Allah SWT berfirman :
وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى . قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى. قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ
“Mengapa kamu datang lebih cepat dari kaummu, hai Musa ?” Berkata Musa : “Itulah mereka sedang menyusuli aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”. Allah berfirman : “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri”. (QS. Thoha : 83-85)
Allah telah berjanji kepada nabi Musa diatas gunung sewaktu diperintahkan untuk menemuinya setelah 40 hari untuk menerima taklif (kewajiban perintah) : taklif kemenangan setelah kekalahan, karena kemenangan ada taklifnya (kewajiban di dalamnya), akidah ada tuntutannya, maka jiwa harus siap bergerak dan menerimanya.
Ketika Musa naik ke atas gunung, dan meninggalkan kaumnya yang berada di bawahnya, dan mereka ditinggalkan bersama Harun AS sebgai wakilnya. Beliau berdiri dihadapan Tuhannya sedang dia tidak mengetahui sesuatu yang terjadi dibelakangnya, dan apa yang terjadi terhadap kaumnya saat mereka ditinggalkan dibawah gunung, dan disinilah Allah SWT mengabarkan berita kepadanya.
Allah SWT berfirman : “Mengapa kamu datang lebih cepat dari kaummu, hai Musa ?”, penyusun tafsir “Mahasin At-ta’wil” berkata : “Nasir berkata : Sesungguhnya yang diinginkan Allah dengan pertanyaan itu adalah sebab ketergesa-gesaannya, dia Dia Maha Tahu, mangajarkan kepada nabi Musa adab bepergian, yaitu selayaknya seorang pemimpin harus belakangan dari mereka agar pantauan terhadap kaumnya bisa lebih baik, terdeteksi dan mengetahui kondisi mereka hingga yang terakhir kali. Dan hal ini tidak akan terlaksana kalau pemimpin mendahului mereka.
Sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada Luth adab ini, seperti firman Allah : “Maka ikutlah dibelakang mereka”. (QS. Al-Hijr : 65), beliau diperintahkan untuk menjadi orang yang paling akhir. Namun nabi Musa AS lalai akan hal ini dan bergegas ingin mendapatkan ridlo Allah dan pergi menuju tempat pertemuan yang telah dijanjikan.
Demikianlah nabi Musa dikejutkan setelah beliau siap selama 40 hari, bahwa dirinya terlalu bergegas menuju Tuhannya. Namun adab Nabi Musa dalam menjawab pertanyaan Tuhannya juga patut diperhatikan dan diambil pelajaran, ” Berkata Musa : “Itulah mereka sedang menyusuli aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”.
Makna “Itulah mereka sedang menyusuli aku bersegera kepada-Mu. Yaitu : mereka datang berada di gunung Thur, namun saya mendahului mereka karena saya berada dalam keadaan baik, karena itu dia berkata : “agar supaya Engkau ridha” yakni kepadaku dengan kesegeraanku dalam mengamalkan perintah-Mu dan perhatian saya dalam memenuhi janji kepada-Mu, dan disampaikannya dengan kata : “Rabb” untuk menunjukkan rasa ketundukkan dan kepatuhan karena ingin/berharap mendapatkan keringanan.
Namun penghambaan dan ketundukan yang panjang di dalam lingkungan Fir’aun yang animisme telah merusak kebiasaan Bani Israel dan melemahkan kesiapan mereka dalam mengemban amanat taklif dan bersabar atasnya, kesabaran memenuhi janji dan teguh atasnya, kesabaran untuk meninggalkan kebiasaan buruk mereka dan bersiap diri untuk patuh dan taat mengikuti perintah. Sebagaimana Musa meninggalkan mereka dalam pantauan Harun, dan menjauhi mereka dengan sedikit jarak untk menguji akidah mereka dan mencoba keteguhannya.
Namun sebelum berlalu ujian yang silih berganti dan berulang-ulang; guna mengembalikan diri mereka, datang ujian pertama kepada mereka dengan sapi yang dibuat oleh Samiri : “Allah berfirman : “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri”, maka Musapun tidak mengetahui ujian ini sampai dia berjumpa dengan Tuhannya.
Setelah nabi Musa menerima lembaran-lemabaran (al-alwah) yang di dalamnya terdapat hidayah dan undang-undang syariat guna membangun kembali jati diri Bani Israel, agar dapat mengemban amanat yang telah diamanahkan kepada mereka. Dan kontek ini habis dengan sikap munajat untuk segera kembali, sedang dalam dirinya terselubung rasa kekhawatiran dan marah terhadap kaum yang telah Allah selamatkan dari perbudakan yang terdapat di dalamnya ajaran animisme, dan diberikan kepada mereka rezki dengan mudah dan perlindungan yang baik di tengah teriknya padang pasir. Namun mereka mengikuti jejak ajaran animisme dan menghamba kepada sapi.
Akhi da’iyah, tidakkah engkau perhatikan setelah penjabaran kisah ini ada beberapa intisari yang memberikan jalan kepada para du’at dalam meniti jalan da’wah, yang dapat kami pilihkan disini beberapa hal :
1. Kesemangatan seorang murabbi untuk tidak meninggalkan muridnya walaupun hanya sebentar tanpa adanya mutabaah (pemantauan).
2. Bersegera menunaikan kebajikan “Aku bergegas kepadamu agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”.
3. Bersegera dalam mengantisipasi setiap perkara tanpa menunda-nunda.
4. Merasa sedih dan marah saat mendapatkan muridnya melakukan kesalahan yang besar setelah tujuannya jelas.
5. Bergegas mengangkat seorang wakil dari muridnya untuk menjadi pengganti saat berhalangan.
6. Siap menanggung beban da’wah.
Inilah beberapa catatan dan disana banyak lagi catatan penting; maka bergegaslah wahai akhi da’iyah untuk mengambil manfaat darinya…
http://www.al-ikhwan.net/sentuhan-sentuhan-tarbiyah-sejenak-bersama-nabi-musa-as-401/
Masjid Tertua di Inggris Direnovasi

Muslim Inggris sedang mengerjakan renovasi sebuah masjid tertua di Inggris yang menjadi bukti keberadaan dan kejayaan umat Islam di negeri itu. Masji itu akan dijadikan bangunan bersejarah dan pusat budaya Islam serta dialog antar umat beragama.
Hal tersebut diungkapkan Galib Khan, ketua Abdullah Quilliam Society yang membiayai pembangunan masjid, yang terletak di kota Liverpool. Renovasi itu menelan biaya tiga juta poundsterling untuk memperbaiki bangunan masjid, membuat museum, galery seni, perpustakaan, taman-taman dan ruang-ruang untuk belajar. Masjid ini juga akan dilengkapi dengan lab-lab bahasa untuk pengajaran bahasa Arab, Persia dan bahasa-bahasa lainnya.
Masjid tua itu didirikan oleh William Quilliam, putera dari seorang pembuat jam kaya raya yang masuk Islam dengan nama Muslimnya Abdullah. Masjid tersebut mulai digunakan secara resmi pada tahun 1889. Kondisi masjid itu kumuh dan rusak berat karena selama bertahun-tahun diabaikan.
"Masjid ini sangat penting khususnya bagi generasi muda yang ingin mengetahui akar sejarah keberadaan mereka di tempat ini," kata Dr. Mohammad Akbar Ali, pendiri Abdullah Quilliam Society.
"Ini adalah tempat kelahiran Islam di Inggris. Masjid ini merupakan warisan sejarah kita," sambungnya.
Pemerintah Inggris mengakui bahwa masjid itu adalah peninggalan sejarah Islam yang penting di Inggris. "Masjid ini diyakini sebagai masjid-masjid awal yang berdiri di Inggris," kata juru bicara English Heritage. (ln/iol)
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/masjid-tertua-di-inggris-direnovasi.htm
Setiap Umat Diutus Rasul
Di antara bukti keadilan Allah adalah Dia tidak akan mengazab siapa pun sebelum diutus rasul kepada mereka yang menjelaskan kebenaran yang harus mereka ikuti dan kebatilan yang mesti mereka hindari. Oleh karenanya untuk setiap umat telah diutus pemberi peringatan kepada mereka yang menjelaskan ajaran tauhid dan syariat yang diturunkan untuk mereka.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (Yunus: 47)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kepada setiap umat telah diutus pemberi peringatan oleh Allah swt. Namun bukan berarti rasul yang diutus harus berada di tengah-tengah mereka selalu, cukup lah informasi kebenaran yang dibawa oleh rasul tersebut sampai kepada mereka dengan benar dan jelas. Hal ini seperti keadaan kita yang hidup di zaman sekarang, di mana Nabi Muhammad saw yang telah wafat 14 abad yang lalu telah diutus kepada seluruh umat manusia sampai hari kiamat dan tidak ada nabi setelah beliau. Meskipun beliau tidak ada bersama kita, namun ajarannya yang sangat jelas serta terpelihara telah sampai kepada kita. Demikianlah makna ayat tersebut. (Lihat Tafsir Mafatihul Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi ketika membahas surat Yunus ayat 47)
مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15)
Di dalam syariat Islam, dasar pertanggungjawaban seseorang di hadapan Allah swt adalah pengetahuan atau pemahaman tentang kebenaran. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran karena dakwah tidak sampai kepada mereka, maka tidak ada azab Allah bagi mereka.
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (8) قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ (9) وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10)
Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. Dan mereka berkata: “Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mulk: 8-10)
Ayat di atas menegaskan bahwa penduduk neraka diazab oleh Allah setelah dipastikan bahwa telah datang kepada mereka pemberi peringatan namun mereka mendustakannya. Hal ini lebih menegaskan kembali bahwa tersampaikannya peringatan oleh para Rasul alaihimussalam dan para da’i kepada seseorang atau suatu umat adalah syarat pertanggungjawaban dan hisab di sisi Allah swt. Oleh karena itu ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian kita bersama:
Pertama, menjadi kewajiban para da’i untuk menyampaikan dakwah seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga tidak ada lagi komponen masyarakat yang tidak mendapat informasi yang benar tentang Islam. Apabila jumlah da’i belum memenuhi kebutuhan penyebaran dakwah di masyarakat, maka kewajiban dakwah meluas kepada yang lain yang belum terlibat dalam dakwah. Oleh karena itu dapat kita pahami betapa besar pahala dan kebaikan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada siapa saja yang menjelaskan dakwah islamiyah ini kepada orang lain sebagaimana sabda Rasulullah saw:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ (رواه الترمذي عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ)
Sesungguhnya Allah swt para malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi hingga semut-semut di sarangnya juga ikan di lautan pasti mendoakan para pengajar kebaikan untuk orang lain. (Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili)
Sebaliknya, kita juga memahami betapa besar dosa dan murka Allah bagi siapa saja yang menyembunyikan atau menyelewengkan informasi kebenaran yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul alaihimussalam:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 159-160)
Kedua, menjadi kewajiban setiap orang untuk berusaha semaksimal kemampuannya dalam mencari informasi serta pengetahuan tentang kebenaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Orang yang memiliki kesempatan untuk belajar dan mengetahui kebenaran tetapi ia tidak mau menggunakan kesempatan nya itu, maka tidak akan diterima alasan ketidaktahuan nya itu dan ia tetap akan dihisab oleh Allah swt. Alasan tidak tahu kebenaran baru diterima jika ia telah berusaha sebaik mungkin namun ia tidak berhasil mendapatkannya. Akan tetapi janji Allah kepada mereka yang berusaha sungguh-sungguh adalah hasil yang manis:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-’Ankabut: 69)
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra: 36)
Benar, karena pendengaran dan penglihatan adalah sarana yang telah Allah berikan kepada manusia untuk belajar, sedangkan hati dan akal adalah tempat memutuskan apakah kita mau menerima kebenaran yang telah kita ketahui atau tidak. Apapun pilihan kita, ada tanggung jawab yang harus kita persiapkan di hadapan keadilan Allah swt kelak di hari akhir. Wallahu a’lam.
http://www.dakwatuna.com/2009/setiap-umat-diutus-rasul/#hide
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (Yunus: 47)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kepada setiap umat telah diutus pemberi peringatan oleh Allah swt. Namun bukan berarti rasul yang diutus harus berada di tengah-tengah mereka selalu, cukup lah informasi kebenaran yang dibawa oleh rasul tersebut sampai kepada mereka dengan benar dan jelas. Hal ini seperti keadaan kita yang hidup di zaman sekarang, di mana Nabi Muhammad saw yang telah wafat 14 abad yang lalu telah diutus kepada seluruh umat manusia sampai hari kiamat dan tidak ada nabi setelah beliau. Meskipun beliau tidak ada bersama kita, namun ajarannya yang sangat jelas serta terpelihara telah sampai kepada kita. Demikianlah makna ayat tersebut. (Lihat Tafsir Mafatihul Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi ketika membahas surat Yunus ayat 47)
مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15)
Di dalam syariat Islam, dasar pertanggungjawaban seseorang di hadapan Allah swt adalah pengetahuan atau pemahaman tentang kebenaran. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran karena dakwah tidak sampai kepada mereka, maka tidak ada azab Allah bagi mereka.
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (8) قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ (9) وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10)
Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. Dan mereka berkata: “Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mulk: 8-10)
Ayat di atas menegaskan bahwa penduduk neraka diazab oleh Allah setelah dipastikan bahwa telah datang kepada mereka pemberi peringatan namun mereka mendustakannya. Hal ini lebih menegaskan kembali bahwa tersampaikannya peringatan oleh para Rasul alaihimussalam dan para da’i kepada seseorang atau suatu umat adalah syarat pertanggungjawaban dan hisab di sisi Allah swt. Oleh karena itu ada dua hal penting yang harus menjadi perhatian kita bersama:
Pertama, menjadi kewajiban para da’i untuk menyampaikan dakwah seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga tidak ada lagi komponen masyarakat yang tidak mendapat informasi yang benar tentang Islam. Apabila jumlah da’i belum memenuhi kebutuhan penyebaran dakwah di masyarakat, maka kewajiban dakwah meluas kepada yang lain yang belum terlibat dalam dakwah. Oleh karena itu dapat kita pahami betapa besar pahala dan kebaikan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada siapa saja yang menjelaskan dakwah islamiyah ini kepada orang lain sebagaimana sabda Rasulullah saw:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ (رواه الترمذي عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ)
Sesungguhnya Allah swt para malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi hingga semut-semut di sarangnya juga ikan di lautan pasti mendoakan para pengajar kebaikan untuk orang lain. (Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili)
Sebaliknya, kita juga memahami betapa besar dosa dan murka Allah bagi siapa saja yang menyembunyikan atau menyelewengkan informasi kebenaran yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul alaihimussalam:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah: 159-160)
Kedua, menjadi kewajiban setiap orang untuk berusaha semaksimal kemampuannya dalam mencari informasi serta pengetahuan tentang kebenaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Orang yang memiliki kesempatan untuk belajar dan mengetahui kebenaran tetapi ia tidak mau menggunakan kesempatan nya itu, maka tidak akan diterima alasan ketidaktahuan nya itu dan ia tetap akan dihisab oleh Allah swt. Alasan tidak tahu kebenaran baru diterima jika ia telah berusaha sebaik mungkin namun ia tidak berhasil mendapatkannya. Akan tetapi janji Allah kepada mereka yang berusaha sungguh-sungguh adalah hasil yang manis:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-’Ankabut: 69)
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra: 36)
Benar, karena pendengaran dan penglihatan adalah sarana yang telah Allah berikan kepada manusia untuk belajar, sedangkan hati dan akal adalah tempat memutuskan apakah kita mau menerima kebenaran yang telah kita ketahui atau tidak. Apapun pilihan kita, ada tanggung jawab yang harus kita persiapkan di hadapan keadilan Allah swt kelak di hari akhir. Wallahu a’lam.
http://www.dakwatuna.com/2009/setiap-umat-diutus-rasul/#hide
Sudah 700.000 Calhaj Antre Berhaji untuk 4 Tahun
Menurut data dari Dirjen penyelenggaraan Haji dan Umrah Depag, sudah 700.000 calhaj antre untuk haji 4 tahun mendatang
Hidayatullah.com--Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Departemen Agama H Slamet Riyanto mengatakan calon jamaah haji (Calhaj) yang sudah mendaftar sebanyak 700.000 orang. Untuk memberangkatkan Calhaj sebanyak itu, perlu memakan waktu empat tahun. Jadi, Calhaj harus antre sesuai nomor porsi yang telah mereka dapatkan.
Ini perkiraan kalau sudah tidak ada yang mendaftar haji. Tapi kenyataannya setiap tahun selalu membludak. Bahkan ada yang mencoba mendaftar di daerah lain, asalkan bisa berangkat cepat, papar Slamet ketika membuka Raker Kanwil Depag DKI Jakarta di aula Jayakarta Kanwil Departemen Agama Provinsi DKI Jakarta.
Menurut Slamet, Calhaj yang sudah mendapat porsi dan dijadwalkan berangkat empat tahun ke depan itu banyak yang memerotes. Tapi itu kenyataan yang harus mereka dapatkan. Baru empat tahun ini belum seberapa. Di Malaysia, masyarakat yang mendaftar haji sudah 400.000 orang, secara bergiliran mereka ada yang menunggu sampai 16 tahun mendatang. Begitu juga di Iran, ada yang menunggu untuk berangkat haji sampai 18 tahun.
Dirjen dalam sambutannya mewakili Menteri Agama RI menyatakan di bidang pelayanan ibadah haji, pemerintah secara sungguh-sungguh telah melakukan berbagai langkah perbaikan, terutama di bidang regulasi, manajemen, peningkatan profesionalisme petugas, dan pengembangan sarana prasarana. Hasil yang dicapai antara lain, meningkatnya kepastian keberangkatan calon jamaah, meningkatnya jumlah pendaftaran haji yang sampai saat ini telah mencapai 700.000 lebih.
Selain itu, makin singkatnya jarak tempuh karena penerbangan langsung dari Jakarta ke Madinah, meningkatnya pelayanan pemondokan, meningkatnya kompetensi petugas haji, berkurangnya biaya yang harus ditanggung calon jamaah, meningkatnya pelayanan pendukung ibadah haji di Arab Saudi, ucapnya.
Namun, lanjut Slamet, patut disadari, bahwa dalam peningkatan mutu pengelolaan ibadah haji kita masih menghadapi berbagai kendala, di samping karena berhubungan dengan kebijakan internal Pemerintah Arab Saudi, juga berhubungan dengan berbagai pihak lain yang tidak sepenuhnya dapat diintervensi oleh Departemen Agama.
Dalam hal ini, kiranya kita perlu mempertegas, bagian mana yang menjadi tugas dan kewenangan Departemen Agama dan dapat diintervensi, serta bagian mana yang tidak menjadi kewenangan Depag, dan tidak dapat diintervensi -- atau malah sebaliknya, Departemen Agama yang diintervensi, katanya.
Selain itu, sejumlah catatan kelemahan, kritik dan saran tentang penyelenggaraan ibadah haji dalam dua tahun terakhir menjadi masukan penting bagi kita semua untuk perbaikan ke depan. Kami berharap forum ini dapat memberikan masukan yang obyektif untuk peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji pada masa mendatang. [plt/www.hidayatullah.com]
http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8971:sudah-700000-calhaj-antre-berhaji-untuk-4-tahun-&catid=1:nasional&Itemid=54
Hidayatullah.com--Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Departemen Agama H Slamet Riyanto mengatakan calon jamaah haji (Calhaj) yang sudah mendaftar sebanyak 700.000 orang. Untuk memberangkatkan Calhaj sebanyak itu, perlu memakan waktu empat tahun. Jadi, Calhaj harus antre sesuai nomor porsi yang telah mereka dapatkan.
Ini perkiraan kalau sudah tidak ada yang mendaftar haji. Tapi kenyataannya setiap tahun selalu membludak. Bahkan ada yang mencoba mendaftar di daerah lain, asalkan bisa berangkat cepat, papar Slamet ketika membuka Raker Kanwil Depag DKI Jakarta di aula Jayakarta Kanwil Departemen Agama Provinsi DKI Jakarta.
Menurut Slamet, Calhaj yang sudah mendapat porsi dan dijadwalkan berangkat empat tahun ke depan itu banyak yang memerotes. Tapi itu kenyataan yang harus mereka dapatkan. Baru empat tahun ini belum seberapa. Di Malaysia, masyarakat yang mendaftar haji sudah 400.000 orang, secara bergiliran mereka ada yang menunggu sampai 16 tahun mendatang. Begitu juga di Iran, ada yang menunggu untuk berangkat haji sampai 18 tahun.
Dirjen dalam sambutannya mewakili Menteri Agama RI menyatakan di bidang pelayanan ibadah haji, pemerintah secara sungguh-sungguh telah melakukan berbagai langkah perbaikan, terutama di bidang regulasi, manajemen, peningkatan profesionalisme petugas, dan pengembangan sarana prasarana. Hasil yang dicapai antara lain, meningkatnya kepastian keberangkatan calon jamaah, meningkatnya jumlah pendaftaran haji yang sampai saat ini telah mencapai 700.000 lebih.
Selain itu, makin singkatnya jarak tempuh karena penerbangan langsung dari Jakarta ke Madinah, meningkatnya pelayanan pemondokan, meningkatnya kompetensi petugas haji, berkurangnya biaya yang harus ditanggung calon jamaah, meningkatnya pelayanan pendukung ibadah haji di Arab Saudi, ucapnya.
Namun, lanjut Slamet, patut disadari, bahwa dalam peningkatan mutu pengelolaan ibadah haji kita masih menghadapi berbagai kendala, di samping karena berhubungan dengan kebijakan internal Pemerintah Arab Saudi, juga berhubungan dengan berbagai pihak lain yang tidak sepenuhnya dapat diintervensi oleh Departemen Agama.
Dalam hal ini, kiranya kita perlu mempertegas, bagian mana yang menjadi tugas dan kewenangan Departemen Agama dan dapat diintervensi, serta bagian mana yang tidak menjadi kewenangan Depag, dan tidak dapat diintervensi -- atau malah sebaliknya, Departemen Agama yang diintervensi, katanya.
Selain itu, sejumlah catatan kelemahan, kritik dan saran tentang penyelenggaraan ibadah haji dalam dua tahun terakhir menjadi masukan penting bagi kita semua untuk perbaikan ke depan. Kami berharap forum ini dapat memberikan masukan yang obyektif untuk peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji pada masa mendatang. [plt/www.hidayatullah.com]
http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8971:sudah-700000-calhaj-antre-berhaji-untuk-4-tahun-&catid=1:nasional&Itemid=54
Perhimpunan Al-Irsyad Bangun Pesantren Internasional

Perhimpunan Al Irsyad berencana membangun Islamic International Boarding School atau pesantren internasional sebagai pilot project atau proyek percontohan bagi pembangunan pesantren serupa di seluruh wilayah Indonesia.
"Kami sudah memiliki tanahnya di sekitar Pondok Cabe, Tangerang, jadi DPP nanti yang akan membangun dan akan dijadikan sebagai proyek percontohan bagi pembangunan pesantren internasional di seluruh wilayah atau DPW serta DPC Al Irsyad," kata Ketua Umum Perhimpunan Al Irsyad Yusuf Utsman Baisa, dalam sambutannya setelah terpilih kembali sebagai Ketua Umum masa bakti 2009-2014 pada Muktamar pertama Perhimpunan Al Irsyad di Asrama Haji, Jakarta.
Selain, membangun proyek pembangunan pesantren, menurutnya, Perhimpunan Al Irsyad dalam waktu dekat akan disibukkan dengan Daurah-Daurah atau pelatihan-pelatihan bagi anggota atau kader Al Irsyad, dimana tahapan awal akan dilakukan pembinaan dan pemberkalan terhadap ketua DPC maupun DPW.
"Jika nantinya pelatihan untuk para Ketua DPW dan DPC selesai dilaksanakan, akan tiba gilirannya pelatihan untuk para guru atau pendidik serta da'i. Ini pekerjaan besar kita ke depan. Komitmen harus kita tumbuhkan mulai sekarang juga,'' jelasnya sekitar 300 peserta Muktamar yang berasal dari 106 DPC dan 18 DPW dari seluruh Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Sekjen Perhimpunan Al Irsyad terpilih, Ali Said Bamajbur mengajak, semua pihak dan umat untuk berfastabiqul khairat atau berlomba-lomba berbuat kebaikan. Ini pula salah satu 'goal' Muktamar pertama Perhimpunan Al Irsyad. "Muktamar ini yang mengedepankan dan mengajak semua pihak dan warga Al Irsyad untuk berfastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam beramal shaleh, beramal kebaikan," tandas Ali Said.
Ditambahkannya, misi Al Irsyad adalah fastabiqul khairat dengan amar makruf dan nahi munkar melalui berbagai program yang terarah. Yaitu di bidang pendidikan, dakwah, sosial dan kesehatan khususnya diklat bagi para kawula muda dalam rangka kaderisasi untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin Islam masa depan yang mumpuni.
"Lebih dari itu, Muktamar ini diharapkan sebagai konsolidasi nilai-nilai ke-Islaman, supaya mereka kembali pada Al Quran dan Hadits. Mereka ini pulang ke daerahnya masing-masing dengan semangat berdakwah lebih baik dari sebelumnya. Itu yang menjadi harapan kita dalam Muktamar," tandasnya.(nov)
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/perhimpunan-al-irsyad-mulai-bangun-pesantren-internasional.htm
Shahih Al-Ma’tsurat
1. TA’AWWUDZ :
حَدِيْثُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ1
Hadits bahwa Nabi SAW biasanya sebelum qira’ah membaca:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم حَتَّى يُمْسِي ِ2
“Barangsiapa membaca di pagi hari: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم أُجِيْرَ مِنَ الشَّيْطَانِ حَتَّى يُمْسِي maka ia akan dilindungi ALLAAH dari Syetan sampai sore hari.”
كَانَ يَتََعَوَّذُ يَقُوْلُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم أو أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم3
“Adalah Nabi SAW jika membaca ta’awwudz dengan bacaan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
atau
أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِىَ ، وَإِنْ قَالَهَا مَسَاءً فَمِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِحَ4
“Barangsiapa membaca di pagi hari: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم dan 3 ayat di akhir surah Al-Hasyr maka ALLAAH SWT menugaskan 70.000 malaikat yang mendoakannya sampai sore, jika ia membacanya sore hari akan diberikan hal yang sama sampai pagi hari”
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ قَالَهَا مَسَاءً فَمِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِح ، وَإِنْ مَاتَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ مَاتَ شَهِيْدًا ، وَمَنْ قَالَهَا : حِيْنَ يُمْسِي كَانَ بِتِلْكَ الْمَنْزِلَة ِ5
“Barangsiapa membaca saat pagi hari 3x: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِlalu ia membaca 3 ayat terakhir QS Al-Hasyr maka ALLAAH SWT menugaskan 70.000 malaikat yang mendoakannya sampai sore hari, dan jika ia mati di hari tsb maka ia mati syahid, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka ia mendapat pahala yang demikian pula.”
[1] Mukhtashar Irwa’ Al-Ghalil, I/69 hadits no. 342
[2] HR Ibnu Sunni, no. 48 dari Daud bin Salik dari Yazid dari Anas RA; tidak ada yg menganggapnya tsiqah kecuali Ibnu Hibban, dan di dalam At-Taqrib dikatakan: Dia maqbul (yaitu dalam mutaba’ah)
[3] HR Ibnu Abi Syaibah, I/92 hadits no.1 dengan sanad shahih, semua rijal-nya tsiqah dan merupakan rijal Syaikhan, seandainya Ibnu Juraij tidak mudallis, namun dlm lafzh hadits ini ia benar2 menggunakan ‘an’anah.
[4] HR Tirmidzi, II/151; Ad-Darami, II/458; Ahmad, V/26; Ibnu Sunni dlm Amalul Yaum wal Laylah, no. 78; semuanya dari jalan Khalid bin Thahman, berkata Tirmidzi: Hadits ini Gharib aku tidak mengetahuinya kecuali dari bentuk ini. Berkata Ibnu Ma’in: Khalid ini dha’if, karena 10 th sebelum wafatnya ingatannya tercampur, adapun sebelumnya ia tsiqah. Berkata Adz Dzahabi: Tirmidzi tidak pernah meng-hasan-kannya. Ana men-takhrij hadits ini dan hadits berikutnya bukan untuk ber-hujjah dengannya, namun hanya untuk memperkuat hadits yg sebelumnya.
[5] HR As-Suyuthi dan di-dha’if-kan oleh Albani dlm Dha’if Al-Irwa’ no. 342; juga dlm Ta’liq At-Targhib, II/225; dan dlm Dha’iful Jami’ hadits no.5732
2. MEMBACA AL-FATIHAH :
بَاب فَضْلِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Dlm shahih Al-Bukhari terdapat bab khusus dengan judul: “Keutamaan Surah Al-Fatihah” [1]
بَاب فَضْلِ الْفَاتِحَةِ وَخَوَاتِيمِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَالْحَثِّ عَلَى قِرَاءَةِ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ الْبَقَرَةِ
Dalam shahih Muslim terdapat bab khusus berjudul: “Keutamaan surat Al-Fatihah dan Akhir Surah Al-Baqarah dan Anjuran Membaca 2 Ayat Terakhir surat Al-Baqarah” [2]
قَالَ أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ
“Bersabda Nabi SAW kepada Abu Sa’id bin Mu’alli RA: maukah kamu aku ajarkan surah yg paling agung di dlm Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid? Maka beliau SAW memegang tanganku, sehingga ketika kami akan keluar dari masjid aku berkata: Wahai RasuluLLAAH, engkau telah berkata akan memberitahu saya, surah yg paling agung dari Al-Qur’an? Jawab beliau SAW: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ia adalah 7 ayat yg diulang2 dan Al-Qur’an yg agung yg diturunkan.” [3]
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : قَسَمْتُ الصَّلاةَ -يَعْنِي الْفَاتِحَةُ- بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : يَقُولُ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) يَقُولُ اللَّهُ : حَمِدَنِي عَبْدِي يَقُولُ الْعَبْدُ (الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ) يَقُولُ اللَّهُ : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي يَقُولُ الْعَبْدُ : (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) فَهَذِهِ الآيَةُ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقُولُ الْعَبْدُ : (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ، وَلا الضَّالِّينَ) فَهَؤُلاءِ لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
ALLAAH SWT berfirman (dlm hadits Qudsiy): “AKU membagi shalat –maksudnya Al-Fathihah- untuk-KU dan untuk hamba-KU ke dalam 2 bagian dan bagi hamba-KU apa yg ia minta. Maka bersabda Nabi SAW: Berkata hamba (الحمد لله رب العالمين) maka ALLAAH SWT berfirman: hamba-KU telah memuji-KU. Lalu berkata hamba: (الرحمن الرحيم) maka ALLAAH SWT berfirman: hamba-KU telah memuja-KU. Lalu berkata hamba: (مالك يوم الدين) maka ALLAAH SWT berfirman: hamba-KU telah memuliakan-KU. Lalu berkata hamba: (إياك نعبد وإياك نستعين) maka ALLAAH SWT berfirman: Inilah antara AKU dan hamba-KU dan bagi hamba-KU apa yg ia pinta. Maka berkata hamba: (اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين) maka ALLAAH SWT berfirman: Itu semua untuk hamba-KU dan bagi hamba-KU apa yg ia minta.” [4]
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
Bersabda Nabi SAW: “Jika salah seorang diantara kalian berkata: Aamiin, maka berkatalah para Malaikat di langit: Aamiin, dan bersamaan antara keduanya, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.” [5]
[1] HR Bukhari, Kitab Kutamaan Al-Qur’an, Bab Keutamaan Al-Fatihah, XV/409
[2] HR Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qasharnya, Bab Keutamaan Al-Fatihah, Akhir Al-Baqarah dan 2 Ayat Terakhir Al-Baqarah, IV/233
[3] HR Bukhari, bab Keutamaan Al-Qur’an, XV/410 hadits no.4622
[4] HR Muslim, bab Wajibnya Membaca Fatihah di Tiap Raka’at, II/352 hadits no. 598; Shahih Ibnu Majah no. 838 oleh Albani; juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, I/143; dan At-Thahawi, I/127
[5] HR Bukhari, bab Keutamaan Membaca Amin, III/246 hadits no. 739; dan Muslim, bab At-Tasmi, wat-Tahmid wat-Ta’min, II/380 hadits no.619
3. MEMBACA AYAT KURSY:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَّ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ
“Dari Abu Hurairah RA berkata: Nabi SAW menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan, maka datang ‘sesuatu’ padaku yg mencuri makanan, maka aku tarik dia dan kukatakan: Akan kulaporkan kamu pada Nabi SAW, maka makhluq itu berkata: Kalau kamu mau tidur bacalah ayat Kursiy, maka engkau akan selalu ada yg menjaga dari sisi ALLAAH, dan tidak akan ada Syaithan yg bisa mengganggumu sampai pagi. Maka (kuceritakan pada Nabi SAW lalu) Nabi SAW bersabda: Dia sudah berbicara benar padamu, padahal ia adalah pembohong besar, dia itu Syaithan.” [1]
اسْمُ اللهِ الأَعْظَمِ فِي سَُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثٌ : فِي { الْبَقَرَةِ } وَ { آلِ عِمْرَانَ } وَ { طَهَ } . ( حَسَنٌ ) . قَالَ الْقَاسِمُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ : فَالْتَمَسْتُ فِي { الْبَقَرَةِ } فَإِذَا هُوَ فِي آيَةِ الْكُرْسِي : { اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ } وَفِي { آلِ عِمْرَانَ } فَاتِحَتُهَا : { اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ الْقَيُّوْمُ } وَفِي { طَهَ } : { وَعَنَتِ الْوُجُوْهِ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ } 2
“Nama-nama ALLAH yang paling agung dalam surah-surah Al-Qur’an ada 3: Di surah Al-Baqarah, Ali Imran dan Thaha. Maka berkata Al-Qasim abu AbduRRAHMAN: Maka kucari dalam surat Al-Baqarah, maka kudapatkan ia pada ayat Kursy ( اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم), dan pada Ali Imran yaitu pada awalnya ( اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم), dan pada Thaha, yaitu (وَعَنَتِ الْوُجُوْهِ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْم).”
قَالَ هَذِهِ الآَيَةُ الَّتِي فِي سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم (الْبَقَرَةُ 552) مَنْ قَالَهَا حِيْنَ يُمْسِي أُجِيْرَ مِنْهَا حَتَّى يَصْبَحَ وَمَنْ قَالَهَا حِيْنَ يُصْبِحُ أُجِيْرَ مِنْهَا حَتَّى يُمْسِي فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ صَدَقَ الْخَبِيْثُ . رَوَاهُ النَّسَائِي وَالطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ وَاللَّفْظُ لَهُ
“Ayat ini di surah Al-Baqarah, 552 (اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم), barangsiapa yang membacanya di petang hari maka ia akan diberi pahala sampai paginya, dan barangsiapa membacanya di pagi hari maka akan diberi pahala sampai sorenya. Saat pagi hari, tibalah Nabi SAW maka diceritakan kisah ini kepada beliau SAW, maka
jawab beliau SAW: Si Jahat itu, telah berkata benar padamu.” [3]
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : لِكُلِّ شَىْءٍ سَنَامٌ وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَفِيهَا آيَةٌ هِىَ سَيِّدَةُ آىِ الْقُرْآنِ هِىَ آيَةُ الْكُرْسِىِّ رَوَاهُ التِّرْمِذِي عَنْ حَكِيْمِ بْنِ جُبَيْرِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَالَ حَدِيْثٌ غَرِيْبٌ
”Dan dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Nabi SAW, segala sesuatu memiliki ujung/puncaknya, maka puncak dari Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah, yang didalamnya ada 1 ayat, yang merupakan tuan bagi seluruh Al-Qur’an.” [4]
[1] HR Bukhari, Kitab Fadha’ilul Qur’an, XV/413 hadits no. 4624
[2] HR Abu Daud no. 1341, dengan sanad shahih (lih. Juga Al-Fath, XI/225)
[3] Di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahih At-Targhib, I/161 no. 662
[4] Di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahih At-Targhib, II/87
4. MEMBACA AKHIR SURAT AL-BAQARAH :
بَاب فَضْلِ الْفَاتِحَةِ وَخَوَاتِيمِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَالْحَثِّ عَلَى قِرَاءَةِ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ الْبَقَرَةِ
Dalam Shahih Muslim terdapat bab berjudul: Keutamaan surah Al-Fatihah, akhir surah Al-Baqarah dan anjuran Membaca 2 Ayat Terakhir surah Al-Baqarah. [1]
فَأُعْطِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثًا أُعْطِيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَأُعْطِيَ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ مِنْ أُمَّتِهِ شَيْئًا
“Maka Nabi SAW diberikan 3 hadiah: Shalat 5 waktu, akhir surah Al-Baqarah, dan ampunan bagi yang tidak berbuat syirik kepada ALLAAH sedikitpun dari umatnya.” [2]
بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ
“Ketika Jibril duduk disisi Nabi SAW, terdengarlah suara dari atas mereka, maka (Jibril-pun) mengangkat kepalanya, dan berkata: Ini adalah sebuah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini dan belum pernah dibukakan kecuali pada hari ini. Maka turunlah seorang malaikat, maka (Jibril-pun) berkata lagi: Ini adalah Malaikat yang diturunkan ke bumi, yang belum pernah sekalipun diturunkan kecuali pada hari ini, maka (malaikat tersebut) mengucapkan salam, lalu berkata: Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan 2 cahaya yang diberikan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelummu, yaitu surah Al-Fatihah dan akhir dari surah Al-Baqarah, tak seorangpun yang membacanya, kecuali setiap hurufnya akan diberikan padanya (cahayanya).” [3]
مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Barangsiapa yang membaca 2 ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam harinya, maka akan mencukupinya”. [5]
[1] HR Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qasharnya, Bab Keutamaan Al-Fatihah, Akhir Al-Baqarah dan 2 Ayat Terakhir surat Al-Baqarah, IV/233
[2] HR Muslim, Penyebutan Sidratil Muntaha, I/405, hadits no. 252
[3] HR Muslim, IV/234 hadits no. 1339
[4] HR Bukhari, bab Keutamaan surat Al-Baqarah, XV/413 hadits no. 4624
[5] Sebagian menafsirkan makna mencukupi: untuk melindunginya dari keburukan di malam tersebut, sebagian lagi mengartikannya: Mencukupi dari Qiyamu Layl.
5. MEMBACA SURAH AL-IKHLASH
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Dari Nabi SAW bersabda: Apakah kalian semua tidak sanggup untuk membaca dalam tiap malam 1/3 dari Al-Qur’an..?! Maka mereka menjawab: Bagaimana caranya orang bisa membaca 1/3 dari Al-Qur’an (dlm tiap malam)..?! Maka jawab Nabi SAW: (قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) itu setara dengan 1/3 dari Al-Qur’an.” [1]
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْشُدُوا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ثُمَّ دَخَلَ فَقَالَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِنِّي أُرَى هَذَا خَبَرٌ جَاءَهُ مِنْ السَّمَاءِ فَذَاكَ الَّذِي أَدْخَلَهُ ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
Bersabda Nabi SAW: Bersiap2 lah..! Karena sesungguhnya aku akan membacakan atas kalian 1/3 dari Al-Qur’an, lalu keluarlah Nabi SAW dan beliau SAW membaca (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ), lalu beliau SAW masuk, maka berkatalah sebagian kami pada sebagian yg lain: Sesungguhnya aku berpendapat ada kabar yg datang dari langit, sehingga membuat beliau SAW masuk! Tiba2 beliau SAW keluar, lalu bersabda: Sesungguhnya aku berkata pada kalian akan membacakan 1/3 dari Al-Qur’an, ketahuilah bahwa ia (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) setara dengan 1/3 dari Al-Qur’an
قل هو الله أحد تعدل ثلث القرآن و قل يا أيها الكافرون تعدل ربع القرآن وكان يقرؤهما في ركعتي الفجر
Bersabda Nabi SAW: (قل هو الله أحد) setara dengan 1/3 Al-Qur’an, sedangkan (قل يا أيها الكافرون) setara 1/4 dari Al-Qur’an, dan adalah beliau SAW membaca kedua surah tsb dalam 2 raka’at sunnah Fajar.” [3]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم . . . . . . . . . . . . . . و قل هو الله أحد تعدل ثلث القرآن و قل يا أيها الكافرون تعدل ربع القرآن
“Bersabda Nabi SAW: ….. dan (و قل هو الله أحد) setara 1/3 Al-Qur’an dan (قل يا أيها الكافرون) setara 1/4 Al-Qur’an.” [4]
______________________________________
[1]. HR Muslim, IV/241, hadits no. 1344
[2]. HR Muslim, IV/242, hadits no. 1345
[3]. Berkata Albani dlm Shahih At-Targhib wat Tarhib, (I/141, hadits no. 583): Shahih Lighairihi, diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad hasan, juga At-Thabrani dlm Al-Kabir dan ini adalah lafzh-nya. Berkata Albani
[4]. HR Al-Hakim, dia berkata: Sanad-nya shahih, berkata Albani dlm Shahih At-Targhib wat Tarhib, (II/92): Hasan Lighairihi, sanad-nya muttashil dengan para perawi yg tsiqah dan masyhur. Lih. Juga komentarnya di kitabnya yg lain, Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, VI/394, hadits no. 2894; juga dlm Shahih wa Dha’if Al-Jami’us Shaghir, XVII/2, hadits no. 7855
6. MEMBACA AL-MU’AWWIDZATAN:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
“Dari Aisyah RA berkata: bahwa jika Nabi SAW merasa tidak enak/sakit maka beliau membacakan surah 2 perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas) dan meniupkannya untuk diri beliau, dan jika beliau sakitnya parah maka aku yang membacakannya untuk beliau tapi aku usapkan menggunakan tangan beliau karena mengharapkan barakah dari kedua tangan beliau tersebut.” [1]
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Dari Aisyah RA sesungguhnya Nabi SAW jika berada di atas tempat tidurnya, setiap malam beliau mengumpulkan kedua tangannya, lalu meniup pada keduanya, lalu membaca pada keduanya (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) dan (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) dan (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) lalu beliau mengusap dengan kedua tangannya apa yang bisa dijangkau dari tubuhnya, beliau memulai dari kepalanya, lalu wajahnya, lalu apa yg mampu dicapai dari badannya, beliau melakukan yang demikian itu sebanyak 3x.” [2]
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Dari ‘Uqbah bin Amir berkata: Bersabda Nabi SAW: “Tidakkah kalian tahu ada beberapa ayat yang diturunkan semalam, yg tidak pernah ada yang menyamainya sedikitpun..? Yaitu “qul ‘audzu birabbil falaq” dan “Qul ‘audzu birabbinnas” [3]
وقال عبد الله بن خبيب : خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَ ظُلْمَةٍ شَدِيْدَةٍ نَطْلُبُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّي لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ : ” قُلْ ” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ : ” قُلْ ” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا قَالَ : ” قُلْ ” قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ وَ الْمُعَوِّذَتَيْنِ حِيْنَ تُمْسِي وَ حِيْنَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَكْفِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
Berkata AbduLLAAH Ibnu Khubaib RA: Kami keluar pada suatu malam yang hujan lebat dan gelap gulita luar biasa untuk meminta Nabi SAW untuk mendoakan kami, maka kami menemui beliau SAW, lalu langsung beliau SAW bersabda: Katakanlah..! Maka kami tidak satupun yang berkata apa-apa, maka kata beliau lagi: Katakanlah..! Maka kami masih tidak satupun yang berkata apa-apa, maka kata beliau lagi: Katakanlah..! Maka aku berkata: Apa yang harus kukatakan..? Maka beliau bersabda: (: قل هو الله أحد) dan surah 2 perlindungan. Bacalah itu setiap sore dan tiap pagi 3x, akan mencukupimu dari segala masalah.” [4]
اقرءوا المعوذات في دبر كل صلاة
“Bacalah surah 2 perlindungan pada tiap ba’da shalat.” [5]
كَانَ رَجُلٌ [ مِنَ الْيَهُوْدِ ] يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، [ وَكَانَ يَأْمَنُهُ ] فَعَقَدَ لَهُ عُقَدًا فَوَضَعَهُ فِي بِئْرِ رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، [ فَاشْتَكَى لِذَلِكَ أَيَّامًا ، (وَفِي حَدِيْثِ عَائِشَةَ : سِتَةَ أَشْهُرٍ ) ] فَأَتَاهُ مَلَكَانِ يَعُودَانِهِ ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا : أَتَدْرِي مَا وَجَعُهُ ؟ قَالَ : فُلانٌ الَّذِي [ كَانَ ] يَدْخُلُ عَلَيْهِ عَقَدَ لَهُ عُقَدًا فَأَلْقَاهُ فِي بِئْرِ فُلانٍ الأَنْصَارِيِّ ، فَلَوْ أُرْسِلَ [ إِلَيْهِ ] رَجُلٌ ، وَأَخَذَ [ مِنْهُ ] الْعُقَدَ لَوَجَدَ الْمَاءَ قَدِ اصْفَرَّ، [ فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَنَزَلَ عَلَيْهِ بِـ ( الْمُعَوِّذَتَيْنِ ) ، وَ قَالَ : إِنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُوْدِ سَحَرَكَ ، وَ السِّحْرُ فِي بِئْرِ فُلاَنٍ ، قَالَ : ] قَالَ : فَبَعَثَ رَجُلا ( وَ فِي طَرِيْقٍ أُخْرَى : فَبَعَثَ عَلِيًّا رَضِي اللهُ عَنْهُ ) [ فَوَجَدَ الْمَاءَ قَدْ اصْفَرَ ] فَأَخَذَ الْعُقَدَ [ فَجَاءَ بِهَا ] ، [ فَأَمَرَهُ أَنْ يَحُلَّ الْعُقَدَ وَ يَقْرَأُ آيَةً ] ، فَحَلَّهَا [ فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَ يَحُلَّ ] ، [ فَجَعَلَ كُلَّمَا حَلَّ عُقَدَةً وَجَدَ لِذَلِكَ خِفَّةً ] فَبَرَأَ ، ( وَ فِي الطَّرِيْقِ الأُخْرَى : فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا نَشَطَ مِنْ عِقَالٍ ) وَكَانَ الرَّجُلُ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ شَيْئًا مِنْهُ وَلَمْ يُعَاتِبْهُ عَلَيْهِ السَّلامُ [ قَطُّ حَتَّى مَاتَ ] “.
“Ada seorang laki-laki Yahudi masuk ke tempat Nabi SAW –ia sudah dipercaya oleh Nabi SAW– lalu ia tiba-tiba membuat sebuah buhul (simpul ikatan) lalu ia membenamkannya ke dalam sumur milik seorang Anshar, maka Nabi SAW menjadi sakit selama beberapa hari (dalam riwayat Aisyah RA: selama 6 bulan), maka turunlah 2 orang malaikat menjenguk beliau, yang seorang duduk di dekat kepala beliau yang satunya duduk di dekat kedua kaki beliau, maka berkata salah satu malaikat : Tahukah kamu apa penyakitnya? Dijawab yang kedua: Karena si Fulan, yang pernah membuatkan satu buhul baginya, dan melemparkannya ke dalam sumur milik si Fulan, seorang Anshar. Maka seandainya ia (maksudnya Nabi SAW) mengutus seseorang untuk mencari buhul tersebut, maka ia akan menemukan sumur tersebut airnya telah berwarna kuning. Maka saat itu turunlah Jibril AS pada nabi SAW dengan membawa surah 2 perlindungan (Mu’awwidzatan: Al-Falaq dan An-Nas) lalu Jibril berkata: Seorang Yahudi telah menyihirmu (wahai Muhammad), dan (benda) sihir tsb diletakkan di sumur si Fulan. Maka Nabi SAW pun mengutus seseorang (dalam riwayat yang lain dikatakan: yang diutus adalah Ali RA), maka ia menemukan sumur tersebut airnya telah berwarna kuning, maka dicarilah buhul tersebut, lalu ditemukan. Maka Nabi SAW memerintahkan untuk membukanya sambil membaca surah (2 perlindungan), maka beliau SAW membaca ayat sambil membuka tiap buhul, dan tiap terbuka 1 ikatan dari buhul itu nabi SAW merasa badannya menjadi lebih segar (dalam riwayat lainnya dikatakan saat semua buhul tersebut terbuka maka Nabi SAW langsung berdiri seolah-olah beliau baru lepas dari ikatan). Dan orang yang telah melakukan sihir tersebut tetap masuk ke rumah beliau seperti biasa, dan Nabi SAW tidak pernah berbicara sepatah katapun soal perbuatan orang itu kepadanya, dan tidak pula beliau menghukumnya sedikitpun sampai orang itu meninggal.” [6]
———————————————————————-
[1]. HR Bukhari, XV/422, bab Keutamaan Mu’awwidzatain, hadits no. 4629
[2]. HR Bukhari, XV/423, bab Keutamaan Mu’awwidzatain, hadits no. 4630
[3]. HR Muslim, IV/246, bab Keutamaan membaca Mu’awwidzatain, hadits no. 1348
[4]. Al-Kalimut Thayyib, Ibni Taimiyyah dan di-shahih-kan oleh Al-albani (lih. Tahqiq-nya atas hadits tsb, juz I/68, hadits no.19)
[5]. HR Nasa’i, I/196; Ibni Khuzaimah, no. 755; Abu Daud, no. 1523; Ibni Hibban, no. 2347; Ahmad, IV/159; di-shahih-kan oleh Al-albani (lih. Ash-Shahihah, II/144, hadits no. 645)
[6]. HR At-Thabrani dalam Al-Kabir, V/210, hadits no. 5011; Al-Hakim, IV/360-361; HR Ibnu Sa’d, dlm At-Thabaqat, II/199; An-Nasa’i, II/172; Ibnu Abi Syaibah, dlm Al-Mushannaf, VIII/29-30, hadits no. 3569; Ahmad, III/67; berkata Al-Hafizh Al-Iraqi dlm Takhrij Al-Ihya’ (II/336): Shahih sesuai syarat Muslim. Dan disepakati oleh Al-albani (Ash-Shahihah, II/260 hadits no. 2761)
7. Membaca Do’a-do’a Yang Shahih
كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ قَالَ أُرَاهُ قَالَ فِيهِنَّ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ
Adalah nabi SAW jika waktu sore hari berdoa: “Kami bersore hari di dalam kerajaan ALLAAH, segala puji bagi ALLAAH, tiada Ilah selain ALLAAH..” Berkata perawi: Aku merasa setelahnya beliau SAW melanjutkan dengan berdoa: “Bagi-NYA kerajaan dan bagi-NYA puji dan DIA adalah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya RABB aku memohon apa-apa yang baik yang ada pada malam ini dan apa yang ada setelahnya, dan aku berlindung kepada-MU apa-apa yang buruk yang ada pada malam ini dan apa yang ada setelahnya, ya RABB aku berlindung kepada-MU dari kemalasan dan keburukan sifat sombong, RABB aku berlindung kepada-MU dari azab yang ada di neraka, dan dari azab yang ada di kubur.” Dan jika tiba waktu pagi maka beliau SAW berdoa seperti itu dengan kata2 : “Kami berpagi hari di dalam kerajaan ALLAAH…” [1]
أَصْبَحْنَا عَلىَ فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ وَكَلِمَةِ الإِخْلاَصِ وَدِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ وَمِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا (مُسْلِمَا) وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Nabi SAW berdoa : “Kami berpagi hari di dalam fithrah Al-Islam, kalimah Al-Ikhlas dan agama Nabi kami Muhammad SAW, dan millah nenek-moyang kami Ibrahim yang lurus (boleh ditambah dengan: …dan muslim), dan ia (Ibrahim) bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”
مَنْ قَالَ : رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَ بِالإِسْلاَمٍ دِيْنًا وَ بِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ. وَفِي رِوَايَةٍ : ، فَأَنَا الزَّعِيْمُ لآخُذَنَّ بِيَدِهِ حَتَّى أَدْخُلَهً الْجَنَّةَ
Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yg berkata: Aku ridha terhadap ALLAAH sebagai RABB-ku, terhadap Al-Islam sebagai dien-ku dan terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul.. Maka wajib atasnya Syurga. [3] Dalam riwayat yang lain: Maka aku sebagai jaminan yang akan menuntun tangannya sampai memasukkannya ke dalam Syurga” [4]
عَنْ جُوَيْرِيَةَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ
الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Dari Juwairiyyah RA berkata : Sesungguhnya Nabi SAW pergi dari sisinya pada suatu pagi saat tiba waktu shalat Shubuh, saat Juwairiyyah berada di tempat shalatnya, lalu beliau SAW kembali setelah tiba waktu Dhuha dan Juwairiyyah masih duduk di tempatnya. Maka Nabi SAW bertanya : “Apakah kamu masih disana,
melakukan urusanmu dari sejak aku tinggalkan kamu tadi..?” Maka ia menjawab : Benar. Maka bersabda Nabi SAW : “Sungguh aku telah berkata setelah meninggalkanmu tadi hanya 4 kalimat saja, diulang 3x, tetapi seandainya ia ditimbang dengan apa yang engkau baca sejak tadi sampai sekarang ini niscaya ia
mampu menyamainya, yaitu (bacaan): Maha Suci ALLAAH dengan memuji-NYA, sebanyak makhluk-NYA, seridho diri-NYA, seberat ‘Arsy-NYA, dan sepanjang kalimah-NYA.” [5]
مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُوْلُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَ مَسَاءٍ كُلَّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَلاَ يَضُرُّهُ شَيْءٌ
Bersabda Nabi SAW : “Tidaklah ada seorang hamba yang membaca pada pagi hari dan sore hari setiap hari doa ini : Dengan nama ALLAAH yang bersama nama-NYA tidak bisa memadharatkan sesuatu apapun di bumi dan di langit, dan DIA Maha Mendengar dan maha Mengetahui. Dibaca 3x tidak bisa memadharatkannya sesuatu apapun.” [6]
يَا أَيُّهُا النَّاسُ اتَّقُوْا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّه أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ . فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ وَكَيْفَ نَتَّقِيْهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: قُوْلُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ
Bersabda nabi SAW : “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian dari syirik ini karena ia lebih halus dari langkah semut.” Maka berkatalah salah seorang yang dikehendaki ALLAAH : Wahai RasuluLLAAH, bagaimana kami bisa selamat darinya sedangkan ia lebih halus dari langkah semut..? Maka jawab Nabi SAW : Ucapkan oleh kalian : “Ya ALLAAH sesungguhnya kami berlindung kepada-MU dari menyekutukan-MU sedikitpun yang kami ketahui dan kami memohon ampun atas berbuat syirik yang tidak kami ketahui.” [7]
خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةَ تَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ
حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
Khaulah binti Hakim As-Sulamiyyah berkata: Aku mendengar nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yg datang ke suatu tempat lalu berdoa : Aku berlindung dg kalimah ALLAAH yg Maha Sempurna dari kejahatan makhluq-NYA.” Maka tidak akan memadharatkannya sesuatu apapun sampai ia pindah dari tempat itu. [8]
فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ كَثِيرًا يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ
الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Aku membantu Nabi SAW jika ia pergi ke suatu tempat, maka aku mendengar beliau SAW banyak membaca : “Aku berlindung kepada-MU dari kesulitan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kekikiran dan pengecut, dan dari lilitan hutang dan paksaan orang.” [9]
[1]. HR Muslim, XIII/253, hadits no. 4901
[2]. HR Nasa’i, dlm Amalul Yaumi wal Laylah, (I/133); juga kitab yg sama tulisan Ibnu Sunni (XII/32); Ad-Darami, II/292; At-Thabrani dlm Ad-Du’a, II/926; Ahmad, III/407; Ibnu Abi Syaibah, dlm Al-Mushannaf, IX/71; di-shahih-kan oleh Albani dlm Ash-Shahihah, VI/488 hadits no. 2989
[3]. HR Abu Daud, hadits no. 1529; di-shahih-kan oleh Albani dlm Ash-Shahihah, I/589
[4]. HR Al-Mundziri, dlm At-Targhib, I/229; Al-Haitsami dlm Al-Majma’, X/116; di-shahih-kan oleh Albani dlm ash-Shahihah, VI/421
[5]. HR Muslim, XIII/258, hadits no. 4905
[6]. HR Ibnu Majah, hadits no. 3869; Turmudzi, hadits no. 3388; Abu Daud, hadits no. 5088; di-shahih-kan oleh Albani di beberapa kitabnya, spt dlm Takhrij Al-Mukhtarah, no. 291-292, At-Ta’liiq Ar-Raghiib, I/226-227
[7]. HR Ahmad, XL/98 hadits no. 18.781; Ibnu Abi Syaibah, VII/88; di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahih At-Targhib wat Tarhib, I/9 hadits no. 36
[8]. HR Muslim, XIII/231, hadits no. 4881; juga di beberapa tempat di kitabnya
[9]. HR Bukhari, X/21, hadits no. 2679
8. Membaca Do’a-do’a yang Shahih (Bagian-II)
عبد الرحمن بن أبي بكرة أنه قال لأبيه : يا أبة إني أسمعك تدعو كل غداة : ” اللهم عافني في بدني اللهم عافني في سمعي اللهم عافني في بصري لا إله إلا أنت ” تعيدها ثلاثا حين تصبح وثلاثا حين تمسي ؟ فقال : إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعو بهن فأنا أحب أن أستن بسنته وتقول : ” اللهم إني أعوذ بك من الكفر والفقر اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر لا إله إلا أنت ” تعيدها ثلاثا حين تصبح وثلاثا حين تمسي فتدعو بهن فأحب أن أستن بسنته وفي رواية : أعوذ بالله من عذاب القبر
AbduRRAHMAN bin Abi Bakrah berkata kepada ayahnya: Wahai ayah, aku mendengar anda berdo’a setiap pagi: Ya ALLAAH sehatkanlah fisikku, Ya ALLAAH sehatkanlah pendengaranku, Ya ALLAAH sehatkanlah penglihatanku, Tiada Ilah selain ENGKAU. Lalu engkau ulangi itu 3x di pagi hari dan 3x di sore hari. Maka jawab ayahnya: “Sungguh aku mendengar nabi SAW berdoa dengan doa tersebut, maka aku cinta untuk berpegang kepada sunnah beliau SAW, lalu beliau SAW berdoa: “Ya ALLAAH sungguh aku berlindung kepada-MU dari kekufuran dan kefakiran, ya ALLAAH aku berlindung kepada-MU dari azab qubur, tiada Ilah selain ENGKAU.” Diulangi 3x di pagi hari dan 3x di sore hari, maka aku cinta untuk berpegang kepada sunnah beliau SAW. [1] Dalam riwayat lain dikatakan: “Aku berlindung kepada ALLAAH dari azab kubur.” [2]
حَدَّثَنِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا
عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْالنَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Telah menceritakan kepadaku Syaddad bin Aus semoga ALLAAH meridhoinya: Dari Nabi SAW bahwa tuannya doa istighfar (maksudnya doa istighfar yg paling sempurna –pen) adalah kamu mengucapkan: Ya ALLAAH ENGKAU-lah RABB-ku tiada Ilah selain ENGKAU, ENGKAU telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-MU, dan aku memegang dalam janji-MU dan prasetia-MU sekuat tenagaku, maka aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, aku mengakui pada-MU atas nikmat-MU padaku dan aku mengakui
pada-MU atas dosa-dosaku, maka ampunilah aku karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain ENGKAU. Maka barangsiapa yang berdoa dengannya di waktu siang dengan sepenuh keyakinannya lalu ia mati di hari itu sebelum sore maka ia termasuk penduduk Syurga, dan barangsiapa yang berdoa dengannya di waktu malam dengan sepenuh keyakinannya lalu ia mati di hari itu sebelum pagi maka ia
termasuk penduduk Syurga”. [3]
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قال : أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه غفرت ذنوبه وإن كان قد فر من الزحف “
Dari Ibnu Mas’ud RA berkata: Bersabda Nabi SAW: “Barangsiapa berdoa: Aku mohon ampun kepada ALLAAH yang tiada Ilah selain DIA, yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluq-NYA dan aku bertobat kepada-NYA. Maka diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan pertempuran.” [4]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قولوا اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد والسلام كما قد علمتم. وفي رواية : عن أبي مسعود الأنصاري قال : أتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم في مجلس سعد بن عبادة فقال بشير بن سعد أمرنا الله أن نصلي عليك يا رسول الله فكيف نصلي عليك قال فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى تمنينا أنه لم يسأله ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( قولوا : اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد والسلام كما علمتم )
Bersabda Nabi SAW: Ucapkan oleh kalian semua: Ya ALLAAH berikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikan barakah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, di seluruh alam ini hanya ENGKAU lah yang Maha Terpuji lagi Maha Terhormat, sedangkan ucapan salam adalah seperti yang telah
kalian ketahui.[4] Dalam riwayat yang lain: Dari Abu Mas’ud Al-Anshary berkata: Nabi SAW datang kepada kami di majlis Sa’ad bin Ubadah, maka berkatalah Basyir bin Sa’d: ALLAAH telah memerintahkan kepada kita untuk ber-shalawat kepada anda wahai RasuluLLAAH, maka bagaimana caranya kami ber-shalawat kepada anda..? Maka Nabi SAW diam sampai kami berharap seandainya ia tidak bertanya demikian, lalu tiba-tiba beliau menjawab: Ucapkan oleh kalian semua: Ya ALLAAH berikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikanshalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berikanlah barakah kepada Muhammad dankepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim, di seluruh alam ini hanya ENGKAU lah yang Maha Terpuji lagi MahaTerhormat, sedangkan ucapan salam adalah seperti yg telah kalian ketahui [6].
” لقيت إبراهيم ليلة أسري بي ، فقال : يا محمد أقرئ أمتك مني السلام و أخبرهم : أن الجنة طيبة التربة عذبة الماء و أنها قيعان ، غراسها سبحان الله و الحمد لله ولا إله إلا الله و الله أكبر ” وفي رواية : ما أثقلهن في الميزان : سبحان الله و الحمد لله و لا إله إلا الله و الله أكبر و الولد الصالح يتوفى للمرء المسلم فيحتسبه “وفي رواية : ” من قال : سبحان الله و الحمد لله و لا إله إلا الله و الله أكبر غرس الله بكل واحدة منهن شجرة في الجنة
Sabda Nabi SAW: Aku bertemu dg nabi Ibrahim di malam aku di-Isra’-kan dan ia berkata: Wahai Muhammad sampaikan kepada ummatmu salam dari-Ku dan sampaikan kepada mereka: Sesungguhnya Syurga itu tanahnya amat bersih dan berkilauan dan airnya amat sangat segar diminum, dan amat sangat indah (pemandangannya), rumput-rumputnya adalah kalimat Maha Suci ALLAAH dan segala puji bagi ALLAAH dan Tiada Ilah selain ALLAAH dan ALLAAH Maha Besar, dan anak-anak kecil yang meninggal dari seorang muslim namun ia mampu bersabar. [7] Dlm riwayat yang lain dikatakan: Barangsiapa yang mengucapkan: Maha Suci ALLAAH dan segala puji bagi ALLAAH dan Tiada Ilah selain ALLAAH dan ALLAAH Maha Besar, maka ALLAAH SWT menciptakan dari tiap kalimat yg diucapkannya itu sebuah pohon yang bermacam-macam di Syurga untuknya. [8]
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ
Barangsiapa yang mengucapkan: Tiada Ilah selain ALLAAH yang Esa tiada sekutu bagi-NYA, bagi-NYA kerajaan dan bagi-NYA puji dan DIA Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Diulang 10x maka sebanding pahalanya dengan memerdekakan 4 orang dari keturunan Nabi Ismail”. [9]
من قال : سبحان الله و بحمده سبحانك اللهم و بحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك ، فقالها في مجلس ذكر كانت كالطابع يطبع عليه و من قالها في مجلس لغو كانت كفارة له
Barangsiapa berkata: Maha Suci ALLAAH dg memuji-NYA, maha Suci ENGKAU ya ALLAAH
dengan memuji-MU, aku bersaksi tiada Ilah selain ENGKAU, aku mohon ampun kepada-MU dan aku bertobat kepada-MU. Lalu ia membacanya di majlis dzikir maka ia bagaikan stempel yang menutup/ menyempurnakan dzikir-dzikir tersebut, dan barangsiapa yang mengucapkannya di majlis senda gurau maka ia menjadi penebus/ kafarat bagi dosanya”. [10]
Ikhwah wa akhwat fiLLAAH,
Demikianlah doa Al-Ma’tsurat karangan Al-Imam Al-Mujaddid Hasan Al-Banna rahimahuLLAAH telah kami takhrij dan sekaligus tahqiq hadits-haditsnya menurut yang hal-hal yang telah disepakati oleh para muhaddits, selain dari yang telah aku tuliskan disini kami dapati ada beberapa masalah dlm hadits-haditsnya, baik yang dha’if, munkar ataupun maudhu’ menurut sebagian ulama, sehingga akmi tidak mencantumkannya, demi menjaga kaidah: Keluar dari pertengkaran adalah lebih utama (خروج من الخلاف
أفضل)..
Adapun jika yang ingin membaca do’a-do’a yang lain (baik dari do’a Al-Ma’tsurat yang tidak dicantumkan disini maupun ditambah dangan doa-lain-lainnya) maka sepanjang tidak diniatkan sebagai hadits Nabi SAW maka diperbolehkan, karena para ulama salaf-pun telah berdoa dengan berbagai doa yang lain, yang telah mereka buat dan susun sendiri, dan semua doa mereka itu telah dicantumkan dan dapat dibaca pada
muqaddimmah maupun khawatim kitab-kitab mereka..
Maka selesailah kitab ini dengan idzin ALLAAH Ta’ala.. Dan kami tutup tulisan ini dengan doa dua orang hamba yang amat shalih dalam Al-Qur’an: “Ya ALLAAH terimalah pekerjaan kami ini, sesungguhnya ENGKAU Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…”[11]
[1] HR Abu Daud, dalam Al-Adab, hadits no. 5090; Nasa’i, dlm Amalul Yaumi wal Laylah, XXII/572; Ibnu Sunni, hadits no. 67; Ahmad, V/42; di-hasan-kan oleh Albani dalam Tamamul Minah, I/232
[2] Zhilalul Jannah, II/119 hadits no. 119 no. 872
[3] HR Bukhari, XIX/363, hadits no. 5831
[4] HR Al-Hakim, I/692, hadits no. 1884 dan ia berkata : Shahih sesuai syarat Syaikhan, dan disepakati oleh Albani di beberapa tempat dlm tulisannya, seperti dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, II/125 no. 1622; Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, IV/17 no. 1517; Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, VIII/77 no. 3577; dan dalam Tahqiq Riyadhus Shalihin, I/639 no. 1883 ia berkata: Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang kuat, adapun yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari jalan Zaid maula Nabi SAW dlm sanad-nya ada orang yang tak dikenal, tetapi sebagai syahid maka tidak mengapa dan hadits ini memiliki beberapa penguat yang lainnya.
[5] HR At-Turmudzi, hadits no. 3220 dan di-shahih-kan oleh Albani dlm beberapa kitabnya, yaitu dalam Shahih wa Dha’if Sunan At-Turmudzi, VII/220 no. 3450; dalam Shahih wa Dha’if Sunan An-Nasa’i, III/429; dan dalam Shahih Sunan Abi Daud, no. 901
[6] HR Ibnu Mas’ud dalam Fadhlus Shalah ‘alan Nabiyy SAW, Al-Juhdhiy Al-Malikiy, I/59 hadits no. 63, dg tahqiq Albani dan di-shahih-kannya [47]. Dalam 2 riwayat hadits di atas, sengaja ana mencantumkan shalawat yang menggunakan lafzh: “di seluruh alam ini” (في العالمين) untuk menunjukkan bahwa tambahan ini adalah shahih, berbeda dangan sebagian orang yang menuduh bahwa tambahan yang demikian dha’if, waLLAAHul musta’an
[7] HR At-Turmudzi, II/258 dan di-shahih-kan Albani dlm Ash-Shahihah, I/165
[8] HR Ibnu Hibban, hadits no. 2328; Al-Hakim, I/511; dan di-shahih-kan Albani dalam Ash-Shahihah, III/202
[9] HR At-Thabrani dalam Al-Ausath, II/235 dan di-shahih-kan Albani dalam Ash-Shahihah, VI/890; dan tentang penyebutan 100x di-shahih-kannya dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, I/160 no. 658
[10] HR Muslim, XIII/203, hadits no. 4859
[11] HR At-Thabrani, I/79 hadits no. 2; Hakim, I/537 dia berkata : Shahih sesuai syarat Muslim, dan diperkuat oleh Al-Mundziri, II/236 dia berkata : Rijal-nya adalah Rijal hadits shahih. Disepakati pula oleh Al-Haitsami, X/142-423 dan juga oleh Albani, dlm Ash-Shahihah, I/120
http://www.al-ikhwan.net/shahih-al-matsurat-583/
حَدِيْثُ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ1
Hadits bahwa Nabi SAW biasanya sebelum qira’ah membaca:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم حَتَّى يُمْسِي ِ2
“Barangsiapa membaca di pagi hari: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم أُجِيْرَ مِنَ الشَّيْطَانِ حَتَّى يُمْسِي maka ia akan dilindungi ALLAAH dari Syetan sampai sore hari.”
كَانَ يَتََعَوَّذُ يَقُوْلُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم أو أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم3
“Adalah Nabi SAW jika membaca ta’awwudz dengan bacaan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
atau
أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِىَ ، وَإِنْ قَالَهَا مَسَاءً فَمِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِحَ4
“Barangsiapa membaca di pagi hari: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم dan 3 ayat di akhir surah Al-Hasyr maka ALLAAH SWT menugaskan 70.000 malaikat yang mendoakannya sampai sore, jika ia membacanya sore hari akan diberikan hal yang sama sampai pagi hari”
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ قَالَهَا مَسَاءً فَمِثْلُ ذَلِكَ حَتَّى يُصْبِح ، وَإِنْ مَاتَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ مَاتَ شَهِيْدًا ، وَمَنْ قَالَهَا : حِيْنَ يُمْسِي كَانَ بِتِلْكَ الْمَنْزِلَة ِ5
“Barangsiapa membaca saat pagi hari 3x: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِlalu ia membaca 3 ayat terakhir QS Al-Hasyr maka ALLAAH SWT menugaskan 70.000 malaikat yang mendoakannya sampai sore hari, dan jika ia mati di hari tsb maka ia mati syahid, dan barangsiapa yang membacanya di sore hari maka ia mendapat pahala yang demikian pula.”
[1] Mukhtashar Irwa’ Al-Ghalil, I/69 hadits no. 342
[2] HR Ibnu Sunni, no. 48 dari Daud bin Salik dari Yazid dari Anas RA; tidak ada yg menganggapnya tsiqah kecuali Ibnu Hibban, dan di dalam At-Taqrib dikatakan: Dia maqbul (yaitu dalam mutaba’ah)
[3] HR Ibnu Abi Syaibah, I/92 hadits no.1 dengan sanad shahih, semua rijal-nya tsiqah dan merupakan rijal Syaikhan, seandainya Ibnu Juraij tidak mudallis, namun dlm lafzh hadits ini ia benar2 menggunakan ‘an’anah.
[4] HR Tirmidzi, II/151; Ad-Darami, II/458; Ahmad, V/26; Ibnu Sunni dlm Amalul Yaum wal Laylah, no. 78; semuanya dari jalan Khalid bin Thahman, berkata Tirmidzi: Hadits ini Gharib aku tidak mengetahuinya kecuali dari bentuk ini. Berkata Ibnu Ma’in: Khalid ini dha’if, karena 10 th sebelum wafatnya ingatannya tercampur, adapun sebelumnya ia tsiqah. Berkata Adz Dzahabi: Tirmidzi tidak pernah meng-hasan-kannya. Ana men-takhrij hadits ini dan hadits berikutnya bukan untuk ber-hujjah dengannya, namun hanya untuk memperkuat hadits yg sebelumnya.
[5] HR As-Suyuthi dan di-dha’if-kan oleh Albani dlm Dha’if Al-Irwa’ no. 342; juga dlm Ta’liq At-Targhib, II/225; dan dlm Dha’iful Jami’ hadits no.5732
2. MEMBACA AL-FATIHAH :
بَاب فَضْلِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Dlm shahih Al-Bukhari terdapat bab khusus dengan judul: “Keutamaan Surah Al-Fatihah” [1]
بَاب فَضْلِ الْفَاتِحَةِ وَخَوَاتِيمِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَالْحَثِّ عَلَى قِرَاءَةِ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ الْبَقَرَةِ
Dalam shahih Muslim terdapat bab khusus berjudul: “Keutamaan surat Al-Fatihah dan Akhir Surah Al-Baqarah dan Anjuran Membaca 2 Ayat Terakhir surat Al-Baqarah” [2]
قَالَ أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ
“Bersabda Nabi SAW kepada Abu Sa’id bin Mu’alli RA: maukah kamu aku ajarkan surah yg paling agung di dlm Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid? Maka beliau SAW memegang tanganku, sehingga ketika kami akan keluar dari masjid aku berkata: Wahai RasuluLLAAH, engkau telah berkata akan memberitahu saya, surah yg paling agung dari Al-Qur’an? Jawab beliau SAW: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ia adalah 7 ayat yg diulang2 dan Al-Qur’an yg agung yg diturunkan.” [3]
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : قَسَمْتُ الصَّلاةَ -يَعْنِي الْفَاتِحَةُ- بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : يَقُولُ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) يَقُولُ اللَّهُ : حَمِدَنِي عَبْدِي يَقُولُ الْعَبْدُ (الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ) يَقُولُ اللَّهُ : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي يَقُولُ الْعَبْدُ : (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) فَهَذِهِ الآيَةُ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقُولُ الْعَبْدُ : (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ، وَلا الضَّالِّينَ) فَهَؤُلاءِ لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
ALLAAH SWT berfirman (dlm hadits Qudsiy): “AKU membagi shalat –maksudnya Al-Fathihah- untuk-KU dan untuk hamba-KU ke dalam 2 bagian dan bagi hamba-KU apa yg ia minta. Maka bersabda Nabi SAW: Berkata hamba (الحمد لله رب العالمين) maka ALLAAH SWT berfirman: hamba-KU telah memuji-KU. Lalu berkata hamba: (الرحمن الرحيم) maka ALLAAH SWT berfirman: hamba-KU telah memuja-KU. Lalu berkata hamba: (مالك يوم الدين) maka ALLAAH SWT berfirman: hamba-KU telah memuliakan-KU. Lalu berkata hamba: (إياك نعبد وإياك نستعين) maka ALLAAH SWT berfirman: Inilah antara AKU dan hamba-KU dan bagi hamba-KU apa yg ia pinta. Maka berkata hamba: (اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين) maka ALLAAH SWT berfirman: Itu semua untuk hamba-KU dan bagi hamba-KU apa yg ia minta.” [4]
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
Bersabda Nabi SAW: “Jika salah seorang diantara kalian berkata: Aamiin, maka berkatalah para Malaikat di langit: Aamiin, dan bersamaan antara keduanya, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.” [5]
[1] HR Bukhari, Kitab Kutamaan Al-Qur’an, Bab Keutamaan Al-Fatihah, XV/409
[2] HR Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qasharnya, Bab Keutamaan Al-Fatihah, Akhir Al-Baqarah dan 2 Ayat Terakhir Al-Baqarah, IV/233
[3] HR Bukhari, bab Keutamaan Al-Qur’an, XV/410 hadits no.4622
[4] HR Muslim, bab Wajibnya Membaca Fatihah di Tiap Raka’at, II/352 hadits no. 598; Shahih Ibnu Majah no. 838 oleh Albani; juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, I/143; dan At-Thahawi, I/127
[5] HR Bukhari, bab Keutamaan Membaca Amin, III/246 hadits no. 739; dan Muslim, bab At-Tasmi, wat-Tahmid wat-Ta’min, II/380 hadits no.619
3. MEMBACA AYAT KURSY:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَّ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ
“Dari Abu Hurairah RA berkata: Nabi SAW menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan, maka datang ‘sesuatu’ padaku yg mencuri makanan, maka aku tarik dia dan kukatakan: Akan kulaporkan kamu pada Nabi SAW, maka makhluq itu berkata: Kalau kamu mau tidur bacalah ayat Kursiy, maka engkau akan selalu ada yg menjaga dari sisi ALLAAH, dan tidak akan ada Syaithan yg bisa mengganggumu sampai pagi. Maka (kuceritakan pada Nabi SAW lalu) Nabi SAW bersabda: Dia sudah berbicara benar padamu, padahal ia adalah pembohong besar, dia itu Syaithan.” [1]
اسْمُ اللهِ الأَعْظَمِ فِي سَُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثٌ : فِي { الْبَقَرَةِ } وَ { آلِ عِمْرَانَ } وَ { طَهَ } . ( حَسَنٌ ) . قَالَ الْقَاسِمُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ : فَالْتَمَسْتُ فِي { الْبَقَرَةِ } فَإِذَا هُوَ فِي آيَةِ الْكُرْسِي : { اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ } وَفِي { آلِ عِمْرَانَ } فَاتِحَتُهَا : { اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ الْقَيُّوْمُ } وَفِي { طَهَ } : { وَعَنَتِ الْوُجُوْهِ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ } 2
“Nama-nama ALLAH yang paling agung dalam surah-surah Al-Qur’an ada 3: Di surah Al-Baqarah, Ali Imran dan Thaha. Maka berkata Al-Qasim abu AbduRRAHMAN: Maka kucari dalam surat Al-Baqarah, maka kudapatkan ia pada ayat Kursy ( اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم), dan pada Ali Imran yaitu pada awalnya ( اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم), dan pada Thaha, yaitu (وَعَنَتِ الْوُجُوْهِ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْم).”
قَالَ هَذِهِ الآَيَةُ الَّتِي فِي سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم (الْبَقَرَةُ 552) مَنْ قَالَهَا حِيْنَ يُمْسِي أُجِيْرَ مِنْهَا حَتَّى يَصْبَحَ وَمَنْ قَالَهَا حِيْنَ يُصْبِحُ أُجِيْرَ مِنْهَا حَتَّى يُمْسِي فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ صَدَقَ الْخَبِيْثُ . رَوَاهُ النَّسَائِي وَالطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ وَاللَّفْظُ لَهُ
“Ayat ini di surah Al-Baqarah, 552 (اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْم), barangsiapa yang membacanya di petang hari maka ia akan diberi pahala sampai paginya, dan barangsiapa membacanya di pagi hari maka akan diberi pahala sampai sorenya. Saat pagi hari, tibalah Nabi SAW maka diceritakan kisah ini kepada beliau SAW, maka
jawab beliau SAW: Si Jahat itu, telah berkata benar padamu.” [3]
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : لِكُلِّ شَىْءٍ سَنَامٌ وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَفِيهَا آيَةٌ هِىَ سَيِّدَةُ آىِ الْقُرْآنِ هِىَ آيَةُ الْكُرْسِىِّ رَوَاهُ التِّرْمِذِي عَنْ حَكِيْمِ بْنِ جُبَيْرِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَالَ حَدِيْثٌ غَرِيْبٌ
”Dan dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Nabi SAW, segala sesuatu memiliki ujung/puncaknya, maka puncak dari Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah, yang didalamnya ada 1 ayat, yang merupakan tuan bagi seluruh Al-Qur’an.” [4]
[1] HR Bukhari, Kitab Fadha’ilul Qur’an, XV/413 hadits no. 4624
[2] HR Abu Daud no. 1341, dengan sanad shahih (lih. Juga Al-Fath, XI/225)
[3] Di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahih At-Targhib, I/161 no. 662
[4] Di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahih At-Targhib, II/87
4. MEMBACA AKHIR SURAT AL-BAQARAH :
بَاب فَضْلِ الْفَاتِحَةِ وَخَوَاتِيمِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَالْحَثِّ عَلَى قِرَاءَةِ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ الْبَقَرَةِ
Dalam Shahih Muslim terdapat bab berjudul: Keutamaan surah Al-Fatihah, akhir surah Al-Baqarah dan anjuran Membaca 2 Ayat Terakhir surah Al-Baqarah. [1]
فَأُعْطِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثًا أُعْطِيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَأُعْطِيَ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ مِنْ أُمَّتِهِ شَيْئًا
“Maka Nabi SAW diberikan 3 hadiah: Shalat 5 waktu, akhir surah Al-Baqarah, dan ampunan bagi yang tidak berbuat syirik kepada ALLAAH sedikitpun dari umatnya.” [2]
بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ
“Ketika Jibril duduk disisi Nabi SAW, terdengarlah suara dari atas mereka, maka (Jibril-pun) mengangkat kepalanya, dan berkata: Ini adalah sebuah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini dan belum pernah dibukakan kecuali pada hari ini. Maka turunlah seorang malaikat, maka (Jibril-pun) berkata lagi: Ini adalah Malaikat yang diturunkan ke bumi, yang belum pernah sekalipun diturunkan kecuali pada hari ini, maka (malaikat tersebut) mengucapkan salam, lalu berkata: Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan 2 cahaya yang diberikan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelummu, yaitu surah Al-Fatihah dan akhir dari surah Al-Baqarah, tak seorangpun yang membacanya, kecuali setiap hurufnya akan diberikan padanya (cahayanya).” [3]
مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Barangsiapa yang membaca 2 ayat terakhir surah Al-Baqarah di malam harinya, maka akan mencukupinya”. [5]
[1] HR Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qasharnya, Bab Keutamaan Al-Fatihah, Akhir Al-Baqarah dan 2 Ayat Terakhir surat Al-Baqarah, IV/233
[2] HR Muslim, Penyebutan Sidratil Muntaha, I/405, hadits no. 252
[3] HR Muslim, IV/234 hadits no. 1339
[4] HR Bukhari, bab Keutamaan surat Al-Baqarah, XV/413 hadits no. 4624
[5] Sebagian menafsirkan makna mencukupi: untuk melindunginya dari keburukan di malam tersebut, sebagian lagi mengartikannya: Mencukupi dari Qiyamu Layl.
5. MEMBACA SURAH AL-IKHLASH
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Dari Nabi SAW bersabda: Apakah kalian semua tidak sanggup untuk membaca dalam tiap malam 1/3 dari Al-Qur’an..?! Maka mereka menjawab: Bagaimana caranya orang bisa membaca 1/3 dari Al-Qur’an (dlm tiap malam)..?! Maka jawab Nabi SAW: (قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) itu setara dengan 1/3 dari Al-Qur’an.” [1]
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْشُدُوا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ثُمَّ دَخَلَ فَقَالَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ إِنِّي أُرَى هَذَا خَبَرٌ جَاءَهُ مِنْ السَّمَاءِ فَذَاكَ الَّذِي أَدْخَلَهُ ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
Bersabda Nabi SAW: Bersiap2 lah..! Karena sesungguhnya aku akan membacakan atas kalian 1/3 dari Al-Qur’an, lalu keluarlah Nabi SAW dan beliau SAW membaca (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ), lalu beliau SAW masuk, maka berkatalah sebagian kami pada sebagian yg lain: Sesungguhnya aku berpendapat ada kabar yg datang dari langit, sehingga membuat beliau SAW masuk! Tiba2 beliau SAW keluar, lalu bersabda: Sesungguhnya aku berkata pada kalian akan membacakan 1/3 dari Al-Qur’an, ketahuilah bahwa ia (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) setara dengan 1/3 dari Al-Qur’an
قل هو الله أحد تعدل ثلث القرآن و قل يا أيها الكافرون تعدل ربع القرآن وكان يقرؤهما في ركعتي الفجر
Bersabda Nabi SAW: (قل هو الله أحد) setara dengan 1/3 Al-Qur’an, sedangkan (قل يا أيها الكافرون) setara 1/4 dari Al-Qur’an, dan adalah beliau SAW membaca kedua surah tsb dalam 2 raka’at sunnah Fajar.” [3]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم . . . . . . . . . . . . . . و قل هو الله أحد تعدل ثلث القرآن و قل يا أيها الكافرون تعدل ربع القرآن
“Bersabda Nabi SAW: ….. dan (و قل هو الله أحد) setara 1/3 Al-Qur’an dan (قل يا أيها الكافرون) setara 1/4 Al-Qur’an.” [4]
______________________________________
[1]. HR Muslim, IV/241, hadits no. 1344
[2]. HR Muslim, IV/242, hadits no. 1345
[3]. Berkata Albani dlm Shahih At-Targhib wat Tarhib, (I/141, hadits no. 583): Shahih Lighairihi, diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad hasan, juga At-Thabrani dlm Al-Kabir dan ini adalah lafzh-nya. Berkata Albani
[4]. HR Al-Hakim, dia berkata: Sanad-nya shahih, berkata Albani dlm Shahih At-Targhib wat Tarhib, (II/92): Hasan Lighairihi, sanad-nya muttashil dengan para perawi yg tsiqah dan masyhur. Lih. Juga komentarnya di kitabnya yg lain, Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, VI/394, hadits no. 2894; juga dlm Shahih wa Dha’if Al-Jami’us Shaghir, XVII/2, hadits no. 7855
6. MEMBACA AL-MU’AWWIDZATAN:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
“Dari Aisyah RA berkata: bahwa jika Nabi SAW merasa tidak enak/sakit maka beliau membacakan surah 2 perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas) dan meniupkannya untuk diri beliau, dan jika beliau sakitnya parah maka aku yang membacakannya untuk beliau tapi aku usapkan menggunakan tangan beliau karena mengharapkan barakah dari kedua tangan beliau tersebut.” [1]
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Dari Aisyah RA sesungguhnya Nabi SAW jika berada di atas tempat tidurnya, setiap malam beliau mengumpulkan kedua tangannya, lalu meniup pada keduanya, lalu membaca pada keduanya (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) dan (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) dan (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) lalu beliau mengusap dengan kedua tangannya apa yang bisa dijangkau dari tubuhnya, beliau memulai dari kepalanya, lalu wajahnya, lalu apa yg mampu dicapai dari badannya, beliau melakukan yang demikian itu sebanyak 3x.” [2]
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Dari ‘Uqbah bin Amir berkata: Bersabda Nabi SAW: “Tidakkah kalian tahu ada beberapa ayat yang diturunkan semalam, yg tidak pernah ada yang menyamainya sedikitpun..? Yaitu “qul ‘audzu birabbil falaq” dan “Qul ‘audzu birabbinnas” [3]
وقال عبد الله بن خبيب : خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَ ظُلْمَةٍ شَدِيْدَةٍ نَطْلُبُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّي لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ : ” قُلْ ” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ : ” قُلْ ” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا قَالَ : ” قُلْ ” قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ وَ الْمُعَوِّذَتَيْنِ حِيْنَ تُمْسِي وَ حِيْنَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَكْفِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
Berkata AbduLLAAH Ibnu Khubaib RA: Kami keluar pada suatu malam yang hujan lebat dan gelap gulita luar biasa untuk meminta Nabi SAW untuk mendoakan kami, maka kami menemui beliau SAW, lalu langsung beliau SAW bersabda: Katakanlah..! Maka kami tidak satupun yang berkata apa-apa, maka kata beliau lagi: Katakanlah..! Maka kami masih tidak satupun yang berkata apa-apa, maka kata beliau lagi: Katakanlah..! Maka aku berkata: Apa yang harus kukatakan..? Maka beliau bersabda: (: قل هو الله أحد) dan surah 2 perlindungan. Bacalah itu setiap sore dan tiap pagi 3x, akan mencukupimu dari segala masalah.” [4]
اقرءوا المعوذات في دبر كل صلاة
“Bacalah surah 2 perlindungan pada tiap ba’da shalat.” [5]
كَانَ رَجُلٌ [ مِنَ الْيَهُوْدِ ] يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، [ وَكَانَ يَأْمَنُهُ ] فَعَقَدَ لَهُ عُقَدًا فَوَضَعَهُ فِي بِئْرِ رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، [ فَاشْتَكَى لِذَلِكَ أَيَّامًا ، (وَفِي حَدِيْثِ عَائِشَةَ : سِتَةَ أَشْهُرٍ ) ] فَأَتَاهُ مَلَكَانِ يَعُودَانِهِ ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا : أَتَدْرِي مَا وَجَعُهُ ؟ قَالَ : فُلانٌ الَّذِي [ كَانَ ] يَدْخُلُ عَلَيْهِ عَقَدَ لَهُ عُقَدًا فَأَلْقَاهُ فِي بِئْرِ فُلانٍ الأَنْصَارِيِّ ، فَلَوْ أُرْسِلَ [ إِلَيْهِ ] رَجُلٌ ، وَأَخَذَ [ مِنْهُ ] الْعُقَدَ لَوَجَدَ الْمَاءَ قَدِ اصْفَرَّ، [ فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَنَزَلَ عَلَيْهِ بِـ ( الْمُعَوِّذَتَيْنِ ) ، وَ قَالَ : إِنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُوْدِ سَحَرَكَ ، وَ السِّحْرُ فِي بِئْرِ فُلاَنٍ ، قَالَ : ] قَالَ : فَبَعَثَ رَجُلا ( وَ فِي طَرِيْقٍ أُخْرَى : فَبَعَثَ عَلِيًّا رَضِي اللهُ عَنْهُ ) [ فَوَجَدَ الْمَاءَ قَدْ اصْفَرَ ] فَأَخَذَ الْعُقَدَ [ فَجَاءَ بِهَا ] ، [ فَأَمَرَهُ أَنْ يَحُلَّ الْعُقَدَ وَ يَقْرَأُ آيَةً ] ، فَحَلَّهَا [ فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَ يَحُلَّ ] ، [ فَجَعَلَ كُلَّمَا حَلَّ عُقَدَةً وَجَدَ لِذَلِكَ خِفَّةً ] فَبَرَأَ ، ( وَ فِي الطَّرِيْقِ الأُخْرَى : فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا نَشَطَ مِنْ عِقَالٍ ) وَكَانَ الرَّجُلُ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ شَيْئًا مِنْهُ وَلَمْ يُعَاتِبْهُ عَلَيْهِ السَّلامُ [ قَطُّ حَتَّى مَاتَ ] “.
“Ada seorang laki-laki Yahudi masuk ke tempat Nabi SAW –ia sudah dipercaya oleh Nabi SAW– lalu ia tiba-tiba membuat sebuah buhul (simpul ikatan) lalu ia membenamkannya ke dalam sumur milik seorang Anshar, maka Nabi SAW menjadi sakit selama beberapa hari (dalam riwayat Aisyah RA: selama 6 bulan), maka turunlah 2 orang malaikat menjenguk beliau, yang seorang duduk di dekat kepala beliau yang satunya duduk di dekat kedua kaki beliau, maka berkata salah satu malaikat : Tahukah kamu apa penyakitnya? Dijawab yang kedua: Karena si Fulan, yang pernah membuatkan satu buhul baginya, dan melemparkannya ke dalam sumur milik si Fulan, seorang Anshar. Maka seandainya ia (maksudnya Nabi SAW) mengutus seseorang untuk mencari buhul tersebut, maka ia akan menemukan sumur tersebut airnya telah berwarna kuning. Maka saat itu turunlah Jibril AS pada nabi SAW dengan membawa surah 2 perlindungan (Mu’awwidzatan: Al-Falaq dan An-Nas) lalu Jibril berkata: Seorang Yahudi telah menyihirmu (wahai Muhammad), dan (benda) sihir tsb diletakkan di sumur si Fulan. Maka Nabi SAW pun mengutus seseorang (dalam riwayat yang lain dikatakan: yang diutus adalah Ali RA), maka ia menemukan sumur tersebut airnya telah berwarna kuning, maka dicarilah buhul tersebut, lalu ditemukan. Maka Nabi SAW memerintahkan untuk membukanya sambil membaca surah (2 perlindungan), maka beliau SAW membaca ayat sambil membuka tiap buhul, dan tiap terbuka 1 ikatan dari buhul itu nabi SAW merasa badannya menjadi lebih segar (dalam riwayat lainnya dikatakan saat semua buhul tersebut terbuka maka Nabi SAW langsung berdiri seolah-olah beliau baru lepas dari ikatan). Dan orang yang telah melakukan sihir tersebut tetap masuk ke rumah beliau seperti biasa, dan Nabi SAW tidak pernah berbicara sepatah katapun soal perbuatan orang itu kepadanya, dan tidak pula beliau menghukumnya sedikitpun sampai orang itu meninggal.” [6]
———————————————————————-
[1]. HR Bukhari, XV/422, bab Keutamaan Mu’awwidzatain, hadits no. 4629
[2]. HR Bukhari, XV/423, bab Keutamaan Mu’awwidzatain, hadits no. 4630
[3]. HR Muslim, IV/246, bab Keutamaan membaca Mu’awwidzatain, hadits no. 1348
[4]. Al-Kalimut Thayyib, Ibni Taimiyyah dan di-shahih-kan oleh Al-albani (lih. Tahqiq-nya atas hadits tsb, juz I/68, hadits no.19)
[5]. HR Nasa’i, I/196; Ibni Khuzaimah, no. 755; Abu Daud, no. 1523; Ibni Hibban, no. 2347; Ahmad, IV/159; di-shahih-kan oleh Al-albani (lih. Ash-Shahihah, II/144, hadits no. 645)
[6]. HR At-Thabrani dalam Al-Kabir, V/210, hadits no. 5011; Al-Hakim, IV/360-361; HR Ibnu Sa’d, dlm At-Thabaqat, II/199; An-Nasa’i, II/172; Ibnu Abi Syaibah, dlm Al-Mushannaf, VIII/29-30, hadits no. 3569; Ahmad, III/67; berkata Al-Hafizh Al-Iraqi dlm Takhrij Al-Ihya’ (II/336): Shahih sesuai syarat Muslim. Dan disepakati oleh Al-albani (Ash-Shahihah, II/260 hadits no. 2761)
7. Membaca Do’a-do’a Yang Shahih
كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ قَالَ أُرَاهُ قَالَ فِيهِنَّ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ
Adalah nabi SAW jika waktu sore hari berdoa: “Kami bersore hari di dalam kerajaan ALLAAH, segala puji bagi ALLAAH, tiada Ilah selain ALLAAH..” Berkata perawi: Aku merasa setelahnya beliau SAW melanjutkan dengan berdoa: “Bagi-NYA kerajaan dan bagi-NYA puji dan DIA adalah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya RABB aku memohon apa-apa yang baik yang ada pada malam ini dan apa yang ada setelahnya, dan aku berlindung kepada-MU apa-apa yang buruk yang ada pada malam ini dan apa yang ada setelahnya, ya RABB aku berlindung kepada-MU dari kemalasan dan keburukan sifat sombong, RABB aku berlindung kepada-MU dari azab yang ada di neraka, dan dari azab yang ada di kubur.” Dan jika tiba waktu pagi maka beliau SAW berdoa seperti itu dengan kata2 : “Kami berpagi hari di dalam kerajaan ALLAAH…” [1]
أَصْبَحْنَا عَلىَ فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ وَكَلِمَةِ الإِخْلاَصِ وَدِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ وَمِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا (مُسْلِمَا) وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Nabi SAW berdoa : “Kami berpagi hari di dalam fithrah Al-Islam, kalimah Al-Ikhlas dan agama Nabi kami Muhammad SAW, dan millah nenek-moyang kami Ibrahim yang lurus (boleh ditambah dengan: …dan muslim), dan ia (Ibrahim) bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”
مَنْ قَالَ : رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَ بِالإِسْلاَمٍ دِيْنًا وَ بِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ. وَفِي رِوَايَةٍ : ، فَأَنَا الزَّعِيْمُ لآخُذَنَّ بِيَدِهِ حَتَّى أَدْخُلَهً الْجَنَّةَ
Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yg berkata: Aku ridha terhadap ALLAAH sebagai RABB-ku, terhadap Al-Islam sebagai dien-ku dan terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul.. Maka wajib atasnya Syurga. [3] Dalam riwayat yang lain: Maka aku sebagai jaminan yang akan menuntun tangannya sampai memasukkannya ke dalam Syurga” [4]
عَنْ جُوَيْرِيَةَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ
الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Dari Juwairiyyah RA berkata : Sesungguhnya Nabi SAW pergi dari sisinya pada suatu pagi saat tiba waktu shalat Shubuh, saat Juwairiyyah berada di tempat shalatnya, lalu beliau SAW kembali setelah tiba waktu Dhuha dan Juwairiyyah masih duduk di tempatnya. Maka Nabi SAW bertanya : “Apakah kamu masih disana,
melakukan urusanmu dari sejak aku tinggalkan kamu tadi..?” Maka ia menjawab : Benar. Maka bersabda Nabi SAW : “Sungguh aku telah berkata setelah meninggalkanmu tadi hanya 4 kalimat saja, diulang 3x, tetapi seandainya ia ditimbang dengan apa yang engkau baca sejak tadi sampai sekarang ini niscaya ia
mampu menyamainya, yaitu (bacaan): Maha Suci ALLAAH dengan memuji-NYA, sebanyak makhluk-NYA, seridho diri-NYA, seberat ‘Arsy-NYA, dan sepanjang kalimah-NYA.” [5]
مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُوْلُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَ مَسَاءٍ كُلَّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَلاَ يَضُرُّهُ شَيْءٌ
Bersabda Nabi SAW : “Tidaklah ada seorang hamba yang membaca pada pagi hari dan sore hari setiap hari doa ini : Dengan nama ALLAAH yang bersama nama-NYA tidak bisa memadharatkan sesuatu apapun di bumi dan di langit, dan DIA Maha Mendengar dan maha Mengetahui. Dibaca 3x tidak bisa memadharatkannya sesuatu apapun.” [6]
يَا أَيُّهُا النَّاسُ اتَّقُوْا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّه أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ . فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ وَكَيْفَ نَتَّقِيْهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: قُوْلُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ
Bersabda nabi SAW : “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian dari syirik ini karena ia lebih halus dari langkah semut.” Maka berkatalah salah seorang yang dikehendaki ALLAAH : Wahai RasuluLLAAH, bagaimana kami bisa selamat darinya sedangkan ia lebih halus dari langkah semut..? Maka jawab Nabi SAW : Ucapkan oleh kalian : “Ya ALLAAH sesungguhnya kami berlindung kepada-MU dari menyekutukan-MU sedikitpun yang kami ketahui dan kami memohon ampun atas berbuat syirik yang tidak kami ketahui.” [7]
خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةَ تَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ
حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
Khaulah binti Hakim As-Sulamiyyah berkata: Aku mendengar nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yg datang ke suatu tempat lalu berdoa : Aku berlindung dg kalimah ALLAAH yg Maha Sempurna dari kejahatan makhluq-NYA.” Maka tidak akan memadharatkannya sesuatu apapun sampai ia pindah dari tempat itu. [8]
فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ كَثِيرًا يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ
الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Aku membantu Nabi SAW jika ia pergi ke suatu tempat, maka aku mendengar beliau SAW banyak membaca : “Aku berlindung kepada-MU dari kesulitan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kekikiran dan pengecut, dan dari lilitan hutang dan paksaan orang.” [9]
[1]. HR Muslim, XIII/253, hadits no. 4901
[2]. HR Nasa’i, dlm Amalul Yaumi wal Laylah, (I/133); juga kitab yg sama tulisan Ibnu Sunni (XII/32); Ad-Darami, II/292; At-Thabrani dlm Ad-Du’a, II/926; Ahmad, III/407; Ibnu Abi Syaibah, dlm Al-Mushannaf, IX/71; di-shahih-kan oleh Albani dlm Ash-Shahihah, VI/488 hadits no. 2989
[3]. HR Abu Daud, hadits no. 1529; di-shahih-kan oleh Albani dlm Ash-Shahihah, I/589
[4]. HR Al-Mundziri, dlm At-Targhib, I/229; Al-Haitsami dlm Al-Majma’, X/116; di-shahih-kan oleh Albani dlm ash-Shahihah, VI/421
[5]. HR Muslim, XIII/258, hadits no. 4905
[6]. HR Ibnu Majah, hadits no. 3869; Turmudzi, hadits no. 3388; Abu Daud, hadits no. 5088; di-shahih-kan oleh Albani di beberapa kitabnya, spt dlm Takhrij Al-Mukhtarah, no. 291-292, At-Ta’liiq Ar-Raghiib, I/226-227
[7]. HR Ahmad, XL/98 hadits no. 18.781; Ibnu Abi Syaibah, VII/88; di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahih At-Targhib wat Tarhib, I/9 hadits no. 36
[8]. HR Muslim, XIII/231, hadits no. 4881; juga di beberapa tempat di kitabnya
[9]. HR Bukhari, X/21, hadits no. 2679
8. Membaca Do’a-do’a yang Shahih (Bagian-II)
عبد الرحمن بن أبي بكرة أنه قال لأبيه : يا أبة إني أسمعك تدعو كل غداة : ” اللهم عافني في بدني اللهم عافني في سمعي اللهم عافني في بصري لا إله إلا أنت ” تعيدها ثلاثا حين تصبح وثلاثا حين تمسي ؟ فقال : إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعو بهن فأنا أحب أن أستن بسنته وتقول : ” اللهم إني أعوذ بك من الكفر والفقر اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر لا إله إلا أنت ” تعيدها ثلاثا حين تصبح وثلاثا حين تمسي فتدعو بهن فأحب أن أستن بسنته وفي رواية : أعوذ بالله من عذاب القبر
AbduRRAHMAN bin Abi Bakrah berkata kepada ayahnya: Wahai ayah, aku mendengar anda berdo’a setiap pagi: Ya ALLAAH sehatkanlah fisikku, Ya ALLAAH sehatkanlah pendengaranku, Ya ALLAAH sehatkanlah penglihatanku, Tiada Ilah selain ENGKAU. Lalu engkau ulangi itu 3x di pagi hari dan 3x di sore hari. Maka jawab ayahnya: “Sungguh aku mendengar nabi SAW berdoa dengan doa tersebut, maka aku cinta untuk berpegang kepada sunnah beliau SAW, lalu beliau SAW berdoa: “Ya ALLAAH sungguh aku berlindung kepada-MU dari kekufuran dan kefakiran, ya ALLAAH aku berlindung kepada-MU dari azab qubur, tiada Ilah selain ENGKAU.” Diulangi 3x di pagi hari dan 3x di sore hari, maka aku cinta untuk berpegang kepada sunnah beliau SAW. [1] Dalam riwayat lain dikatakan: “Aku berlindung kepada ALLAAH dari azab kubur.” [2]
حَدَّثَنِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا
عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْالنَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Telah menceritakan kepadaku Syaddad bin Aus semoga ALLAAH meridhoinya: Dari Nabi SAW bahwa tuannya doa istighfar (maksudnya doa istighfar yg paling sempurna –pen) adalah kamu mengucapkan: Ya ALLAAH ENGKAU-lah RABB-ku tiada Ilah selain ENGKAU, ENGKAU telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-MU, dan aku memegang dalam janji-MU dan prasetia-MU sekuat tenagaku, maka aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, aku mengakui pada-MU atas nikmat-MU padaku dan aku mengakui
pada-MU atas dosa-dosaku, maka ampunilah aku karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa selain ENGKAU. Maka barangsiapa yang berdoa dengannya di waktu siang dengan sepenuh keyakinannya lalu ia mati di hari itu sebelum sore maka ia termasuk penduduk Syurga, dan barangsiapa yang berdoa dengannya di waktu malam dengan sepenuh keyakinannya lalu ia mati di hari itu sebelum pagi maka ia
termasuk penduduk Syurga”. [3]
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قال : أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه غفرت ذنوبه وإن كان قد فر من الزحف “
Dari Ibnu Mas’ud RA berkata: Bersabda Nabi SAW: “Barangsiapa berdoa: Aku mohon ampun kepada ALLAAH yang tiada Ilah selain DIA, yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluq-NYA dan aku bertobat kepada-NYA. Maka diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan pertempuran.” [4]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قولوا اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد والسلام كما قد علمتم. وفي رواية : عن أبي مسعود الأنصاري قال : أتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم في مجلس سعد بن عبادة فقال بشير بن سعد أمرنا الله أن نصلي عليك يا رسول الله فكيف نصلي عليك قال فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى تمنينا أنه لم يسأله ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( قولوا : اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد والسلام كما علمتم )
Bersabda Nabi SAW: Ucapkan oleh kalian semua: Ya ALLAAH berikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikan barakah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, di seluruh alam ini hanya ENGKAU lah yang Maha Terpuji lagi Maha Terhormat, sedangkan ucapan salam adalah seperti yang telah
kalian ketahui.[4] Dalam riwayat yang lain: Dari Abu Mas’ud Al-Anshary berkata: Nabi SAW datang kepada kami di majlis Sa’ad bin Ubadah, maka berkatalah Basyir bin Sa’d: ALLAAH telah memerintahkan kepada kita untuk ber-shalawat kepada anda wahai RasuluLLAAH, maka bagaimana caranya kami ber-shalawat kepada anda..? Maka Nabi SAW diam sampai kami berharap seandainya ia tidak bertanya demikian, lalu tiba-tiba beliau menjawab: Ucapkan oleh kalian semua: Ya ALLAAH berikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikanshalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berikanlah barakah kepada Muhammad dankepada keluarga Muhammad, sebagaimana ENGKAU memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim, di seluruh alam ini hanya ENGKAU lah yang Maha Terpuji lagi MahaTerhormat, sedangkan ucapan salam adalah seperti yg telah kalian ketahui [6].
” لقيت إبراهيم ليلة أسري بي ، فقال : يا محمد أقرئ أمتك مني السلام و أخبرهم : أن الجنة طيبة التربة عذبة الماء و أنها قيعان ، غراسها سبحان الله و الحمد لله ولا إله إلا الله و الله أكبر ” وفي رواية : ما أثقلهن في الميزان : سبحان الله و الحمد لله و لا إله إلا الله و الله أكبر و الولد الصالح يتوفى للمرء المسلم فيحتسبه “وفي رواية : ” من قال : سبحان الله و الحمد لله و لا إله إلا الله و الله أكبر غرس الله بكل واحدة منهن شجرة في الجنة
Sabda Nabi SAW: Aku bertemu dg nabi Ibrahim di malam aku di-Isra’-kan dan ia berkata: Wahai Muhammad sampaikan kepada ummatmu salam dari-Ku dan sampaikan kepada mereka: Sesungguhnya Syurga itu tanahnya amat bersih dan berkilauan dan airnya amat sangat segar diminum, dan amat sangat indah (pemandangannya), rumput-rumputnya adalah kalimat Maha Suci ALLAAH dan segala puji bagi ALLAAH dan Tiada Ilah selain ALLAAH dan ALLAAH Maha Besar, dan anak-anak kecil yang meninggal dari seorang muslim namun ia mampu bersabar. [7] Dlm riwayat yang lain dikatakan: Barangsiapa yang mengucapkan: Maha Suci ALLAAH dan segala puji bagi ALLAAH dan Tiada Ilah selain ALLAAH dan ALLAAH Maha Besar, maka ALLAAH SWT menciptakan dari tiap kalimat yg diucapkannya itu sebuah pohon yang bermacam-macam di Syurga untuknya. [8]
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ
Barangsiapa yang mengucapkan: Tiada Ilah selain ALLAAH yang Esa tiada sekutu bagi-NYA, bagi-NYA kerajaan dan bagi-NYA puji dan DIA Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Diulang 10x maka sebanding pahalanya dengan memerdekakan 4 orang dari keturunan Nabi Ismail”. [9]
من قال : سبحان الله و بحمده سبحانك اللهم و بحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك ، فقالها في مجلس ذكر كانت كالطابع يطبع عليه و من قالها في مجلس لغو كانت كفارة له
Barangsiapa berkata: Maha Suci ALLAAH dg memuji-NYA, maha Suci ENGKAU ya ALLAAH
dengan memuji-MU, aku bersaksi tiada Ilah selain ENGKAU, aku mohon ampun kepada-MU dan aku bertobat kepada-MU. Lalu ia membacanya di majlis dzikir maka ia bagaikan stempel yang menutup/ menyempurnakan dzikir-dzikir tersebut, dan barangsiapa yang mengucapkannya di majlis senda gurau maka ia menjadi penebus/ kafarat bagi dosanya”. [10]
Ikhwah wa akhwat fiLLAAH,
Demikianlah doa Al-Ma’tsurat karangan Al-Imam Al-Mujaddid Hasan Al-Banna rahimahuLLAAH telah kami takhrij dan sekaligus tahqiq hadits-haditsnya menurut yang hal-hal yang telah disepakati oleh para muhaddits, selain dari yang telah aku tuliskan disini kami dapati ada beberapa masalah dlm hadits-haditsnya, baik yang dha’if, munkar ataupun maudhu’ menurut sebagian ulama, sehingga akmi tidak mencantumkannya, demi menjaga kaidah: Keluar dari pertengkaran adalah lebih utama (خروج من الخلاف
أفضل)..
Adapun jika yang ingin membaca do’a-do’a yang lain (baik dari do’a Al-Ma’tsurat yang tidak dicantumkan disini maupun ditambah dangan doa-lain-lainnya) maka sepanjang tidak diniatkan sebagai hadits Nabi SAW maka diperbolehkan, karena para ulama salaf-pun telah berdoa dengan berbagai doa yang lain, yang telah mereka buat dan susun sendiri, dan semua doa mereka itu telah dicantumkan dan dapat dibaca pada
muqaddimmah maupun khawatim kitab-kitab mereka..
Maka selesailah kitab ini dengan idzin ALLAAH Ta’ala.. Dan kami tutup tulisan ini dengan doa dua orang hamba yang amat shalih dalam Al-Qur’an: “Ya ALLAAH terimalah pekerjaan kami ini, sesungguhnya ENGKAU Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…”[11]
[1] HR Abu Daud, dalam Al-Adab, hadits no. 5090; Nasa’i, dlm Amalul Yaumi wal Laylah, XXII/572; Ibnu Sunni, hadits no. 67; Ahmad, V/42; di-hasan-kan oleh Albani dalam Tamamul Minah, I/232
[2] Zhilalul Jannah, II/119 hadits no. 119 no. 872
[3] HR Bukhari, XIX/363, hadits no. 5831
[4] HR Al-Hakim, I/692, hadits no. 1884 dan ia berkata : Shahih sesuai syarat Syaikhan, dan disepakati oleh Albani di beberapa tempat dlm tulisannya, seperti dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, II/125 no. 1622; Shahih wa Dha’if Sunan Abi Daud, IV/17 no. 1517; Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, VIII/77 no. 3577; dan dalam Tahqiq Riyadhus Shalihin, I/639 no. 1883 ia berkata: Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang kuat, adapun yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari jalan Zaid maula Nabi SAW dlm sanad-nya ada orang yang tak dikenal, tetapi sebagai syahid maka tidak mengapa dan hadits ini memiliki beberapa penguat yang lainnya.
[5] HR At-Turmudzi, hadits no. 3220 dan di-shahih-kan oleh Albani dlm beberapa kitabnya, yaitu dalam Shahih wa Dha’if Sunan At-Turmudzi, VII/220 no. 3450; dalam Shahih wa Dha’if Sunan An-Nasa’i, III/429; dan dalam Shahih Sunan Abi Daud, no. 901
[6] HR Ibnu Mas’ud dalam Fadhlus Shalah ‘alan Nabiyy SAW, Al-Juhdhiy Al-Malikiy, I/59 hadits no. 63, dg tahqiq Albani dan di-shahih-kannya [47]. Dalam 2 riwayat hadits di atas, sengaja ana mencantumkan shalawat yang menggunakan lafzh: “di seluruh alam ini” (في العالمين) untuk menunjukkan bahwa tambahan ini adalah shahih, berbeda dangan sebagian orang yang menuduh bahwa tambahan yang demikian dha’if, waLLAAHul musta’an
[7] HR At-Turmudzi, II/258 dan di-shahih-kan Albani dlm Ash-Shahihah, I/165
[8] HR Ibnu Hibban, hadits no. 2328; Al-Hakim, I/511; dan di-shahih-kan Albani dalam Ash-Shahihah, III/202
[9] HR At-Thabrani dalam Al-Ausath, II/235 dan di-shahih-kan Albani dalam Ash-Shahihah, VI/890; dan tentang penyebutan 100x di-shahih-kannya dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, I/160 no. 658
[10] HR Muslim, XIII/203, hadits no. 4859
[11] HR At-Thabrani, I/79 hadits no. 2; Hakim, I/537 dia berkata : Shahih sesuai syarat Muslim, dan diperkuat oleh Al-Mundziri, II/236 dia berkata : Rijal-nya adalah Rijal hadits shahih. Disepakati pula oleh Al-Haitsami, X/142-423 dan juga oleh Albani, dlm Ash-Shahihah, I/120
http://www.al-ikhwan.net/shahih-al-matsurat-583/
Adab Berdo’a atau Berdzikir
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan pada saat berdo’a ataupun pada saat berdzikir. Inti dari adab-adab ini adalah bahwa adab dzikir dan do’a harus memiliki dalil yang jelas, baik itu dari Al-Qur’an atau dari Al-Hadits, bukan berdasarkan petunjuk hawa nafsu.
“Sekali-kali tidak! Demi Tuhanmu! Mereka belum beriman, sampai mereka menjadikan kamu (wahai Muhammad) sebagai hakim bagi semua urusan mereka, lalu tidak ada keberatan sedikitpun di dalam hati mereka atas putusanmu dan mereka pasrah dengan hati yang lapang.” (QS An-Nisa’, 4/65)
“Dan apa-apa yang diberikan oleh Rasul maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah, dan takutlah kepada ALLAH! Sesungguhnya ALLAH amat keras siksanya.” (QS Al-Hasyr, 59/7)
“Dan hendaklah merasa takut orang yang menyelisihi perintah Rasul akan ditimpa suatu musibah atau adzab yang pedih.” (QS An-Nur, 24/63)
Berikut ini adalah beberapa hal tersebut:
1. Doa dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Berkata Syaikh Al-Abubakar Jazairi : “Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama, karena ia adalah kata-kata ALLAH SWT dan ia adalah doa & dzikir termulia yang hanya diberikan melalui lisan para Rasul.” [1]
2. Hendaklah memulai berdoa dengan menghafal doa yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Berkata Syaikhul Islam: “Doa dan dzikir adalah ibadah, dan syarat ibadah adalah ittiba’ (mengikuti) Nabi SAW, bukan mengikuti hawa nafsu & bukan pula mengada-ngada membuat sesuatu yang tidak ada contohnya dari nabi SAW
[2].” Lebih lanjut Syaikhul Islam berkata: “Diantara perbuatan tercela ialah orang yang menggunakan hizib dan wirid yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW, sekalipun itu berasal dari gurunya, sementara ia justru meninggalkan dzikir dan wirid yang diajarkan oleh Nabinya SAW, yang merupakan hujjah ALLAH SWT atas hamba-hamba-NYA [3].”
3. Hendaklah orang yang membaca doa/dzikir memahami maknanya dan wajib melaksanakan hukum ALLAH SWT setelah berdzikir tsb. Berkata Imam Ibnu Qayyim: “Dzikir yang paling baik adalah doa dan dzikir yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan, yaitu yang dicontohkan oleh RasuluLLAH SAW dan orang yang membacanya memahami maknanya dan apa yang terkandung di dalamnya [4].”
4. Tidak boleh disertai oleh sikap berlebih-lebihan, pamer (riya’), sikap khusyu yang dibuat-buat dsb. Imam Ibnul Jauzy berkata: “Iblis banyak menyesatkan kebanyakan orang awam yang menghadiri majlis dzikir.. Aku mengetahui banyak sekali yang hadir dalam majlis tsb bertahun-tahun mereka mengikuti dzikir, tetapi keadaan dan tingkahlaku mereka tidak berubah sedikitpun, mereka tetap saja berjual-beli dengan bunga (riba), menipu dalam bekerja, tidak mengetahui hukum-hukum dalam shalat, melakukan ghibbah.. Mereka adalah orang-orang yang terjebak tipu-daya syaithan, aku melihat mereka menyangka bahwa tangisan mereka di majlis dzikir/doa tsb bisa menghapus dosa-dosa mereka?! Sungguh mereka telah tertipu [5].”
5. Menghindari berkumpul dalam satu suara dengan pimpinan satu orang, atau menggunakan gaya dan cara ataupun waktu-waktu yang ditentukan tanpa didasari dalil. Seorang sahabat AbduLLAH bin Mas’ud ra dalam atsar yang shahih pernah melihat suatu kaum berkumpul di mesjid membuat beberapa kelompok, tiap kelompok ada yang memimpin dan di tangan mereka ada biji-bijian lalu sang pemimpin berkata: “Bertakbirlah 100 kali!” maka mereka pun melakukannya, lalu berkata lagi sang pemimpin: “Bertahlillah 100 kali!” Maka merekapun melakukannya, lalu ia pun berkata lagi: “Bertasbihlah 100 kali!” Maka mereka pun menurutinya. Lalu Ibnu Mas’ud mendatanginya dan berkata: “Apa yang kalian lakukan?” Jawab mereka: “Wahai Abu AbduRRAHMAN, batu-batu kerikil ini kami gunakan untuk menghitung tahlil dan tasbih kami.” Kata Ibnu Mas’ud: “Celakalah wahai ummat Muhammad, alangkah cepatnya kerusakan kalian, para sahabat masih banyak yang hidup, pakaian mereka belum lagi rusak dan bejana mereka belum lagi hancur apakah kalian merasa lebih baik dari agama mereka?” Maka jawab mereka: “Demi ALLAH, wahai Abu AbduRRAHMAN kami hanya menginginkan kebaikan.” Jawab Ibnu Mas’ud: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak tahu caranya [6].” Imam Asy-Syatibi berkata bahwa orang yang mengadakan dzikir berjama’ah dengan satu suara dan berkumpul pada waktu-waktu tertentu maka semua itu tidak benar dan tidak ada dalilnya [7].
6. Tidak boleh mengeraskan suara ketika berdzikir dan hendaklah dengan suara yang pelan dan lebih disunnahkan di tempat yang tersembunyi. Dalam Al-Qur’an diperintahkan kita berdoa dengan suara pelan (QS Al-A’raf, 7/55) dan dalam hadits shahih disebutkan bahwa salah satu yang akan dinaungi di Hari Qiyamah diantaranya adalah: “… seorang yang berdzikir kepada ALLAH ketika sendirian lalu berlinangan airmatanya.. [8]”
7. Tidak boleh berdzikir ketika khatib sedang berkhutbah (bagi laki-laki), saat buang hajat dan saat berhubungan suami-istri, saat membaca dalam shalat dan saat sangat mengantuk [9].
8. Hendaklah memulai dan mengakhiri doa dengan hamdalah dan lalu shalawat [10] yang diajarkan oleh Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAW.
9. Boleh mengangkat kedua tangan [11] tapi tanpa mengusapkannya ke muka [12], saat ber-istighfar disunnahkan memberi isyarat dengan satu jari [13], saat istisqa’ disunnahkan mengangkat tangan tinggi-tinggi tetapi dengan membalikkan telapak tangan [14].
10. Tidak benar menentukan batasan-batasan jumlah bilangan tanpa dasar hadits yang shahih, demikian pula mengambil potongan-potongan ayat atau huruf-huruf dalam Al-Qur’an, karena jika hal tersebut baik niscaya telah dilakukan oleh Nabi SAW [15].
ALLAHu a’lamu bish Shawab…
REFERENSI:
[1] Aysaru Tafsir, II/28
[2] Majmu Fatawa, XXII/510-511
[3] Ibid, XXII/525
[4] Al-Fawa’id, hal. 247; lih. Juga Fawa’idul Fawa’id oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, hal. 309
[5] Al-Muntaqa min Talbisu Iblis, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, hal. 542
[6] Sunan Ad-Darimi I/68-69, di-shahih-kan oleh Al-Albani dlm Ash-Shahihah, no. 2005
[7] Al-I’tisham, I/318-321
[8] HR Bukhari & Muslim, lih. Riyadhus Shalihin hadits no. 376
[9] Shahih dan Dha’if Kitab Al-Adzkar, hal. 58
[10] Ad-Da’a wa Ad-Dawa’, Ibnul Qayyim hal. 14-21
[11] Shahih Abi Daud, Al-Albani , I/279; Fathul Bari’ XI/143
[12] Demikian pula pendapat Imam An-Nawawi, ulama besar madzhab Syafi’i dalam kitabnya Al-Adzkar
[13] Shahih Muslim, hadits no. 874
[14] HR Bukhari no. & Muslim no. 896
[15] Al-I’tisham, I/318-319
http://www.al-ikhwan.net/hal-hal-yang-perlu-diperhatikan-saat-berdoa-ataupun-berdzikir-71/
“Sekali-kali tidak! Demi Tuhanmu! Mereka belum beriman, sampai mereka menjadikan kamu (wahai Muhammad) sebagai hakim bagi semua urusan mereka, lalu tidak ada keberatan sedikitpun di dalam hati mereka atas putusanmu dan mereka pasrah dengan hati yang lapang.” (QS An-Nisa’, 4/65)
“Dan apa-apa yang diberikan oleh Rasul maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah, dan takutlah kepada ALLAH! Sesungguhnya ALLAH amat keras siksanya.” (QS Al-Hasyr, 59/7)
“Dan hendaklah merasa takut orang yang menyelisihi perintah Rasul akan ditimpa suatu musibah atau adzab yang pedih.” (QS An-Nur, 24/63)
Berikut ini adalah beberapa hal tersebut:
1. Doa dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Berkata Syaikh Al-Abubakar Jazairi : “Al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama, karena ia adalah kata-kata ALLAH SWT dan ia adalah doa & dzikir termulia yang hanya diberikan melalui lisan para Rasul.” [1]
2. Hendaklah memulai berdoa dengan menghafal doa yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Berkata Syaikhul Islam: “Doa dan dzikir adalah ibadah, dan syarat ibadah adalah ittiba’ (mengikuti) Nabi SAW, bukan mengikuti hawa nafsu & bukan pula mengada-ngada membuat sesuatu yang tidak ada contohnya dari nabi SAW
[2].” Lebih lanjut Syaikhul Islam berkata: “Diantara perbuatan tercela ialah orang yang menggunakan hizib dan wirid yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW, sekalipun itu berasal dari gurunya, sementara ia justru meninggalkan dzikir dan wirid yang diajarkan oleh Nabinya SAW, yang merupakan hujjah ALLAH SWT atas hamba-hamba-NYA [3].”
3. Hendaklah orang yang membaca doa/dzikir memahami maknanya dan wajib melaksanakan hukum ALLAH SWT setelah berdzikir tsb. Berkata Imam Ibnu Qayyim: “Dzikir yang paling baik adalah doa dan dzikir yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan, yaitu yang dicontohkan oleh RasuluLLAH SAW dan orang yang membacanya memahami maknanya dan apa yang terkandung di dalamnya [4].”
4. Tidak boleh disertai oleh sikap berlebih-lebihan, pamer (riya’), sikap khusyu yang dibuat-buat dsb. Imam Ibnul Jauzy berkata: “Iblis banyak menyesatkan kebanyakan orang awam yang menghadiri majlis dzikir.. Aku mengetahui banyak sekali yang hadir dalam majlis tsb bertahun-tahun mereka mengikuti dzikir, tetapi keadaan dan tingkahlaku mereka tidak berubah sedikitpun, mereka tetap saja berjual-beli dengan bunga (riba), menipu dalam bekerja, tidak mengetahui hukum-hukum dalam shalat, melakukan ghibbah.. Mereka adalah orang-orang yang terjebak tipu-daya syaithan, aku melihat mereka menyangka bahwa tangisan mereka di majlis dzikir/doa tsb bisa menghapus dosa-dosa mereka?! Sungguh mereka telah tertipu [5].”
5. Menghindari berkumpul dalam satu suara dengan pimpinan satu orang, atau menggunakan gaya dan cara ataupun waktu-waktu yang ditentukan tanpa didasari dalil. Seorang sahabat AbduLLAH bin Mas’ud ra dalam atsar yang shahih pernah melihat suatu kaum berkumpul di mesjid membuat beberapa kelompok, tiap kelompok ada yang memimpin dan di tangan mereka ada biji-bijian lalu sang pemimpin berkata: “Bertakbirlah 100 kali!” maka mereka pun melakukannya, lalu berkata lagi sang pemimpin: “Bertahlillah 100 kali!” Maka merekapun melakukannya, lalu ia pun berkata lagi: “Bertasbihlah 100 kali!” Maka mereka pun menurutinya. Lalu Ibnu Mas’ud mendatanginya dan berkata: “Apa yang kalian lakukan?” Jawab mereka: “Wahai Abu AbduRRAHMAN, batu-batu kerikil ini kami gunakan untuk menghitung tahlil dan tasbih kami.” Kata Ibnu Mas’ud: “Celakalah wahai ummat Muhammad, alangkah cepatnya kerusakan kalian, para sahabat masih banyak yang hidup, pakaian mereka belum lagi rusak dan bejana mereka belum lagi hancur apakah kalian merasa lebih baik dari agama mereka?” Maka jawab mereka: “Demi ALLAH, wahai Abu AbduRRAHMAN kami hanya menginginkan kebaikan.” Jawab Ibnu Mas’ud: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak tahu caranya [6].” Imam Asy-Syatibi berkata bahwa orang yang mengadakan dzikir berjama’ah dengan satu suara dan berkumpul pada waktu-waktu tertentu maka semua itu tidak benar dan tidak ada dalilnya [7].
6. Tidak boleh mengeraskan suara ketika berdzikir dan hendaklah dengan suara yang pelan dan lebih disunnahkan di tempat yang tersembunyi. Dalam Al-Qur’an diperintahkan kita berdoa dengan suara pelan (QS Al-A’raf, 7/55) dan dalam hadits shahih disebutkan bahwa salah satu yang akan dinaungi di Hari Qiyamah diantaranya adalah: “… seorang yang berdzikir kepada ALLAH ketika sendirian lalu berlinangan airmatanya.. [8]”
7. Tidak boleh berdzikir ketika khatib sedang berkhutbah (bagi laki-laki), saat buang hajat dan saat berhubungan suami-istri, saat membaca dalam shalat dan saat sangat mengantuk [9].
8. Hendaklah memulai dan mengakhiri doa dengan hamdalah dan lalu shalawat [10] yang diajarkan oleh Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAW.
9. Boleh mengangkat kedua tangan [11] tapi tanpa mengusapkannya ke muka [12], saat ber-istighfar disunnahkan memberi isyarat dengan satu jari [13], saat istisqa’ disunnahkan mengangkat tangan tinggi-tinggi tetapi dengan membalikkan telapak tangan [14].
10. Tidak benar menentukan batasan-batasan jumlah bilangan tanpa dasar hadits yang shahih, demikian pula mengambil potongan-potongan ayat atau huruf-huruf dalam Al-Qur’an, karena jika hal tersebut baik niscaya telah dilakukan oleh Nabi SAW [15].
ALLAHu a’lamu bish Shawab…
REFERENSI:
[1] Aysaru Tafsir, II/28
[2] Majmu Fatawa, XXII/510-511
[3] Ibid, XXII/525
[4] Al-Fawa’id, hal. 247; lih. Juga Fawa’idul Fawa’id oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, hal. 309
[5] Al-Muntaqa min Talbisu Iblis, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, hal. 542
[6] Sunan Ad-Darimi I/68-69, di-shahih-kan oleh Al-Albani dlm Ash-Shahihah, no. 2005
[7] Al-I’tisham, I/318-321
[8] HR Bukhari & Muslim, lih. Riyadhus Shalihin hadits no. 376
[9] Shahih dan Dha’if Kitab Al-Adzkar, hal. 58
[10] Ad-Da’a wa Ad-Dawa’, Ibnul Qayyim hal. 14-21
[11] Shahih Abi Daud, Al-Albani , I/279; Fathul Bari’ XI/143
[12] Demikian pula pendapat Imam An-Nawawi, ulama besar madzhab Syafi’i dalam kitabnya Al-Adzkar
[13] Shahih Muslim, hadits no. 874
[14] HR Bukhari no. & Muslim no. 896
[15] Al-I’tisham, I/318-319
http://www.al-ikhwan.net/hal-hal-yang-perlu-diperhatikan-saat-berdoa-ataupun-berdzikir-71/
Bahasa Allah

Ketika kecil, kita sering mendengar dari orang tua berbagai kisah yang menggambarkan tentang keadilan Allah SWT. Di antara kisah itu diceritakan ada seorang yang pernah meragukan keadilan Allah ketika membandingkan buah semangka dan beringin. Mengapa pohon semangka itu kecil, padahal buahnya besar -- sedang beringin sebaliknya? Ketika orang itu sedang asyik mengamati 'ketidak-adilan' pada pohon beringin itu, tiba-tiba beberapa buah pohon beringin jatuh dan mengenai kepalanya.
Seketika itu ia langsung beristighfar, ''Allah Mahaadil. Coba seandainya buah beringin sebesar semangka, tentu muka saya sudah hancur.'' Sebelum mengakhiri cerita itu, orang tua kita lalu menyimpulkan bahwa itulah cara Allah memperingatkan hamba-Nya. Orang tadi beruntung karena cepat menyadari kekeliruan jalan pikirannya terhadap keadilan Allah. Ia peka akan 'tanda-tanda' alam sebagai 'bahasa' Tuhan yang mengingatkan kesalahan pandangannya.
Tanda-tanda alam sebagai 'bahasa' Tuhan sesungguhnya tidak hanya terdapat pada kisah orang tua kita di atas. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mendapatkan berbagai peringatan dari 'bahasa' Allah itu. Dalam sejarah Islam, misalnya, 'bahasa' Allah untuk memberitahukan kepada manusia tentang kerasulan Muhammad saw, ditunjukkan dengan beraraknya awan yang selalu menaungi beliau ke mana pergi. Banyak rabbi Yahudi, antara lain Buhaira, masuk Islam setelah membaca 'bahasa' Allah tersebut.
Barangkali, kita juga sering diingatkan Allah akan kekeliruan langkah dan perilaku kita dengan bahasa-bahasa alam semacam itu. Tapi, karena kita kurang peka, peringatan-peringatan tersebut sering kita abaikan hingga akhirnya kita terkena bencana.
Sesungguhnya Allah masih terus mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan bahasa-bahasa alam. Ketika kita menyaksikan sepotong daun yang layu dan jatuh, itu sesungguhnya 'bahasa' Allah untuk mengingatkan kita bahwa pada saatnya kedudukan daun yang terletak pada setiap bagian pohon akan lengser juga.
Ibn Al-Arabi memandang alam sebagai simbol-simbol eksistensi Tuhan. Karena itu, kejadian sehari-hari di alam bisa merupakan 'perumpamaan' dari 'bahasa' Allah. Alquran menjelaskan, ''Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun bagi orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Tapi mereka yang kafir mengatakan, ''Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu banyak pula yang diberi petunjuk ... (Al-Baqarah: 26).
Saat ini, di zaman reformasi, 'bahasa' Allah tak hanya ditunjukkan melalui bahasa-bahasa alam yang halus, tapi melalui 'bahasa-bahasa' manusia yang nyata dan terang benderang. Lihat saja, betapa banyak penguasa dan hartawan yang dulu sangat dihormati dan disembah-sembah, tiba-tiba kini dicemooh orang. Itu semua terjadi karena mereka tak mau memperhatikan 'bahasa' Allah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. - ah
http://www.republika.co.id/berita/25251/Bahasa_Allah
Sikap optimistik

Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Tuhan. Sikap demikian hanya patut bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan (Q.S. 12:87). Orang mukmin berkeharusan untuk memiliki sikap dan pandangan yang optimistik, khususnya tentang masa depan dirinya di akhirat kelak. Dalam terminologi sufistik, ajaran tentang sikap dan pandangan yang optimistik ini disebut 'raja' (sikap penuh harap).
'Raja', menurut Abu al-Qasim al-Ashfahani, berarti kuatnya harapan seseorang akan tergapainya sesuatu yang didambakan. Bagi kaum sufi, dambaan itu bisa berupa ampunan Tuhan (maghfirah) dan perkenan-Nya (mardhatillah). Kuatnya harapan ini membuat kaum sufi semakin intens dalam beribadah, dan seakan tak mengenal lelah dalam melakukan riyadhah dan mujahadah demi tercapainya cita-cita (mathlub).
Sikap optimisme, seperti dikemukakan di atas, tentu tidak datang dengan sendirinya. Kemunculannya, harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan volume ibadahnya kepada Tuhan. Pada saat inilah, sikap optimisme itu tumbuh dan berkembang.
Untuk itu, optimisme yang disebut raja' bukanlah impian dan angan-angan belaka. Penulis kitab al-Hikam Ibnu 'Athaillah al-Sakandari mengemukakan, 'raja' adalah suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata. Jika tidak, ia bukanlah raja', tetapi angan-angan kosong (amniyyah) yang justru dikecam oleh agama. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Makruf al-Karkhi, pakar tasawur lainnya. Baginya, keinginan masuk surga tanpa bekerja tergolong dosa besar. ''Harapanmu untuk mendapat rahmat dari Tuhan yang kepada-Nya kamu sendiri tidak tunduk dan patuh adalah tindakan bodoh dan konyol,'' jelasnya.
Nabi Muhammad SAW sendiri mengecam orang-orang yang karena terbuai oleh harapan, mereka lantas malas bekerja dan beramal saleh. ''Orang yang kuat lagi cerdas,'' sabda Nabi, ''adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan bekerja untuk hari akhirat. Sedang orang yang lemah lagi konyol adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh berbagai harapan dan angan-angan kepada Tuhan.''
Agar terhindar dari kekonyolan ini, kaum sufi dan orang-orang bijak sering mengingatkan kita dengan firman Allah ini: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya (Q.S. 18:110).
Jadi, optimisme yang dikehendaki dan yang diajarkan kaum sufi adalah optimisme yang dibangun di atas landasan syar'iy yang sangat kuat, yaitu iman dan amal saleh. Pandangan demikian, tidak saja dapat memacu produktivitas kerja, tetapi juga memberikan suasana dan iklim yang sangat kondusif bagi kemajuan seseorang, baik dalam bidang fisik material maupun mental spiritual. - ah
http://www.republika.co.id/berita/26575/Sikap_optimistik
Nikmat Mata

Kita seringkali luput untuk memperhatikan nikmat mata yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Padahal mata merupakan salah satu nikmat Allah yang sangat besar manfaatnya untuk kehidupan kita. Mata adalah alat pengamat yang paling canggih. Ia mampu membedakan warna secara rinci dan tepat, yang tak mungkin dicapai oleh alat elektronik yang hebat sekalipun. Sayangnya, orang jarang memikirkan karunia Allah yang tiada taranya itu. Manusia condong kepada memperhatikan bentuknya dari luar, seperti bentuknya yang bulat, besar, dan kecil, atau warnanya yang hitam, coklat, dan biru. Orang jarang memperhatikan pemeliharaan dan kesehatan mata. Mata yang merupakan alat pengamat yang paling baik dan dapat dipercaya kecermatannya, seharusnya dipelihara dan dilindungi dari pengaruh buruk yang dapat mengganggu keselamatannya.
Apabila mata terlalu banyak melihat hal yang dilarang oleh agama, dan pengawasan akal tidak terlaksana karena ia lemah atau terpengaruh oleh keinginan negatif, maka mata akan kehilangan kemampuan untuk melihat. Ia tetap berkedip, tetapi tak mampu menangkap obyek yang dilihatnya, dan tidak mampu pula melaporkan yang dilihatnya. Di kala itu, orang dikatakan buta karena matanya tidak dapat lagi melaksanakan fungsinya.
Peristiwa seperti itu sering terjadi pada orang-orang yang mengalami konflik kejiwaan, yang menghilangkan kemampuan salah satu anggota tubuhnya untuk berfungsi. Dalam hal ini, yang terjadi adalah hilangnya fungsi melihat pada matanya. Obatnya adalah perawatan kejiwaan (psikoterapi). Ketika itu manusia baru sadar, betapa pentingnya mata. Allah mengingatkan manusia yang tak mampu memanfaatkan alat-alat indranya dengan baik, ''Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata, tapi tak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Mereka mempunyai telinga, tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q. S. 7:179).
Demikianlah gambaran manusia yang tidak mau menggunakan mata. Alangkah sombongnya manusia yang tidak mau tahu tentang yang menganugerahkan mata yang mampu melihat, menangkap, dan menyampaikan laporan tentang temuannya secara cermat dan jujur. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menggunakan mata untuk kebaikan. - ahi
http://www.republika.co.id/berita/32727/Nikmat_Mata
Islamisasi Ilmu Dari Salman Kemudian Terabaikan
Gagasan Islamisasi Ilmu memang mendesak untuk dilakukan. Sebab, ilmu yang rusak, adalah sumber dari segala kerusakan. Dari ilmu yang rusak, lahir pula cendekiawan yang rusak bahkan ulama yang rusak.
Pada 16 Desember 2008 lalu, dalam sebuah diskusi di Masjid Salman ITB-Bandung, Pendidikan Islam, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud meng ingatkan tentang kembali sebuah gagasan lama yang sempat semarak, tapi kemudian terabaikan: “Islamisasi ilmu.” Pada Desember itu, Prof. Wan Mohd Nor, alumnus Chicago University yang kemudian berguru kepada begawan Islmisasi ilmu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, melakukan serangkaian diskusi di sejumlah kampus di Jawa (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Uni versitas Pajajaran Bandung, dan Uni ver sitas Indonesia). Tema sentral diskusi itu adalah perlunya gerakan “Islamisasi il mu” dihidupkan lagi di dunia Islam, khu susnya di Indonesia, sebagai negara Mus lim terbesar.
Tiga hari sebelumnya, saat membuka seminar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, wakil ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menekankan pentingnya integrasi antara keilmuan dan akhlak. Karena itu, menurutnya, diperlukan sebuah pengkajian yang serius terhadap ilmu pengetahuan serta mengintegrasikannya dengan nilainilai luhur Islam atau yang dikenal sebagai “Islamisasi”.
Pada kesempatan itu, Prof. Wan Mohd Nor mempresentasikan makalah bertajuk “Dewesternization and Islamization: Their Epistemic Framework and Final Purpose”. Tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin saat ini, kata Prof. Wan begitu dia biasa disapa — adalah problem ilmu. Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnostisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme.
Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius dalam sejumlah hal. Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisika, mengosongkan manusia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia. Kedua, melahirkan dualisme. Manusia dibuat terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, seperti dikotomi dunia-akhirat, agama-sains, tekstual-kontekstual, akalwahyu, objektif-subjektif, induktifdeduktif dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluk yang terbelah jiwanya (split personality).
Sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis-sekuler yang anti Tuhan ini diperlukan de westernisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer. kontemporer. Karena telah begitu dominannya paradigma keilmuan Barat saat ini, maka salah satu aspek penting dalam Islamisasi Ilmu adalah melakukan “Dewesternisasi”. Proses ini bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannya. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worldview (pandangan hidup) Barat yang bertentangan dengan worldview Islam yang ‘tauhidi’ dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad.
Dari Masjid Salman
Bagi para akademisi Muslim di ITB, ide Islamisasi Ilmu bukanlah hal yang baru. Tahun 1981, penerbit Pustaka-Salman ITB, telah menerbitkan buku Islam dan Sekularisme, karya Prof. Naquib al-Attas. Tahun 1984, juga diterbitkan buku Islamisasi Pengetahuan karya Prof. Ismail Ra ji al-Faruqi. Tahun 1983, juga diterbitkan buku penting karya Muhammad Asad, yang berjudul Islam Disimpang Jalan (terjemah dari Islam at The Crossroads, yang terbit pertama tahun 1934).
Muhammad Asad mengatakan seorang Yahudi yang sebelum masuk Islam bernama Leo pold Weiss – problem terberat yang diha dapi umat manusia adalah dominasi per adaban Barat yang materialistik dan anti-agama. Sebab, katanya, saripati per adaban Barat modern adalah ‘irreligious’. Semangat Barat modern untuk membuang semua unsur agama dalam berbagai aspek kehidupan – termasuk bidang keilmuan itulah – itulah yang kemudian dijadikan sebagai standar pengembangan keilmuan dan pendidikan di dunia internasional. Agama dijauhkan dari ilmu pengetahuan. Sarjana biologi, kedokteran, fisika, matematika meskipun Muslim dijauhkan dari ilmuilmu keislaman, seperti al-Quran, hadits, ushul fiqih, bahasa Arab, dan sebagainya.
Bahkan, bidang ilmu-ilmu keislaman pun tak luput dari westernisasi. Meskipun men dirikan berbagai pusat studi agama, tetapi agama tetap diletakkan sebagai “produk budaya”. Agama, juga Tuhan, ha rus tunduk dalam kerangka pikir manusia. Manusialah yang jadi Tuhan dan ber hak mengatur Tuhan. Bukan Tuhan lagi yang mengatur manusia. Dalam istilah Prof. al-Attas: “Man is deified and Deity humanised.” (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, vol 2, hal. 231-240).
Di Masjid Salman, Prof. Wan juga sempat mengklarifikasi gagasan Islamisasi Ilmu dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, sehingga gagasan yang sempat berkembang pada tahun 1980-an itu kemudian tenggelam. Ide Islamisasi, menurutnya, terburu-buru menjadi po -pu ler tanpa disertai penjelasan dan konsep yang mendasar. Padahal, konsep itu sebenarnya telah dipikirkan dan dijabarkan bahkan diaplikasikan dengan matang oleh Prof. Naquib al-Attas.
Pada bab berjudul “Dewesternisasi Pengetahuan” dari buku terbitan Pustaka-Salman ITB tahun 1981, dikutip katakata Prof. Naquib al-Attas tentang karakter keilmuan Barat:
“Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa tantangan terbesar yang secara diam-diam telah timbul dalam zaman kita adalah tantangan pengeta huan, memang, tidak sebagai tantangan terhadap kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Pengetahuan Barat itu sifatnya telah menjadi penuh permasalahan karena ia telah kehilangan maksud yang sebenarnya sebagai akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ia juga telah menyebabkan kekacauan dalam kehidupan manusia, dan bukannya perdamaian dan keadilan. Pengetahuan Barat tersebut berdalih betul, namun hanya memberi hasil kebingungan dan skeptisisme. Barat telah mengangkat peraguan dan pendugaan ke derajat ‘ilmiah’ dalam hal metodologi. Peradaban Barat juga memandang keragu-raguan sebagai suatu sarana epistemologis yang cukup baik dan istimewa untuk mengejar kebenaran.” (hal. 195-196).
Ya. Ilmu adalah sumber dari segala problem kemanusiaan. Jika ilmu yang dipelajari oleh umat manusia adalah ilmu yang rusak, maka rusaklah pikirannya. Lalu, menyusul, rusak pula perilakunya. Ilmu yang salah akan menyebabkan tindakan yang salah pula. Seorang sekular akan berpandangan bahwa menggelar konser amal sambil bertelanjang dan ‘teler’ adalah sebuah amal kebajikan dan kemanusiaan. Bagi seorang humanis sekular, kemanusiaan adalah di atas nilai agama. Seorang pezina tetap bisa dihargai sebagai manusia terhormat, jika dia suka menolong orang lain.
Tujuan ilmu
Dalam bukunya, What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization, Tim Wallace-Murphy mengingatkan, agar orang-orang Barat tidak melupakan hutang budi mereka terhadap Islam. Buku ini sarat dengan datadata sejarah transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke dunia Barat di zaman Pertengahan dan abad modern. Tetapi, karena semangat pemberontakan terhadap agama yang sangat tinggi di Eropa, ilmu pengetahuan itu kemudian dipisahkan dari unsur-unsur ketuhanan. Unsur rasio menjadi satu-satunya penentu kebenaran. Unsur wahyu dan ketuhanan dibuang jauh-jauh dari dunia ilmiah.
Apa yang terjadi ketika ilmu menjadi tersekularkan? Ilmu kemudian kehilangan tujuan hakiki dan hanya berfungsi memenuhi hawa nafsu dan kebutuhan jangka pendek. Meskipun ilmu pengetahuan dan tek nologi yang mereka ciptakan mampu melahirkan peradaban yang “maju”, namun “kemajuan” tidak membawa pada ke te nangan, kedamaian dan keadilan. Padahal, dalam Islam, menurut Prof. Wan Mohd Nor, tujuan tertinggi dari ilmu adalah mencetak manusia-manusia yang beradab. Manusia yang beradab pada Allah, pada Rasul, pada ulama pewaris nabi, dan sebagainya.
Dalam pandangan Islam, ilmu harus mengantarkan manusia tidak menjadi syirik, sebab syirik adalah “kezaliman besar”, tindakan yang tidak beradab kepada Allah (QS 31:13). Ilmu yang benar, ha rus mengantarkan manusia kepada keyakinan dan kebahagiaan yang hakiki. Se bab, hanya dengan keyakinan, manusia akan mampu meraih kebahagiaan yang ha kiki.
Untuk itulah, gagasan Islamisasi Ilmu memang mendesak untuk dilakukan. Sebab, ilmu yang rusak, adalah sumber dari segala kerusakan. Dari ilmu yang rusak, lahir pula cendekiawan yang rusak; bahkan ulama yang rusak. Padahal, kata Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, rakyat rusak gara-gara penguasanya rusak; dan penguasa rusak, gara-gara ulama yang rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit “hubbuddunya” (gila dunia). Wallahu A’lam.
http://www.republika.co.id/berita/37082/Islamisasi_Ilmu_Dari_Salman_Kemudian_Terabaikan
Pada 16 Desember 2008 lalu, dalam sebuah diskusi di Masjid Salman ITB-Bandung, Pendidikan Islam, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud meng ingatkan tentang kembali sebuah gagasan lama yang sempat semarak, tapi kemudian terabaikan: “Islamisasi ilmu.” Pada Desember itu, Prof. Wan Mohd Nor, alumnus Chicago University yang kemudian berguru kepada begawan Islmisasi ilmu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, melakukan serangkaian diskusi di sejumlah kampus di Jawa (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Uni versitas Pajajaran Bandung, dan Uni ver sitas Indonesia). Tema sentral diskusi itu adalah perlunya gerakan “Islamisasi il mu” dihidupkan lagi di dunia Islam, khu susnya di Indonesia, sebagai negara Mus lim terbesar.
Tiga hari sebelumnya, saat membuka seminar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, wakil ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menekankan pentingnya integrasi antara keilmuan dan akhlak. Karena itu, menurutnya, diperlukan sebuah pengkajian yang serius terhadap ilmu pengetahuan serta mengintegrasikannya dengan nilainilai luhur Islam atau yang dikenal sebagai “Islamisasi”.
Pada kesempatan itu, Prof. Wan Mohd Nor mempresentasikan makalah bertajuk “Dewesternization and Islamization: Their Epistemic Framework and Final Purpose”. Tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin saat ini, kata Prof. Wan begitu dia biasa disapa — adalah problem ilmu. Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnostisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme.
Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius dalam sejumlah hal. Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisika, mengosongkan manusia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia. Kedua, melahirkan dualisme. Manusia dibuat terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, seperti dikotomi dunia-akhirat, agama-sains, tekstual-kontekstual, akalwahyu, objektif-subjektif, induktifdeduktif dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluk yang terbelah jiwanya (split personality).
Sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis-sekuler yang anti Tuhan ini diperlukan de westernisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer. kontemporer. Karena telah begitu dominannya paradigma keilmuan Barat saat ini, maka salah satu aspek penting dalam Islamisasi Ilmu adalah melakukan “Dewesternisasi”. Proses ini bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannya. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worldview (pandangan hidup) Barat yang bertentangan dengan worldview Islam yang ‘tauhidi’ dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad.
Dari Masjid Salman
Bagi para akademisi Muslim di ITB, ide Islamisasi Ilmu bukanlah hal yang baru. Tahun 1981, penerbit Pustaka-Salman ITB, telah menerbitkan buku Islam dan Sekularisme, karya Prof. Naquib al-Attas. Tahun 1984, juga diterbitkan buku Islamisasi Pengetahuan karya Prof. Ismail Ra ji al-Faruqi. Tahun 1983, juga diterbitkan buku penting karya Muhammad Asad, yang berjudul Islam Disimpang Jalan (terjemah dari Islam at The Crossroads, yang terbit pertama tahun 1934).
Muhammad Asad mengatakan seorang Yahudi yang sebelum masuk Islam bernama Leo pold Weiss – problem terberat yang diha dapi umat manusia adalah dominasi per adaban Barat yang materialistik dan anti-agama. Sebab, katanya, saripati per adaban Barat modern adalah ‘irreligious’. Semangat Barat modern untuk membuang semua unsur agama dalam berbagai aspek kehidupan – termasuk bidang keilmuan itulah – itulah yang kemudian dijadikan sebagai standar pengembangan keilmuan dan pendidikan di dunia internasional. Agama dijauhkan dari ilmu pengetahuan. Sarjana biologi, kedokteran, fisika, matematika meskipun Muslim dijauhkan dari ilmuilmu keislaman, seperti al-Quran, hadits, ushul fiqih, bahasa Arab, dan sebagainya.
Bahkan, bidang ilmu-ilmu keislaman pun tak luput dari westernisasi. Meskipun men dirikan berbagai pusat studi agama, tetapi agama tetap diletakkan sebagai “produk budaya”. Agama, juga Tuhan, ha rus tunduk dalam kerangka pikir manusia. Manusialah yang jadi Tuhan dan ber hak mengatur Tuhan. Bukan Tuhan lagi yang mengatur manusia. Dalam istilah Prof. al-Attas: “Man is deified and Deity humanised.” (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, vol 2, hal. 231-240).
Di Masjid Salman, Prof. Wan juga sempat mengklarifikasi gagasan Islamisasi Ilmu dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, sehingga gagasan yang sempat berkembang pada tahun 1980-an itu kemudian tenggelam. Ide Islamisasi, menurutnya, terburu-buru menjadi po -pu ler tanpa disertai penjelasan dan konsep yang mendasar. Padahal, konsep itu sebenarnya telah dipikirkan dan dijabarkan bahkan diaplikasikan dengan matang oleh Prof. Naquib al-Attas.
Pada bab berjudul “Dewesternisasi Pengetahuan” dari buku terbitan Pustaka-Salman ITB tahun 1981, dikutip katakata Prof. Naquib al-Attas tentang karakter keilmuan Barat:
“Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa tantangan terbesar yang secara diam-diam telah timbul dalam zaman kita adalah tantangan pengeta huan, memang, tidak sebagai tantangan terhadap kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Pengetahuan Barat itu sifatnya telah menjadi penuh permasalahan karena ia telah kehilangan maksud yang sebenarnya sebagai akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ia juga telah menyebabkan kekacauan dalam kehidupan manusia, dan bukannya perdamaian dan keadilan. Pengetahuan Barat tersebut berdalih betul, namun hanya memberi hasil kebingungan dan skeptisisme. Barat telah mengangkat peraguan dan pendugaan ke derajat ‘ilmiah’ dalam hal metodologi. Peradaban Barat juga memandang keragu-raguan sebagai suatu sarana epistemologis yang cukup baik dan istimewa untuk mengejar kebenaran.” (hal. 195-196).
Ya. Ilmu adalah sumber dari segala problem kemanusiaan. Jika ilmu yang dipelajari oleh umat manusia adalah ilmu yang rusak, maka rusaklah pikirannya. Lalu, menyusul, rusak pula perilakunya. Ilmu yang salah akan menyebabkan tindakan yang salah pula. Seorang sekular akan berpandangan bahwa menggelar konser amal sambil bertelanjang dan ‘teler’ adalah sebuah amal kebajikan dan kemanusiaan. Bagi seorang humanis sekular, kemanusiaan adalah di atas nilai agama. Seorang pezina tetap bisa dihargai sebagai manusia terhormat, jika dia suka menolong orang lain.
Tujuan ilmu
Dalam bukunya, What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization, Tim Wallace-Murphy mengingatkan, agar orang-orang Barat tidak melupakan hutang budi mereka terhadap Islam. Buku ini sarat dengan datadata sejarah transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke dunia Barat di zaman Pertengahan dan abad modern. Tetapi, karena semangat pemberontakan terhadap agama yang sangat tinggi di Eropa, ilmu pengetahuan itu kemudian dipisahkan dari unsur-unsur ketuhanan. Unsur rasio menjadi satu-satunya penentu kebenaran. Unsur wahyu dan ketuhanan dibuang jauh-jauh dari dunia ilmiah.
Apa yang terjadi ketika ilmu menjadi tersekularkan? Ilmu kemudian kehilangan tujuan hakiki dan hanya berfungsi memenuhi hawa nafsu dan kebutuhan jangka pendek. Meskipun ilmu pengetahuan dan tek nologi yang mereka ciptakan mampu melahirkan peradaban yang “maju”, namun “kemajuan” tidak membawa pada ke te nangan, kedamaian dan keadilan. Padahal, dalam Islam, menurut Prof. Wan Mohd Nor, tujuan tertinggi dari ilmu adalah mencetak manusia-manusia yang beradab. Manusia yang beradab pada Allah, pada Rasul, pada ulama pewaris nabi, dan sebagainya.
Dalam pandangan Islam, ilmu harus mengantarkan manusia tidak menjadi syirik, sebab syirik adalah “kezaliman besar”, tindakan yang tidak beradab kepada Allah (QS 31:13). Ilmu yang benar, ha rus mengantarkan manusia kepada keyakinan dan kebahagiaan yang hakiki. Se bab, hanya dengan keyakinan, manusia akan mampu meraih kebahagiaan yang ha kiki.
Untuk itulah, gagasan Islamisasi Ilmu memang mendesak untuk dilakukan. Sebab, ilmu yang rusak, adalah sumber dari segala kerusakan. Dari ilmu yang rusak, lahir pula cendekiawan yang rusak; bahkan ulama yang rusak. Padahal, kata Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, rakyat rusak gara-gara penguasanya rusak; dan penguasa rusak, gara-gara ulama yang rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit “hubbuddunya” (gila dunia). Wallahu A’lam.
http://www.republika.co.id/berita/37082/Islamisasi_Ilmu_Dari_Salman_Kemudian_Terabaikan
Gaji Seorang Ibu Rumah Tangga
Menjemput anak di sekolah merupakan hal emergency, karena biasanya anakku selalu di jemput oleh salah seorang tetanggaku. Menunggu jam pulang sekolah, saya dan ibu-ibu berkumpul di teras masjid. Udara terasa tak bersahabat, kulit terasa kering di panggang matahari siang. Ketika aku bersandar di salah satu tiang teras masjid, terasa sepoi angin membelai tubuh, rasa ngantukpun rasanya tak bisa dielakkan. Kelopak mata terasa berat, jika ada suara teriakan dari salah seorang murid dari ruang kelas, maka serentak kami terbangun.
Masjid itu letaknya di depan sekolah. Sekolah dan masjid merupakan satu kesatuan usaha, yang dikelola oleh suatu yayasan yang berbasis Islam di Sengata. Lapangan parkirnya tidak begitu luas, tapi cukup representative jika ada pertemuan wali murid.
“Jangan minder jadi seorang ibu rumah tangga.” Aku mulai membuka pembicaraan.
Menunggu memang sebuah pekerjaan yang melelahkan. Menjemput anak di sekolah diperlukan management yang tepat, Bagi ibu-ibu yang berkarier di rumahnya, dipastikan setiap subuhnya sudah berlenggak lengok mengejar jam tayang urusan antar jemput anaknya sekolah.
“Aku nggak minder lho… Cuma waktu kerja dulu aku sempat mikir juga. Rasanya gajiku habis untuk bayarin pembantu!” Seorang ibu menimpali ucapanku.
“Saya sering bantuin suamiku jika dapat proyek dari kantornya. Kadang bantuin mengetik, atau seperti ini…” Dia memperlihatkan kertas karton yang sedang di guntingnya. Ibu ini bercerita sambil asyik dengan kegiatannya. Dengan tangkas dia menggunting dengan teliti logo-logo untuk persiapan MTQ yang akan di gunakan sebagai tanda peserta.
Aku tersenyum simpul dan bergumam sendiri :” Ibu ini ternyata mampu memanfaatkan waktunya. Menunggu anak sekaligus mengerjakan tugas suami.”
“Mana karton yang lainnya? Daripada ngantuk, lebih baik bantuin.” Ada yang berbaik hati, menawarkan bantuannya.
Ibu-ibu yang berkumpul ternyata cukup kreatif. Ada mempunyai anak 3 orang, 6 orang dan 2 orang. Berkumpul pada pagi Jum’at ini, membuat hati tersirami. Ada tempat saling curhat tentang kegiatan yang tak habisnya bila hanya di rumah.
“Bayarin pembantu sekarang mahal. Dulu aku bayarin pembantu Rp.500.000,- ditambah ongkos taksinya”.
“Jika ambil tukang setrika, mintanya Rp.350.000,- per bulan.” Yang lain mulai buka mulut.
“Tukang cucipun, nggak mau dibayar kurang dari Rp. 300.000,-.” Mulai ramai ibu-ibu itu menimpali pancinganku.
Terlihat suasana mulai hangat. Dari suasana ngantuk menjadi forum pertemuan informal membahas mahalnya bayaran kepada seorang pembantu rumah tangga.
Kotaku merupakan kota tambang. Merupakan hal yang biasa bagi kami untuk membayar gaji seorang pembantu di atas lima ratus ribu rupiah per bulannya. Kadang ada yang dibayar satu juta rupiah, tergantung jenis pekerjaan dan kesepakatan antara pembantu dan majikan. Mungkin bagi di daerah lain, itu merupakan gaji seorang administrasi di sebuah kantor.
“Kalau dihitung-hitung, berapa gaji kita sebagai ibu rumah tangga?” Seorang ibu berbicara dengan nada bersemangat. Membuat ibu-ibu lainnya tersenyum dan bahkan tertawa. Meriah sekali! Aku suka suasana ini. Bertemu untuk saling diskusi. Untuk berbagi unek-unek yang tersimpan. Apalagi yang diajak diskusi satu profesi. Hem! Pasti mereka saling memahami dan mensupport apapun yang disampaikan.
Ibu-ibu pada sibuk menghitung dan akhirnya tertawa serempak. Tak ada hasil hitungan yang pasti. Mereka hanya menjawab dengan gelak tawa. Memposisikan diri sebagai pembantu. Menilai gaji yang akan mereka terima setiap bulannya.
“Bagaimana bila kita minta gaji ke suami masing-masing.” Ada ibu yang mulai memancing suasana.
Tak ada yang menjawab, karena anak-anak mereka telah bubar dari kelas masing-masing. Mereka menghampiri ibunya masing-masing dan merengek untuk cepat pulang. Kami hanya bisa saling tukar senyum, sebagai pengganti penutup acara informal kami.
Ketika pulang, aku masih memikirkan perbincangan pagi itu. Jika di kalkulasi memang seorang ibu rumah tangga akan mendapatkan pendapatan yang lumayan. Jika rumahtangganya adalah kariernya untuk mendapatkan “materi” maka si ibu akan mendapatkan pendapatan yang lumayan.
Mungkin ibu-ibu itu hanya mengeluarkan unek-uneknya untuk bisa dihargai oleh suaminya ataupun lingkungannya. Bahwa pekerjaan seorang ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak boleh di anggap remeh oleh siapapun.
Sebagai ibu rumah tangga yang muslimah, tentunya hitungan mendapatkan gaji sebagai ibu rumah tangga hanyalah sebuah “joke” untuk menyegarkan pikiran yang kadang buntu. Seringkali diharuskan pandai-pandai mengelola keuangan. Berapa pun yang diberikan oleh suami harus mampu mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga selama sebulan.
Allah S.W.T telah menyediakan “gaji” bagi seorang ibu rumah tangga, Bila ia menjalankan pekerjaan rumah tangganya dengan ikhlas, maka sama saja dia menjalankan amal sholeh yang tidak putus-putusnya. Tentu saja bagiannya adalah “syurga”.
Sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Aisyah : “ Beliau di tanya oleh seorang sahabat, amalan apa yang disukai oleh Allah? Maka di jawab oleh Aisyah bahwa amalan yang dikerjakan walaupun sedikit tapi dilakukan secara terus menerus”.
“Bila seorang wanita menjalankan sholat, puasa di bulan Ramadhan dan menyenangkan hati suaminya ( dalam kerangka syariat ) maka dia akan memasuki syurga dari pintu manapun yang dia sukai”. Begitulah salah satu hadits dari Rasulullah.
Semoga saya dan beserta ibu-ibu rumah tangga lainnya, diberikan oleh Allah S.W.T berupa kelapangan dada dan keikhlasan dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga. Allahumma Amin.
http://www.eramuslim.com/oase-iman/gaji-seorang-ibu-rumah-tangga.htm
Masjid itu letaknya di depan sekolah. Sekolah dan masjid merupakan satu kesatuan usaha, yang dikelola oleh suatu yayasan yang berbasis Islam di Sengata. Lapangan parkirnya tidak begitu luas, tapi cukup representative jika ada pertemuan wali murid.
“Jangan minder jadi seorang ibu rumah tangga.” Aku mulai membuka pembicaraan.
Menunggu memang sebuah pekerjaan yang melelahkan. Menjemput anak di sekolah diperlukan management yang tepat, Bagi ibu-ibu yang berkarier di rumahnya, dipastikan setiap subuhnya sudah berlenggak lengok mengejar jam tayang urusan antar jemput anaknya sekolah.
“Aku nggak minder lho… Cuma waktu kerja dulu aku sempat mikir juga. Rasanya gajiku habis untuk bayarin pembantu!” Seorang ibu menimpali ucapanku.
“Saya sering bantuin suamiku jika dapat proyek dari kantornya. Kadang bantuin mengetik, atau seperti ini…” Dia memperlihatkan kertas karton yang sedang di guntingnya. Ibu ini bercerita sambil asyik dengan kegiatannya. Dengan tangkas dia menggunting dengan teliti logo-logo untuk persiapan MTQ yang akan di gunakan sebagai tanda peserta.
Aku tersenyum simpul dan bergumam sendiri :” Ibu ini ternyata mampu memanfaatkan waktunya. Menunggu anak sekaligus mengerjakan tugas suami.”
“Mana karton yang lainnya? Daripada ngantuk, lebih baik bantuin.” Ada yang berbaik hati, menawarkan bantuannya.
Ibu-ibu yang berkumpul ternyata cukup kreatif. Ada mempunyai anak 3 orang, 6 orang dan 2 orang. Berkumpul pada pagi Jum’at ini, membuat hati tersirami. Ada tempat saling curhat tentang kegiatan yang tak habisnya bila hanya di rumah.
“Bayarin pembantu sekarang mahal. Dulu aku bayarin pembantu Rp.500.000,- ditambah ongkos taksinya”.
“Jika ambil tukang setrika, mintanya Rp.350.000,- per bulan.” Yang lain mulai buka mulut.
“Tukang cucipun, nggak mau dibayar kurang dari Rp. 300.000,-.” Mulai ramai ibu-ibu itu menimpali pancinganku.
Terlihat suasana mulai hangat. Dari suasana ngantuk menjadi forum pertemuan informal membahas mahalnya bayaran kepada seorang pembantu rumah tangga.
Kotaku merupakan kota tambang. Merupakan hal yang biasa bagi kami untuk membayar gaji seorang pembantu di atas lima ratus ribu rupiah per bulannya. Kadang ada yang dibayar satu juta rupiah, tergantung jenis pekerjaan dan kesepakatan antara pembantu dan majikan. Mungkin bagi di daerah lain, itu merupakan gaji seorang administrasi di sebuah kantor.
“Kalau dihitung-hitung, berapa gaji kita sebagai ibu rumah tangga?” Seorang ibu berbicara dengan nada bersemangat. Membuat ibu-ibu lainnya tersenyum dan bahkan tertawa. Meriah sekali! Aku suka suasana ini. Bertemu untuk saling diskusi. Untuk berbagi unek-unek yang tersimpan. Apalagi yang diajak diskusi satu profesi. Hem! Pasti mereka saling memahami dan mensupport apapun yang disampaikan.
Ibu-ibu pada sibuk menghitung dan akhirnya tertawa serempak. Tak ada hasil hitungan yang pasti. Mereka hanya menjawab dengan gelak tawa. Memposisikan diri sebagai pembantu. Menilai gaji yang akan mereka terima setiap bulannya.
“Bagaimana bila kita minta gaji ke suami masing-masing.” Ada ibu yang mulai memancing suasana.
Tak ada yang menjawab, karena anak-anak mereka telah bubar dari kelas masing-masing. Mereka menghampiri ibunya masing-masing dan merengek untuk cepat pulang. Kami hanya bisa saling tukar senyum, sebagai pengganti penutup acara informal kami.
Ketika pulang, aku masih memikirkan perbincangan pagi itu. Jika di kalkulasi memang seorang ibu rumah tangga akan mendapatkan pendapatan yang lumayan. Jika rumahtangganya adalah kariernya untuk mendapatkan “materi” maka si ibu akan mendapatkan pendapatan yang lumayan.
Mungkin ibu-ibu itu hanya mengeluarkan unek-uneknya untuk bisa dihargai oleh suaminya ataupun lingkungannya. Bahwa pekerjaan seorang ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak boleh di anggap remeh oleh siapapun.
Sebagai ibu rumah tangga yang muslimah, tentunya hitungan mendapatkan gaji sebagai ibu rumah tangga hanyalah sebuah “joke” untuk menyegarkan pikiran yang kadang buntu. Seringkali diharuskan pandai-pandai mengelola keuangan. Berapa pun yang diberikan oleh suami harus mampu mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga selama sebulan.
Allah S.W.T telah menyediakan “gaji” bagi seorang ibu rumah tangga, Bila ia menjalankan pekerjaan rumah tangganya dengan ikhlas, maka sama saja dia menjalankan amal sholeh yang tidak putus-putusnya. Tentu saja bagiannya adalah “syurga”.
Sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Aisyah : “ Beliau di tanya oleh seorang sahabat, amalan apa yang disukai oleh Allah? Maka di jawab oleh Aisyah bahwa amalan yang dikerjakan walaupun sedikit tapi dilakukan secara terus menerus”.
“Bila seorang wanita menjalankan sholat, puasa di bulan Ramadhan dan menyenangkan hati suaminya ( dalam kerangka syariat ) maka dia akan memasuki syurga dari pintu manapun yang dia sukai”. Begitulah salah satu hadits dari Rasulullah.
Semoga saya dan beserta ibu-ibu rumah tangga lainnya, diberikan oleh Allah S.W.T berupa kelapangan dada dan keikhlasan dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga. Allahumma Amin.
http://www.eramuslim.com/oase-iman/gaji-seorang-ibu-rumah-tangga.htm
Subscribe to:
Posts (Atom)