1. Jangan putus asa, karena Allah akan mengganti yang lebih baik
Allah tidak akan mengambil sesuatu pun dari manusia kecuali Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Itu akan terjadi apabila anda mau bersabar dan ridha dengan keputusan-Nya. Janganlah merasa sedih atas suatu musibah, karena setiap musibah yang ditakdirkan Allah merupakan sebuah ujian yang telah disiapkan imbalannya berupa pahala dan ganjaran yang besar yaitu surga. Biasakan diri anda untuk melihat sisi positif yang ada di balik setiap musibah. Masa yang dilalui di dunia ini amat singkat. Apa yang ada di dalamnya juga terlalu murah untuk dihargai. Sebaliknya, akhirat lebih baik dan kekal. Siapa saja yang tetap beriman ketika terkena musibah di dunia akan mendapat balasan yang sempurna di akhirat nanti. Siapa saja yang kelelahan karena menahan musibah agar tidak mengurangi ketaatannya kepada Allah dan malah meningkat akan merasakan kenyaman di akhirat. Sebaliknya, orang-orang yang bergantung pada kehidupan dunia, bergelimang dengan gemerlapnya, maka yang ada dalam benak mereka hanyalah rasa takut akan kehilangan kesenangan duniawi. Mereka selalu disibukkan dengan urusan dunia saja, karena yang mereka cari hanyalah kehidupan dunia. Oleh karena itu berbagai musibah dan kesulitan yang menimpa, terasa berat oleh mereka. Karena mereka hanya bisa melihat apa yang tampak di mata. Mereka tidak bisa melihat sesuatu dibaliknya. Apapun yang hilang adalah perantara untuk mendatangkan keuntungan. Sesungguhnya dalam setiap musibah yang terdapat isyarat bahwa orang itu akan mendapatkan sesuatu dari pencipta-Nya.
2. Orang lain belum tentu sebahagia yang anda bayangkan
Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Karena hanya melihat dari luar, kita mudah berpikir hidup orang lain lebih senang. Kita berpikir kalau apa yang mereka punyai juga kita miliki, maka hidup kita akan senang pula.
Salah satu penyebab kesedihan yang besar adalah putus cinta. Saya mempunyai teman yang menyenangi seorang akhwat. Tetapi akhwat ini tidak memberikan tanggapan yang diharapkan. Selama dua tahun dia selalu bercerita tentang suasana hatinya. Karena saya belum pernah mengalaminya, saya sungguh heran dengan kondisi dia. Pikir saya kalau akhwatnya tidak mau ya sudah, cari saja yang lain. Akhwat kan banyak. Mungkin anda yang belum merasakannya juga berpikir seperti itu. Namun sekarang saya sadar bahwa kita tidak tahu secara persis bagaimana perasaan orang apabila kita sendiri belum mengalaminya. Saya empati sekali bagi orang yang saat ini sedang mengalami kegundahan. Namun sadarlah meratapi hal yang tidak bisa dimiliki adalah sesuatu hal yang sia-sia.
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Seorang anak muda mengunjungi rumah sakit jiwa. Pada sebuah kamar dilihatnya, ada orang dengan tatapan kosong tiada henti menyebut, Dewi, Dewi. Anak muda ini heran dengan hal itu, lalu menanyakan masalah yang dihadapi pasien ini. Si dokter menjawab, ‘’Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Dewi.’’ Pengunjung muda ini tersenyum mengerti, tapi begitu lewat kamar lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, Dewi, Dewi. Dia kembali bertanya, orang ini juga punya masalah dengan Dewi?’’ tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ‘’Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Dewi “.
Anda yang saat ini tidak mendapatkan apa yang anda inginkan dan malah orang lain yang mendapatkan, mungkin muncul pikiran kalau saya yang mendapatkan pasti saya bahagia. Ingatlah, cerita diatas, bisa jadi anda malah menyesal kalau mendapatkannya.malah mungkin anda beruntung tidak mendapatkan hal itu.
3. Anda lebih beruntung
Terombang-ambing adalah ciri orang yang tertimpa musibah dan terhempas bencana. Hati dan pikirannya nya selalu dipenuhi suasana duka. Banyak orang yang tertimpa musibah dan banyak pula yang sabar. Anda bukanlah satu-satunya orang yang terkena bencana. Bahkan jika dibandingkan dengan yang lain, musibah yang anda alami tidaklah seberapa. Lihatlah berapa banyak orang sakit yang terbaring di atas tempat tidur selama bertahun-tahun dan hanya bisa mengerang. Lihatlah berapa banyak oarang yang terpenjara bertahun-tahun. Mereka tidak dapat melihat matahari dan tidak tahu apa yang terjadi diluar selnya. Berapa banyak orang yang ditolak cintanya, ditolak lamarannya, dibatalkan perjanjiannya. Berapa banyak pemuda yang kehilangan masa mudanya, kehilangan kegesitan masa mudanya entah penyakit ataupun kecelakaan.
Saya mengenal seorang teman yang sangat enerjik ketika kuliah. Aktif dalam berbagai macam kegiatan. Pintar dalam banyak hal. Setelah lulus kuliah dia mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Dia pingsan selama dua bulan karena mengalami pendarahan hebat di otaknya. Dokterpun memutuskan mengoperasi kepalanya dan mengambil sebagian otaknya. Akibatnya semua ingatannya hilang. Tak ada satupun yang dia ingat. Dia lupa dengan seluruh keluarga dan temannya. Bahkan dia pun tidak bisa membaca dan menulis lagi. Dia juga lupa bagaimana cara membaca al Qur’an. Awalnya dia marah dan kecewa dengan kondisi seperti itu. Tapi ternyata semangatnya yang dulu masih tersisa. Secara perlahan dia kembali belajar untuk membaca dan menulis Ketika bertemu saya, ada ucapannya yang tidak bakal saya lupakan. Dia berkata “ mungkin dulu anda adalah teman saya, anda mengenal saya dan sayapun mengenal anda. Tapi sekarang saya benar-benar lupa dengan anda, saya mohon maaf. Saya sedang belajar mengingat kembali. Ceritakanlah bagaimana saya dan anda dulu berteman ”. Saya hampir menangis mendengar hal itu. Dia tersenyum lalu berkata, “ pasti dulu kita bersahabat dengan baik. Jangan sedih melihat saya, karena saya sudah ridha dengan apa yang terjadi pada diri saya “.
Bandingkanlah apakah musibah yang anda terima lebih besar dari teman saya itu. Banyak orang yang lebih besar musibahnya. Percayalah anda jauh lebih beruntung.
4. Hidup ini berputar
Segala sesuatu pasti berputar. Seperti roda, ada saat di bawah dan ada saat di atas. Allah juga menciptakan segala sesuatu berpasangan. Ada laki-laki ada perempuan, ada siang ada malam, ada dingin ada api. Begitu pula ada kesusahan pasti ada kemudahan. Semuanya berputar saling bergantian. Dengan mengambil pelajaran dari itu, ingatlah bahwa setelah lapar akan dan masa kenyang, setelah haus akan ada rasa segar. Setelah terjaga akan ada masa tidur, setelah sakit akan ada masa sehat. Tidak tahu akan menjadi tahu, kesesatan akan diberi petunjuk, penderitaan akan berakhir dan kegelapan pasti akan lenyap. Namun semua harus dilakukan secara aktif. Anda tidak akan mampu menghilangkan rasa lapar apabila anda tidak berusaha untuk makan, tidak akan mampu menghilangkan rasa haus apabila tidak berusaha untuk minum.
Bila anda melihat lautan tak bertepi, ketahuilah di ujung sana ada daratan yang penuh dengan pepohonan. Bila anda melihat ikatan tali semakin kuat, ingatlah tidak akan lama lagi tali itu akan terputus. Bersama tangisan akan ada senyuman, bersama ketakutan akan ada keamanan, bersama kegalauan akan ada ketenangan. Orang yang membuat dinding di sekitar pikirannya tidak akan melihat keindahan yang ada diluar. Janganlah anda membatasi kemampuan daya tahan, karena mustahil setiap keadaan berlangsung terus menerus. Selama kita masih mau berusaha.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala yang diusahakannya dan ia mendapat siksa yang dikerjakannya. : "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."(2:286)
5. orang yang hidup pasti bergerak
Hidup adalah gerakan, hanya orang mati yang tak bergerak. Orang yang hanya mengurung diri dalam kamar atau terus menerus tenggelam dalam kesedihan, tidak mau bergerak, sama saja dengan orang mati. Sayang sekali kalau hidup di dunia yang hanya sekali dan sebentar saja ini tidak digunakan dengan sebaik mungkin. Orang yang menginginkan hati dan pikirannya sehat, haruslah menjauhkan setiap keinginan dan nafsu yang berlebihan dari setiap apa saja yang akan mengakibatkan keguncangan pada pikirannya. Apabila gerakan badan berkurang, tidaklah sempurna keseimbangan antara kenyamanan dan gerakan-gerakan yang terdapat pada batinnya. Yang terjadi adalah kekacauan pada raga karena gerakan pada batin sangat memerlukan pertolongan dengan adanya gerakan lahir, dan gerakan pada batin membutuhkan gerakan lahir untuk meluruskan aturan, sehingga tidak terjadi kekacauan pada jiwa dan raga secara bersamaan. Kita tidak akan merasakan hidangan kehidupan dan mencapai kebahagiaan yang dipersembahkan buat kita dalam kehidupan ini, apabila tidak terjadi keharmonisan antara jasad fisik dengan batin.
Apakah anda pernah menemukan seseorang yang hatinya yang penuh kekerasan dan didominasi oleh dendam dan kebencian mempunyai yang tubuh yang sehat dan tenang. Saya belum pernah menemukan dan saya yakin anda juga belum pernah menemukan. Hanya dengan gerakan dan olahraga batinlah hati dan pikiran bisa menjadi sehat
6. Tidak ada gunanya bersedih
Saya pernah merasakan kesedihan yang mendalam. Tetapi apa yang saya dapatkan, tidak ada sama sekali. Malah kesedihan yang saya pelihara itu membuat hidup tambah menderita dan kacau balau. Karena itulah saya bisa menyakinkan anda bahwa bersedih terus menerus tidaklah berguna. Tidak dapat dibantah lagi bahwa kesedihan adalah salah satu kondisi yang paling tragis dan paling besar terasa sakitnya bagi raga maupun jiwa. Apabila ia menyatu bersama kuku-kukunya yang tajam ke dalam jiwa, tidak lama kemudian ia akan merobek-robeknya dan memporak-porandakannya. Maka akan kita dapatkan manusia yang kacau dan mengalami kegoncangan dalam hidup dan kehidupannya. Dan kesedihan tadi akan mempengaruhi sebagian dan bahkan seluruh komponen kehidupannya jiwa dan raga, hingga ia melihat dunia dalam pandangan matanya lebih gelap dari kegelapan dan lebih sempit dari lubang jarum. Jiwanya tak ubahnya laksana tinta-tinta tebal di atas permukaan air. Ia menghitamkan setiap apa yang ia muntahkan dari dalam perutnya kepada apa pun yang dekat dengannya. Dan kesedihan akan menghitamkan kehidupannya dengan apa saja yang ia muntahkan atas dirinya dengan kesedihan-kesedihan dan kecemasan-kecemasan. Karenanya, anda akan melihat mereka menyamakan antara jiwa dan raga yang sedih dengan apa yang mereka pakai dan tampakkan dengan pakaian-pakaian berkabung. Tatkala penyakit sedih tadi menjadi sebuah penyakit yang menimpa jiwa seluruhnya.
7. Wahai yang sedang bersedih
Segala apa yang ditawarkan berupa alternatif penyembuhan kesedihan tersebut, jika anda mau menjalaninya dengan kebiasaan yang konsisten, mengontrol cara pandang hidup, berpikir positif dan memaksimalkan kesungguhan dan ketekunan, penelitian yang berulang-berulang, dan melatihnya menjadi sebuah kebiasaan, sehingga menyatu dalam jiwa. Ketika seseorang memiliki kemampuan untuk melakukannya secara terus-menerus, akan lahir darinya perilaku-perilaku jasmaniah dan kejiwaan yang menakjubkan dan mencengangkan keadaan.
Perlu adanya kerelaan pada seseorang untuk berpikir dan membiasakan diri untuk mempraktekkannya, sehingga sampai pada tujuan yang diinginkan, yaitu kebahagiaan. Segalanya akan menjadi berubah, tatkala anda hanya membaca tanpa mau menghayatinya, melihat tanpa mau merenunginya, menghafalnya tanpa mengekspresikannya. Banyaknya menelaah, membaca dan proses yang memakan waktu lama, tidaklah memberikan faedah pada akhirnya.
Ketahuilah bahwasanya raga itu terikat dengan jiwa dan begitupun sebaliknya. Penyakit yang menimpa jiwa akan memberikan pengaruh terhadap raga dan akan menjadikannya sakit, sebagaimana jiwa yang terpengaruh oleh raga yang sedang ditimpa penyakit.
Penyembuhan jiwa dari penyakit-penyakitnya haruslah dimulai dari keharusan untuk memiliki kesehatan raga, sebab kesehatan jiwa sangat tergantung padanya. Tujuan kerja keras dan upaya yang bijaksana yang akan membimbing seseorang mencapai kebahagiaan, yaitu dengan adanya jiwa yang sehat dan berimbas pada raga yang sehat pula.
8. Indahnya kesabaran
Menghiasi diri dengan sikap sabar merupakan sikap orang-orang mulia. Mereka menghadapi kesulitan hidup dengan lapang dada, tidak menyerah dan penuh percaya diri. Kalau tidak sabar apalagi yang akan dilakukan ? apakah ada solusi lain selain sabar ? apakah ada selain sabar yang bisa digunakan menghadapi persoalan hidup ?
Bersabarlah, sebagaimana kesabaran orang yang optimis akan datangnya pertolongan Allah. Bersabarlah, meskipun berbagai persoalan, membayangi kehidupan anda dan menghalangi jalan yang akan anda tempuh. Sesungguhnya pertolongan akan datang setelah kesabaran, kepangan akan datang setelah kesusahan dan kemudahan akan datang setelah kesulitan.
Semakin anda sabar, semakin dapat menerima hidup ini apa adanya, bukan memaksakan hidup ini persis seperti yang anda kehendaki. Tanpa kesabaran, hidup pastilah akan membuat frustasi. Anda akan mudah jengkel, kecewa dan marah. Menjadi sabar mengharuskan kita membuka hati pada saat ini, bahkan bila kita tak menyukainya.
Salah satu persoalan yang umum dialami oleh masyarakat perkotaan adalah kemacetan lalu lintas. Hampir setiap hari tanpa macet, berangkat atau pulang kemacetan seolah-oleh menghadang. Pada saat seperti itu merupakan waktu yang baik untuk menarik napas dan juga kesempatan untuk mengingatkan diri bahwa kemacetan dialami juga oleh orang lain.
Kesabaran juga mengharuskan kita tidak mudah melihat kesalahan orang lain. Bila kita mau melihat lebih jauh atau mencari tahu ada apa sebenarnya, anda akan menemukan bahwa orang lain itu tidak salah. Bila sesuatu tidak sesuai dengan harapan kita. Banyak dari kita yang berpikir , ini apsti karena kesalahan orang lain. Ketika barang anda hilang, anda langsung berpikir, pasti ada seseorang yang mencurinya. Anda memvonis pencuri itu sebagai orang yang bertangung jawab penuh atas kehilangan barang anda. Ketika listrik di rumah anda tidak berfungsi, anda langsung menuduh PLN tidak becus bekerja. Ketika anda terlambat datng ke sekolah atau ke kantor, anda mungkin akan menyalahkan supir angkutan karena sering berhenti. Orang lain bertanggung jawab atas perbuatan dan hasilnya, begitu pula anda bertanggung jawab atas segala perbuatan anda dan hasilnya anda sendiri yang menikmati. Anda tidak bisa menyuruh orang lain, untuk bertanggung jawab atas perbuatan anda. Kondisi ini pernah saya alami, sebagai seorang pegawai kecil, ketika suatu saat saya terlambat masuk, tiba-tiba tanpa basa-basi atasan saya menegor dan mengatakan saya salah, tidak bertanggung jawab, atau tidak taat aturan. Bukankah seharusnya dia bertanya dahulu. Sebenarnya saya datang lebih pagi dari dia, kemudian saya disuruh oleh atasan yang lain untuk memfotocopy dokumen. Menurut anda apa yang harus saya lakukan ? apakah saya harus marah ? apakah kemarahan itu berguna ? untungnya pikiran rasional saya masih berfungsi. Saya yakin ada hikmah dari kejadian ini. Mungkin Allah sedang menyiapkan saya, sehingga ketika menjadi pemimpin tahu bagaimana berhadapan dengan bawahan.
9. Tabahkan hatimu
Allah telah menetapkan takdir dan ajal seluruh makhluk-Nya, mengatur dan menentukan segala amal perbuatan serta tindak-tanduk mereka. Lalu Allah membagi-bagikan rezeki dan harta duniawi kepada mereka. Allah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian, siapa di antara mereka yang terbaik amalannya. Allah juga menjadikan iman terhadap qadha dan takdir-Nya sebagai salah satu rukun iman. Setiap sesuatu yang bergerak atau berdiam di langit dan di bumi, pasti menuruti kehendak dan keinginan Allah.
Dunia ini sarat dengan kesulitan dan kesusahan; diciptakan secara fitrah untuk dipenuhi dengan beban dan ancaman, aral rintangan serta berbagai cobaan. Tak ubahnya dingin dan panas, yang memang harus dirasakan oleh para hamba-Nya. Allah berfirman: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (2:155)
Jiwa manusia itu hanya dapat menjadi suci, setelah ditempa. Ujian dan cobaan, akan memperlihatkan kesejatian seseorang. Ibnul Jauzi mengungkapkan: “Orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan abadi tanpa ujian dan cobaan, berarti ia belum mengenal ajaran Islam dan tidak mengenal arti pasrah diri kepada Allah.” Setiap orang pasti akan merasakan susah, mukmin maupun kafir. Hidup ini memang dibangun di atas berbagai kesulitan dan marabahaya. Maka janganlah seseorang membayangkan bahwa dirinya akan terbebas dari kesusahan dan cobaan. Cobaan adalah lawan dari tujuan dan memang bertentangan dengan angan-angan dan kesenangan menikmati kelezatan hidup. Setiap orang pasti merasakannya, walau dengan ukuran yang berbeda, sedikit atau banyak. Seorang mukmin diberi ujian sebagai tempaan baginya, bukan siksaan. Terkadang cobaan itu ada dalam kesenangan, terkadang juga ada dalam kesusahan. Allah berfirman: Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan yang baik-baik dan yang buruk-buruk, agar mereka kembali (7:168)
Segala cobaan itu ada batasnya di sisi Allah. Jangan memaki, karena satu kata yang mengalir dari lidah, dapat membinasakan seseorang. Seorang mukmin yang kuat akan tegar menghadapi beban berat. Hatinya tidak akan berubah dan lisannya tidak akan mengutuk. Redamlah musibah itu dengan mengingat janji pahala dan kemudahan dari Allah, sehingga cobaan itu berlalu tanpa kita mengutukinya. Orang-orang berakal selalu menunjukkan ketegaran dalam menghadap musibah, agar mereka tidak mendapatkan ejekan musuh-musuh mereka. Karena bila mereka menampakkan musibah itu, para musuh mereka akan merasa senang dan gembira. Sebaliknya, menutup-nutupi musidah dan derita kelaparan adalah sifat orang-orang mulia. Ketabahan akan membendung bencana. Demikian cepatnya bencana itu berlalu, bila dihadapi dengan ketabahan. Paling kita hanya harus tabah menghadapi hari-hari yang pendek dalam hidup kita. Orang-orang yang binasa mengalami kebinasaan karena mereka kurang memiliki ketabahan. Orang-orang yang tabah, akan mendapatkan pahala terbaik.
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (16:96). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. (28:54)
Allah tidak pernah menahan sesuatu untukmu, wahai orang yang tertimpa musibah, melainkan karena Allah akan memberimu sesuatu yang lain. Allah hanya mengujimu, untuk memberikan keselamatan kepadamu. Allah hanya memberimu cobaan, untuk membersihkan dirimu. Selama masih ada umur, rezeki pasti akan datang. Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (11:6)
Bila dengan kebijaksanaan-Nya, Allah menutup sebagian rezeki, pasti Allah akan membukakan pintu rezeki yang lain yang lebih bermanfaat. Cobaan, justeru akan mengangkat derajat orang-orang shalih dan meningkatkan pahala mereka.
Saad bin Abi Waqqash berkata: “Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah ! Siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang sesudah mereka secara berurut menurut tingkat keshalih-annya. Seseorang akan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, akan ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringkankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikitpun.” (Riwayat Al-Bukhari)
10. Hidup ini penuh ujian, jangan bersedih
Kesedihan dapat memadamkan api motivasi, membunuh ruh semangat, dan membekukan jiwa. Kesedihan itu seperti demam yang akan melumpuhkan diri dari aktivitas kehidupan. Supaya terhindar dari hal itu anda perlu menanamkan prinsip bahwa kesedihan adalah suatu pilihan bukan keharusan. Anda sendirilah yang memutuskan apakah anda sedih atau tidak. Kalau anda memilih tidak sedih maka anda pun lepas dari kesedihan. Kesedihan merupakan sesuatu yang amat disukai setan. Setan menjadikan kesedihan sebagai alat untuk memutuskan seseorang dari perjalanan hidupnya, sehingga orang itu berhenti dari segala kegiatan. Jangan mencari-cari atau mengada-adakan kesedihan. Kesedihan sama sekali tidak mendatangkan keuntungan.
Sikap seseorang ketika menghadapi ujian bisa menjadi tanda apakah dia beriman atau tidak. Apabila dia tidak menjadi lemah semangat, ketika ujian menimpanya, berarti dia mempunyai keimanan dalam dadanya. Ketika dia menghadapi kesukaran, semangatnya tumbuh karena dia tahu bahwa manusia tidak dapat mencapai surga kecuali jika mereka telah diuji dengan kesulitan-kesulitan sebagaimana orang-orang dari generasi masa lalu.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (2:214).
11. Orang yang akan masuk surga akan mendapatkan kesulitan terlebih dahulu
Seorang ulama mengungkapkan: “Orang yang diciptakan untuk masuk Surga, pasti akan merasakan banyak kesulitan. Musibah yang sesungguhnya adalah yang menimpa agama seseorang. Sementara musibah-musibah selain itu merupakan jalan keselamatan baginya. Ada yang berfungsi meningkatkan pahala, ada yang menjadi pengampun dosa. Orang yang benar-benar tertimpa merana adalah mereka yang terhalang dari mendapatkan pahala."
Tidak usah risau dengan hilangnya sebagian dunia. Karena keberadaannya hanyalah satu kejadian, membicarakan dunia justeru menimbulkan kesedihan, jalan-jalan untuk mendapatkannya sarat dengan duka. Dalam mencari dunia, manusia akan tersiksa sebatas rasa dukanya. Orang yang senang mendapatkan dunia pada hakikatnya adalah orang yang sedih. Berbagai kepedihan bermunculan dari kenikmatan dunia. Berbagai kesedihan justeru lahir dari kesenangan dunia.
Abu Darda menyatakan: “Di antara bentuk kehinaan dunia di hadapan Allah adalah bahwa manusia berbuat maksiat selama ia di dunia, dan ia hanya bisa menggapai apa yang ada di sisi Allah dengan meninggalkan dunia. Maka hendaknya engkau menyibukkan diri dengan hal yang lebih berguna bagimu untuk mengambil kembali yang mungkin hilang darimu, yakni dengan cara memperbaiki kekeliruan, memaafkan kesalahan orang, dan mendekati pintu Ar-Rabb. Dengan itu, engkau akan melihat betapa cepatnya musibah yang menimpamu itu menghilang. Kalau bukan karena kesusahan, engkau tidak bisa mengharapkan saat-saat senang. Hilangkan hasrat terhadap yang menjadi milik orang, niscaya engkau akan menjadi yang terkaya. Jangan berputus asa, karena itu membawa kehinaan. Ingatlah nikmat Allah yang banyak kepadamu. Tepislah segala kesedihan dengan ridha terhadap takdir dan dengan shalat di malam yang panjang. Bila sudah habis malam, masih ada subuh yang datang menjelang. Akhir kesedihan adalah awal kebahagiaan. Masa tidak akan berdiam dalam satu kondisi, namun terus berganti. Segala kesulitan, pasti akan berangsur hilang. Jangan putus asa hanya karena musibah yang datang bertubi-tubi. Satu kesulitan, akan dikalahkan oleh dua kemudahan. Merunduklah kepada Allah, pasti kesulitanmu akan sirna selekasnya. Setiap orang yang penuh dengan ketabahan, pasti akan mendapatkan jalan keluar. ”
12. Semua orang pasti mempunyai masalah
Hidup adalah ujian. Kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah kumpulan masalah. Siapapun orangnya, setinggi apapun jabatannya, sekaya apapun hartanya, dimana pun dan kapanpun akan menemui masalah. Ada karakter khas dari masalah yaitu semakin tinggi kedudukan semakin tinggi pula masalah yang akan dihadapi. Seperti halnya sekolah semakin tinggi tingkatannya semakin sulit ujiannya. Proses perjuangan menaklukkan masalah itulah yang disebut hidup. Sehingga orang yang membanci masalah sama saja dengan membenci kehidupan. Hidup ini penuh dengan teka teki. Kalau masa depan kita ketahui, tentu kita sudah tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus dilakukan. Bila kita melihat hidup ini sebagai rangkaian tantangan, maka setiap masalah yang dihadapi akan kita lihat sebagai kesempatan untuk berkembang. Sebaliknya, apabila kita membayangkan hidup sebagai suatu pertempuran yang harus dimenangkan, kita akan mengalami ketegangan. Karena bagi orang ini bahagia hanya bisa dicapai apabila, kondisi yang dialaminya sesuai dengan apa yang diinginkan. Sudah kita ketahui bahwa hal itu sangatlah jarang terjadi.
Ingatlah, masalah adalah milik semua orang. Tak ada satupun dimuka bumi ini yang tidak mengalami masalah. Ada seorang konglomerat yang sangat kaya. Dengan uangnya dia bisa membeli apa yang bagi sebagian kita hanyalah mimpi. Mungkin kita akan menyangka dirinya terbebas dari masalah atau kalaupun ada masalah hanyalah kecil. Dari luar dia kelihatan senang dan sehat. Tahukah anda, bahwa dia sebenarnya mempunyai msalah besar yaitu karena sakit yang jarang diketahui orang lain akibatnya dia tidak boleh makan nasi dan beberapa jenis makanan lainnya. Dia memerlukan koki dan dokter khusus yang mengawasi setiap makanan yang ingin dimakannya. Banyak sekali pantangannya sehingga hanya sedikit yang boleh dia makan. Semua orang secara adil mendapatkan masalah, hanya bentuk dan kadarnya saja yang berbeda.Masalah adalah hukum Allah. Mau tidak mau setiap orang mendapatkan masalah. Masalah telah Allah tetapkan menyatu dalam kehidupan. Allah tidak akan memberikan masalah yang tidakm sanggup dipikul oleh hambanya.Besarnya masalah yang menimpa seseorang setara dengan kemampuannya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala yang diusahakannya dan ia mendapat siksa yang dikerjakannya….(2:286)
13. Jangan masukkan setiap peristiwa ke dalam hati
Ada sekelompok orang yang merasakan kegundahan dalam dirinya seolah-olah tengah terjadi perang dunia, padahal sebenarnya mereka tengah berbaring di atas tidaur. Peperangan yang berkecamuk dalam hatinya pada akhirnya hanya akan menghasilkan luka di dalam tubuhnya sendiri. Mereka marah dengan kenaikan harga, marah dengan kejelekan orang di sudut dunia lain, marah karena hujan tidak turun, marah kepada polisi karena lalu lintas macet, marah kepada supir angkutan yang berhenti seenaknya. Jangan biarkan masalah-masalah kecil itu mengganggu anda. Biarkanlah berbagai peristiwa berlangsung di atas bumi ini dan jangan mencoba memasukkan semuanya kedalam hati.
Seseorang yang telah mengerti hakikat kebenaran akan selalu menambah pelajaran dari berbagai liku-liku kehidupan. Sebaliknya orang yang tidak menjiwai makna kebenaran yang dilakukan hanyalah menambah guncangan ketakutan. Sebesar apapun keberanian seseorang menghadapi cobaan, semua itu tidak akan bermanfaat tanpa dibarengi keimanan yang tangguh. Seorang pemberani sejati adalah orang yang mempunyai dayatahan tinggi, tabah, mempunyai keyakinan yang kuat, tenang dan lapang dada dalam menghadapi cobaan.
Jika anda menginginkan hidup tenang dan tidak terguncang oleh badai kehidupan, hadapilah segala urusan dengan keberanian dan keteguhan. Dengan kedua hal itu tidak akan ada sesuatu yang bisa membuat anda gentar.
14. Jangan sampai masalah kecil menghancurkan hidup anda
Entah berapa banyak orang yang merasa sedih karena hal kecil yang tidak mereka pikirkan sebelumnya. Sering sekali kita merisaukan hal-hal yang setelah kita amati lebih jauh, ternyata bukanlah masalah besar. Kita terpaku pada msalah-masalah kecil dan terlalu membesar-besarkannya. Contohnya, bila ada mobil angkutan yang berhenti mendadak, bukannya membiarkannya dan melanjutkan urusan, kita menyakinkan diri sendiri bahwa kita berhak untuk marah. Contoh lainnya, saat mengantri berjam-jam untuk mendapatkan tiket kereta, sewaktu giliran anda, penjaga loket berkata, “saya harus istirahat, sepuluh menit lagi pengganti saya akan datang “. Kemarahan yang luar biasa muncul dalam wajah anda. Dengan penuh semangat anda memarahi penjaga loket itu dan mengatakan sebagai orang yang tak bertanggung jawab. Anda pun keluar dari antrian sambil marah. Bukankah anda mengalami kerugian yang lebih besar, apalah artinya menunggu sepuluh menit lagi dibandingkan perjuangan anda menunggu berjam-jam. Dalam berbagai kejadian sering dalam otak kita timbul kemarahan imajiner. Bahkan banyak yang malahan kemudian menceritakan kejadian sepele itu kepada orang lain. Banyak hal-hal kecil serupa yang seharusnya dapat kita lupakan begitu saja.
15. Kesulitan itu penuh hikmah
Tidak selamanya kesulitan itu harus dibenci. Terkadang kesulitan justru menimbulkan efek positif. Jangan takut dengan penderitaan dan jangan khawatir dengan kesengsaraan, karena terkadang penderitaan itu justru memberikan kekuatan kepada anda untuk mencapai hidup bahagia. Sesungguhnya jika anda hidup dengan hati yang membara, terbakar dan hangus karena penderitaan, hal itu akan lebih baik bagi anda daripada hidup dengan hati yang dingin, statis dan tenang-tenang saja. Dengan penderitaanlah justru membuat hati menjadi lembut dan halus. Orang yang pernah mengalami kesedihan akan lebih mudah menceritakan bagaimana rasa sedih itu, orang yang hampir tenggelam akan sangat mudah menceritakan suasana dan betapa mengerikannya ketika dia hampir mati tenggelam. Orang yang dikejar-kejar anjing lebih akurat dan menyentuh ketika menyampaikan pengalamannya dibandingkan orang yang belum pernah merasakan. Orang yang pernah putus cinta akan merasakan betapa sakitnya dikecewakan orang lain. Mereka semua menjadi belajar dari apa yang dialami dan dirasakannya. Kalau mereka mau berpikir maka pengalaman itu dapat membuat dirinya lebih bijaksana dalam menyikapi sesuatu maupun empati atas perasaan orang lain. Seorang mukmin mengetahui bahwa kesulitan-kesulitan diberikan Allah untuk menguji manusia. Mereka tahu bahwa kesulitan tersebut dibuat untuk membedakan antara mereka yang benar-benar beriman dan mereka yang memiliki penyakit di hatinya, yaitu mereka yang tidak tulus dalam meyakini keimanan mereka. Di dalam Al-Qur`an, Allah menjelaskan bahwa Dia akan menguji seorang mukmin untuk melihat siapakah yang benar-benar dalam keimanannya.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (3:142)
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)....(2:179)
Mereka tidak pernah lupa bahwa kesulitan atau keberkahan datang untuk menguji mereka. Karena kemuliaan dan kepatuhan mereka kepada-Nya, Allah mengubah apa yang tampaknya buruk menjadi hal-hal yang menguntungkan bagi hamba-Nya yang sejati.
16. Jangan terburu-buru menyatakan suatu peristiwa buruk
Salah satu sifat manusia adalah terburu-buru. Manusia ingin segala sesuatu yang diinginkannya, yang dicita-citakannya cepat tercapai. Manusia kadang-kadang tidak cukup sabar untuk melihat kebaikan yang ada di dalam peristiwa yang menimpa mereka. Sebaliknya, mereka menjadi lebih agresif dan nekat dalam mengejar sesuatu walaupun hal tersebut sangat bertentangan dengan kepentingan yang lebih baik. Di dalam Al-Qur`an, hal ini disebutkan, Dan manusia berdo'a untuk kejahatan sebagaimana ia berdo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (17:11)
Meski demikian, kita harus berusaha melihat kebaikan dan yakin bahwa Allah mempunyai tujuan baik pada setiap kejadian yang kita alami. Jangan sampai anda diperbudak untuk segera mungkin mencapai keinginan anda. Anda harus hati-hati terhadap bujukan untuk berbuat dosa ketika sebuah hal yang anda inginkan tidak tercapai atau ketika sebuah peristiwa yang tidak anda inginkan terjadi. Ketika anda dalam kondisi seperti itu, sangat mudah anda terombang-ambing. Godaan untuk melakukan perbuatan jahat semakin besar. Orang-orang yang ingin mengajak anda berbuat jahat pun seolah-oleh semakin banyak yang mendatangi anda. Anda harus kuat dan berusaha menghindari orang itu.
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.(3:120)
17. Jangan tergoda berbuat maksiat, karena dosa adalah perkara yang besar
Biasanya orang yang sedang mengalami kesedihan atau berputus asa mudah tergoda untuk melakukan maksiat. Terasa baginya keinginan itu semakin hari semakin besar. Namun sadarlah bahwa perbuatan maksiat itu yang mungkin terlihat menyenangkan, malah akan menambah kesengsaraan di hati. Ingatlah dosa sekecil apapun adalah perkara yang sangat besar. Selagi dosa dianggap besar maka dosa itu dianggap kecil di hadapan Allah. Sebaliknya kalau dosa dianggap kecil, maka dianggap besar dihadapan Allah. Mengenai sikap seorang Muslim terhadap perbuatan maksiat, Abdullah bin Mas’ud memberikan ilustrasi sebagai berikut :
Seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk dibawah gunung yang ia kuatirkan akan menimpanya. Sementara seoarang fajir (orang yang jahat) melihat dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya dan menepisnya. Rasulullah pernah bersabda, kebahagiaan Allah terhadap tobat hambaNya lebih besar daripada kebahagiaan seorang lelaki yang berkemah di tempat yang penuh dengan bahaya (tetapi bersikeras tinggal disana) dengan mengarahkan binatang tunggangannya ke tempat itu membawa makanan dan minuman. Kemudian ia tidur di sana dan ketika bangun, binatangnya telah kabur. (ia mencari-cari kesana ke mari) dan sengsara dengan rasa lapar dan dahaga. Kemudian ia berkata, Aku akan kembali ke tempatku. Ia kembali (ketempatnya) dan tidur lagi. Dan ketika bangun ia mengangkat kepalanya, ternyata binatangnya yang hilang itu telah berada di sampingnya lagi (riwayat Bukhari).
Ibnu Qayyim mengatakan, jika seseorang sudah mengatahui hal ini kemudian dia masih merasa bebas melakukan maksiat, itu berarti dia lancang kepada Allah. Juga tidak tahu kekuasaan Allah. Bahkan dia seolah-olah menantang Allah. Seseorang yang memandang kecil suatu perbuatan maksiat, berarti menganggap remeh perkara tersebut. Itulah salah satu bentuk menantang Allah. Begitulah saudaraku, kalau anda ingin terbebas dari kesulitan yang sedang anda alami, menghilangkan kegundahan yang menyesak dada, mengharapkan pertolongan Allah, janganlah melakukan maksiat.
18. Kebahagiaan mudah diraih
Kegembiraan hati merupakan salah satu nikmat yang luar biasa besar dalam hidup manusia. Dalam hati yang gembira terpancar ketenangan hati dan kestabilan emosi. Sesungguhnya kegembiraan itu merupakan seni kehidupan yang dapat dipelajari. Siapa saja yang mengetahui caranya, tentu ia akan merasa mudah meraihnya dan mendapatkan manfaat darinya berupa kebahagiaan hidup dan kemudahan dalam kehidupan. Dia juga mampu menjadikan apa yang berada disekitarnya sebagai sarana dalam mencapai kebahagiaan hidup. Orang yang menginginkan badannya sehat maka dia perlu olahraga teratur agar daya tahan tubuhnya meningkat. Begitu pula orang yang ingin hatinya sehat memerlukan olahraga hati agar ketahanan hatinya itu meningkat, sehingga lebih kebal dari serangan penyakit hati. Olahraga hati bisa dilakukan dengan ikut bergabung dalam masyarakat, bergaul dengan banyak orang serta ikut aktif dalam berbagai kegiatan. Dari aktivitas itu akan didapat berbagai macam pengalaman. Anda akan menemui berbagai macam karakter orang yang khas, anda juga akan mengetahui seberapa besar kapasitas sabar ketika menghadapi sesuatu yang tidak direncanakan.
19. Singkirkan kebosanan
Orang yang menjalani kehidupan dengan statis dan monoton cenderung mudah menjadi bosa. Oleh karena itu kita patut bersyukur Allah selalu memutar roda zaman sehingga kita mengalami berbagai macam variasi kehidupan. Uniknya Allah menciptakan segala seutau dengan berpasangan secara harmonis. Allah membuat siang dan membuat pasangannya yautu malam. Allah menciptakan dunia dan akhirat. Allah menciptakan air dan api. Allah pula yang menciptakan kesulitan dan menciptakan pasangan harmonisnya yaitu kemudahan.Dalam ibadah, Allah memberikan variasi. Maka ada ibadah hati misalnya ikhlas, ibadah gerak misalnya sholat, ibadah perut misalnya puasa dan ibadah harta misalnya sedekah. Belajar dari hal itu, siap yang ingin kehidupan tentram dan mempunyai semangat yangtinggi serta daya kresai yang tinggi, maka dia perlu melakukan variasi dalam kehidupannya. Ketika membaca dia tidak hanya membaca satu tema saja, ketika berjalan dia tidak hanya melewati satu jalan saja. Akan jauh menyenangkan apabila anda mau melakukan segala hal dengan berbagai variasi.
20. Mengatasi krisis
Sejak lahir sampai mati kita terus menerus berubah, namun proses itu tidak selalu teratur. Kadang-kadang perubahan itu adalah berupa kemajuan yang menggembiran atau kemunduran yang mengecewakan. Dalam waktu sekejap, seseorang yang bahagia bisa berubah sengsara hanya karena dimarahi oleh bosnya. Seseorang yang sedang menghadapi suatu krisis berada di kawasan asing. Orang itu tidak memiliki orientasi dan putus asa. Pikiran dan perasaannya penuh dengan ingatan-ingatan tentang krisisi masa lalu yang membuatnya penuh dengan kecemasan dan ketakutan yang sama. Orang yangterperangkap dalam situasi yang tampaknya tak dapat dipecahkan merasa tegang dan mudah tersinggung, teman-teman yang dekatpun dimusuhi. Mudah tersinggung dan marah. Pada umumnya tak seorangpun diantara kita yang sebelumnya dapat dididik menghadapi krisis dengan baik. Namun hingga taraf tertentu kita dapat mengantisipasi krisis kehidupan itu dan menyesuaikan peran kita dalam krisis tersebut.
Kunci beradaptasi adalah kemampuan menghadapi suatu situasi dnegan berani saat sebuah masalah tidak bisa diselesaikan. Orang yang mamapu bertahan dalamsuatu krisis denganbaik adalah mereka yang sevara aktif terus menerus mencari suatu pemecahan. Mereka haus dengan informasi yang dianggapnya dapat membantu. Mereka tidak mau menyalahkan orang lain. Mereka tidak malu untuk mengungkapkan secara wajar perasaan takut dan gelisah kepada orang yang dapat membantunya.
21. Obat Musibah
Orang bijak adalah orang yang mencari alternatif terapi penyembuhan yang lebih baik, dengan beragam obat dan pengobatan lainnya. Walaupun mengalami kesulitan saat berusaha menyembuhkannya, tetapi dia tetap berusaha mencari obat. Maka syarat awal agar berfungsinya obat bagi raga yang sedang ditimpa penyakit adalah membiasakan diri untuk mengkomsumsi obat yang akan menyempurnakan proses sirkulasi di dalam raga.
Seorang ulama diuji dengan suatu musibah, kemudian beberapa rekannya berkunjung dan mereka menghiburnya. Selanjutnya dia berkata, aku telah membuat obat dengan 6 resep. Mereka bertanya, apakah itu ? dia menjawab :Pertama, percaya kepada Allah. Kedua, aku tahu bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan pasti terjadi. Ketiga, kesabaran adalah hal terbaik yang mesti dilakukan oleh orang yang sedang dalam ujian Allah. Keempat, bila aku tidak dapat bersikap sabar, lalu apa lagi yang dapat kuakukan, karena kesedihan tidak akan pernah bisa menolong diriku. Kelima, bisa jadi aku tertimpa sesuatu yang lebih buruk lagi daripada yang kurasakan sekarang ini. Keenam, dari waktu ke waktu aku hanya menikmati kegembiraan.
22. Teruslah Berharap
Saya percaya bahwa setiap orang mempunyai harapan yang tersimpan di dalam hati. Entah harapan untuk menjadi orang kaya, harapan untuk dapat menikah, harapan lulus ujian dan harapan yang baik lainnya. Tapi saya bukan sedang membicarakan tentang keinginan untuk memenangkan undian. Pikiran seperti itu datang dari keinginan untuk melarikan diri dari keadaan saat ini. Saya membicarakan tentang sebuah pandangan yang ada jauh di dalam diri. Satu hal yang harus dilakukan dalam hidup. Sesuatu yang membutuhkan kemampuan. Sesuatu yang tidak terpisahkan dengan tujuan kita dalam hidup.
Apakah anda pernah mengenal seseorang yang berhasil tapi tidak memiliki petunjuk yang berkaitan dengan apa yang diiginkan dalam hidup. Kita semua memerlukan sesuatu yang berguna untuk dituju. Harapan memberi kita hal itu. Ia bisa berperan sebagai kompas, memberitahu arah mana yang harus dituju. Kalau tidak, kita tidak akan pernah mengetahui apakah langkah kita benar atau tidak, apakah langkah kita maju atau malah mudnur ke belakang. Jika anda bergerak ke sembarang arah selain menuju harapan. Anda akan kehilangan kesempatan-kesempatan yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.
Tanpa harapan, kita mungkin harus berjuang keras untuk melihat kekuatan yang ada dalam diri karena tidak bisa melihat situasi di luar keadaan saat ini. Dengan mempunyai harapan, kita mulai memandang diri sendiri dalam cahaya baru. Harapan membuat kita memprioritaskan segala sesuatu yang kita lakukan. Seseorang yang memiliki harapan mengetahui apa yang akan atau harus dikorbankan. Dia mampu mengukur segala sesuatu yang dikerjakan apakah membantu atau menghambat harapan. Insya Allah selama kita mampu berharap, Allah tak akan membiarkan kita begitu saja. Rasulullah bersabda, Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku terserah pada sangkaan hambaKu kepadaKu dan Aku bersama hambaKu ketika dia mengingatKu. Jika dia mengingatKu didalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika dia mengingatku ditengah orang banyak, maka Aku mengingatnya ditengah orang banyak yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat sejengkal kepadaKu, Aku mendekat sehasta kepadanya. Jika dia mendekat sehasta kepadaKu, Aku mendekat sedepa kepadanya. Jika dia mendatangiKu dengan berjalan, maka Aku mendatangi dengan berlari (riwayat Bukhari dan Muslim)
http://penerbitjabal.com/component/content/article/2-blog/16-jangan-putus-asa-karena-setelah-kesulitan-akan-datang-kemudahan
Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga
Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.
Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)
Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)
Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).
Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)
Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)
Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.
Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.
Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.
“Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.
Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.
Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.
Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.
Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.
“Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.
Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.
Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”
“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.
“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.
“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.
“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.
“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.
“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.
“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.
Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.
Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.
Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda? []
Oleh: Muhammad Yusuf Efendi
www.dakwatuna.com
Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)
Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)
Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).
Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)
Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)
Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.
Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.
Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.
“Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.
Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.
Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.
Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.
Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.
“Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.
Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.
Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”
“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.
“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.
“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.
“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.
“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.
“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.
“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.
Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.
Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.
Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda? []
Oleh: Muhammad Yusuf Efendi
www.dakwatuna.com
Etika Bergaul Seorang Muslimah

Bukan dari tulang ubun ia diciptakan sehingga lupa akan pujian, bukan juga dari tulang kaki karena khawatir akan diinjak dan direndahkan. Melainkan ia diciptakan dari tulang rusuk, dekat dengan dada untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk dicintai.
Akhwat beda dengan ikhwan. Dalam menjalankan aktivitas pun sangat berbeda. Tapi hukum syara’ memandang sejajar antara ikhwan dan akhwat. "Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan," (QS Al Isra ; 70)
Karena saya akhwat, pastinya saya akan membahas aktivitas akhwat batasannya seperti apa saja. Kadang, jika saya melihat dan menilai, secara tidak sengaja telah terjadi pelanggaran hukum syara'. Biasanya, di kalangan akhwat terjadi pelanggaran hukum syara’ dalam konteks ijtima’l atau pergaualan dengan lawan jenis. karena mereka belum memahami aktivitas mana saja yang termasuk hayatul khas dan hayatul ‘aam. Di kalangan ikhwan pun terkadang ada pelanggaran hukum syara’ karena sikap yang kurang tegas dan kurang mengetahui batasan aktivitas akhwat itu seperti apa saja, dalam konteks hubungan demi maslahat masing-masing yang sesuai dengan hukum syara’ dan selanjutnya karena godaan Syetan..
Apa yang akan saya paparkan adalah aktivitas akhwat dalam konteks hubungan interpersonal dengan ikhwan / ijtima’I:
1.Hayatul ‘Aam
Hayatul ‘aam atau kehidupan umum bagi akhwat adalah seputar kehidupan yang menyangkut perkara pendidikan, mu’amalah, kesehatan. Hayatul ‘aam, bagi akhwat, maknanya bahwa ia boleh bercerita tentang ketiga perkara tadi, selebihnya tidak boleh karena sudah menyangkut hayatul khas..
Bagi ikhwan manapun hanya cukup untuk mengetahui ”hayatul ’aam” kehidupan umum-nya saja, seperti contoh diatas ; pendidikan, tempat tinggal, hobi, aktivitas di lembaga dll. Sedangkan hayatul khas, sudah sangat privasi sekali yang menyangkut kehidupan pribadi (keadaan keluarga, keadaan dirinya) di luar itu konteksnya sudah hayatul khas.
Bagi akhwat tidak boleh menceritakan hal-hal pribadi pada ajnaby (orang asing). Akhwat boleh menceritakan hal-hal terkait pribadinya jika ia telah dikhitbah untuk lanjut ke jenjang pernikahan.
Dan ketika berinteraksi dengan lawan jenis akhwat diharapkan bertindak dan berbicara seperlunya saja, tegas dan jelas. Dalam aktivitas yang berkaitan dengan lawan jenis, seorang akhwat seringkali mudah melakukan pelanggaran. Mungkin karena secara psikologis akhwat memiliki karater ingin diperhatikan atau malah kadang cari perhatian agar bisa berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi kalau sudah menyangkut "masalah hati."
Tapi berinteraksi dengan ikhwan dalam konteks mendiskusikan ilmu, menurut saya ini dibolehkan, tapi, ada beberapa hal kita sendiri bisa menjaminnya sesuai dengan perkataan Rasulullah Saw, "Jika kalian tidak memiliki rasa malu maka bertindaklah sesuka kalian."
Yang dimaksud hal-hal yang kita harus bisa menjaminnya adalah kemungkinan timbulnya fitnah. Mungkin kita bisa berdalih dengan mengatakan "Saya dengan dia cuma teman, hanya sebatas sharing ilmu." Tapi saya berpendapat sebaiknya dicari "aman" nya saja, karena fitnah itu diibaratkan mencemarkan dan menjatuhkan kehormatan seorang akhwat dan manjaga ’iffah / kehormatan itu wajib hukumnya.
Mubah hukumnya untuk berinteraksi dengan ikhwan dalam masalah ilmu, kareka khawatir seorang akhwat akan menceritakan sesuatu yang masuk dalam wilayah khas, sehingga yang mubah menjerumuskan ke haram.
Bagaimana dengan diskusi di forum internet atau milis? Menurut saya, dalam wilayah ini sifatnya lebih 'aam karena diketahui banyak orang pembahasannya pun seputar perkara yang dibolehkan. Dalam hal ini saya ingin mengutip perkataan Abu Bakar, "Berhati-hatilah dalam bertindak karena dari hati-hati tadi memberikan manfaat bagimu."
2.Hayatul khas
Hayatul khas atau kehidupan khusus adalah perkara seputar pribadi dan ini hanya boleh di ketahui oleh keluarga ‘mahram’ dan sesama kaum perempuan dalam lingkungan kita. Contohnya, menceritakan keadaan dirinya dan keluarganya, target hidup, target dakwah dll. secara detil, kecuali seorang akhwat sudah dikhitbah.
Seorang ikhwan yang faham akan apa arti kehormatan bagi seorang akhwat pasti maklum atas sikap tegasn seorang akhwat dan tidak dimaknai sebagai sikap jaim (jaga image) atau jutek, terlalu saklek atau apalah namanya. Tegas bukan berarti memaksa agar pandangannya di terima atau egois tapi demi menjaga kehormatan.
Intinya, dalam hal ini sangat dibutuhkan ketegasan dari masing-masing pihak, baik maupun akhwat untuk menjaga 'iffahnya masing-masing. Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya perkara halal itu jelas, dan perkara haram itu jelas; serta di antara keduanya terdapat perkara mutasyabihat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjauhi syubhat, sungguh ia telah terbebas dari dosa, dalam agama dan kehormatannya. sebaliknya, siapa yang terjerumus pada perkara syubhat berarti ia telah terjerumus dalam perkara haram," (HR. Imam Bukhari, Muslim dan ashabun Sunan)
Rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa isyraafanaa fii amrina. Wallahu’alam.
Penulis: Shinta Mardhiah Alhimjarry, Bandung
syi_khilafah@yahoo.co.id
http://eramuslim.com/akhwat/muslimah/etika-bergaul-seorang-muslimah.htm
Masjid Ibukota Budaya Islam Akan Dihancurkan, Baku Bergolak

Masyarakat Muslim Azerbaijan selama berdoa bersama di salah satu Masjid negara tersebut. Wilayah Baku, Azerbaijan, merupakan salah satu wilayah yang disebut sebagi Ibukota Budaya Islam. (Foto: National Geographic)
BAKU (SuaraMedia News) – Mahkamah Agung Azerbaijan menunda keputusan tentang apakah penutupan sebuah Masjid di Baku akan dilanjutkan, saat ratusan pemrotes berkumpul di luar pengadilan.
Di tengah pengamanan yang ketat, ratusan orang berkumpul di luar pengadilan pada hari Rabu (21/4) untuk mengecam kebijakan pemerintah Baku yang akan menutup dan menghancurkan sejumlah Masjid.
Mahkamah Agung dijadwalkan akan mengeluarkan sebuah putusan tentang kasus Masjid Fatima Zahra, tapi keputusan itu ditunda hingga tanggal 28 April, kantor berita Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) melaporkan.
Pada bulan Agustus 2009, pengadilan memutuskan bahwa Masjid Fatima Zahra di distrik Yeni-Guneshli, Baku, tidak memiliki dokumen dan registrasi yang diperlukan.
Pengadilan banding menunda keputusan itu di bulan November 2009, mendorong pengurus Masjid untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung, yang meninjau kasus itu pada tanggal 14 April.
”Kami membeli tanahnya secara resmi pada tahun 1996 dan mulai membangun Masjid pada tahun 1998,” ujar Tofig Razizade, pemimpin komunitas Masjid Fatima Zahra.
”Kami terdaftar pada tahun 1995 dan mendaftarkan ulang di tahun 1997,” tambahnya.
Tahun lalu warga Azerbaijan menggelar dua demonstrasi besar-besaran di luar kantor walikota Baku dan Masjid Fatima Zahra, menuntut keputusan itu dibatalkan.
Masjid Fatima Zahra, satu-satunya Masjid di sebuah distrik perumahan dengan 70,000 penduduk, adalah salah satu dari beberapa Masjid yang akan ditutup oleh pemerintah di Azerbaijan dengan berbagai dalih di tahun 2009. Dua dari Masjid-Masjid itu telah dihancurkan. Kebanyakan Masjid yang ditutup dan dihancurkan adalah milik kelompok Sunni, meskipun Razizade mengatakan bahwa Masjid Fatima Zahra melayani baik Syiah maupun Sunni.
Penutupan dan penghancuran Masjid dilakukan sementara Baku adalah salah satu dari empat Ibukota Budaya Islam di tahun 2009, sebutan yang diberikan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmiah, dan Kebudayaan Islam.
Mendukung upaya komunitas untuk membuka kembali Masjid Fatima Zahra adalah Dewan Muslim Kaukasia. ”Selama bandingnya berjalan, masih ada harapan,” ujar juru bicara Dewan, Rahima Rahimova, pada tanggal 21 Desember. ”Kami mempertahankan bahwa apa yang dibangun untuk Allah harus tetap bersama Allah. Yang terpenting adalah Masjid itu tidak dihancurkan.” Ia bersikukuh bahwa Masjid itu harus disahkan dan bahwa semua dokumen harus disesuaikan dengan hukum. ”Bagaimana untuk menyelesaikan ini tergantung pada negara.”
Masjid Fatima Zahra telah lama berdiri tak terselesaikan pembangunannya, dengan lantai bawah telah selesai dan dapat digunakan untuk sholat namun bagian luarnya masih belum selesai. Razizade mengatakan bahwa setelah sholat berjamaah rutin digelar di bangunan itu pada tahun 2000, jumlah kehadiran jamaah meningkat hingga 1,000 pada hari Jumat.
Ia mengatakan bahwa komunitas telah mendaftarkan Masjid itu ke Kementerian Kehakiman pada tahun 1990an, namun tidak dapat mendaftar ke Komite Negara Bagian ketika sistemnya diubah menyusul revisi Hukum Agama tahun 2001. ”Komite Negara Bagian mengatakan kepada kami bahwa nama komunitas harus diubah, tanpa menjelaskan alasannya,” ujar Razazide. ”Tapi apa yang salah dengan sebuah Masjid yang diberi nama setelah putri Nabi?”
Walikota Baku saat itu memberikan lahan seluas 30.6 hektar kepada komunitas Fatima Zahra di tahun 1996 dan pembangunan pun dimulai pada tahun 1998. Namun, di tahun 2002 walikota yang baru memutuskan untuk mengambil kembali lahan itu, mengeluhkan bahwa pembangunan Masjid belum juga selesai dan memerintahkan lokasi itu digunakan untuk membangun komplek olahraga. Namun, setelah muncul protes keputusan itu dibatalkan secara verbal dan komunitas diijinkan untuk tetap memiliki lahan tersebut dan melanjutkan pembangunan Masjid.
Awal tahun 2009, otoritas Distrik Surakhani mengajukan tuntutan untuk mengembalikan lahan dan menghancurkan Masjid. Petugas menutup Masjid di pertengahan bulan Juni. ”Waktu bagi komunitas untuk menyelesaikan pembangunan telah berakhir,” ujar kepala polisi setempat Jovdat Mamedov pada saat itu.
Pengadilan Ekonomi Baku no. 2 memutuskan pada tanggal 31 Agustus bahwa Masjid itu akan dihancurkan, komunitasnya akan diusir dari lokasi, dan lahannya akan dikembalikan ke otoritas Distrik Surakhani.
Komunitas Masjid kemudian melawan keputusan itu di Pengadilan Banding Baku. Namun, pada tanggal 25 November Hakim Vakif Mursakulov dan dua koleganya di Seksi Sengketa Ekonomi pengadilan memperkuat keputusan dari pengadilan rendah. (rin/id/org) www.suaramedia.com
Erdogan Renovasi 3500 Masjid Turki

Partai AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi) yang dipimin PM Turki Recep Tayyep Erdogan, melakukan banyak terobosan dan prestasi kemasyarakatan dan khidmah keislaman yang luarr biasa. Salah satunya adalah merenovasi ribuan masjid di seluruh penjuru Turki.
Selama tujuh tahun, lebih dari 3500 masjid di seluruh wilayah Turki yang sebelumnya tak terurus dan terabaikan, direnovasi, diperbaiki, dan diperindah kembali oleh AKP. Salah satu masjid yang baru selesai direnovasi adalah Masjid (Cemi) Sultan Selim di Istanbul.
Senin (30/1) kemarin, acara pembukaan kembali masjid bersejarah warisan salah satu sultan Utsmani itu dilangsungkan dengan dihadiri para tokoh besar dari berbagai kalangan, nasional atau pun internasional.
Prosesi renovasi Masjid Sultan Selim itu sendiri menghabiskan waktu selama 3 tahun, dan biaya sebesar 21 juta Lira Turki, atau sekitar 10 juta Euro.
Acara pembukaan kembali Masjid Sultan Selim itu juga menjadi salah satu rangkaian acara kebudayaan Istanbul sebagai Ibu Kota Budaya Eropa 2010.
Selain Masjid Sultan Selim, sebanyak 500 situs bersejarah, baik yang berasal dari masa peninggalan Yunani, Romawi, Selcuk, hingga Utsmani di Istanbul juga akan kembali dibuka dan diresmikan sepanjang tahun 2010 ini. (ags/db)
http://eramuslim.com/berita/dunia/erdogan-renovasi-3500-masjid-turki.htm
Rahasia Syari’ah
Kata syari’ah disebutkan dalam surah Al-Maidah:48, Allah swt. berfirman:
”likullin ja’alnaa minkum syir’atan wa minhaajaa (untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.)”
Berdasarkan redaksi ayat, nampak bahwa kata syari’ah atau syir’ah artinya aturan. Namun dalam Islam secara definitif kata syari’ah identik dengan aturan dari Allah swt. Dengan kata lain mengikuti syari’ah artinya mengikuti aturan Allah yang telah ditetapkan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa Allah swt. sebagai pemilik langit dan bumi sebenarnya telah meletakkan aturan hidup untuk manusia. Dan bisa dipastikan bahwa aturan-Nya jauh lebih sempurna dari pada aturan yang dikarang oleh manusia. Sebab Allah Maha Mengetahui sementara otak manusia sangat terbatas kemampuannya. Maka tidak mungkin manusia menandingi Allah dalam segala hal, apa lagi independen dari-Nya.
Allah yang menciptakan manusia, tentu telah tahu apa yang terbaik untuk makhluk-Nya. Maka seharusnya manusia belajar dari-Nya bagaimana cara hidup dan bagaimana menggunakan fasilitas yang telah diamanahkan kepadanya. Termasuk bagaimana cara menggunakan fasilitas tubuh yang melekat pada dirinya. Manusia harus menyadari hakikat ini. Sebab secara fitrah manusia telah mengakui hal tersebut dalam kenyataan sehari-hari. Contoh, ketika Anda membeli mobil, anda pasti akan menanyakan buku panduan cara menggunakan mobil tersebut. Dan pasti buku panduan yang Anda maksud adalah yang dikeluarkan oleh pabriknya. Tidak mungkin Anda membeli mobil made in Toyota, sementara buku panduan yang Anda pelajaran dikeluarkan oleh Nissan. Bila ini yang manusia sadari, mengapa dalam menggunakan dirinya, banyak manusia yang tidak mau menggunakan panduan dari Sang Pencipta?
Padahal Allah swt. telah menurunkan Al-Qur’an sebagai panduan. Dan di dalamnya telah dijelaskan bagaimana cara menggunakan mata, cara mengisi perut dan lain sebaginya. Lebih jauh, di dalam Al-Qur’an juga ada hal-hal yang dilarang dan ada yang diperintahkan. Bila diteliti secara ilmiah jelas apa yang Allah larang itu semua tidak baik dilakukan. Dan bahkan kalau tetap dilanggar, pasti selalu ada dampak negatifnya di dunia apa lagi di akhirat. Contohnya perzinaan, mabuk-mabukan, korupsi dan lain sebagainya. Itu jelas terbukti banyak membawa madharat bagi manusia dan kemanusiaan. Namun ternyata masih saja manusia suka melakukannya. Sebaliknya apa yang Allah perintahkan pasti selalu membawa kebaikan bagi manusia dan kemanusiaan. Contohnya ibadah, dzikir, menegakkan keadilan dan lain sebagainya. Itu semua sangat baik bagi ruhani manusia dan sangat bermanfaat dalam mencapai kebahagiaan hakiki.
Apapun alasannya manusia tidak mungkin bisa menghindar dari syari’ah. Sebab secara fitrah penciptaan manusia telah didesain oleh Allah untuk selalu bergantung kepada syari’ah. Banyak orang yang kita saksikan secara perlahan mulai insaf dari dosa-dosa. Mereka tidak sanggup lagi menanggung penderitaan akibat maksiat yang mereka lakukan. Ini suatu bukti bahwa pada akhirnya mereka harus kembali kepada tuntunan Allah swt. Semakin manusia dekat kepada tuntunan-Nya semakin mereka menemukan kebahagiaan. Di negara-negara maju sebenarnya parktik syari’ah telah mereka lakukan secara diam-diam, tanpa gembar-gembor istilah. Kejujuran mereka junjung tinggi. Transparansi dan kerapian adalah ciri utama menejemen mereka. Takaful sosial mereka utamakan di atas segalanya. Para homeless dan pengangguran benar-benar dilindungi dan dipenuhi hak-haknya. Anak baru lahir sampai umur lima tahun ditanggung oleh negara. Semakin seseorang lemah dan tidak berdaya semakin dihargai. Karenanya para pejalan kaki lebih diutamakan dan semua mobil harus berhenti pada saat mereka hendak menyeberang jalan. Salah seorang anak muda di Chicago pernah berkata kepada saya: ”Kita di sini selalu diajari untuk berbuat benar.”
Sogok menyogok adalah hal yang paling ditakuti. Tidak ada satu pun celah di atas meja-meja jabatan untuk berbuat sogok atau memberi hadiah kepada pejabat. Seorang bercerita kepada saya bahwa seorang wali kota di New York segera mengundurkan diri setelah diketahui bahwa ia telah menerima hadiah dari sebuah perusahaan. Ia merasa bahwa hadiah tersebut telah mengganggu kredibilitas jabatannya. Semua ini adalah contoh-contoh yang sebenarnya telah diajarkan dalam syari’ah. Mereka segera mempraktikannya, karena mereka tahu bahwa itu akan memberikan keuntungan di dunia. Dan terbukti mereka maju karena telah melaksanakan semua itu dengan baik. Dari sini nampak bahwa syari’ah bukan hanya ritual, melainkan juga harus terbukti dalam tataran hidup sosial.
Sayanganya persepsi yang selama ini berkembang, hanyalah syari’ah dalam dimensi ritual. Akibatnya umat Islam kurang berdaya. Mereka hanya berkutat di pojok-pojok masjid dan majelis-majelis taklim. Sementara syari’ah dalam dimensi sosial tidak dikembangkan. Sunggung Rasulullah saw. dan para sahabatnya sejak dini telah mencontohkan praktik syari’ah secara ritual dan sosial sekaligus. Karenanya mereka maju dan telah berhasil memimpin seperempat dunia dengan penuh keberdayaan yang maksimal. Kini sebenarnya sudah musim orang-orang kembali ke syari’ah. Perbankan syari’ah semakin marak di mana-mana. Bahkan bank-bank Internasional seperti City Bank, HSBC dan lain sebaginya –menurut informasi yang saya dapat- sudah mulai mempraktikkan perbankan syari’ah.
Mr. Mark salah seorang ahli perbankan, pernah suatu hari datang ke Jakarta untuk melakukan studi banding dengan pebankan Syari’ah. Ketika ditanya, mengapa Anda mulai melirik ke syari’ah? Mark menjawab: ”Sebab kami sudah punya pengalaman bahwa dengan menggunakan sistem riba, yang paling untung adalah para pemilik modal. Sementara para kreditor tercekik. Sebaliknya kalau menggunakan sistem tanpa riba, yang paling untung adalah kreditor, sementara para pemilik modal hanya bisa gigit jari. Maka dalam hal ini yang paling tepat syari’ah, karena antara pemilik modal dan kreditor sama-sama siap menerima keuntungan atau kerugian.” Renungkan dan camkanlah. Wallahu a’lam bishshawab.
Edmonton Kanada, 19 April 2010
www.dakwatuna.com
”likullin ja’alnaa minkum syir’atan wa minhaajaa (untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.)”
Berdasarkan redaksi ayat, nampak bahwa kata syari’ah atau syir’ah artinya aturan. Namun dalam Islam secara definitif kata syari’ah identik dengan aturan dari Allah swt. Dengan kata lain mengikuti syari’ah artinya mengikuti aturan Allah yang telah ditetapkan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Dari sini kita mendapatkan pelajaran bahwa Allah swt. sebagai pemilik langit dan bumi sebenarnya telah meletakkan aturan hidup untuk manusia. Dan bisa dipastikan bahwa aturan-Nya jauh lebih sempurna dari pada aturan yang dikarang oleh manusia. Sebab Allah Maha Mengetahui sementara otak manusia sangat terbatas kemampuannya. Maka tidak mungkin manusia menandingi Allah dalam segala hal, apa lagi independen dari-Nya.
Allah yang menciptakan manusia, tentu telah tahu apa yang terbaik untuk makhluk-Nya. Maka seharusnya manusia belajar dari-Nya bagaimana cara hidup dan bagaimana menggunakan fasilitas yang telah diamanahkan kepadanya. Termasuk bagaimana cara menggunakan fasilitas tubuh yang melekat pada dirinya. Manusia harus menyadari hakikat ini. Sebab secara fitrah manusia telah mengakui hal tersebut dalam kenyataan sehari-hari. Contoh, ketika Anda membeli mobil, anda pasti akan menanyakan buku panduan cara menggunakan mobil tersebut. Dan pasti buku panduan yang Anda maksud adalah yang dikeluarkan oleh pabriknya. Tidak mungkin Anda membeli mobil made in Toyota, sementara buku panduan yang Anda pelajaran dikeluarkan oleh Nissan. Bila ini yang manusia sadari, mengapa dalam menggunakan dirinya, banyak manusia yang tidak mau menggunakan panduan dari Sang Pencipta?
Padahal Allah swt. telah menurunkan Al-Qur’an sebagai panduan. Dan di dalamnya telah dijelaskan bagaimana cara menggunakan mata, cara mengisi perut dan lain sebaginya. Lebih jauh, di dalam Al-Qur’an juga ada hal-hal yang dilarang dan ada yang diperintahkan. Bila diteliti secara ilmiah jelas apa yang Allah larang itu semua tidak baik dilakukan. Dan bahkan kalau tetap dilanggar, pasti selalu ada dampak negatifnya di dunia apa lagi di akhirat. Contohnya perzinaan, mabuk-mabukan, korupsi dan lain sebagainya. Itu jelas terbukti banyak membawa madharat bagi manusia dan kemanusiaan. Namun ternyata masih saja manusia suka melakukannya. Sebaliknya apa yang Allah perintahkan pasti selalu membawa kebaikan bagi manusia dan kemanusiaan. Contohnya ibadah, dzikir, menegakkan keadilan dan lain sebagainya. Itu semua sangat baik bagi ruhani manusia dan sangat bermanfaat dalam mencapai kebahagiaan hakiki.
Apapun alasannya manusia tidak mungkin bisa menghindar dari syari’ah. Sebab secara fitrah penciptaan manusia telah didesain oleh Allah untuk selalu bergantung kepada syari’ah. Banyak orang yang kita saksikan secara perlahan mulai insaf dari dosa-dosa. Mereka tidak sanggup lagi menanggung penderitaan akibat maksiat yang mereka lakukan. Ini suatu bukti bahwa pada akhirnya mereka harus kembali kepada tuntunan Allah swt. Semakin manusia dekat kepada tuntunan-Nya semakin mereka menemukan kebahagiaan. Di negara-negara maju sebenarnya parktik syari’ah telah mereka lakukan secara diam-diam, tanpa gembar-gembor istilah. Kejujuran mereka junjung tinggi. Transparansi dan kerapian adalah ciri utama menejemen mereka. Takaful sosial mereka utamakan di atas segalanya. Para homeless dan pengangguran benar-benar dilindungi dan dipenuhi hak-haknya. Anak baru lahir sampai umur lima tahun ditanggung oleh negara. Semakin seseorang lemah dan tidak berdaya semakin dihargai. Karenanya para pejalan kaki lebih diutamakan dan semua mobil harus berhenti pada saat mereka hendak menyeberang jalan. Salah seorang anak muda di Chicago pernah berkata kepada saya: ”Kita di sini selalu diajari untuk berbuat benar.”
Sogok menyogok adalah hal yang paling ditakuti. Tidak ada satu pun celah di atas meja-meja jabatan untuk berbuat sogok atau memberi hadiah kepada pejabat. Seorang bercerita kepada saya bahwa seorang wali kota di New York segera mengundurkan diri setelah diketahui bahwa ia telah menerima hadiah dari sebuah perusahaan. Ia merasa bahwa hadiah tersebut telah mengganggu kredibilitas jabatannya. Semua ini adalah contoh-contoh yang sebenarnya telah diajarkan dalam syari’ah. Mereka segera mempraktikannya, karena mereka tahu bahwa itu akan memberikan keuntungan di dunia. Dan terbukti mereka maju karena telah melaksanakan semua itu dengan baik. Dari sini nampak bahwa syari’ah bukan hanya ritual, melainkan juga harus terbukti dalam tataran hidup sosial.
Sayanganya persepsi yang selama ini berkembang, hanyalah syari’ah dalam dimensi ritual. Akibatnya umat Islam kurang berdaya. Mereka hanya berkutat di pojok-pojok masjid dan majelis-majelis taklim. Sementara syari’ah dalam dimensi sosial tidak dikembangkan. Sunggung Rasulullah saw. dan para sahabatnya sejak dini telah mencontohkan praktik syari’ah secara ritual dan sosial sekaligus. Karenanya mereka maju dan telah berhasil memimpin seperempat dunia dengan penuh keberdayaan yang maksimal. Kini sebenarnya sudah musim orang-orang kembali ke syari’ah. Perbankan syari’ah semakin marak di mana-mana. Bahkan bank-bank Internasional seperti City Bank, HSBC dan lain sebaginya –menurut informasi yang saya dapat- sudah mulai mempraktikkan perbankan syari’ah.
Mr. Mark salah seorang ahli perbankan, pernah suatu hari datang ke Jakarta untuk melakukan studi banding dengan pebankan Syari’ah. Ketika ditanya, mengapa Anda mulai melirik ke syari’ah? Mark menjawab: ”Sebab kami sudah punya pengalaman bahwa dengan menggunakan sistem riba, yang paling untung adalah para pemilik modal. Sementara para kreditor tercekik. Sebaliknya kalau menggunakan sistem tanpa riba, yang paling untung adalah kreditor, sementara para pemilik modal hanya bisa gigit jari. Maka dalam hal ini yang paling tepat syari’ah, karena antara pemilik modal dan kreditor sama-sama siap menerima keuntungan atau kerugian.” Renungkan dan camkanlah. Wallahu a’lam bishshawab.
Edmonton Kanada, 19 April 2010
www.dakwatuna.com
Diagnosis terhadap Penyakit Umat
Syaikh Abd al-’Aziz bin Rais alu Rais dalam risalah beliau Muhimmat fi al-Jihad berkata,
Saudaraku, sesungguhnya kelemahan umat kita dan penguasaan musuh atas diri kita merupakan musibah dan bencana besar yang wajib untuk kita hilangkan. Dan hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan melainkan dengan melakukan diagnosa yang teliti (terhadap penyakit umat ini) terlebih dahulu, guna menghindari kerancuan dalam mendiagnosis antara penyakit dan obat.
Sungguh betapa banyak orang yang keliru dalam membedakan antara penyakit dan obat dikarenakan menganggap penyakit sebagai obat dan penyembuh.
Sebagian kalangan menyangka bahwa penyakit umat ini dikarenakan makar dan penguasaan para musuh terhadap umat Islam. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa obat untuk menghilangkan penyakit itu adalah dengan menyibukkan kaum muslimin dengan memperhatikan kondisi musuh-musuh Islam, perkataan dan pengakuan mereka.
Kalangan kedua menyangka bahwa penyakit yang sebenarnya adalah berkuasanya para penguasa yang dzhalim di sebagian negeri-negeri Islam. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa obat bagi umat ini adalah menggulingkan para penguasa tersebut serta menyeru umat untuk senantiasa menentang mereka.
Kalangan ketiga berpendapat bahwa penyakit umat ini adalah perpecahan yang terjadi di antara kaum muslimin, sehingga untuk mengobatinya perlu adanya pengumpulan dan penyatuan barisan agar jumlah mereka bertambah besar.
Seluruh pendapat yang dikemukakan oleh berbagai kalangan tersebut keliru dalam menentukan penyakit yang tengah diderita umat ini sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash Al Qur-an dan sunnah. Tentunya diagnosis yang keliru tadi berujung pada kekeliruan dalam menentukan obat.
Pendapat kalangan pertama keliru karena seandainya kita bertakwa kepada Allah, maka seluruh makar musuh tidak akan membahayakan kita. Allah ta’ala berfirman,
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali Imran: 120).
Sisi kekeliruan kalangan kedua, bahwa para penguasa yang dzhalim merupakan hukuman yang ditimpakan Allah bagi kaum yang dzhalim pula, dikarenakan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129).
Oleh karena itu, berkuasanya penguasa yang dzhalim bukanlah penyakit riil dari umat ini, bahkan penyakit yang riil berasal dari rakyat yang berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut.
Ibnul Qayyim berkata, “Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.
* Apabila rakyat di dalam negeri tersebut komitmen dalam menjalankan syari’at, maka tentu penguasanya pun demikian.
* Apabila mereka berlaku adil, maka para penguasa akan berlaku adil kepada mereka.
* Apabila mereka suka berbuat kemaksiatan, maka para penguasa juga akan senantiasa berbuat maksiat.
* Apabila rakyat senantiasa berbuat makar dan tipu daya, maka tentulah penguasa demikian pula keadaannya.
* Apabila para rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah serta mengabaikannya, maka penguasa mereka pun juga akan berbuat hal yang sama, mereka akan melanggar dan tidak menunaikan hak-hak para rakyatnya.
* Apabila rakyat sering melanggar hak kaum yang lemah dalam berbagai interaksi mereka, maka para penguasa akan melanggar hak para rakyatnya secara paksa, menetapkan berbagai pajak dan pungutan liar kepada mereka. Dan setiap mereka (yakni rakyat) mengambil hak kaum yang lemah, maka hak mereka pun akan diambil secara paksa oleh para penguasa. Sehingga para penguasa merupakan cerminan amal dari para rakyatnya.
Demikianlah hikmah ilahi (yang senantiasa berlaku), suatu kaum yang buruk dan senantiasa berbuat kedurhakaan akan dipimpin oleh para penguasa yang sejenis dengan mereka.
Tatkala generasi awal dari umat ini merupakan generasi yang terbaik, maka kondisi para penguasanya pun tidak jauh berbeda. Maka tatkala kaum muslimin melakukan pengkhianatan, maka para penguasa pun berkhianat terhadap mereka. Sehingga hikmah Allah enggan, jika pada zaman ini diri kita dipimpin oleh penguasa sekaliber Mu’awiyah dan Umar bin Abdul ‘Aziz, apalagi yang sekaliber Abu Bakr dan Umar, namun kondisi para penguasa kita sesuai dengan dengan kondisi yang ada pada diri kita dan penguasa generasi terdahulu sesuai dengan kondisi rakyatnya, keduanya merupakan sebab dan kandungan dari hikmah ilahi (Miftah Daar as-Sa’adah 2/177-178).
Sisi kekeliruan kalangan ketiga, (kuantitas yang banyak bukanlah tolok ukur suatu keberhasilan), karena sesungguhnya kuantitas yang besar serta penyatuan barisan tidak akan berguna jika dibarengi dengan maksiat sebagaimana firman Allah ta’alaa ,
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.” (QS. At Taubah: 25).
Tidakkah anda melihat bahwa dosa ujub (congkak) telah mencerai-beraikan kuantitas kaum muslimin yang besar sehingga para sahabat kalah di hari Hunain?
Bahkan penyatuan barisan bersama ahli bid’ah seperti kaum sufi, Asya’irah dan Mu’tazilah termasuk dosa, karena kewajiban kita adalah mengingkari kesesatan mereka, dan selemah-lemah pengingkaran dalam hati adalah menghindari mereka bukan malah duduk bersama mereka. Allah ta’alaa berfirman,
إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ
“Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An Nisaa’: 140).
Berangkat dari sini, anda tentu akan mengetahui kekeliruan slogan yang senantiasa didengungkan oleh pendiri jama’ah Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, ketika beliau mengatakan, “Kita saling bahu-membahu dalam perkara yang kita sepakati dan kita saling toleran dalam perkara yang kita perselisihkan.”
Slogan ini merupakan asas yang menjadi pondasi berdirinya jama’ah ini. Oleh karena itu, anda akan melihat Hasan Al Banna beserta pengikut beliau menerapkan slogan ini bersama-sama kelompok Rafidhah, sufi dan ahli bid’ah lainnya.
Setelah hal ini, mungkin saja ada yang berkata, “Anda telah menjelaskan berbagai kekeliruan dalam mendiagnosa penyakit yang tengah diderita umat ini, maka apakah penyakit yang tengah diderita umat ini berdasarkan diagnosis yang tepat dan berdasarkan Al Qur-an dan sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih?”
Jawabnya: Banyak ayat Al Qur-an dan hadits nabi yang menerangkan bahwa seluruh musibah yang ditimpakan kepada hamba, tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa yang mereka perbuat. Allah ta’alaa berfirman,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165).
Sesungguhnya penyakit yang diderita oleh umat ini adalah kelalaian kaum muslimin dalam menjalankan agama dan penentangan mereka terhadap syari’at nabi mereka.
Penyembuh dan obat bagi penyakit tersebut adalah mengembalikan umat muslim kepada ajaran agama yang benar, sedangkan akibat dari penyakit tersebut adalah kemenangan kaum kafir, berkuasanya kaum kafir dan para penguasa yang dzhalim di sebagian negara Islam.
Tidakkah anda melihat bagaimana kesyirikan telah menabuh genderangnya dan mengangkat tinggi-tinggi benderanya di sebagian besar wilayah Islam? Dan tidakkah anda juga melihat bagaimana tauhid diperangi di seluruh wilayah Islam selain negara Arab Saudi yang penuh berkah ini-semoga Allah meneguhkannya dengan keimanan-. Anak-anak di negara ini terdidik di atas tauhid yang diajarkan di berbagai sekolah dan masjid-semoga Allah membalas para penguasa dan ulama negeri ini dengan kebaikan-.
Jika kondisi perikehidupan masyarakat Islam demikian adanya, dimana mereka berbuat kedurhakaan yang terbesar terhadap Allah (yaitu syirik akbar), maka bagaimana bisa kita memperoleh pertolongan dan kemuliaan dari Allah?
Betapa mencengangkan tatkala berbagai kemaksiatan dan syahwat bercokol di sebagian besar wilayah Islam. Apabila kita jujur dan sayang terhadap umat kita, maka janganlah sibuk dengan berbagai urusan dunia dan lupa terhadap pengobatan umat ini, yaitu mengembalikan mereka kepada ajaran agama yang benar.
Saya memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada kita untuk menempuh jalan yang lurus dan menyejukkan pandangan kita dengan kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id
Solusi Problematika Umat Islam
Sungguh musibah silih berganti menimpa kaum muslimin. Realita ini mengharuskan kita semua untuk berpikir keras mencari solusi permasalahan. Banyak analisis yang diberikan beberapa pihak untuk mengidentifikasi problem yang sebenarnya dihadapi oleh kaum muslimin. Jika identifikasi yang diajukan tidak tepat, tentu solusi yang ditawarkan juga tidak pas.
Ada yang mengatakan bahwa problema umat Islam yang paling mendasar adalah konspirasi musuh-musuh Islam yaitu orang-orang kafir dan kemenangan orang kafir atas kaum muslimin. Pihak pertama ini menawarkan solusi berupa menyibukan kaum muslimin dengan strategi-strategi orang-orang kafir, perkataan dan penegasan mereka.
Ada juga yang mengatakan bahwa permasalahan kaum muslimin yang paling pokok adalah berkuasanya para pemimpin yang zalim di berbagai negeri kaum muslimin. Sehingga pihak kedua ini menawarkan solusi berupa upaya menggulingkan pemerintahan yang ada dan menyibukkan kaum muslimin dengan hal ini.
Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa masalah kita yang paling pokok adalah perpecahan kaum muslimin. Oleh karenanya solusi tepat adalah menyatukan kaum muslimin sehingga kaum muslimin unggul dalam kuantitas.
Ada juga analisis keempat. Analisis ini mengatakan bahwa penyakit akut umat ini adalah meninggalkan jihad sehingga obat penyakit ini adalah mengibarkan bendera jihad dan menabuh genderang perang melawan orang-orang kafir.
Marilah kita telaah bersama pendapat-pendapat di atas dengan dua panduan kita yaitu Al Qur’an dan Sunnah.
Terkait dengan pendapat pertama, kita jumpai firman Allah,
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Qs. Ali Imran: 120)
Ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa jika kita benar-benar bertakwa kepada Allah maka konspirasi musuh bukanlah ancaman yang berarti.
Tentang pendapat kedua, kita jumpai firman Allah,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim disebabkan maksiat yang mereka lakukan.” (Qs. Al An’am: 129)
Ayat ini menunjukkan bahwa penguasa yang zalim hukuman yang Allah timpakan kepada rakyat yang juga zalim disebabkan dosa-dosa rakyat. Jika demikian, penguasa yang zalim bukanlah penyakit bahkan penyakit sebenarnya adalah keadaan rakyat.
Sedangkan untuk pendapat ketiga kita dapati firman Allah,
وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.” (Qs. At Taubah: 25)
Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan dan jumlah yang banyak tidaklah bermanfaat jika kemaksiatan tersebar di tengah-tengah mereka. Kita lihat dosa ujub telah menghancurkan faedah dari jumlah yang banyak sehingga para shahabat menuai kekalahan pada saat perang Hunain. Di antara maksiat adalah menyatukan barisan bersama orang-orang yang membenci sunnah Nabi karena sikap tepat terhadap mereka adalah memberikan nasihat, bukan mendiamkan kesalahan. Sikap minimal adalah mengingkari dengan hati dalam bentuk tidak menghadiri acara-acara yang menyimpang dari sunnah bukan malah menikmati.
Untuk pendapat keempat kita katakan bahwa jihad itu bukanlah tujuan namun yang menjadi tujuan adalah menegakkan agama Allah di muka bumi. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin lemah dari sisi agama dan persenjataan maka menabuh genderang perang pada saat itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah tidak mewajibkan jihad kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau masih berada di Mekah dikarenakan berperang ketika itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.
Oleh karena itu, identifikasi yang tepat untuk penyakit yang membinasakan umat dan menjadikan kaum muslimin terbelakang adalah dosa-dosa kita sendiri. Banyak dalil dari al Qur’an yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah firman Allah,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran: 165)
Oleh sebab itu, obat yang mujarab adalah membersihkan diri kita dan seluruh umat dari dosa. Sedangkan dosa yang paling berbahaya adalah syirik dan bid’ah. Demikian pula kita berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengembalikan umat kepada panduan hidup mereka yaitu Al Qur’an dan sunnah Rasul sebagaimana pemahaman salaf. Kita habiskan umur dan harta kita untuk menegakan bendera tauhid dan sunnah dan menghancurkan bendera syirik dan bid’ah dengan berbagai sarana dan media yang kita miliki.
Jika bendera tauhid dan sunnah telah tegak berkibar dan bendera syirik dan bid’ah hancur maka saat itu kita berhak mendapatkan janji Allah yaitu kemenangan.
***
Penulis: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id
Kapankah Kejayaan Umat Kan Dicapai?
Dalam surat an-Nur ayat 55, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengamalkan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepadaku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”
Ayat ini merupakan jawaban tuntas atas pertanyaan banyak orang yang sudah merasa pening melihat keterpurukan dan kemunduran kaum muslimin di zaman ini. Ayat ini akan menutup rapat-rapat pintu perbedaan pendapat yang amat sengit antara umat dalam mencari solusi untuk menegakkan syariat Islam di tanah air. Ada yang berusaha mendirikan negara dalam negara, sambil berupaya keras meruntuhkan pemerintah yang sah. Ada yang menggunakan cara-cara teror dan mengacaukan keamanan negara muslim. Ada yang menyibukkan diri dengan fatamorgana politik. Ada pula yang berusaha untuk menenggelamkan umat dalam amalan-amalan yang sunah hukumnya sambil terus-menerus mengesampingkan amalan-amalan yang pokok (baca: tauhid).
Subhanallah! Bukankah ayat tersebut di atas amat sangat jelas dalam menerangkan jalan apakah yang seharusnya dititi kaum muslimin agar bisa mencapai kejayaannya? Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai ketenteraman negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.
Bagaimana mungkin agama ini akan jaya, jika masih banyak orang yang kemerdekaan berpikirnya telah terbunuh, sehingga diperbudak oleh barang-barang tak berakal, seperti batu, pepohonan, kuburan dan lain sebagainya?!
Bagaimana mungkin ketenteraman negeri ini akan diraih, jika masih banyak yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati?!
Bagaimana mungkin negara Islam akan berdiri, jika masih banyak orang yang menghambakan dirinya serta menghinakannya kepada sesuatu yang lebih rendah dari Allah subhanahu wa ta’ala?
Mereka terjajah kemerdekaannya untuk bisa langsung berhubungan dengan Robbnya! Allahul musta’an wa ‘alaihit tuklan wa laa haula wa laa quwata illa billahil malaikid dayyan…
Melalui kalimat yang singkat ini, kami berusaha untuk menghasung diri kami sendiri dan kaum muslimin secara umum, untuk terus berjuang menegakkan bendera tauhid di seluruh penjuru tanah air, sambil terus berjuang sekuat tenaga untuk membersihkannya dari kotoran-kotoran syirik.
أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم, تقم لكم في أرضكم
Dirikanlah negeri Islam dalam jiwa-jiwa kalian, niscaya negeri Islam itu akan berdiri di tanah air kalian!
Wallohu ta’ala a’la wa a’lam…
Abu Abdirrahman al-Purbalinggawy al-Atsary
***
Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman Al Atsary Abdullah Zaen
(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)
Artikel www.muslim.or.id
Saudaraku, sesungguhnya kelemahan umat kita dan penguasaan musuh atas diri kita merupakan musibah dan bencana besar yang wajib untuk kita hilangkan. Dan hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan melainkan dengan melakukan diagnosa yang teliti (terhadap penyakit umat ini) terlebih dahulu, guna menghindari kerancuan dalam mendiagnosis antara penyakit dan obat.
Sungguh betapa banyak orang yang keliru dalam membedakan antara penyakit dan obat dikarenakan menganggap penyakit sebagai obat dan penyembuh.
Sebagian kalangan menyangka bahwa penyakit umat ini dikarenakan makar dan penguasaan para musuh terhadap umat Islam. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa obat untuk menghilangkan penyakit itu adalah dengan menyibukkan kaum muslimin dengan memperhatikan kondisi musuh-musuh Islam, perkataan dan pengakuan mereka.
Kalangan kedua menyangka bahwa penyakit yang sebenarnya adalah berkuasanya para penguasa yang dzhalim di sebagian negeri-negeri Islam. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa obat bagi umat ini adalah menggulingkan para penguasa tersebut serta menyeru umat untuk senantiasa menentang mereka.
Kalangan ketiga berpendapat bahwa penyakit umat ini adalah perpecahan yang terjadi di antara kaum muslimin, sehingga untuk mengobatinya perlu adanya pengumpulan dan penyatuan barisan agar jumlah mereka bertambah besar.
Seluruh pendapat yang dikemukakan oleh berbagai kalangan tersebut keliru dalam menentukan penyakit yang tengah diderita umat ini sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash Al Qur-an dan sunnah. Tentunya diagnosis yang keliru tadi berujung pada kekeliruan dalam menentukan obat.
Pendapat kalangan pertama keliru karena seandainya kita bertakwa kepada Allah, maka seluruh makar musuh tidak akan membahayakan kita. Allah ta’ala berfirman,
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali Imran: 120).
Sisi kekeliruan kalangan kedua, bahwa para penguasa yang dzhalim merupakan hukuman yang ditimpakan Allah bagi kaum yang dzhalim pula, dikarenakan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129).
Oleh karena itu, berkuasanya penguasa yang dzhalim bukanlah penyakit riil dari umat ini, bahkan penyakit yang riil berasal dari rakyat yang berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut.
Ibnul Qayyim berkata, “Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.
* Apabila rakyat di dalam negeri tersebut komitmen dalam menjalankan syari’at, maka tentu penguasanya pun demikian.
* Apabila mereka berlaku adil, maka para penguasa akan berlaku adil kepada mereka.
* Apabila mereka suka berbuat kemaksiatan, maka para penguasa juga akan senantiasa berbuat maksiat.
* Apabila rakyat senantiasa berbuat makar dan tipu daya, maka tentulah penguasa demikian pula keadaannya.
* Apabila para rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah serta mengabaikannya, maka penguasa mereka pun juga akan berbuat hal yang sama, mereka akan melanggar dan tidak menunaikan hak-hak para rakyatnya.
* Apabila rakyat sering melanggar hak kaum yang lemah dalam berbagai interaksi mereka, maka para penguasa akan melanggar hak para rakyatnya secara paksa, menetapkan berbagai pajak dan pungutan liar kepada mereka. Dan setiap mereka (yakni rakyat) mengambil hak kaum yang lemah, maka hak mereka pun akan diambil secara paksa oleh para penguasa. Sehingga para penguasa merupakan cerminan amal dari para rakyatnya.
Demikianlah hikmah ilahi (yang senantiasa berlaku), suatu kaum yang buruk dan senantiasa berbuat kedurhakaan akan dipimpin oleh para penguasa yang sejenis dengan mereka.
Tatkala generasi awal dari umat ini merupakan generasi yang terbaik, maka kondisi para penguasanya pun tidak jauh berbeda. Maka tatkala kaum muslimin melakukan pengkhianatan, maka para penguasa pun berkhianat terhadap mereka. Sehingga hikmah Allah enggan, jika pada zaman ini diri kita dipimpin oleh penguasa sekaliber Mu’awiyah dan Umar bin Abdul ‘Aziz, apalagi yang sekaliber Abu Bakr dan Umar, namun kondisi para penguasa kita sesuai dengan dengan kondisi yang ada pada diri kita dan penguasa generasi terdahulu sesuai dengan kondisi rakyatnya, keduanya merupakan sebab dan kandungan dari hikmah ilahi (Miftah Daar as-Sa’adah 2/177-178).
Sisi kekeliruan kalangan ketiga, (kuantitas yang banyak bukanlah tolok ukur suatu keberhasilan), karena sesungguhnya kuantitas yang besar serta penyatuan barisan tidak akan berguna jika dibarengi dengan maksiat sebagaimana firman Allah ta’alaa ,
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.” (QS. At Taubah: 25).
Tidakkah anda melihat bahwa dosa ujub (congkak) telah mencerai-beraikan kuantitas kaum muslimin yang besar sehingga para sahabat kalah di hari Hunain?
Bahkan penyatuan barisan bersama ahli bid’ah seperti kaum sufi, Asya’irah dan Mu’tazilah termasuk dosa, karena kewajiban kita adalah mengingkari kesesatan mereka, dan selemah-lemah pengingkaran dalam hati adalah menghindari mereka bukan malah duduk bersama mereka. Allah ta’alaa berfirman,
إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ
“Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An Nisaa’: 140).
Berangkat dari sini, anda tentu akan mengetahui kekeliruan slogan yang senantiasa didengungkan oleh pendiri jama’ah Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, ketika beliau mengatakan, “Kita saling bahu-membahu dalam perkara yang kita sepakati dan kita saling toleran dalam perkara yang kita perselisihkan.”
Slogan ini merupakan asas yang menjadi pondasi berdirinya jama’ah ini. Oleh karena itu, anda akan melihat Hasan Al Banna beserta pengikut beliau menerapkan slogan ini bersama-sama kelompok Rafidhah, sufi dan ahli bid’ah lainnya.
Setelah hal ini, mungkin saja ada yang berkata, “Anda telah menjelaskan berbagai kekeliruan dalam mendiagnosa penyakit yang tengah diderita umat ini, maka apakah penyakit yang tengah diderita umat ini berdasarkan diagnosis yang tepat dan berdasarkan Al Qur-an dan sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih?”
Jawabnya: Banyak ayat Al Qur-an dan hadits nabi yang menerangkan bahwa seluruh musibah yang ditimpakan kepada hamba, tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa yang mereka perbuat. Allah ta’alaa berfirman,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165).
Sesungguhnya penyakit yang diderita oleh umat ini adalah kelalaian kaum muslimin dalam menjalankan agama dan penentangan mereka terhadap syari’at nabi mereka.
Penyembuh dan obat bagi penyakit tersebut adalah mengembalikan umat muslim kepada ajaran agama yang benar, sedangkan akibat dari penyakit tersebut adalah kemenangan kaum kafir, berkuasanya kaum kafir dan para penguasa yang dzhalim di sebagian negara Islam.
Tidakkah anda melihat bagaimana kesyirikan telah menabuh genderangnya dan mengangkat tinggi-tinggi benderanya di sebagian besar wilayah Islam? Dan tidakkah anda juga melihat bagaimana tauhid diperangi di seluruh wilayah Islam selain negara Arab Saudi yang penuh berkah ini-semoga Allah meneguhkannya dengan keimanan-. Anak-anak di negara ini terdidik di atas tauhid yang diajarkan di berbagai sekolah dan masjid-semoga Allah membalas para penguasa dan ulama negeri ini dengan kebaikan-.
Jika kondisi perikehidupan masyarakat Islam demikian adanya, dimana mereka berbuat kedurhakaan yang terbesar terhadap Allah (yaitu syirik akbar), maka bagaimana bisa kita memperoleh pertolongan dan kemuliaan dari Allah?
Betapa mencengangkan tatkala berbagai kemaksiatan dan syahwat bercokol di sebagian besar wilayah Islam. Apabila kita jujur dan sayang terhadap umat kita, maka janganlah sibuk dengan berbagai urusan dunia dan lupa terhadap pengobatan umat ini, yaitu mengembalikan mereka kepada ajaran agama yang benar.
Saya memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada kita untuk menempuh jalan yang lurus dan menyejukkan pandangan kita dengan kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id
Solusi Problematika Umat Islam
Sungguh musibah silih berganti menimpa kaum muslimin. Realita ini mengharuskan kita semua untuk berpikir keras mencari solusi permasalahan. Banyak analisis yang diberikan beberapa pihak untuk mengidentifikasi problem yang sebenarnya dihadapi oleh kaum muslimin. Jika identifikasi yang diajukan tidak tepat, tentu solusi yang ditawarkan juga tidak pas.
Ada yang mengatakan bahwa problema umat Islam yang paling mendasar adalah konspirasi musuh-musuh Islam yaitu orang-orang kafir dan kemenangan orang kafir atas kaum muslimin. Pihak pertama ini menawarkan solusi berupa menyibukan kaum muslimin dengan strategi-strategi orang-orang kafir, perkataan dan penegasan mereka.
Ada juga yang mengatakan bahwa permasalahan kaum muslimin yang paling pokok adalah berkuasanya para pemimpin yang zalim di berbagai negeri kaum muslimin. Sehingga pihak kedua ini menawarkan solusi berupa upaya menggulingkan pemerintahan yang ada dan menyibukkan kaum muslimin dengan hal ini.
Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa masalah kita yang paling pokok adalah perpecahan kaum muslimin. Oleh karenanya solusi tepat adalah menyatukan kaum muslimin sehingga kaum muslimin unggul dalam kuantitas.
Ada juga analisis keempat. Analisis ini mengatakan bahwa penyakit akut umat ini adalah meninggalkan jihad sehingga obat penyakit ini adalah mengibarkan bendera jihad dan menabuh genderang perang melawan orang-orang kafir.
Marilah kita telaah bersama pendapat-pendapat di atas dengan dua panduan kita yaitu Al Qur’an dan Sunnah.
Terkait dengan pendapat pertama, kita jumpai firman Allah,
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Qs. Ali Imran: 120)
Ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa jika kita benar-benar bertakwa kepada Allah maka konspirasi musuh bukanlah ancaman yang berarti.
Tentang pendapat kedua, kita jumpai firman Allah,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim disebabkan maksiat yang mereka lakukan.” (Qs. Al An’am: 129)
Ayat ini menunjukkan bahwa penguasa yang zalim hukuman yang Allah timpakan kepada rakyat yang juga zalim disebabkan dosa-dosa rakyat. Jika demikian, penguasa yang zalim bukanlah penyakit bahkan penyakit sebenarnya adalah keadaan rakyat.
Sedangkan untuk pendapat ketiga kita dapati firman Allah,
وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.” (Qs. At Taubah: 25)
Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan dan jumlah yang banyak tidaklah bermanfaat jika kemaksiatan tersebar di tengah-tengah mereka. Kita lihat dosa ujub telah menghancurkan faedah dari jumlah yang banyak sehingga para shahabat menuai kekalahan pada saat perang Hunain. Di antara maksiat adalah menyatukan barisan bersama orang-orang yang membenci sunnah Nabi karena sikap tepat terhadap mereka adalah memberikan nasihat, bukan mendiamkan kesalahan. Sikap minimal adalah mengingkari dengan hati dalam bentuk tidak menghadiri acara-acara yang menyimpang dari sunnah bukan malah menikmati.
Untuk pendapat keempat kita katakan bahwa jihad itu bukanlah tujuan namun yang menjadi tujuan adalah menegakkan agama Allah di muka bumi. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin lemah dari sisi agama dan persenjataan maka menabuh genderang perang pada saat itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah tidak mewajibkan jihad kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau masih berada di Mekah dikarenakan berperang ketika itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.
Oleh karena itu, identifikasi yang tepat untuk penyakit yang membinasakan umat dan menjadikan kaum muslimin terbelakang adalah dosa-dosa kita sendiri. Banyak dalil dari al Qur’an yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah firman Allah,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran: 165)
Oleh sebab itu, obat yang mujarab adalah membersihkan diri kita dan seluruh umat dari dosa. Sedangkan dosa yang paling berbahaya adalah syirik dan bid’ah. Demikian pula kita berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengembalikan umat kepada panduan hidup mereka yaitu Al Qur’an dan sunnah Rasul sebagaimana pemahaman salaf. Kita habiskan umur dan harta kita untuk menegakan bendera tauhid dan sunnah dan menghancurkan bendera syirik dan bid’ah dengan berbagai sarana dan media yang kita miliki.
Jika bendera tauhid dan sunnah telah tegak berkibar dan bendera syirik dan bid’ah hancur maka saat itu kita berhak mendapatkan janji Allah yaitu kemenangan.
***
Penulis: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id
Kapankah Kejayaan Umat Kan Dicapai?
Dalam surat an-Nur ayat 55, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengamalkan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepadaku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”
Ayat ini merupakan jawaban tuntas atas pertanyaan banyak orang yang sudah merasa pening melihat keterpurukan dan kemunduran kaum muslimin di zaman ini. Ayat ini akan menutup rapat-rapat pintu perbedaan pendapat yang amat sengit antara umat dalam mencari solusi untuk menegakkan syariat Islam di tanah air. Ada yang berusaha mendirikan negara dalam negara, sambil berupaya keras meruntuhkan pemerintah yang sah. Ada yang menggunakan cara-cara teror dan mengacaukan keamanan negara muslim. Ada yang menyibukkan diri dengan fatamorgana politik. Ada pula yang berusaha untuk menenggelamkan umat dalam amalan-amalan yang sunah hukumnya sambil terus-menerus mengesampingkan amalan-amalan yang pokok (baca: tauhid).
Subhanallah! Bukankah ayat tersebut di atas amat sangat jelas dalam menerangkan jalan apakah yang seharusnya dititi kaum muslimin agar bisa mencapai kejayaannya? Semua janji-janji Allah tersebut di atas, mulai dari kekuasaan di muka bumi, kekokohan dan kejayaan agama, sampai ketenteraman negara, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan syarat yang tersebut di akhir ayat tadi; yaitu menegakkan tauhid (hanya beribadah kepada Allah ta’ala) dan meninggalkan syirik.
Bagaimana mungkin agama ini akan jaya, jika masih banyak orang yang kemerdekaan berpikirnya telah terbunuh, sehingga diperbudak oleh barang-barang tak berakal, seperti batu, pepohonan, kuburan dan lain sebagainya?!
Bagaimana mungkin ketenteraman negeri ini akan diraih, jika masih banyak yang seluruh maslahat hidup dan kemudaratannya tergantung pada benda-benda mati?!
Bagaimana mungkin negara Islam akan berdiri, jika masih banyak orang yang menghambakan dirinya serta menghinakannya kepada sesuatu yang lebih rendah dari Allah subhanahu wa ta’ala?
Mereka terjajah kemerdekaannya untuk bisa langsung berhubungan dengan Robbnya! Allahul musta’an wa ‘alaihit tuklan wa laa haula wa laa quwata illa billahil malaikid dayyan…
Melalui kalimat yang singkat ini, kami berusaha untuk menghasung diri kami sendiri dan kaum muslimin secara umum, untuk terus berjuang menegakkan bendera tauhid di seluruh penjuru tanah air, sambil terus berjuang sekuat tenaga untuk membersihkannya dari kotoran-kotoran syirik.
أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم, تقم لكم في أرضكم
Dirikanlah negeri Islam dalam jiwa-jiwa kalian, niscaya negeri Islam itu akan berdiri di tanah air kalian!
Wallohu ta’ala a’la wa a’lam…
Abu Abdirrahman al-Purbalinggawy al-Atsary
***
Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman Al Atsary Abdullah Zaen
(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)
Artikel www.muslim.or.id
Masjid Bradford Menangi "Menara Masjid Paling Indah se-Eropa"
STRASBOURG--Masjid Madni di Bradford, Inggris Utara mengalahkan 50 nimonator lainnya dalam pemilihan "Menara Masjid Paling Indah se-Eropa". Demikian parlemen Eropa mengumumkannya, Selasa.
Pemilihan ini dihajat oleh COJEP Internasional, sebuah organisasi amal yang didirikan kaum muda di Prancis bekerja sama dengan OSCE dan Dewan Eropa. Yuri dalam pemilihan ini terdiri dari berbagai kalangan interrasial dan etnik serta independen. Termasuk dalam barisan dewan yuri adalah seorang rabi Yahudi, teolog Protestan asal Swiss, dan seorang pendeta Anglikan.
Yuri mengumpulkan data 53 menara masjid di 13 negara Eropa sebelum membuat pilihan mereka. Kriteria masjid yang diikutkan dalam lomba itu adalah yang berusia di bawah 50 tahun dan telah memenuhi syarat untuk kontes. "Kami tidak memasukkan masjid-masjid bersejarah seperti di Andalucia, Bosnia, atau Paris karena kami menginginkan kompetisi tetap terkait dengan imigrasi Islam terkini," kata juru bicara COJEP, Veysel Filiz.
Juri mengambil keputusan atas dasar pertimbangan estetika tetapi juga cara menara yang bekerja di lingkungan perkotaan itu dibangun dalam. "Ide dari kompetisi ini adalah untuk menunjukkan bahwa menara tidak boleh berkaitan dengan rasa takut dan prasangka," kata Filiz.
Bagaimana Dewan Pengelola Masjid bekerja juga disorot. "Karena Islam di Eropa harus bekerja secara transparan dan masjid terbuka untuk masyarakat," tambahnya.
Menurut Filiz, syiar Islam adalah terbuka dan bersifat universal. "Jika Islam adalah tersembunyi di gua-gua, kita tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan di mimbar," tegasnya.
Inisiatif untuk kompetisi sengit telah dikritik oleh kelompok kanan ekstrem, terutama di internet. Namun, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Pemberian penghargaan itu didukung oleh parlemen Eropa.
www.republika.co.id
Pemilihan ini dihajat oleh COJEP Internasional, sebuah organisasi amal yang didirikan kaum muda di Prancis bekerja sama dengan OSCE dan Dewan Eropa. Yuri dalam pemilihan ini terdiri dari berbagai kalangan interrasial dan etnik serta independen. Termasuk dalam barisan dewan yuri adalah seorang rabi Yahudi, teolog Protestan asal Swiss, dan seorang pendeta Anglikan.
Yuri mengumpulkan data 53 menara masjid di 13 negara Eropa sebelum membuat pilihan mereka. Kriteria masjid yang diikutkan dalam lomba itu adalah yang berusia di bawah 50 tahun dan telah memenuhi syarat untuk kontes. "Kami tidak memasukkan masjid-masjid bersejarah seperti di Andalucia, Bosnia, atau Paris karena kami menginginkan kompetisi tetap terkait dengan imigrasi Islam terkini," kata juru bicara COJEP, Veysel Filiz.
Juri mengambil keputusan atas dasar pertimbangan estetika tetapi juga cara menara yang bekerja di lingkungan perkotaan itu dibangun dalam. "Ide dari kompetisi ini adalah untuk menunjukkan bahwa menara tidak boleh berkaitan dengan rasa takut dan prasangka," kata Filiz.
Bagaimana Dewan Pengelola Masjid bekerja juga disorot. "Karena Islam di Eropa harus bekerja secara transparan dan masjid terbuka untuk masyarakat," tambahnya.
Menurut Filiz, syiar Islam adalah terbuka dan bersifat universal. "Jika Islam adalah tersembunyi di gua-gua, kita tidak dapat mengetahui apa yang dikatakan di mimbar," tegasnya.
Inisiatif untuk kompetisi sengit telah dikritik oleh kelompok kanan ekstrem, terutama di internet. Namun, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Pemberian penghargaan itu didukung oleh parlemen Eropa.
www.republika.co.id
Perjalanan Menuju Akhirat
Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan.
يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Qs. Al Fajr: 24)
Maka seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan dan hari esok manusia yang sesungguhnya, yang kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)
Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qotadah berkata: “Senantiasa tuhanmu (Allah) mendekatkan (waktu terjadinya) hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok.” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfan (hal. 152 – Mawaaridul Amaan). Beliau (Abu Qatadah) adalah Qotadah bin Di’aamah As Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 409)
Semoga Allah ta’ala meridhai sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: “Hisab-lah (introspeksilah) dirimu (saat ini) sebelum kamu di-hisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shaleh) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah ta’ala):
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).” (Qs. Al Haaqqah: 18). (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau Az Zuhd (hal. 120), dengan sanad yang hasan)
Senada dengan ucapan di atas sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az Zuhd (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau Jaami’ul ‘uluumi wal hikam (hal. 461)).
Jadilah kamu di dunia seperti orang asing…
Dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Al Bukhari no. 6053)
Hadits ini merupakan bimbingan bagi orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara dan tidak terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, serta terus merindukan untuk kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang hatinya selalu terikat dan rindu untu kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam ‘alaihis salam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.
Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri kepada Imam Umar bin Abdul Azizi, beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam ‘alaihis salam diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfaan (hal. 84 – Mawaaridul Amaan))
Dalam mengungkapkan makna ini Ibnul Qayyim berkata dalam bait syairnya:
Marilah (kita menuju) surga ‘adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah
Tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah)
Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat
Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?
(Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 462))
Sikap hidup ini menjadikan seorang mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena “barangsiapa yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke kampung halamannya (akhirat), sehingga dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang-orang yang mengejar dunia dalam kemewahan (dunia yang mereka cari), karena keadaanya seperti seorang perantau, sebagaimana dia tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya di kalangan mereka.” (Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 461), dengan sedikit penyesuaian)
Makna inilah yang diisyaratkan oleh sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu ketika beliau berkata: “Jika kamu (berada) di waktu sore maka janganlah tunggu datangnya waktu pagi, dan jika kamu (berada) di waktu pagi maka janganlah tunggu datangnya waktu sore, serta gunakanlah masa sehatmu (dengan memperbanyak amal shaleh sebelum datang) masa sakitmu, dan masa hidupmu (sebelum) kematian (menjemputmu).” (Diriwayatkan oleh imam Al Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari, no. 6053).
Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya: Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata: “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata: Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.” (Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 465))
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى
Berbekallah, dan sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya.” (Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 196))
Maka sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia berbuat baik di dunia semakin banyak pula kebaikan yang akan di raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya untuk meraih keselamatan dalam perjalanannya menuju surga.
Inilah diantara makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Setiap orang akan dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai dengan (keadaannya) sewaktu dia meninggal dunia.” (HR. Muslim, no. 2878). Artinya: Dia akan mendapatkan balasan pada hari kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya sewaktu di dunia. (Lihat penjelasan Al Munaawi dalam kitab beliau Faidhul Qadiir (6/457))
Landasan utama takwa adalah dua kalimat syahadat: Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, sebaik-baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan inti makna syahadat Laa ilaaha illallah dan menyempurnakan al ittibaa’ (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perbuatan bid’ah) yang merupakan inti makna syahadat Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka dari itu, semua peristiwa besar yang akan dialami manusia pada hari kiamat nanti, Allah akan mudahkan bagi mereka dalam menghadapinya sesuai dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama Islam ini sewaktu di dunia.
Fitnah (ujian keimanan) dalam kubur yang merupakan peristiwa besar pertama yang akan dialami manusia setelah kematiannya, mereka akan ditanya oleh dua malaikat: Munkar dan Nakir (Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat At Tirmidzi (no. 1083) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah, no. 1391) dengan tiga pertanyaan: Siapa Tuhanmu?, apa agamamu? dan siapa nabimu? (Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Ahmad (4/287-288), Abu Dawud, no. 4753 dan Al Hakim (1/37-39), dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.). Allah hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika mengahadapi ujian besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab: Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah ta’ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)
Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Al Bara’ bin ‘Aazib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (HR.Al Bukhari (no. 4422), hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2871))
Termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, mendatangi telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kemuliaan, warna airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kesturi), barangsiapa yang meminum darinya sekali saja maka dia tidak akan kehausan selamanya (Semua ini disebutkan dalam hadits yang shahih riwayat imam Al Bukhari (no. 6208) dan Muslim (no. 2292). Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan minum darinya). Dalam hadits yang shahih (Riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) juga disebutkan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemahaman dan perbuatan bid’ah, sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.
Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi (pemahaman) jama’ah kaum muslimin, seperti orang-orang khawarij, Syi’ah Rafidhah dan para pengikut hawa nafsu, demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan, semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). (Kitab Syarh Az Zarqaani ‘Ala Muwaththa-il Imaami Maalik, 1/65)
Beliau (Ibnu Abdil Barr) adalah Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr An Namari Al Andalusi (wafat 463 H), syaikhul Islam dan imam besar ahlus Sunnah dari wilayah Magrib, penulis banyak kitab hadits dan fikih yang sangat bermanfaat. Biografi beliau dalam kitab Tadzkiratul Huffaazh (3/1128).
Demikian pula termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, melintasi ash shiraath (jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di antara surga dan neraka. Dalam hadits yang shahih (Riwayat imam Al Bukhari (no. 7001) dan Muslim (no. 183) dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu) disebutkan bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam-macam sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia. “Ada yang melintasinya secepat kerdipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang secepat menunggang onta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam” – na’uudzu billahi min daalik – (Ucapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau Al Aqiidah al Waasithiyyah, hal. 20) .
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin ketika menjelaskan sebab perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan tersebut, beliau berkata: “Ini semua (tentu saja) bukan dengan pilihan masing-masing orang, karena kalau dengan pilihan (sendiri) tentu semua orang ingin melintasinya dengan cepat, akan tetapi (keadaan manusia sewaktu) melintasi (jembatan tersebut) adalah sesuai dengan cepat (atau lambatnya mereka) dalam menerima (dan mengamalkan) syariat Islam di dunia ini; barangsiapa yang bersegera dalam menerima (petunjuk dan sunnah) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka diapun akan cepat melintasi jembatan tersebut, dan (sebaliknya) barangsiapa yang lambat dalam hal ini, maka diapun akan lambat melintasinya; sebagai balasan yang setimpal, dan balasan (perbuatan manusia) adalah sesuai dengan jenis perbuatannya.” (Kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah, 2/162)
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Balasan akhir yang baik (yaitu Surga) bagi orang-orang yang bertakwa
Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada tahapan akhir; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah ta’ala akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah ta’ala berfirman:
فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Qs. An Naazi’aat: 37-41).
Maka balasan akhir yang baik hanyalah Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allah ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Qashash: 83)
Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata: “…Jika mereka (orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini) tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, maka konsekwensinya (berarti) keinginan mereka (hanya) tertuju kepada Allah, tujuan mereka (hanya mempersiapkan bekal untuk) negeri akhirat, dan keadan mereka (sewaktu di dunia): selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah, serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shaleh, mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allah ta’ala).” (Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan, hal. 453)
Penutup
Setelah kita merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup supaya selamat dalam perjalanan tersebut? Kalau jawabannya: belum, maka jangan putus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita -dengan izin Allah ta’ala- . Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertobat kepada Allah, serta memperbanyak amal shaleh pada sisa umur kita yang masih ada. Dan semua itu akan mudah bagi orang yang Allah berikan taufik dan kemudahan baginya.
Imam Fudhail bin ‘Iyaadh pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata: “Berapa tahun usiamu (sekarang)”? Lelaki itu menjawab: Enam puluh tahun. Fudhail berkata: “(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka Fudhail berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya.” Maka lelaki itu bertanya: (Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)? Fudhail menjawab: “(Caranya) mudah.” Leleki itu bertanya lagi: Apa itu? Fudhail berkata: “Engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (perbuatan dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (perbuatan dosamu) di masa lalu dan pada sisa umurmu.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam, hal. 464)
Beliau (Fudhail bin ‘Iyaadh) adalah Fudhail bin ‘Iyaadh bin Mas’uud At Tamimi (wafat 187 H), seorang imam besar dari dari kalangan atba’ut tabi’in yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang ahli ibadah (lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 403)
Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam HR. Muslim, no. 2720) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita:
Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku, dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 20 Shafar 1430 H
***
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, M.A.
Artikel http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/perjalanan-menuju-akhirat.html
يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Qs. Al Fajr: 24)
Maka seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan dan hari esok manusia yang sesungguhnya, yang kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)
Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qotadah berkata: “Senantiasa tuhanmu (Allah) mendekatkan (waktu terjadinya) hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok.” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfan (hal. 152 – Mawaaridul Amaan). Beliau (Abu Qatadah) adalah Qotadah bin Di’aamah As Saduusi Al Bashri (wafat setelah tahun 110 H), imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 409)
Semoga Allah ta’ala meridhai sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: “Hisab-lah (introspeksilah) dirimu (saat ini) sebelum kamu di-hisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shaleh) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah ta’ala):
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).” (Qs. Al Haaqqah: 18). (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau Az Zuhd (hal. 120), dengan sanad yang hasan)
Senada dengan ucapan di atas sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita) sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az Zuhd (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau Jaami’ul ‘uluumi wal hikam (hal. 461)).
Jadilah kamu di dunia seperti orang asing…
Dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Al Bukhari no. 6053)
Hadits ini merupakan bimbingan bagi orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara dan tidak terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, serta terus merindukan untuk kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang hatinya selalu terikat dan rindu untu kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam ‘alaihis salam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.
Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri kepada Imam Umar bin Abdul Azizi, beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam ‘alaihis salam diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfaan (hal. 84 – Mawaaridul Amaan))
Dalam mengungkapkan makna ini Ibnul Qayyim berkata dalam bait syairnya:
Marilah (kita menuju) surga ‘adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah
Tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah)
Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat
Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?
(Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 462))
Sikap hidup ini menjadikan seorang mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena “barangsiapa yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke kampung halamannya (akhirat), sehingga dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang-orang yang mengejar dunia dalam kemewahan (dunia yang mereka cari), karena keadaanya seperti seorang perantau, sebagaimana dia tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya di kalangan mereka.” (Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 461), dengan sedikit penyesuaian)
Makna inilah yang diisyaratkan oleh sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu ketika beliau berkata: “Jika kamu (berada) di waktu sore maka janganlah tunggu datangnya waktu pagi, dan jika kamu (berada) di waktu pagi maka janganlah tunggu datangnya waktu sore, serta gunakanlah masa sehatmu (dengan memperbanyak amal shaleh sebelum datang) masa sakitmu, dan masa hidupmu (sebelum) kematian (menjemputmu).” (Diriwayatkan oleh imam Al Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari, no. 6053).
Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya: Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata: “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata: Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.” (Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 465))
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوى
Berbekallah, dan sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya.” (Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam (hal. 196))
Maka sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia berbuat baik di dunia semakin banyak pula kebaikan yang akan di raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya untuk meraih keselamatan dalam perjalanannya menuju surga.
Inilah diantara makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Setiap orang akan dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai dengan (keadaannya) sewaktu dia meninggal dunia.” (HR. Muslim, no. 2878). Artinya: Dia akan mendapatkan balasan pada hari kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya sewaktu di dunia. (Lihat penjelasan Al Munaawi dalam kitab beliau Faidhul Qadiir (6/457))
Landasan utama takwa adalah dua kalimat syahadat: Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, sebaik-baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan inti makna syahadat Laa ilaaha illallah dan menyempurnakan al ittibaa’ (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perbuatan bid’ah) yang merupakan inti makna syahadat Muhammadur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka dari itu, semua peristiwa besar yang akan dialami manusia pada hari kiamat nanti, Allah akan mudahkan bagi mereka dalam menghadapinya sesuai dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama Islam ini sewaktu di dunia.
Fitnah (ujian keimanan) dalam kubur yang merupakan peristiwa besar pertama yang akan dialami manusia setelah kematiannya, mereka akan ditanya oleh dua malaikat: Munkar dan Nakir (Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat At Tirmidzi (no. 1083) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah, no. 1391) dengan tiga pertanyaan: Siapa Tuhanmu?, apa agamamu? dan siapa nabimu? (Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Ahmad (4/287-288), Abu Dawud, no. 4753 dan Al Hakim (1/37-39), dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.). Allah hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika mengahadapi ujian besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab: Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah ta’ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)
Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Al Bara’ bin ‘Aazib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (HR.Al Bukhari (no. 4422), hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2871))
Termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, mendatangi telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kemuliaan, warna airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kesturi), barangsiapa yang meminum darinya sekali saja maka dia tidak akan kehausan selamanya (Semua ini disebutkan dalam hadits yang shahih riwayat imam Al Bukhari (no. 6208) dan Muslim (no. 2292). Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan minum darinya). Dalam hadits yang shahih (Riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) juga disebutkan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemahaman dan perbuatan bid’ah, sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.
Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi (pemahaman) jama’ah kaum muslimin, seperti orang-orang khawarij, Syi’ah Rafidhah dan para pengikut hawa nafsu, demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan, semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). (Kitab Syarh Az Zarqaani ‘Ala Muwaththa-il Imaami Maalik, 1/65)
Beliau (Ibnu Abdil Barr) adalah Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr An Namari Al Andalusi (wafat 463 H), syaikhul Islam dan imam besar ahlus Sunnah dari wilayah Magrib, penulis banyak kitab hadits dan fikih yang sangat bermanfaat. Biografi beliau dalam kitab Tadzkiratul Huffaazh (3/1128).
Demikian pula termasuk peristiwa besar pada hari kiamat, melintasi ash shiraath (jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di antara surga dan neraka. Dalam hadits yang shahih (Riwayat imam Al Bukhari (no. 7001) dan Muslim (no. 183) dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu) disebutkan bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam-macam sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia. “Ada yang melintasinya secepat kerdipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang secepat menunggang onta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam” – na’uudzu billahi min daalik – (Ucapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau Al Aqiidah al Waasithiyyah, hal. 20) .
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin ketika menjelaskan sebab perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan tersebut, beliau berkata: “Ini semua (tentu saja) bukan dengan pilihan masing-masing orang, karena kalau dengan pilihan (sendiri) tentu semua orang ingin melintasinya dengan cepat, akan tetapi (keadaan manusia sewaktu) melintasi (jembatan tersebut) adalah sesuai dengan cepat (atau lambatnya mereka) dalam menerima (dan mengamalkan) syariat Islam di dunia ini; barangsiapa yang bersegera dalam menerima (petunjuk dan sunnah) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka diapun akan cepat melintasi jembatan tersebut, dan (sebaliknya) barangsiapa yang lambat dalam hal ini, maka diapun akan lambat melintasinya; sebagai balasan yang setimpal, dan balasan (perbuatan manusia) adalah sesuai dengan jenis perbuatannya.” (Kitab Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah, 2/162)
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Balasan akhir yang baik (yaitu Surga) bagi orang-orang yang bertakwa
Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada tahapan akhir; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah ta’ala akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah ta’ala berfirman:
فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Qs. An Naazi’aat: 37-41).
Maka balasan akhir yang baik hanyalah Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allah ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Qashash: 83)
Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata: “…Jika mereka (orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini) tidak mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, maka konsekwensinya (berarti) keinginan mereka (hanya) tertuju kepada Allah, tujuan mereka (hanya mempersiapkan bekal untuk) negeri akhirat, dan keadan mereka (sewaktu di dunia): selalu merendahkan diri kepada hamba-hamba Allah, serta selalu berpegang kepada kebenaran dan mengerjakan amal shaleh, mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allah ta’ala).” (Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan, hal. 453)
Penutup
Setelah kita merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup supaya selamat dalam perjalanan tersebut? Kalau jawabannya: belum, maka jangan putus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan memperbaiki segala kekurangan kita -dengan izin Allah ta’ala- . Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertobat kepada Allah, serta memperbanyak amal shaleh pada sisa umur kita yang masih ada. Dan semua itu akan mudah bagi orang yang Allah berikan taufik dan kemudahan baginya.
Imam Fudhail bin ‘Iyaadh pernah menasehati seseorang lelaki, beliau berkata: “Berapa tahun usiamu (sekarang)”? Lelaki itu menjawab: Enam puluh tahun. Fudhail berkata: “(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka Fudhail berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya.” Maka lelaki itu bertanya: (Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)? Fudhail menjawab: “(Caranya) mudah.” Leleki itu bertanya lagi: Apa itu? Fudhail berkata: “Engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (perbuatan dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (perbuatan dosamu) di masa lalu dan pada sisa umurmu.” (Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam, hal. 464)
Beliau (Fudhail bin ‘Iyaadh) adalah Fudhail bin ‘Iyaadh bin Mas’uud At Tamimi (wafat 187 H), seorang imam besar dari dari kalangan atba’ut tabi’in yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang ahli ibadah (lihat kitab Taqriibut Tahdziib, hal. 403)
Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam HR. Muslim, no. 2720) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita:
Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku, dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 20 Shafar 1430 H
***
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, M.A.
Artikel http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/perjalanan-menuju-akhirat.html
Subscribe to:
Posts (Atom)