Presiden Swiss: Menara 'Yes', Adzan 'No'

Presiden Swiss mengijinkan didirikannya menara masjid di Swiss, tapi ia tidak mau adzan dikumandangkan di negerinya



Hidayatullah.com--Presiden Swiss Hans-Rudolf Merz Selasa (17/11) mengatakan kepada rakyatnya, bahwa suara muazin tidak akan diperdengarkan di Swiss. Hal itu disampaikannya dalam kampanye menentang gerakan referendum anti-menara.

"Muslim sudah seharusnya bisa menjalankan ajaran agama mereka dan juga boleh mendirikan menara di Swiss. Tapi suara seruan dari muazin tidak akan diperdengarkan di sini," kata Merz dalam sebuah rekaman video yang ditanyangkan ke seluruh penjuru negeri.

Tanggal 29 Nopember Swiss akan melakukan pemungutan suara atas usulan anti-menara, yang digagas oleh kelompok-kelompok sayap kanan di negara itu. Usulan tersebut mendapat dukungan dari partai politik terbesar yang berhaluan keras-kanan, Partai Rakyat Swiss (SVP).

Pemerintah Swiss dan partai politik besar lainnya menolak untuk ikut serta melarang pendirian menara masjid.

Hari Selasa, Merz mengulangi sikap pemerintahannya, menghimbau masyarakat untuk berkata "tidak" atas usulan yang menentang pembangunan menara.

"Setiap agama memiliki arsitekturnya sendiri, apakah itu gereja, sinagog atau menara," katanya Merz.

"Saya melihat adanya keragaman di dalam masyarakat kita. Swiss menjamin kebebasan beragama. Kita hidup di dalam masyarakat yang multikultur dan terbuka. Semua orang yang beragama, termasuk Muslim, harus bisa menjalankan ajaran agamanya," tambah Merz.

Pemerintah berpendapat, peraturan yang ada sekarang cukup untuk memastikan bahwa bangunan-bangunan setempat mematuhi ketentuan yang ada. Sementara itu peraturan mengenai suara yang berlebihan, bisa digunakan untuk melarang dikumandangkannya adzan.

Sebuah jejak pendapat awal bulan lalu yang dilakukan oleh harian Tages-Anzeiger menunjukkan, lebih dari 51% responden akan menolak usulan anti-menara. Hanya kurang dari 35% yang mendukung pelarangan pembangunan menara. [di/arb/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9880:presiden-swiss-menara-yes-adzan-no&catid=67:internasional&Itemid=55


Di Swiss Masjid Dirusak, Adzan Palsu Dikumandangkan

Sungguh keterlaluan tindakan sekelompok non-Muslim terhadap Islam, hanya karena masalah menara masjid mereka melakukan tindakan vandalisme



Hidayatullah.com--Untuk kedua kalinya dalam sepuluh hari terakhir, dua pekan sebelum pemungutan suara anti-menara, Masjid Petit-Saconnex di Jenewa, Swiss, melaporkan tindakan kriminal kepada polisi.

Pada hari Sabtu (7/11), penduduk setempat dikejutkan dengan suara adzan pada pukul 7 pagi. Suara adzan palsu itu diperdengarkan oleh kelompok sayap kanan Jeunes Identitaires Genevois (JIG). Adzan dikumandangkan melalui megafon di atas sebuah mobil.

JIG memilih hari Sabtu itu untuk melancarkan aksinya, karena pada hari itu ummat Muslim menyelenggarakan "open house" atas masjid-masjid di seluruh Swiss, untuk mengenalkan masjid kepada masyarakat luas.

JIG berdalih membenarkan aksinya dengan mengatakan bahwa mereka perlu memberitahu masyarakat.

"Kami ingin menunjukkan kepada mereka kalau-kalau usulan itu (anti-menara) ditolak, yang berarti secara de-facto kita menerima, dalam waktu beberapa tahun saja suara-suara seperti itu akan menggema di seluruh Swiss," kata mereka kepada surat kabar Swiss Le Matin.

Sabtu pekan lalu, masjid Petit-Saconnex dilempari batu. Jendela-jendela, daun jendela, pintu kayu dan kubah granit serta pintu masuk dirusak. Demikian keterangan dari Youssef Ibram, imam masjid Pusat Kebudayaan Islam tersebut.

Ibram mengatakan, polisi telah membawa beberapa kilo batu guna memeriksa sidik jari serta DNA pelaku.

Menurut Ibram, peristiwa perusakan masjid itu merupakan yang pertama kalinya dalam 30 tahun. Ia mengatakan peristiwa itu berkaitan dengan panggilan adzan palsu dan pemungutan suara anti-menara yang akan dilakukan tanggal 29 Nopember mendatang.

Setelah kejadian, seorang petugas keamanan disewa oleh pihak masjid untuk berjaga-jaga di malam hari.

Beberapa pihak telah menyatakan keprihatinanannya pada hari Senin lalu, kata Ibram. Partai Hijau di Jenewa juga menyampaikan keprihatinannya atas aksi vandalisme tersebut.[di/tdg/rmd/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9877:di-swiss-masjid-dirusak-adzan-palsu-dikumandangkan&catid=67:internasional&Itemid=55

Mari Kembali ke Masjid

Di zaman Nabi, masjid memiliki multifungsi. Maka ketika hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga berfungsi mengatasi problematika sosial



Hidayatullah.com--Seorang pakar islam kontemporer Syeikh Said Hawa pernah mengatakan; Inna ’ashrana hadza mamlu-un bi Asy Syahawati wa asy-Syubuhati wa Al Ghoflah (Sesungguhnya kurun kita ini diliputi oleh suasana yang mengundang nafsu syahwat, kerancuan terhadap kebenaran dan melalaikan kehidupan akhirat). Menurut beliau, benteng pertahanan terakhir ummat dalam memagari jati dirinya dari kontaminasi polusi zaman adalah keluarga dan masjid.

Kesederhanaan manajeman Nabi dalam mengelola masjid telihat antara lain sewaktu beliau shalat, usai shalat beliau selalu menghadap jamaah untuk mengecek barangkali ada sebagian jamaah yang berhalangan hadir. Pada suatu ketika salah seorang jamaah inti tidak hadir dalam shalat, beliau bertanya , Mana si Fulan ?. Salah seorang makmum menjawab, si Fulan sedang sakit. Kemudian beliau mengunjungi Fulan di rumahnya. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, sangat perhatian kepada jamaahnya. Perbuatan beliau sejatinya diteladani pengurus dan imam masjid.

Selesai shalat Jumat, dari atas mimbar Rasulullah Saw, selalu menanyakan jamaahnya, Siapakah yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan ? Apabila ada yang mengangkat tangannya (sebagai tanda jamaah itu sedang dalam kesulitan atau kekurangan), Nabi memintanya untuk menjelaskan kesulitan yang dihadapinya dan kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah diantara jamaah yang telah hadir diberi keluasan rizki oleh Allah ?”.

Begitulah cara Nabi. Sehingga yang mempunyai kelebihan dapat meringankan beban yang kesulitan. Jika cara ini diterapkan maka problematika kemiskinan ummat setiap minggu akan bisa dipecahkan. Betapa efektif masjid-masjid di tanah air yang jumlahnya ratusan ribu dalam mengantisipasi krisis ummat jika menerapkan manajemen sederhana Rasulullah saw, tersebut. Dan semestinya ummat islam yang merupakan bagian terbesar bangsa ini akan hidup sejahtera dan damai.

Kurang Multi Fungsi

Krisis multidimensional yang terjadi sekarang ini menyebabkan citra Indonesia di dalam negeri dan di mata dunia internasional semakin terpuruk. Bangsa Indonesia yang selama ini dikenal religius, memiliki budaya pemaaf, paternalistik, toleran (tepo sliro, Jawa), gotong royong menjadi kejam dan koruptor. Bangsa Indonesia jika menduduki posisi tertentu cenderung memperkaya diri, berfikir jangka pendek, kata Prof. Toshiko Komoshita, intlektual Jepang. Indonesia adalah sarang penyamun berdasi, lahan subur KKN mulai tingkat pejabat eksekutif pusat hingga jajaran birokrasi tingkat RT (hasil surve lembaga Non Government Organization dari Jerman, diterbitkan lewat majalah der Spiegel).

Stateman pakar asing dan hasil surve intitusi luar negeri yang tidak menguntungkan diatas tentu mengarah kepada ummat islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia. Untuk sementara penulis berkesimpulan, bahwa keterpurukan ummat disebabkan oleh beberapa point berikut;

Pertama : Ada kecenderungan ummat Islam tidak mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah secara murni dan konsekuen. Mereka sering tidak melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan penting. Baik menyangkut persoalan individu, keluarga dan masyarakat (QS. Thaha : 124).

Mengomentari ayat ini Ibnu Katsir berkata; “Barangsiapa yang berpaling dari ketetapan Allah dan atau sengaja melupakannya, akan menemui kehidupan yang serba sulit (ma’isyatan dhonkan), tidak merasakan ketenangan dan kelapangan dada disebabkan kesesatannya, sekalipun secara lahiriyah sejahtera, bisa berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuka hatinya. Tetapi jiwanya goncang, bingung dan diliputi keragu-raguan.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 479).

Kedua;
Ummat Islam meyakini bahwa Rasulullah Saw sebagai figur sentral terbaik, tetapi mereka meneladaninya (ta-assi) hanya dalam mulut dan tidak diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari di tempat kerja, kantor, sekolah, pasar atau di tempat yang lain. Sekalipun secara serimonial, dan upacara peringatan maulid ummat islam melakukannya secara serempak dan gegap gempita, tetapi keagungan pribadi (syakhshiyyah) Rasulullah masih belum sepenuhnya di teladani. Kaya dalam upacara, tetapi miskin dalam aplikasi.

Untuk mengantisipasi kondisi diatas, ummat Islam memiliki tanggungjawab moral membantu negara keluar dari hal-hal paradoksal.

Lihatlah jumlah jamaah shalat lima waktu terutama shubuh, belum lagi dengan pakaian yang berwarna-warni, diperparah dengan shaf (barisan shalat) yang tidak rapi. Apalagi jika kita mencermati kualitas komunikasi yang dibangun antara jamaah usai menunaikan shalat, sungguh masih belum berjalan sesuai harapan. Dari sini bisa dievalusi betapa kualitas ummat dalam meneladani Rasulullah Saw ketika di masjid masih jauh ketinggalan.

Pada zaman Nabi Muhammad Saw, masjid memiliki multifungsi. Maka ketika beliau hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga menimba ilmu, tempat mempersaudarkan (ta-akhi) suku yang saling bermusuhan selama berabad-abad, tempat berbagi sesama, penggalian dana dan pendistribusiannya, tempat penggemblengan calon pemimpin (kawah condrodimuko), tempat bermusyawarah dan tempat mewujudkan kesejahteraan bersama.

Oleh karena itu tugas imam shalat tidak sekedar memimpin shalat jamaah, tetapi mendidik, mengayomi dan mengarahkan ummat dalam segala aspek kehidupannya. Maka, seorang imam dan jamaah inti adalah orang yang dapat dipercaya dan terbaik (level inti) dari ummat. Imam masjid dituntut memiliki kemampuan manajerial yang tinggi dan memiliki komitmen untuk mengurbankan tenaga dan waktunya untuk memakmurkan masjid. Dengan standar demikian, dia mampu melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya. (QS. at- Taubah (9) : 17).

Makmurkanlah Masjid-masjid


Memakmurkan masjid berarti membangun, memperkuat bangunannya dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak (secara material), dan memakmurkannya dalam aspek immaterial (moril), mendirikan shalat, berdzikir, mencari ilmu dan aktifitas ibadah lain yang merupakan tujuan utama didirikannya. (QS. an-Nur : 36), (Tafsir al-Ahkam, Ali Ash Shobuni II). Abu Bakar Al Jashshash mengatakan, memakmurkan masjid itu mengandung dua pengertian yaitu : Berkunjung dan berdiam di masjid. Membangun dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak. I’tamaro yang berarti ziarah, berkunjung. Misalnya kata ‘umrah, berarti ziarah ke Baitullah. (Ahkamul Quran, Al Jashshash, II : 87).

Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya,” [HR. Thabrani].

Barangsiapa yang mendirikan masjid karena Allah sekalipun sebesar sarang burung, maka Allah akan mendirikan sebuah rumah untuknya di surge.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah].

Secara jujur dan obyektif kita mengakui betapa masjid-masjid di tanah air mengalami kemandekan. Belum memainkan fungsi dan peranannya secara maksimal. Masjid tidak berdaya mengatasi problematika sosial kemasyarakatan. Orang meminta-minta di sekitar masjid, anak-anak jalanan, kenakalan remaja, belum bisa diantisipasi secara signifikan. Betapa keteladanan Rasulullah Saw, di masjid yang mempunyai kandungan manajeman tingkat tinggi, baru sebatas sebagai bahan diskusi, seminar dan forum-forum ilmiah. Salah satu fungsi masjid sebagai baitul mal, belum bisa diwujudkan, sehingga para pengemis di sekitarnya semakin meningkat jumlahnya. Sangat kontradiktif dengan bangunan phisik masjid yang megah, dengan pemandangan manusia yang berpakaian compang camping di sekelilingnya. Keindahan bangunannya tidak diimbangi dengan kesejahteraan dan kemakmuran jamaahnya.



Beberapa ormas Islam pernah mengusung “Gerakan back to masjid”. Hidayatullah beberapa pernah meluncurkan 1.000 dai di seluruh kabupaten dan propinsi di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah dan berbagai elemen bangsa, khususnya ummat Islam. Sebagai usaha mengentaskan krisis multidimensional yang menjerat bangsa. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) juga meluncurkan program dai-dai pasca-sarjana dan doctoral dan mengisi masjid-masjid.

Masjid yang akan ditangani oleh para dai di seluruh tanah air tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah shalat, tetapi sebagai pusat kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, informasi dunia Islam. Dengan demikian memakmurkan masjid memiliki fungsi yang sangat luas.

Pendirian Sekolah Terpadu, TPA/TPQ, perpustakaan multi media (al-Maktabah Asy-Syamilah), pembinaan remaja masjid, koperasi, poliklinik, unit penggalian dana dan pendistribusiannya, konsultasi, bantuan hukum, bursa tenaga kerja, sekolah, kantor, warnet, atau bank syariat adalah pengembangan dari fungsi penting sistem manajemen masjid. Mari kita kembali ke masjid, semoga di dalamnya kita menemukan kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan yang hakiki yang selama ini kita dambakan. Juga menyelesaikan persoalan sosial diantara kita semua. Wallahu a’lam. [www.hidayatullah.com]

Oleh: Shalih Hasyim*
Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9814:mari-kembali-ke-masjid&catid=161:tazkiyatun-nafs&Itemid=81

Masjid Disalahartikan di Belanda



Peneliti antropologi dan ahli sejarah arsitektur Eric Roose mengungkapkan, pendirian masjid di Belanda justru tidak memikirkan soal integrasi


Hidayatullah.com--Masjid-masjid tradisional dengan kubah dan menara adalah tanda menolak integrasi. Begitulah orang Belanda kadang berpikir. Tapi dari penelitian ahli sejarah arsitektur Eric Roose terungkap bahwa kubah dan menara menandakan dari aliran Islam mana mereka berasal.

Jumlah masjid di Belanda bertambah. Sejumlah orang Belanda asli tidak menyukai hal itu, terutama jika masjid-masjid tersebut menonjolkan kaligrafi, kubah, dan menara. Yang lain berpendapat, muslim adalah bagian dari masyarakat Belanda dan karena itu punya hak untuk menunjukkan identitas mereka.

Dalam karya tulisnya, antropolog dan ahli sejarah arsitektur Eric Roose menerangkan dengan jeli mengenai proses pengambilan keputusan berkaitan dengan desain dua belas masjid di Belanda. Apa hasilnya? Banyak motif lain yang lebih penting, ketimbang keinginan untuk tidak atau - sebaliknya - untuk berintegrasi dengan masyarakat Belanda.

Masalah integrasi terus-menerus diproyeksikan ke bentuk-bentuk masjid. Beberapa melihat desain masjid tradisional sebagai bentuk kurangnya integrasi, sedangkan yang lain justru melihat rancangan bangunan tersebut sebagai emansipasi Muslim dalam masyarakat multikultural.

Dari penelitian Eric Roose terungkap bahwa pemberi dana yang mendirikan masjid justru tidak memikirkan soal integrasi. Dengan desain masjid tertentu, mereka justru ingin memperlihatkan posisi mereka dalam aliran-aliran dan visi yang saling bertentangan.

“Masjid Al-Islam memang memiliki desain dan bentuk khas Maroko. Dengan desain itu, mereka ingin mengasosiasikan masjid tersebut dengan Islam 'resmi' dari Kerajaan Maroko. Tapi, seperti yang Anda tahu, banyak orang Maroko di Belanda yang justru menentang Kerajaan. Jadi, desain masjid sama sekali tidak ada hubungannya dengan keinginan untuk menonjolkan Maroko dan memisahkan diri dari budaya Belanda,” ujarnya.

Ada juga masjid-masjid lain dengan ciri dan identitas berbeda. Namun tak ada bukti bahwa dianggap sebagai bagian yang memisahkan diri dari integrasi Belanda. Masjid Essalam di Rotterdam, misalnya, masjid ini dianggap kebalikan dari El-Islam.

Menurut Eric Roose, pemberi dana masjid Essalam bersimpati pada gerakan Ikhwanul Muslimin. Ia justru ingin mengidentifikasikan diri dengan visi Pan-Islamisme dan menentang Islam Maroko. Desainnya didasarkan pada masjid modern Nabi Muhammad di Madinah, Arab Saudi. Dan masjid di Madinah tersebut adalah titik kulminasi dari semua desain Islam di dunia.

Ada pula masjid yang dianggap mirip aliran Salafi. Masjid itu bernama masjid Furqan di Eindhoven.

Hanya saja, ujar Roose, karena seringnya umat Islam dibenturkan dengan masalah integrasi, mereka yang mendirikan masjid akhirnya merasioalisasi pendirian masjid sesuai dengan keinginan masyarakat Belanda.

“Anda melihat itu seperti awal dari proses rancangan yang tidak untuk dibahas, tetapi segera setelah para pembangun masjid ditanyai para wartawan dan petugas kotapraja, mereka harus merekayasa cerita bahwa rencana mereka adalah bentuk pernyataan intergrasi di dalam masyarakat Belanda. Pemberi dana masjid Es-salam misalnya, pernah mengatakan bahwa masjidnya sangat cocok dengan pemandangan di Rotterdam, karena kalau Anda tidak melihat kubah dan menara-menaranya, maka akan sangat mirip dengan gedung Kotapraja Rotterdam. Itu adalah rasionalisasi kemudian,” ujarnya.

Namun tentu saja membangun masjid di Belanda tak semudah membangun masjid di negara-negara berpenduduk Muslim lain. Menurut Roose, Masjid Essalam yang di Rotterdam itu, mungkin lebih sulit dibangun di Marokko, di mana bentuk masjid sangat keras ditetapkan. Masalahnya, di sejumlah kotapraja di Belanda yang kian kritis terhadap rencana untuk kubah dan menara, akan menghambatnya.

Bagi Roose, kesempatan seseorang di Belanda membentuk jati diri keagamaannya, justru makin berkurang. [rnwl/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9846:masjid-disalahartikan-di-belanda&catid=67:internasional&Itemid=55

Meraih Limpahan Pahala di Awal Dzulhijah

Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah

Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” [1]

Di dalam sepuluh hari bulan Dzulhijah terdapat hari Arofah dan hari an nahr (Idul Adha). Kedua hari tersebut adalah hari yang mulia sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Qurth, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr (Idul Adha) kemudian yaumul qorr (hari setelah hari an nahr).” [2]

Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah


Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits Ibnu ‘Abbas di atas menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.” [3]

Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad. [4]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.” [5] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.” [6]

Amalan di Awal Dzulhijah


Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu [7]. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya [8], …” [9]

Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” [10] Mengenai riwayat ini, Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah, yaitu hadits pertama. Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya. [11]

Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.

Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied. [12]

Keutamaan Hari Arofah

Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” [13]

Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.” [14] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. [15] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.

Jangan Tinggalkan Puasa Arofah

Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [16] Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. [17] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat. [18]

Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [19]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.” [20]

Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama. [21]

Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)

Ada riwayat yang menyebutkan, “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.” Ibnul Jauzi [22], Asy Syaukani [23], dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah). [24]

Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.

Jika Tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia Berbeda dengan Indonesia

Jika wukuf di Arofah lebih dulu dari tanggal 9 Dzulhijah di Indonesia, manakah yang harus diikuti dalam berpuasa Arofah?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Dalam puasa hari Arofah, engkau tetap mengikuti negerimu.” Alasan beliau adalah kita tetap mengikuti hilal di negeri ini bukan mengikuti hilal Saudi Arabia. Jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara kita selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara kita, maka kita seharusnya kita berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
At Tauhid edisi V/44
_____________

[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim
[2] HR. Abu Daud no. 1765. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
[3] Latho-if Al Ma’arif, hal. 456
[4] Lihat Latho-iLatho-if Al Ma’ariff Al Ma’arif, hal. 457 dan 461
[5] Idem
[6] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458
[7] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad
[8] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi
[9] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
[10] HR. Muslim no. 1176, dari ‘Aisyah
[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460
[12] Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Ma’arif, hal. 460
[13 HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah
[14] HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
[15] Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 8/482, Mawqi’ Al Islam
[16] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah
[17] Lihat Fathul Bari, 6/286
[18] Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam
[19] HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
[20] HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih
[21] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 2/137, Al Maktabah At Taufiqiyah
[22] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565, dinukil dari http://dorar.net
[23] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96, dinukil dari http://dorar.net
[24] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956
[25] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17/25, Asy Syamilah

http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/meraih-limpahan-pahala-di-awal-dzulhijah

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Dan Amalan Yang Disyariatkan

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN


[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.


Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [Al-Hajj : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu

Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [Al-Baqarah : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.


Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaq 'Alaihi].

[5]. Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq


Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.


Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaq 'Alaihi].

[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

Dalam riwayat lain :

Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

Artinya : ….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [Al-Baqarah : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.


Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.


Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

[Artikel bahasa Arab dapat dilihat di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/4.htm Disalin dari brosur yang dibagiakn secara cuma-cuma, tanpa no, bulan dan tahun]

Courtesy of Almanhaj.or.id
http://rumahmadina.com/blog-artikel-islam/keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah-dan-amalan-yang-disyariatkan/

Mengamalkan Teori Ukhuwah

dakwatuna.com - Seorang teman saya pernah menceritakan keheranannya terhadap teman-teman pengajiannya. “Saya bingung pada mereka, guru mereka ada di rumah sakit sudah beberapa pekan, namun mereka belum mengunjungi juga”, keluh teman tadi. “Apa anda tidak mengingatkan mereka tentang keadaan guru kalian”, ungkap saya. “Tidak tahulah saya pada mereka. Sepertinya mereka sibuk sekali pada urusannya masing-masing”, jawabnya lirih. “Apakah sesibuk itu mereka hingga seredup itu perasaan kemanusiaannya”, selidik saya.

Lain waktu saya berkesempatan mengunjungi rumah seorang teman sambil membawa sedikit bingkisan. Rupanya dia sangat gembira sekali dengan kunjungan saya ini. “Saya bersyukur sekali hari ini. Pertama, mendapatkan kunjungan dari antum, setelah lama tidak ada teman yang mengunjungi saya. Rasanya saya seperti terlempar dari pergaulan teman-teman. Tapi dengan kunjungan ini saya merasa ditarik kembali. Kedua, antum membawa bingkisan. Barang kali bingkisan itu kecil nilainya tapi sangat berarti bagi saya. Karena sudah beberapa hari keluarga saya hanya memakan ubi-ubian”. Paparnya. Saya terharu sekali mendengarkan pemaparan yang memilukan itu. Timbul pertanyaan besar: Kemana teman-temannya?

Pengalaman di atas sebenarnya mungkin banyak sekali kita jumpai dengan beraneka ragam cerita. Semuanya akan berujung pada tanda tanya, sebegitu redupkah tali persaudaraan yang kita miliki saat ini. Sebegitu keringkah telaga ukhuwah sesama aktivis dakwah.

Keadaan ini menjadi perhatian dalam diri saya apakah ini sebuah fenomena ataukah kasuistik saja. Memang kita harus akui bahwa kekeringan ruhaniyah di hati kader akan berakibat kekeringan dalam muamalah antar mereka. Muamalah yang kering merupakan preseden buruk bagi pembentukan opini publik tentang manisnya ukhuwah Islam. Serta buramnya potret keindahan tatanan dan perilaku masyarakat Islam di masa lalu bila dipraktekkan pada zaman kiwari.

Potret ukhuwah islamiyah yang telah dilakoni para pendahulu menggores kesan mendalam yang teramat indah bagi peradaban manusia. Bagaimana tidak, seseorang rela mati demi saudaranya. Mereka lebih memilih lapar bagi dirinya daripada saudaranya yang lapar. Mereka lebih mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan diri mereka sendiri meskipun mereka teramat membutuhkannya. Mereka sangat menjaga kehormatan dirinya ketimbang harus menjadi orang yang rakus lagi terhina.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keingan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin) dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Hasyr: 9)

Berbicara ukhuwah memang tidak sekedar teori melainkan nilai-nilai mulia yang mesti diimplementasikan dengan jiwa besar. Karena ia bukan hanya ucapan melainkan ia adalah amalan. Bahkan bukan sekedar amalan biasa tetapi amalan yang dikaitkan dengan kondisi keimanan pelakunya.

Iman Landasan Persaudaraan Islam


Ukhuwah islamiyah tidaklah sama dengan cita rasa humanisme seperti yang dipahami banyak orang. Sehingga mereka melakukan suatu kebaikan lantaran faktor humanisme, tidak dikaitkan dengan nilai-nilai moralitas yang tertanam dari benih ideologi samawiyah. Akan tetapi ukhuwah islamiyah merupakan manivestasi keimanan pelakunya. Keimanan yang stabil senantiasa memproduk amal khairiyah dan merealisasikannya dalam bentuk nyata tatkala bermuamalah dengan banyak manusia, sebaliknya keimanan yang labil dapat menghambat produktivitas amal tersebut.

Hubungan personal ketika bermuamalah pada sesama muslim memang tidak diikat pada simpul-simpul kesatuan aktivitas manusia dalam kesehariannya. Mereka tidak disatukan karena motivasi materi, kesukuan, kondisi temporer yang mereka alami. Melainkan hubungan mereka diikat oleh keimanan. Keimananlah yang menjadi pijakan muamalah mereka. Keimanan ini melandasi hubungan mereka yang teramat indah itu. Wihdatul aqidah itulah jawabannya. Menjadi kewajiban setiap kader untuk membangun bangunan keimanan yang kokoh agar dapat merefleksikannya dalam berinteraksi antar sesama.

Ketika banyak orang mengaitkan sikap persaudaraan pada nasab, kesukuan, kedaerahan serta ashabiyah lainnya. Rasulullah SAW. menepisnya dengan mengatakan: “Salman adalah keluargaku”.

Nyata betul prinsip Islam ini. Tidak tidak dapat dibatasi oleh dinding setebal apapun. Karena keimanan yang menjadi landasannya juga tidak dapat dibatasi oleh batasan apapun. Karena itu pancaran persaudaran berasal dari cahaya keimanan si pemiliknya.

Kepekaan Ukhuwah

Keimanan yang selalu bersinar terang akan menyalakan kepekaan ukhuwah. Hasasiyah ukhuwah ini akan semakin dinamis bila dilakukan dua arah. Sehingga semua pihak menahan diri untuk hanya menikmati ukhuwah orang lain. Akan tetapi masing-masing pihak berupaya untuk dapat menyenangkan khalayak sekitarnya. Menjadi kepuasan bagi dirinya apabila kelebihannya dapat dicicipi oleh banyak orang.

Lihatlah sejarah manusia-manusia pilihan yang telah mengukir indahnya peradaban orang-orang yang beriman. Mereka tidak bakhil pada orang lain akan kelebihan dirinya. Mereka tidak pula celamitan pada kebaikan orang lain. Mereka merasa bahagia apabila orang lain merasakan kebaikannya. Dan mereka terhina apabila orang lain terepotkan lantaran dirinya .

Pagi-pagi Rasulullah SAW. tersenyum melihat seorang sahabat yang telah membuktikan sikap ukhuwahnya pada saudaranya yang lain. Beliau mendapatkan informasi bahwa sahabat tersebut menjamu tamunya dengan hidangan yang diperuntukkan keluarganya. Agar tamunya berselera menyantap hidangannya, dia matikan lampu rumah sehingga makanan yang disajikan tidak tampak pada sang tamu. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan rasa sungkan tamunya untuk menyantap makanan tersebut. Lantaran porsi hidangan yang tersedia hanya cukup untuk seorang. Untuk menyenangkan hati tamunya, tuan rumah berpura-pura sedang menyantap makanan tersebut bersama-sama dengan lahap. Sikap inilah yang mendapatkan senyuman malaikat dan membuat senang hati Rasulullah SAW.

Juga ketika Rasulullah SAW. membangun Madinah sebagai sentral aktivitas muslim, beliau mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshar. Di antaranya Abdurrahman bin Auf RA. dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi’i RA. Dengan hati yang tulus Saad bin Rabi’ mengatakan: “Aku memiliki beberapa perniagaan silahkan ambil yang kau cenderungi. Dan aku mempunyai beberapa isteri silahkan lihat mana yang menarik hatimu. Akan aku ceraikan dia dan nikahilah setelah selesai masa iddahnya”. “Semoga Allah senantiasa memberkahi dirimu dan keluargamu, terima kasih atas penawaranmu. Akan tetapi lebih baik bagiku tunjukkanlah padaku dimana pasar?” Jawab Abdurrahman bin Auf RA.

Betapa manisnya kehidupan orang-orang yang beriman. Mereka dapat memposisikan dirinya secara tepat. Mereka dapat merasakan kesusahan dan kebahagiaan saudaranya. Mereka tahu betul apa yang mesti dilakukan untuk orang lain. Mereka merasa bersedih apabila tidak mampu berbuat banyak untuk orang lain.

Oleh: Drs. DH Al Yusni
http://www.dakwatuna.com/2008/mengamalkan-teori-ukhuwah/

Mengamalkan Teori Ukhuwah (2)

Menumbuhkan Perasaan Kolektif

dakwatuna.com- Seusainya perang Badar petugas logistik mengamati pejuang-pejuang Islam yang terluka. Sambil diobati juga diberikan makan atau minum yang dibutuhkannya. Saat sedang melayani orang-orang yang memerlukan bantuannya. Petugas ini mendengar ada suara orang yang meminta air karena rasa haus yang mencekik. Petugas tersebut mendatanginya. Namun ketika akan dituangkan pada mulut orang itu terdengar pula suara orang yang juga berhajat pada air. Lalu orang pertama yang membutuhkan air itu berujaar pada petugas logistik itu. “Berikan air itu padanya, dia lebih membutuhkannya ketimbang diriku!”. Maka petugas itu segera menemui orang kedua itu. Akan tetapi ketika akan diminumkan air, orang kedua ini mendengar ada arang lain yang juga membutuhkannya. Orang keduapun mengatakan, “Berikan air itu padanya dia lebih butuh daripada saya”. Petugas itupun segera mencari-cari sumber suara tadi. Rupanya orang ketiga yang membutuhkan air ketika ia jumpai sudah meninggal dunia. Secepat kilat peetugas itu mendatangi orang kedua tadi. Akan tetapi keduapun telah meninggal dunia. Iapun berlari menjumpai orang pertama. Begitupun orang pertama, ia dapati telah meninggal dunia.

Itulah kisah manusia yang diabadikan sepanjang sejarah. Mereka ditautkan oleh perasaan kolektif pada dirinya masing-masing. Perasaan bahwa saudaranya adalah dirinya. Merasa sakit apabila saudaranya sakit. Dan bahagia bila saudaranya bahagia. Saudaranya adalah cermin sejati bagi dirinya. Perasaan kolektif ini bagaikan saraf yang memadukan aneka ragam organ dalam tubuh. Dengan itu setiap organ mempunyai investasi pada satu gerakan organ lainnya.

Ukhuwah merupakan wujud perasaan kolektif dalam bermuamalah antar manusia. Ia menyatukan irama hati dari bermacam-macam orang. Ia akan menjadi harmonika yang merdu dalam sebuah simponi. Alunan simponi yang indah ini dapat menjadi suatu kekuatan besar dalam membangun umat.

Umar bin Khathab menangis terisak-isak tatkala ia mengetahui ada rakyatnya dirundung kelaparan. Umar mengangkat sendiri bahan pangan untuk rakyatnya yang sedang menderita.

Khalifah Sulaiman Al-Manshur tidak bisa berdiam diri ketika ia mendengar ada seorang muslimah yang teraniaya di Byzantium. Khalifah mengajak rakyat untuk membebaskan wanita tersebut.

Hasan Al-Banna memberikan sokongan yang besar atas perjuangan bangsa Indonesia mengusir kolonial Belanda. Al-Imam menerima kunjungan para diplomat Indonesia dengan antusias dan mengajak para pemimpin Mesir untuk turut mendukungnya. Demikianlah pengakuan M. Hasan Zein penulis Diplomasi Revolusi di Luar Negeri.

Itulah perasaan kolektif menjadi gelombang besar yang dapat menggerakkan sebuah kekuatan umat. Akan tetapi perasaan kolektif ketika manusia hidup dengan sikap dan gaya individualistik. Sikap ini menjadi barang langka yang jarang ditemukan.

Sikap individualistik mendorong manusia bersikap acuh tak peduli pada urusan orang lain. Bahkan pada urusan yang bersifat hidup matinya seseorang. Tidak mengherankan pada pergaulan masyarakat di hari ini tidak lagi mempedulikan apa yang dialami orang lain. Sebelah rumahnya sedang kesusahan ia tidak mengetahuinya. Tetangganya sedang merenggang nyawa ia tidak mendengarnya.

Tidaklah aneh saat ini apabila orang mengenal tetangganya bukan ketika bercengkerama di rumahnya, melainkan ia mengetahui tetangganya itu di tempat yang jauh dan terjadi pada kurun waktu yang cukup lama setelah bertetangga.

Dalam sebuah pesta besar, ada seorang pria terheran-heran pada kenalannya di pesta itu. Pasalnya, kenalan barunya itu adalah tetangga sebelah rumahnya. Padahal mereka telah lama hidup saling bertetangga. Aneh memang tapi begitulah gaya hidup masa kini.

Islam memandang buruk sikap demikian. Karena perasaan kolektif menjadi bukti keimanan. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menjalin perasaan kolektif ini. Ia adalah nadi dari geliat umat ini

Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantaramu apabila tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Bagi kader dakwah perasaan kolektif ini tidak boleh berhenti denyutnya. Berhentinya akan berdampak pada lambannya mobilitas kader untuk mengemban tugas mulia. Juga akan kehilangan kendali arah sehingga alur roda itu berputar tanpa arah. Setiap kader wajib merawat dan meningkatkan perasaan kolektif ini agar ia tumbuh, berkembang dan berbuah.

Ukhuwah, Bahasa Amal

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisah tentang tukang sol sepatu yang menunda pergi hajinya karena uang yang dipersipakan untuk berangkat ke Baitullah Al-Haram diberikan pada tetangganya yang kelaparan. Namun banyak teman-temannya yang berangkat menunaikan ibadah haji melihat tukang sol sepatu itu berada di tanah suci. Dalam mimpi Ibnul Mubarak rahimahullah, tukang sol sepatu itulah orang yang termasuk diterima ibadah hajinya oleh Allah SWT.

Kisah diatas tentu bukan persoalan maqbulnya ibadah haji yang dilakukannya. Akan tetapi yang saya maksudkan disini adalah sikap arif tukang sol sepatu itu. Sikapnya yang penuh perhatian pada nasib tetangganya, nasib saudaranya sesama muslim. Ia rela menyerahkan harta yang ia kumpulkan dari jerih payahnya berbulan-bulan kepada saudaranya sesama muslim.

Begitulah bahasa amal. Ia merupakan amalan bukan sekedar teori. Artinya sikap itu dilakukan secara refleks tidak perlu kalkulasi yang amat teliti. Tukang sol sepatu itu tahu betul apa yang mesti diputuskan pada saat-saat yang tepat.

Ukhuwah adalah bahasa amal bukan bahasa teori atau konsep. Sikap ini pancaran kebiasaan yang berasal dari sinar keimanan. Sinar keimanan yang lahir dari pembiasaan watak dan prilaku para pemiliknya. Karena itu, sikap ini tidak dapat dihambat oleh berbagai kalkulasi material. Ia begitu lancar untuk bertindak cepat memutuskan pilihan-pilihan sulit baginya. Ia tidak mempedulikan keuntungan apa yang bakal diperoleh malah ia rela mendapatkan kerugian bagi dirinya asalkan saudaranya meraih kebahagian atas sikapnya. Subhanallah, teramat indah bahasa amal itu.

Dari Mana Kita Memulainya

Seorang teman berbinar-binar matanya menyiratkan rasa haru dalam hatinya. Ia mengatakan baru saja menerima telepon dari kawannya yang menanyakan kabar berita tentang diri dan keluarganya. “Saya senang dan terharu, sekian lama saya tidak pernah mendengar berita kawan saya. Tiba-tiba, kali ini dia menyampaikan kabar beritanya dan menanyakan keadaan saya. Rasanya tali yang putus kembali tersambung”. Ungkapnya gembira.

Bila kita melihat cerita pengalaman seorang teman tadi. Sepertinya sederhana sekali untuk menyambung lagi tali persaudaraan yang nyaris putus. Dengan menanyakan kabar teman di seberang telepon hubungan itu kembali hangat. Kehambaran itu sirna dengan segera.

Rasulullah SAW. memberikan resep sederhana untuk dapat mengikat kembali tali-tali yang putus hingga dapat menghimpun hati-hati yang retak. Beliau mengatakan: “Sebarkanlah salam, berikanlah makan dan dirikanlah shalat malam”. Resep ini memang terkesan sangat simple.

Pertama, menyebarkan salam. Dalam kegiatan ini bisa dijabarkan dengan bermacam-macam perlakuan, diantaranya bertanya bagaimana kabarnya, keluarganya, istri dan anaknya? Baik-baikkah mereka. Bagaimana mereka selama ini. Adakah yang sakit. Adakah yang mendapatkan musibah atau adakah diantara mereka yang telah dianugerahi Allah kebaikan yang dapat menyenangkan orang banyak. Dapat saling mendoakan keadaan masing-masing agar meraih kemudahan dalam menjalani aktifitas hariannya serta mendapatkan karunia dari Allah sehingga meredam rasa berat dalam menerima ujian dan cobaan hidup. Dan banyak lagi segudang ungkapan untuk memulai menyebarkan salam antar sesama kader.

Inti masalahnya adalah bagaimana menyebarkan salam itu menjadi sebuah media komunikasi antar sesama kader agar tetap terjalin dengan baik, sehingga mereka tidak kehilangan informasi dan kendali arah. Komunikasi yang harmonis dibangun atas dasar hubungan manusiawi yang utuh dari berbagai dimensi bukan pada hubungan formalitas apalagi hiasan bibir semata.

Menjalin komunikasi yang harmonis ini menjadi kebutuhan asasi masyarakat modern, karena dengan komunikasi ini manusia menemukan eksitensi dirinya sebagai makhluk yang multi dimensional. Makhluk yang dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Saat ini banyak kita temukan orang yang kehilangan rasa, termasuk rasa dalam berkomunikasi ketika bergaul antar sesama. Makanya banyak orang berupaya mencari tempat kongkow-kongkow hanya sekedar mendapatkan sebuah tali komunikasi yang tidak diikat oleh formalitas kehidupan. Sehingga mereka bisa berbicara dan tertawa lepas yang selama ini tidak mereka temukan karena masih dirasakan terdapat dinding pembatas hati mereka.

Komunikasi yang harmonis bagi masyarakat barat amat mahal, karena selama ini mereka menjalani kehidupan ini secara mekanik. Melakoni satu babak kehidupan ke babak berikut bagai mesin yang rutin berputar. Tanpa seni yang menyentuh ruang hati manusia yang paling dalam. Kondisi ini membuat mereka berupaya untuk menemukan format baru dalam berkomunikasi dengan sesama. Diantaranya mereka mengadakan pasar loakan setiap hari libur sebagai sarana mereka berkomunikasi. Mereka bisa saling tawar menawar suatu harga barang yang selama ini mereka jualbelikan dengan mesin atau robot. Mereka dapat saling menyapa untuk menanyakan dimana tinggalnya, dari mana asalnya, sudah berapa lama tinggal di daerah itu dan sapaan lainnya. Dari saling menyapa itulah hubungan yang kaku diantara mereka mencair seketika, akhirnya mereka begitu akrab satu sama lainnya.

Abbas Asisi salah seorang murid Hasan Al-Banna selalu membuka komunikasi dengan banyak orang yang ia jumpai. Melalui komunikasi itulah ia membuka peluang dakwah di hati mitra bicaranya. Bahkan pernah ia kesulitan dengan apa memulai berkomunikasi kepada orang yang ada di hadapannya. Namun ia menemukan juga jalan ke arah itu. Yakni ia menginjak kaki orang tersebut sehingga orang itu memarahinya. “Apa matamu buta? mengapa kamu injak kaki saya”, hardik orang tersebut. Abbas Asisi menjawab, “Maaf tuan, mata saya memang rabun sehingga saya tidak begitu jelas melihatnya”. Dengan pengakuan itu orang tersebut malah meminta maaf atas ucapannya tadi lalu perbincangan akhirnya berlanjut pada tema-tema lainnya yang kemudian menyentuh tema-tema dakwah.

Begitulah mumpuninya komunikasi dalam bergaul antar sesama yang dapat meluluhkan hati-hati yang keras membatu. Orang bijak mengatakan, ‘berkomunikasilah karena ia seni kehidupan‘.

Seorang sahabat merasa tersanjung ketika Rasulullah SAW jalan beriringan di sampingnya sambil beliau menanyakan keadaannya. Sikap ini menunjukkan betapa manisnya pergaulan yang dilakukan Rasulullah SAW. kepada sahabatnya begitupun sebaliknya.

Media berkomunikasi saat ini sangat banyak apalagi kemajuan teknologi dapat menunjang pelaksanaannya. Berkomunikasi dapat dilakukan melalui silaturrahmi atau mengunjunginya. Dengan mengunjungi kita dapat menuangkan berbagai suasana hati. Dapat saling bertatap muka, saling bertegur sapa dan saling mengekspresikan ruat wajah yang dapat disaksikan oleh mitra bicara.

Berziarah atau mengunjungi saudaranya yang muslim merupakan sebagian tanda keimanan. Karena ia adalah hak sesama muslim. Dengan mengunjungi kita dapat berkomunikasi dan berbagi perasaan, pengalaman, pelajaran serta berbagi lainnya.

Rasulullah SAW. bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia silaturrahim”. (H.R. Muslim)

Dan komunikasi dapat pula dilakukan lewat piranti teknologi canggih sekarang ini, bisa melalui telepon, internet, email, surat atau media-media lainnya.

Kedua, memberi makan (hadiah). Hadiah pertanda penghargaan dan kasih sayang. Ia wujud atensi yang dalam. Karenanya hadiah jangan dipandang dari nilai nominalnya akan tetapi lihatlah bahwa adalah ekspresi kecintaan.

Rasulullah SAW. bersabda: “Salinglah berbagi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai”. (H.R. Tirmidzi)

Hadiah sebagai media mengungkapkan kata hati pada seseorang dalam kondisi tertentu. Maka tidaklah naif memberikan hadiah yang sepertinya tidak begitu bernilai. Sebab ia adalah bentuk visualisasi dari atensi yang besar. Oleh karena itu tidak perlu merasa malu untuk memberikan hadiah yang tidak mewah atau mahal. Malah dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada seorang sahabat Nabi SAW. yang memberikan hadiah berupa sekerat kurma kepada saudaranya, Nabi SAW. mendengar berita itu tersenyum bahagia. Duhai mulianya ia yang mau memberikan hadiah meski kondisi hidupnya dalam kesulitan.

Memang alangkah bagusnya bila mampu memberikan hadiah yang menarik serta bernilai lebih. Apalagi hadiah yang diberikan kepada saudaranya sangat ia sukai.

Firman Allah SWT.

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (Ali Imran: 92)

Ketiga, melaksanakan shalat malam (doa). Persoalan hati manusia adalah persoalan yang penuh misteri. Hati merupakan ruang yang luas lagi dalam. Ia bagaikan samudera lepas. Sedikit sekali manusia yang dapat menyelami samudera hati.

Muamalah antar manusia juga bagian dari gerakan hati. Ia akan terkait tatkala hatinya sudah tertambat. Ia akan terurai ketika hatinya liar. Permasalahannya tampaknya rumit dan jelimet. Akan tetapi menjadi sederhana ketika conecting langsung pada pemiliknya. Dialah Allah Pemilik hati manusia yang mampu membolak-balikan gerakan hati secara dratis.

Menjalin hubungan langsung pada si Empunya hati manusia secara rutin dapat menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu menghimpun aneka ragam hati manusia. Bahkan Dia dapat mengendalikan hati-hati yang liar. Hubungan dengan Sang Penakluk Hati diantaranya dapat diwujudkan dengan panjatan doa untuk diri dan saudaranya.

Doa menjadi media perantara untuk merajut hati yang retak. Melancarkan sumbatan-sumbatannya. Untuk mencapai sasaran tersebut, Hasan Al-Banna mengajak para pengikutnya untuk membaca doa Rabithah selepas mengikuti majelis pertemuannya. Sebagai upaya mendayagunakan kekuatan doa untuk mengikat dan menyatukan hati manusia. Disamping itu agar hati yang kering lagi tandus menjadi basah dan subur.

Semua resep sederhana di atas akhirnya berpulang pada satu kalimat. Ibda’ binafsik. Mulailah dari darimu sendiri. Artinya setiap individu segera untuk memulainya, menjadi pelopor. Tidak perlu menunggu orang lain memberi aba-aba untuk memulainya. Apalagi menanti siapa yang akan memulainya. We are first begining. Wallahu a’lam.

Oleh: Drs. DH Al Yusni
http://www.dakwatuna.com/2008/mengamalkan-teori-ukhuwah-2/

8 Kiat Mempererat Ukhuwah

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) bukanlah teori. Ini adalah ajaran praktis yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah tidak akan bisa kita kecap, kecuali dengan mempraktikannya.

Jika delapan cara di bawah ini dilakukan, Anda akan merasakan ikatan ukhuwah Anda dengan saudara-saudara seiman Anda semakin kokoh.

1. Katakan bahwa Anda mencintai saudara Anda

عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ: إِِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أََنَّهُ يُحِبُّهُ

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

عَنْ اَنَسٍ: اَنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ فَمَرَّ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلُ اللهِ اِنّي لأحِبُّ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَعْلَمْتَهُ؟ قَالَ: لا، قَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: أعْلِمْهُ فَلَحِقَهُ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّكَ فِى اللهِ فَقَالَ: أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِى لَهُ

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud, dengan sanad shahih)

Jadi, jangan tunda lagi. Katakan cinta kepada orang yang Anda cintai.

2. Minta didoakan dari jauh saat berpisah

عَنْ عُمَرَبْنِ الْخَطَابِ قَالَ: اِسْتَأْذِنْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ فِى الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي فَقَالَ: لاَ تَنْسَنَا يَا اُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ: كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِى أَنَّ لِى بِِهَا الدُّنْيَا، وَفِى رِوَايَةٍ قَالَ: أَشْرِكْنَا يَا أُجَيَّ فِى دُعَائِكَ

Umaق bin Khaththab berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. untuk melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku.” Beliau bersabda, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu.” Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda, “Sertakan kami dalam diamu, wahai saudaraku.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang hamba mukmin yang berdoa untuk saudaranya dari kejauhan malainkan malaikat berkata, ‘Dan bagimu seperti itu’.” (Muslim)

3. Bila berjumpa, tunjukkan wajah gembira dan senyuman

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim)

4. Berjabat tangan dengan erat dan hangat

Berjabat tanganlah acapkali bertemu. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَا مِنْ مُسْلِمِيْنَ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

5. Sering-seringlah berkunjung

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberi karena Aku’.” (Imam Malik dalam Al-Muwaththa’)

6. Ucapkan selamat saat saudara Anda mendapat kesuksesan


عَنْ اَنَسٍ بن مالك قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ لَقِيَ أَجَاهُ بِمَا يُحِبُّ لِيَسُرَّهُ ذَالِكَ سَرَّةُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (Thabrani dalam Mu’jam Shagir)

Jadilah Anda orang yang paling pertama mengucapkan selamat kala saudara Anda menikah, mendapat anak, menempati rumah baru, pergi haji, naik jabatan, dan lain-lain.

7. Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa

عَلَيْكُمْ بِالْهَدَايَا فَإِنَّهَا تُوْرِثُ الْمَوَدَّةَ وَتُذْهِبُ الضَّغَائِنَ

Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (Thabrani)

عَنْ عَائِشَةَ: تَهَادَوْا تَحَابُّوْا

Thabrani juga meriwayatkan hadits marfu’ dari Aisyah r.a. bahwa, “Biasakanlah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai.

8. Berilah perhatian dan bantu keperluan Saudara Anda

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ اَخِيْهِ.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (Muslim)

Karena itu, jadikan diri Anda orang yang paling dahulu membantu kala saudara Anda membutuhkan.

Oleh: Mochamad Bugi
http://www.dakwatuna.com/2008/8-kiat-mempererat-ukhuwah/

Di Libya, Hafizh Qur'an Sederajat Sarjana


Sedikit yang tahu jika Libya sebenarnya memiliki jutaan orang yang hapal (hafizh) kitab suci al-Qur'an. Seperlima dari jumlah penduduk negeri Moammar Qadzafi itu ditaksir hapal al-Qur'an di luar kepala. Pihak pemerintahan Libya pun "memuliakan" para hafizh ini dengan menyetarakan mereka dengan lulusan perguruan tinggi atau sarjana.

Banyaknya para hafizh al-Qur'an ini tak lepas dari peran pesantren-pesantren lokal, semisal Zawiyah, Khalawi, dan Kuttab, yang banyak tersebar di hampir seluruh wilayah Libya, baik di kota atau pun desa-desa, bahkan hingga di pelosok.

Sekretaris Jenderal Universitas Dakwah Islam Internasional Libya, Prof. Dr. Muhammad Ahmad as-Syarif menyatakan, dari 5 juta total penduduk Libya, hampir seperlimanya hafal al-Qur'an.

"Lembaga-lembaga pendidikan keagamaan tradisional di Libya setiap tahunnya banyak melahirkan para penghapal al-Qur'an. Jumlahnya jutaan. Itu belum termasuk yang hanya hafal setengah al-Qur'an atau seperempatnya," terang as-Syarif.

Hal yang menjadikan para hafizh al-Qur'an di Libya berbeda dari negara lainnya adalah bentuk apresiasi dan pemuliaan dari pihak pemerintahannya. Para hafizh al-Qur'an itu disetarakan derajat akademiknya dengan para lulusan perguruan tinggi.

"Dalam masalah pekerjaan, derajat mereka sama dengan para sarjana, meskipun umurnya belum genap 16 tahun. Mereka dapat upah kerja yang setara dengan upah para sarjana," kata as-Syarif.

Diakui oleh as-Syarif, inisiatif dan kebijakan pemerintahan Libya untuk memberikan honor yang tinggi kepada para hafizh al-Qur'an itu datang dari Pemimpin Revolusi dan Presiden Libya sendiri, Moammar al-Qadzafi. (L2/iol)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/di-libya-hafizh-qur-an-sederajat-sarjana.htm

Tanah Suci


Umat Islam Indonesia yang menunaikan ibadat haji tiap tahun begitu membludak, sampai melebihi daya tampung salah satu tempat pelaksanaan ibadat itu, yaitu Mina. Timbul pertanyaan, mengapa minat masyarakat begitu besar. Jawabannya, ditinjau dari sudut agama, paling kurang dua hal.

Pertama, ketakwaan umat makin meningkat. Tetapi terdengar kritik, mengapa korupsi juga semakin menggila. Untuk menerangkan fenomena itu, sabda Nabi ketika ditanya tentang seorang pemuda yang rajin salat tetapi berzina juga, dapat dianalogkan, Salatnya akan mencegahnya (dari berzina itu)! Ternyata pemuda itu memang bertobat tidak lama kemudian. Berarti bahwa korupsi itu pada suatu saat akan hilang, paling sedikit akan terus berkurang.

Kedua, daya tarik Tanah Suci (Makkah dan Madinah). Daya tarik itu paling kurang dua hal pula, menurut yang dipahami dari Alquran. Pertama, Tanah suci itu relatif aman. Allah pernah membantah alasan sebagian kaum musyrikin, bahwa jika mereka masuk Islam mereka akan diculik (dirampok, dibunuh, dsb), dengan mengemukakan pertanyaan bantahan, Bukankah Kami telah meneguhkan bagi mereka Tanah Suci itu aman, ke sana didatangkan persembahan segala macam buah-buahan sebagai rezeki pemberian kami? (Q.S. 28:57). Kebiasaan culik-menculik dan bunuh-membunuh di zaman jahiliah memang kenyataan, tetapi itu tidak mungkin terjadi di Tanah Suci, karena semua suku Arab menghormatinya.

Ayat itu diperptegas lagi oleh ayat lain, Tiadakah mereka lihat bahwa Kami telah membuat Tanah Suci itu aman, sedang orang culik menculik di sekitarnya? Maka apakah mereka percaya kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah? (Q.S. 29:67). Sekalipun Ka'bah pernah rusak dihantam peluru pada zaman Khalifah Yazid bin Mu'awiyah, Tanah Suci relatif aman. Bahkan keamanan itu dapat dilihat pada kawasan Saudi Arabia pada umumnya sampai sekarang, dibanding kawasan-kawasan sekelilingnya.

Kedua, adanya keistimewaan pada Masjidil Haram dan Ka'bah sendiri. Masjidil Haram, di samping istimewa dengan besarnya nilai ibadah yang dikerjakan di dalamnya, paling kurang istimewa pula karena menjadi kiblat, yaitu titik pusat ibadat. Sebagaimana diketahui kiblat sebelumnya adalah Masjidil Aqsa. Enam bulan lamanya Nabi berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan kiblat yang sebenarnya itu.

Dan mengenai Ka'bah, Allah melukiskannya sebagai al-Bayt al- 'Atiq, yaitu rumah ibadat yang antik dan agung. Keantikannya kembali ke zaman Nabi Ibrahim yang mendirikannya jauh sebelum agama-agama besar (Yahudi, Nasrani, dan Islam) ini ada. Dan keagungannya kiranya dapat terlukis dari sabda Nabi menyapanya dalam tawaf beliau, Betapa tinggi kebesaranmu, betapa agung martabatmu, namun martabat seorang muslim lebih tinggi dari martabatmu itu. Ketinggian martabat Ka'bah adalah bahwa doa akan dikabulkan di sisinya. Dan ketinggian martabat seorang muslim adalah bahwa hak-hak asasinya tidak boleh dilecehkan sedikit pun.

Kepergian seorang muslim ke Tanah Suci, di samping untuk menyempurnakan keislamannya, yaitu mengerjakan rukun Islam kelima, agaknya juga untuk memperoleh damainya Tanah Suci, laba beribadat di dalam Masjidil Haram, dan harapan doanya akan terkabul di bawah naungan martabat Ka'bah yang besar itu. ahi

http://www.republika.co.id/berita/89060/Tanah_Suci

Pengelolaan Masjid Masih Ala Kadarnya


JAKARTA--Mayoritas pengelolaan masjid di seluruh Indonesia dinilai belum maksimal. Setidaknya demikian bunyi hasil rumusan seminar pada rangkaian acara Festival Masjid di Batam pekan lalu. ''Pengelolaan masjid dilakukan secara paruh waktu atau ala kadarnya. Masjid masih difungsikan sebatas kegiatan ubudiyah mahdhah. Sehingga jumlah jamaah masih jauh dari representatif dibandingkan jumlah umat Islam di lingkungan masjid setempat,'' tandas KH Natsir Zubaidi, Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Jakarta, Selasa (10/11).

Tim perumus hasil festival masjid di Batam tersebut adalah Prof. Dr.H. Ahmad Sutarmadi, Drs. H. Natsir Zubaidi, Drs. H. Tasyrifin Karim, H. Sutito, SH, MH serta H. Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, MH. Tim perumus juga menyoroti bahwa pendidikan berbasis masjid masih cenderung dikelola secara tradisional dan terbatas pada pendidikan keagamaan (diniyah/TPA).

''Karenanya kami merekomendasikan agar seluruh masjid di Indonesia untuk meningkatkan fungsi mesjid sebagai pusat pendidikan Islam mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi,'' tandas Natsir.

Untuk itu, dikatakan tim perumus lainnya, Ahmad Sutarmadi, perlu meningkatkan sumber daya manusia (SDM) pengelola masjid yang profesional dan kredibel (al-qawiy al-amin). ''Dalam kaitan ini, perlu segera dibuat lembaga pendidikan atau pelatihan calon-calon manajer masjid yang terprogram dan berkesinambungan,'' ungkapnya.

Dipaparkan Sutarmadi bahwa pertumbuhan peradaban dan kebudayaan Islam dulu, sekarang dan masa yang akan datang tidak dapat dilepaskan dari peranan masjid. Ini dapat dilihat dari beberapa bukti sejarah antara lain, bangunan yang pertama kali dibangun Rasulullah pada saat hijrah ke Madinah adalah masjid, yaitu masjid Quba dan masjid Nabawi. Kedua, pada masa Khulafa’ al-Rasyidin, Daulah Bani Umaiyah, Daulah Bani Abbas, Daulah Fatimiyah di Mesir, Dinasti Mamluk di Mesir, pemerintahan Islam di Spanyol, pemerintahan Kerajaan Turki Usmani, pemerintahan Kerajaan Safawi di Persia, pemerintahan Kerajaan Mugal di India, pemerintahan sultan-sultan di Kepulauan Nusantara, masjid senantiasa dijadikan salah satu simbul kemajuan peradaban Islam.

Juga dikatakan bahwa pada saat ini di negara-negara sekuler pun, seperti Amerika, Inggris, Jerman, Perancis, dan Australia, selalu ditemukan keberadaan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan perkembangan peradaban Islam.

Dicontohkan Sutarmadi bahwa pada masa Rasulullah SAW, terutama setelah peristiwa hijrah ke Madinah sampai beliau wafat (622-632 M), masjid digunakan multi fungsi. Antara lain sebagai tempat pelaksanaan ibadah mahdlah, pusat pemerintahan dan layanan publik, pusat pertemuan dan informasi, tempat latihan bela diri dan perang-perangan serta tempat mempelajari ilmu (sekolah dan perguruan tinggi). Bahkan ketika itu, menurutnya, masjid juga digunakan sebagai tempat untuk mengadili perkara, tempat tawanan perang, tempat perundingan dan menerima delegasi suku-suku (komunitas) dari luar Madinah serta tempat pergelaran seni dan budaya.

Selain merekomendasikan masjid sebagai pusat pendidikan, tim perumus juga merekomendasikan agar seluruh masjid meningkatkan fungsi sebagai pusat dakwah Islam yang memperkenalkan Islam yang ramah dan toleran sebagaimana metode dakwah Walisongo. ''Juga meningkatkan fungsi mesjid sebagai pusat perpustakaan Islam, sebagai pusat penyimpanan khazanah budaya Islam yang diharapkan menjadi alternatif obyek wisata relegius yang mencerdaskan dan mencerahkan umat serta meningkatkan fungsi mesjid sebagai tempat pertemuan dan kegiatan keluarga atau perkawinan serta tempat pembinaan dan bimbingan keluarga sakinah,'' tandas Sutito, tim perumus lainnya.

Menurutnya, juga perlu meningkatkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan pemberdayaan ekonomi umat. ''Dalam kaitan ini, perlu dilakukan sinergi antara masjid dan lembaga-lembaga keuangan syariah, baik lembaga keuangan bank maupun nonbank. Juga meningkatkan peran mesjid sebagai pengelola pranata keagamaan seperti zakat, wakaf, qurban untuk membantu mengentaskan kemiskinan,'' tegasnya. osa/taq

http://www.republika.co.id/berita/88357/Pengelolaan_Masjid_Masih_Ala_Kadarnya

Satire

Selasa 20 Oktober 2009, hari ‘bersejarah’ kedua bagi pria yang karib disapa SBY itu. Ia kembali menduduki jabatan politik tertinggi negeri yang di masa silam kerap disebut Zamrud Katulistiwa, berjargon gemah ripah loh jinawi.

Ada yang berbeda dalam pelantikan kedua sang presiden kali ini, ia disambut sebuah konser musik secara live. Dari sebuah pojok gedung DPR/MPR RI bermartabat itu, mengalun dendang irama yang menghibur, ditingkahi gelak tawa sang host. Gedung ‘angker’ tempat para wakil rakyat bersidang seakan jembar dalam keceriaan.

Dahsyat –begitulah judul konser ini– seolah membawa kedahsyatan baru dalam dunia politik Indonesia sejak ia pertama kali menghirup kemerdekaan. Ibu-ibu bergoyang, para politisi –kebanyakan wajah baru– tak kalah, menikmati suasana baru dengan sumringah.

Pentas musik dan politik yang ditempatkan sebagian kalangan pada dua kutub ekstrim, bisa melebur dalam sebuah seremoni bersejarah. Pentas yang kembali mengulang lakon lima tahun silam, dimana SBY menjabat kali pertama sebagai presiden. Pelantikan kedua ini seakan lebih megah, meriah dan bermartabat. Kian hidup dengan konser musik yang mengiringinya.

Sebagaimana di belahan dunia lain, di negeri ini ajang politik dan musik memang sulit dipisahkan. Terutama menjelang terjadinya peralihan kekuasaan yang ditandai dengan pemilihan umum. Ajang kampanye partai politik tak lepas dari konser musik. Mereka bersenyawa dalam satu fragmen yang memikat massa. Musik dapat menjadi kekuatan yang membentuk opini politik, bahkan kekuatan politik.

Dan kini, ruang-ruang yang hendak dimasuki musik tidak lagi terkungkung dalam sebuah matra yang absolut. Ia merambah segala tempat dimana ia bisa hidup dan dihidupkan; hingga ke ruang sidang yang terhormat itu. “The music is great and it's a great political satire,” ujar Joy Allain, si dramawan itu.

Musik memang anggun dan indah, namun juga mengandung satire. Dan satire politik yang terjadi di Senayan, Selasa pagi itu, adalah sebuah ‘kemajuan’ bagi bangsa ini karena mampu mendobrak kejumudan yang ada.

Tentu saja, sebagai rakyat, kita berharap kemegahan dan kemewahan yang ditampilkan dalam pelantikan sang presiden untuk kedua kalinya itu akan membawa perubahan nyata bagi perjalanan bangsa ke depan. Tidak hanya sekedar satire politik dan kemenangan utopis.

http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=955:satire&catid=45:tafakur&Itemid=163

Perancis Membangun Masjid Terbesar Di Eropa


Walikota Marseille pada hari Jum’at menyerahkan secara simbolis izin khusus proyek pembangunan masjid terbesar di Eropa, yang berkapasitas sampai tujuh ribu jamaah shalat, dengan biaya 22 juta euro (32,7 juta dolar).

Dan telah diputuskan bahwa akan dibangun bagian tengah masjid yang luasnya 2.500 meter persegi, di samping sebuah menara yang tingginya 25 meter, dan sebuah kubah.

Proyek ini juga mencakup pembangunan sebuah perpustakaan, teater terbuka, dan restoran.

Sejumlah elemen ekstrimis sayap kanan telah menyatakan penolakannya terhadap pembangunan masjid terbesar di Perancis, bahkan mereka telah membuat beberapa pengaduan dan keluhan keberatan, namun sejauh ini semua usahanya berakhir dengan kegagalan.

Perlu dicatat bahwa hampir seperempat penduduk Marseille yang berjumlah sekitar 800 ribu jiwa adalah kaum Muslim.

Dan juga telah dijadwalkan bahwa peletakkan batu fondasi pertama masjid pada bulan April mendatang, dan diperkirakan akan selesai serta dibuka pada bulan November 2011. (aljazeera.net, 7/11/2009)

http://www.mediaumat.com/content/view/935/1/

Yang Halal di Pasar Jerman

Selama ini Jerman tidak memperhatikan potensi pasar produk halal di negaranya, sekarang negara itu malah tergiur



Hidayatullah.com--Gehlenberg adalah kota setengah tidur di sebelah utara Jerman dengan jumlah penduduk sebanyak 1.600 orang. Di desa itu berdiri sebuah gereja, balai desa, situs bersejarah peninggalan perang dan sebuah pub. Di pinggir jalan desa tertancap salib-salib kayu. Di sana juga terdapat sebuah kapel kecil.

Tidak diragukan lagi, desa itu adalah sebuah desa Katolik. Namun, selama tiga hari setiap pekannya, desa itu mematuhi aturan yang ditetapkan Nabi Muhammad. Tepatnya di sebuah bangunan pabrik berwarna putih yang terletak di pinggiran desa. Di sanalah tempat keluarga Meemken menjalankan roda bisnis keluarganya, membuat berbagai macam sosis yang mengikuti standar pembuatan makanan halal. Perusahaan itu menyetok hampir 100 ton salami dan jenis sosis lainnya setiap pekan untuk pengecer makanan di Jerman dan luar negeri.
Ada empat juta Muslim di Jerman, tapi pasar makanan halal masih sangat terbatas di sana, antara lain disebabkan oleh ketakutan pihak produsen atas kemarahan dari kelompok-kelompok pecinta binatang. Namun sekarang, perlahan-lahan banyak perusahaan yang melirik pasar potensial ini.

Perusahaan makanan internasional seperti Nestle dan Unilever selama bertahun-tahun telah menawarkan berbagai macam produk yang memenuhi standar halal.

Perusahaan-perusahaan Jerman perlahan tapi pasti akhirnya menyadari, bahwa memenuhi kebutuhan konsumsi akan makanan halal adalah cara yang sangat baik untuk menghasilkan uang. Apalagi di jaman krisis ekonomi seperti sekarang ini, menemukan pasar baru menjadi hal yang sangat menggiurkan daripada sebelumnya.

Potensi pasar makanan halal di Jerman sangat besar. Diperkirakan ada 4 juta orang Islam yang tinggal di Jerman. Penduduk Muslim memiliki rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding non-muslim.

Makanan halal sudah memberikan kontribusi sebesar 17% dari pasar pangan global, demikian menurut Forum Halal Dunia yang bermarkas di Malaysia.

Para pakar di bidang pemasaran mengatakan, segmen produk halal berkembang lebih pesat dibanding segmen lainnya di bidang makanan. Penjualan produk makanan yang memenuhi standar halal diperkirakan akan mencapai USD 641 milyar pada tahun 2010, naik dari sebelumnya USD 587 milyar di tahun 2004.

Pasar makanan halal Jerman diperkirakan mencapai angka penjualan sebesar USD 67 milyar pada tahun 2010.

Takbir dengan kaset

Perusahaan-perusahaan makanan di negara-negara Eropa lain, yang memiliki banyak penduduk Muslim, sudah lebih dulu menyesuaikan diri. Di Prancis, jaringan supermarket Casino telah menyediakan produk daging halal. Di Inggris, makanan halal mudah didapat di jaringan toko-toko besar terkemuka seperti Tesco dan Sainsbury. Toko penjual makanan matang di Prancis menyediakan pate hati angsa halal. Dan pengecer produk farmasi Inggris Boots menjual makanan bayi halal.

Lain ceritanya di Jerman. Supermarket hanya menjual sedikit sekali produk makanan halal. Banyak pengecer yang enggan untuk memotong hewannya sesuai dengan aturan Islam, karena mereka takut bermasalah dengan kelompok-kelompok pelindung binatang.

Peraturan hukum di Jerman melarang penyembelihan hewan tanpa dibius terlebih dahulu. Bagi sebagian besar Muslim, hewan yang sudah teler lebih dulu berarti sudah mati. Dan Islam melarang memakan daging bangkai. Untuk menyiasati hal itu, banyak produsen makanan halal Jerman yang memenuhi kebutuhan dagingnya dari luar negeri.

Tapi, cara penyembelihan hewan ternak itu juga masih ada kontroversi di lingkungan Muslim Jerman. "Seseorang harus memperhatikan masa, kapan aturan tertulis Nabi Muhammad itu ditulis, dan tidak seharusnya mengikuti cara tradisional dengan membabi buta," kata Yusuf Calkara dari Lembaga Sertifikasi Halal Eropa di Hamburg.

Sementara itu, lembaga pemberi sertifikat halal lainnya lebih ketat. "Daging yang diproses secara industri tidak pernah halal," kata Mahmoud Tatari dari Halal Control di sebelah barat kota Rüsselsheim. Menurut hukum Islam, hewan yang akan disembelih tidak boleh mengalami stress atau kesakitan, dan produksi massal tidak akan pernah bisa memenuhi persyaratan tersebut. Demikian menurut penjelasan Tatari.

Lembaga pemberi sertifikat di Jerman juga memiliki standar yang berbeda menyangkut persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang penjagal. Penjagal harus mengucapkan nama Allah tiap kali mereka menyembelih seekor hewan. Tapi, sebagian pihak berpendapat bahwa penyebutan nama Allah itu sudah cukup hanya dengan memutar suara rekaman dari kaset, asalkan yang memencet tombol rekamannya adalah seorang Muslim.

Penganut Islam yang taat di Jerman belum mencapai kesepakatan mengenai penyeragaman standar halal. Hal ini mungkin karena kelompok-kelompok Islam berbeda asal organisasinya, sementara itu tidak ada sebuah lembaga yang memonitor pemberian sertifikat halal. Akibatnya, lembaga-lembaga sertifikasi bebas mengontrol sendiri pemeriksaan atas bahan-bahan mentah, proses produksi, persyaratan kesehatan dan para pemasok.

Meemken, pembuat sosis Jerman itu, baru saja lulus audit halal. 60 produk halalnya sudah menguasai separuh dari total produksinya. Perusahaan itu kebanyakan menyetok para pengecer di luar Jerman, tapi baru-baru ini mereka telah memasukkan Netto -- pengecer di Jerman -- ke dalam daftar pelanggan produk halalnya.

Mereka dengan susah payah membersihkan mesin-mesinnya dari sisa-sisa daging babi yang tertinggal, agar tidak masuk ke dalam adonan yang dibuat pada hari-hari produksi sosis halal.

Perusahaan itu berencana akan memasang mesin baru, sehingga di masa datang produk halal bisa dibuat terpisah. "Kami benar-benar akan memperluas pasar di segmen ini," kata direkturnya, Rolf Meemken.

Masih tabu

Wiesenhof, produsen makanan dari unggas, telah mendapat sertifikasi halal sejak beberapa tahun lalu. Namun, keputusan untuk mencantumkan label halal pada produknya berada di tangan pengecer.

"Perusahaan-perusahaan Jerman terlalu berhati-hati," kata Levent Akgül dari Akkar Media, sebuah agen pemasaran di Hanover. "Mereka tidak paham perbedaan budaya dan tidak bisa menghitung resiko."

Lucunya, toko-toko pengecer yang menjual makanan di Jerman percaya, jika mereka menaruh produk makanan halal di rak dagangannya, maka orang-orang non-Muslim tidak akan mau mengunjungi tokonya.

Iklan untuk produk-produk halal di Jerman masih tabu bagi sebagian besar perusahaan Jerman, demikian kata Akgül.

Meskipun demikian, tidak lama lagi "Tren halal tidak akan bisa dibendung," kata Peter Grothues, kepala bagian industri makanan di sebuah perusahaan penyelenggara pameran perdagangan di Cologne. Akhir bulan ini perusahaannya akan menyelenggarakan pameran yang diikuti oleh 7.000 perusahaan.

Sebanyak 800 peserta pameran itu merupakan produsen makanan halal. Kebanyakan dari mereka adalah perusahaan asing yang sudah bertahun-tahun mengekspor makanan halal ke Jerman. Saat ini produk mereka terbatas dijual di toko-toko milik orang Turki di berbagai kota di Jerman. "Tapi, halal akan menjadi pilar penting dalam perdagangan," kata Asosiasi Federal Pengecer Makanan Jerman.

Hal itu tidak aneh mengingat orang-orang keturunan Turki di Jerman diperkirakan mempunyai daya beli €20 milyar per tahun.

Nestle bahkan sudah mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dari produk halal dibandingkan dari produk makanan organiknya.

Makanan halal bukan hanya sosis dan daging. Semua produk makanan harus halal, mulai dari keju tanpa enzym hewan yang haram hingga biskuit, bumbu dan kopi.

"Pasar halal (masih) jauh dari mengenyangkan," kata Derya Altay dari Persatuan Grosir dan Retail Turki di Jerman. "Orang-orang Jerman bisa memilih barang dari berbagai merek yang tak terhitung jumlahnya, sementara Muslim paling-paling hanya bisa memilih di antara dua atau tiga." Industri Jerman sebaiknya disarankan agar memperluas pandangannya dan merengkuh pasar halal, kata Altay.[di/spg/www.hidayatullah.com]


http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9456:2009-10-12-10-11-27&catid=73:features&Itemid=94