Menguak Bahaya Dukun di Tengah Masyarakat
Di dalam bahasa Arab dukun biasa disebut dengan istilah kahin (tunggal) atau kuhan (jamak). Syaikh al-Fauzan menerangkan bahwa perdukunan merupakan pengakuan mengetahui perkara gaib seperti halnya memberitakan akan terjadinya sesuatu di muka bumi dengan bersandar kepada sebab tertentu yaitu dengan mencuri berita dari langit; ketika itu jin mencuri kabar dari ucapan malaikat lalu dia bisikkan ke telinga para dukun, kemudian dia menambahkan padanya seratus kebohongan, sehingga orang-orang pun menilai benar apa yang diucapkannya (al-Isryad, hal. 115-116). Adapun paranormal biasa disebut dengan istilah ‘arraf. al-Khaththabi dan sebagian ulama lain mengatakan bahwa ‘arraf adalah orang yang mengaku mengetahui ilmu di mana letak barang curian atau barang yang hilang dan semacamnya (Syarh Nawawi, 7/335-336). Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa istilah ‘arraf sudah mencakup kahin/dukun dan para tukang ramal/paranormal (al-Qaul al-Mufid, 1/545)
Tradisi jahiliyah dan dosa yang sangat besar
Dukun dan paranormal, bukan kejahatan baru. Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu’anhu mengisahkan kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, ada beberapa perkara yang dahulu biasa kami lakukan di masa jahiliyah, [di antaranya] kami sering mendatangi dukun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Janganlah kalian mendatangi dukun-dukun itu.” (HR. Muslim [537]). Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas melarang kita mendatangi dukun. Apabila beliau melarang umatnya melakukan sesuatu maka itu berarti melanggarnya akan menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi diri manusia.
Demikian juga paranormal, menekuni profesi ini merupakan pekerjaan yang sangat tercela dan kejahatan yang sangat besar menurut kacamata syari’at Islam. Karena dengan mendatangi dan berkonsultasi kepada mereka menyebabkan ibadah sholat seorang muslim menjadi tidak lagi diterima meskipun secara hukum sah dan tidak perlu diulangi olehnya. Shafiyyah radhiyallahu’aha menuturkan dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi paranormal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara maka sholatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim [2230]). Kalau orang yang bertanya saja dosanya demikian besar, lalu bagaimana lagi yang ditanya?!
Kedustaan yang dibumbui dengan ceceran kebenaran
Sebagian orang menyangkal, bahwa apa yang diberitakan oleh dukun atau paranormal sesuai dengan kenyataan. Oleh karena itu mereka tidak menganggap ramalan atau ‘fatwa’ sang dukun sebagai sesuatu yang salah, karena apa yang dikatakannya benar-benar terjadi atau sesuai dengan keadaan. Benarkah demikian? Ibunda kaum mukminin Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para dukun itu dahulu menceritakan kepada kami suatu perkara dan hal itu benar-benar terjadi/sesuai dengan kenyataan.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu adalah kebetulan saja, suatu kalimat yang haq telah dicuri oleh bangsa jin lalu dilontarkan ke dalam telinga kawannya (dari bangsa manusia) dan dia tambahkan seratus kedustaan padanya.” (HR. Muslim [2228]).
Di dalam hadits di atas, jelas sekali bahwa orang yang mengaku mengetahui perkara gaib semacam itu dari kalangan dukun dan paranormal adalah antek-antek dan kawan-kawan Iblis. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi, “Suatu kalimat yang haq telah dicuri oleh bangsa jin lalu dilontarkan ke dalam telinga kawannya (dari bangsa manusia, pent).” Maka jelaslah bagi kita bahwa pada hakikatnya dukun dan paranormal adalah para wali syaitan, bukan wali Allah! Meskipun mereka memakai sorban, peci, sarung, atau pun berkalungkan tasbih dan sajadah.
Menolong kok jahat?
Mungkin ada orang yang berkomentar, “Bukankah para dukun dan paranormal itu melakukan kebaikan. Mereka melakukan itu semua demi meringankan kesusahan sesama. Bukankah itu sebuah kebaikan, mengapa justru dinilai sebagai kejahatan?”. Saudaraku, semoga Allah merahmatimu, siapakah yang dimaksud orang jahat itu? Bukankah mempersekutukan Allah merupakan kejahatan paling berat di atas muka bumi ini? Allah ta’ala membenarkan ucapan Luqman kepada anaknya (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13).
Bukankah perkara gaib hanya diketahui oleh Allah semata? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit maupun di bumi selain Allah.” (QS. an-Naml: 65). Manakah yang lebih mulia; Nabi ataukah dukun? Tentu saja Nabi jauh lebih utama, meskipun demikian ternyata Nabi pun tidak menguasai ilmu gaib. Allah ta’ala memerintahkan, “Katakanlah (hai Muhammad); Aku tidak menguasai kemanfaatan dan kemudharatan atas diriku kecuali sekedar apa yang dikehendaki Allah, seandainya aku mengetahui perkara gaib niscaya aku akan terus bisa memperbanyak kebaikan dan tidak akan pernah tertimpa keburukan…” (QS. al-A’raaf : 188). Nah, kalau Nabi saja tidak bisa mengetahui ilmu gaib lalu bagaimana lagi dengan manusia selainnya?!
Bagaimanakah menurutmu apabila ada orang yang mengaku dirinya lebih hebat dan lebih mulia daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah orang seperti itu layak untuk digelari sebagai orang baik, wali Allah, kyai, atau orang soleh? Orang yang soleh adalah yang senantiasa menunaikan hak Allah dan hak sesama. Dia beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan tidak mempersekutukan-Nya serta taat kepada rasul-Nya. Dan dia juga menunaikan kewajiban-kewajibannya kepada manusia; berbakti kepada orang tua, memuliakan tamu dan tetangga, menyambung silaturahim, dan sebagainya. Sedangkan wali Allah adalah setiap orang yang beriman dan senantiasa menjaga ketakwaannya kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu, sama sekali tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak juga sedih. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa memelihara ketakwaannya.” (QS. Yunus: 62-63).
Adapun para dukun dan paranormal, mereka itu adalah para penjahat kelas kakap yang harus diciduk dan dijatuhi hukuman berat. Bukan harta atau perhiasan yang telah mereka rampas dari kaum muslimin, bahkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada intan berlian atau emas dan permata, yaitu kesucian dan kemurnian aqidah tauhid yang sudah semestinya tertanam kokoh di hati sanubari setiap mukmin dan mukminah.
Menyeret pada kekafiran
Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya maka sungguh dia telah kafir kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. al-Bazzar dengan sanad jayid qawiy, disahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib [3044]). al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud wahyu yang diturunkan tersebut adalah al-Kitab dan as-Sunnah (Fath al-Majid, 268).
Dalam riwayat al-Bazzar yang bersumber dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu dengan lafaz, “Barangsiapa yang mendatangi paranormal, tukang sihir, atau dukun, lalu dia membenarkan perkataannya maka sungguh dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Shahih Targhib wa Tarhib [3044]). Dalil ini menunjukkan bahwa dukun dan tukang sihir dihukumi kafir, karena mereka telah berani mengaku mengetahui ilmu gaib, padahal perbuatan itu merupakan kekafiran. Demikian juga orang yang membenarkan perbuatan mereka dan meyakini apa yang mereka ucapkan dan meridhai perbuatan tersebut maka hal itu juga termasuk kekafiran, demikian papar Syaikh Aburrahman bin Hasan (Fath al-Majid, hal. 268).
Tentu saja hal ini menunjukkan kepada kita bahwa praktek perdukunan dan paranormal -apa pun istilahnya- merupakan penyakit masyarakat yang sangat ganas dan mematikan. Gara-gara ulah mereka aqidah masyarakat menjadi rusak, tatanan agama menjadi tidak lagi dihiraukan, muncul permusuhan, pengambilan harta tanpa hak, dan pertumpahan darah di atas muka bumi. Lebih parah lagi jika orang-orang itu -dukun/paranormal- telah dilabeli dengan gelar kyai atau pakar pengobatan alternatif. Pada hakikatnya ini adalah penyesatan yang dipoles dengan kata-kata yang indah.
Cinta ditolak, dukun bertindak?
Sebagian pemuda yang dimabuk asmara akibat mengobral pandangan kepada perempuan-perempuan yang juga tidak punya rasa malu mungkin akrab dengan slogan ini, ‘Cinta ditolak, dukun bertindak’. Ada dua hal pokok yang perlu kita kritisi dalam slogan ini. Pertama, cinta yang salah penerapan. Ketika orang berbicara cinta, maka yang terpikir di otak para remaja adalah pacaran, apel, nonton bareng, dan seabrek kegiatan mendekati zina lainnya. Yang kedua, ketika kepentingan hawa nafsu mereka tidak terpenuhi, maka otomatis mereka lari kepada para dukun yang notebene justru menceburkan mereka ke dalam dosa yang jauh lebih berat yaitu syirik dan kekafiran. Ini tidak jauh dengan ungkapan, ‘Lepas dari gigitan singa, terjatuh ke mulut buaya’. Nah, tentu ini merupakan musibah dan bencana yang menghancurkan iman dan jati diri seorang insan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia berkenan mengampuni dosa lain di bawah tingkatan syirik bagi orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’: 116).
Perhatikanlah, inilah realita umat yang hari ini kita hadapi… Ketika aqidah dan akhlak generasi muda telah terkikis dan luntur dari lubuk hati mereka, maka secara otomatis syaitan dan bala tentaranyalah yang bekerja dan memegang kendali dalam tubuh dan akal pikiran mereka. Maka tidaklah mengherankan jika banyak remaja yang menggandrungi kisah-kisah fiksi yang menyajikan lika-liku dunia perdukunan dan sihir menyihir, bahkan ia menempati posisi best seller yang terjual laris dalam waktu yang singkat, laa haula wa laa quwwata illa billaah! Sementara di sisi lain, kita saksikan kitab-kitab para ulama salaf masih menjadi barang langka yang menghiasi rak dan meja para pemuda dan generasi penerus perjuangan Islam di masa depan. Jangankan memiliki kitabnya, membaca tulisan arab gundul pun mereka tidak sanggup melakukannya… Sungguh memprihatinkan, sebuah umat yang telah diwarisi dengan al-Kitab dan as-Sunnah oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun justru lebih menggandrungi kitab-kitab ’sihir’ yang memalingkan mereka dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Ketika dahulu para sahabat asyik menelaah dan menyimak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perbincangan mereka sehari-hari -sampai-sampai mereka menangis-, namun pada hari ini kita saksikan obrolan kaum muda hanya dipenuhi dengan gelak tawa dan isak tangis palsu gara-gara menonton film favorit, pertandingan sepak bola yang sarat dengan suporter ala jahiliyah, dan artis idola atau ramalan bintang anda hari ini, fa inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.
Merebut kursi basah dengan sowan kepada ’simbah’
Kedudukan dan pangkat telah melupakan sebagian orang. Demi meraih kedudukan strategis dalam perusahaan atau pemerintahan maka orang rela untuk menjual agamanya. Sebagian orang, sebelum menentukan langkah-langkah politik dan strategi untuk mencapai puncak pimpinan maka dia sowan (menghadap) dulu kepada simbah (orang pintar alias dukun) yang di sebagian daerah biasa dijuluki oleh masyarakat sebagai kyai. Maka berbagai persyaratan pun diajukan agar konsumen tersebut bisa mendapatkan apa yang dia harapkan. Setelah itu, sang dukun mengobral ramalan dan menceritakan wahyu atau wangsit yang didapatkannya. Benar, dia telah mendapatkan wahyu, namun sayang wahyunya bukan dari Allah tapi dari Syaitan la’natullahi ‘alaih. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ramalan mereka, “Itu adalah kebetulan saja, suatu kalimat yang haq telah dicuri oleh bangsa jin lalu dilontarkan ke dalam telinga kawan/walinya (dari bangsa manusia) dan dia tambahkan seratus kedustaan padanya.” (HR. Muslim [2228]).
Inilah sekelumit gambaran tentang dunia ramal meramal dan perdukunan yang telah meracuni atmosfer kehidupan kaum muslimin di berbagai daerah. Apa yang tertuang di sini hanyalah sebagian kecil dari berbagai bentuk praktek perdukunan dan sihir menyihir yang ternyata memang ada dan terjadi di masyarakat kita. Jalan keluar darinya adalah dengan kembali kepada bimbingan al-Kitab dan as-Sunnah yang menuntun kita untuk mencuci bersih hati kita dari segenap kotoran keyakinan dan mengisinya dengan siraman ayat-ayat suci dan wasiat ‘kanjeng’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak akan tercapai kejayaan umat ini kecuali dengan tauhid, sebagaimana tidak akan selamat seorang hamba di ‘mahkamah’ peradilan Allah kelak di hari kiamat kecuali dengan tauhid. Sudah saatnya, bagi setiap individu muslim untuk menyadari bahaya besar ini (baca: syirik) dan berjuang untuk menyelamatkan aqidah mereka dan saudara-saudaranya dari tipu daya para dukun dan paranormal yang gemar menebar ocehan-ocehan gombal. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
[Ari Wahyudi]At Tauhid edisi V/13
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/mereka-adalah-penjahat
Takdir, Cermin Kebijaksanaan, Bukan Kekejaman
Alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala rasulillah. Kaum muslimin sekalian, semoga Allah merahmati perjalanan hidup kita bersama. Bagi seorang muslim, iman kepada takdir merupakan prinsip yang tidak bisa diusik oleh siapapun juga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim).
Suatu saat, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mendengar laporan bahwa ada segolongan penduduk Bashrah (Iraq) yang mengingkari takdir, maka beliau berkata, “Demi Dzat yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan nama-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu dia infakkan niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman terhadap takdir.”(HR. Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa mengingkari takdir adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama.
Kembali kepada Pemahaman Sahabat
Dalam mengimani takdir, seorang muslim harus berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat. Apabila tidak, maka yang terjadi adalah sebagaimana yang dialami oleh sebagian penduduk Bashrah yang dikisahkan di dalam hadits di atas. Yahya bin Ya’mar periwayat hadits tersebut menceritakan, “Wahai Abu Abdirrahman -panggilan Ibnu Umar-, sesungguhnya telah muncul di daerah kami orang-orang yang pandai membaca al-Qur’an dan gemar mengumpulkan ilmu.” Lalu dia menyebutkan keadaan mereka, “Mereka menganggap bahwa takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu terjadi secara tiba-tiba.” (HR. Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa sekedar menghafal Al Qur’an dan memiliki wawasan keilmuan yang luas tidak cukup apabila tidak dilandasi dengan pemahaman yang benar -yaitu metode pemahaman para sahabat- terhadap suatu perkara agama. Apalagi dalam perkara pokok seperti rukun iman. Apabila di masa sebagian sahabat masih hidup saja penyimpangan dalam masalah takdir -yang itu termasuk rukun iman- sudah muncul, maka bagaimana lagi pada zaman kita sekarang ini -di saat racun filsafat dan pemikiran sesat telah merasuki akal banyak orang-?
Memahami Takdir itu Mudah
Sesungguhnya dengan merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman para sahabat, keimanan terhadap takdir akan dapat dimengerti dengan mudah. Sebaliknya, apabila manusia merusak akalnya dan ‘meracuninya’ dengan filsafat maka takdir akan menjadi susah dipahami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorang pun yang berusaha untuk mempersulit diri kecuali dia pasti kalah.”(HR. Bukhari).
Di antara prinsip penting yang harus kita yakini sebelum kita berbicara lebih jauh tentang hal ini adalah keharusan untuk taslim (pasrah) kepada dalil-dalil yang ada, tidak menentang ataupun menyelewengkannya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara dengan memperturutkan hawa nafsunya. Karena sesungguhnya apa yang disampaikannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An Najm: 3-4).
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segala yang datang dari beliau sebagaimana yang diinginkan olehnya.”(Disebutkan Ibnu Qudamah dalam Lum’atul I’tiqad)
Iman kepada takdir mencakup empat perkara:
[1] Mengimani ilmu Allah yang azali-ada sebelum alam semesta tercipta- yang meliputi segala sesuatu. Termasuk dalam ilmu-Nya adalah pengetahuan Allah tentang amal perbuatan hamba sebelum mereka melakukannya
[2] Allah telah menuliskan ilmu-Nya itu di dalam Lauh al-Mahfuzh
[3] Kehendak Allah yang menyeluruh dan kemampuan-Nya yang sempurna untuk terwujudnya segala peristiwa
[4] Allah yang mewujudkan semua makhluk. Allah lah satu-satunya pencipta sedangkan selain-Nya adalah makhluk. (Syarh Aqidah Wasithiyah, Syaikh Shalih Al Fauzan)
Ilmu Allah Maha Luas
Allah mengetahui perkara ghaib maupun yang tampak. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dialah Allah yang tidak ada sesembahan -yang benar- selain Dia, Yang Maha mengetahui perkara gaib maupun yang terlihat.” (QS. Al Hasyr: 22). Allah juga mengetahui segala yang ada di langit maupun di bumi. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah itu mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya hal itu terdapat di dalam Kitab, sesungguhnya hal itu adalah perkara yang mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj: 70). Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Agar kalian mengetahui bahwa Allah maha berkuasa untuk melakukan segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. At Thalaq: 12). Allah mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang taat dan siapa yang bermaksiat. Allah juga mengetahui bagaimana akhir hidup mereka, di atas keimanan atau kekafiran. Allah mengetahui siapa di antara mereka yang akan menghuni surga dan siapa yang akan menghuni neraka.
Segalanya Telah Ditulis
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Segala sesuatu telah Kami kumpulkan di dalam kitab yang jelas (lauhul mahfuzh).” (QS. Yasin: 12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.” (HR. Muslim).
Iman terhadap pencatatan takdir ini meliputi lima perkara:
[1] Mengimani bahwa Allah telah memerintahkan pena takdir untuk mencatat segala sesuatu sebelum penciptaan langit dan bumi, hal ini disebut sebagai takdir azali,
[2] Mengimani bahwa Allah telah mengambil perjanjian terhadap anak cucu Adam ketika mereka dikeluarkan dari tulang sulbinya dan mereka bersaksi bahwa Allah adalah Rabb mereka (lihat QS. Al A’raf: 172),
[3] Mengimani bahwa Allah telah menetapkan jenis kelamin, ajal, amal dan nasib manusia yaitu ketika mereka masih berada di dalam rahim ibu mereka (sebagaimana disebutkan di dalam HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu), ini disebut takdir ‘umri,
[4] Allah menetapkan takdir segala sesuatu yang akan terjadi dalam waktu setahun berikutnya, yaitu pada malam Qadar (Lihat QS. Ad Dukhan: 3-4),
[5] Allah menjalankan takdir yang telah ditetapkan-Nya di sepanjang perjalanan waktu pada setiap harinya. Hal ini disebut sebagai takqir yaumi atau takdir harian (Lihat QS. Ar Rahman: 29). Takdir harian merupakan rincian dari takdir tahunan. Takdir tahunan merupakan rincian dari takdir ‘umri. Takdir ‘Umri merupakan rincian dari takdir yang ditetapkan ketika Allah mengambil perjanjian dengan anak cucu Adam.
Adapun takdir yang ditetapkan ketika pengambilan perjanjian dengan anak cucu Adam merupakan rincian dari takdir yang ada di Lauhul Mahfuzh (Diringkas dari Al Mukhtashar fi ‘Aqidati Ahli Sunnati fi Al Qadar, Syaikh Dr. Ibrahim Ar Ruhaili)
Kehendak Allah Meliputi Segala Sesuatu
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya perintah Allah apabila Dia menginginkan sesuatu maka dia cukup dengan mengatakan, ‘jadilah’ maka hal itu akan terjadi.” (QS. Yasin: 82). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabbmu menciptakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang memilih.” (QS. Al Qashash: 68). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27).
Allah Pencipta Segala Sesuatu
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan: 2). Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya sebagaima disebutkan dalam firman Allah (yang artinya), (“Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.” (QS. Ash Shaffat: 96).
Apakah manusia dipaksa?
Setiap orang yang berakal tentu menyadari bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan yang dengan keduanya dia melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dia bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan sesuatu yang terjadi di luar keinginannya seperti contohnya terpeleset di saat berjalan. Namun perlu kita ingat pula kehendak hamba juga tidak mungkin terlepas dari kehendak dan kemampuan Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi siapa saja di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus. Dan tidaklah kalian berkehendak melainkan apabila dikehendaki Allah Rabb alam semesta.” (QS. At Takwir: 29). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Maka barang siapa yang ingin niscaya dia akan mengambil jalan kembali menuju Rabbnya.” (QS. An Naba’: 39).
Dalil-dalil ini dengan jelas menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak dan pilihan dalam menjalani kehidupan. Namun, kehendak hamba tidak bisa dilepaskan dari kehendak Allah ta’ala.
Dalam masalah ini ada dua kelompok ekstrim yang menyimpang dari aqidah yang benar, yaitu Jabriyah dan Qadariyah. Kaum Jabriyah menganggap bahwa manusia dalam keadaan dipaksa dan tidak memiliki pilihan. Adapun kaum Qadariyah mengira bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang mentakdirkannya. Kedua kelompok ini jelas telah menyalahi dalil-dalil yang ada di dalam al-Kitab maupun as-Sunnah.
Takdir sebagai Dalih untuk Berbuat Maksiat?
Sebagian orang yang telah diperdaya oleh syaitan dan diperbudak oleh nafsu sehingga tenggelam dalam berbagai bentuk kemaksiatan dan dosa-dosa besar -dan tidak mau bertaubat darinya- berusaha untuk mencari-cari alasan demi membenarkan perilaku mereka. Sebagian di antara mereka berkata, “Bukankah kemaksiatan yang terjadi ini sudah merupakan takdir dari Allah dan kehendak dari-Nya? Jadi, tidak perlu ada yang dipersalahkan!”. Apakah alasan semacam ini bisa kita terima?
Pembaca sekalian, semoga Allah meneguhkan iman kita. Sesungguhnya alasan semacam itu adalah alasan yang mengada-ada. Ambillah sebuah contoh, apabila di hadapan seseorang terdapat dua buah jalan. Jalan yang satu menuju suatu daerah yang penuh dengan kekacauan dan keresahan, pembunuhan, perampokan, penodaan terhadap kehormatan, dicekam oleh rasa takut dan tertimpa kelaparan. Adapun jalan yang kedua menuju suatu daerah yang di sana segala sesuatunya teratur dan keamanan terjamin, kehidupan penuh kesejahteraan, kehormatan manusia dihormati, harga diri dan harta mereka terjaga.
Maka kira-kira akan kemanakah orang itu akan menempuh perjalanannya? Niscaya dia akan memilih jalan kedua yang akan mengantarkannya menuju keteraturan dan ketenteraman. Tidak mungkin orang yang berakal justru memilih jalan pertama yang akan menjerumuskannya kepada kekacauan dan dicekam oleh rasa takut, kemudian dia beralasan dengan takdir. Lalu mengapa orang justru menempuh jalan akhirat yang akan menjerumuskannya ke neraka -bukan jalan ke surga- dan berdalih dengan takdir? Sungguh hal ini adalah perkara yang sangat mengherankan! (Lihat Nubdzat fi Al ‘Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin)
Sesungguhnya berdalih dengan takdir untuk membenarkan maksiat merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang berbuat kesyirikan itu akan mengatakan, ‘Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan melakukan kesyirikan. Demikian pula bapak-bapak kami. Dan kami juga tidak akan mengharamkan apa pun’. Demikian itulah perilaku orang-orang sebelum mereka yang mendustakan -kebenaran-, sampai akhirnya mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah -kepada mereka-, ‘Apakah kalian memiliki ilmu sehingga hal itu bisa kalian keluarkan kepada kami?’. Sesungguhnya kalian hanya mengikuti persangkaan semata. Dan kalian tidak melakukan apa-apa selain hanya menduga-duga.” (QS. Al An’am: 148). Kalau seandainya alasan mereka itu diterima oleh Allah niscaya Allah tidak akan menimpakan siksaan itu kepada mereka.
Buah Iman kepada Takdir
Seorang yang beriman kepada takdir, maka dia akan senantiasa bersandar kepada Allah dalam berusaha dan bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan merasa ujub dengan dirinya, sebab dia tidak akan berhasil mendapatkan kebaikan kecuali dengan nikmat dari-Nya. Dia juga akan merasakan ketenangan jiwa dan pasrah terhadap musibah yang Allah tetapkan menimpanya. Akhirnya kita memohon, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk tetap istiqomah di atas jalan-Nya hingga ajal tiba. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
[Ari Wahyudi]
At Tauhid edisi V/25
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/takdir-cermin-kebijaksanaan-bukan-kekejaman
“Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim).
Suatu saat, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mendengar laporan bahwa ada segolongan penduduk Bashrah (Iraq) yang mengingkari takdir, maka beliau berkata, “Demi Dzat yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan nama-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu dia infakkan niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman terhadap takdir.”(HR. Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa mengingkari takdir adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama.
Kembali kepada Pemahaman Sahabat
Dalam mengimani takdir, seorang muslim harus berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat. Apabila tidak, maka yang terjadi adalah sebagaimana yang dialami oleh sebagian penduduk Bashrah yang dikisahkan di dalam hadits di atas. Yahya bin Ya’mar periwayat hadits tersebut menceritakan, “Wahai Abu Abdirrahman -panggilan Ibnu Umar-, sesungguhnya telah muncul di daerah kami orang-orang yang pandai membaca al-Qur’an dan gemar mengumpulkan ilmu.” Lalu dia menyebutkan keadaan mereka, “Mereka menganggap bahwa takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu terjadi secara tiba-tiba.” (HR. Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa sekedar menghafal Al Qur’an dan memiliki wawasan keilmuan yang luas tidak cukup apabila tidak dilandasi dengan pemahaman yang benar -yaitu metode pemahaman para sahabat- terhadap suatu perkara agama. Apalagi dalam perkara pokok seperti rukun iman. Apabila di masa sebagian sahabat masih hidup saja penyimpangan dalam masalah takdir -yang itu termasuk rukun iman- sudah muncul, maka bagaimana lagi pada zaman kita sekarang ini -di saat racun filsafat dan pemikiran sesat telah merasuki akal banyak orang-?
Memahami Takdir itu Mudah
Sesungguhnya dengan merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman para sahabat, keimanan terhadap takdir akan dapat dimengerti dengan mudah. Sebaliknya, apabila manusia merusak akalnya dan ‘meracuninya’ dengan filsafat maka takdir akan menjadi susah dipahami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorang pun yang berusaha untuk mempersulit diri kecuali dia pasti kalah.”(HR. Bukhari).
Di antara prinsip penting yang harus kita yakini sebelum kita berbicara lebih jauh tentang hal ini adalah keharusan untuk taslim (pasrah) kepada dalil-dalil yang ada, tidak menentang ataupun menyelewengkannya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara dengan memperturutkan hawa nafsunya. Karena sesungguhnya apa yang disampaikannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An Najm: 3-4).
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segala yang datang dari beliau sebagaimana yang diinginkan olehnya.”(Disebutkan Ibnu Qudamah dalam Lum’atul I’tiqad)
Iman kepada takdir mencakup empat perkara:
[1] Mengimani ilmu Allah yang azali-ada sebelum alam semesta tercipta- yang meliputi segala sesuatu. Termasuk dalam ilmu-Nya adalah pengetahuan Allah tentang amal perbuatan hamba sebelum mereka melakukannya
[2] Allah telah menuliskan ilmu-Nya itu di dalam Lauh al-Mahfuzh
[3] Kehendak Allah yang menyeluruh dan kemampuan-Nya yang sempurna untuk terwujudnya segala peristiwa
[4] Allah yang mewujudkan semua makhluk. Allah lah satu-satunya pencipta sedangkan selain-Nya adalah makhluk. (Syarh Aqidah Wasithiyah, Syaikh Shalih Al Fauzan)
Ilmu Allah Maha Luas
Allah mengetahui perkara ghaib maupun yang tampak. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dialah Allah yang tidak ada sesembahan -yang benar- selain Dia, Yang Maha mengetahui perkara gaib maupun yang terlihat.” (QS. Al Hasyr: 22). Allah juga mengetahui segala yang ada di langit maupun di bumi. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah itu mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya hal itu terdapat di dalam Kitab, sesungguhnya hal itu adalah perkara yang mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj: 70). Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Agar kalian mengetahui bahwa Allah maha berkuasa untuk melakukan segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. At Thalaq: 12). Allah mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang taat dan siapa yang bermaksiat. Allah juga mengetahui bagaimana akhir hidup mereka, di atas keimanan atau kekafiran. Allah mengetahui siapa di antara mereka yang akan menghuni surga dan siapa yang akan menghuni neraka.
Segalanya Telah Ditulis
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Segala sesuatu telah Kami kumpulkan di dalam kitab yang jelas (lauhul mahfuzh).” (QS. Yasin: 12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.” (HR. Muslim).
Iman terhadap pencatatan takdir ini meliputi lima perkara:
[1] Mengimani bahwa Allah telah memerintahkan pena takdir untuk mencatat segala sesuatu sebelum penciptaan langit dan bumi, hal ini disebut sebagai takdir azali,
[2] Mengimani bahwa Allah telah mengambil perjanjian terhadap anak cucu Adam ketika mereka dikeluarkan dari tulang sulbinya dan mereka bersaksi bahwa Allah adalah Rabb mereka (lihat QS. Al A’raf: 172),
[3] Mengimani bahwa Allah telah menetapkan jenis kelamin, ajal, amal dan nasib manusia yaitu ketika mereka masih berada di dalam rahim ibu mereka (sebagaimana disebutkan di dalam HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu), ini disebut takdir ‘umri,
[4] Allah menetapkan takdir segala sesuatu yang akan terjadi dalam waktu setahun berikutnya, yaitu pada malam Qadar (Lihat QS. Ad Dukhan: 3-4),
[5] Allah menjalankan takdir yang telah ditetapkan-Nya di sepanjang perjalanan waktu pada setiap harinya. Hal ini disebut sebagai takqir yaumi atau takdir harian (Lihat QS. Ar Rahman: 29). Takdir harian merupakan rincian dari takdir tahunan. Takdir tahunan merupakan rincian dari takdir ‘umri. Takdir ‘Umri merupakan rincian dari takdir yang ditetapkan ketika Allah mengambil perjanjian dengan anak cucu Adam.
Adapun takdir yang ditetapkan ketika pengambilan perjanjian dengan anak cucu Adam merupakan rincian dari takdir yang ada di Lauhul Mahfuzh (Diringkas dari Al Mukhtashar fi ‘Aqidati Ahli Sunnati fi Al Qadar, Syaikh Dr. Ibrahim Ar Ruhaili)
Kehendak Allah Meliputi Segala Sesuatu
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya perintah Allah apabila Dia menginginkan sesuatu maka dia cukup dengan mengatakan, ‘jadilah’ maka hal itu akan terjadi.” (QS. Yasin: 82). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabbmu menciptakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang memilih.” (QS. Al Qashash: 68). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27).
Allah Pencipta Segala Sesuatu
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan: 2). Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya sebagaima disebutkan dalam firman Allah (yang artinya), (“Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.” (QS. Ash Shaffat: 96).
Apakah manusia dipaksa?
Setiap orang yang berakal tentu menyadari bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan yang dengan keduanya dia melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dia bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan sesuatu yang terjadi di luar keinginannya seperti contohnya terpeleset di saat berjalan. Namun perlu kita ingat pula kehendak hamba juga tidak mungkin terlepas dari kehendak dan kemampuan Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi siapa saja di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus. Dan tidaklah kalian berkehendak melainkan apabila dikehendaki Allah Rabb alam semesta.” (QS. At Takwir: 29). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Maka barang siapa yang ingin niscaya dia akan mengambil jalan kembali menuju Rabbnya.” (QS. An Naba’: 39).
Dalil-dalil ini dengan jelas menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak dan pilihan dalam menjalani kehidupan. Namun, kehendak hamba tidak bisa dilepaskan dari kehendak Allah ta’ala.
Dalam masalah ini ada dua kelompok ekstrim yang menyimpang dari aqidah yang benar, yaitu Jabriyah dan Qadariyah. Kaum Jabriyah menganggap bahwa manusia dalam keadaan dipaksa dan tidak memiliki pilihan. Adapun kaum Qadariyah mengira bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang mentakdirkannya. Kedua kelompok ini jelas telah menyalahi dalil-dalil yang ada di dalam al-Kitab maupun as-Sunnah.
Takdir sebagai Dalih untuk Berbuat Maksiat?
Sebagian orang yang telah diperdaya oleh syaitan dan diperbudak oleh nafsu sehingga tenggelam dalam berbagai bentuk kemaksiatan dan dosa-dosa besar -dan tidak mau bertaubat darinya- berusaha untuk mencari-cari alasan demi membenarkan perilaku mereka. Sebagian di antara mereka berkata, “Bukankah kemaksiatan yang terjadi ini sudah merupakan takdir dari Allah dan kehendak dari-Nya? Jadi, tidak perlu ada yang dipersalahkan!”. Apakah alasan semacam ini bisa kita terima?
Pembaca sekalian, semoga Allah meneguhkan iman kita. Sesungguhnya alasan semacam itu adalah alasan yang mengada-ada. Ambillah sebuah contoh, apabila di hadapan seseorang terdapat dua buah jalan. Jalan yang satu menuju suatu daerah yang penuh dengan kekacauan dan keresahan, pembunuhan, perampokan, penodaan terhadap kehormatan, dicekam oleh rasa takut dan tertimpa kelaparan. Adapun jalan yang kedua menuju suatu daerah yang di sana segala sesuatunya teratur dan keamanan terjamin, kehidupan penuh kesejahteraan, kehormatan manusia dihormati, harga diri dan harta mereka terjaga.
Maka kira-kira akan kemanakah orang itu akan menempuh perjalanannya? Niscaya dia akan memilih jalan kedua yang akan mengantarkannya menuju keteraturan dan ketenteraman. Tidak mungkin orang yang berakal justru memilih jalan pertama yang akan menjerumuskannya kepada kekacauan dan dicekam oleh rasa takut, kemudian dia beralasan dengan takdir. Lalu mengapa orang justru menempuh jalan akhirat yang akan menjerumuskannya ke neraka -bukan jalan ke surga- dan berdalih dengan takdir? Sungguh hal ini adalah perkara yang sangat mengherankan! (Lihat Nubdzat fi Al ‘Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin)
Sesungguhnya berdalih dengan takdir untuk membenarkan maksiat merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang berbuat kesyirikan itu akan mengatakan, ‘Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan melakukan kesyirikan. Demikian pula bapak-bapak kami. Dan kami juga tidak akan mengharamkan apa pun’. Demikian itulah perilaku orang-orang sebelum mereka yang mendustakan -kebenaran-, sampai akhirnya mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah -kepada mereka-, ‘Apakah kalian memiliki ilmu sehingga hal itu bisa kalian keluarkan kepada kami?’. Sesungguhnya kalian hanya mengikuti persangkaan semata. Dan kalian tidak melakukan apa-apa selain hanya menduga-duga.” (QS. Al An’am: 148). Kalau seandainya alasan mereka itu diterima oleh Allah niscaya Allah tidak akan menimpakan siksaan itu kepada mereka.
Buah Iman kepada Takdir
Seorang yang beriman kepada takdir, maka dia akan senantiasa bersandar kepada Allah dalam berusaha dan bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan merasa ujub dengan dirinya, sebab dia tidak akan berhasil mendapatkan kebaikan kecuali dengan nikmat dari-Nya. Dia juga akan merasakan ketenangan jiwa dan pasrah terhadap musibah yang Allah tetapkan menimpanya. Akhirnya kita memohon, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk tetap istiqomah di atas jalan-Nya hingga ajal tiba. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
[Ari Wahyudi]
At Tauhid edisi V/25
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/takdir-cermin-kebijaksanaan-bukan-kekejaman
"Tren Halal di Eropa Tidak Dapat Dihentikan"
Islam masih diperlakukan diskriminatif di berbagai belahan dunia. Namun bahan makanan dan kosmetika yang sesuai Islam dicari konsumen Eropa

Hidayatullah.com--Gehlenberg adalah sebuah desa sunyi di bagian selatan daerah Oldenburg di Jerman Utara. Penduduknya hanya sekitar 1.600 orang. Di desa itu ada sebuah gedung perkumpulan, sebuah gereja, monumen peringatan perang, kedai minum yang bernama "Paraplü", dan rumah makan "Hüttenbernd".
Di pinggir jalan nampak beberapa salib dan gereja kecil. Mayoritas penduduk daerah itu pemeluk agama Katolik yang fanatik. Tetapi di bangsal pabrik di bagian timur kota itu, tiga hari dalam sepekan semua aktivitas berlangsung menurut ajaran Nabi Muhammad.
Perusahaan keluarga Jerman Meemken membuat berbagai jenis sosis yang sesuai dengan aturan Islam. Setiap pekannya, perusahaan itu mengirimkan hampir 100 ton salami, sosis goreng, dan sosis lainnya yang "benar secara Islam" ke pedagang bahan pangan di Jerman dan luar Jerman.
Godaan Pasar yang Baru
Perusahaan bahan pangan internasional seperti Nestlé atau Unilever telah bertahun-tahun menawarkan berbagai produk, yang menurut Al Quran tidak perlu dikhawatirkan. "Halal" dalam bahasa Arab dan "Helal" dalam bahasa Turki, berarti "yang diperbolehkan" atau "yang diizinkan". Istilah ini diperuntukkan bagi seluruh cara hidup orang muslim, dan makanan yang benar menjadi sesuatu yang penting.
Lambat-laun pengusaha Jerman juga menyadari bahwa dengan adanya cara warga muslim mengkonsumsi produk, yang berdasarkan ajaran agama, keuntungan besar dapat diraup, terutama di masa tidak menentunya keadaan ekonomi. Pembukaan pasar baru menjadi ide yang menggoda.
Pasar-pasar baru ini, di Jerman saja, ternyata jauh lebih besar dari dugaan sebelumnya. Diperkirakan, orang muslim yang sekarang tinggal di Jerman jumlahnya antara 3,8 hingga 4,3 juta.
Karena secara rata-rata warga muslim memiliki anak lebih banyak, maka konsumen muslim dianggap sebagai salah satu kelompok konsumen paling menarik, dan menjanjikan masa depan bagus. Sekarang saja, 17% dari perdagangan makanan dunia adalah perdagangan makanan halal. Demikian dikatakan dalam "World Halal Forum", atau forum dunia tentang makanan halal di Malaysia.
Potensi itu juga sama sekali belum terkuras, demikian dikatakan para pakar. Tidak ada segmen lain dalam pasaran bahan pangan yang berkembang secepat makanan halal. Tahun 2004 pemasukan di seluruh dunia, yang berasal dari pasar bahan pangan yang sesuai ajaran Islam, mencapai 587 milyar Dollar. Tahun 2010 kemungkinan akan mencapai 641 milyar. Di Eropa saja, para pakar memperkirakan, tahun depan pemasukannya akan berjumlah 67 milyar Euro.
Negara-negara Eropa, yang jumlah penduduk muslimnya tinggi, telah sepenuhnya menyesuaikan diri dengan keinginan konsumen. Di Perancis, pasar swalayan Casino telah menawarkan daging dan sosis sesuai ketentuan makanan halal. Di Inggris ini telah ditawarkan di pasar swalayan Tesco dan Sainsbury.
Toko-toko makanan terpilih di Prancis menjual pastel hati angsa yang halal. Toko obat Inggris, Boots menjual makanan bayi yang diproduksi sesuai ajaran Islam. Dan karena berhasil mendapat keuntungan besar di London, McDonalds dalam waktu singkat akan menawarkan ayam halal di negara-negara Eropa lainnya.
Sengketa soal Penyembelihan
Tetapi di supermarket-supermarket Jerman penawaran tidak banyak. Terutama daging dan sosis yang berasal dari penyembelihan sesuai ajaran Islam jarang dibeli oleh para pedagang, karena mereka takut akan bersengketa dengan organisasi perlindungan hewan.
Memang Mahkamah Konstitusi Jerman telah menetapkan Januari 2002 lalu bahwa penyembelih muslim diizinkan membunuh hewan dengan memotong lehernya tanpa dibius terlebih dahulu, jika itu memang diperintahkan agamanya.
Tetapi kesulitan selalu terjadi, seperti dalam proses terakhir, yaitu antara penyembelih asal Turki, Rüstem Altinküpe yang melawan pengadilan administrasi negara bagian Hessen. Beberapa waktu lalu ia akhirnya memenangkan proses, setelah Mahkamah Konstitusi kembali memberikan izinnya.
Bagi sebagian warga muslim, seekor hewan yang dibius dianggap telah mati, dan memakan daging hewan itu berarti melanggar larangan memakan bangkai yang tercantum dalam Al Quran. Untuk menghindari masalah itu, banyak pengolah daging membeli daging di luar Jerman.
Sekarang belum ada dewan pengawas bersama yang memberikan stempel sebagai bukti. Pasar pemberi sertifikat, yang mengontrol baik bahan mentah, produksi, pembersihan, maupun penyalurnya, sangat besar dan tidak teratur. Tetapi di kalangan Islam sendiri, penyembelihan menjadi topik yang sering dipertikaikan. "Orang harus mengerti, bagaimana situasi di masa Nabi Muhammad mengeluarkan ketetapan tersebut, dan orang tidak boleh berpegang secara buta pada ketentuan tradisi," demikian misalnya dikatakan Yusuf Çalkara dari Europäischen Halal-Zertifizierungsinstituts (institut pemberi sertifikat halal) di Hamburg.
Repotnya pemberi sertifikat lain menolak untuk memeriksa tempat penyembelihan. "Daging yang berasal dari industri daging tidak pernah benar-benar halal," demikian dikatakan Mahmoud Tatari dari Halal Control di kota Rüsselsheim. Menurut ajaran Islam, hewan yang akan disembelih tidak boleh menderita stres atau disiksa. Tetapi ketentuan ini tidak akan pernah dapat dipenuhi produksi daging massal.
Di samping itu para pemberi sertifikat juga tidak sama ketatnya dalam menilai peraturan penyebutan nama Tuhan saat menyembelih tiap hewan. Bagi sebagian orang, dalam penyembelihan dengan mesin sudah cukup jika rekaman seruan nama Tuhan dimainkan, tetapi penyembelihan harus dimulai oleh seseorang yang beragama Islam. Akibat berbeda-bedanya interpretasi peraturan yang tercantum dalam Al Quran, warga Islam di Jerman tidak dapat menyepakati satu standar halal yang berlaku untuk semua orang.
Pembuat sosis Meemken baru saja selesai diperiksa. 60 produknya yang berstempel halal telah menutupi lebih dari separuh produksi makanan halal. Sejauh ini, produsen makanan halal itu menyalurkan makanan ke berbagai supermarket Eropa di luar Jerman.
Sekarang supermarket Jerman, Netto, yang menjual bahan makanan dengan harga murah juga menjadi pelanggannya. Asal-mula bisnis ini adalah seorang pedagang grosir Turki, yang bertanya di kota Gehlenberg, apakah Meemken juga dapat memproduksi bahan makanan halal.
Mesin-mesin di perusahaan itu selalu dibersihkan dengan sangat teliti, agar di hari-hari produksi makanan halal, tidak ada sisa daging babi yang tercampur dalam sosis.
Dalam waktu dekat mesin-mesin baru akan memungkinkan pemisahan proses produksi. "Kami pasti akan memperluas bisnis di bidang ini," demikian dikatakan Direktur Utama Rolf Meemken. Ditambahkannya, "Dalam bisnis makanan halal kami berkembang melebihi proporsi."
Perusahaan Jerman lainnya, Wiesenhof, yang mengolah daging unggas, juga telah mendapat sertifikat halal bagi sejumlah produknya sejak beberapa tahun lalu. Tetapi pedagang grosir dan supermarket memutuskan sendiri, apakah logo "Halal" ditempelkan pada barang dagangan atau tidak.
"Perusahaan Jerman terlalu hati-hati," demikian dikatakan Levent Akgül dari agen pemasaran Akkar Media di Hannover. "Mereka tidak mengenal kebudayaan lain sehingga tidak dapat memperkirakan risiko."
Di samping itu pedagang bahan pangan Jerman takut, dengan menjual barang berstempel "Halal” dapat menghalau pembeli yang bukan muslim," demikian Akgül. Jadi membuat iklan bagi jenis makanan ini tabu bagi perusahaan Jerman, begitu ditambahkan Akgül.
Tetapi ini tidak akan berlangsung lama lagi. "Tren makanan halal tidak dapat dibendung," demikian Peter Groethues, Ketua Bidang Makanan di Pameran Köln, Kölnmesse.
Dalam pameran bahan pangan ANUGA di Kölnmesse bulan Oktober ini, lebih dari 800 produsen memamerkan produknya yang halal. Sebagian besar dari mereka berasal dari luar Jerman, tetapi banyak dari mereka telah mengekspor produk ke Jerman selama bertahun-tahun.
Keuntungan Lebih Besar

Produk-produk halal sekarang umumnya dijual di toko spesial. "Tetapi makanan halal semakin menjadi penunjang penting perdagangan," demikian dikatakan oleh Ikatan Perdagangan Bahan Pangan Jerman.
Tidak heran, daya beli warga Turki di Jerman diperkirakan sampai 25 milyar Euro per tahunnya. Jadi dari bisnis yang melibatkan peraturan agama keuntungan sangat besar. Misalnya Nestlé, dengan produk-produk halalnya keuntungan yang diperoleh sudah lebih dari bisnis produk bionya.
Produk halal tersebut berlaku bagi semua bahan pangan, mulai dari keju tanpa enzim hewani hingga kue-kue kering, bumbu-bumbu, dan kopi. Produsen membersihkan mesin-mesinnya dengan bahan pembersih yang bebas alkohol.
Beberapa waktu lalu, produksi perusahaan gula-gula Jerman, Haribo tidak lagi menggunakan agar-agar dari babi, melainkan dari sapi. "Tetapi pasaran makanan halal masih belum akan terpuaskan," demikian dikatakan Derya Altay dari Ikatan Pedagang Grosir dan Eceran Turki di Jerman. "Konsumen Jerman dapat memilih produk dari berbagai jenis, sementara konsumen muslim hanya memiliki dua atau tiga pilihan."
Bagi industri, memperluas pandangan juga dapat menguntungkan. Kosmetik yang bebas dari bahan hewani dan tanpa uji coba pada hewan, juga sama pentingnya bagi kaum muslim, seperti halnya mode, hotel, dan produk perbankan yang sesuai dengan ajaran di Al-Quran. Bidang kesehatan juga menjadi pasar yang belum terbuka.
Mahmoud Tatari baru saja memberikan sertifikat halal bagi dua rumah sakit pertama di Jerman. Di samping menyediakan makanan halal, perawatan di dua rumah sakit itu diberikan dokter dan perawat yang berjenis kelamin sama seperti pasiennya. Mereka juga memberikan servis antar-jemput ke mesjid terdekat.
Pasar produk halal sekarang sudah sangat besar. Dan "boom" saat ini tidak dapat hanya dimengerti sebagai tren ekonomi global. Semakin besarnya makna sikap konsumen muslim juga menunjukkan perubahan rasa percaya dirinya di masyarakat.
"Warga muslim lebih cenderung menggunakan uangnya untuk membeli produk-produk halal dan bukan untuk tujuan politis," demikian dikatakan Zahed Amanullah, kepala situs konsumen zabihah.com di Eropa. Maksudnya: identitas Islam juga dapat didefinisikan melalui troli untuk berbelanja. [qantara/www.hidayatullah.com]
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9665:qtren-halal-di-eropa-tidak-dapat-dihentikanq&catid=73:features&Itemid=94

Hidayatullah.com--Gehlenberg adalah sebuah desa sunyi di bagian selatan daerah Oldenburg di Jerman Utara. Penduduknya hanya sekitar 1.600 orang. Di desa itu ada sebuah gedung perkumpulan, sebuah gereja, monumen peringatan perang, kedai minum yang bernama "Paraplü", dan rumah makan "Hüttenbernd".
Di pinggir jalan nampak beberapa salib dan gereja kecil. Mayoritas penduduk daerah itu pemeluk agama Katolik yang fanatik. Tetapi di bangsal pabrik di bagian timur kota itu, tiga hari dalam sepekan semua aktivitas berlangsung menurut ajaran Nabi Muhammad.
Perusahaan keluarga Jerman Meemken membuat berbagai jenis sosis yang sesuai dengan aturan Islam. Setiap pekannya, perusahaan itu mengirimkan hampir 100 ton salami, sosis goreng, dan sosis lainnya yang "benar secara Islam" ke pedagang bahan pangan di Jerman dan luar Jerman.
Godaan Pasar yang Baru
Perusahaan bahan pangan internasional seperti Nestlé atau Unilever telah bertahun-tahun menawarkan berbagai produk, yang menurut Al Quran tidak perlu dikhawatirkan. "Halal" dalam bahasa Arab dan "Helal" dalam bahasa Turki, berarti "yang diperbolehkan" atau "yang diizinkan". Istilah ini diperuntukkan bagi seluruh cara hidup orang muslim, dan makanan yang benar menjadi sesuatu yang penting.
Lambat-laun pengusaha Jerman juga menyadari bahwa dengan adanya cara warga muslim mengkonsumsi produk, yang berdasarkan ajaran agama, keuntungan besar dapat diraup, terutama di masa tidak menentunya keadaan ekonomi. Pembukaan pasar baru menjadi ide yang menggoda.
Pasar-pasar baru ini, di Jerman saja, ternyata jauh lebih besar dari dugaan sebelumnya. Diperkirakan, orang muslim yang sekarang tinggal di Jerman jumlahnya antara 3,8 hingga 4,3 juta.
Karena secara rata-rata warga muslim memiliki anak lebih banyak, maka konsumen muslim dianggap sebagai salah satu kelompok konsumen paling menarik, dan menjanjikan masa depan bagus. Sekarang saja, 17% dari perdagangan makanan dunia adalah perdagangan makanan halal. Demikian dikatakan dalam "World Halal Forum", atau forum dunia tentang makanan halal di Malaysia.
Potensi itu juga sama sekali belum terkuras, demikian dikatakan para pakar. Tidak ada segmen lain dalam pasaran bahan pangan yang berkembang secepat makanan halal. Tahun 2004 pemasukan di seluruh dunia, yang berasal dari pasar bahan pangan yang sesuai ajaran Islam, mencapai 587 milyar Dollar. Tahun 2010 kemungkinan akan mencapai 641 milyar. Di Eropa saja, para pakar memperkirakan, tahun depan pemasukannya akan berjumlah 67 milyar Euro.
Negara-negara Eropa, yang jumlah penduduk muslimnya tinggi, telah sepenuhnya menyesuaikan diri dengan keinginan konsumen. Di Perancis, pasar swalayan Casino telah menawarkan daging dan sosis sesuai ketentuan makanan halal. Di Inggris ini telah ditawarkan di pasar swalayan Tesco dan Sainsbury.
Toko-toko makanan terpilih di Prancis menjual pastel hati angsa yang halal. Toko obat Inggris, Boots menjual makanan bayi yang diproduksi sesuai ajaran Islam. Dan karena berhasil mendapat keuntungan besar di London, McDonalds dalam waktu singkat akan menawarkan ayam halal di negara-negara Eropa lainnya.
Sengketa soal Penyembelihan
Tetapi di supermarket-supermarket Jerman penawaran tidak banyak. Terutama daging dan sosis yang berasal dari penyembelihan sesuai ajaran Islam jarang dibeli oleh para pedagang, karena mereka takut akan bersengketa dengan organisasi perlindungan hewan.
Memang Mahkamah Konstitusi Jerman telah menetapkan Januari 2002 lalu bahwa penyembelih muslim diizinkan membunuh hewan dengan memotong lehernya tanpa dibius terlebih dahulu, jika itu memang diperintahkan agamanya.
Tetapi kesulitan selalu terjadi, seperti dalam proses terakhir, yaitu antara penyembelih asal Turki, Rüstem Altinküpe yang melawan pengadilan administrasi negara bagian Hessen. Beberapa waktu lalu ia akhirnya memenangkan proses, setelah Mahkamah Konstitusi kembali memberikan izinnya.
Bagi sebagian warga muslim, seekor hewan yang dibius dianggap telah mati, dan memakan daging hewan itu berarti melanggar larangan memakan bangkai yang tercantum dalam Al Quran. Untuk menghindari masalah itu, banyak pengolah daging membeli daging di luar Jerman.
Sekarang belum ada dewan pengawas bersama yang memberikan stempel sebagai bukti. Pasar pemberi sertifikat, yang mengontrol baik bahan mentah, produksi, pembersihan, maupun penyalurnya, sangat besar dan tidak teratur. Tetapi di kalangan Islam sendiri, penyembelihan menjadi topik yang sering dipertikaikan. "Orang harus mengerti, bagaimana situasi di masa Nabi Muhammad mengeluarkan ketetapan tersebut, dan orang tidak boleh berpegang secara buta pada ketentuan tradisi," demikian misalnya dikatakan Yusuf Çalkara dari Europäischen Halal-Zertifizierungsinstituts (institut pemberi sertifikat halal) di Hamburg.
Repotnya pemberi sertifikat lain menolak untuk memeriksa tempat penyembelihan. "Daging yang berasal dari industri daging tidak pernah benar-benar halal," demikian dikatakan Mahmoud Tatari dari Halal Control di kota Rüsselsheim. Menurut ajaran Islam, hewan yang akan disembelih tidak boleh menderita stres atau disiksa. Tetapi ketentuan ini tidak akan pernah dapat dipenuhi produksi daging massal.
Di samping itu para pemberi sertifikat juga tidak sama ketatnya dalam menilai peraturan penyebutan nama Tuhan saat menyembelih tiap hewan. Bagi sebagian orang, dalam penyembelihan dengan mesin sudah cukup jika rekaman seruan nama Tuhan dimainkan, tetapi penyembelihan harus dimulai oleh seseorang yang beragama Islam. Akibat berbeda-bedanya interpretasi peraturan yang tercantum dalam Al Quran, warga Islam di Jerman tidak dapat menyepakati satu standar halal yang berlaku untuk semua orang.
Pembuat sosis Meemken baru saja selesai diperiksa. 60 produknya yang berstempel halal telah menutupi lebih dari separuh produksi makanan halal. Sejauh ini, produsen makanan halal itu menyalurkan makanan ke berbagai supermarket Eropa di luar Jerman.
Sekarang supermarket Jerman, Netto, yang menjual bahan makanan dengan harga murah juga menjadi pelanggannya. Asal-mula bisnis ini adalah seorang pedagang grosir Turki, yang bertanya di kota Gehlenberg, apakah Meemken juga dapat memproduksi bahan makanan halal.
Mesin-mesin di perusahaan itu selalu dibersihkan dengan sangat teliti, agar di hari-hari produksi makanan halal, tidak ada sisa daging babi yang tercampur dalam sosis.
Dalam waktu dekat mesin-mesin baru akan memungkinkan pemisahan proses produksi. "Kami pasti akan memperluas bisnis di bidang ini," demikian dikatakan Direktur Utama Rolf Meemken. Ditambahkannya, "Dalam bisnis makanan halal kami berkembang melebihi proporsi."
Perusahaan Jerman lainnya, Wiesenhof, yang mengolah daging unggas, juga telah mendapat sertifikat halal bagi sejumlah produknya sejak beberapa tahun lalu. Tetapi pedagang grosir dan supermarket memutuskan sendiri, apakah logo "Halal" ditempelkan pada barang dagangan atau tidak.
"Perusahaan Jerman terlalu hati-hati," demikian dikatakan Levent Akgül dari agen pemasaran Akkar Media di Hannover. "Mereka tidak mengenal kebudayaan lain sehingga tidak dapat memperkirakan risiko."
Di samping itu pedagang bahan pangan Jerman takut, dengan menjual barang berstempel "Halal” dapat menghalau pembeli yang bukan muslim," demikian Akgül. Jadi membuat iklan bagi jenis makanan ini tabu bagi perusahaan Jerman, begitu ditambahkan Akgül.
Tetapi ini tidak akan berlangsung lama lagi. "Tren makanan halal tidak dapat dibendung," demikian Peter Groethues, Ketua Bidang Makanan di Pameran Köln, Kölnmesse.
Dalam pameran bahan pangan ANUGA di Kölnmesse bulan Oktober ini, lebih dari 800 produsen memamerkan produknya yang halal. Sebagian besar dari mereka berasal dari luar Jerman, tetapi banyak dari mereka telah mengekspor produk ke Jerman selama bertahun-tahun.
Keuntungan Lebih Besar

Produk-produk halal sekarang umumnya dijual di toko spesial. "Tetapi makanan halal semakin menjadi penunjang penting perdagangan," demikian dikatakan oleh Ikatan Perdagangan Bahan Pangan Jerman.
Tidak heran, daya beli warga Turki di Jerman diperkirakan sampai 25 milyar Euro per tahunnya. Jadi dari bisnis yang melibatkan peraturan agama keuntungan sangat besar. Misalnya Nestlé, dengan produk-produk halalnya keuntungan yang diperoleh sudah lebih dari bisnis produk bionya.
Produk halal tersebut berlaku bagi semua bahan pangan, mulai dari keju tanpa enzim hewani hingga kue-kue kering, bumbu-bumbu, dan kopi. Produsen membersihkan mesin-mesinnya dengan bahan pembersih yang bebas alkohol.
Beberapa waktu lalu, produksi perusahaan gula-gula Jerman, Haribo tidak lagi menggunakan agar-agar dari babi, melainkan dari sapi. "Tetapi pasaran makanan halal masih belum akan terpuaskan," demikian dikatakan Derya Altay dari Ikatan Pedagang Grosir dan Eceran Turki di Jerman. "Konsumen Jerman dapat memilih produk dari berbagai jenis, sementara konsumen muslim hanya memiliki dua atau tiga pilihan."
Bagi industri, memperluas pandangan juga dapat menguntungkan. Kosmetik yang bebas dari bahan hewani dan tanpa uji coba pada hewan, juga sama pentingnya bagi kaum muslim, seperti halnya mode, hotel, dan produk perbankan yang sesuai dengan ajaran di Al-Quran. Bidang kesehatan juga menjadi pasar yang belum terbuka.
Mahmoud Tatari baru saja memberikan sertifikat halal bagi dua rumah sakit pertama di Jerman. Di samping menyediakan makanan halal, perawatan di dua rumah sakit itu diberikan dokter dan perawat yang berjenis kelamin sama seperti pasiennya. Mereka juga memberikan servis antar-jemput ke mesjid terdekat.
Pasar produk halal sekarang sudah sangat besar. Dan "boom" saat ini tidak dapat hanya dimengerti sebagai tren ekonomi global. Semakin besarnya makna sikap konsumen muslim juga menunjukkan perubahan rasa percaya dirinya di masyarakat.
"Warga muslim lebih cenderung menggunakan uangnya untuk membeli produk-produk halal dan bukan untuk tujuan politis," demikian dikatakan Zahed Amanullah, kepala situs konsumen zabihah.com di Eropa. Maksudnya: identitas Islam juga dapat didefinisikan melalui troli untuk berbelanja. [qantara/www.hidayatullah.com]
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9665:qtren-halal-di-eropa-tidak-dapat-dihentikanq&catid=73:features&Itemid=94
Antara Rezeki dan Jimat
Urusan klenik, memang sangat sulit dilepaskan dari kehidupan masyarakat kita. Animisme dan aroma perdukunan masih kental terasa, padahal ajaran Islam yang menyerukan tauhid sangat bertentangan dengan hal tersebut. Cobalah tengok salah satunya, tindakan sebagian masyarakat yang mengaku muslim, mereka menggunakan berbagai jimat demi melariskan barang dagangan atau melancarkan rezeki. Kocek pun dirogoh dalam-dalam hanya untuk mendapatkan jimat, yang dipercaya dapat mendatangkan rezeki yang berlebih.
Rezeki, Urusan yang Telah Ditentukan
Rezeki hanyalah berasal dari Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
"Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?" (QS. Faathir [35>: 3)
Abu Muhammad al Baghawi rahimahullah mengemukakan bahwa pertanyaan yang diajukan Allah dalam ayat ini berfungsi untuk menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah yang mampu memberikan rezeki (Ma’alimut Tanzil 1/412). Sebagai satu-satunya Zat yang memberi rezeki, Allah telah menentukan kadar rezeki untuk setiap hamba-Nya, di antara mereka ada yang diberi kelapangan rezeki, sebagian lagi disempitkan rezekinya. Ada yang kaya, dan ada yang papa. Ada yang berlebih dan ada yang pas-pasan. Rezeki yang akan diperoleh seorang hamba di dunia ini, semenjak lahir hingga meninggal dunia telah ditetapkan dan ditentukan sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim bahwa Allah ta’ala telah memerintahkan malaikat-Nya untuk menetapkan empat perkara, dan diantaranya adalah kadar rezeki seseorang.
Ingin Rezeki Lancar? Jangan Ikuti Cara Syaitan!
Allah telah memberikan pedoman agar manusia dapat memperoleh kelapangan dan kelancaran rezeki. Berusaha kemudian bertawakal hanya kepada-Nya merupakan dua kunci sukses bagi pribadi muslim. Patut diperhatikan bahwa ‘berusaha’ yang dimaksud bukanlah dengan melakukan berbagai tindakan yang menyelisihi syariat demi mengejar keuntungan, kesuksesan tidaklah ditempuh dengan mengorbankan diri sehingga menuruti bujuk rayu syaitan.
Syaitan telah ‘menggodok’ berbagai strategi jitu lalu menawarkannya kepada manusia agar mereka tergoda dan terjerumus ke dalam penyimpangan dan dosa. Tidak terkecuali dalam urusan melancarkan rezeki, syaitan turut berperan aktif untuk menggelincirkan manusia dari jalan-Nya. Tidak sedikit manusia terkecoh dan rela diperbudak oleh syaitan, ada yang menempuh jalur penipuan agar bisa sukses, sebagian lagi ada yang merampok, mencuri dan ada yang menempuh jalur perdukunan. Metode terakhir ini sangat banyak yang melakukannya, mulai dari kalangan intelektual hingga mereka yang awam pendidikan terjangkiti ‘penyakit’ cinta perdukunan, anehnya tidak sedikit dari mereka yang berstatus muslim melakukan kesyirikan ini.
"Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." (QS. Yusuf [12>: 106)
Jimat, Upaya Setan Menggelincirkan Bani Adam
Siapa sih yang tidak ingin sukses dan memperoleh keuntungan dalam bisnis dan profesi yang sedang digeluti? Sebagian besar dari kita tentulah ingin meraihnya. Dalam meraih kesuksesan, manusia terbagi ke dalam dua kategori, ada yang menempuh tangga kesuksesan dengan cara yang halal dan ada yang berkebalikan dengan hal itu, yaitu menempuh cara yang haram.
Seorang yang menggunakan jimat untuk meraih kekayaan termasuk dalam kategori yang diharamkan Islam. Banyak pejabat yang mendatangi ‘orang pintar’ (baca: dukun) untuk membeli jimat agar kekuasaannya langgeng. Di sisi lain, tidak sedikit para artis mendatangi paranormal (baca: para tidak normal) agar diberikan jimat sehingga ordernya tidak sepi dan dirinya tetap ‘laku’. Untuk yang satu ini, salah seorang teman pernah berkomentar, ‘Wah, udah profesinya merugikan masyarakat, pakai cara-cara yang gak benar lagi’. Jimat pun kerap digunakan oleh para pebisnis dan pedagang untuk menarik minat konsumen. Mulai dari ‘wiridan’ (baca: mantra-mantra yang diramu dengan bahasa arab atau dari sebagian ayat al-Qur’an namun prakteknya tidak dituntunkan dalam Islam), amalan-amalan yang tidak jelas asal-usulnya (seperti puasa pati geni, puasa ngebleng, dll) sampai celana dalam pun telah dijajal oleh mereka yang percaya akan keampuhan jimat dalam melariskan dagangan atau mendatangkan keuntungan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
"Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka dia telah berbuat syirik" (HR. Ahmad 4/156, Thabrani dalam al Kabir 17/319 Syaikh Syu’aib al Arnauth dalam komentar beliau terhadap Musnad Ahmad 4/156, mengatakan sanad hadits ini kuat)
Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan bahwa orang yang mempercayai keampuhan jimat telah meyakini bahwa jimat itu mampu menolak ketentuan yang Allah tetapkan dan keyakinan seperti inilah yang menyebabkan seorang terjerumus ke dalam jurang kesyirikan (Faidlul Qadlir 6/180)
Jimat Mencederai Tawakal
Imam ath Thibi rahimahullah menyatakan salah satu keyakinan kaum musyrik jahiliyah adalah meyakini bahwa jimat sangat ampuh untuk menolak takdir yang telah ditetapkan bagi mereka, dan keyakinan yang demikian dapat menghilangkan tawakal dari jiwa seseorang (Faidhul Qadir 2/341)
Tawakal sendiri berarti penyandaran hati secara total kepada Allah ta’ala, baik dalam perkara dunia maupun akhirat (Hushulul Ma’mul hal. 83). Seorang yang bertawakal dengan benar kepada Allah dalam segala urusan akan meyakini bahwa segala perkara berada di bawah kekuasaan-Nya. Jika Allah menghendaki, maka pasti urusan tersebut akan terjadi. Jika Dia tidak menghendaki, maka tentu hal tersebut tidak akan terjadi. Setelah meyakini hal tersebut, maka dalam hatinya akan timbul rasa percaya terhadap Allah, lalu dia akan menempuh usaha yang sejalan dengan syariat dalam berbagai urusannya (Hushulul Ma’mul hal. 84)
Orang yang percaya dengan jimat tidak termasuk ke dalam kategori golongan yang bertawakal kepada Allah ta’ala, karena mereka lebih percaya kepada jimat tersebut ketimbang Allah ta’ala. Mereka lebih ‘pede’ ketika memakai jimat daripada melaksanakan tips yang dituntunkan Allah bagi para hamba-Nya dalam meraih kesuksesan. Oleh karena itu, para penggemar jimat akan diliputi kegelisahan dan kegundahan jika jimat mereka hilang atau telah memasuki ‘masa kadaluwarsa’. Hati mereka justru terpaut dengan jimat tersebut, hati mereka telah berpaling dari Allah ta’ala dan hidup mereka telah disandarkan pada jimat tersebut. Maka benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka dirinya akan sangat bergantung (baca: bertawakal) padanya" (HR. Tirmidzi 2072 dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib 3/192)
Rezeki Tidak Diraih Dengan Jimat
Rezeki hanya diperoleh dengan kerja keras, keuletan dan tawakal kepada Allah ta’ala, bukan dengan jimat. Beberapa fakta justru membuktikan kegagalan-lah yang akan ditemui oleh mereka yang bergantung pada jimat. Ada yang ludes harta bendanya karena telah mengeluarkan duit dalam jumlah yang banyak untuk memperoleh jimat yang ampuh sementara bisnisnya tak kunjung berhasil. Ada yang mendatangi dukun untuk memperoleh jimat, namun kebangkrutan yang dia temui. Bukan dirinya yang kaya, namun dukunlah yang kaya. Kok bisa kesuksesan dan rezeki dapat diperoleh dengan jimat? Kok bisa orang yang menggantungkan harapan kepada jimat bisa meraih kesuksesan?
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa seorang yang menggantungkan hati dan harapannya kepada sesuatu selain Allah justru akan menjadi golongan yang hina dan tidak akan memperoleh kebaikan (Badai’ul Fawaaid, 2/470). Di tempat lain, beliau menyatakan bahwa seorang yang demikian keadaannya, justru akan membuka pintu kehancuran dan kebinasaan bagi dirinya dan menutup pintu kesuksesan dan kebahagiaan (Thariqul Hijratain 1/29)
Oleh karena itu mereka yang percaya dan menggunakan jimat adalah orang yang merugi di dunia dan akhirat. Rugi di dunia, karena rezeki tidak kunjung datang kepada mereka. Kerugian di akhirat pun akan dia temui, karena dirinya termasuk golongan yang hina karena membiarkan hatinya bersandar, percaya dan bergantung pada jimat, sesuatu yang tidak mampu mendatangkan manfaat, tidak pula mudharat. Allah ta’ala berfirman,
"Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu? Atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menolak rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakal." (QS. Az Zumar [39>: 38)
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat dan orang yang mengikuti mereka. Untaian puji hanyalah milik Allah.
***
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id
http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/masalah-rezeki/192-antara-rezeki-dan-jimat.html
Rezeki, Urusan yang Telah Ditentukan
Rezeki hanyalah berasal dari Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
"Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?" (QS. Faathir [35>: 3)
Abu Muhammad al Baghawi rahimahullah mengemukakan bahwa pertanyaan yang diajukan Allah dalam ayat ini berfungsi untuk menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah yang mampu memberikan rezeki (Ma’alimut Tanzil 1/412). Sebagai satu-satunya Zat yang memberi rezeki, Allah telah menentukan kadar rezeki untuk setiap hamba-Nya, di antara mereka ada yang diberi kelapangan rezeki, sebagian lagi disempitkan rezekinya. Ada yang kaya, dan ada yang papa. Ada yang berlebih dan ada yang pas-pasan. Rezeki yang akan diperoleh seorang hamba di dunia ini, semenjak lahir hingga meninggal dunia telah ditetapkan dan ditentukan sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim bahwa Allah ta’ala telah memerintahkan malaikat-Nya untuk menetapkan empat perkara, dan diantaranya adalah kadar rezeki seseorang.
Ingin Rezeki Lancar? Jangan Ikuti Cara Syaitan!
Allah telah memberikan pedoman agar manusia dapat memperoleh kelapangan dan kelancaran rezeki. Berusaha kemudian bertawakal hanya kepada-Nya merupakan dua kunci sukses bagi pribadi muslim. Patut diperhatikan bahwa ‘berusaha’ yang dimaksud bukanlah dengan melakukan berbagai tindakan yang menyelisihi syariat demi mengejar keuntungan, kesuksesan tidaklah ditempuh dengan mengorbankan diri sehingga menuruti bujuk rayu syaitan.
Syaitan telah ‘menggodok’ berbagai strategi jitu lalu menawarkannya kepada manusia agar mereka tergoda dan terjerumus ke dalam penyimpangan dan dosa. Tidak terkecuali dalam urusan melancarkan rezeki, syaitan turut berperan aktif untuk menggelincirkan manusia dari jalan-Nya. Tidak sedikit manusia terkecoh dan rela diperbudak oleh syaitan, ada yang menempuh jalur penipuan agar bisa sukses, sebagian lagi ada yang merampok, mencuri dan ada yang menempuh jalur perdukunan. Metode terakhir ini sangat banyak yang melakukannya, mulai dari kalangan intelektual hingga mereka yang awam pendidikan terjangkiti ‘penyakit’ cinta perdukunan, anehnya tidak sedikit dari mereka yang berstatus muslim melakukan kesyirikan ini.
"Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." (QS. Yusuf [12>: 106)
Jimat, Upaya Setan Menggelincirkan Bani Adam
Siapa sih yang tidak ingin sukses dan memperoleh keuntungan dalam bisnis dan profesi yang sedang digeluti? Sebagian besar dari kita tentulah ingin meraihnya. Dalam meraih kesuksesan, manusia terbagi ke dalam dua kategori, ada yang menempuh tangga kesuksesan dengan cara yang halal dan ada yang berkebalikan dengan hal itu, yaitu menempuh cara yang haram.
Seorang yang menggunakan jimat untuk meraih kekayaan termasuk dalam kategori yang diharamkan Islam. Banyak pejabat yang mendatangi ‘orang pintar’ (baca: dukun) untuk membeli jimat agar kekuasaannya langgeng. Di sisi lain, tidak sedikit para artis mendatangi paranormal (baca: para tidak normal) agar diberikan jimat sehingga ordernya tidak sepi dan dirinya tetap ‘laku’. Untuk yang satu ini, salah seorang teman pernah berkomentar, ‘Wah, udah profesinya merugikan masyarakat, pakai cara-cara yang gak benar lagi’. Jimat pun kerap digunakan oleh para pebisnis dan pedagang untuk menarik minat konsumen. Mulai dari ‘wiridan’ (baca: mantra-mantra yang diramu dengan bahasa arab atau dari sebagian ayat al-Qur’an namun prakteknya tidak dituntunkan dalam Islam), amalan-amalan yang tidak jelas asal-usulnya (seperti puasa pati geni, puasa ngebleng, dll) sampai celana dalam pun telah dijajal oleh mereka yang percaya akan keampuhan jimat dalam melariskan dagangan atau mendatangkan keuntungan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
"Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka dia telah berbuat syirik" (HR. Ahmad 4/156, Thabrani dalam al Kabir 17/319 Syaikh Syu’aib al Arnauth dalam komentar beliau terhadap Musnad Ahmad 4/156, mengatakan sanad hadits ini kuat)
Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan bahwa orang yang mempercayai keampuhan jimat telah meyakini bahwa jimat itu mampu menolak ketentuan yang Allah tetapkan dan keyakinan seperti inilah yang menyebabkan seorang terjerumus ke dalam jurang kesyirikan (Faidlul Qadlir 6/180)
Jimat Mencederai Tawakal
Imam ath Thibi rahimahullah menyatakan salah satu keyakinan kaum musyrik jahiliyah adalah meyakini bahwa jimat sangat ampuh untuk menolak takdir yang telah ditetapkan bagi mereka, dan keyakinan yang demikian dapat menghilangkan tawakal dari jiwa seseorang (Faidhul Qadir 2/341)
Tawakal sendiri berarti penyandaran hati secara total kepada Allah ta’ala, baik dalam perkara dunia maupun akhirat (Hushulul Ma’mul hal. 83). Seorang yang bertawakal dengan benar kepada Allah dalam segala urusan akan meyakini bahwa segala perkara berada di bawah kekuasaan-Nya. Jika Allah menghendaki, maka pasti urusan tersebut akan terjadi. Jika Dia tidak menghendaki, maka tentu hal tersebut tidak akan terjadi. Setelah meyakini hal tersebut, maka dalam hatinya akan timbul rasa percaya terhadap Allah, lalu dia akan menempuh usaha yang sejalan dengan syariat dalam berbagai urusannya (Hushulul Ma’mul hal. 84)
Orang yang percaya dengan jimat tidak termasuk ke dalam kategori golongan yang bertawakal kepada Allah ta’ala, karena mereka lebih percaya kepada jimat tersebut ketimbang Allah ta’ala. Mereka lebih ‘pede’ ketika memakai jimat daripada melaksanakan tips yang dituntunkan Allah bagi para hamba-Nya dalam meraih kesuksesan. Oleh karena itu, para penggemar jimat akan diliputi kegelisahan dan kegundahan jika jimat mereka hilang atau telah memasuki ‘masa kadaluwarsa’. Hati mereka justru terpaut dengan jimat tersebut, hati mereka telah berpaling dari Allah ta’ala dan hidup mereka telah disandarkan pada jimat tersebut. Maka benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka dirinya akan sangat bergantung (baca: bertawakal) padanya" (HR. Tirmidzi 2072 dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib 3/192)
Rezeki Tidak Diraih Dengan Jimat
Rezeki hanya diperoleh dengan kerja keras, keuletan dan tawakal kepada Allah ta’ala, bukan dengan jimat. Beberapa fakta justru membuktikan kegagalan-lah yang akan ditemui oleh mereka yang bergantung pada jimat. Ada yang ludes harta bendanya karena telah mengeluarkan duit dalam jumlah yang banyak untuk memperoleh jimat yang ampuh sementara bisnisnya tak kunjung berhasil. Ada yang mendatangi dukun untuk memperoleh jimat, namun kebangkrutan yang dia temui. Bukan dirinya yang kaya, namun dukunlah yang kaya. Kok bisa kesuksesan dan rezeki dapat diperoleh dengan jimat? Kok bisa orang yang menggantungkan harapan kepada jimat bisa meraih kesuksesan?
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa seorang yang menggantungkan hati dan harapannya kepada sesuatu selain Allah justru akan menjadi golongan yang hina dan tidak akan memperoleh kebaikan (Badai’ul Fawaaid, 2/470). Di tempat lain, beliau menyatakan bahwa seorang yang demikian keadaannya, justru akan membuka pintu kehancuran dan kebinasaan bagi dirinya dan menutup pintu kesuksesan dan kebahagiaan (Thariqul Hijratain 1/29)
Oleh karena itu mereka yang percaya dan menggunakan jimat adalah orang yang merugi di dunia dan akhirat. Rugi di dunia, karena rezeki tidak kunjung datang kepada mereka. Kerugian di akhirat pun akan dia temui, karena dirinya termasuk golongan yang hina karena membiarkan hatinya bersandar, percaya dan bergantung pada jimat, sesuatu yang tidak mampu mendatangkan manfaat, tidak pula mudharat. Allah ta’ala berfirman,
"Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu? Atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menolak rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakal." (QS. Az Zumar [39>: 38)
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat dan orang yang mengikuti mereka. Untaian puji hanyalah milik Allah.
***
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id
http://pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/masalah-rezeki/192-antara-rezeki-dan-jimat.html
Tawakkal yang Sebenarnya
Sebagian orang menganggap bahwa tawakkal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contohnya dapat kita lihat pada sebagian pelajar yang keesokan harinya akan melaksanakan ujian. Pada malam harinya, sebagian dari mereka tidak sibuk untuk menyiapkan diri untuk menghadapi ujian besok namun malah sibuk dengan main game atau hal yang tidak bermanfaat lainnya. Lalu mereka mengatakan,"Saya pasrah saja, paling besok ada keajaiban."
Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakkal?! Semoga pembahasan kali ini dapat menjelaskan pada pembaca sekalian mengenai tawakkal yang sebenarnya dan apa saja faedah dari tawakkal tersebut.
Tawakkal yang Sebenarnya
Ibnu Rojab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan,"Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’."
Tawakkal Bukan Hanya Pasrah
Perlu diketahui bahwa tawakkal bukanlah hanya sikap bersandarnya hati kepada Allah semata, namun juga disertai dengan melakukan usaha.
Ibnu Rojab mengatakan bahwa menjalankan tawakkal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakkal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakkal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya),"Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada." (QS. An Nisa [4> : 71). Allah juga berfirman (yang artinya),"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang." (QS. Al Anfaal [8> : 60). Juga firman-Nya (yang artinya),"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah" (QS. Al Jumu’ah [62> : 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.
Sahl At Tusturi mengatakan,"Barangsiapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan, pen). Barangsiapa mencela tawakkal (tidak mau bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam)
Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang
Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310)
Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan,"Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rizkiku datang kepadaku." Lalu Imam Ahmad mengatakan,"Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, "Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku." Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Maktabah Syamilah)
Al Munawi juga mengatakan,"Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)
Tawakkal yang Termasuk Syirik
Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rizki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah Ta’ala semata.
Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakkal adalah amalan hati yaitu ibadah hati semata (Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barangsiapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakkal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal ini juga termasuk kesyirikan.
Tawakkal semacam ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia bertawakkal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah Ta’ala. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada satu makhluk pun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah Ta’ala. Apa yang mereka lakukan termasuk tawakkal kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar. Na’udzu billah min dzalik.
Sedangkan apabila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rizkinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.
Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa. (Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29)
Penutup
Ingatlah bahwa tawakkal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja. Tawakkal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakkal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhoi dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakkal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakkal yang paling agung adalah tawakkal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakkal para rasul dan pengikut rasul yang utama.
Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakkal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath Thalaaq [65> : 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan,"Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya."
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,"Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka." Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakkal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung.
Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber : http://rumaysho.wordpress.com/2008/12/15/tawakkal-yang-sebenarnya/
Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakkal?! Semoga pembahasan kali ini dapat menjelaskan pada pembaca sekalian mengenai tawakkal yang sebenarnya dan apa saja faedah dari tawakkal tersebut.
Tawakkal yang Sebenarnya
Ibnu Rojab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan,"Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’."
Tawakkal Bukan Hanya Pasrah
Perlu diketahui bahwa tawakkal bukanlah hanya sikap bersandarnya hati kepada Allah semata, namun juga disertai dengan melakukan usaha.
Ibnu Rojab mengatakan bahwa menjalankan tawakkal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakkal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakkal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya),"Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada." (QS. An Nisa [4> : 71). Allah juga berfirman (yang artinya),"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang." (QS. Al Anfaal [8> : 60). Juga firman-Nya (yang artinya),"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah" (QS. Al Jumu’ah [62> : 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.
Sahl At Tusturi mengatakan,"Barangsiapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan, pen). Barangsiapa mencela tawakkal (tidak mau bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam)
Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang
Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310)
Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan,"Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rizkiku datang kepadaku." Lalu Imam Ahmad mengatakan,"Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, "Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku." Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Maktabah Syamilah)
Al Munawi juga mengatakan,"Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)
Tawakkal yang Termasuk Syirik
Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rizki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah Ta’ala semata.
Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakkal adalah amalan hati yaitu ibadah hati semata (Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barangsiapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakkal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal ini juga termasuk kesyirikan.
Tawakkal semacam ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia bertawakkal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah Ta’ala. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada satu makhluk pun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah Ta’ala. Apa yang mereka lakukan termasuk tawakkal kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar. Na’udzu billah min dzalik.
Sedangkan apabila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rizkinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.
Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa. (Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29)
Penutup
Ingatlah bahwa tawakkal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja. Tawakkal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakkal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhoi dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakkal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakkal yang paling agung adalah tawakkal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakkal para rasul dan pengikut rasul yang utama.
Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakkal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath Thalaaq [65> : 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan,"Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya."
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,"Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka." Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakkal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung.
Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber : http://rumaysho.wordpress.com/2008/12/15/tawakkal-yang-sebenarnya/
Tilawah Al-Quran dikala haid/nifas
Assalamualaikum.wr.wb
ustad taufik yang saya hormati, saya ingin bertanya mengenai hukumnya wanita yang tilawah disaat haid. karena ada yang membolehkan namun ada juga yang melarang. Apa saja yang dapat dilakukan oleh wanita haid untuk tetap menjaga kedekatan nya dengan sang khaliq? atas jawaban yang diberikan saya ucapkan terima kasih
siti
Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr.wb
Membaca Al-Quran adalah ibadah yang amat mulai, kerena demikian Allah SWT dan Rasul-Nya memanjakan dan memuliakan para pembaca Al-Quran.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sebaik-baik kalian adalah orang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”.
Banyak ukuran orang baik dalam pandangan rasulullah SAW, diantaranya adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Bahkan dalam hadits lainnya beliau jga berdsabda :
“Orang yang mahir membaca Al-Quran, maka dia akan ditempatkan bersama dengan hamba-hamba yang mulia, dan orang yang membaca Al-Quran secara terbata-bata dan dia merasa kesulitan; maka baginya dua pahala”.
Subhanallah, jadi orang yang membaca Al-Quran dan dia kesulitan dalam membacanya, masih tetap mendapatkan dua pahala, pahala membacanya dan pahala karena kesulitannya. Kemuliaan ini tidak terdapat dalam bagi orang yang membaca Al-Quran. Namun dia juga harus tetap belajar dan belajar, sehingga ke depan dia akan termasuk dalam golongan orang yang mahir membaca Al-Quran.
Oleh karenanya para shahabat RA terdahalu memberikan porsi dan perhatian yang begitu besar untuk belajar Al-Quran dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
Darah haidh/nifas
Darah haidh adalah darah yang menjadi ‘tamu’ bulanan secara alami bagi semua wanita yang sudah baligh. Jadi bagi kaum Hawa ini tidak perlu resah dan sedih karena tidak bisa menjalankan beberapa ibadah seperti halnya kaum pria; karena ini adalah merupakan takdir Allah SWT, walaupun sebenarnya ada banyak hikmah di balik kedatangan ‘tamu’ tersebut.
Namun demikian, sebagai seorang muslimah, dia harus mengetahui hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan haidh tersebut dan tentunya juga nifas termasuk dalam pembahasan ini, sehingga dia dapat melakukan berbagai ibadah sesuain dengan tuntunan yang benar.
Suatu hari Rasulullah SAW mendapati Aisyah RA sedang menangis- peristiwa ini saat perjalan keduanya dalam haji wada’ – Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya : “Apa yang membuatmu menangis?, apakah kamu kedatangan haidh?”. Dia menjawab: “ya”. Rasulullah bersabda : “Ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan atas anak-anak cucu perempuan Adam, kerjakanlah segala yang biasa dilakukan oleh orang yang sedang haji selain thawaf mengelilingi ka’bah”. (H.R. Muslim)
Demikian hadits di atas menerangkan bahwa bagi wanita yang sedang haidh memiliki hukum khusus dalam beribadah dan jangan sampai dia bersedih karena tiap bulan pasti kedatangan ‘tamu’ secara rutin.
Membaca Al-Quran saat haidh/nifas
Sebenarnya masalah membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh atau nifas ada dua pandangan dari ulama kita sejak dahulu :
Pertama : Membacanya hanya dalam hati dan tanpa memegang mushaf
Pendapat pertama ini didukung oleh Jumhur (Mayoritas) ulama, mereka berpendapat tidak mengapa bagi seorang wanita yang sedang haidh atau nifas untuk membaca Al-Quran, namun hanya dengan melihat mushaf tanpa memegangnya Al-Quran dan membacanya pun dalam hati, bila sampai diucapkan maka tidak boleh. Mereka beragumentasi dengan hadits-hadits yang memiliki derajat lemah.
Kedua : Yang membolehkan
Pendapat yang membolehkan, yaitu sebagian ulama, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Diantaranya Imam Bukhari dan Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berkata : “tidak ada satu hadits pun yang melarang wanita untuk membaca Al-Quran”. Karena hadits :
“Wanita haidh dan junub tidak boleh membaca Al-Quran sedikit pun”, adalah hadits dhaif.
Dahulu para wanita di zaman Nabi SAW telah mengalami haidh, seandainya membaca Al-Quran haram bagi mereka seperti halnya shalat, maka pasti Rasulullah SAW akan menjelaskannya kepada umatnya dan Umahatul Mukminin pun akan mempelajarinya, demikian yang disampaikan para ulama kepada umat ini. Nah ketika tidak ada dalil dari Rasulullah SAW yang mengharamkan dengan banyaknya wanita yang haidh pada zaman beliau maka tidak haram bagi mereka.
Namun yang perlu diperhatikan adalah tidak mengapa membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haid atau dalam keadaan nifas membaca Al-Quran. Namun yang ditekankan di sini adalah apa bila itu dilakukan dalam keadaan mendesak (darurat) seperti seorang guru yang sedang mengajarkan murid-muridnya, seorang murid yang mambaca wirid menjaga hafalan Al-Quran siang ataupun malam hari, namun apa bila membacanya dalam rangka untuk mengapai pahala semata dan untuk bertaqarrub secara khusus kepada Allah maka yang lebih utama adalah tidak melakukannya, karena jumhur (mayoritas) ulama memandang bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh membaca Al-Quran.
Wallahu a’lam bishshawab
Wassalamu 'alaikumu wr.wb
H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com dan www.muntadaquran.net)
http://warnaislam.com/konsul/quran/2009/10/26/51300/Tilawah_Al-Quran_dikala_haidnifas.htm
ustad taufik yang saya hormati, saya ingin bertanya mengenai hukumnya wanita yang tilawah disaat haid. karena ada yang membolehkan namun ada juga yang melarang. Apa saja yang dapat dilakukan oleh wanita haid untuk tetap menjaga kedekatan nya dengan sang khaliq? atas jawaban yang diberikan saya ucapkan terima kasih
siti
Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr.wb
Membaca Al-Quran adalah ibadah yang amat mulai, kerena demikian Allah SWT dan Rasul-Nya memanjakan dan memuliakan para pembaca Al-Quran.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sebaik-baik kalian adalah orang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”.
Banyak ukuran orang baik dalam pandangan rasulullah SAW, diantaranya adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Bahkan dalam hadits lainnya beliau jga berdsabda :
“Orang yang mahir membaca Al-Quran, maka dia akan ditempatkan bersama dengan hamba-hamba yang mulia, dan orang yang membaca Al-Quran secara terbata-bata dan dia merasa kesulitan; maka baginya dua pahala”.
Subhanallah, jadi orang yang membaca Al-Quran dan dia kesulitan dalam membacanya, masih tetap mendapatkan dua pahala, pahala membacanya dan pahala karena kesulitannya. Kemuliaan ini tidak terdapat dalam bagi orang yang membaca Al-Quran. Namun dia juga harus tetap belajar dan belajar, sehingga ke depan dia akan termasuk dalam golongan orang yang mahir membaca Al-Quran.
Oleh karenanya para shahabat RA terdahalu memberikan porsi dan perhatian yang begitu besar untuk belajar Al-Quran dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
Darah haidh/nifas
Darah haidh adalah darah yang menjadi ‘tamu’ bulanan secara alami bagi semua wanita yang sudah baligh. Jadi bagi kaum Hawa ini tidak perlu resah dan sedih karena tidak bisa menjalankan beberapa ibadah seperti halnya kaum pria; karena ini adalah merupakan takdir Allah SWT, walaupun sebenarnya ada banyak hikmah di balik kedatangan ‘tamu’ tersebut.
Namun demikian, sebagai seorang muslimah, dia harus mengetahui hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan haidh tersebut dan tentunya juga nifas termasuk dalam pembahasan ini, sehingga dia dapat melakukan berbagai ibadah sesuain dengan tuntunan yang benar.
Suatu hari Rasulullah SAW mendapati Aisyah RA sedang menangis- peristiwa ini saat perjalan keduanya dalam haji wada’ – Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya : “Apa yang membuatmu menangis?, apakah kamu kedatangan haidh?”. Dia menjawab: “ya”. Rasulullah bersabda : “Ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan atas anak-anak cucu perempuan Adam, kerjakanlah segala yang biasa dilakukan oleh orang yang sedang haji selain thawaf mengelilingi ka’bah”. (H.R. Muslim)
Demikian hadits di atas menerangkan bahwa bagi wanita yang sedang haidh memiliki hukum khusus dalam beribadah dan jangan sampai dia bersedih karena tiap bulan pasti kedatangan ‘tamu’ secara rutin.
Membaca Al-Quran saat haidh/nifas
Sebenarnya masalah membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh atau nifas ada dua pandangan dari ulama kita sejak dahulu :
Pertama : Membacanya hanya dalam hati dan tanpa memegang mushaf
Pendapat pertama ini didukung oleh Jumhur (Mayoritas) ulama, mereka berpendapat tidak mengapa bagi seorang wanita yang sedang haidh atau nifas untuk membaca Al-Quran, namun hanya dengan melihat mushaf tanpa memegangnya Al-Quran dan membacanya pun dalam hati, bila sampai diucapkan maka tidak boleh. Mereka beragumentasi dengan hadits-hadits yang memiliki derajat lemah.
Kedua : Yang membolehkan
Pendapat yang membolehkan, yaitu sebagian ulama, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Diantaranya Imam Bukhari dan Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berkata : “tidak ada satu hadits pun yang melarang wanita untuk membaca Al-Quran”. Karena hadits :
“Wanita haidh dan junub tidak boleh membaca Al-Quran sedikit pun”, adalah hadits dhaif.
Dahulu para wanita di zaman Nabi SAW telah mengalami haidh, seandainya membaca Al-Quran haram bagi mereka seperti halnya shalat, maka pasti Rasulullah SAW akan menjelaskannya kepada umatnya dan Umahatul Mukminin pun akan mempelajarinya, demikian yang disampaikan para ulama kepada umat ini. Nah ketika tidak ada dalil dari Rasulullah SAW yang mengharamkan dengan banyaknya wanita yang haidh pada zaman beliau maka tidak haram bagi mereka.
Namun yang perlu diperhatikan adalah tidak mengapa membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haid atau dalam keadaan nifas membaca Al-Quran. Namun yang ditekankan di sini adalah apa bila itu dilakukan dalam keadaan mendesak (darurat) seperti seorang guru yang sedang mengajarkan murid-muridnya, seorang murid yang mambaca wirid menjaga hafalan Al-Quran siang ataupun malam hari, namun apa bila membacanya dalam rangka untuk mengapai pahala semata dan untuk bertaqarrub secara khusus kepada Allah maka yang lebih utama adalah tidak melakukannya, karena jumhur (mayoritas) ulama memandang bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh membaca Al-Quran.
Wallahu a’lam bishshawab
Wassalamu 'alaikumu wr.wb
H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA
(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com dan www.muntadaquran.net)
http://warnaislam.com/konsul/quran/2009/10/26/51300/Tilawah_Al-Quran_dikala_haidnifas.htm
Jadikan Masjid sebagai Pusat Kegiatan

JAKARTA--Masjid hendaknya tidak hanya sekadar dijadikan sebagai tempat ibadah semata, namun masjid harus dijadikan sebagai institusi dakwah dalam arti luas. Ini ditegaskan KH Natsir Zubaidi, Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI), di sela-sela Festival Masjid ke-4 di Nagoya Hill, Batam, Jumat (6/11).
Dikatakan Natsir, jika ibadah kepentingannya untuk pribadi individu. ''Namun jika dakwah dalam arti luas, kepentingannya untuk keluarga, tetangga, masyarakat sekitar, bahkan bangsa ini,'' paparnya. Dakwah dalam arti luas ini dilakukan menyangkut segala aspek. Yaitu akidah, syariah, akhlak, ilmu pengetahuan peradaban. Serta mu'amalah yang menyangkut masalah sosial, ekonomi, budaya dan politik.
Selama ini menurutnya, dakwah yang dilakukan di masjid-masjid, tidak menyentuh atau mendalam pada seluruh aspek tersebut. ''Ini yang ke depan perlu ada pembenahan-pembenahan. Termasuk dakwah yang dilakukan haruslah berpijak pada sosial kultur masyarakat setempat,'' tandas Natsir.
Metode dakwah inilah menurut Natsir yang juga diterapkan oleh Wali Songo. Sehingga dakwah yang dilakukan Walisongo mudah diterima masyarakat. Karena itulah menurut Natsir, masjid hendaknya dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sekitarnya. ''Tentunya jika sebagai pusat kegiatan, perlu memperluas atau memperbanyak perangkat masjid,'' kata Natsir.
Ia mencontohkan Masjid Al Azhar (Jakarta) dan masjid Al Falah (Surabaya) yang selain sebagai tempat ibadah, pusat dakwah, juga merupakan pusat pendidikan. ''Kemudian seperti Masjid Agung di Jawa Tengah, selain sebagai pusat dakwah dalam arti luas, juga sebagai salah satu tujuan wisata,'' tegasnya.
Festival Masjid ke-4 kali ini semula direncanakan di Masjid Raya Batam. ''Namun kami mendapat banyak masukan, jika digelar di Nagoya Hill, maka akan mendapat perhatian dari seluruh umat dan kalangan dari berbagai negara yang bekerja di kawasan itu. Karena Nagoya Hill merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di Batam,'' kata Natsir.
Sebelumnya, Festival Masjid pertama diselenggarakan di Masjid Istiqlal, kedua di Masjid Al Azhar, Ketiga di Masjid AtTien dan keempat di Nagoya Hill Batam. osa/taq
http://republika.co.id/berita/87502/Jadikan_Masjid_sebagai_Pusat_Kegiatan
Doa dan Kebiasaan Orang Arab di Pesisir Teluk Persia
Salah satu kebiasaan orang Arab di Pesisir Teluk Persia adalah saat mereka saling bertemu satu sama lain, juga ketika mereka mengawali pembicaraan di telepon atau bertatap muka langsung kata-kata pembuka yang mereka lontarkan begitu hangat dan manis sekali di dengar. Bukan hanya itu, mereka pun saling melemparkan doa kepada lawan bicaranya dan dibalas dengan hal yang sama.
Saya kadang suka iri dengan kebiasaan mereka. Diawali dengan salam, doa keselamatan mereka menanyakan kabar lawan bicaranya. Setelah dijawab dengan tahmid, pujian kepada Sang khalik yang telah memberikan nikmat. Mereka seperti berbalas pantun dengan mendoakan panjang umur (Hayyakallah -Allah yuhayyik), diberi keselamatan (Allah ya Sallim), dilimpahi keberkahan (barakallah-Allahyubaarik fik), dimaafkan segala kesalahan (allah ya'fiik), dan masih banyak lagi. Kata-kata pembuka ini bukan sekedar basa-basi tapi memang benar-benar serius diucapkan dengan senyuman, intonasi suara yang renyah terdengar.
Ungkapan-ungkapan lainnya adalah kata-kata penyambutan ketika seseorang datang menemui teman atau kerabatnya. Jika di Indonesia, cukup dengan selamat datang itupun di tempat-tempat formal saja disampaikan. Bahkan cukup sekedar "hai..!", tetapi di Teluk berbeda. Ungkapan penyambutan begitu beraneka dan memiliki bobot masing-masing. Misalnya; Marhaban milyoon (sejuta selamat atas kedatanganmu), ada juga Marhabassa' (your are most welcome, anda paling atau sangat dinanti), Marhaban bik..!, marhaban laayiin, dan lain sebagainya. Semuanya begitu diungkapkan dengan semangat seperti baru pertama kali bertemu setelah sekian tahun tidak pernah bersua.
Sampai saat ini saya belum menemukan ungkapan yang sepadan atau cara kita dalam menyambut, bertemu teman atau kerabat seperti para penghuni teluk. Saya membayangkan jika kita bertemu, setelah ucapan salam atau selamat pagi kemudian kita melanjutkan dengan menanyakan kabar lawan bicara kita dan menyampaikan doa untuknya. "Semoga kamu selalu dipanjangkan umur". Dibalas " begitupun dengan mu, senantiasa panjang umur dan sehat senantiasa. Dilanjutkan, "Semoga keberkahan dan keselamatan untukmu dan sekeluarga". Dijawab, "amien, begitu juga untukmu sahabat..semga Allah mema'afkan kehilafanmu dan menempatkanmu dalam kemulyaan". Sahabatnya berkata lagi," Bagaimana dengan keluargamu? putra-putrimu" semoga mereka dijadikan anak yang shalih dan shalihah, mutiara kehidupan dan mendapatkan derajat yang tinggi". Dijawab,"segala puji bagi-Nya yang memberikan perlindungan. Aku pun berdoa untuk putra-putri dan keluarga agar mereka senantiasa ada dalam kebaikan, cahaya kehidupan dan pemimpin hamba-hamba-Nya yang bertakwa".
Dan mungkin masih banyak lagi yang bisa diungkapkan, setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan inti. Kebiasaan ini akan membantu kita melenyapkan iri, dengki, hasad, dan turunnya rahmat Allah dengan dikabulkannya doa dari kedua pihak. Bukankah doa yang diungkapkan dari hati yang tulus dan tidak tulus akan mudah dibedakan oleh kuping yang mendengarnya? Jika ada kekurangsukaan akan membantu si pemilik hati dan lawan bicaranya menjadi luluh karena doa-doa yang disampaikan. Terkadang manusia seringkali selalu mendahulukan praduga dan sakwasangka namun setelah disapa suasana menjadi cair. Dan menebarkan doa bukan sesuatu yang sulit ia teramat mudah namun perlu hati yang ringan dalam membawakannya.
Saya jadi teringat pada sebuah kisah tentang Fatimah Az-Zahra, putri dari Muhammad SAW-pembawa risalah terakhir kenabian bersama putranya Hasan dan Husain. Satu ketika, Fatimah sedang berdoa dan doanya terdengar oleh kedua putranya. Mereka mendengar lantunan doa Fatimah hingga selesai dan ada satu hal yang mengherankan keduanya. Dalam doa Fatimah nama Hasan dan Husain tidak pernah disebut sama sekali. Lantas salah satu dari keduanya menanyakan perihal tersebut pada ibunda Fatimah. "Bunda, saya mendengar doa yang bunda lantunkan namun ananda sama sekali tidak mendengar bunda mendoakan kami berdua. Bunda hanya mendoakan kaum muslimin saja". Begitu putranya merajuk. Fatimah menjelaskan, bahwa ia sesungguhnya mendoakan kedua putranya. Bukankah mereka berdua adalah bagian dari kaum muslimin. Fatimah ingin berbagi dengan doa-doanya yang yang makbul bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja tetapi juga untuk kemaslahatan umat muslim.
Seringkali tanpa kita sadari kita dirundung rasa takut dan khawatir bahwa mendoakan jamaah/umum atau umat Islam tidak seampuh jika mendoakan nama yang bersangkutan secara langsung. Dalam doa saja kita sering bakhil bagaimana soal harta? Jika seperti ini bagaimana keberkahan akan melingkupi kita?. Seorang shalih mengibaratkan bahwa doa-doa yang dipanjatkani akan kembali kepada si empunya. Seperti ada lapisan di atas langit kita yang memantulkannya kembali kepada pemliknya saat kita mendoakan saudara seakidah di belahan bumi lain. Dan mendoakan bisa dimulai kapan saja tidak harus dalam waktu khusus atau selepas solat fardhu atau sunnah. Di awal pembicaraan saat berjumpa di kantor, di pasar, di sekolah, dimanaaaa saja tebarkanlah doa. Jika tebar hewan qurban tidak mampu, apalagi tebar duit bukan seorang milyuner maka doa saja kita bagi-bagi secara gratis. Insya Allah semua akan kembali pada si pemilik empunya. Nah, kapan kita bisa mencobanya..?
oleh Lawang Bagja
http://www.eramuslim.com/oase-iman/doa-dan-kebiasaan-orang-arab-di-pesisir-teluk-persia.htm
Saya kadang suka iri dengan kebiasaan mereka. Diawali dengan salam, doa keselamatan mereka menanyakan kabar lawan bicaranya. Setelah dijawab dengan tahmid, pujian kepada Sang khalik yang telah memberikan nikmat. Mereka seperti berbalas pantun dengan mendoakan panjang umur (Hayyakallah -Allah yuhayyik), diberi keselamatan (Allah ya Sallim), dilimpahi keberkahan (barakallah-Allahyubaarik fik), dimaafkan segala kesalahan (allah ya'fiik), dan masih banyak lagi. Kata-kata pembuka ini bukan sekedar basa-basi tapi memang benar-benar serius diucapkan dengan senyuman, intonasi suara yang renyah terdengar.
Ungkapan-ungkapan lainnya adalah kata-kata penyambutan ketika seseorang datang menemui teman atau kerabatnya. Jika di Indonesia, cukup dengan selamat datang itupun di tempat-tempat formal saja disampaikan. Bahkan cukup sekedar "hai..!", tetapi di Teluk berbeda. Ungkapan penyambutan begitu beraneka dan memiliki bobot masing-masing. Misalnya; Marhaban milyoon (sejuta selamat atas kedatanganmu), ada juga Marhabassa' (your are most welcome, anda paling atau sangat dinanti), Marhaban bik..!, marhaban laayiin, dan lain sebagainya. Semuanya begitu diungkapkan dengan semangat seperti baru pertama kali bertemu setelah sekian tahun tidak pernah bersua.
Sampai saat ini saya belum menemukan ungkapan yang sepadan atau cara kita dalam menyambut, bertemu teman atau kerabat seperti para penghuni teluk. Saya membayangkan jika kita bertemu, setelah ucapan salam atau selamat pagi kemudian kita melanjutkan dengan menanyakan kabar lawan bicara kita dan menyampaikan doa untuknya. "Semoga kamu selalu dipanjangkan umur". Dibalas " begitupun dengan mu, senantiasa panjang umur dan sehat senantiasa. Dilanjutkan, "Semoga keberkahan dan keselamatan untukmu dan sekeluarga". Dijawab, "amien, begitu juga untukmu sahabat..semga Allah mema'afkan kehilafanmu dan menempatkanmu dalam kemulyaan". Sahabatnya berkata lagi," Bagaimana dengan keluargamu? putra-putrimu" semoga mereka dijadikan anak yang shalih dan shalihah, mutiara kehidupan dan mendapatkan derajat yang tinggi". Dijawab,"segala puji bagi-Nya yang memberikan perlindungan. Aku pun berdoa untuk putra-putri dan keluarga agar mereka senantiasa ada dalam kebaikan, cahaya kehidupan dan pemimpin hamba-hamba-Nya yang bertakwa".
Dan mungkin masih banyak lagi yang bisa diungkapkan, setelah itu dilanjutkan dengan pembicaraan inti. Kebiasaan ini akan membantu kita melenyapkan iri, dengki, hasad, dan turunnya rahmat Allah dengan dikabulkannya doa dari kedua pihak. Bukankah doa yang diungkapkan dari hati yang tulus dan tidak tulus akan mudah dibedakan oleh kuping yang mendengarnya? Jika ada kekurangsukaan akan membantu si pemilik hati dan lawan bicaranya menjadi luluh karena doa-doa yang disampaikan. Terkadang manusia seringkali selalu mendahulukan praduga dan sakwasangka namun setelah disapa suasana menjadi cair. Dan menebarkan doa bukan sesuatu yang sulit ia teramat mudah namun perlu hati yang ringan dalam membawakannya.
Saya jadi teringat pada sebuah kisah tentang Fatimah Az-Zahra, putri dari Muhammad SAW-pembawa risalah terakhir kenabian bersama putranya Hasan dan Husain. Satu ketika, Fatimah sedang berdoa dan doanya terdengar oleh kedua putranya. Mereka mendengar lantunan doa Fatimah hingga selesai dan ada satu hal yang mengherankan keduanya. Dalam doa Fatimah nama Hasan dan Husain tidak pernah disebut sama sekali. Lantas salah satu dari keduanya menanyakan perihal tersebut pada ibunda Fatimah. "Bunda, saya mendengar doa yang bunda lantunkan namun ananda sama sekali tidak mendengar bunda mendoakan kami berdua. Bunda hanya mendoakan kaum muslimin saja". Begitu putranya merajuk. Fatimah menjelaskan, bahwa ia sesungguhnya mendoakan kedua putranya. Bukankah mereka berdua adalah bagian dari kaum muslimin. Fatimah ingin berbagi dengan doa-doanya yang yang makbul bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja tetapi juga untuk kemaslahatan umat muslim.
Seringkali tanpa kita sadari kita dirundung rasa takut dan khawatir bahwa mendoakan jamaah/umum atau umat Islam tidak seampuh jika mendoakan nama yang bersangkutan secara langsung. Dalam doa saja kita sering bakhil bagaimana soal harta? Jika seperti ini bagaimana keberkahan akan melingkupi kita?. Seorang shalih mengibaratkan bahwa doa-doa yang dipanjatkani akan kembali kepada si empunya. Seperti ada lapisan di atas langit kita yang memantulkannya kembali kepada pemliknya saat kita mendoakan saudara seakidah di belahan bumi lain. Dan mendoakan bisa dimulai kapan saja tidak harus dalam waktu khusus atau selepas solat fardhu atau sunnah. Di awal pembicaraan saat berjumpa di kantor, di pasar, di sekolah, dimanaaaa saja tebarkanlah doa. Jika tebar hewan qurban tidak mampu, apalagi tebar duit bukan seorang milyuner maka doa saja kita bagi-bagi secara gratis. Insya Allah semua akan kembali pada si pemilik empunya. Nah, kapan kita bisa mencobanya..?
oleh Lawang Bagja
http://www.eramuslim.com/oase-iman/doa-dan-kebiasaan-orang-arab-di-pesisir-teluk-persia.htm
Hari Ini Festival Masjid Bersejarah Se-Asia Tenggara Digelar

Acara ini diselenggarakan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI), didukung Pemerintah Kota Batam
Hidayatullah.com—Acara Festival Masjid Bersejarah Nusantara di Batam, Kepulauan Riau, diselenggarakan hari Jumat (6/11) ini. Seiring diselenggarakannya acara ini, sebelumnya sudah diselenggarakan “Seminar Peran Masjid Bersejarah Bagi Pewarisan Peradaban dan Budaya Islam Nusantara.”
Sebanyak 22 provinsi di Indonesia dan sejumlah negara memastikan ikut sebagai peserta festival, di antaranya dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, DKI, Jawa Timur, dan sebagainya.
Sedang negara tetangga yang ikut adalah; Malaysia (Johor dan Melaka), Singapura, Thailand, Burma, dan Brunai.
Sekretaris DMI Kepulauan Riau (Kepri) Dimyath mengatakan, sebagai tuan rumah Kepri akan mempersembahkan aneka miniatur masjid bersejarah yang ada di wilayah Kepri, seperti miniatur Masjid Sultan Riau Penyengat, sejarah Kerajaan Kepri, miniatur Masjid Pulau Dompak, dan lainnya.
Selain digelar pameran masjid bersejarah, festival yang dipusatkan di Nagoya Hill Batam ini juga menggelar seminar kesejarahan dan bazar makanan tradisional.
Sekretaris panitia Syamsul Ibrahim menuturkan, festival ini dimaksudkan sebagai upaya memelihara warisan budaya dan peradaban Islam Nusantara.
Festival dikemas dalam bentuk seminar dan pameran. Seminar sehari digelar di Hotel Pusat Informasi Haji (PIH), Batamcentre. [btp/cha/www.hidayatullah.com]
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9743:hari-ini-festival-masjid-bersejarah-se-asia-tenggara-digelar&catid=1:nasional&Itemid=54
Muslim Trinidad Tuntut Kepolisian Minta Maaf

Komunitas Muslim di Trinidad dan Tobago menuntut aparat kepolisian minta maaf karena telah memperlakukan seorang diplomat Arab Saudi sewenang-wenang.
Fawaz Abdul Rahman Alshubaili, nama diplomat itu sedang dalam kunjungan ke Trinidad dalam rangka tugas mengurus visa para calon haji dari negeri itu. Aparat kepolisian mengklaim menerima informasi bahwa Fawaz bisa membahayakan keamanan dalam negeri Trinidad, sehingga Fawaz diinterogasi dan kamar hotelnya digeledah oleh aparat kepolisian.
Syaikh Munaf Mohammed yang mengkordinir kedatangan Fawaz ke Trinidad mengatakan, sedikitnya empat hingga lima orang laki-laki tiba-tiba masuk ke kamar hotel dan mengatakan bahwa mereka mencari senjata dan amunisi di kamar itu. Orang-orang itu, kata Syaik Mohammed, juga menggeledah badan Fawaz dan menyuruhnya membuka pakaiannya.
"Fawaz mencoba menjelaskan bahwa ia memegang paspor diplomatik dan menunjukkan paspor itu pada mereka. Tapi paspor itu tampaknya tidak ada artinya buat orang-orang tersebut," ujar Syaikh Mohammed.
Akibat insiden itu, Fawaz mempercepat kunjungannya dan kembali ke Arab Saudi. Ia mengaku sangat marah dengan perlakuan aparat Trinidad yang telah mempermalukannya.
"Dia sangat malu dan kecewa. Dia datang ke negara ini untuk membantu warga Muslim Trinidad dan membantu sekitar 204 Muslim Trinidad yang berencana menunaikan ibadah haji. Tapi ia malah mendapat perlakuan yang sewenang-wenang dari pemerintah Trinidad," papar Syaikh Mohammed.
Insiden itu sampai ke telinga komunitas Muslim Trinidad-Tobago. Mereka pun mengungkapkan kemarahannya pada pemerintah Trinidad dan menuntut komisaris polisi James Philbert untuk minta maaf atas tindakan anak buahnya.
"Kalau yang datang diplomat AS atau Kanada, mereka tidak diperlakukan seperti ini," protes pemuka Muslim, Maulana Abdul Salam.
Merespon kemarahan komunitas Muslim, Philbert membela tindakan aparatnya dan mengatakan bahwa polisi cuma ingin membuktikan informasi yang mereka terima bahwa ada orang yang membagikan visa di sebuah hotel. "Ini bukan hal yang normal, oleh sebab itu polisi punya hak untuk menyelidiki informasi itu," dalih Philbert. (ln/Dawn)
http://eramuslim.com/berita/dunia/muslim-trinidad-tuntut-kepolisian-minta-maaf.htm
Jantung, Mahakarya Sang Pemurah
Bisakah Anda hidup tanpa jantung? Letaknya yang terjaga di antara rongga dada menandakan ia sangat terlindung dan penting bagi kehidupan. Terang saja, bila sebentar tak berdetak, niscaya pasokan darah serta oksigen akan terganggu

Hidayatullah.com--Benda sebesar satu kepalan tangan ini berperan dalam peredaran darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Jantung yang sehat, dalam keadaan normal dapat berdetak sebanyak 60-100 kali per menit. Jumlah ini beragam bergantung pada macam kegiatan seseorang. Semakin banyak kegiatan raga yang dilakukan, bertambah pula detak jantung setiap waktunya. Selain itu, usia dan kondisi kejiwaan seseorang juga turut mempengaruhi.
Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu menandingi ciptaan Allah tersebut. Para ilmuwan berlomba meniru jantung dengan melakukan berbagai percobaan dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang jantung. Tak hanya itu, mereka juga membuat tiruannya lengkap dengan fungsi jantung asli di dalam tubuh.
Penelitian tentang jantung manusia dan tiruannya telah lama digalakkan. Pada Oktober 2008, media massa mengumumkan adanya jantung buatan ilmuwan Perancis. Dengan memanfaatkan campuran polimer dan jaringan sel babi, mereka merancang jantung tiruan sedemikian rupa hingga mirip aslinya. Alat ini dilengkapi sensor canggih yang dapat memberikan informasi aliran darah ke jantung.
Perangkat yang didanai pengembangannya sampai miliaran rupiah tersebut mampu memompa darah dua kali, yakni memompa darah ke paru-paru kemudian memompanya kembali ke seluruh tubuh. Jantung tiruan ini juga dapat memberikan tanggapan yang cukup cepat sesuai kebutuhan tubuh terhadap darah, meningkatkan atau menurunkan alirannya ke seluruh tubuh.
Meski baru diujicobakan ke hewan, harga piranti tersebut diperkirakan mencapai $ 192.140 bila saatnya diperjualbelikan. Jika nilai tukar tiap dollarnya setara dengan Rp 9.593 (data Bank Indonesia pada 30 Oktober 2009), setiap orang sekurang-kurangnya harus menyiapkan dana sebanyak Rp 1.843.199.020 atau sekitar 1,8 Miliar untuk biaya cangkok jantung!
Sungguh, karunia Allah yang luar biasa. Dia telah memberikan jantung secara cuma-cuma kepada semua hamba-Nya. Tak sekedar memberi jantung, Allah juga menuntun manusia agar menjaga dan merawat perangkat penting tubuh tersebut melalui perintah-perintah-Nya. Salah satu di antaranya adalah anjuran untuk menahan marah bagi manusia (lihat: Ilmuwan: kurangi marah agar lebih sehat), sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Ali Imron 3: 134)
Inilah bentuk kasih sayang Allah supaya jantung manusia tetap bekerja dengan baik. Andai saja manusia memperhatikan dan memikirkan semua ciptaan Allah, minimal yang ada pada diri mereka semisal jantung, niscaya mereka bertambah sayang dan syukur kepada-Nya. [Syaefudin/www.hidayatullah.com]
ilustrasi:http://id.wikipedia.org
Oleh : Syaefudin*
*)Syaefudin. Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.
Imam Musa : Kasus Detroit, Sinyal Perang Terhadap Islam di Dalam Negeri AS
Setelah informan itu meninggalkan gudang, agen-agen FBI datang dan memerintahkan semua orang yang di gudang untuk tiarap. Semua yang ada di gudang itu menuruti perintah, termasuk Imam Luqman. Dari informasi yang saya terima, FBI membawa anjing dan menyuruh anjing-anjing itu untuk "mencari" Imam Luqman

FBI menembak mati Luqman Ameen Abdullah, Imam masjid Al-Haqq dan menangkap sejumlah Muslim dalam operasi penyerbuah ke Detroit hari Rabu pekan kemarin. FBI menyatakan operasi itu tidak ada kaitannya dengan kasus terorisme tapi menyangkut kasus-kasus kriminal.
FBI menuding Luqman Ameen Abdullah, sebagai seorang imam masjid telah menyelewengkan ayat-ayat dalam Al-Quran serta kehidupan Rasulullah Saw untuk membenarkan berbagai tindakan kriminal seperti mencuri, merampok dan tindakan melanggar hukum lainnya, dengan alasan untuk kepentingan Islam. FBI juga menuduh Imam Luqman sebagai pemimpin kelompok Islam Sunni radikal di Detroit yang sering melontarkan pernyataan kebencian terhadap pemerintah AS.
Semua tuduhan itu dibantah oleh pihak Masjid Al-Haqq. Sementara, Imam Masjid Al-Islam di Washington DC, Abdul Alim Musa mengungkapkan bahwa FBI sengaja memasang perangkap agar bisa membunuh pembunuhan Imam Luqman. Imam Abdul Alim mengaku punya bukti atas kecurigaannya itu. Berikut petikan wawancara Imam Abdul Alim Mussa dengan Press TV (PTV)-stasiun televisi berita di Ira- terkait pembunuhan terhadap Imam Masjid Al-Haqq.
Anda mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Imam Luqman adalah upaya pembunuhan terhadap seorang tokoh, dalam hal ini pemuka Muslim. Anda punya buktinya?
Imam Musa: Kami punya bukti atas apa yang terjadi, Saya ingin menunggu beberapa waktu agar bisa menemukan kepastiannya. Kami sudah mengirim utusan dari Washington DC untuk menengok jenazahnya saat pemakaman di Detroit. Yang pertama kali mereka temukan adalah informasi bahwa tuduhan terhadap Imam Luqman sebenarnya sudah diatur atau direncanakan sedemikian rupa, sudah dibuat jebakan.
Pemerintah AS sengaja mengutus sejumlah informan untuk memprovokasi Imam Luqman agar terlibat dalam berbagai kegiatan. Nah, terkait apa yang sebenarnya terjadi dalam pembunuhan itu, seorang informan memanggil Imam Luqman agar mengajak anak buahnya dan dia sendiri untuk datang ke sebuah gudang di Detroit, membantu memindahkan dan memasukkan barang-barang berupa televisi ke gudang yang sebenarnya milik informan tersebut. Ketika Imam Luqman dan beberapa jamaahnya tiba di lokasi dan mulai memindahkan televisi-televisi yang sebenarnya juga milik informan itu-jadi tidak ada kaitannya dengan kasus pencurian atau perampokan-si informan tadi mengatakan akan keluar sebentar untuk membeli air minum.
Setelah informan itu meninggalkan gudang, agen-agen FBI datang dan memerintahkan semua orang yang di gudang untuk tiarap. Semua yang ada di gudang itu menuruti perintah, termasuk Imam Luqman. Dari informasi yang saya terima, FBI membawa anjing dan menyuruh anjing-anjing itu untuk "mencari" Imam Luqman. Anjing itu mendekati semua orang dan mengarahkan penciumannya pada Imam Luqman. Melihat anjing itu mendekat, Imam Luqman menembak anjing itu yang membuat agen FBI melepaskan tembakan ke arah Imam Luqman.
Jadi ... semua itu sudah direncanakan oleh FBI. Imam Luqman sudah mematuhi perintah FBI. Anda harus tahu, FBI atau polisi hanya boleh menggunakan anjing terhadap seseorang dalam dua situasi. Pertama, untuk mengejar orang yang melarikan diri atau bersembunyi. Kedua, anjing boleh digunakan dalam kasus-kasu narkoba atau bahan peledak. Kedua kondisi itu tidak terjadi dalam penangkapan di Detroit.
Oleh sebab itu, komunitas Muslim di Detroit dan di seluruh AS menilai ini adalah jebakan dan provokasi terhadap Imam Luqman dan kaum Muslimin AS pada umumnya. Bagi kami, ini masalah perang terhadap Islam di dalam negeri AS.
Anda melihat kasus pembunuhan ini ada kaitannya dengan Islamofobia?
Musa: Saya tidak bisa memberikan semua informasi mengenai latar belakang kejadian ini karena penyelidikan masih berlangsung. Ada sesuatu yang terkait dengan Imam Jamil Abdullah Al-Amin. Imam Luqman adalah jamaah dari Imam Jamil, yang dulu dikenal sebagai penyanyi rap dengan nama H. Rap Brown. Namanya menjadi sangat terkenal dalam sejarah orang-orang Afrika di Amerika dan dalam sejarah Islam.
Imam Jamil Abdullah Al-Amin adalah sosok yang memciptakan bentuk transisi dari Black Nationalism ke Islam. Ia seorang pemimpin nasional dari sebuah komunitas di Amerika. Ada keyakinan bahwa FBI memusatkan perhatiannya pada Imam Luqman karena dari semua imam di dalam komunitas Imam Jamil, Imam Luqman-lah yang paling aktif dan paling besar dukungannya terhadap Imam Jamil.
Pembunuhan terhadap Imam Luqman adalah pesan yang ingin disampaikan pada semua anggota komunitas Imam Jamil dan terutama pada semua komunitas Muslim kulit hitam di AS bahwa 'sekarang, kami (FBI) sedang memburu kalian semua.' Perang terhadap komunitas Muslim ini merupakan tindak lanjut dari apa yang kami sebut sebagai program kontra intelejen dengan memanfaatkan kalangan warga kulit hitam dan kalangan kulit putih Amerika.
Apakah Muslim di Detroit akan menempuh jalur hukum untuk menggugat FBI?
Musa: Masyarakat Detroit, bukan hanya Muslim tapi juga umat Kristiani bahkan sebuah gereja besar di Detroit menyatakan simpati dan dukungannya terhadap Imam Luwman. Mereka menggelar aksi protes atas pembunuhan Imam Luqman. Komunitas Muslim akan mengupayakan berbagai opsi. Tapi kasus ini menunjukkan gejala Islamofobia yang terus berlanjut di AS, ketakutan akan makin menyebarnya Islam di Amerika. (ln)
http://eramuslim.com/berita/bincang/imam-musa-kasus-detroit-sinyal-perang-terhadap-islam-di-dalam-negeri-as.htm

FBI menembak mati Luqman Ameen Abdullah, Imam masjid Al-Haqq dan menangkap sejumlah Muslim dalam operasi penyerbuah ke Detroit hari Rabu pekan kemarin. FBI menyatakan operasi itu tidak ada kaitannya dengan kasus terorisme tapi menyangkut kasus-kasus kriminal.
FBI menuding Luqman Ameen Abdullah, sebagai seorang imam masjid telah menyelewengkan ayat-ayat dalam Al-Quran serta kehidupan Rasulullah Saw untuk membenarkan berbagai tindakan kriminal seperti mencuri, merampok dan tindakan melanggar hukum lainnya, dengan alasan untuk kepentingan Islam. FBI juga menuduh Imam Luqman sebagai pemimpin kelompok Islam Sunni radikal di Detroit yang sering melontarkan pernyataan kebencian terhadap pemerintah AS.
Semua tuduhan itu dibantah oleh pihak Masjid Al-Haqq. Sementara, Imam Masjid Al-Islam di Washington DC, Abdul Alim Musa mengungkapkan bahwa FBI sengaja memasang perangkap agar bisa membunuh pembunuhan Imam Luqman. Imam Abdul Alim mengaku punya bukti atas kecurigaannya itu. Berikut petikan wawancara Imam Abdul Alim Mussa dengan Press TV (PTV)-stasiun televisi berita di Ira- terkait pembunuhan terhadap Imam Masjid Al-Haqq.
Anda mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Imam Luqman adalah upaya pembunuhan terhadap seorang tokoh, dalam hal ini pemuka Muslim. Anda punya buktinya?
Imam Musa: Kami punya bukti atas apa yang terjadi, Saya ingin menunggu beberapa waktu agar bisa menemukan kepastiannya. Kami sudah mengirim utusan dari Washington DC untuk menengok jenazahnya saat pemakaman di Detroit. Yang pertama kali mereka temukan adalah informasi bahwa tuduhan terhadap Imam Luqman sebenarnya sudah diatur atau direncanakan sedemikian rupa, sudah dibuat jebakan.
Pemerintah AS sengaja mengutus sejumlah informan untuk memprovokasi Imam Luqman agar terlibat dalam berbagai kegiatan. Nah, terkait apa yang sebenarnya terjadi dalam pembunuhan itu, seorang informan memanggil Imam Luqman agar mengajak anak buahnya dan dia sendiri untuk datang ke sebuah gudang di Detroit, membantu memindahkan dan memasukkan barang-barang berupa televisi ke gudang yang sebenarnya milik informan tersebut. Ketika Imam Luqman dan beberapa jamaahnya tiba di lokasi dan mulai memindahkan televisi-televisi yang sebenarnya juga milik informan itu-jadi tidak ada kaitannya dengan kasus pencurian atau perampokan-si informan tadi mengatakan akan keluar sebentar untuk membeli air minum.
Setelah informan itu meninggalkan gudang, agen-agen FBI datang dan memerintahkan semua orang yang di gudang untuk tiarap. Semua yang ada di gudang itu menuruti perintah, termasuk Imam Luqman. Dari informasi yang saya terima, FBI membawa anjing dan menyuruh anjing-anjing itu untuk "mencari" Imam Luqman. Anjing itu mendekati semua orang dan mengarahkan penciumannya pada Imam Luqman. Melihat anjing itu mendekat, Imam Luqman menembak anjing itu yang membuat agen FBI melepaskan tembakan ke arah Imam Luqman.
Jadi ... semua itu sudah direncanakan oleh FBI. Imam Luqman sudah mematuhi perintah FBI. Anda harus tahu, FBI atau polisi hanya boleh menggunakan anjing terhadap seseorang dalam dua situasi. Pertama, untuk mengejar orang yang melarikan diri atau bersembunyi. Kedua, anjing boleh digunakan dalam kasus-kasu narkoba atau bahan peledak. Kedua kondisi itu tidak terjadi dalam penangkapan di Detroit.
Oleh sebab itu, komunitas Muslim di Detroit dan di seluruh AS menilai ini adalah jebakan dan provokasi terhadap Imam Luqman dan kaum Muslimin AS pada umumnya. Bagi kami, ini masalah perang terhadap Islam di dalam negeri AS.
Anda melihat kasus pembunuhan ini ada kaitannya dengan Islamofobia?
Musa: Saya tidak bisa memberikan semua informasi mengenai latar belakang kejadian ini karena penyelidikan masih berlangsung. Ada sesuatu yang terkait dengan Imam Jamil Abdullah Al-Amin. Imam Luqman adalah jamaah dari Imam Jamil, yang dulu dikenal sebagai penyanyi rap dengan nama H. Rap Brown. Namanya menjadi sangat terkenal dalam sejarah orang-orang Afrika di Amerika dan dalam sejarah Islam.
Imam Jamil Abdullah Al-Amin adalah sosok yang memciptakan bentuk transisi dari Black Nationalism ke Islam. Ia seorang pemimpin nasional dari sebuah komunitas di Amerika. Ada keyakinan bahwa FBI memusatkan perhatiannya pada Imam Luqman karena dari semua imam di dalam komunitas Imam Jamil, Imam Luqman-lah yang paling aktif dan paling besar dukungannya terhadap Imam Jamil.
Pembunuhan terhadap Imam Luqman adalah pesan yang ingin disampaikan pada semua anggota komunitas Imam Jamil dan terutama pada semua komunitas Muslim kulit hitam di AS bahwa 'sekarang, kami (FBI) sedang memburu kalian semua.' Perang terhadap komunitas Muslim ini merupakan tindak lanjut dari apa yang kami sebut sebagai program kontra intelejen dengan memanfaatkan kalangan warga kulit hitam dan kalangan kulit putih Amerika.
Apakah Muslim di Detroit akan menempuh jalur hukum untuk menggugat FBI?
Musa: Masyarakat Detroit, bukan hanya Muslim tapi juga umat Kristiani bahkan sebuah gereja besar di Detroit menyatakan simpati dan dukungannya terhadap Imam Luwman. Mereka menggelar aksi protes atas pembunuhan Imam Luqman. Komunitas Muslim akan mengupayakan berbagai opsi. Tapi kasus ini menunjukkan gejala Islamofobia yang terus berlanjut di AS, ketakutan akan makin menyebarnya Islam di Amerika. (ln)
http://eramuslim.com/berita/bincang/imam-musa-kasus-detroit-sinyal-perang-terhadap-islam-di-dalam-negeri-as.htm
Kembali ke Fitrah, Kembali ke Syariah
Setelah beribadah selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang penuh berkah maka kaum Muslim kembali ke fitrah. Apakah kita termasuk orang yang kembali ke fitrah atau tidak? Alquran Surat Ar Rum Ayat 30-32 bisa menjadi patokannya.
Dalam ayat-ayat tersebut Allah SWT berfirman, yang artinya, Maka hadapkanlah wajah-mu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Alah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peru-bahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi keba-nyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepa-da-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Itulah ciri-ciri orang yang betul-betul menemukan identitas fitrahnya. Jadi setelah ditempa ibadah shaum satu bulan penuh maka mental kita akan menjadi kuat. Kita diperintahkan Allah, faaqim wajhaka, untuk meng-hadapkan wajah atau identitas kita kepada agama Allah, dengan kata lain memberikan respon sami'na wa atha'na terhadap perintah-perintah Allah yang merupakan ajaran tauhid dan syariah dan tidak akan pernah berubah sampai kiamat.
Dzaalika ad dinnul qayyim, itulah agama (din) yang lurus (qayim). Din Allah itu menyeluruh dan lengkap, mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk politik dan mengatur negara, jadi bukan hanya ibadah mahdlah saja tetapi ibadah secara totalitas. Jadi orang yang kembali ke fitrah itu mempunyai kepedulian tentang itu semua, tidak hanya dipojokkan di langgar atau masjid saja sehingga meninggalkan masalah-masalah yang terkait publik, hukum, pemerintahan itu.
Wattaquhu, bertakwalah kepada-Nya. Jadi menjalankan din yang qayim itu harus dengan takwa. Bila kita melihat maqalah Imam Ali bin Abi Thalib lengkap sekali. Khalifahkeempat itu setidaknya menyebutkan ada lima poin ketakwaan.
Pertama, quwwattan fiddi-nin, artinya din itu atau syariah menjadi alat operasional yang kuat mengatur kehidupan manu-sia. Itulah yang dimaksud dengan daulah. Sekarang daulah Islamnya tidak ada sehingga syariah terkait hukum publik tidak dioperasi-onalkan.
Bahkan sekarang ada stig-matisasi yang menjijikkan bagi jihad. Dakwah pun diawasi. Padahal keduanya adalah din atau syariah yang harus dioperasional-kan. Nah, agar syariah ini bisa dioperasikan harus ada daulah yang disebut dengan Khilafah ala minhajin nubuwwah, sehingga din menjadi kuat.
Kedua, wa imanan fiaminin, keimanan yang terpelihara. Kare-na daulah Khilafahnya tidak ada, banyak kaum Muslim yang ke-imanannya tidak terjaga karena pemerintahnya menerapkan hu-kum sekuler, mengajarkan plural-isme agama.
Ketiga, khirshan fi ilmin, ilmu-ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari Alquran dan Sun-nah. Itulah yang bisa menguatkan iman, menguatkan din. Ini yang harus disebarluaskan dan digalak-kan agar kaum Muslim mema-hami ajaran agamanya.
Keempat, wa khusu'an iba-datin, khusyu dalam beribadah. Khusu itu dalam artian tunduk dalam semua bentuk ibadah, bukan hanya dalam shalat. Jadi harus khusyu dalam melaksana-kan zakat, dakwah, jihad.
Kelima, takharujan fi tama'in, melepaskan diri dari ketamakan atau selera rendah. Sekarang ini kaum Muslim apalagi para pejabat senang sekali korupsi, itu selera yang rendah sekali.
Jadi orang yang kembali ke fitrah itu adalah orang yang bertaubat, yang kembali menja-lankan perintah-perintah Allah. Bagaimana? Seperti yang dijawab oleh Imam Malik ketika menjawab pertanyaan bagaimana menyatu-kan kaum Muslim yang terpecah, ”Tidak ada yang dapat menyatu-kan umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah digunakan oleh generasi awal umat ini.”
Generasi awal itu mem-bangun umat itu dengan Alquran dan Sunnah. Itu tiada lain adalah syariah. Institusinya yang berjalan adalah Khilafah. Mulai zaman Nabi Muhammad SAW setelah itu di-lanjutkan oleh para khalifah.
Jadi orang yang kembali ke fitrah itu yang istiqamah, karena tidak ada perubahan pada fitrah Allah, konteksnya dalam keadaan saat ini ialah menegakkan kembali Daulah Khilafah ala minhajin nubuwwah sehingga syariah yang terkait masalah publik kembali operasional. Orang yang istiqa-mah beribadah seperti itulah yang kembali ke fitrah.[]
Oleh: KH Imam Fachrur Razie
Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Islam Baitul Izzah, Nganjuk, Jatim.
http://www.mediaumat.com/content/view/922/2/
Dalam ayat-ayat tersebut Allah SWT berfirman, yang artinya, Maka hadapkanlah wajah-mu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Alah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peru-bahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi keba-nyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepa-da-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Itulah ciri-ciri orang yang betul-betul menemukan identitas fitrahnya. Jadi setelah ditempa ibadah shaum satu bulan penuh maka mental kita akan menjadi kuat. Kita diperintahkan Allah, faaqim wajhaka, untuk meng-hadapkan wajah atau identitas kita kepada agama Allah, dengan kata lain memberikan respon sami'na wa atha'na terhadap perintah-perintah Allah yang merupakan ajaran tauhid dan syariah dan tidak akan pernah berubah sampai kiamat.
Dzaalika ad dinnul qayyim, itulah agama (din) yang lurus (qayim). Din Allah itu menyeluruh dan lengkap, mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk politik dan mengatur negara, jadi bukan hanya ibadah mahdlah saja tetapi ibadah secara totalitas. Jadi orang yang kembali ke fitrah itu mempunyai kepedulian tentang itu semua, tidak hanya dipojokkan di langgar atau masjid saja sehingga meninggalkan masalah-masalah yang terkait publik, hukum, pemerintahan itu.
Wattaquhu, bertakwalah kepada-Nya. Jadi menjalankan din yang qayim itu harus dengan takwa. Bila kita melihat maqalah Imam Ali bin Abi Thalib lengkap sekali. Khalifahkeempat itu setidaknya menyebutkan ada lima poin ketakwaan.
Pertama, quwwattan fiddi-nin, artinya din itu atau syariah menjadi alat operasional yang kuat mengatur kehidupan manu-sia. Itulah yang dimaksud dengan daulah. Sekarang daulah Islamnya tidak ada sehingga syariah terkait hukum publik tidak dioperasi-onalkan.
Bahkan sekarang ada stig-matisasi yang menjijikkan bagi jihad. Dakwah pun diawasi. Padahal keduanya adalah din atau syariah yang harus dioperasional-kan. Nah, agar syariah ini bisa dioperasikan harus ada daulah yang disebut dengan Khilafah ala minhajin nubuwwah, sehingga din menjadi kuat.
Kedua, wa imanan fiaminin, keimanan yang terpelihara. Kare-na daulah Khilafahnya tidak ada, banyak kaum Muslim yang ke-imanannya tidak terjaga karena pemerintahnya menerapkan hu-kum sekuler, mengajarkan plural-isme agama.
Ketiga, khirshan fi ilmin, ilmu-ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari Alquran dan Sun-nah. Itulah yang bisa menguatkan iman, menguatkan din. Ini yang harus disebarluaskan dan digalak-kan agar kaum Muslim mema-hami ajaran agamanya.
Keempat, wa khusu'an iba-datin, khusyu dalam beribadah. Khusu itu dalam artian tunduk dalam semua bentuk ibadah, bukan hanya dalam shalat. Jadi harus khusyu dalam melaksana-kan zakat, dakwah, jihad.
Kelima, takharujan fi tama'in, melepaskan diri dari ketamakan atau selera rendah. Sekarang ini kaum Muslim apalagi para pejabat senang sekali korupsi, itu selera yang rendah sekali.
Jadi orang yang kembali ke fitrah itu adalah orang yang bertaubat, yang kembali menja-lankan perintah-perintah Allah. Bagaimana? Seperti yang dijawab oleh Imam Malik ketika menjawab pertanyaan bagaimana menyatu-kan kaum Muslim yang terpecah, ”Tidak ada yang dapat menyatu-kan umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah digunakan oleh generasi awal umat ini.”
Generasi awal itu mem-bangun umat itu dengan Alquran dan Sunnah. Itu tiada lain adalah syariah. Institusinya yang berjalan adalah Khilafah. Mulai zaman Nabi Muhammad SAW setelah itu di-lanjutkan oleh para khalifah.
Jadi orang yang kembali ke fitrah itu yang istiqamah, karena tidak ada perubahan pada fitrah Allah, konteksnya dalam keadaan saat ini ialah menegakkan kembali Daulah Khilafah ala minhajin nubuwwah sehingga syariah yang terkait masalah publik kembali operasional. Orang yang istiqa-mah beribadah seperti itulah yang kembali ke fitrah.[]
Oleh: KH Imam Fachrur Razie
Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Islam Baitul Izzah, Nganjuk, Jatim.
http://www.mediaumat.com/content/view/922/2/
Istiqamah Di Jalan Dakwah
MediaUmat- Sejak Baginda Nabi SAW memulai dakwah secara terang-terangan di Makkah, orang-orang kafir mulai memutar otak untuk mencari cara dari mulai yang paling halus hingga yang paling kasar dan kejam untuk menggagalkan dakwah Nabi SAW. Mula-mula mereka melontarkan isu bahwa Muhammad SAW adalah orang gila. Lalu beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah bangsa Arab. Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi mendengarkan kata-kata Muhammad. Itulah ujian yang pertama dan paling ringan yang dialami Baginda Rasulullah SAW.
Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling sedikitpun dari jalannya, mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah Muhammad SAW dengan berbagai cara yang lebih keras. Secara ringkas ada empat cara yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul; membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda dusta; menentang Alquran dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang Alquran; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau berkompromi, yang tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan dakwah beliau (Syaikh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîq al-Makhtûm).
Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Namun, mereka tidak mengendorkan kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang yang masuk Islam.
Fitnah dan ujian juga dilakukan terhadap Baginda Nabi SAW oleh Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan istrinya, Uqbah bin Abi Mu'ith, Adi bin Hamra' ats-Tsaqafi dan Ibn al-Ahda' al-Huzali. Salah seorang dari mereka pernah melempar Nabi SAW dengan isi perut domba yang baru disembelih saat beliau sedang shalat. Ada juga yang melemparkan kotoran domba itu ke periuk beliau. Uqbah bin Abi Mu'ith bahkan pernah meludahi wajah Nabi SAW, Ubay bin Khalaf pernah meremukkan tulang-belulang, lalu menaburkannya di udara yang berhembus ke arah Rasul SAW, Utaibah bin Abi Lahab pernah menyerang Nabi SAW, Uqbah bin Abi Mu'ith pernah menginjak pundak beliau yang mulia.
Semua itu dialami Baginda Rasulul-lah SAW, betapapun mulianya kedudukan beliau dan betapapun agungnya kepribadian beliau di tengah-tengah masyarakat; apalagi beliau mendapat perlindungan dari paman beliau, Abu Thalib, yang merupakan salah seorang dari Quraisy yang sangat dihormati di Makkah al-Mukarramah.
Karena itu, wajar jika para Sahabat beliau, apalagi orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan, yang tak kalah kejam dan mengerikan. Paman Utsman bin Affan, misalnya, pernah diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya. Ketika Ibu Mushab bin Umair mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan anaknya dan mengusirnya dari rumahpadahal ia sebelumnya termasuk orang yang paling enak hidupnyasampai kulit Mushab mengelupas. Bilal bin Rabbah juga pernah disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Lehernya diikat, lalu ia diserahkan kepada anak-anak untuk dibawa berkeliling mengelilingi sebuah bukit di Makkah. Bilal juga dipaksa untuk duduk di bawah terik matahari dalam kelaparan, kemudian sebuah batu besar di diletakkan dadanya.
Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra, bahkan lebih tragis. Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa mereka dengan kejam. Yasir ra meninggal dunia ketika disiksa. Istrinya, Sumayyah (ibu 'Ammar), juga menjadi syahidah setelah Abu Jahal menancapkan tombak di duburnya. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras. (Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Hisyam, 1/319; Muhammad al-Ghazaliy, Fiqh as-Sîrah hlm. 82.
Meski mengalami semua makar dan kekejaman yang dilakukan orang-orang kafir, Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau tetap berpegang teguh pada Islam. Mereka tetap bersabar atas semua siksaan itu dan tetap istiqamah di jalan dakwah hanya karena satu alasan: mengharap ridha Allah SWT.
Karena itu, jika hari ini para pengemban dakwah, khususnya di Tanah Air, sedang diuji dengan fitnah dikaitkan dengan terorisme, dituduh mengancam negara, diawasi dllmaka hal itu sebenarnya barulah mengalami hal yang paling ringan dari apa yang pernah dialami Baginda Nabi SAW saat pertama kali. Artinya, jika pun ujian dakwah yang mereka alami jauh lebih sadis dari sekadar fitnah/tuduhan palsu, maka tak usah khawatir. Sebab, Nabi SAW dan para Sahabat pun pernah mengalaminya.
Karena itu, istiqamah di jalan dakwah adalah hal yang sebetulnya wajar-wajar saja bagi para pendakwah. Bahkan hanya dengan tetap istiqamahlah segala makar orang-orang kafir dan antek-anteknya bisa digagalkan dan kemenangan dakwah akan segera bisa diraih dengan izin Allah SWT.
Wamâ tawfîqî illâ billâh.[]
arief b. iskandar
http://www.mediaumat.com/content/view/923/2/
Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling sedikitpun dari jalannya, mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah Muhammad SAW dengan berbagai cara yang lebih keras. Secara ringkas ada empat cara yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul; membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda dusta; menentang Alquran dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang Alquran; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau berkompromi, yang tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan dakwah beliau (Syaikh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîq al-Makhtûm).
Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Namun, mereka tidak mengendorkan kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang yang masuk Islam.
Fitnah dan ujian juga dilakukan terhadap Baginda Nabi SAW oleh Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan istrinya, Uqbah bin Abi Mu'ith, Adi bin Hamra' ats-Tsaqafi dan Ibn al-Ahda' al-Huzali. Salah seorang dari mereka pernah melempar Nabi SAW dengan isi perut domba yang baru disembelih saat beliau sedang shalat. Ada juga yang melemparkan kotoran domba itu ke periuk beliau. Uqbah bin Abi Mu'ith bahkan pernah meludahi wajah Nabi SAW, Ubay bin Khalaf pernah meremukkan tulang-belulang, lalu menaburkannya di udara yang berhembus ke arah Rasul SAW, Utaibah bin Abi Lahab pernah menyerang Nabi SAW, Uqbah bin Abi Mu'ith pernah menginjak pundak beliau yang mulia.
Semua itu dialami Baginda Rasulul-lah SAW, betapapun mulianya kedudukan beliau dan betapapun agungnya kepribadian beliau di tengah-tengah masyarakat; apalagi beliau mendapat perlindungan dari paman beliau, Abu Thalib, yang merupakan salah seorang dari Quraisy yang sangat dihormati di Makkah al-Mukarramah.
Karena itu, wajar jika para Sahabat beliau, apalagi orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan, yang tak kalah kejam dan mengerikan. Paman Utsman bin Affan, misalnya, pernah diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya. Ketika Ibu Mushab bin Umair mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan anaknya dan mengusirnya dari rumahpadahal ia sebelumnya termasuk orang yang paling enak hidupnyasampai kulit Mushab mengelupas. Bilal bin Rabbah juga pernah disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Lehernya diikat, lalu ia diserahkan kepada anak-anak untuk dibawa berkeliling mengelilingi sebuah bukit di Makkah. Bilal juga dipaksa untuk duduk di bawah terik matahari dalam kelaparan, kemudian sebuah batu besar di diletakkan dadanya.
Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra, bahkan lebih tragis. Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa mereka dengan kejam. Yasir ra meninggal dunia ketika disiksa. Istrinya, Sumayyah (ibu 'Ammar), juga menjadi syahidah setelah Abu Jahal menancapkan tombak di duburnya. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras. (Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Hisyam, 1/319; Muhammad al-Ghazaliy, Fiqh as-Sîrah hlm. 82.
Meski mengalami semua makar dan kekejaman yang dilakukan orang-orang kafir, Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau tetap berpegang teguh pada Islam. Mereka tetap bersabar atas semua siksaan itu dan tetap istiqamah di jalan dakwah hanya karena satu alasan: mengharap ridha Allah SWT.
Karena itu, jika hari ini para pengemban dakwah, khususnya di Tanah Air, sedang diuji dengan fitnah dikaitkan dengan terorisme, dituduh mengancam negara, diawasi dllmaka hal itu sebenarnya barulah mengalami hal yang paling ringan dari apa yang pernah dialami Baginda Nabi SAW saat pertama kali. Artinya, jika pun ujian dakwah yang mereka alami jauh lebih sadis dari sekadar fitnah/tuduhan palsu, maka tak usah khawatir. Sebab, Nabi SAW dan para Sahabat pun pernah mengalaminya.
Karena itu, istiqamah di jalan dakwah adalah hal yang sebetulnya wajar-wajar saja bagi para pendakwah. Bahkan hanya dengan tetap istiqamahlah segala makar orang-orang kafir dan antek-anteknya bisa digagalkan dan kemenangan dakwah akan segera bisa diraih dengan izin Allah SWT.
Wamâ tawfîqî illâ billâh.[]
arief b. iskandar
http://www.mediaumat.com/content/view/923/2/
Ingin Berzakat
Assalaamu'alaikum Wr Wb
Orang tua saya sebelumnya belum pernah zakat mal, pengetahuan agama memang kurang. Tahun ini mereka ingin mulai berzakat. Namun masih bingung, apa saja yang harus dihitung zakatnya, tanah beserta bangunannya, isinya, mobil dll, atau bagaimana. Apakah dihitung harga misal kalau dijual semua, kemudian baru dihitung zakatnya?
Ortu saya kerja sebagai penjual jajanan snack/roti di pasar tradisional. Hasil penjualan tiap harinya langsung dibelanjakan untuk barang2 yang hampir habis, jadi tidak pernah menghitung keuntungan setelah menjual. Bagaimana zakat penghasilannya?
Sukron jazakalloh atas bantuannya.
Wassalaamu'alaikum Wr Wb
Sa'id
Jawaban
Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas pertanyaannya Bapak Sa’id yang baik. Semoga orang tua Bapak dimudahkan keinginannya untuk berzakat dan diberikan keberkahan dengan menunaikan zakat tersebut. Amin
1. Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.“ (QS, Al-Baqarah (2): 267)
Menurut Ulama Fiqih mengenai harta rumah, tanah, perabotan dan kendaraan apabila dipakai sendiri tidak disewakan dan rumah hanya dijadikan tempat tinggal sendiri maka tidak ada zakat. Sebab, barang tersebut tidak bergerak dan tidak menghasilkan keuntungan. Kecuali jika harta tersebut disewakan/direntalkan atau dijual yang menghasilkan uang, apabila cukup nishab maka wajib wajib zakat.
Adapun harta-harta kekayaan yang dimiliki seperti harta simpanan; emas dan tabungan/deposito jika sudah dimiliki sendiri selama setahun, cukup nishab maka wajib dizakati 2,5%. Kalau simpanan harta dan keuntungannya yang diperoleh cukup nishab 85 gram emas (umpama @se-gram emas Rp. 300.000 x 85 (gram) = 25.500.000) maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%.
2. Zakat Perdagangan dikenakan kepada perniagaan yang diusahakan baik secara perorangan maupun perserikatan (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, Dll) yang telah memenuhi cukup nishab. Dr. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan harta perdagangan adalah semua yang dipergunakan untuk diperjual-belikan atau segala sesuatu yang dibeli atau dijual untuk tujuan memperoleh keuntungan. Hadits yang mendasari kewajiban menunaikan zakat ini adalah : "Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari semua yang kami persiapkan untuk berdagang." ( HR. Abu Dawud )
Adapun cara menghitung zakat perdagangan yaitu= ( Modal yang diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan ) – (hutang-kerugian) x 2,5 %
Contoh:
Perdagangan/usaha jajanan snack/roti orang tuanya Bapak Sa’id Pada bulan Muharram 1430H.
o Perkiraan Modal + keuntungan selama setahun (Jika tidak mampu menghitung Modal + keuntungan secara pasti boleh dengan perkiraan) (A) : Rp. 36.000.000,-
o Uang kas (B): Rp. 3.000.000,-
o Piutang yang dapat ditagih (C) : Rp. 2.000.000,-
o Hutang jatuh tempo yang harus dibayarkan untuk gaji atau sewa tempat(D) @ Rp. 500.000,-/perbulan = Rp. 6.000.000,-
Setelah haul satu tahun, maka perhitungan zakat perdagangannya sebagai berikut :
{(A+B+C)-E)}=Rp. 41.000.000-Rp.6.000.000=Rp. 35.000.000
Zakatnya adalah ; Rp. 35.000.000 x 2,5% = Rp. 875.000 (dalam setahun), atau Rp. 72.916 (kalau ingin diangsur perbulan ulama memperbolehkannya khawatir memberatkan saat setahun)
Al-hasil, perhitungan zakat atas usaha yang dijalankan oleh orang tuanya bapak Sa’id wajib ditunaikan setahun sekali sebesar 2,5% (atau jika ditakutkan memberatkan boleh perbulan ditunaikan) Jika pendapatan usaha tersebut mencapai nishab 85 gram emas maka wajib zakat nyasebesar 2.5 %., tetapi sebaliknya jika tidak mencukupi maka sangat dianjurkan untuk bersedekah.
Demikian semoga dapat dipahami. Waallahu A’lam.
Muhammad Zen, MA
http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/ingin-berzakat.htm
Orang tua saya sebelumnya belum pernah zakat mal, pengetahuan agama memang kurang. Tahun ini mereka ingin mulai berzakat. Namun masih bingung, apa saja yang harus dihitung zakatnya, tanah beserta bangunannya, isinya, mobil dll, atau bagaimana. Apakah dihitung harga misal kalau dijual semua, kemudian baru dihitung zakatnya?
Ortu saya kerja sebagai penjual jajanan snack/roti di pasar tradisional. Hasil penjualan tiap harinya langsung dibelanjakan untuk barang2 yang hampir habis, jadi tidak pernah menghitung keuntungan setelah menjual. Bagaimana zakat penghasilannya?
Sukron jazakalloh atas bantuannya.
Wassalaamu'alaikum Wr Wb
Sa'id
Jawaban
Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas pertanyaannya Bapak Sa’id yang baik. Semoga orang tua Bapak dimudahkan keinginannya untuk berzakat dan diberikan keberkahan dengan menunaikan zakat tersebut. Amin
1. Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.“ (QS, Al-Baqarah (2): 267)
Menurut Ulama Fiqih mengenai harta rumah, tanah, perabotan dan kendaraan apabila dipakai sendiri tidak disewakan dan rumah hanya dijadikan tempat tinggal sendiri maka tidak ada zakat. Sebab, barang tersebut tidak bergerak dan tidak menghasilkan keuntungan. Kecuali jika harta tersebut disewakan/direntalkan atau dijual yang menghasilkan uang, apabila cukup nishab maka wajib wajib zakat.
Adapun harta-harta kekayaan yang dimiliki seperti harta simpanan; emas dan tabungan/deposito jika sudah dimiliki sendiri selama setahun, cukup nishab maka wajib dizakati 2,5%. Kalau simpanan harta dan keuntungannya yang diperoleh cukup nishab 85 gram emas (umpama @se-gram emas Rp. 300.000 x 85 (gram) = 25.500.000) maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%.
2. Zakat Perdagangan dikenakan kepada perniagaan yang diusahakan baik secara perorangan maupun perserikatan (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, Dll) yang telah memenuhi cukup nishab. Dr. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan harta perdagangan adalah semua yang dipergunakan untuk diperjual-belikan atau segala sesuatu yang dibeli atau dijual untuk tujuan memperoleh keuntungan. Hadits yang mendasari kewajiban menunaikan zakat ini adalah : "Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari semua yang kami persiapkan untuk berdagang." ( HR. Abu Dawud )
Adapun cara menghitung zakat perdagangan yaitu= ( Modal yang diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan ) – (hutang-kerugian) x 2,5 %
Contoh:
Perdagangan/usaha jajanan snack/roti orang tuanya Bapak Sa’id Pada bulan Muharram 1430H.
o Perkiraan Modal + keuntungan selama setahun (Jika tidak mampu menghitung Modal + keuntungan secara pasti boleh dengan perkiraan) (A) : Rp. 36.000.000,-
o Uang kas (B): Rp. 3.000.000,-
o Piutang yang dapat ditagih (C) : Rp. 2.000.000,-
o Hutang jatuh tempo yang harus dibayarkan untuk gaji atau sewa tempat(D) @ Rp. 500.000,-/perbulan = Rp. 6.000.000,-
Setelah haul satu tahun, maka perhitungan zakat perdagangannya sebagai berikut :
{(A+B+C)-E)}=Rp. 41.000.000-Rp.6.000.000=Rp. 35.000.000
Zakatnya adalah ; Rp. 35.000.000 x 2,5% = Rp. 875.000 (dalam setahun), atau Rp. 72.916 (kalau ingin diangsur perbulan ulama memperbolehkannya khawatir memberatkan saat setahun)
Al-hasil, perhitungan zakat atas usaha yang dijalankan oleh orang tuanya bapak Sa’id wajib ditunaikan setahun sekali sebesar 2,5% (atau jika ditakutkan memberatkan boleh perbulan ditunaikan) Jika pendapatan usaha tersebut mencapai nishab 85 gram emas maka wajib zakat nyasebesar 2.5 %., tetapi sebaliknya jika tidak mencukupi maka sangat dianjurkan untuk bersedekah.
Demikian semoga dapat dipahami. Waallahu A’lam.
Muhammad Zen, MA
http://eramuslim.com/konsultasi/zakat/ingin-berzakat.htm
Klinik Amerika Minta Maaf Soal Larangan Jilbab

warnaislam.com — Grup Medis CareNow, Dallas, Amerika Serikat, meminta maaf karena telah mengeluarkan kebijakan anti-jilbab. Klinik yang mengoperasikan 22 fasilitas kesehatan di wilayah Dallas-Fort Worth ini, secara khusus meminta maaf kepada pelamar yang dilarang berjilbab, Hena Zaki, seorang dokter Muslimah.
Lembaga advokasi Muslim Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengatakan, CareNow telah meminta maaf kepada Zaki.
Seperi diberitakan situs Dallas Business Journal, CAIR mengirimkan surat kepada CareNow, berisi nasihat bahwa “Title VII of the Civil Rights Act of 1964” menjamin hak pekerja untuk melaksanakan praktek keagamaan.
Presiden CareNow, Tim Miller, merespond surat CAIR via e-mail pada 31 Oktober lalu. “Kami menyesalkan kesalahpahaman kami engan dr. Zaki,” tulis Miller di e-mailnya. “Kami akan mengklarifikasi kebijakan kami dan meneruskan pelatihan kepada pekerja kami� Kami akan berdiskusi dengan dr. Zaki tentang kesempatan kerjanya di klinik kami. Dokter muda dan berwawasan seperti dia yang kami cari.” (dbj/mel).*
http://warnaislam.com/berita//2009/11/3/26291/Klinik_Amerika_Minta_Maaf_Soal_Larangan_Jilbab.htm
Subscribe to:
Posts (Atom)