Dalam beberapa serial ke depan,
Muslim.Or.Id
-insya Allah- akan mengangkat suatu pembahasan mengenai alam jin karena
urgennya pemahaman terhadap makhluk Allah yang satu ini, ditambah beberapa
kekeliruan pemahaman yang ada di tengah-tengah masyarakat. Semoga bermanfaat.
Jin Tertutup dari Pandangan Manusia
Perlu diketahui bahwa jin berada di alam yang berbeda, bukan di alam
manusia, bukan pula di alam malaikat.
Jin dinamakan jin karena mereka tertutup dari pandangan manusia. Ibnu ‘Aqil
mengatakan bahwa jin disebut jin karena mereka menjauh dan tertutup dari
pandangan manusia. Demikian nukilan dari
Aakamul Marjaan fii Ahkamil Jaan.
Allah
Ta’ala berfirman,
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا
تَرَوْنَهُمْ
“
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat
yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raf: 27).
Jin Diciptakan dari Api
Jin diciptakan dari api sebagaimana disebutkan dalam tiga dalil berikut ini,
وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ
السَّمُومِ
“
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat
panas.” (QS. Al Hijr: 27).
Begitu pula disebutkan dalam surat Ar Rahman,
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman: 15).
Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, dari ‘Aisyah, ia berkata,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ
مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“
Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam
diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian.” (HR. Muslim no. 2996).
Jin Diciptakan Lebih Dulu daripada Manusia
Sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ
حَمَإٍ مَسْنُونٍ (26) وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ
(27)
“
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah
menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas” (QS. Al
Hijr: 26-27).
Bentuk Fisik Jin
Kita tidaklah bisa memastikan bentuk fisik jin kecuali berdasarkan dalil. Di
antara dalil menyebutkan bahwa jin memiliki
qolbun (jantung, hati).
Sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ
وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا
يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ
كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 179). Di dalam ayat
ini disebutkan pula bahwa jin di samping memiliki hati (jantung), juga memiliki
mata dan telinga. Bahkan setan memiliki suara sebagaimana disebutkan dalam
ayat,
وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ
“
Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu
(ajakanmu)” (QS. Al Isra’: 64). Ayat di atas membicarakan tentang setan
(iblis).
Bahkan dalam berbagai
hadits
juga disebutkan bahwa setan memiliki lisan, jin itu makan, minum, dan tertawa,
juga disebutkan berbagai sifat lainnya.
Berbagai Sebutan untuk Jin
Ada berbagai macam penyebutan jin dalam bahasa Arab:
1- Untuk jin murni, maka disebut
jinni
2- Untuk yang tinggal bersama manusia disebut
‘aamir, bentuk
pluralnya adalah
‘ammaar
3- Jin yang mengganggu anak kecil disebut
arwah
4- Yang jahat dan sering mengganggu adalah
syaithon (setan)
5- Yang lebih jahat lagi adalah
maarid
6- Yang paling jahat dan begitu garang adalah
ifriit, bentuk
pluralnya adalah
‘afaarit.
Disebutkan dalam
hadits riwayat Ath
Thobroni dan Al Hakim dengan sanad shahih, jin itu ada tiga kelompok:
1- Jin yang terbang di udara
2- Jin yang berbentuk ular dan anjing
3- Jin yang lepas dan berjalan
Demikian bahasan ringkas untuk serial perdana ini. Moga Allah mudahkan untuk
dilanjutkan pada serial berikutnya.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin
‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
Kembali melanjutkan pembahasan alam
jin. Sebagian orang ada yang mengingkari keberadaan jin dengan berbagai alasan
yang mengada-ngada. Bahkan sebagian orang musyrik menyatakan bahwa yang
dimaksud jin adalah arwah-arwah bintang. Demikian yang disebutkan dalam Majmu’
Al Fatawa, 24: 280.
Sedangkan golongan falasifah
(ahli filsafat) berpendapat bahwa jin hanyalah keinginan jelek di hati manusia,
sedangkan malaikat adalah keinginan baik. Demikian disebutkan dalam Majmu’
Al Fatawa, 4: 346.
Ada pula peneliti kontemporer yang
menganggap bahwa jin hanyalah mikroba yang sudah ditemukan dalam penelitian
mutakhir. Dan juga ada pendapat dari Dr. Muhammad Al Bahi yang menyatakan bahwa
jin itu sama dengan malaikat, keduanya dianggap berada dalam satu alam.
Tidak Tahu Tidak Bisa
Menjadi Dalil Akan Tidak Adanya Sesuatu
Para pengingkar jin ini asalnya
beralasan dengan ketidaktahuan mereka akan wujud jin. Padahal tidak adanya ilmu
tidak bisa menjadi dalil akan tidak adanya sesuatu. Allah Ta’ala katakan
terhadap orang-orang semacam ini,
بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا
بِعِلْمِهِ
“Bahkan yang sebenarnya, mereka
mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna” (QS.
Yunus: 39).
Begitu pula manusia sebenarnya hanya
diberikan ilmu yang sedikit. Allah Ta’ala berfirman,
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ
الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu
tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu
diberi pengetahuan melainkan sedikit”.” (QS. Al Isra’: 85). Jadi tidak
seenak kita menentukan sesuatu itu ada atau tidak dan bagaimana gambarannya
terkhusus untuk masalah alam ghaib yang kita tidak tahu.
Dalil yang Menunjukkan
Adanya Jin
Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, “Tidak ada satu pun yang mengingkari keberadaan jin dari kaum
muslimin. Tidak ada yang mengingkari pula bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam diutus pada kalangan jin. Dan mayoritas orang kafir pun
menetapkan adanya jin. Adapun orang Yahudi dan Nashrani, mereka mengakui adanya
jin sebagaimana kaum muslimin. Jika ada dari kalangan ahli kitab tersebut yang
mengingkari keberadaan jin, maka sama halnya dengan sebagian kaum muslimin
seperti Jahmiyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi mayoritas kaum muslimin mengakui
adanya jin.
Pengakuan seperti ini dikarenakan keberadaan
jin itu secara mutawatir dari berita yang datang dari para nabi. Bahkan
keyakinan terhadap jin sudah ma’lum bidh dhoruroh yaitu tidak mungkin
seseorang tidak mengetahui perkara tersebut[1].” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 10).
Di tempat lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, “Seluruh kelompok kaum muslimin mengakui keberadaan jin sebagaimana
pula mayoritas kaum kafir dan sebagian besar ahli kitab, begitu pula kebanyakan
orang musyrik Arab dan selain mereka dari keturunan Al Hadzil, Al Hind dan
selain mereka yang merupakan keturunan Haam, begitu pula mayoritas penduduk
Kan’an dan Yunan yang merupakan keturunan Yafits. Jadi mayoritas manusia
mengakui adanya jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19: 13).
Beberapa dalil pendukung dari Al
Qur’an,
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ
اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا
“Katakanlah (hai Muhammad):
“Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan
Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran
yang menakjubkan.” (QS. Al Jin: 1).
Begitu pula dalam ayat dalam surat
yang sama,
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ
الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa
orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa
laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan.” (QS. Al Jin: 6).
Juga dalam ayat dalam surat lainnya,
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا
مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا
فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami
hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala
mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk
mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya
(untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29).
Dan masih banyak dalil lainnya dalam
Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan jin. Di samping itu banyak pula yang
menyaksikan dan mendengar keberadaan jin. Namun yang menyaksikan tidak tahu
kalau itu jin.
Mereka mengklaim itu adalah arwah atau makhluk ghaib. Sebagai
bukti pula bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara
dengan kalangan jin, mengajari mereka, dan membacakan Al Qur’an untuk mereka.
Adapun yang menyatakan bahwa jin itu
satu alam dengan malaikat, maka itu keliru. Karena alam kedua golongan tersebut
berbeda. Malaikat tidak makan dan tidak minum, serta tidak durhaka pada
perintah Allah dan hanya melakukan yang diperintahkan. Sedangkan jin itu ada
yang pendusta, jin pun makan dan minum, dan durhaka pada perintah Allah.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al
Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
[1] Al
ma’lum minad diin bid dhoruroh bisa berarti:
1- Mujma’ ‘alaih (sesuatu yang
disepakati), contoh wajibnya shalat lima
waktu
2- Laa yasa’u ahadan jahluhu, tidak
mungkin seseorang tidak mengetahui perkara tersebut
3-Ushul wa qowa’id al islam, pokok
dan landasan agama
seperti rukun Islam yang lima
(Penjelasan Syaikh ‘Ali bin ‘Abdul
‘Aziz Asy Syibl dalam kajian Al Qowa’idul Arba’)
Setan dan Iblis Bukan Malaikat
Setan banyak dibicarakan dalam Al Qur’an dan ia termasuk bagian dari alam
jin. Saat awal penciptaan, ia taat pada perintah Allah dan ia menghuni langit
bersama para malaikat, bahkan ia berada di surga. Kemudian ia durhaka pada
Rabbnya ketika ia diperintah sujud pada Adam, ia sombong sehingga ia pun
terusir.
Setan dan Namanya
Setan dalam bahasa Arab berarti sombong atau congkak. Ia disebut demikian
karena kecongkakan dia di hadapan Rabbnya. Ia pun disebut
thoghut sebagaimana
terdapat dalam ayat,
الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا
أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang
kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu,
karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa’:
76).
Setan disebut
thoghut karena ia telah melampaui batas dengan kesombongan
dan kecongkakan di hadapan Rabbnya, serta ia rela disembah oleh makhluk
lainnya.
Setan juga termasuk makhluk yang putus asa dari rahmat Allah. Oleh karenanya
ia dinamakan pula
iblis. Iblis dalam bahasa Arab berarti tidak memiliki
kebaikan apa-apa dan artinya berputus asa.
Jika kita menelaah Al Qur’an dan
hadits,
kita akan tahu bahwa setan adalah makhluk berakal, punya keinginan dan
bergerak, bukan seperti anggapan sebagian orang yang menyatakan sebagai ruh
jelek saja.
Setan Bagian dari Jin
Sebagaimana telah disebutkan bahwa setan adalah bagian dari jin. Namun
perkara ini terus jadi perselisihan sejak masa silam hingga saat ini. Dalil
yang jadi pegangan adalah firman Allah
Ta’ala,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ
فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
“Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia
enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
(QS. Al Baqarah: 34). Ayat ini dan semisalnya menunjukkan bahwa Allah mengecualikan
iblis dari para malaikat, sekaligus menunjukkan bahwa keduanya sejenis.
Dalam kitab
tafsir dan tarikh telah
dinukil berbagai pendapat ulama yang menunjukkan bahwa iblis dulunya adalah
bagian dari malaikat. Namun
sebenarnya yang tepat adalah bahwa
pengecualian yang disebutkan di atas tidak menunjukkan bahwa iblis dan malaikat
secara tegas itu sejenis. Karena ada kemungkinan
istitsna (pengecualian)
dalam ayat itu terputus dan menunjukkan berbeda jenis. Bahkan inilah yang benar
dan dibuktikan dalam ayat lain,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ
فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
“
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah
kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari
golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Al Kahfi:
50).
Dan kita juga punya dalil pendukung yang
shahih bahwa jin bukanlah
malaikat dan bukan manusia sebagaimana dalam
hadits,
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ
مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“
Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam
diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian.” (HR. Muslim no. 2996).
Al Hasan Al Bashri berkata, “Iblis bukanlah malaikat sama sekali.” (
Al
Bidayah wan Nihayah, 1: 79). Ibnu Taimiyah juga berkata, “Setan sebelumnya
bagian dari malaikat dilihat dari sisi bentuknya. Namun dilihat dari sisi asli
dan kesamaan tidaklah sama.” (
Majmu’ Al Fatawa, 4: 346)
Apakah Setan Aslinya dari Jin?
Apakah setan aslinya dari jin atau satu golongan dengan jin, maka tidak ada
dalil tegas yang mendukung hal ini. Namun yang nampak lebih kuat adalah setan itu
satu golongan dengan jin sebagaimana disebutkan dalam ayat,
إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ
“
Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah
Rabbnya.” (QS. Al Kahfi: 50).
Adapun Ibnu Taimiyah
rahimahullah berpendapat bahwa setan aslinya dari
jin sebagaimana Adam adalah asal dari manusia.
Demikian sedikit penjelasan tentang setan dan pembahasan lanjutan akan
ditindaklanjuti berikutnya dengan berharap kemudahan dari Allah.
Hanya Allah yang memberi taufik
dan kemudahan.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin
‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
Bahasan kali ini akan ditindaklanjuti dengan melihat rupa setan. Di
antaranya setan itu adalah makhluk yang memiliki tanduk dan rupa yang buruk.
Rupa Setan
Setan memiliki rupa yang amat jelek. Bahkan dalam khayalan setiap orang pun
sudah tertanam. Kepala setan pun digambarkan dalam Al Qur’an seperti mayang
dari pohon yang keluar dari dasar neraka. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,
إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ (64)
طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ (65)
“
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka
yang menyala. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.” (QS. Ash Shaffaat:
64-65).
Orang Nashrani di masa silam menggambarkan setan sebagai laki-laki yang
hitam kelam yang memiliki jenggot, alis mata yang runcing ke atas, mulut yang
mengeluarkan nyala api, bertanduk, memiliki kuku yang panjang dan berekor.
Setan Memiliki Dua Tanduk
Dalil yang menunjukkan bahwa setan memiliki dua tanduk:
Hadits Ibnu ‘Umar, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ
غُرُوبَهَا فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَىْ شَيْطَانٍ
“
Janganlah kalian melaksanakan shalat saat matahari terbit dan saat tenggelam
karena waktu tersebut adalah waktu munculnya dua tanduk setan” (HR. Muslim
no. 828).
Dari Ibnu ‘Umar pula, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِذَا طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلاَةَ
حَتَّى تَبْرُزَ ، وَإِذَا غَابَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلاَةَ حَتَّى
تَغِيبَ وَلاَ تَحَيَّنُوا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلاَ
غُرُوبَهَا ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ
“
Jika matahari mulai terbit, tinggalkanlah shalat sampai terang (matahari
terbit). Jika matahari mulai tenggelam, tinggalkanlah shalat, sampai
benar-benar hilang (tenggelam). Janganlah kalian bersengaja mengerjakan shalat
ketika matahari terbit dan tenggelam karena matahari terbit pada dua tanduk
setan.” (HR. Bukhari no. 3273)
Makna hadits di atas adalah bahwa sekelompok orang musyrik dahulu menyembah
matahari. Mereka sujud pada matahari ketika akan terbit dan tenggelam. Ketika
itu setan berdiri di arah matahari itu berada supaya orang-orang menyembahnya.
Hal ini ditegaskan dalam hadits berikut,
صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ
حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ
بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ ثُمَّ صَلِّ
فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ
“
Laksanakanlah shalat shubuh kemudian berhentilah mengerjakan shalat
hingga terbit matahari, hingga pula matahari meninggi karena matahari terbit
ketika munculnya dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir sujud pada
matahari. Kemudian setelah itu shalatlah karena shalat ketika itu disaksikan.”
Dan
hadits itu disebutkan pula,
حَتَّى تُصَلِّىَ الْعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ
الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَىْ
شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ
“
Hingga engkau shalat ‘Ashar kemudian setelah itu berhentilah shalat
hingga matahari tenggelam karena saat itu matahari tenggelam antara dua tanduk
setan dan saat itu orang-orang kafir sujud pada matahari.” (HR. Muslim no.
832).
Hadits larangan shalat di atas dipahami untuk shalat yang tidak memiliki
sebab seperti shalat sunnah mutlak, yaitu asal shalat
sunnah saja dua raka’at. Jika shalat
yang memiliki sebab seperti tahiyyatul masjid, shalat gerhana, shalat setelah
wudhu, atau qodho’ shalat yang luput, maka dibolehkan meskipun pada waktu
terlarang untuk shalat. Karena dalam
hadits
larangan di atas disebutkan,
وَلاَ تَحَيَّنُوا بِصَلاَتِكُمْ
“
Janganlah mengerjakan shalat
(yang tidak memiliki sebab) secara sengaja …”
Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin
‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
Perlu diketahui bahwa jin -termasuk pula setan- melakukan aktivitas makan
dan minum. Beberapa dalil membuktikan hal ini.
Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata,
أَنَّهُ كَانَ يَحْمِلُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه
وسلم – إِدَاوَةً لِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَتْبَعُهُ بِهَا
فَقَالَ « مَنْ هَذَا » . فَقَالَ أَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ . فَقَالَ « ابْغِنِى
أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا ، وَلاَ تَأْتِنِى بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ » .
فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ أَحْمِلُهَا فِى طَرَفِ ثَوْبِى حَتَّى وَضَعْتُ إِلَى
جَنْبِهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ ، حَتَّى إِذَا فَرَغَ مَشَيْتُ ، فَقُلْتُ مَا بَالُ
الْعَظْمِ وَالرَّوْثَةِ قَالَ « هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ ، وَإِنَّهُ
أَتَانِى وَفْدُ جِنِّ نَصِيبِينَ وَنِعْمَ الْجِنُّ ، فَسَأَلُونِى الزَّادَ ،
فَدَعَوْتُ اللَّهَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ إِلاَّ
وَجَدُوا عَلَيْهَا طَعَامًا »
Bahwasanya ia pernah membawakan pada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam wadah
berisi air wudhu dan hajat beliau. Ketika ia membawanya, Nabi
shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa ini?” “Saya, Abu Hurairah”, jawabnya.
Beliau pun berkata, “
Carilah beberapa buah batu untuk kugunakan bersuci. Dan
jangan bawakan padaku tulang dan kotoran (telek).” Abu Hurairah berkata,
“Kemudian aku mendatangi beliau dengan membawa beberapa buah batu dengan ujung
bajuku. Hingga aku meletakkannya di samping beliau dan aku berlalu pergi.
Ketika beliau selesai buang hajat, aku pun berjalan menghampiri beliau dan
bertanya, “
Ada apa dengan tulang dan kotoran?” Beliau bersabda, “
Tulang
dan kotoran merupakan makanan jin. Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah
didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin dan mereka adalah sebaik-baik jin.
Mereka meminta bekal kepadaku. Lalu aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar
tidaklah mereka melewati tulang dan kotoran melainkan mereka mendapatkannya
sebagai makanan”. (HR. Bukhari no. 3860)
Begitu pula dalam hadits lainnya, dari ‘Abdullah bin Mas’ud disebutkan,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلاَ بِالْعِظَامِ
فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ
“
Janganlah kalian beristinja’ (membersihkan kotoran pada dubur) dengan
kotoran dan jangan pula dengan tulang karena keduanya merupakan bekal bagi
saudara kalian dari kalangan jin.” (HR. Tirmidzi no. 18. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
shahih)
Juga diceritakan dalam
hadits
lainnya bahwa setan makan dengan tangan kiri. Sedangkan kita diperintahkan
menyelisihi setan dalam hal tersebut.
Dalam Shahih Muslim, dari Ibnu ‘Umar
radhiyallahu ‘anha, Nabi
shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ
وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ
بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ
“
Jika salah seorang di antara kalian makan, makanlah dengan tangan
kanannya. Ketika minum, minumlah dengan tangan kanan. Karena setan itu makan
dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020).
Dalil lainnya juga menunjukkan setan itu makan dan minum yaitu dari
hadits Jabir bin ‘Abdillah, ia mendengar
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ
دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ
عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ
الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ
طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ
“Jika salah seorang di antara kalian memasuki rumahnya, lalu ia berdzikir
pada Allah ketika memasukinya dan ketika hendak makan, maka setan pun berkata
(pada teman-temannya), “Sungguh kalian tidak mendapat tempat bermalam dan tidak
mendapat makan malam.” Namun ketika seseorang memasuki rumah dan tidak
berdzikir pada Allah, setan pun berkata (pada teman-temannya), “Akhirnya,
kalian mendapatkan tempat bermalam.” Jika ia tidak menyebut nama Allah ketika
makan, setan pun berucap (pada teman-temannya), “Kalian akhirnya mendapat
tempat bermalam dan makan malam.” (HR. Muslim no. 2018).
Sebagaimana manusia terlarang memakan daging yang disembelih tanpa menyebut
nama Allah. Maka sama halnya dengan jin beriman, Rasulullah
shallallahu
‘alaihi wa sallam menjadikan pada mereka makanan berupa tulang yang disebut
nama Allah. Jin beriman tidak boleh meninggalkan penyebutan ‘bismillah’.
Sedangkan setan jadi menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah. Oleh
karena itu, sebagian ulama berdalil bahwa bangkai merupakan makanan setan
karena bangkai itu berasal dari hewan yang disembelih tanpa disebutkan
bismillah.
Begitu pula sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim berdalil bahwa minuman yang
memabukkan adalah minumannya setan. Di antara yang dijadikan dalil adalah ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ
وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ
“
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk
perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90). Karena yang meminum khomr adalah wali
setan dan atas perintahnya. Mereka sama dengan setan dalam amalan tersebut
Jadi, peminum khomr pantas mendapatkan dosa dan siksa.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin
‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
Yang nampak memang jin juga melakukan perkawinan. Sebagian
ulama berdalil akan hal ini dengan firman Allah yang menyebutkan para
pasangan penduduk surga sebagaimana dalam ayat,
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ
“
Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin” (QS. Ar Rahman: 56).
Yang dimaksud dengan ‘
thomts’ dalam ayat ini berarti jima’
(bersetubuh) menurut bahasa Arab. Jadi, berdasarkan ayat ini dapat
dikatakan bahwa jin melakukan jima’ atau perkawinan, sebagaimana
manusia.
Ada juga hadits yang mendukung hal ini, namun sanadnya dikritik, yaitu
hadits yang mengatakan, “
Jin itu saling memiliki keturunan sebagaimana manusia pun demikian. Mereka jumlahnya banyak.” (HR. Ibnu Abi Hatim). Dipandang
hadits ini shahih ataukah tidak, cukup sebenarnya dengan ayat yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa jin melakukan perkawinan.
Begitu pula Allah telah memberitahukan kepada kita bahwa setan itu
memiliki keturunan. Kita dapat mengambil pelajaran dari Surat Al Kahfi,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا
لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ
أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي
وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا
“
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
“Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia
adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya
sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat
buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang
zalim.” (QS. Al Kahfi: 50).
Qotadah mengatakan, “Anak-anak setan itu saling memiliki keturunan
sebagaimana anak keturunan Adam, dan mereka jumlahnya amat banyak.”
(Lihat
Lawami’ul Anwar, 2: 222).
Perkawinan Jin dan Manusia
Kita mungkin pernah mendengar bahwa ada laki-laki yang kawin dengan
jin perempuan atau sebaliknya perempuan yang kawin dengan jin laki-laki.
Imam Suyuthi pernah menyebutkan beberapa
atsar dan berita dari para salaf tentang hal tersebut yaitu perkawinan antara jin dan manusia.
Ada juga perkataan Ibnu Taimiyah dalam hal ini,
وَقَدْ يَتَنَاكَحُ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ
وَيُولَدُ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ وَهَذَا كَثِيرٌ مَعْرُوفٌ وَقَدْ ذَكَرَ
الْعُلَمَاءُ ذَلِكَ وَتَكَلَّمُوا عَلَيْهِ وَكَرِهَ أَكْثَرُ
الْعُلَمَاءِ مُنَاكَحَةَ الْجِنِّ
“Bisa jadi ada perkawinan antara manusia dan jin, lalu akan ada anak
keturunannya. Kisah semacam ini banyak sekali. Para ulama juga telah
menyebutkan hal tersebut dan membicarakan hukumnya. Kebanyakan ulama
melarang (memakruhkan) pernikahan dengan jin.” (Majmu’ Al Fatawa, 19:
39-40).
Al Hasan Al Bashri, Qotadah, Al Hakam dan Ishaq melarang bentuk
pernikahan manusia dan jin.
Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa tidak
ada dalil yang melarang pernikahan dengan jin, namun hal tersebut tidak
dianjurkan. Imam Malik pernah berkata, “Aku memakruhkan jika ada
seorang
wanita hamil lalu ditanya, siapa yang menghamilinya? Lalu ia menjawab, “Jin”. Ini menimbulkan kerusakan yang banyak.”
Dalil larangan pernikahan antara jin dan manusia adalah dalil yang
menyebutkan bahwa manusia harusnya memiliki pasangan dari yang sejenis
dengan mereka. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ar Rum,
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ
مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21).
Kalau di atas dikatakan dari pernikahan bisa timbul rasa tentram,
lalu kasih sayang, ini sulit tercapai pada perkawinan dengan lawan jenis
(antara jin dan manusia). Hikmah dari pernikahan jadinya sia-sia. Dan
sulit digapai rumah tangga yang rukun dalam pernikahan semacam itu.
Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa mungkin saja terjadi
perkawinan antara manusia dan jin adalah ayat yang disebutkan di atas,
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ
“
Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin” (QS. Ar Rahman: 56). Ada kemungkinan dari ayat ini perkawinan antara jin dan manusia.
Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
Sebagian
orang mungkin mengira bahwa jin tidak bisa mati, begitu pula setan.
Padahal tidak demikian. Jin dan setan pun bisa mati. Mereka tercakup
dalam firman Allah Ta’ala,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى
وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) فَبِأَيِّ آَلَاءِ
رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (28)
“
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat
Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu
yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 26-28). Dalam ayat ini dikatakan bahwa setiap makhluk itu bisa binasa (mati), termasuk pula jin dan setan.
Dalam
Shahih Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengucapkan do’a,
أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ
“
Aku berlindung dengan keagungan-Mu yang tiada sesembahan yang
berhak disembah selain-Mu dan Engkau tidak mati, sementara jin dan
manusia itu mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717). Ini menunjukkan bahwa jin pun bisa mati, termasuk di dalamnya setan.
Adapun umur jin dan setan tiada yang mengetahuinya. Kecuali
Iblis Al La’in (yang terlaknat), ia akan tetap hidup hingga hari kiamat sebagaimana disebutkan dalam ayat,
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ
يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80) إِلَى يَوْمِ
الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (81) قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ
أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)
“
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari
mereka dibangkitkan”.Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan
waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku
akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di
antara mereka.” (QS. Shaad: 79-83)
Namun untuk selain Iblis, tidak diketahui umurnya. Namun mereka lebih panjang umurnya dari manusia.
Di antara dalil pula yang menunjukkan bahwa jin bisa mati dapat kita
lihat dari kisah Kholid bin Walid yang membunuh setan perempuan Al ‘Uzza
(yaitu pohon yang dahulu disembah kalangan Arab).
Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
@
Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 9 Jumadal Akhiroh 1434 H
Penulis:
Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel
Muslim.Or.Id
Dari artikel '
Serial 7 Alam Jin: Umur Jin — Muslim.Or.Id'
Di manakah jin itu bermukim?
Jin itu bermukim di atas bumi sebagaimana kita menetap. Di antara
jin ada yang tinggal di bekas tempat reruntuhan, ada juga yang berdiam
di tanah lapang atau padang sahara. Begitu pula di antara mereka ada
yang tinggal di tempat-tempat najis seperti kamar mandi, tempat
pembuangan kotoran, dan kuburan. Di antaranya kamar mandi dilarang
shalat karena di sana terdapat banyak najis, lalu jin senang berdiam di
situ . Begitu pula di kuburan, dilarang pula
shalat di tempat tersebut karena dapat mengantarkan pada kesyirikan.
Jin banyak pula terdapat di tempat-tempat yang mereka mudah berbuat
kerusakan di sana seperti di pasar. Sahabat Salman pernah menasehati
sebagian sahabatnya,
لاَ تَكُونَنَّ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ
يَدْخُلُ السُّوقَ وَلاَ آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا فَإِنَّهَا
مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ
“
Janganlah kalian menjadikan tempat pertama yang dimasuki adalah
pasar, jangan pula tempat terakhir untuk keluar karena pasar adalah
markasnya setan dan di sana ia tancapkan benderanya.” (HR. Muslim no. 2451).
Setan pun dapat tinggal di rumah-rumah tempat berdiamnya manusia,
terutama setan mudah bermukim di rumah yang tidak disebut nama Allah,
dzikir pada Allah dilupakan, serta bacaan Al Qur’an ditinggalkan terutama surat Al Baqarah dan ayat kursi.
Setan akan menyebar di waktu gelap (malam hari). Oleh karena itu sebagaimana terdapat dalam
hadits muttafaqun ‘alaih, kita diperintahkan untuk menahan anak-anak kita dari keluar rumah pada waktu tersebut.
Setan pada waktu adzan pun akan lari dan pada waktu
Ramadhan akan dibelenggu.
Di antara kegelapan dan waktu matahari muncul, setan sangat suka
sekali duduk-duduk ketika itu, sebagaimana hal ini diterangkan dalam
hadits shahih yang diriwayatkan dalam kitab sunan dan lainnya.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.
Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
Beberapa hewan diserupakan dengan setan, di antaranya unta dan anjing hitam.
Mengenai unta disebutkan dalam
hadits Al Baro’ bin ‘Azib
radhiyallahu ’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai shalat di tempat menderumnya unta, beliau bersabda,
لَا تُصَلُّوا فِي مَبَارِكِ الْإِبِلِ ، فَإِنَّهَا مِنْ الشَّيَاطِينِ
“
Janganlah shalat di tempat menderumnya unta karena ia dari setan.” (HR. Abu Daud no. 493, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
Dalam lafazh Ibnu Majah disebutkan,
فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنْ الشَّيَاطِينِ
“
Karena ia diciptakan dari setan.” (HR. Ibnu Majah no. 769).
Dari Hamzah bin ‘Amr Al Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَى ظَهْرِ كُلِّ بَعِيرٍ شَيْطَانٌ ، فَإِذَا رَكِبْتُمُوهَا فَسَمُّوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
“
Di setiap punggung unta itu ada setan. Jika kalian menungganginya, sebutlah nama Allah.” (HR. Ahmad 2667, hasan kata Syaikh Al Albani).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata, “Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa unta itu dari setan.
Wallahu a’lam,
yang dimaksud adalah termasuk serupa dengan setan. Karena setiap hewan
yang sombong biasa disebut setan. Seperti anjing hitam disebut setan.
Unta termasuk setan dari hewan ternak. Ada juga setan dari manusia.
Oleh karenanya ketika manusia memakan daging unta, mungkin saja ia
akan cenderung membangkang dan serupa dengan setan. Setan diciptakan
dari api. Sedangkan api dipadamkan dengan air. Sehingga karena itulah
setelah memakan daging unta diperintahkan untuk berwudhu.
Perlu
diketahui bahwa hati manusia cenderung berubah sesuai dengan makanan
yang ia santap.” (
Syarh ‘Umdatul Fiqh, 1: 185).
Begitu pula alasan lainnya, kenapa diperintahkan berwudhu setelah
memakan daging unta karena hal itu dapat memadamkan sifat setan yang
jelek. Hal ini berbeda halnya ketika seseorang tidak berwudhu setelah
memakannya. Dan di kalangan Arab biasa setelah memakan daging unta punya
sifat pendendam. Lihat
Majmu’atul Fatawa, 20: 523.
Adapun anjing hitam disebut setan karena anjing tersebut adalah sejelek-jeleknya anjing dan sedikit manfaatnya.
Wallahu waliyyut taufiq.
Referensi:
Di antara kemampuan yang Allah berikan kepada jin yang tidak ditemukan pada manusia adalah berjalan cepat.
Yang membuktikan hal ini adalah Ifrit yang termasuk bangsa jin membuat janji pada Nabi Sulaiman
‘alaihis salam
untuk menghadirkan singgasana kerajaan Yaman ke Baitul Maqdis. Ia
janjikan singgasana tersebut akan datang dalam waktu singkat yaitu tidak
sampai Sulaiman berdiri dari tempat duduknya.
Hal ini disebutkan dalam firman Allah
Ta’ala,
قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ
أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ
لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ
أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا
رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ
لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)
“
Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang
kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari
tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi
dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu
dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu
berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di
hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba
aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan
barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk
(kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka
sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.” (QS. An Naml: 39-40).
Mujahid berkata bahwa ‘Ifrit adalah
jin yang durhaka.
Dahulu Sulaiman itu biasa duduk untuk menyelesaikan permasalahan
rakyatnya mengenai qodho’, hukum dan ia pun duduk untuk menyantapkan
makanannya. Hal itu dilakukan dari awal siang hingga terbenam matahari.
Demikian penjelasan As Sudi.
Ifrit membawa singgasana kerajaan
Yaman
dalam waktu cukup singkat. Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa ia membawanya
sebelum Sualiman berdiri dari duduknya. Mujahid mengatakan bahwa yang
dimaksud adalah tempat duduknya. Lihat
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5: 673.
Masih akan dilanjutkan kembali mengenai kemampuan-kemampuan jin lainnya di web tercinta Muslim.Or.Id. Semoga bermanfaat.
Referensi:
- ‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
- Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.
—