Cara Memperlakukan Istri


Suami Istri (blogspot.com)dakwatuna.com - “Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)

Menikah adalah fitrah manusia. Rasulullah saw. menyebut menikah sebagai sunahnya. Bahkan, Nabi berkata, siapa yang membenci sunahnya, tidak termasuk dalam golongannya.

Setiap kita, pasangan muslim dan muslimah yang melakukan pernikahan, paham betul bahwa tujuan menikah yang utama adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Setelah itu untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawahdah wa rahmah dan meneruskan keturunan dengan memperoleh anak-anak yang saleh dan salehah. Kita juga menyadari bahwa lembaga keluarga yang kita bentuk adalah wadah untuk melaku proses perubahan, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan juga sadar bahwa keluarga adalah organisasi kecil yang memiliki aturan dalam pengelolaannya. Karena itu, sepasang suami-istri harus bisa memahami hak dan kewajiban dirinya atas pasangannya dan anggota keluarga lainnya.

Sepasang suami-istri dalam berinteraksi di rumah tangga sepatutnya melandasi hubungan mereka dengan semangat mencari keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan mendahulukan menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.

Kewajiban seorang istri terhadap suaminya adalah pertama, mentaati suami. Namun, dalam mentaati suami juga ada batasannya. Batasan itu adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, Sang Pencipta.”

Kewajiban seorang istri terhadap suami yang kedua adalah menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga. Ketiga, mengatur rumah tangga. Keempat, mendidik anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawab atas asuhannya.” Keluarga adalah prioritas seorang istri, meski tidak ada larangan baginya untuk melakukan peran sosialnya di masyarakat seperti berdakwah, misalnya.

Dan kewajiban lain seorang istri kepada suaminya adalah berbuat baik kepada keluarga suami.

Sedangkan kewajiban seorang suami kepada istrinya adalah pertama, membayar mahar dengan sempurna. Kedua, memberi nafkah. Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”

Ketiga, suami wajib memberi perlindungan kepada istrinya. Keempat, melindungi istri dari siksa api neraka. Ini perintah Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Kewajiban keempat, mempergauli istri dengan baik. Allah berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)

Muasyarah bil ma’ruf


Di ayat 19 surat An-Nisa di atas, Allah swt. menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”. Makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan frase “bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikilah ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengan kemampuanmu sebagaimana kamu menginginkan dari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”

Sedangkan Imam Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengan cara yang baik, yaitu dengan memenuhi hak-haknya berupa mahar dan nafkah, tidak bermuka masam tanpa sebab, baik dalam ucapan (tidak kasar) maupun tidak cenderung dengan istri-istri yang lain.”

Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.”

Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah.

Salah satu hikmah Allah swt. mewajibkan seorang suami ber-muasyarah bil ma’ruf kepada istrinya adalah agar pasangan suami-istri itu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Karena itu, para ulama menetapkan hukum melakukan “muasyarah bil ma’ruf” sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh para suami agar mendapatkan kebaikan dalam rumah tangga.

Karena itu, para suami yang mendambakan kebaikan dalam rumah tangganya perlu mendalami tabiat perempuan secara umum dan tabiat istrinya secara khusus. Jika menemukan ada sesuatu yang dibenci dalam diri istri, demi kebaikan keluarga temukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya. Suami juga harus tahu apa perannya dalam rumah tangga. Dan, jangan pernah mencelakan istri dengan kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,” Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan , memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”

Bagaimana jika timbul perselisihan? Cekcok antara suami-istri adalah hal yang manusiawi. Jika Rasulullah saw. memberi toleransi waktu tiga hari bagi dua orang muslim saling mendiamkan satu sama lain, alangkah baiknya jika suami-istri saling mendiamkan di pagi hari, di malam harinya sudah bisa saling senyum lagi. Kenapa?

Sebab, pasangan suami-istri muslim dan muslimah paham betul bahwa perselisihan mereka adalah gangguan Iblis. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya, maka yang paling dekat kepadanya, dialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglah salah seorang dari mereka seraya berkata: aku telah melakukan ini dan itu, Iblis menjawab, kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian datang lagi yang lain melapor, aku mendatangi seorang lelaki dan tidak akan membiarkan dia, hingga aku menceraikan antara dia dan istrinya, lalu Iblis mendekat seraya berkata, “Sangat bagus kerjamu” (Muslim)

Begitulah, Iblis menjadikan menceraikan pasangan suami-istri sebagai prestasi tertinggi tentaranya. Karena itu, Islam mencegah perbuatan yang bisa menyebabkan perselisihan suami-istri. Karena itu, jika cekcok dengan pasangan hidup Anda, segera selesaikan masalahnya. Upayakan selesaikan masalah rumah tangga sendiri. Jangan menghadirkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang bisa menjadi hakim yang bisa diterima kedua belah pihak.

Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan. Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusan kecil sekalipun perlu dibicarakan bersama. Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikan yang banyak dalam keluarga Anda. Amin.

http://www.dakwatuna.com/2009/cara-memperlakukan-istri/

Gimana cara untuk menghafal Al-Qur''an?

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ana ikhwan berumur 18 tahun ustad. ana baru belakangan ini mencoba untuk belajar mengenai islam dan al qur'an. ana coba untuk memnghafal al qur'an koq susah banget ustad. tapi kalo ana denger musik di tv, ane mudah sekali untuk mengingatnya. ane kepengen bisa hafal alquran, walaupun hanya beberapa surat ustad. Bagaimana cara agar ane bisa lancar menghafal alqu'ran ustad?

Mohon balasannya

Dari Ana Abdullah

Di Pekanbaru, RIAU

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdullah

Jawaban


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, saudaraku yang dirahmati Allah SWT, patut anda syukuri karena anda memiliki kesempatan belajar Islam dan Al-Quran pada di usia muda ini, dimana dalam belajar Al-Quran, dalam hal ini usaha menghafalnya memang sangat bagus sekali bila bisa dimulai sejak usia dini, usia 18 tahun sebenarnya juga termasuk usia yang boleh dibilang sangat potensial untuk menghafal Al-Quran, karena kalau kita memanfaatkan masa muda ini maka kita akan banyak mengambil manfaatnya di masa tua nanti.

Perlu kita ketahui bahwa menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan yang amat mulia dan tentunya sangat mudah untuk melakukannya, kenapa demikian? Karena sudah ada jaminan dari Allah SWT.

Sebenarnya hal ini sering saya sampaikan dalam beberapa kesempatan sebelumnya. Coba perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Qamar surat yang ke-54 :

“Dan sesugguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Q.S. Al-Qamar/54 : 17,22,32,40)

Ayat ini sampai empat kali diulang-ulang dalam surat yang sama. Perlu diketahui, dalam Bahasa Arab kalau ada kata yang diulang-ulang maka pengulangan ini memiliki tujuan untuk menegaskan sesuatu, dalam hal ini adalah bahwa Al-Qur’an ini mudah untuk diingat dan dihafal.

Lalu mengapa mendengarkan lagu yang diiringi musik itu lebih mudah diingat?, bisa jadi selama ini telinga kita lebih sering mendengarkan musik, sehingga telinga kita ini lebih peka dan akrab dengan musik atau nyanyian ketimbang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Jadi wajar saja kalau menghafalkan lagu lebih mudah ketimbang meghafal Al-Quran.

Sebenarnya para ulama banyak sekali memberikan tips, cara, metode atau tahapan yang harus dilalui oleh orang yang akan menghafal Al-Quran, diantaranya adalah :

Pertama : niat ikhlash karena Allah SWT semata, jangan sampai ada niat kita menghafal Al-Quran itu untuk mendapat berbagai kenikmatan dunia yang barang tentu sangat tidak sebanding dengan kenikmatan di akhirat kelak.

Kedua : jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu mendapatkan kemudahan dalam menghafal Al-Quran, dan ketika kita berdoa kita harus yakin bahwa doa kita diijabah oleh Allah SWT.

Ketiga : Keshalihan pribadi, keshalihan pribadi dalam mengafal Al-Quran tidak bisa disepelekan, karena dengan keshalihan ini maka Allah SWT akan mengajarkan apa yang kita ingikan, Dia akan memudahkan kita dalam memnghafal Al-Quran.

Imam Syafi’i yang terkenal sebagai ulama yang memiliki kecepatan dalam mengafal pernah dengan tidak sengaja melihat kaki bagian bawah seorang wanita, sehingga membuat hafalannya menjadi buruk dan dia pun segera mengadu kepada guru. Setelah itu sang guru pun memberikan nasihat agar dia meinggalkan maksiat, karena ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.

Keempat : dalam menghafal Al-Quran, jangan sampai meninggalkan wirid Al-Quran harian, jadi wirid tilawah Al-Quran harian harus tetap dilakukan, jangan sampai karena kita sibuk menghafal malah justeru meninggalkan wirid tilawah harian kita. Manfaatnya adalah ketika kita sering dan banyak membaca Al-Quran, maka pada saat kita menghafal suatu ayat atau surat Al-Quran, kita akan mendapatkan banyak kemudahan karena sebelumnya kita sudah sering membacanya.

Kelima : kalau ingin hafalan kita bagus dan lacar, maka kita harus memperlakukan surat-surat yang sudah kita hafal seperti orang mengahafal surat Yasin, surat Al-kahfi dan surat-surat lainnya yang sering dibaca orang setiap pekannya atau pada moment-moment tertentu. Seperti halnya juga surat Al-Fatihah mungin saja seandainya kita membaca surat Al-Fatihah ini sambil berlari pun tidak akan salah karena kita setiap hari membacanya minimal 17 kali dalam sehari semalam.

keenam : usahakan kita juga membaca dalam shalat kita, manfaatkan waktu shalat-shalat sunnah seperti shalat malam atau Qiyamullail dan shalat-shalat sunnah lainnya.

Saya sarankan kepada anda untuk membaca-baca kembali jawaban saya pada konsultasi sebelumnya yang sedikit banyak memiliki kaitannya dengan pertanyaan ada ini. Semoga dengan jawaban singkat ini dapat memberikan pencerahan kepada anda khususnya dan para pembaca setia warna Islam pada umumnya untuk lebih termotivasi lagi dalam menghafal Al-Quran, Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.

(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)

Korupsi dan Kolusi


Ketika Zulaikha menggoda Yusuf, ia menutupkan kain ke atas wajah berhala yang biasa disembahnya. ''Wahai Zulaikha, engkau malu di hadapan seonggokan batu, maka tidakkah aku mesti malu di hadapan Dia yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi,'' kata Yusuf. Dari peristiwa ini, Imam Al-Ghazali mengajak kita agar dalam setiap denyut kehidupan kita merasakan kehadiran Allah, yang selalu mengamati dan mengawasi kita, di mana pun kita berada. Karena hanya orang-orang yang berimanlah yang menyadari bahwa mereka datang ke dunia ini untuk menyelenggarakan suatu lalu lintas ruhaniah. Perolehan atau kerugian hanya membawa dua konsekuensi: neraka atau surga.

Merasa malu dan takut kepada Allah, serta merasakan kehadiranNya setiap saat, merupakan langkah pencegahan paling efektif untuk menangkis segala kejahatan dan penyelewengan, termasuk korupsi dan kolusi yang tentu saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena ini menyangkut masalah etika moral atau akhlak, seorang hamba di hadapan Tuhannya, bahkan terhadap dirinya, bangsa dan negaranya.

Karena itulah Majelis Ulama Indonesia (MUI), ketika menyatakan keprihatinannya yang sangat mendalam terhadap korupsi dan kolusi yang semakin meningkat di berbagai bidang dan kalangan, mengaitkannya dengan masalah etika moral atau akhlak dari para pelakunya. Islam sendiri mengajarkan kepada kita agar hidup kita di dunia meraih keutamaan-keutamaan bagi diri kita sendiri, dan agar kita berakhlak dengan yang baik -- menghiasi diri kita dengan sifat-sifat yang baik -- berlaku jujur termasuk tidak melakukan korupsi dan kolusi. Bukankah Nabi sendiri menyatakan, bahwa ''Aku diutus untuk menyempurnakan ahlak.'' Dan oleh Allah kita diperintahkan untuk meniru ahlak Nabi.

Islam tidak mentolerir dan mengutuk pelaku-pelaku penyelewengan, termasuk korupsi dan kolusi, serta menilai para pelakunya itu telah mencampakkan etika moral yang sangat dijunjung tinggi oleh agama. ''Orang yang memberikan sogokan, yang menerimanya dan yang menjadi perantaranya, semuanya akan masuk neraka,'' kata Nabi. Para pakar sosiologi dan hukum menilai bahwa perilaku korupsi dan segala jenis penyelewengan semacam itu akan merusak tatanan sosial dan kehidupan masyarakat apabila telah membudaya. Apalagi para pelakunya sendiri, seperti yang dinyatakan MUI umumnya orang-orang yang status sosial ekonominya sudah cukup mapan.

Islam memandang orbit kehidupan manusia lebih luas dari kebahagiaan material dunia, dan tidak membenarkan apabila karena kita mencintai harta atau kedudukan, kita mencampakkan nilai-nilai moral sehingga terjerums ke dalam kejahatan. Menurut Islam, terpikat dalam keriaan material dan melalaikan kebahagiaan spiritual, tidaklah lebih dari malapetaka. Karena itulah kita mengharapkan agar Pemerintah lebih tegas lagi dalam menindak para pelaku kejahatan ini, sesuai dengan harapan MUI dan masyarakat. - ahi

http://www.republika.co.id/berita/35287/Korupsi_dan_Kolusi

Sifat Amanah


Tatkala Allah SWT menawarkan amanat (tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi, dan gunung-gunung untuk dipikulnya, semuanya menolak. Mereka khawatir akan mengkhianatinya. Amanat itu lalu diemban oleh manusia. Namun manusia mudah melalaikannya; sungguh ia sangat zalim dan amat bodoh (baca Q. S. 33: 72). Kesediaan manusia memikul amanat merupakan sebuah pilihan yang menentukan. Keputusan Allah di akhirat kelak, antara lain bergantung pada sejauh mana amanat dibawa oleh manusia: Ia akan menyiksa orang munafik serta musyrik, dan mengampuni orang mukmin (baca Q. S. 33: 73). Amanat menjadi batu ujian bagi manusia. Agar berhasil menjalankan amanat, manusia harus mampu meneguhkan sifat amanah (tepercaya karena jujur dan bertanggung jawab) di dalam dirinya.

Sifat amanah akan mengantarkan seseorang kepada kedudukan mulia. Kehidupan Nabi SAW -- sungguh pun belum menjadi nabi -- adalah contohnya. Sebagai orang yang amin (tepercaya), di kala umurnya belum mencapai 25 tahun, beliau sudah diamanati oleh Khadijah untuk mengurus bisnisnya yang beroperasi hingga ke Negeri Syams (Suriah). Pada usia ke-35, para pemimpin suku Quraisy sepakat memberi beliau amanat menyelesaikan persengketaan soal siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya, di sudut Ka'bah. Tugas-tugas tadi diselesaikan dengan baik, sehingga layaklah beliau bergelar Al-Amin. Islam memandang sifat amanah sebagai bagian tak terpisahkan dari keimanan. Konsekuensi beriman adalah menaati semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jadi, iman itu sendiri suatu amanat bagi seorang mukmin. Karenanya, Allah berpesan agar seorang mukmin senantiasa menunaikan amanat dan janganlah berkhianat. Firman-Nya, ''Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.'' (Q. S. 4: 58).

Pantulan dan jelmaan iman seseorang dapat tampak pada sikap dan sifat amanahnya di dalam menjalankan profesi, jabatan, atau kedudukan apa pun yang dipegangnya. Seorang hakim akan dikatakan amin, jika menjunjung keadilan dalam memutuskan perkara. Pejabat yang amin tentu mengutamakan pengabdian kepada rakyat dan negara. Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap saling amanah merupakan kekuatan moral yang bukan hanya mampu menepis berbagai kecurangan dan penipuan, melainkan sanggup pula memacu etos amal yang produktif. ''Dunia,'' tutur Nabi SAW, ''tak akan mengancam manusia sepanjang empat perkara dipertahankan: memelihara amanat, berbicara benar, berperangai baik, dan berusaha secara bersih.'' - ahi

http://www.republika.co.id/berita/38537/Sifat_amanah

Membimbing Perilaku Anak

Berikut ini adalah kumpulan dari berbagai metode membimbing perilaku anak yang dipetik dari buku-buku terkenal dimana materi ini dibahas secara lebih mendetil. Insya Alloh masih melanjutkan edisi sebelumnya yang mana telah dibahas tiga cara menumbuhkan dan mempertahankan perilaku baik pada anak yaitu dengan strategi bahasa tubuh dan ekspresi wajah, tehnis memberikan pujian dan mengajarkan sikap empati pada anak.

Pada kesempatan ini juga akan dijelaskan berbagai metode membimbing perilaku anak bagian keempat sampai dengan sembilan.

4. Membuat Peraturan

a) Memberi Penjelasan kepada Anak

Termasuk dalam kiat memberi penjelasan ini adalah berbicara dengan anak, disamping orangtua memperlihatkan contoh berprilaku baiknya dihadapan mereka. Mengapa orangtua harus membuat peraturan kepada anak sejak dini? Jawabnya adalah untuk mencontohkan perilaku dasar (blueprint) yang nantinya bisa dicontoh oleh anak. Sehingga blueprint inilah yang insya Allah akan dengan sendirinya menjadi bagian dari keseharian dan pembawaan anak.

Bagian pertama dari strategi ini adalah menjelaskan kepada anak aturan yang harus dipatuhi. Misalnya saja ketika bayi menjatuhkan benda ke lantai, dia akan 'senang' melihat orangtuanya mau memungut benda tersebut. Orangtua sebaiknya memanfaatkan momen ini untuk mengajari bayi misalnya dengan mengatakan, "Masya Allah…, sendoknya jatuh. Sayang, kalau kita menjatuhkan sesuatu, kita harus memungutnya kembali". Jika orangtua mau menjelaskan kepada anak seperti ini setiap kali mereka menjatuhkan suatu benda, maka ketika anak beranjak semakin besar, mereka akan belajar dan tahu apa yang harus dilakukan setiap kali mereka menjatuhkan sesuatu, baik itu secara sengaja (misalnya sampah) atau secara tidak sengaja (misalnya ketika kejatuhan setumpukan buku).

Orangtua bisa saja beranggapan bahwa anak-anak tidak dapat mengerti apa yang kita katakan kepada mereka. Walaupun ini ada benarnya juga, tetapi setidaknya ada dua manfaat menerapkan strategi ini. Pertama, hasil penelitian membuktikan bahwa jika orangtua selalu berbicara kepada anak-anaknya selagi mereka masih kecil dan terus berlanjut selama masa pertumbuhan mereka, anak-anak ini akan dapat berbicara lebih cepat, memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak, dan mampu menguasai bahasa dengan lebih baik. Kedua, dengan menjelaskan peraturan kepada anak, diharapkan akan membentuk kebiasaan dan bawaan di diri mereka seiiring dengan pertumbuhannya yang merupakan tujuan utama dari pencontohan perilaku dasar ini.

Bagian kedua dari pencontohan tingkah laku adalah dengan cara orangtua memberikan model atau contoh perilaku tersebut. Setelah orangtua menjelaskan peraturan kepada anak, kemudian orangtua sendiri juga harus mencontohkan dan mempraktekkan sendiri apa yang telah mereka jelaskan itu. Pada contoh diatas misalnya, setelah orangtua mengatakan 'kalau kita menjatuhkan sesuatu, kita harus memungutnya kembali', maka orangtua harus memungut sendok yang jatuh itu agar anak bisa melihat dan mencontohnya.

Contoh lain adalah saat di meja makan misalnya ketika anak memukul-mukulkan sendoknya (karena biasanya anak-anak suka mendengar hasil tabuhannya), orangtua bisa menasehatkan, "sendok itu digunakan untuk makan ya nak…," sambil orangtua memperagakan cara memakan pakai sendok.

Dalam masa pertumbuhannya, anak-anak masih suka bereksperimen dan bereksplorasi dengan dunia-nya. Orangtua sebaiknya membiarkan mereka melalukan hal tersebut namun tidak dengan cara mengambil sendok dari tangan si anak dan bilang, "jangan jatuhkan sendok ini!" atau " jangan memukul-mukulkan sendok!". Malah sebaliknya, orangtua harus menjelaskan bagaimana seharusnya si anak menggunakan sendok tersebut sambil orangtuanya memberikan contoh (walaupun sambil membiarkan si buah hatinya meneruskan tabuhan ataupun menjatuhkan sendoknya). Penjelasan dan nasehat dari orangtua ini akan menjadi tuntunan terhadap perilaku si anak berikutnya.

b) Menerapkan Peraturan

Ketika anak tumbuh menjadi lebih besar namun orangtua masih belum mengajari mereka aturan dasar sebagaimana layaknya harus dimulai ketika mereka masih kecil, orangtua masih berkesempatan untuk membuat peraturan itu. Bedanya, disini orangtua harus mengarahkan mereka dengan cara menuntun secara fisik dan membuat peraturan itu berjalan atau terlaksana. Sebagai contoh, jika anak masih mondar-mandir dan masih bermain dengan mainan mereka pada waktunya makan malam, orangtua bisa menegur dengan cara, "ketika saatnya makan, kita harus duduk bareng ya ," kemudian orangtua memberikan kesempatan bagi anak untuk duduk sambil berujar, "duduk disini sayang". Kalau si anak masih juga belum menurut, orangtua terpaksa harus secara fisik membimbingnya duduk di kursinya (misalnya sambil memegang tangannya).

Contoh lain ketika si anak menjatuhkan buku dan membiarkannya begitu saja. Pertama-tama orangtua harus mengatakan kepada si anak, "kalau kita menjatuhkan sesuatu, kita harus memungutnya kembali". Setelah berujar demikian namun si anak masih tidak mendengar, orangtua bisa memungut satu persatu buku-buku tersebut dan memberikan ke tangan si anak sambil mengatakan, "tolong letakkan kembali buku-buku ini di rak buku." Jika si anak masih juga tidak menghiraukannya, taruhlah buku-buku tersebut ditangannya dan bimbinglah mereka membawa dan menaruhnya kembali di rak buku.

Strategi ini mungkin kedengarannya agak keras, namun kebanyakan orangtua biasanya tidak mau ambil pusing lagi setelah menyuruh anak mengerjakan sesuatu namun si anak menolak untuk melakukannya. Ini akan memberi kesan kepada anak bahwa orangtua mereka tidak serius dengan peraturannya, sehingga kalau tidak dilakukanpun tidak apa-apa. Karena alasan inilah, makanya orangtua harus berusaha bagaimana caranya agar peraturan itu berjalan atau dipatuhi oleh anak.

c). Ingatkan Jika Anak Lupa Peraturan


Jika anak lupa pada peraturan, sebagaimana biasa terjadi, mereka cukup diberikan peringatan ringan saja. Misalnya orangtua cukup mengatakan, "Kalau kita mau ... gimana peraturannya ayo…"? atau "Apa yang harus kita lakukan kalau kita mau ….nah sekarang kita buat seperti itu ya!" Tentu saja ini jauh lebih baik daripada kita mengomel "Sudah berapa kali mama bilang, jangan ..." atau " Kamu tidak dengar perintah mama ya! Kenapa kamu tidak mau…" atau "Mama sudah muak bilang yang itu-itu saja".

Ini namanya mengomel. Walaupun ratusan kali kita ulang, dijamin tidak akan berhasil. Mari kita bercermin dengan sifat Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah berkata sapatah kata kasarpun kepada orang. Seperti dituturkan oleh Anas, "Aku bersama Nabi selama sepuluh tahun, namun beliau tidak pernah mengatakan sepatah kata kasarpun walaupun itu hanya sekedar 'ah' (kata yang paling kecil sebagai ungkapan ketidaksabaran) dan beliau juga tidak pernah menyalahkanku misalnya dengan mengatakan "mengapa kamu melakukan hal itu atau mengapa kamu tidak melakukannya?" Dikutip dari Sahih Al-Bukhari, hadith 8.64.

5. Berlatih and Role Play (Bermain Peran)

Terkadang anak kita tidak tahu bagaimana harus berbuat atau bersikap dalam situasi tertentu. Terkadang orangtua menegur anaknya meski si anak tidak tahu perbuatan salah apa yang telah mereka perbuat. Sebenarnya orang bertanggung jawab memberikan contoh perilaku baik yang mereka harapkan dipraktekkan oleh anak mereka dan adalah tugas mereka pula untuk sengaja mengajarkannya. Sebenarnya inilah saatnya orangtua mengajarkan anak dengan cara berlatih dan bermain peran. Misalnya saja ketika mengunjungi rumah teman, orangtua mungkin merasa heran melihat anak-anak temannya berlarian kesana kemari, menyentuh dan menarik apa saja yang ada disekitar mereka (untuk anak-anak yang sudah berumur lebih dari 2 tahun). Barangkali perilaku ini disebabkan oleh orangtua mereka yang tidak pernah mengajarkan bagaimana mereka harus bersikap kalau ada tamu dirumah. Orangtua mungkin beranggapan bahwa anak-anak mereka dengan sendirinya tahu bagaimana harus bersikap.

Untuk mengajarkan mereka, dalam hal ini orangtua bisa bermain peran dengan si anak. Orangtua bisa berperan sebagai tamu dan si anak berperan sebagai tuan rumah. Orangtua dapat menunjukkan kepada anak bagaimana seorang tamu harus bersikap. Misalnya, orangtua bisa menjelaskan "Kalau kita bertamu kerumah seseorang dan kita ingin menyentuh atau memegang sesuatu, kita harus minta ijin dulu kepada tuan rumah. Kalau mereka mengijinkan baru kita boleh menyentuh atau memegangnya, tetapi kalau mereka bilang tidak, kita tidak boleh menyentuh atau memegang benda tersebut. OK, sekarang kita latihan ya…". Setelah itu, peran tamu dan tuan rumah diganti sehingga anak akan mendapat kesempatan untuk berlatih cara bersikap yang diinginkan orangtua.

6. Memberikan Peringatan Awal Tentang Perubahan Aktifitas.

Sebagai orang dewasa saja, kita sering merasa terganggu dan jengkel ketika kita sedang mengerjakan sesuatu lalu anak kita (atau siapa saja) menggangu atau mengusik aktifitas kita. Anak-anak juga sama, mereka juga bisa merasa sangat kesal jika permainan atau konsentrasi mereka terganggu dan disuruh menghentikan permainannya atau apa saja yang sedang mereka kerjakan. Orangtua sebaiknya memberitahukan si anak atau memberikan peringatan dini apa yang akan terjadi berikutnya sehingga mereka bisa bersiap-siap dengan perubahan aktifitas mereka. Setidaknya, mereka akan tahu bahwa mereka akan harus segera menghentikan apa yang sedang mereka kerjakan sehingga kalau anak disuruh menghentikan kegiatannya, mereka tidak mengalami perubahan emosi secara tiba-tiba dan menerima kegiatan baru sebagai sebuah kejutan.

Misalnya, jika orangtua akan segera berangkat untuk menepati sebuah janji namun si anak sedang bermain balok, orangtua harus memberi peringatan dini kepada anak mengenai rencana kepergian tersebut, misalnya " Insya Allah, mama akan segera pergi ke dokter, jadi sambil menunggu waktu berangkat, kamu masih boleh bermain. Mama akan kasih tahu lagi kalau hampir berangkat jadi kita bisa beres-beres.". Selama waktu menunggu ini, ingatkan mereka waktu berangkat akan segera tiba, akhirnya sekitar 10 menit sebelum berangkat, katakan kepada mereka, "saatnya kita berangkat, jadi kita bisa beres-bereskan sekarang ya."

Kalau kegiatan si anak setiap harinya berbentuk rutin, orangtua bisa menyiasati jadwalnya. Jika kegiatan rutin hariannya adalah ke playgroup, orangtua bisa membuat jadwal sedari anak bangun tidur, "pertama kita ke kamar mandi ya, terus ke toilet, kemudian mandi, terus kita pakai baju. Kemudian, Insya Allah kita akan naik mobil dan pergi ke sekolah".

7. "Sebab - akibat" Imbalan Tingkah Laku Positif

Strategi ini digunakan agar anak menunjukkan perilaku positifnya sebelum mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yaitu, orangtua meminta si anak menunjukkan tingkah laku baik yang diinginkan orangtuanya kemudian baru anak mendapatkan benda atau kegiatan yang diinginkan oleh si anak.

Berikut ini adalah beberapa contoh :

Ketika anak ingin makan biskuit sebelum menghabiskan makan malamnya, jelaskan pada mereka: "kalau kamu sudah habiskan makanan ini, baru boleh makan biskuit ya."

Ketika anak ingin bermain diluar rumah, katakan:" Insya Allah, kamu boleh main diluar kalau kamu sudah merapikan mainan ya."

Ketika orangtua meminta anaknya untuk berhenti merengek, katakan," kalau kamu berhenti merengek, Insya Allah kita akan baca buku."

Ketika orangtua meminta anaknya untuk bilang "minta tolong" ketika meminta sesuatu, katakan: "coba bilang minta tolong dulu, nanti Insya Allah mama akan berikan …(benda yang diminta anak)".

8. Memberikan Pilihan

Anak-anak perlu dikontrol dengan apapun yang mereka kerjakan. Memberikan pilihan kepada mereka akan membuat pekerjaan atau tugas terlihat lebih menarik dan kurang membebani mereka. Alasan utama memberikan pilihan ini adalah untuk membatasi jenis dan jumlah pilihan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Untuk anak pra-sekolah, pilihan cukup dibatasi menjadi dua saja, sedangkan untuk anak yang lebih tua bisa diberikan tiga atau empat pilihan.

Misalnya, jika orangtua mengalami kesulitan saat menyuruh anak memakai pakaian yang sesuai dipagi hari, misalnya kalau cuacanya panas, berikan mereka dua pilihan baju. Dengan cara ini, selain si anak dapat mengekspresikan keinginannya yaitu baju mana yang ingin dipakainya pada hari itu, disaat yang sama, si anak masih akan memakai baju yang anda inginkan.

Contoh lain misalnya saat 'snack time' ketika si anak ingin makan biskuit, namun orangtua inginkan dia makan buah. Orangtua sebaiknya menghindari ucapan "Kamu tidak boleh makan biskuit pada saat snack time, kamu harus makan pisang ini,". Sebaiknya orangtua mengatakan, "Kita hanya boleh makan buah pada saat snack time, kamu mau makan pisang atau apel?"

Atau ketika orangtua meminta anaknya mengganti aktifitas bermain dari yang berisik ke sesuatu yang lebih tenang. Sebaiknya orangtua tidak mengatakan "jangan lompat-lompat terus, pergi baca buku sana!". Alangkah lebih baik orangtua mengatakan, "Kita main yang lain aja yuk. Kamu mau baca buku atau menggambar?'

9. Membuat Batasan Waktu

Berpacu dengan Waktu

Agar tugas yang diembankan kepada anak kelihatan lebih menyenangkan, orangtua bisa memberikan batasan waktu yaitu mengerjakan tugas tersebut dalam batas waktu yang telah ditentukan. Orangtua bisa menentukan batas waktu dengan menggunakan jam waker dan memberitahukan kepada anak, "Sekarang kita lihat ya, apa kamu bisa kerjakan ini sebelum jam wakernya berbunyi. Siap, yuk mulai!"

Sebaiknya orangtua memakai jam waker yang berdetak keras sehingga anak bisa mendengar waktu terus berjalan. Biasanya jam jenis egg timer akan lebih efektif digunakan dibandingkan jam biasa atau jam dinding.

Orangtua bisa menggunakan strategi ini misalnya saat menyuruh anak merapikan mainannya, mengakhiri aktifitas, atau menyelesaikan suatu pekerjaan, hampir untuk semua kegiatan, tapi perlu diingat sebaiknya jangan menggunakannya terlalu sering karena nanti keasikannya akan berkurang.

Menghitung Maju/Mundur

Metode ini menyerupai strategi diatas (berpacu dengan waktu), bedanya disini orangtua menghitung maju (1,2,3..) sampai jumlah angka yang ditentukan, kalau anak sudah mengerti konsep penghitungan mundur (10,9,8…) gunakan cara ini.

Jadi, orangtua bisa menggunakan strategi hitungan untuk tiga tujuan:

Sebagai game 'berpacu dengan waktu': "Kita lihat ya apa kamu bisa memasukkan semua sampah ke dalam keranjang setelah mama menghitung sampai 10."

Sebagai panduan untuk 'Sebab-akibat' diatas: "kalau kamu bisa selesai merapikan mainan setelah mama selesai menghitung mundur, kamu akan mama kasih kue."
Sebagai panduan saat memberikan peringatan:" kalau kamu belum juga membereskan mainan setelah mama selesai menghitung sampai 10, mama akan mengambil mainan itu dan kamu tidak akan bisa bermain lagi."

(Sumber asli: Artikel "Guiding Children's Behaviour" ditulis oleh Jameela Ho pada website http://akhwat.kpii.net
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nana Bakar, pelajar di UNSW.)

http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=64&Itemid=1

Memaknai Ibadah haji



"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (diantaranya) makam Ibrahim, barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengedakan perjalanan ke Baitullah, Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam". (Ali-Imran:97)

Ibadah haji merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam yang sudah sanggup untuk melaksanakannya, baik itu secara jasmani maupun secara rohani, sanggup disini menunjukkan kepada kesanggupan untuk menyediakan bekal selama diperjalanan sampai pulang ke negrinya kembali. Begitu juga sanggup di sini berarti mempunyai harta untuk keluarga yang ditinggalkannya selama melaksanakan ibadah haji. Seorang fakir yang tidak mempunyai harta untuk menghidupi diri dan kelurganya maka tidaklah wajib baginya melaksanakan ibadah haji. Dan begitu juga ketika seseorang memiliki harta yang cukup untuk perbekalan tetapi tidak ada kendaraan untuk pergi melaksanakan ibadah haji karena tempatnya yang jauh dan tidak bisa ditempuh dengan berjalan kaki maka tidaklah wajib baginya ibadah haji. Begitu juga walaupun ada kendaraan akan tetapi perjalanannya tidak aman atau akan mendapatkan berbagai macam bahaya maka tidaklah juga wajib baginya untuk melaksanakan ibadah haji, karena semua yang kita sebutkan diatas tersebut diketegorikan kepada tidak sanggup.

Haji merupakan salah satu rukun Islam. Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk melaksanakan ibadah haji tersebut. Rasulullah SAW dalam haditsnya memotivasi kita untuk melaksanakannya:" Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji, kemudian tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, akan dibersihkan dosa-dosanya, sebagaimana waktu ia baru dilahirkan oleh ibunya.

Dalam hadits lain Rasulullah berkata: Haji mabrur tidaklah ada balasannya kecuali sorga.

Begitu pentingnya ibadah haji ini, Rasulullah sangat menganjurkan ibadah ini dengan mengumpamakan bagi seorang yang sudah melaksanakan ibadah haji akan suci sebagaimana seorang bayi yang baru dilahirkan ke muka bumi, begitu juga bagi orang yang melaksanakan ibadah haji dan ia memperoleh haji yang mabrur, maka dia akan mendapat balasan surga, sebagaimana yang dijelaskan hadits yang kita bacakan tadi.

Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah 197:" (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. 2:197).



Firman Allah ini menegaskan kepada kita bahwa ketika kita sudah berazzam (menetapkan niat ) untuk melaksanakan ibadah haji, hendaklah dia mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Persiapan itu adalah tidak berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan ketika melaksanakan ibadah haji. Karena ibadah haji merupukan ibadah yang sangat mulia, Allah mengisyaratkan untuk benar-benar membersihkan dirinya dari sifat-sifat, tingkah laku dan akhlaq yang tercela. Hal ini adalah sarana untuk mendapatkan haji yang mabrur yang sudah di janjikan Allah Swt.

Pada akhir ayat ini sangat jelas di terangkan bahwa sebaik-baik bekal untuk melaksanakan ibadah haji adalah Taqwa. Persiapan menjelang ibadah haji adalalh dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Melakukan amalan-amalan wajib dan sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya seseorang yang akan melaksanakan ibadah haji sudah tergambar kebersihan dirinya sebelum melaksanakan ibadah haji tersebut. Berbeda dari yang banyak di pahami orang bahwa kebersihan diri didapatkan setelah melaksanakan ibadah haji. Banyak orang beranggapan bahwa setelah haji dia akan lebih taat kepada Allah. Ketahuilah bahwa setiap perbuatan atau ibadah yang kita lakukan, sukses atau tidaknya banyak tergantung kepada persiapan dan perbekalan yang sudah di siapkan. Karena itu bagi seseorang yang akan melaksanakan ibadah haji hendaklan mengevaluasi diri. Memuhasabah diri sudahkan bekal taqwa tertanam di dalam dirinya?.

Sehingga dengan perbekalan taqwa yang kuat kita bisa meraih haji yang mabrur.

Berapa banyak orang yang melaksanakan ibadah haji, tetapi hanya mendapatkan capek dan lelah saja. Berapa banyak orang yang sebelum dan sesudah melaksanakan ibadah haji tidak terlihat pada dirinya pengaruh ibadah haji tersebut. Dan berapa banyak juga kita melihat orang yang melaksanakan ibadah haji hanya untuk mendapatkan gelar di panggil sebagai seorang haji. Dan banyak juga kita melihat banyak orang yang bisa melakukan perubahan-perubahan positif dalam kehidupannya. Hanya Allah yang Maha Tahu siapa di antara hambanya yang akan mendapatkan haji yang mabrur. Hanya Allah yang tahu siapa yang benar-benar bisa meresapi makna ibadah haji. Disini kita akan coba merenungi sedikit hikmah dari perjalanan ibadah haji tersebut.

Banyak makna-makna yang tersirat dalam pelaksanaan Ibadah haji, diantara rukun-rukun ibadah haji sebagai berikut:

Ihram dari Miqat mengajarkan kita suatu kedisiplinan dalam menjalankan perintah Allah Swt, ketika melakukan ihram melampaui miqat maka seseorang akan dikenakan dam, begitu ibadah haji mengajarkan kepada seorang muslim untuk disiplin dan taat kepada aturan Allah. Dengan memakai pakaian Ihram yang tidak berjahit dan berwarna putih mengajarkan kita kepada persamaan derajat, ketika seorang memakai pakaian ihram tidak terlihat siapa penguasa dan siapa rakyat biasa, dengan pakaian ihram kita diajarkan suatu sikap kebersamaan, hanya ketaqwaan kepada Allah sajalah yang membedakan kita.

Thawaf mengelilingi ka`bah sebanyak tujuh kali,Thawaf ini diumpamakan seperti shalat, Rasulullah Saw bersabda:"Thawaf mengelilingi ka`bah adalah seperti sholat akan tetapi kamu boleh berbicara didalamnya,dan barang siapa yang berbicara maka hendaklah membicarakan hal yang baik-baik".

Sa`i yaitu berlari-lari kecil antara bukit safa dan marwa semata-mata untuk melakukan Ibadah kepada Allah, mengingatkan kita pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya yang sedang kehausan, yaitu Siti Hajar dengan anaknya Ismail.

Wukuf di Arafah, mengajarkan kita makna kebersamaan dan mengingatkan kita akan hari kiamat dimana manusia di kumpulkan di padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia, dengan melakukan wukuf di arafah para hujjaj merasakan bahwa hari berkumpul di padang mahsyar itu pasti ada, dan setiap kita akan di minta pertanggungjawabannya.Wukuf di arafah merupakan rukun yang terpenting dalam ibadah haji, sehingga Rasulullah mengatakan "alhajju arafah". Haji itu adalah arafah.

Kemudian setelah wukuf di arafah para hujjaj bermalam di muzdalifah kemudian di mina, para jamaah haji melakukan jumaraat, yaitu melemparkan batu kerikil sebanyak tujuh buah ke masing-masing tempat jumaraat, ini memberikan makna bahwa kita senantiasa berjuang untuk melawan syetan yang senantiasa mengganggu manusia.Ibadah haji merupakan muktamar besar umat Islam di dunia, umat Islam dari seluruh penjuru dunia datang untuk sama-sama mendekatkan diri kepada Allah, suatu ibadah yang tidak di miliki oleh agama lain, hal ini tentunya akan mempererat persatuan dan kesatuan ummat dan akan terjalin ukhuwwah islamiyah yang menyeluruh bagi umat manusia dari seluruh penjuru dunia. Ibadah haji mengajarkan kita sikap thawadhu`, karena setiap kita meninggalkan embel-embel duniawi, kita meninggalkan pangkat dan jabatan serta status sosial kita di masyarakat, tidak ada perbedaan antara seorang gubernur dengan rakyat biasa, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan si miskin semua sama, sama-sama memakai baju ihram yang berwarna putih, sama-sama berkumpul di arafah, tidak ada yang meninggikan mereka melainkan derajat ketaqwaan mereka di sisi Allah.

Kemudian bagi kita yang tidak melakukan Ibadah haji disunatkan untuk melakukan puasa Arafah, Sabda Rasulullah:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : "صوم يوم عرفة يكفر ذنوب سنتين, ماضية و مستقبلة....."

Artinya : "Rasulullah Saw bersabda, puasa pada hari arafah akan menghapuskan dosa dua tahun setahun yang sudah berlalu dan setahun yang akan datang.", begitu pentingnya puasa di hari arafah ini bagi kita yang tidak melakukan ibadah haji, maka janganlah sampai hari arafah tersebut berlalu begitu saja di hadapan kita.


Kemudian kita dianjurkan untuk banyak melakukan amal sholeh pada sepuluh hari awal bulan dzulhijjah, sebagaimana sabda rasulullah Saw:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :"ما من أيام العمل الصالح فيها أحب الى الله من هذه الأيام"

Artinya :"Rasulullah Saw bersabda:"tidak ada hari-hari yang amal sholeh dilakukan padanya lebih di cintai oleh Allah selain dari hari-hari ini (yaitu sepuluh hari di bulan dzulhijjah", karena itu ketika memasuki bulan dzulhijjah ini kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah dan senantiasa melakukan amal-amal sholeh. Karena Allah akan lebih mencintai orang-orang yang melakukannya pada sepuluh awal bulan dzulhijjah. Semoga bagi kita yang sudah berazzam untuk melaksanakan ibadah haji bisa mempersiapkan bekal taqwa dengan sebaik-baiknya. Sehingga mendapatkan haji yang mabrur. Wallahu A`lam

Oleh Ustadz Arief Taufik, Lc.
http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=1

Menuju Profil Wanita Islam Sejati

Wanita adalah denyut nadi kehidupan. Berbicara tentang wanita berarti juga membicarakan kehidupan itu sendiri secara keseluruhan “al mar‘atu ‘imadu‘l bilad” (wanita itu tiang negara). Bila baik wanita, baik pula kondisi negara tersebut. Dalam ajaran Islam terdapat bagian yang mengatur perihidup wanita, agar mereka yang pada dasarnya telah mendapat tempat mulia itu, menjadi wanita islam yang sejati. Wanita islam itu wanita yang tak keluar dari rel fisabilillah.

Wanita seperti itu terbentuk dari potensi fitrah yang ruhaniyah, fikriyah, dan jasadiyahnya tunduk pada aturan Allah dan RasulNya dan bisa menjalankan peranannya (menyangkut haq dan kewajiban) dengan baik dan benar, sehingga Allah ridha atasnya.

Seperti telah disinggung di atas, dalam pandangan Islam wanita yang baik adalah wanita yang seoptimal mungkin menurut konsep al-qur’an dan assunnah. Ia wanita yang mampu menyelaraskan fungsi, haq dan kewajibannya:

- Seorang hamba Allah (Qs.9:71)

- Seorang istri ( Qs.4:34)

- Seorang ibu ( Qs.2:233)

- Warga masyarakat (Qs.25:33)


- Da’iyah (Qs.3:104-110)



Sekilas Profil Muslimah di Zaman Rasulullah SAW


Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, sejumlah nama sahabiyah di balik kecemerlangan dan kejayaan islam. Khadijah binti Khuwalid, Fathimah Az-Zahra, Aisyah dan lain lainnya.

Mereka wanita islam yang telah teruji sebagai individu yang bertaqwa kepada Allah, menjunjung tinggi risalah yang dibawa Rasulullah. Mereka muslimah dengan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama manusia dan sesama makhluk Allah. Merekalah sosok istri yang benar-benar bisa mendukung dan membahagiakan suami mereka di jalan Allah. Merekalah ummahat yang berhasil dalam tarbiyatul awlaad, yang dapat mencetak keturunan generasi kebangaan Islam. Mereka juga merupakan sosok da’iyah yang tak pernah berhenti dari da’wah ilaLlah, yang senantiasa mengadakan pendekatan ke ummat. Maka di manakah lagi bisa kita temukan profil atau sosok wanita yang lebih baik dari yang demikian itu?

Fenomena Muslimah Hari Ini

Jika melihat sosok sahabiyah di atas, kemudian di bandingkan dengan sosok wanita islam hari ini, maka secara jujur terlihat suatu rentangan yang amat jauh.

Memang banyak muslimah di dalam masyarakat yang telah menyadari fungsi, hak , kewajiban, dan peranan mereka dalam islam. Tetapi ternyata lebih banyak lagi yang belum menyadari atau bahkan melarikan diri dari hal tersebut. Ini suatu realita yang tak dapat kita sangkal.

Dalam buku Petunjuk Jalan Hidup Wanita Islam ditulis oleh beberapa ulama pada Pusat Studi dan Penelitian Islam Mesir, wanita-wanita yang mengaku beragama islam di dunia ini dibagi ke dalam beberapa golongan.

Pertama, wanita Islam yang bingung. Wanita seperti dibesarkan dalam alam tradisional sehingga ia harus menghormati adat istiadat dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan adat tersebut.

Wanita jenis ini tidak selamanya dibesarkan diantara kaum yang tidak menyukai Islam, malah ia di besarkan dalam suatu masyarakat yang berpegang teguh pada agama, memelihara beberapa syariat, menunaikan berbagai ibadah, yang dilakukan sematamata hanya karena menghormati kehendak orang tuanya. Patuh kepada tradisi nenek moyangnya, disebabkan karena kurangnya pendidikan agama dan tidak adanya bimbingan yang baik dan benar.

Wanita seperti ini biasanya tidak akan mampu melawan arus globalisasi jahiliyyah yang kini melanda dunia. Ia merupakan pemahaman, dan daya tanggapnya lemah. Malah kosong sama sekali.

Kedua, wanita islam yang tidak stabil. Wanita jenis ini senantiasa berada dalam pergolakan yang sengit antara barbagai daya tarik duniawi yang beragam, propaganda modernisasi yang salah kaprah dan antara apa yang dikenal dan dipelajarinya dalam Islam. Wanita seperti ini biasanya akan goyang imannya bila keimanan ukhrawinya terbentur dengan gemerlapnya dunia.

Wanita jenis ini nantinya menapakkan satu kakinya di jalur islam dan kaki yang lain di jalur yang lain pula. Ia kemungkinan besar akan terkena murka Allah. Meraka tak mau masuk islam secara kaffah. Mereka , karena sikap tak stabil ini hanya menyembah, beribadah pada Allah ‘ditepi-tepi saja’ (QS 22:22)

Ketiga, wanita islam yang hijrah. Wanita seperti ini dibesarkan dalam alam atau lingkungan yang tak mengenal islam. Seperti mereka yang hidup di Eropa, Amerika dan semacamnya. Mereka banyak menemui kesulitan dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Hidup dalam masyarakat asing yang moralnya rendah itu, membuatnya banyak menghadapi kendala dan dosa. Karena itu perlu mendapat gemblengan keyakinan yang lebih mendalam terhadap ajaran islam yang universal dan sabar dalam menghadapi resiko kebenaran yang disandangnya.

Keempat, wanita islam barat minded minded. Ia banyak tertipu karena kekagumannya terhadap barat. Ia tak segan-segan berkiblat ke barat dalam segala hal. Meskipun ia beragama islam, tetapi ia memandang Islam sebagai suatu sistem yang kolot dan mengikatnya. Ia ingin lepas dan bebas, sebebas-bebasnya seperti wanita di barat. Ia tidak mau menerima ‘ metoda langit’ , syariat Allah yang diturunkan padanya karena menganggap bukan masanya untuk seperti itu lagi. Ia tertipu kata-kata modern yang kerap di ucapkan kepadanya. Fikriyah (pemikiran), ruhaniyah(rohani), dan jasadiyah (tubuh) telah menjadi barat.

Kelima, wanita islam sejati sejati. Ia sosok muslimah yang berupaya melaksanakan Islam secara Kaffah (keseluruhan). Ia solihat, qanitat (taat), hafizhot (dapat menjaga diri). Ia selalu menapak tilas pada pribafdi muslimah sejati di masa Rasulullah dan sesudahnya, tanpa kehilangan karakteristiknya sendiri. Ia taat pada Allah dan RasulNya atas segala seruan. Ia Al Hijrah ijrah Edisi 35/ Tahun V, September 2006 7 berdaya guna bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sektarnya dan ummat. Ia tak pernah berhenti berzikir dan berpikir. Ruhani, jasad dan pikirannya telah tercelup dalam sibghatullah ( Qs. 2:138). Ia teguh dan istiqomah di jalan Allah walau apapun yang terjadi, baginya keridhaan Allah atas dirinya dan segalanya.

Demikianlah lima tipe wanita Islam pada hari ini. Mungkin dengan ini kita wanita muslimah dapat memperkirakan di mana kita berada. Sudahkan kita menjadi muslimah yang baik, yang sejati? Ataukah kita hanya sekedar ‘benda’ yang menjadi obyek bulanbulanan musuh-musuh Allah?

Konspirasi dan Globalisasi Nilai-Nilai Jahiliyah MenghantamWanita Islam

Sesungguhnya Maha Benar Allah yang dengan tegas bersabda dalam Al- Qur’an bahwa musuh-musuh Islam akan selalu berupaya dengan berbagai cara agar kita mengikuti millah (sistem hidup) mereka, hingga mereka ridha (QS Al-Baqarah: 120), dan mereka akan selalu memerangi Islam dan segala yang berbau Islam, kalau dapat memurtadkan kita dari Islam (QS 2: 217 dan 85: 8). Sungguh Maha Benar Allah.

Sesungguhnya fenomena muslimah hari ini (kebanyakan telah menyimpang jauh dari Allah dan RasuINya), dan kehilangan jati dirinya sebagai muslimah adalah hasil dari rekayasa mereka yang menghendaki ajaran Islam itu kabur, sulit difahami dan terkesan kolot (terbelakang) serta menghambat kemajuan.

Para musuh Allah ini telah mengangkat isu-isu hak asasi, kebebasan, emansipasi, dan modernisasi untuk menghantam para muslimah. Padahal itu semua mereka lancarkan untuk kehancuran moralitas wanita secara umum dan muslimah secara khusus. Segala media dikerahkan, segala daya dicurahkan agar isu-isu ini termakan oleh para muslimah.

Para muslimah dicekoki dengan warna mereka (baca: Barat, Yahudi, materialis, liberalis dan semacamnya). Para intelektual Barat dikerahkan untuk mengangkat isu-isu tersebut dengan menjelek-jelekkan dan menghujat Islam.

Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami adalah orangorang yang ingin mengadakan perbaikan.’ Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orangorang yang berbuat kerusakan di muka bumi, tetapi mereka tiada sadar.” (QS 2: 11-12) Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka. Dan Allah telah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orangorang kafir benci (QS 61: 8)

Untuk mendukung semua itu merekapun merekayasa, para ‘cendekiawan muslim’ yang lemah iman untuk mendukung program mereka dan menimbulkan keraguraguan ummat.

Para wanita yang dalam Islam sangat dihormati dan dimuliakan digugat. Aturan-aturan Islam yang tinggi dan sempurna dituding sebagai biang keladi ‘terbelakangnya’ para wanita Islam. Musuh-musuh Allah yang lantang meneriakkan isu hak asasi, kebebasan, modernisasi, dan persamaan inipun menyerang masalah poligami,hak menthalaq, hak warisan, masalah hijab, dan sebagainya sebagai hal-hal yang melemahkan Islam. Islam dikatakan telah merendahkan harkat dan martabat wanita, sedang Barat lah yang mengangkat dan memuliakannya. Dan hal ini terus didengungdengungkan

ke seantero dunia dengan modal kekayaan dan kecanggihan media informasi mereka. Kemudian banyak wanita Islam yang terpengaruh dengan isu-isu yang mereka angkat serta public opinion yang mereka bentuk. Para wanita Islam beramai-ramai berusaha keluar dari lingkaran Islam. Tak lagi berpikir, bagaimana menjadi muslimah sejati.

Setelah itu apa yang terjadi? Orang orang yang menawarkan persamaan, hak asasi, kebebasan dan modernisasi pada akhirnya toh hanya menyeret kaum wanita Islam kepada kemaksiatan sebagaimana mereka telah menceburkan kaum wanita mereka sendiri ke arah itu. Para wanita Islam kini dengan ‘sukacita’ melakukan prostitusi, kumpul kebo, lesbianisasi, aborsi, dan semacamnya. Melepas jilbab dan memamerkan aurat mereka di koran, majalah, televisi atau di trotoar jalan. Mereka bangga atas pengeksploitasian tubuh mereka itu. Dengan dalih isu-isu itu tadi, para wanita kerap keluar dari ikatan agama dan susila. Mereka pun lantang menyerukan hak-hak wanita dalam gerakan feminisme yang menipu. Musuh-musuh Islam telah menancapkan taring-taring mereka kepada Islam melalui kaum wanitanya sebagai sarana yang paling ampuh.

Untuk menghancurkan Islam, mereka menghancurkan dahulu para wanita, para muslimah, para ‘tiang’ tadi. Maka kini terlihat kerusakan bukan saja pada kaum wanita, tetapi kerusakan moral ummat pun telah terasa.

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Mereka tak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tak lain hanya berdusta ke ada Allah. (QS2:116)

Pada dasarnya program mereka memang bukan agar kita berpindah agama, tetapi cukup ‘memurtadkan’ dengan mengikuti pola kehidupan mereka dan meninggalkan Islam dengan cara yang demikian itu.

Bila ada seseorang yang mengikuti gaya (hidup) suatu kaum yang lain, maka ia termasuk golongan kaum itu. (Al-Hadist)

Kembali Kepada Fitrah


Satu-satunya cara menuju profil muslimah sejati harus kembali kepada fitrah, kepada Al-Islam secara utuh (QS Al-Baqarah: 208). Wanita Islam harus kembali kepada fungsi dan tidak mengabaikan begitu saja peran besar sebagai seorang hamba Allah, sebagai seorang istri, sebagai ibu, sebagai warga masyarakat, dan sebagai da’iyyah. Wanita Islam harus kembali menghidupkan sosok muslimahmuslimah sejati di zaman Rasulullah dalam diri kita. Menjadikannya sebagai teladan kita.

Di samping itu juga harus memperteguh keIslaman dan membentengi diri dari serangan yang dilancarkan musuh Allah lewat berbagai kedok dan tipu muslihatnya. Dengan keIslaman yang teguh dan ketaqwaan kepada Allah, dengan berusaha secara sungguh sungguh mencapai profil muslimah sejati maka akan dapat melihat jelas segala tipu daya mereka.Akhirnya wanita Islam akan mempunyai furqan.

Sesungguhnya jalan kepada pembentukan pribadi muslimah sejati bukanlah jalan yang mulus dan indah. Tetapi jalan yang penuh pendakian dan rintangan. Jalan yang penuh onak dan duri. Jalan melawan arus globalisasi jahiliyah. Hendaknya kita fahami betul hal ini.

Seorang muslimah menjadikan muslimah di zaman Rasulullah SAW sebagai cermin dan qudwah kita.

Diasuh oleh: Dr. M. Idris Abdus Shomad

*) Alumnus S1,S2 dan S3, Imam Su’ud University, Riyadh

http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=57&Itemid=1

Hak Allah dan Hak Manusia

Suatu hari, Salman menyambangi keluarga Abu Darda. Alangkah terkejutnya dia, tatkala mendapati Ummu Darda dalam keadaan kucel.

Mengapa engkau begitu kusut, Ummu Darda?” sapa Salman.

Abu Darda, saudaramu itu, sekarang sudah tidak tertarik lagi pada dunia,” jawab Ummu Darda kesal.

Salman tersenyum. Ia lalu mengajak Abu Darda menginap di rumahnya.

Di rumah Salman, tuan rumah menjamu dan mengajak makan tamunya. Tapi Abu Darda menolak, “Saya sedang puasa (sunnah). Makanlah sendiri, tidak apa-apa,” katanya.

Tidak, saya tidak akan makan kecuali engkau pun makan,” ucap Salman, yang membuat Abu Darda tak berkutik lagi. Mereka pun makan bersama.

Malamnya, usai bertahajud secukupnya, Salman melihat saudaranya tak henti-henti shalat malam. Ketika Abu Darda menyelesaikan rakaat yang kesekian puluhnya, Salman memperingatkan, “Tidurlah,” katanya sambil membimbing Abu Darda ke pembaringan. Abu Darda menurut. Tapi, setelah Salman keluar dari bilik, Abu Darda bangkit lagi untuk shalat. Salman yang mengintip kelakuan Abu Darda, kembali mengajak saudaranya itu untuk tidur. Bahkan untuk mengawasi Abu Darda, Salman turut berbaring di sisinya. Mereka pun tertidur sampai subuh tiba.

Ketika sarapan, Salman berkata kepada Abu Darda, “Sesungguhnya badanmu punya hak atasmu, dan Rabb-mu pun punya hak atasmu. Tamumu juga punya hak atasmu, demikian juga istrimu punya hak atasmu. Maka berikanlah kepada yang berhak sesuai haknya masing-masing.” [Source: Islamia]

http://www.gaulislam.com/hak-allah-dan-hak-manusia#more-2343

Mengejar Dunia dengan Amalan Akhirat adalah Kesyirikan

Slogan ‘waktu adalah uang’ telah demikian mendarah daging dalam hidup mayoritas manusia serta menjadi prinsip yang mengiringi aktivitas mereka. Bukan sekadar slogan yang kosong dari makna, karena berbagai macam cara pun akan ditempuh manusia untuk mengejar apa yang dinamakan dengan uang. “Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi. Lembah akan kulalui, bahkan mati akan kuhadapi,” kata mereka.

Ada manusia, yang tak peduli siang ataupun malam, terus-menerus waktunya disibukkan dengan mencari uang. Para wanita sampai melelang kehormatannya, menjatuhkan martabatnya karenanya juga. Ringkasnya, hidup adalah uang.

Para pedagang, pekerja, dan pengusaha, berusaha meramal hidupnya melalui paranormal juga karena uang yang akan dikejar. Mereka ngalap berkah di kuburan tertentu, juga untuk mendapatkan penghasilan dan jalan hidup yang beruntung, menurut mereka. Berkunjung ke tempat-tempat keramat dengan mempersembahkan berbagai jenis sesaji juga karenanya.

Maka sangat ironis jika seseorang berbicara tentang agama juga karena tujuan yang sama dengan mereka. Mereka melelang ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harga yang sangat murah.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat serta tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Al-Baqarah: 174)

وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (Ali ‘Imran: 187)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menyatakan: “Orang-orang yang diberikan Al-Kitab dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan yang serupa dengan mereka, melemparkan janji-janji ini di belakang punggung mereka. Mereka tidak memedulikan janji-janji tersebut. Mereka menyembunyikan kebenaran dan menampilkan kebatilan. Mereka berani melanggar keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, meremehkan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala serta hak makhluk-Nya. Dengan cara menyembunyikan tersebut, mereka juga membeli kedudukan dan harta benda dengan harga yang sedikit dari para pengikutnya serta orang-orang yang mengutamakan syahwat daripada kebenaran.” (Taisir Al-Karimirrahman, 1/160)

Siapakah Budak Dunia?

Kata “budak” telah dipakai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebut orang-orang yang telah diperbudak oleh dunia di dalam sebuah sabdanya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celaka budak dinar, budak dirham, dan budak khamishah (suatu jenis pakaian). Apabila diberi dia ridha dan bila tidak diberi dia murka.” (HR. Al-Bukhari no. 2887 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Budak dinar adalah orang yang mencarinya dengan semangat tinggi. (Bila mendapatkannya), dia menjaganya seolah-olah dia menjadi khadim, pembantu, dan budak. Ath-Thibi rahimahullahu berkata: ‘Dikhususkan kata budak untuk menggelarinya, karena dia berkubang dalam cinta kepada dunia serta segala bentuk syahwatnya, layaknya seorang tawanan yang tidak memiliki upaya untuk melepaskan dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan malik (pemilik), tidak pula orang yang menghimpun dinar, karena yang tercela adalah mengumpulkan melebihi dari yang dibutuhkan’.” (Fathul Bari, 18/249)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai budak dinar dan dirham karena kerakusan serta semangatnya untuk mendapatkannya. Barangsiapa menjadi budak hawa nafsunya, maka dia tidak akan bisa mewujudkan pada dirinya makna ayat ﭢ ﭣ . (Hanya kepada-Mu lah kami beribadah). Orang yang seperti ini sifatnya tidak akan menjadi orang shadiq (terpercaya)… Dan dikhususkan penyebutan keduanya (dinar dan dirham), karena keduanya adalah asal harta benda dunia berikut segala kenikmatannya. (Tuhfatul Ahwadzi, 6/161)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Perkataan yang mengandung pujian akan menyenangkan pencari kedudukan –dengan cara batil–, sekalipun kalimat itu adalah batil. Dia juga akan murka dengan sebab sebuah perkataan, sekalipun perkataan itu benar. Adapun orang yang beriman, kalimat yang haq akan menjadikan dia ridha baik kalimat itu mendukung atau menghujatnya. Sebaliknya, menjadikan kalimat batil akan menyebabkannya murka, baik kalimat itu menguntungkannya ataupun tidak. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai yang haq, kejujuran, dan keadilan. Bila dikatakan kebenaran, kejujuran, dan keadilan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia akan mencintainya sekalipun menyelisihi keinginan hawa nafsunya karena hawa nafsunya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila diucapkan suatu kezaliman, kedustaan, dan hal yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka orang yang beriman akan membencinya sekalipun sesuai hawa nafsunya. Demikian juga kondisi pencari harta –dengan cara yang batil– sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Di antara mereka ada yang mencelamu dalam hal shadaqah. Jika mereka diberi mereka senang dan jika tidak diberi mereka benci.” (At-Taubah: 58)

Mereka itulah yang telah disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau: ‘Celaka budak dinar’.” (Az-Zuhd wal Wara’ wal ‘Ibadah, 1/38)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata setelah menyebutkan tipe-tipe manusia yang rakus dengan dunia: “Permasalahan dunia (bagi manusia) ada dua bentuk. Di antaranya:
(Pertama) Perkara yang dibutuhkan oleh setiap orang sebagaimana butuhnya dia terhadap makan, minum, tempat tinggal, menikah, dan sebagainya. Dia meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencarinya di sisi-Nya, sehingga harta di hadapannya bagaikan keledai yang dikendarainya, atau bagaikan permadani yang dia duduk padanya, atau bahkan seperti WC di mana dia menunaikan hajat tanpa adanya unsur perbudakan diri. Namun dia akan banyak berkeluh kesah bila tertimpa kejelekan, dan menjadi kikir apabila mendapatkan kesenangan.

(Kedua) Perkara yang manusia tidak membutuhkannya. Dalam perkara yang seperti ini, janganlah seseorang menggantungkan hatinya kepadanya. Bila dia menggantungkan hatinya kepadanya, niscaya dia akan menjadi budaknya. Bahkan terkadang dia akan terjatuh pada perbuatan menggantungkan diri kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kondisi ini, tidak tersisa lagi pada dirinya hakikat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak pula hakikat tawakkal. Bahkan dalam dirinya terdapat bentuk pengabdian kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertawakkal kepada selain-Nya. Dialah yang paling berhak mendapatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Telah celaka budak dinar, budak dirham, budak qathifah (sejenis beludru), dan budak khamishah’.

Dialah budak semua hal ini. Jika dia memintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lantas Dia memberinya, dia akan ridha. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberinya, dia akan murka.
Sedangkan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala sejati ialah orang yang membuatnya ridha semua yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha, dan membuatnya murka apa-apa yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka. Dia mencintai apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta akan murka terhadap apa yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berloyalitas kepada wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menentang musuh-musuh-Nya. Inilah yang menyempurnakan iman, sebagaimana di dalam hadits:

مَنْ أَحَبَّ لِلهِ وَأَبْغَضَ لِلهِ وَأَعْطَى لِلهِ وَمَنَعَ لِلهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ

“Barangsiapa cinta karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena-Nya dan tidak memberi juga karena-Nya, maka dia telah menyempurnakan iman.”

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." (Al-‘Ubudiyyah, 1/25)

Mencari Dunia dengan Amalan Akhirat adalah Syirik

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu menulis sebuah bab dalam Kitab At-Tauhid “Bab: Termasuk dari kesyirikan adalah menginginkan dunia dengan amalan akhirat.”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullahu berkata: “Yang beliau maksud dengan judul ini adalah bahwa beramal untuk mendapatkan dunia adalah syirik yang akan menafikan kesempurnaan tauhid yang wajib dan membatalkan amalan (syirik kecil, ed.). Hal ini lebih besar daripada dosa riya’. Karena niatan untuk mendapatkan dunia telah menguasai keinginannya pada mayoritas amalannya, sedangkan riya’ hanya pada satu amalan saja dan tidak masuk dalam amalan yang lain. Riya’ juga tidak terus-menerus ada bersama amalan. Orang yang beriman harus berhati-berhati dari semua ini.” (Fathul Majid, 2/625)

Bukan sesuatu yang baru bagi kaum muslimin jika Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan kesyirikan. Bahkan mereka mengetahui bahwa syirik adalah dosa yang paling besar. Akan tetapi tahukah mereka segala rincian syirik? Tentu, jawabannya adalah tidak. Hal ini disebabkan banyak faktor. Di antaranya kejahilan (ketidaktahuan) mereka tentang aqidah yang benar. Juga adanya penyakit taqlid buta dan fanatik serta sikap ghuluw (berlebihan) dalam menyikapi orang-orang shalih. (‘Aqidah At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan. hal. 16)

Para ulama Ahlus Sunnah telah menjelaskan macam-macam syirik yang terangkum dalam dua macam: syirik yang akan mengeluarkan dari Islam yang disebut dengan syirik besar; dan syirik yang tidak mengeluarkan dari Islam yang disebut dengan syirik kecil.

Termasuk dalam kategori syirik kecil adalah beramal karena ingin mendapatkan dunia. Seperti seseorang yang berhaji, menjadi muadzin, atau menjadi imam karena ingin mendapatkan materi, atau belajar ilmu dan berjihad juga untuk mendapatkan materi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah celaka hamba dinar dan dirham. Telah celaka hamba khamishah dan khamilah (jenis-jenis pakaian). Jika diberi dia ridha dan jika tidak diberi dia benci.” (‘Aqidah At-Tauhid hal. 98)

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Syirik dalam iradah (keinginan) dan niat bagaikan laut tak bertepi. Sedikit sekali orang yang selamat darinya. Maka barangsiapa yang dengan amalnya menginginkan selain wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, meniatkan sesuatu selain mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta selain mendapatkan balasan dari-Nya, sungguh dia telah melakukan kesyirikan dalam niat dan keinginannya. Sedangkan ikhlas adalah dia mengikhlaskan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatannya, ucapan, keinginan, dan niatnya. Ini adalah hanifiyyah, agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk mengikutinya dan tidak akan diterima agama selainnya. Ini juga merupakan hakikat Islam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Inilah agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang barangsiapa membencinya, dia termasuk orang yang paling dungu.” (Al-Jawabul Kafi, hal. 115)

Contoh Mencari Dunia dengan Amalan Akhirat


a. Ulama

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (At-Taubah: 34)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan: “Ini merupakan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada segenap kaum mukminin bahwa mayoritas ulama Yahudi dan pendeta Nasrani –artinya, ulama dan ahli ibadah– memakan harta manusia dengan cara batil, yakni dengan cara tidak benar. Mereka juga menghalangi (manusia) dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sesungguhnya jika mereka mendapatkan gaji dari harta manusia atau manusia menyisihkan harta benda mereka untuknya, maka hal itu disebabkan ilmu dan ibadah mereka. Juga karena bimbingan yang mereka berikan. Namun mereka mengambil semuanya dan menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga pengambilan upah yang mereka lakukan dengan cara demikian adalah sebuah kezaliman. Karena orang tidak akan mengorbankan harta bendanya melainkan agar mereka terbimbing ke jalan yang lurus.” (Taisirul Karimirrahman, hal. 296)

b. Da’i

Mungkinkah seorang da’i akan terjatuh dalam kesyirikan? Jawabannya adalah sangat mungkin. Terlebih jika sang da’i adalah orang yang tidak memiliki aqidah yang benar dan manhaj yang lurus. Dia bisa menjadikan dakwahnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits sebagai jembatan untuk mendapatkan: kedudukan di hati manusia, sanjungan dan pujian dari mereka, mencari pengikut yang banyak, serta mencari uluran tangan mereka.

Karena menurut mereka, jalan inilah yang paling mudah dan tidak membutuhkan kerja keras, peras keringat banting tulang untuk mendapatkannya. Barangsiapa yang niatnya demikian, baik seorang alim, kyai, da’i, atau lainnya, maka dia telah terjatuh dalam perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (lihat gambaran ini dalam Fathul Majid hal. 453-454)

c. Politikus

Bukan sesuatu yang aneh bagi seorang politikus untuk melontarkan pernyataan-pernyataan dengan menyitir dalil-dalil baik dari Al-Qur’an atau As-Sunnah. Terlebih lagi bila dia tadinya seorang da’i yang kemudian terjun ke dunia politik. Yang ada adalah, pertama, bagaimana mengumpulkan massa; dan kedua, mengumpulkan dana. Ujung-ujungnya adalah mencari kedudukan di mata manusia.

Dalam syarah Fadhlul Islam disebutkan terjadinya penyimpangan dari ash-shirath al-awwal (jalan yang lurus) adalah karena di tengah umat muncul politik yang jahat dan zalim, yang telah melencengkan hukum-hukum agama. Karena politik inilah, ahli ilmu, para hakim, dan ahli fatwa memberikan fatwanya sesuai dengan kemaslahatan negara atau kelompok.

Untaian Indah dari Al-Imam Ibnul Qayyim

Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: Sayyar telah menceritakan kepadaku: Ja’far telah menceritakan kepadaku: Aku telah mendengar Malik bin Dinar rahimahullahu berkata: “Berhati-hatilah kalian dari wanita penyihir. Berhati-hatilah kalian dari wanita penyihir. Berhati-hatilah dari wanita penyihir, karena mereka telah menyihir hati-hati ulama.”

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullahu berkata: “Dunia adalah khamrnya setan. Barangsiapa mabuk karenanya, maka dia tidak akan sadar sampai kematian menjemput dalam keadaan menyesal di tengah orang-orang yang merugi.

Sedangkan bentuk cinta yang paling ringan kepada dunia adalah melalaikan dari cinta dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang harta bendanya telah melalaikannya dari dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh dia termasuk orang yang merugi. Bila hati lalai dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya hati itu akan ditempati oleh setan, yang kemudian akan memalingkannya sesuai kehendaknya…

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tiadalah setiap orang di dunia ini melainkan sebagai tamu dan hartanya adalah pinjaman. Tentunya, tamu itu akan berangkat pergi dan pinjaman itu akan kembali kepada pemiliknya.”

Mereka (para ulama) berkata: “Cinta dunia dianggap sebagai kepala kerusakan. Dia akan merusak agama dari banyak sisi.

Pertama, mencintai dunia akan membuahkan pengagungan terhadapnya, sementara dunia itu rendah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengagungkan apa yang telah dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk dosa yang paling besar.

Kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat, membenci dan murka terhadap dunia dan segala yang ada padanya (kecuali hal-hal yang diperuntukkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala). Barangsiapa yang mencintai apa yang dilaknat, dibenci, dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia telah melemparkan dirinya kepada laknat, kebencian, dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga,
jika dia mencintainya, tentu dia menjadikan dunia itu sebagai tujuannya. Dia akan mencari jalan kepadanya dengan amalan-amalan yang sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan sebagai sarana (wasilah yang mengantarkan) kepada-Nya dan kampung akhirat.” (‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin, hal. 186)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

http:

Gimana cara untuk menghafal Al-Qur''an?

Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ana ikhwan berumur 18 tahun ustad. ana baru belakangan ini mencoba untuk belajar mengenai islam dan al qur'an. ana coba untuk memnghafal al qur'an koq susah banget ustad. tapi kalo ana denger musik di tv, ane mudah sekali untuk mengingatnya. ane kepengen bisa hafal alquran, walaupun hanya beberapa surat ustad. Bagaimana cara agar ane bisa lancar menghafal alqu'ran ustad?

Mohon balasannya

Dari Ana Abdullah

Di Pekanbaru, RIAU

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdullah

Jawaban


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, saudaraku yang dirahmati Allah SWT, patut anda syukuri karena anda memiliki kesempatan belajar Islam dan Al-Quran pada di usia muda ini, dimana dalam belajar Al-Quran, dalam hal ini usaha menghafalnya memang sangat bagus sekali bila bisa dimulai sejak usia dini, usia 18 tahun sebenarnya juga termasuk usia yang boleh dibilang sangat potensial untuk menghafal Al-Quran, karena kalau kita memanfaatkan masa muda ini maka kita akan banyak mengambil manfaatnya di masa tua nanti.

Perlu kita ketahui bahwa menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan yang amat mulia dan tentunya sangat mudah untuk melakukannya, kenapa demikian? Karena sudah ada jaminan dari Allah SWT.

Sebenarnya hal ini sering saya sampaikan dalam beberapa kesempatan sebelumnya. Coba perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Qamar surat yang ke-54 :

“Dan sesugguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Q.S. Al-Qamar/54 : 17,22,32,40)

Ayat ini sampai empat kali diulang-ulang dalam surat yang sama. Perlu diketahui, dalam Bahasa Arab kalau ada kata yang diulang-ulang maka pengulangan ini memiliki tujuan untuk menegaskan sesuatu, dalam hal ini adalah bahwa Al-Qur’an ini mudah untuk diingat dan dihafal.

Lalu mengapa mendengarkan lagu yang diiringi musik itu lebih mudah diingat?, bisa jadi selama ini telinga kita lebih sering mendengarkan musik, sehingga telinga kita ini lebih peka dan akrab dengan musik atau nyanyian ketimbang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Jadi wajar saja kalau menghafalkan lagu lebih mudah ketimbang meghafal Al-Quran.

Sebenarnya para ulama banyak sekali memberikan tips, cara, metode atau tahapan yang harus dilalui oleh orang yang akan menghafal Al-Quran, diantaranya adalah :

Pertama : niat ikhlash karena Allah SWT semata, jangan sampai ada niat kita menghafal Al-Quran itu untuk mendapat berbagai kenikmatan dunia yang barang tentu sangat tidak sebanding dengan kenikmatan di akhirat kelak.

Kedua : jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu mendapatkan kemudahan dalam menghafal Al-Quran, dan ketika kita berdoa kita harus yakin bahwa doa kita diijabah oleh Allah SWT.

Ketiga : Keshalihan pribadi, keshalihan pribadi dalam mengafal Al-Quran tidak bisa disepelekan, karena dengan keshalihan ini maka Allah SWT akan mengajarkan apa yang kita ingikan, Dia akan memudahkan kita dalam memnghafal Al-Quran.

Imam Syafi’i yang terkenal sebagai ulama yang memiliki kecepatan dalam mengafal pernah dengan tidak sengaja melihat kaki bagian bawah seorang wanita, sehingga membuat hafalannya menjadi buruk dan dia pun segera mengadu kepada guru. Setelah itu sang guru pun memberikan nasihat agar dia meinggalkan maksiat, karena ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat.

Keempat : dalam menghafal Al-Quran, jangan sampai meninggalkan wirid Al-Quran harian, jadi wirid tilawah Al-Quran harian harus tetap dilakukan, jangan sampai karena kita sibuk menghafal malah justeru meninggalkan wirid tilawah harian kita. Manfaatnya adalah ketika kita sering dan banyak membaca Al-Quran, maka pada saat kita menghafal suatu ayat atau surat Al-Quran, kita akan mendapatkan banyak kemudahan karena sebelumnya kita sudah sering membacanya.

Kelima : kalau ingin hafalan kita bagus dan lacar, maka kita harus memperlakukan surat-surat yang sudah kita hafal seperti orang mengahafal surat Yasin, surat Al-kahfi dan surat-surat lainnya yang sering dibaca orang setiap pekannya atau pada moment-moment tertentu. Seperti halnya juga surat Al-Fatihah mungin saja seandainya kita membaca surat Al-Fatihah ini sambil berlari pun tidak akan salah karena kita setiap hari membacanya minimal 17 kali dalam sehari semalam.

keenam : usahakan kita juga membaca dalam shalat kita, manfaatkan waktu shalat-shalat sunnah seperti shalat malam atau Qiyamullail dan shalat-shalat sunnah lainnya.

Saya sarankan kepada anda untuk membaca-baca kembali jawaban saya pada konsultasi sebelumnya yang sedikit banyak memiliki kaitannya dengan pertanyaan ada ini. Semoga dengan jawaban singkat ini dapat memberikan pencerahan kepada anda khususnya dan para pembaca setia warna Islam pada umumnya untuk lebih termotivasi lagi dalam menghafal Al-Quran, Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

penulis : H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.
(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)
http://www.warnaislam.com/konsul/quran/2009/4/4/2700/Gimana_cara_menghafal_Al-Quran.htm

Wandu (Wanita Durhaka)

Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pribahasa ini sudah sering terlintas di telinga kita. Kandungan pribahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Apalagi dalam kehidupan berumah tangga yang penuh dengan problema. Awalnya, semua terasa indah. Namun ketika badai menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, tangis pilu mengiris hati; membuat semuanya berubah. Semuanya harus diterima sebagai sunnatullah. Kadang kita menangis, dan terkadang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah -Subhanahu wa Ta’la- .

Kehidupan berumah tangga akan indah, jika masing-masing anggotanya mendapat ketentraman. Sedang ketentraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai, dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka alamat kehancuran ada di depan mata. Diantara penyebab hancurnya keharmonisan itu adalah durhakanya seorang istri kepada suaminya. Maka, pada edisi kali ini kita akan membahas bahaya istri yang durhaka.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan istri bagi kita, agar kita merasa tentram dan tenang kepadanya. Sebagaimana firman Allah -Subhanahu wa Ta’la-

"Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ruum :21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, "Kemudian diantara kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak cucu Adam, Allah menciptakan pasangan mereka dari jenis mereka, dan Allah ciptakan diantara mereka mawaddah (yakni, cinta), dan rahmat (yakni, kasih sayang). Sebab seorang suami akan mempertahankan istrinya karena cinta kepadanya atau sayang kepadanya dengan jalan wanita mendapatkan anak dari suami, atau ia butuh kepada suaminya dalam hal nafkah, atau karena kerukunan antara keduanya, dan sebagainya". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/568)]

Jadi, maksud adanya pernikahan adalah untuk menciptakan kecenderungan (ketenangan), kasih sayang, dan cinta. Sebab seorang istri akan menjadi penyejuk mata, dan penenang di kala timbul problema. Namun, jika istri itu durhaka lagi membangkang kepada suaminya, maka alamat kehancuran ada didepan mata. Dia tidak lagi menjadi penyejuk hati, tapi menjadi musibah dan neraka bagi suaminya.

Kedurhakaan seorang istri kepada suaminya amat banyak ragam dan bentuknya, seperti mencaci-maki suami, mengangkat suara depan suami, membuat suami jengkel, berwajah cemberut depan suami, menolak ajakan suami untuk jimak, membenci keluarga suami, tidak mensyukuri (mengingkari) kebaikan, dan pemberian suami, tidak mau mengurusi rumah tangga suami, selingkuh, berpacaran di belakang suami, keluar rumah tanpa izin suami, dan sebagainya.

Allah -Subhanahu wa Ta’la- telah mengancam istri yang durhaka kepada suaminya melalui lisan Rasul-Nya ketika Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ

"Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya" .[HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (9135 & 9136), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2349), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2771), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (289)]

Tipe wanita seperti ini banyak disekitar kita. Suami yang capek banting tulang setiap hari untuk menghidupi anak-anaknya, dan memenuhi kebutuhannya, namun masih saja tetap berkeluh kesah dan tidak puas dengan penghasilan suaminya. Ia selalu membanding-bandingkan suaminya dengan orang lain, sehingga hal itu menjadi beban yang berat bagi suaminya. Maka tidak heran jika neraka dipenuhi dengan wanita-wanita seperti ini, sebagaimana sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ . قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ ؟ , قال: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ , لَوْ أَحْسَنْتَ إَلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ , ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا, قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْراً قَطُّ

"Telah diperlihatkan neraka kepadaku, kulihat mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!" Ada yang bertanya, "apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?" Rasullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, "Tidak, mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, "Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu". [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (29), dan Muslim dalam Shohih-nya (907)]

Pembaca yang budiman, jika para wandu mengetahui betapa besar kedudukan seorang suami di sisinya, maka mereka tidak akan berani durhaka dan membangkang kepada suaminya. Cobalah tengok hadits Hushain bin Mihshon ketika ia berkata, "Bibiku telah menceritakan kepadaku seraya berkata,

أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَعْضِ الْحَاجَةِ, قَالَ: (أَيْ هَذِهِ أَذَاتُ بَعْلٍ أَنْتِ), قُلْتُ : (نَعَمْ), قَالَ: (فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ), قَالَتْ: (مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ), قال: (فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ, فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ)

"Saya mendatangi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk suatu keperluan. Beliau bertanya:"siapakah ini? Apakah sudah bersuami?."sudah!", jawabku. "Bagaimana hubungan engkau dengannya?", tanya Rasulullah. "Saya selalu mentaatinya sebatas kemampuanku". Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, "Perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu denganya, sebab suamimu adalah surgamu, dan nerakamu". [HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (8963), Ahmad dalam Al-Musnad (4/341/no. 19025), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2612), dan Adab Az-Zifaf (hal. 213)]

Dari hadits ini, kita telah mengetahui betapa besar dan agungnya hak-hak suami yang wajib dipenuhi seorang istri sampai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

"Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya" . [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (1159), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (1998)]

Jika seorang istri tidak memenuhi hak-hak tersebut atau durhaka kepada suami, maka ia mendapatkan ancaman dari Allah -Ta’ala- lewat lisan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

اِثْنَانِ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمَا رُؤُوْسَهُمَا : عَبْدٌ أَبَقَ مِنْ مَوَالِيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

"Ada dua orang yang sholatnya tidak melampaui kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai ia kembali, dan wanita yang durhaka kepada suaminya sampai ia mau rujuk (taubat)". [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (478), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (7330)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمْ : الْعَبْدُ اْلآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ , وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ

"Ada tiga orang yang sholatnya tidak melampaui telinganya: Hamba yang lari sampai ia mau kembali, wanita yang bermalam, sedang suaminya marah kepadanya, dan seorang pemimpin kaum, sedang mereka benci kepadanya". [HR. At-Tirmidziy (360). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1122)]

Ini merupakan ancaman yang amat keras bagi para wandu (wanita durhaka), karena kedurhakaannya menjadi sebab tertolaknya amal sholatnya di sisi Allah. Dia sholat hanya sekedar melaksanakan kewajiban di hadapan Allah. Adapun pahalanya, maka ia tak akan mendapatkannya, selain lelah dan capek saja. Wal’iyadzu billahmin dzalik.

Al-Imam As-Suyuthiy-rahimahullah- berkata dalam Quuth Al-Mughtadziy saat menjelaskan kandungan dua hadits di atas, "Maksudnya, sholatnya tak terangkat ke langit sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ibnu Majah, "Sholat mereka tak akan terangkat sejengkal di atas kepala mereka". Ini merupakan perumpamaan tentang tidak diterimanya amal sholatnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ath-Thobroniy, "Allah tak akan menerima sholat mereka" sampai ia rujuk (kembali)…" [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (2/291)]

Diantara bentuk kedurhakaan seorang istri kepada suaminya, enggannya seorang istri untuk memenuhi hajat biologis suaminya. Keengganan seorang istri dalam melayani suaminya, lalu suami murka dan jengkel merupakan sebab para malaikat melaknat istri yang durhaka seperti ini. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا دَعَا الَّرُجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

"Jika seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan, dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi". [HR. Al-Bukhoriy Kitab Bad'il Kholq (3237), dan Muslim dalam Kitab An-Nikah (1436)]

Seorang suami saat ia butuh pelayanan biologis (jimak) dari istrinya, maka seorang istri tak boleh menolak hajat suaminya, bahkan ia harus berusaha sebisa mungkin memenuhi hajatnya, walaupun ia capek atau sibuk dengan suatu urusan. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا, وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

"Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, seorang istri tak akan memenuhi hak Robb-nya sampai ia mau memenuhi hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (untuk berjimak), sedang ia berada dalam sekedup, maka ia (istri) tak boleh menghalanginya". [HR. Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (1853). Hadits ini dikuatkan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 211)]

Perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan bimbingan kepada para wanita yang bersuami agar memperhatikan suaminya saat-saat ia dibutuhkan oleh suaminya. Sebab kebanyakan problema rumah tangga timbul dan berawal dari masalah kurangnya perhatian istri atau suami kepada kebutuhan biologis pasangannya, sehingga "solusinya" (baca: akibatnya) munculllah kemarahan, dan ketidakharmonisan rumah tangga.

Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam Adab Az-Zifaf (hal. 210), "Jika wajib bagi seorang istri untuk mentaati suaminya dalam hal pemenuhan biologis (jimak), maka tentunya lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suami dalam perkara yang lebih penting dari itu, seperti mendidik anak, memperbaiki (mengurusi) rumah tangga, dan sejenisnya diantara hak dan kewajibannya".

Seorang wanita yang durhaka kepada suaminya, akan selalu dibenci oleh suaminya, bahkan ia akan dibenci oleh istri suaminya dari kalangan bidadari di surga. Istri bidadari ini akan marah. Saking marahnya, ia mendoakan kejelekan bagi wanita yang durhaka kepada suaminya..

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ , قَاتَلَكِ اللهُ , فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

"Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, "Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami". [HR. At-Tirmidziy Kitab Ar-Rodho' (1174), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (2014). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 212)]

Cukuplah beberapa hadits yang kami bacakan dan nukilkan kepada Anda tentang bahayanya seorang wanita melakukan kedurhakaan kepada suaminya, yakni tak mau taat kepada suami dalam perkara-perkara yang ma’ruf (boleh) menurut syari’at. Semoga wanita-wanita yang durhaka kepada suaminya mau kembali berbakti, dan bertaubat sebelum ajal menjemput. Pada hari itulah penyesalan tak lagi bermanfaat baginya.

Sumber : http://almakassari.com/?p=334
http://menikahsunnah.wordpress.com/2009/03/05/wandu-wanita-durhaka/