereka, yakni ber-ibadah kepada sang Pencipta yang sesungguhnya sambil menjadi Khalifah (Wakil)-Nya di atas bumi dengan kewajiban menegakkan keadilan dengan sistem yang adil serta membangun bumi secara berkemakmuran.
Sesungguhnya, penolakan --bahkan kedurhakaan-- terhadap sang Pencipta, (baik yang total maupun yang setengah-setengah, yang nekat maupun yang malu-malu) merupakan fenomena sepanjang masa. Iblis adalah makhluk pertama yang dikutuk Allah karena tidak mau menjalankan perintah-Nya untuk sujud kepada Adam hanya dengan alasan sepele yaitu kebanggaan pada material yang menjadi asal usul penciptaan.
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (سورة ص )
“Iblis berkata:Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Q.S. Shad (38):76)
Sikap Iblis tersebut disebabkan ketidakmatangan sekaligus ketidakseimbangan dirinya secara Spiritual, Emosional dan Intelektual dalam mengendalikan hawa nafsu sehingga ia enggan melaksanakan perintah Penciptanya dan menyombongkan diri di hadapan aturan main Penciptanya. Adam, sebagai manusia pertama pun tak luput dari lupa akan Kebesaran dan Keagungan Penciptanya. Tercatatlah dalam sejarah manusia pertama itu, bahwa ia juga pernah melanggar aturan main Penciptanya sehingga dinyatakan bersalah. Namun, ada perbedaan mendasar dalam proses pelanggaran tersebut antara Adam dan Iblis. Adam dengan mudah mengakui kesalahan dan kelemahannya ketika ditegur dan diingatkan Allah Tuhan Penciptanya, karena kesalahannya disebabkan kelalaian dan ketergiurannya pada godaan dan tipuan Setan. Kesalahan Adam bukan bermuara dari sifat negatif yang ada dalam dirinya yakni kesombongan dan keangkuhan. Sedangkan Iblis tidak mau mengakui kesalahannya karena sebab kesombongan dan keangkuhan yang ia pelihara dalam dirinya sehingga mencari-cari alasan dan membangun presepsi keliru (tidak ilmiah), bahwa api sebagai unsur ciptaannya (raw material) lebih baik dari tanah yang menjadi bahan baku penciptaan Adam.
Pengalaman Spiritual, Emosional dan Intellectual manusia sepanjang sejarah selalu ditandai dengan penolakan atau penerimaan eksistensi Tuhan Pencipta dan konsekuensi logis dari kemutlakan (absoluteness) penerimaan itu, yakni ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Tidak ada corak dan warna lain yang menonjol dalam penolakan dan penerimaan konsepsi tentang Tuhan Pencipta sepanjang sejarah kecuali itu-itu saja. Pada dasarnya, sikap hidup manusia hanya bergerak antara dua pilihan, menolak atau menerima kenyataan konsep tentang Tuhan Pencipta. Sejak dari zaman prasejarah sampai zaman moderen yang disebut “serba canggih” seperti yang kita saksikan hari ini, pilihannya hanya bergerak antara dua sikap itu. Ada yang menolak (durhaka) total, ada yang menerima (taat) total. Kendati kadngkala yang terbanyak ialah mereka yang serba bingung, serba tidak jelas pilihannya, serba setengah-setengah. Namun tetap masih berada dalam kategori mereka yang menolak dan durhaka.
Kalau kita cermati kenapa manusia berani menolak eksistensi Tuhan Pencipta mereka dan Pencipta alam semesta, baik secara total maupun setengah-setengah, niscaya kita akan menemukan akar permasalahannya. Akar permasalahannya berasal dari sifat sombong dan lalai serta mudah tergiur oleh setan dan kenikmatan dunia yang amat menyenangkan. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana cara menghindarkan diri dari sifat-sifat negatif tersebut? Kesombongan, kelalaian dan mudah tergiur oleh setan dan kelap kelip kehidupan dunia dapat dinetralisir dengan tiga pertanyaan besar berikut :
1. Dari mana saya berasal dan berawal?
2. Sedang mengapa dan mau apa saya di dunia ini? Atau, apa misi dan visi hidup saya di dunia ini?
3. Mau kemana saya setelah meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini?
Tiga pertanyaan besar tersebut selalu menjadi pertanyaan yang menarik sepanjang sejarah
manusia dan akan tetap menjadi kata kunci dalam menyingkap tabir penolakan dan penerimaan tentang konsepsi Tuhan Pencipta. Karena, ketiga pertanyaan tersebut menjadi mesin utama yang akan menggerakkan tiga kecerdasan manusia, yakni Spiritual, Emotional dan Intellectual, yang akan membantu dan memudahkan mendalami dan menghayati tiga hakikat besar pula :
1. Hakit Tuhan Pencipta
2. Hakikat manusia dan alam semesta
3. Hakikat kehidupan dunia
Oleh sebab itu, kebaikan dan keburukan yang timbul dari dalam diri manusia yang kemudian menjelma ke dalam perilaku dan tindakan sehari-hari sangat erat kaitannya dengan sejauhmana pengetahuan dan penghayatan mereka terhadap ketiga hakikat besar tersebut di atas. Dengan kata lain, seperti apa pengenalan dan penghayatan seseorang terhadap hakikat Tuhan Pencipta, Hakikat manusia dan alam semesta, serta hakikat kehidupan dunia ini maka akan seperti itu pula presepsi yang terbangun di dalam dirinya. Persepsi tersebut akan mewarnai perilakunya dalam menjalani kehidupan dunia yang singkat ini.
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/tiga-pertanyaan-besar.htm
Tiga Pertanyaan Besar
Suatu ketika terjadi perdebatan antara seorang lelaki yang sedang berkuasa dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (As). Perdebatan itu terkait tentang konsep Tuhan Pencipta. Nabi Ibrahim As memahami dan meyakini seyakin-yakinnya, bahwa Penciptanya dan juga Pencipta alam semesta adalah Tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan. Sang Penguasa tak mau kalah sambil mengklaim, bahwa dia juga mampu menghidupkan dan mematikan, kendati dengan argumentasi (hujjah) yang sangat aneh dan tidak masuk akal, yakni ia panggil dua orang, yang satu dibunuh, yang satu lagi dibiarkan hidup. Namun demikian Ibrahim As tidak kalah jeli memilih argumentasi lain yang sangat kuat, akurat dan tidak mungkin dapat dibantah lagi oleh Penguasa tersebut. Ibrahim pun berkata:
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari arah timur, maka terbitkanlah dia (matahari) dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 258)
Dalam kehidupan ini, seringkali kita melihat kenyataan bahwa manusia mengingkari Pencipta mereka seperti yang diceritakan Al-Qur’an di atas. Ada yang mengingkari Pencipta sambil mendeklarasi ke masyarakat, bahwa mereka adalah Tuhan yang patut disembah seperti halnya Namrud di zaman nabi Ibrahim, dan Fir’aun di zaman Nabi Musa. Namun ada pula yang mengingkari-Nya dengan malu-malu sambil berkedok ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan Charles Darwin dan kaum evolusionis lainnya. Ada lagi yang menolak eksistensi Pencipta setengah-setengah dengan berkedok ideologi negara yang berenama nasionalisme. Mereka mengiklaim nasionalisme itu lebih baik dari apa yang dirumuskan dan diciptakan Tuhan Pencipta mereka. Anehnya, manusia semacam ini tidak pula berani menolak keberadaan Tuhan Pencipta dengan tegas dan secara total seperti yang dilakukan Namrud, Fir’aun dan Charles Darwin.
Apapun bentuk penolakan tersebut sesungguhnya menunjukkan sebuah realitas, bahwa manusia memiliki sifat sombong, sok kuasa dan tak tahu diri serta lupa akan keagungan Pencipta mereka. Sifat-sifat tersebut telah mendorong manusia berlaku zhalim dan berbuat kerusakan dalam kehidupan dunia yang sementara ini, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap lingkungan. Kesombongan dan lupa diri telah pula menyebabkan mereka hidup tidak sesuai misi dan visi penciptaan mereka, yakni ber-ibadah kepada sang Pencipta yang sesungguhnya sambil menjadi Khalifah (Wakil)-Nya di atas bumi dengan kewajiban menegakkan keadilan dengan sistem yang adil serta membangun bumi secara berkemakmuran.
Sesungguhnya, penolakan --bahkan kedurhakaan-- terhadap sang Pencipta, (baik yang total maupun yang setengah-setengah, yang nekat maupun yang malu-malu) merupakan fenomena sepanjang masa. Iblis adalah makhluk pertama yang dikutuk Allah karena tidak mau menjalankan perintah-Nya untuk sujud kepada Adam hanya dengan alasan sepele yaitu kebanggaan pada material yang menjadi asal usul penciptaan.
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (سورة ص )
“Iblis berkata:Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Q.S. Shad (38):76)
Sikap Iblis tersebut disebabkan ketidakmatangan sekaligus ketidakseimbangan dirinya secara Spiritual, Emosional dan Intelektual dalam mengendalikan hawa nafsu sehingga ia enggan melaksanakan perintah Penciptanya dan menyombongkan diri di hadapan aturan main Penciptanya. Adam, sebagai manusia pertama pun tak luput dari lupa akan Kebesaran dan Keagungan Penciptanya. Tercatatlah dalam sejarah manusia pertama itu, bahwa ia juga pernah melanggar aturan main Penciptanya sehingga dinyatakan bersalah. Namun, ada perbedaan mendasar dalam proses pelanggaran tersebut antara Adam dan Iblis. Adam dengan mudah mengakui kesalahan dan kelemahannya ketika ditegur dan diingatkan Allah Tuhan Penciptanya, karena kesalahannya disebabkan kelalaian dan ketergiurannya pada godaan dan tipuan Setan. Kesalahan Adam bukan bermuara dari sifat negatif yang ada dalam dirinya yakni kesombongan dan keangkuhan. Sedangkan Iblis tidak mau mengakui kesalahannya karena sebab kesombongan dan keangkuhan yang ia pelihara dalam dirinya sehingga mencari-cari alasan dan membangun presepsi keliru (tidak ilmiah), bahwa api sebagai unsur ciptaannya (raw material) lebih baik dari tanah yang menjadi bahan baku penciptaan Adam.
Pengalaman Spiritual, Emosional dan Intellectual manusia sepanjang sejarah selalu ditandai dengan penolakan atau penerimaan eksistensi Tuhan Pencipta dan konsekuensi logis dari kemutlakan (absoluteness) penerimaan itu, yakni ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Tidak ada corak dan warna lain yang menonjol dalam penolakan dan penerimaan konsepsi tentang Tuhan Pencipta sepanjang sejarah kecuali itu-itu saja. Pada dasarnya, sikap hidup manusia hanya bergerak antara dua pilihan, menolak atau menerima kenyataan konsep tentang Tuhan Pencipta. Sejak dari zaman prasejarah sampai zaman moderen yang disebut “serba canggih” seperti yang kita saksikan hari ini, pilihannya hanya bergerak antara dua sikap itu. Ada yang menolak (durhaka) total, ada yang menerima (taat) total. Kendati kadngkala yang terbanyak ialah mereka yang serba bingung, serba tidak jelas pilihannya, serba setengah-setengah. Namun tetap masih berada dalam kategori mereka yang menolak dan durhaka.
Kalau kita cermati kenapa manusia berani menolak eksistensi Tuhan Pencipta mereka dan Pencipta alam semesta, baik secara total maupun setengah-setengah, niscaya kita akan menemukan akar permasalahannya. Akar permasalahannya berasal dari sifat sombong dan lalai serta mudah tergiur oleh setan dan kenikmatan dunia yang amat menyenangkan. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana cara menghindarkan diri dari sifat-sifat negatif tersebut? Kesombongan, kelalaian dan mudah tergiur oleh setan dan kelap kelip kehidupan dunia dapat dinetralisir dengan tiga pertanyaan besar berikut :
1. Dari mana saya berasal dan berawal?
2. Sedang mengapa dan mau apa saya di dunia ini? Atau, apa misi dan visi hidup saya di dunia ini?
3. Mau kemana saya setelah meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini?
Tiga pertanyaan besar tersebut selalu menjadi pertanyaan yang menarik sepanjang sejarah
manusia dan akan tetap menjadi kata kunci dalam menyingkap tabir penolakan dan penerimaan tentang konsepsi Tuhan Pencipta. Karena, ketiga pertanyaan tersebut menjadi mesin utama yang akan menggerakkan tiga kecerdasan manusia, yakni Spiritual, Emotional dan Intellectual, yang akan membantu dan memudahkan mendalami dan menghayati tiga hakikat besar pula :
1. Hakit Tuhan Pencipta
2. Hakikat manusia dan alam semesta
3. Hakikat kehidupan dunia
Oleh sebab itu, kebaikan dan keburukan yang timbul dari dalam diri manusia yang kemudian menjelma ke dalam perilaku dan tindakan sehari-hari sangat erat kaitannya dengan sejauhmana pengetahuan dan penghayatan mereka terhadap ketiga hakikat besar tersebut di atas. Dengan kata lain, seperti apa pengenalan dan penghayatan seseorang terhadap hakikat Tuhan Pencipta, Hakikat manusia dan alam semesta, serta hakikat kehidupan dunia ini maka akan seperti itu pula presepsi yang terbangun di dalam dirinya. Persepsi tersebut akan mewarnai perilakunya dalam menjalani kehidupan dunia yang singkat ini.
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/tiga-pertanyaan-besar.htm
Manajemen Informasi, Defenisi Sukses
Tidak banyak yang tertarik saat melewati kata “informasi’. Namun, bagi yang belajar atau memiliki concern pada dunia komunikasi atau media sudah pasti memahami betapa dahsyatnya peran “informasi” dalam kehidupan ini.
Informasi. Sebuah kata yang tidak terlalu memancing perhatian banyak orang karena tidak terlihat bombaptis. Lain halnya dengan kata “revolusi”, “Jihad” “kudeta”, “krisis” dan sebagainya. Informasi berasal dari bahasa Inggris yakni, information. Dalam bahas Arab disebut dengan : ma’lumat.
Para pelaku bisnis misalnya, berusaha menguasai informasi baik melalu iklan produk atau jasa yang mereka tawarkan ke pasar maupun melalui penguasaan media sebagai sumber dan alat penyebar informasi itu sendiri. Tak jarang, informasi produk dagang tertentu dibuat sedemikian rupa, apalagi dengan kemasan multimedia, sehingga terkesan “bohong” yang tidak disadari kebanyakan pembaca atau pemirsanya. Korban iklanpun berjatuhan.
Para politisi dan pengiuasa juga berupaya menguasai sumber-sumber informasi yang akan membentuk opini masyarakat sehingga berbagai aktivitas politik dan jalannya kekuasaan mereka terkesan baik dan bersih. Penguasa yang menguasai informasi bisa dengan mudah membalikkan fakta apa yang sesunguhnya mereka lalukan. Kita masih ingat betapa istilah Bapak Pembangunan bagi mendiang Presiden soeharto begitu melekat dalam benak masyarakat di zaman Orde Baru. Berbagai kejahatan yang dilakukan rezim di zaman itu nyaris tidak terungkap ke permuakaan kecuali setelah dipaksa lengser oleh rakyat Mei 1998.
Di Amerika Serikat juga demikian. Media sebagai sumber dan penyebar informasi sangat menentukan arah politik dan kekuasaan pemerintahnya. Sbuah buku dengan judul : The Nation of Sheep (Bangsa Keledai), menggambarkan betapa elite politik Amerika berhasil menjadikan masyarakatnya bagaikan keledai yang ditunggangi kemana arah yang diinginkan. Invasi yang dilakukan AS ke Vietnam, Afghanistan dan Irak diinformasikan ke masyarakat sebagai penyelamatan kepentingan AS dan kemanusian. Mayoritas masyarakatnya dan juga sebagain besar masyarakat duniapun percaya begitu saja. Korban informasipun berjatuhan.
Apalagi dalam dunia perang, informasi sangat dibutuhkan. Termasuk perang bisnis. Dunia pendidikanpun tak tinggal diam melihat pentingnya informasi dalam kehidupan. Sampai-sampai para ahli pendidikan meciptakan sebuah jurusan khusus dengan nama Teknologi Informasi (TI).
Pokonya, tidak ada di dunia ini yang bisa terlepas dari informasi. Maka tidak heran jika pakar selalu mengatakan, bagi yang mengusai informasi dialah yang akan memenangkan peperangan.
Sesungguhnya di dunia ini, sejak Allah merancang manusia menjadi khalifah di muka bumi, terus Adam dan Hawa diciptakan dan ditempatkan di syurga, peran informasi sudah sangat besar. Keunggulan Adam terhadap para Malaikat misalnya, karena Adam menguasai informasi tentang benda dan apa saja yang ada saat itu seperti yang Allah ajarkan kepadanya. Sebaliknya, kekalahan Adan dan Hawa menghadapi tipu miuslihat Setan juga disebabkan mereka menerima informasi dari Setan begitu saja, tanpa chek & recheck. Samapi detik ini, setiap saat terjadi perang informasi. Perang informasi ini akan terus berlanjut sampai dunia ini Allah hancurkan.
Sebab itu, informasi harus dimenej, yakni dengan menelusuru sumbernya, mengenal pembawa atau penyebarnya, menguji kebenarannya, dinilai tingkat dan bobotnya dan sebagainya. Karena menurut Ulama ilmu hadist, setiap informasi itu bisa benar dan bisan bohong. Kalau kita tidak mampu memenejnya dengan baik, kita akan menjadi korban perang informasi. Korban informasi tentang kehidupan dunia merupakan kerugian besar. Apatah lagi korban informasi tentang akhirat tentu amat ditakutkan.
Nah, bagaiamana dengan Manajemen Informasi yang kita maksudkan dalam Life Mangement ini? Manajamen informasi dalam konsep Life Management ialah penguasaan akan informasi yang bersifat absolutely terkait dengan :
1. Hakikat Tuhan Pencipta.
2. Hakikat Alam Semesta.
3. Hakikat manusia dan kehidupan dunia.
Artinya, semua informasi terkait tiga hakikat besar di atas bersumber dari sumber yang amat terpercaya, bisa diuji kebenaranya secara ilmu pengetahuan maupun fakta dan pengalaman hidup jutaan manusia yang menerapkannya. Informasi tersebut juga sebagai informasi primer (informasi dasar) yang harus diketahui sebagai langkah awal (basic stape) untuk menjadi the winner (pemenang) dalam kehidupan dunia dan juga kehidupan akhirat kelak. Itulah The great success – kesuksesan tanpa batas – yang menjadi fokus utama hidup para Nabi dan orang-orang shaleh yang memiliki kecerdasan spiritual, emotional dan intellectual yang prima.
Informasi terkait tiga hakikat besar di atas kami uraikan dalam dengan judul : Rihlatul Khulud (Wisata Abadi Masnusia). Lalu, bagaimana ketiga hakikat besar tersebut menjadi pilihan pengetahuan dan informasi dalam hidup ini? Kami merumuskan sebuah metode deangan nama Spiritual, Emotional & Intellectual Empowerment (SEI Empowerment). Sebuah metode yang akan membantu kita untuk mengenal dan mengembangkan tiga mutiara (potensi) diri secara benar, maksimal dan seimbang. Pertanyaan berikutnya adalah : Apa output atau standarisasi dari metode tersebut? Untuk itu, Sepuluh Karakter Mulia yang akan lahir dari penerapan metode SEI Empowrment, jika saja informasi dan rumusannya dipahami dengan baik, diyakini kebenarannya dan diterapkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari secara konsisten.
Kami juga menyadari, untuk menguasai dan memiliki 10 karakter tersebut memerlukan waktu. Untuk itulah Level Intermediate, Advanced dan Extraordinary kami rumuskan.
Sebelum memasuki Wisata Abadi Manusia, metode SEI Empowerment dan 10 Karakter Mulia, ada beberapa informasi yang perlu dikuasai untuk membantu pemahaman dan internalisasi ketiga tema tersebut. Informasi tersebut terkait dengan :
1. Defenisi Sukses
2. Tiga Pertanyaan Besar
3. Bahaya Virus Materialisme
4. Antara Masnusia, Malaikat, Hewan dan Iblis.
Defenisi Sukses
Sukses. Sebuah kata yang paling banyak diucapakan dan kita dengar. Sejak dari lahir kita mendengar kata : Alahamdulillah anak saya lahir dengan sukses. Kemudian meningkat usia balita : Alhamdulillah anak saya sukses (diterima) di TK X. Terus sukses tamat SD, SMP, SAM dan sukses masuk PT bonafide. Setelah itu apa lagi? Sukses dapat pekerjaan di perusaaan besar baik lokal maupun asing. Setelah itu sukses apa lagi? Sukses meminang wanita/pria idaman. Sukses membangun rumah tangga dengan tinggal di rumah kreditan (KPR) dan juga kendraan yang dikredit barangkali…. Terus apa lagi? Ya, sukses menabung sekian jumlah rumiah dan dolar AS yang semakin hari semakin terkuras nilainya….
Lalu sukses apa lagi? Sukses punya anak dan begitulah seterusnya. Sukses muter-muter reproduksi yang sesungguhnya tidak jauh berebeda dengan makhluk lain. Kendati berbeda profesi, sperti pengusaha, ilmuan, politisi dan sebagainya. Namun esensi kehidupan dibangun di atas definisi sukses yang berbasis materi. Kesuksesan materilah yang menjadi standar hidup. Kesuksesan materi akan terlihat aneh dan berbahaya bagi sesorang jika dibarengi dengan terjangkitnya penyakit jiwa yang bernama “kesombongan”. Biasanya penyakit “kesombingan” itu selalu menempel dengan materisme kecuali hamba-hamba yang diselamatkan Allah.
Itulah gambaras sukses yang berkembanag dalam masyarakat kita saat ini. Persis seperti apa yang dialami masyarakat zaman Jahilyah saat Muhammad Saw. diutus menjadi Rasul lebih 14 abad yang lalu. Saat itu, sukses selalu dikaitkan dengan pencapaian-pencapaian dunia materi seperti, kemampuan bersyair, keturunan, suku, harta, tahta dan wanita, tanpa ada sistem yang fitri yang mengaturnya. Semuanya cendrung berlandaskan hawa nafsu, bukan kecerdasan spiritual, emotional dan intellectual yang memadai. Itulah kesuksesan yang dibungkus dengan kebanggaan semu atau kesombongan Iblis.
Pertanyaan berikutnya adalah : Benrakah demiakian makna sukses yang sebenarnya bagi manusia sebagai makhluk yang mendapatkan anugerah “kemulian” dan khalifah Allah di muka bumi ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tegantung informasi yang samapai kepada kita. Menurut informasi kebanyakan manusia, siukses yang sebenaranya adalah seperti yang digambarkan di tas. Namun, bagaimana pula sukses berdasarkan informasi yang datang dari Tuhan Pencipta manusia itu sendiri? Mari kita renungkan beberapa firman Allah berikut :
قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Allah berfriman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran (iman) mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap-Nya . Itulah kesuksesan yang paling besar".(QS. Al-Maidah : 119)
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
llah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Attaubah : 89)
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalmnya selama-lamanya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Attaubah : 100)
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Ash-shaf : 12)
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan nya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Attaghabun: 9 )
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)
Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kesuskesn yang amat besar. (QS. Al-ahzab :71)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat. Sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran :185)
Nah, bagaiamana perasaan dan pikiran Anda saat membaca dan merenungkan informasi yang datang dari Tuhan Pencipta Anda sendiri? Pasti Anda berfikir ulang jika peresepsi atau pemahaman Anda terhadap sukses selama ini tidak sesuai dengan Tuhan Pencipta Anda. Namun jika sesuai, ucapkanlah Alhamdulilllah, berarti Anda masih dalam lindungan dan curahan rahmat-Nya. Pegang teguhlah pemahaman seperti itu sampai detik terakhir kehudpan Anda di bumi. Isnyaa Allah Anda pasti sukses dunia dan terlebih lagi di akhirat kelak.
Menurut informasi dari pemikik segala sumber informasi, yakni Allah Ta’ala bahwa makna atau definisi sukses bagi seorang anak manusia bukan diukur dari pencapaian berbagai bentuk materi, pangkat, keudusukan dan sebagainya saat hidup di dunia yang sementara ini. Akan tetapi sejauh mana ia berhasil menjalankan misi ibadah dan visi khilafah yang telah ditentukan Tuhan Pencipta saat ia hidup di dunia yang sementara ini. Materi dengan segala fasilitas hidup yang diciptakan Allah di dunia ini hanya sebatas sarana untuk merealisasikan misi ibadah visi khilafh, bukuan sebagai tujuan hidup. Tujuan hidup di dunia yang fana ini adalah kehidupan abadi di akhirat kelak. Di sanalah dietntukan seseorang sukses atau tidak. Saat Allah anugerahkan padanya syurga dan terhindar dari neraka, itulah kesuksesan yang sesungguhnya alias kesuksesan tanpa batas.
Ini adalah informasi yang dapat dibuktikan kebenarannya secara absolutely, karena datang dari Tuhan Pencipta kita. Masih adakah informs lain yang lebih kita percaya dari informasi yang datang dari Tuhan Pencipta kita dan Pencipta alam semesta?
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar ucapan (nya) dari pada Allah? (QS. Annisa’ : 87 )
الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? (QS. Annisa’ : 122 ).
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/manajemen-informasi-bag-1.htm
Informasi. Sebuah kata yang tidak terlalu memancing perhatian banyak orang karena tidak terlihat bombaptis. Lain halnya dengan kata “revolusi”, “Jihad” “kudeta”, “krisis” dan sebagainya. Informasi berasal dari bahasa Inggris yakni, information. Dalam bahas Arab disebut dengan : ma’lumat.
Para pelaku bisnis misalnya, berusaha menguasai informasi baik melalu iklan produk atau jasa yang mereka tawarkan ke pasar maupun melalui penguasaan media sebagai sumber dan alat penyebar informasi itu sendiri. Tak jarang, informasi produk dagang tertentu dibuat sedemikian rupa, apalagi dengan kemasan multimedia, sehingga terkesan “bohong” yang tidak disadari kebanyakan pembaca atau pemirsanya. Korban iklanpun berjatuhan.
Para politisi dan pengiuasa juga berupaya menguasai sumber-sumber informasi yang akan membentuk opini masyarakat sehingga berbagai aktivitas politik dan jalannya kekuasaan mereka terkesan baik dan bersih. Penguasa yang menguasai informasi bisa dengan mudah membalikkan fakta apa yang sesunguhnya mereka lalukan. Kita masih ingat betapa istilah Bapak Pembangunan bagi mendiang Presiden soeharto begitu melekat dalam benak masyarakat di zaman Orde Baru. Berbagai kejahatan yang dilakukan rezim di zaman itu nyaris tidak terungkap ke permuakaan kecuali setelah dipaksa lengser oleh rakyat Mei 1998.
Di Amerika Serikat juga demikian. Media sebagai sumber dan penyebar informasi sangat menentukan arah politik dan kekuasaan pemerintahnya. Sbuah buku dengan judul : The Nation of Sheep (Bangsa Keledai), menggambarkan betapa elite politik Amerika berhasil menjadikan masyarakatnya bagaikan keledai yang ditunggangi kemana arah yang diinginkan. Invasi yang dilakukan AS ke Vietnam, Afghanistan dan Irak diinformasikan ke masyarakat sebagai penyelamatan kepentingan AS dan kemanusian. Mayoritas masyarakatnya dan juga sebagain besar masyarakat duniapun percaya begitu saja. Korban informasipun berjatuhan.
Apalagi dalam dunia perang, informasi sangat dibutuhkan. Termasuk perang bisnis. Dunia pendidikanpun tak tinggal diam melihat pentingnya informasi dalam kehidupan. Sampai-sampai para ahli pendidikan meciptakan sebuah jurusan khusus dengan nama Teknologi Informasi (TI).
Pokonya, tidak ada di dunia ini yang bisa terlepas dari informasi. Maka tidak heran jika pakar selalu mengatakan, bagi yang mengusai informasi dialah yang akan memenangkan peperangan.
Sesungguhnya di dunia ini, sejak Allah merancang manusia menjadi khalifah di muka bumi, terus Adam dan Hawa diciptakan dan ditempatkan di syurga, peran informasi sudah sangat besar. Keunggulan Adam terhadap para Malaikat misalnya, karena Adam menguasai informasi tentang benda dan apa saja yang ada saat itu seperti yang Allah ajarkan kepadanya. Sebaliknya, kekalahan Adan dan Hawa menghadapi tipu miuslihat Setan juga disebabkan mereka menerima informasi dari Setan begitu saja, tanpa chek & recheck. Samapi detik ini, setiap saat terjadi perang informasi. Perang informasi ini akan terus berlanjut sampai dunia ini Allah hancurkan.
Sebab itu, informasi harus dimenej, yakni dengan menelusuru sumbernya, mengenal pembawa atau penyebarnya, menguji kebenarannya, dinilai tingkat dan bobotnya dan sebagainya. Karena menurut Ulama ilmu hadist, setiap informasi itu bisa benar dan bisan bohong. Kalau kita tidak mampu memenejnya dengan baik, kita akan menjadi korban perang informasi. Korban informasi tentang kehidupan dunia merupakan kerugian besar. Apatah lagi korban informasi tentang akhirat tentu amat ditakutkan.
Nah, bagaiamana dengan Manajemen Informasi yang kita maksudkan dalam Life Mangement ini? Manajamen informasi dalam konsep Life Management ialah penguasaan akan informasi yang bersifat absolutely terkait dengan :
1. Hakikat Tuhan Pencipta.
2. Hakikat Alam Semesta.
3. Hakikat manusia dan kehidupan dunia.
Artinya, semua informasi terkait tiga hakikat besar di atas bersumber dari sumber yang amat terpercaya, bisa diuji kebenaranya secara ilmu pengetahuan maupun fakta dan pengalaman hidup jutaan manusia yang menerapkannya. Informasi tersebut juga sebagai informasi primer (informasi dasar) yang harus diketahui sebagai langkah awal (basic stape) untuk menjadi the winner (pemenang) dalam kehidupan dunia dan juga kehidupan akhirat kelak. Itulah The great success – kesuksesan tanpa batas – yang menjadi fokus utama hidup para Nabi dan orang-orang shaleh yang memiliki kecerdasan spiritual, emotional dan intellectual yang prima.
Informasi terkait tiga hakikat besar di atas kami uraikan dalam dengan judul : Rihlatul Khulud (Wisata Abadi Masnusia). Lalu, bagaimana ketiga hakikat besar tersebut menjadi pilihan pengetahuan dan informasi dalam hidup ini? Kami merumuskan sebuah metode deangan nama Spiritual, Emotional & Intellectual Empowerment (SEI Empowerment). Sebuah metode yang akan membantu kita untuk mengenal dan mengembangkan tiga mutiara (potensi) diri secara benar, maksimal dan seimbang. Pertanyaan berikutnya adalah : Apa output atau standarisasi dari metode tersebut? Untuk itu, Sepuluh Karakter Mulia yang akan lahir dari penerapan metode SEI Empowrment, jika saja informasi dan rumusannya dipahami dengan baik, diyakini kebenarannya dan diterapkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari secara konsisten.
Kami juga menyadari, untuk menguasai dan memiliki 10 karakter tersebut memerlukan waktu. Untuk itulah Level Intermediate, Advanced dan Extraordinary kami rumuskan.
Sebelum memasuki Wisata Abadi Manusia, metode SEI Empowerment dan 10 Karakter Mulia, ada beberapa informasi yang perlu dikuasai untuk membantu pemahaman dan internalisasi ketiga tema tersebut. Informasi tersebut terkait dengan :
1. Defenisi Sukses
2. Tiga Pertanyaan Besar
3. Bahaya Virus Materialisme
4. Antara Masnusia, Malaikat, Hewan dan Iblis.
Defenisi Sukses
Sukses. Sebuah kata yang paling banyak diucapakan dan kita dengar. Sejak dari lahir kita mendengar kata : Alahamdulillah anak saya lahir dengan sukses. Kemudian meningkat usia balita : Alhamdulillah anak saya sukses (diterima) di TK X. Terus sukses tamat SD, SMP, SAM dan sukses masuk PT bonafide. Setelah itu apa lagi? Sukses dapat pekerjaan di perusaaan besar baik lokal maupun asing. Setelah itu sukses apa lagi? Sukses meminang wanita/pria idaman. Sukses membangun rumah tangga dengan tinggal di rumah kreditan (KPR) dan juga kendraan yang dikredit barangkali…. Terus apa lagi? Ya, sukses menabung sekian jumlah rumiah dan dolar AS yang semakin hari semakin terkuras nilainya….
Lalu sukses apa lagi? Sukses punya anak dan begitulah seterusnya. Sukses muter-muter reproduksi yang sesungguhnya tidak jauh berebeda dengan makhluk lain. Kendati berbeda profesi, sperti pengusaha, ilmuan, politisi dan sebagainya. Namun esensi kehidupan dibangun di atas definisi sukses yang berbasis materi. Kesuksesan materilah yang menjadi standar hidup. Kesuksesan materi akan terlihat aneh dan berbahaya bagi sesorang jika dibarengi dengan terjangkitnya penyakit jiwa yang bernama “kesombongan”. Biasanya penyakit “kesombingan” itu selalu menempel dengan materisme kecuali hamba-hamba yang diselamatkan Allah.
Itulah gambaras sukses yang berkembanag dalam masyarakat kita saat ini. Persis seperti apa yang dialami masyarakat zaman Jahilyah saat Muhammad Saw. diutus menjadi Rasul lebih 14 abad yang lalu. Saat itu, sukses selalu dikaitkan dengan pencapaian-pencapaian dunia materi seperti, kemampuan bersyair, keturunan, suku, harta, tahta dan wanita, tanpa ada sistem yang fitri yang mengaturnya. Semuanya cendrung berlandaskan hawa nafsu, bukan kecerdasan spiritual, emotional dan intellectual yang memadai. Itulah kesuksesan yang dibungkus dengan kebanggaan semu atau kesombongan Iblis.
Pertanyaan berikutnya adalah : Benrakah demiakian makna sukses yang sebenarnya bagi manusia sebagai makhluk yang mendapatkan anugerah “kemulian” dan khalifah Allah di muka bumi ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tegantung informasi yang samapai kepada kita. Menurut informasi kebanyakan manusia, siukses yang sebenaranya adalah seperti yang digambarkan di tas. Namun, bagaimana pula sukses berdasarkan informasi yang datang dari Tuhan Pencipta manusia itu sendiri? Mari kita renungkan beberapa firman Allah berikut :
قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Allah berfriman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran (iman) mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap-Nya . Itulah kesuksesan yang paling besar".(QS. Al-Maidah : 119)
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
llah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Attaubah : 89)
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalmnya selama-lamanya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Attaubah : 100)
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Ash-shaf : 12)
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan nya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kesuksesan yang paling besar. (QS. Attaghabun: 9 )
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)
Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kesuskesn yang amat besar. (QS. Al-ahzab :71)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat. Sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran :185)
Nah, bagaiamana perasaan dan pikiran Anda saat membaca dan merenungkan informasi yang datang dari Tuhan Pencipta Anda sendiri? Pasti Anda berfikir ulang jika peresepsi atau pemahaman Anda terhadap sukses selama ini tidak sesuai dengan Tuhan Pencipta Anda. Namun jika sesuai, ucapkanlah Alhamdulilllah, berarti Anda masih dalam lindungan dan curahan rahmat-Nya. Pegang teguhlah pemahaman seperti itu sampai detik terakhir kehudpan Anda di bumi. Isnyaa Allah Anda pasti sukses dunia dan terlebih lagi di akhirat kelak.
Menurut informasi dari pemikik segala sumber informasi, yakni Allah Ta’ala bahwa makna atau definisi sukses bagi seorang anak manusia bukan diukur dari pencapaian berbagai bentuk materi, pangkat, keudusukan dan sebagainya saat hidup di dunia yang sementara ini. Akan tetapi sejauh mana ia berhasil menjalankan misi ibadah dan visi khilafah yang telah ditentukan Tuhan Pencipta saat ia hidup di dunia yang sementara ini. Materi dengan segala fasilitas hidup yang diciptakan Allah di dunia ini hanya sebatas sarana untuk merealisasikan misi ibadah visi khilafh, bukuan sebagai tujuan hidup. Tujuan hidup di dunia yang fana ini adalah kehidupan abadi di akhirat kelak. Di sanalah dietntukan seseorang sukses atau tidak. Saat Allah anugerahkan padanya syurga dan terhindar dari neraka, itulah kesuksesan yang sesungguhnya alias kesuksesan tanpa batas.
Ini adalah informasi yang dapat dibuktikan kebenarannya secara absolutely, karena datang dari Tuhan Pencipta kita. Masih adakah informs lain yang lebih kita percaya dari informasi yang datang dari Tuhan Pencipta kita dan Pencipta alam semesta?
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar ucapan (nya) dari pada Allah? (QS. Annisa’ : 87 )
الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? (QS. Annisa’ : 122 ).
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/manajemen-informasi-bag-1.htm
Hidayah (Petunjuk) dan Dholalah (Kesesatan)
Sering saya mendapat pertanyaan terkait masalah Hidayah (petunjuk) dan Dholalah (Kesesatan). Pertanyaan tentang Hidayah dan Dholalah tersebut erat kaitannya dengan tipologi manusia seperti yang dijelaskan di atas. Pertanyaan yang sering muncul ialah : Mengapa manusia ada yang beriman dan ada yang kafir (mengingkari) Allah Tuhan Pencipta? Kenapa tidak Allah cipatakan saja semua manusia itu beriman kepada-Nya. Bukankah Allah Maha Kuasa?
Sebagaimana yang sudah kami jelaskan dalam pembahasan Tipologi Manusia, bahwa Allah, Sebagai Tuhan Pencipta manusia mempersilahkan manusia itu sendiri yang memilih jalan mana yang akan mereka jadikan aturan dan standar hidup di dunia ini, apakah jalan iman (keyakinan dan ketaatan) kepada-Nya atau jalan kufur (pengingkaran dan maksiat) kepada-Nya.
Agar manusia tidak mempunyai peluang untuk meyangka, apalagi menuduh Allah itu diskriminatif atau zalim dalam memutuskan perkara manusia di Akhirat kelak berkaitan dengan apa yang telah mereka pilih dan kerjakan semasa mereka mendapat jatah hidup di dunia, dan juga sebagai bukti Maha Adilnya Allah Tuhan Pencipta dan tidak diktator, kendati terhadap hamba-Nya sekalipun, Allah telah menciptakan mereka dengan sebaik-baik bentuk dibandingkan dengan makhluk lain, sehingga menjadi makhluk yang sangat sempurna. Kesempurnaan manusia itu dilengkapi dengan fasilitas fisik yang super canggih, dibekali pula dengan empat alat super moderen, yakni telinga, mata, otak dan hati.
Kemudian diturunkan pula untuk mereka Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) yang menjelaskan mana hak (kebenaran) dan mana pula yang bathil, mana yang menyelamatkan dan mana yang menyesatkan manusia serta dibantu pula penjelasannya oleh seorang Rasul bernama Muhammad Saw. Kitab Petunjuk Hidup yang terjamin keasliannya sampai hari Kiamat itu didukung pula oleh tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan-Nya yang tesirat dalam jagad raya dan dalam diri manusia yang setiap saat dan waktu Allah munculkan baik melalui kerja keras manusia dalam melakukan eksperimen-eksperimen ilmiah atau Dia munculkan begitu saja di hadapan mereka. Namun demikian, mengapa masih banyak manusia yang ingkar, ,menentang Allah Tuhan Pencipta, dan bahkan ada yang menolak keberadaan-Nya sedangkan mereka sendiri tinggal di atas bumi yang diciptakan-Nya?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, pembahasan tentang Hidayah dan Dholalah sangatlah penting. Agar masalah Hidayah dan Dholalah tersebut terbahas secara memuaskan, maka ada delapan poin yang perlu mendapatkan perhatian kita. Dalam kesempatan ini, kami akan membahasnya secara singkat. Kedelapan poin tersebut ialah :
1. Pengertian Hidayah (Petunjuk)
2. Macam-Macam Hidayah
3. Pengertian Dholalah (Kesesatan)
4. Macam-Macam Dholalah (Kesesatan)
5. Otoritas Hidayah dan Dholalah (Kesesatan)
6. Sebab-Sebab Hidayah
7. Sebab-Sebab Dholalah (Kesesatan)
8. Sumber Hidayah dan Dholalah (Kesesatan)
1. Pengertian Hidayah (Petunjuk)
Kata Hidayah adalah bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : هدى – يهدي – هديا – هدى – هدية - هداية (hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan) . Khusus yang terakhir, kata (هداية) kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : ضلالة (Dholalah) yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan. Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah surat Al-Baqarah berikut :
(أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 5)
2. Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”, As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”. Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, mengakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut di atas, sesungguhnya Hidayah, secara mumu, terbagi benjadi empat bagian uatama :
1. Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nahl berikut :
إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (37)
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl (16) : 37)
Atau seperti firman Allah di bawah ini :
وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ (28)
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya). (Q.S. Al-Mu’min (40) : 28)
2. Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk Terkait Jalan Hidup (Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw) seperti Firman Allah dalam surat Al-Hajj berikut ini :
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلا يُنَازِعُنَّكَ فِي الأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ (67)
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S. Al-Hajj (22) : 67)
ِAtau seperti firman Allah di bawah ini :
إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (23)
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm (53) : 23)
3. Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup), seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut berikut :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut (29) : 69)
4. Hidayah Fithriyah (Fitrah). Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka. Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firma-Nnya:
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (Q.S. Al-An’am (6) : 77)
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/3-hidayah-petunjuk-dan-dholalah-kesesatan.htm
Hidayah (Petunjuk) dan Dholalah (Kesesatan) (2)
Dalam Al-Qur’an, kata Dholalah dengan berbagai pecahannya terdapat sebanyak 151 ayat. Adapun dalam Hadit Rasulullah, terdapat sebanyak 34 kali.
1. Pengertian Dholalah (Kesesatan)
Dholalah juga dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang berarti “kesesatan atau tidak beruntung”. Akar katanya ialah : ضل – يضل –ضلالا – ضلالة – (dholla, yadhillu, dhlaalan dan dholaalatan ). Dholalah secara bahasa artinya kesesatan/tersesat Lawan katanya adalah : هداية (hidaayatan) yang berarti dapat petunjuk. Secara istilah (terminologi), Dholalah/Kesesatan ialah penyimpangan dari petunjuk atau jalan yang lurus atau jalan yang benar (Allah). Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah surat Al-An’am berikut :
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ (116)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Q.S. Al-An’am (6) : 116)
Dalam Al-Qur’an, kata Dholalah dengan berbagai pecahannya terdapat sebanyak 151 ayat. Adapun dalam Hadit Rasulullah, terdapat sebanyak 34 kali. Pengertian Dholalah dalam Al-Qur’an tidak kurang dari sembilan makna seperti; tergelincir, kerugian, kesengsaraan, kerusakan, kesalahan, celaka, lupa, kebodohan dan ksesatan sebagai lawan kata Hidayah (Petunjuk).
2. Macam-Macam Dholalah (Kesesatan)
Sebagaimana Hidayah terdiri dari empat macam, maka Dholalah (Kesesatan) juga terbagi menjadi empat macam, yaitu :
1. Dholalah I’tiqodiyah (Kesesatan Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nisa’ berikut :
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا (116)
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya."
(Q.S. An-Nisa’ (4) : 116)
2. Dholalah Thoriqiyah (Kesesatan Terkait Jalan Hidup) seperti firmana Allah dalam surat Al-Ahzab berikut :
۞ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا (36)
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat,dalam keadaan sesat yang nyata.”
(Q.S. Al-Ahzab (33) : 36)
3. Dholalah ‘Amaliyah (Kesesatan Terkait Aktivitas Hidup) seperti firman Allah dalam surat An-Nisa’ berikut :
وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119)
Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya". Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata (119)
(Q.S. An-Nisa’ (4) : 119)
4. Dholah Ilhamiyah (Insting Hewani). Dholalah Ilhamiyah ini terkait dengan kecendrungan alami yang ada dalam diri manusia untuk melakukan penyimpangan dalam hal-hal yang tidak bermanfaat atau merugikan diri mereka atau orang lain, atau berlawanan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Realisasinya tergantung atas pilihan mereka sendiri. Sumbernya adalah hawa nafsu yang ada dalam diri mereka. Allah menjelaskan dalam surat Al-Balad berikut :
۞ أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ (8) وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ (9) وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (10)
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata (8) Dan lidah beserta dua bibir (9) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebaikan dan jalan keburukan) (10)” (Q.S. Al-Balad (90) : 8 – 10)
3. Otoritas Hidayah dan Dholalah
Sebagai Pencipta Tunggal alam semesta, termasuk manusia, Allah adalah Pemilik otoritas Hidayah dan Dholalah. Sebab itu, tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu memberikan Hidayah kepada seseorang kendati manusia yang paling dicintainya, termasuk Rsulullah Saw. Allah menjelaskan hal tersebut dalam firman-Nya:
قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ (149)
"Katakanlah: "Allah mempunyai hujah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya" (Q.S. Al-An’am (6): 149)
Peristiwa yang dialami paman Nabi bernama Abu Thalib yang tidak kunjung mau mengucapkan dua kalimah syahadat ( أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله ) beberapa saat sebelum meninggal, kendati Rasululllah telah memintanya berkali-kali untuk mengucapkanya dan dijamin masuk Syurga, merupakan bukti bahwa Beliau tidak memiliki kemampuan memberikan Hidayah kepada siapapun, kendati kepada orang yang sangat ia cintai. Sebab itu, Nabi Muhammad sangat sedih karena sudah sedemikian banyak dukungan dan bantuan terhadap dakwah Islam yang diberikan pamannya ketika masih hidup. Karena tidak mau mengucapkan dua kalimah syahadat maka nasib paman Beliau di Akhirat kelak akan sama dengan kaum kafir Quraisy lainnya yang membangkang dan menolak dakwah Islam yang disampaikannya. Dalam kesedihan yang mendalam itu, Allah menurunkan firman-Nya untuk menghibur Nabi Muhammad agar bisa meninggalkan kesedihan yang tidak sesuai dengan sistem-Nya. Masalah ini dijelaskan Allah dalam surat Al-Qashas berikut :
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (56)
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”
(Q.S. Al-Qashash (28) : 56)
Demikian pula dengan Dholalah (kesesatan). Tidak satupun makhluk dari jin, manusia maupun setan yang mampu menyesatkan manusia, khususnya dari Hidayah I’tiqodiyah dan Hidayah Thoriqiyah. Yang mampu mereka lakukan hanya mendorong dan menggoda manusia untuk memilih Dholalah. Sdangkan kuncinya terletak di tangan Allah Tuhan Pencipta.
Kunci tersebut akan Allah bukakan bagi manusia yang tertipu, tergoda dan terperdaya oleh setan atau manusia, atau karena mereka yang memilihnya dengan suka rela berdasarkan hawa nafsu dan kebodohan diri mereka sendiri.
Sejarah manusia, baik sebelum kenabian Muhammad Saw, maupun setelah kenabian Beliau, penuh dengan fakta orang-orang yang kukuh mempertahankan Hidayah dan keimanan mereka, kendati menghadapi tekanan, teror dan bahkan ancaman penjara, pengusiran dan pembunuhan. Mayoritas Nabi dan para pengikut mereka yang setia pada kebenaran yang dibawa mereka, menghadapi berbagai ancaman dan teror, khususnya dari para penguasa ketika itu. Bahkan tidak sedikit Nabi yang hendak dibunuh umatnya, termasuk Nabi Muhammad Saw.
Setelah kedatangan Nabi Muhammad Saw. tercatat pula Bilal Bin Rabah, Ammar Bin Yasir dan sejumlah Sahabat lainnya. Kemudian sejarah juga mencatat bagaimana ulama besar seperti Ibnu Taimiyah, Ahmad Bin Hambal dan sebagainya yang mendapatkan siksaan dari penguasa zalim di zaman itu. Begitulah seterusanya sampai hari ini. Bahkan pada pertengahan abad 20 dan awal abad 21 terdapat sejumlah ulama dan tokoh besar Isalam yang digantung dan dibunuh dengan cara yang amat keji seperti Hasan Al-Banna, Sayid Qutb, Abdul Qodir Audah, Kamaluddin Assananiri (suami Aminah Qutb), Presiden Ziaul haq, Abdullah Azzam, Presiden Dudayef, Syekh Ahmad Yasin, Dr. Rantisi, Syamil Basayef dan seterusnya.
Kenapa mereka diperlakukan demikian? Jawabannya ialah karena para pembunuh mereka itu tidak berhasil menjual Dholalah (Kesesatan) yang mereka tawarkan kepada para ulama dan tokoh tersebut. Pada waktu yang sama, Hidayah yang dimiliki para ulama dan tokoh Islam tersebut lebih mereka takuti dari senjata nuklir. Sebaliknya, para ulama dan tokoh Islam itu lebih mencintai kematian di jalan Hidayah dan keimanan ketimbang tunduk kepada kesesatan yang dipaksakan oleh manusia-manusia zalim yang berkuasa.
Inilah yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya tetantang sekelompok pemuda yang disebut dengan Ash-habul Kahfi :
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا (17)
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
(Q.S. Al-Kahfi (18) : 17)
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/hidayah-dan-dholalah-2.htm
Sebagaimana yang sudah kami jelaskan dalam pembahasan Tipologi Manusia, bahwa Allah, Sebagai Tuhan Pencipta manusia mempersilahkan manusia itu sendiri yang memilih jalan mana yang akan mereka jadikan aturan dan standar hidup di dunia ini, apakah jalan iman (keyakinan dan ketaatan) kepada-Nya atau jalan kufur (pengingkaran dan maksiat) kepada-Nya.
Agar manusia tidak mempunyai peluang untuk meyangka, apalagi menuduh Allah itu diskriminatif atau zalim dalam memutuskan perkara manusia di Akhirat kelak berkaitan dengan apa yang telah mereka pilih dan kerjakan semasa mereka mendapat jatah hidup di dunia, dan juga sebagai bukti Maha Adilnya Allah Tuhan Pencipta dan tidak diktator, kendati terhadap hamba-Nya sekalipun, Allah telah menciptakan mereka dengan sebaik-baik bentuk dibandingkan dengan makhluk lain, sehingga menjadi makhluk yang sangat sempurna. Kesempurnaan manusia itu dilengkapi dengan fasilitas fisik yang super canggih, dibekali pula dengan empat alat super moderen, yakni telinga, mata, otak dan hati.
Kemudian diturunkan pula untuk mereka Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) yang menjelaskan mana hak (kebenaran) dan mana pula yang bathil, mana yang menyelamatkan dan mana yang menyesatkan manusia serta dibantu pula penjelasannya oleh seorang Rasul bernama Muhammad Saw. Kitab Petunjuk Hidup yang terjamin keasliannya sampai hari Kiamat itu didukung pula oleh tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan-Nya yang tesirat dalam jagad raya dan dalam diri manusia yang setiap saat dan waktu Allah munculkan baik melalui kerja keras manusia dalam melakukan eksperimen-eksperimen ilmiah atau Dia munculkan begitu saja di hadapan mereka. Namun demikian, mengapa masih banyak manusia yang ingkar, ,menentang Allah Tuhan Pencipta, dan bahkan ada yang menolak keberadaan-Nya sedangkan mereka sendiri tinggal di atas bumi yang diciptakan-Nya?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, pembahasan tentang Hidayah dan Dholalah sangatlah penting. Agar masalah Hidayah dan Dholalah tersebut terbahas secara memuaskan, maka ada delapan poin yang perlu mendapatkan perhatian kita. Dalam kesempatan ini, kami akan membahasnya secara singkat. Kedelapan poin tersebut ialah :
1. Pengertian Hidayah (Petunjuk)
2. Macam-Macam Hidayah
3. Pengertian Dholalah (Kesesatan)
4. Macam-Macam Dholalah (Kesesatan)
5. Otoritas Hidayah dan Dholalah (Kesesatan)
6. Sebab-Sebab Hidayah
7. Sebab-Sebab Dholalah (Kesesatan)
8. Sumber Hidayah dan Dholalah (Kesesatan)
1. Pengertian Hidayah (Petunjuk)
Kata Hidayah adalah bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : هدى – يهدي – هديا – هدى – هدية - هداية (hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan) . Khusus yang terakhir, kata (هداية) kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : ضلالة (Dholalah) yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan. Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah surat Al-Baqarah berikut :
(أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 5)
2. Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”, As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”. Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, mengakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut di atas, sesungguhnya Hidayah, secara mumu, terbagi benjadi empat bagian uatama :
1. Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nahl berikut :
إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (37)
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl (16) : 37)
Atau seperti firman Allah di bawah ini :
وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ (28)
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya). (Q.S. Al-Mu’min (40) : 28)
2. Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk Terkait Jalan Hidup (Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw) seperti Firman Allah dalam surat Al-Hajj berikut ini :
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلا يُنَازِعُنَّكَ فِي الأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ (67)
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S. Al-Hajj (22) : 67)
ِAtau seperti firman Allah di bawah ini :
إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (23)
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm (53) : 23)
3. Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup), seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut berikut :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut (29) : 69)
4. Hidayah Fithriyah (Fitrah). Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka. Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firma-Nnya:
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (Q.S. Al-An’am (6) : 77)
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/3-hidayah-petunjuk-dan-dholalah-kesesatan.htm
Hidayah (Petunjuk) dan Dholalah (Kesesatan) (2)
Dalam Al-Qur’an, kata Dholalah dengan berbagai pecahannya terdapat sebanyak 151 ayat. Adapun dalam Hadit Rasulullah, terdapat sebanyak 34 kali.
1. Pengertian Dholalah (Kesesatan)
Dholalah juga dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang berarti “kesesatan atau tidak beruntung”. Akar katanya ialah : ضل – يضل –ضلالا – ضلالة – (dholla, yadhillu, dhlaalan dan dholaalatan ). Dholalah secara bahasa artinya kesesatan/tersesat Lawan katanya adalah : هداية (hidaayatan) yang berarti dapat petunjuk. Secara istilah (terminologi), Dholalah/Kesesatan ialah penyimpangan dari petunjuk atau jalan yang lurus atau jalan yang benar (Allah). Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah surat Al-An’am berikut :
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ (116)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Q.S. Al-An’am (6) : 116)
Dalam Al-Qur’an, kata Dholalah dengan berbagai pecahannya terdapat sebanyak 151 ayat. Adapun dalam Hadit Rasulullah, terdapat sebanyak 34 kali. Pengertian Dholalah dalam Al-Qur’an tidak kurang dari sembilan makna seperti; tergelincir, kerugian, kesengsaraan, kerusakan, kesalahan, celaka, lupa, kebodohan dan ksesatan sebagai lawan kata Hidayah (Petunjuk).
2. Macam-Macam Dholalah (Kesesatan)
Sebagaimana Hidayah terdiri dari empat macam, maka Dholalah (Kesesatan) juga terbagi menjadi empat macam, yaitu :
1. Dholalah I’tiqodiyah (Kesesatan Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nisa’ berikut :
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا (116)
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya."
(Q.S. An-Nisa’ (4) : 116)
2. Dholalah Thoriqiyah (Kesesatan Terkait Jalan Hidup) seperti firmana Allah dalam surat Al-Ahzab berikut :
۞ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا (36)
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat,dalam keadaan sesat yang nyata.”
(Q.S. Al-Ahzab (33) : 36)
3. Dholalah ‘Amaliyah (Kesesatan Terkait Aktivitas Hidup) seperti firman Allah dalam surat An-Nisa’ berikut :
وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119)
Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya". Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata (119)
(Q.S. An-Nisa’ (4) : 119)
4. Dholah Ilhamiyah (Insting Hewani). Dholalah Ilhamiyah ini terkait dengan kecendrungan alami yang ada dalam diri manusia untuk melakukan penyimpangan dalam hal-hal yang tidak bermanfaat atau merugikan diri mereka atau orang lain, atau berlawanan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Realisasinya tergantung atas pilihan mereka sendiri. Sumbernya adalah hawa nafsu yang ada dalam diri mereka. Allah menjelaskan dalam surat Al-Balad berikut :
۞ أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ (8) وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ (9) وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (10)
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata (8) Dan lidah beserta dua bibir (9) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebaikan dan jalan keburukan) (10)” (Q.S. Al-Balad (90) : 8 – 10)
3. Otoritas Hidayah dan Dholalah
Sebagai Pencipta Tunggal alam semesta, termasuk manusia, Allah adalah Pemilik otoritas Hidayah dan Dholalah. Sebab itu, tidak ada seorangpun di dunia ini yang mampu memberikan Hidayah kepada seseorang kendati manusia yang paling dicintainya, termasuk Rsulullah Saw. Allah menjelaskan hal tersebut dalam firman-Nya:
قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ (149)
"Katakanlah: "Allah mempunyai hujah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya" (Q.S. Al-An’am (6): 149)
Peristiwa yang dialami paman Nabi bernama Abu Thalib yang tidak kunjung mau mengucapkan dua kalimah syahadat ( أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله ) beberapa saat sebelum meninggal, kendati Rasululllah telah memintanya berkali-kali untuk mengucapkanya dan dijamin masuk Syurga, merupakan bukti bahwa Beliau tidak memiliki kemampuan memberikan Hidayah kepada siapapun, kendati kepada orang yang sangat ia cintai. Sebab itu, Nabi Muhammad sangat sedih karena sudah sedemikian banyak dukungan dan bantuan terhadap dakwah Islam yang diberikan pamannya ketika masih hidup. Karena tidak mau mengucapkan dua kalimah syahadat maka nasib paman Beliau di Akhirat kelak akan sama dengan kaum kafir Quraisy lainnya yang membangkang dan menolak dakwah Islam yang disampaikannya. Dalam kesedihan yang mendalam itu, Allah menurunkan firman-Nya untuk menghibur Nabi Muhammad agar bisa meninggalkan kesedihan yang tidak sesuai dengan sistem-Nya. Masalah ini dijelaskan Allah dalam surat Al-Qashas berikut :
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (56)
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”
(Q.S. Al-Qashash (28) : 56)
Demikian pula dengan Dholalah (kesesatan). Tidak satupun makhluk dari jin, manusia maupun setan yang mampu menyesatkan manusia, khususnya dari Hidayah I’tiqodiyah dan Hidayah Thoriqiyah. Yang mampu mereka lakukan hanya mendorong dan menggoda manusia untuk memilih Dholalah. Sdangkan kuncinya terletak di tangan Allah Tuhan Pencipta.
Kunci tersebut akan Allah bukakan bagi manusia yang tertipu, tergoda dan terperdaya oleh setan atau manusia, atau karena mereka yang memilihnya dengan suka rela berdasarkan hawa nafsu dan kebodohan diri mereka sendiri.
Sejarah manusia, baik sebelum kenabian Muhammad Saw, maupun setelah kenabian Beliau, penuh dengan fakta orang-orang yang kukuh mempertahankan Hidayah dan keimanan mereka, kendati menghadapi tekanan, teror dan bahkan ancaman penjara, pengusiran dan pembunuhan. Mayoritas Nabi dan para pengikut mereka yang setia pada kebenaran yang dibawa mereka, menghadapi berbagai ancaman dan teror, khususnya dari para penguasa ketika itu. Bahkan tidak sedikit Nabi yang hendak dibunuh umatnya, termasuk Nabi Muhammad Saw.
Setelah kedatangan Nabi Muhammad Saw. tercatat pula Bilal Bin Rabah, Ammar Bin Yasir dan sejumlah Sahabat lainnya. Kemudian sejarah juga mencatat bagaimana ulama besar seperti Ibnu Taimiyah, Ahmad Bin Hambal dan sebagainya yang mendapatkan siksaan dari penguasa zalim di zaman itu. Begitulah seterusanya sampai hari ini. Bahkan pada pertengahan abad 20 dan awal abad 21 terdapat sejumlah ulama dan tokoh besar Isalam yang digantung dan dibunuh dengan cara yang amat keji seperti Hasan Al-Banna, Sayid Qutb, Abdul Qodir Audah, Kamaluddin Assananiri (suami Aminah Qutb), Presiden Ziaul haq, Abdullah Azzam, Presiden Dudayef, Syekh Ahmad Yasin, Dr. Rantisi, Syamil Basayef dan seterusnya.
Kenapa mereka diperlakukan demikian? Jawabannya ialah karena para pembunuh mereka itu tidak berhasil menjual Dholalah (Kesesatan) yang mereka tawarkan kepada para ulama dan tokoh tersebut. Pada waktu yang sama, Hidayah yang dimiliki para ulama dan tokoh Islam tersebut lebih mereka takuti dari senjata nuklir. Sebaliknya, para ulama dan tokoh Islam itu lebih mencintai kematian di jalan Hidayah dan keimanan ketimbang tunduk kepada kesesatan yang dipaksakan oleh manusia-manusia zalim yang berkuasa.
Inilah yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya tetantang sekelompok pemuda yang disebut dengan Ash-habul Kahfi :
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا (17)
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
(Q.S. Al-Kahfi (18) : 17)
http://www.eramuslim.com/syariah/life-management/hidayah-dan-dholalah-2.htm
Subscribe to:
Posts (Atom)